Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Global Warming Ancam Manusia

Global Warming -Mengancam Kehidupan Manusia

  

 

 

Global Warming. Sesungguhnya, apa sih global warming itu dan apa saja dampaknya pada kehidupan manusia? Sebenarnya, global warming atau pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan karena radiasi matahari yang terperangkap di bumi.

 

Menurut laporan dari World Wild Foundation (WWF), kadar CO2 yang meningkatdisebabkan oleh pembakaran fossil fuel seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam. Pembakaran tersebut melepas karbondioksida (CO2), gas metan (CH4), nitrous oksida (N2O), hydrofluorocarbons (HFCs), perfluorocarbons (PFCs), dan sulphur hexafluoride (SF6) di atmosfer yang dikenal sebagai gas rumah kaca (GRK).

Nah, GRK dapat dihasilkan secara alamiah maupun kegiatan manusia. Namun, sebagian besar yang menyebabkan perubahan komposisi GRK di atmosfer adalah gas-gas buang yang teremisikan ke angkasa sebagai hasil sampingan dari aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya melalui kegiatan perindustrian, penyediaan energi listrik, transportasi, dan hal lain yang bersifat membakar suatu bahan. Peristiwa alam juga bisa menghasilkan GRK. Misalnya, letusan gunung berapi, rawa-rawa, kebakaran hutan, dan peternakan. Bahkan, kita bernafas pun mengeluarkan GRK.

 

 

Lihat saja kondisi Teluk Jakarta, yang semakin terpuruk. Hasil tangkapan nelayan setempat pun semakin berkurang. Itu bukan karena climate change, tapi karena polusi. Selama ini sungai sungai besar yang berada di Jawa Barat, semua bermuara ke Teluk Jakarta. Bila dilihat dari laporan penelitian Sungai Cisadane yang ada di Parung, seluruh aktivitas manusia yang berada di sepanjang jalur sungai membuang “sampah” nya ke sungai dan bermuara di Teluk Jakarta. Jadi, pantaslah kalau produktivitas di teluk itu menurun. Tingkat polutan yang makin tinggi yang tidak bisa ditolerir oleh makhluk seperti ikan, membuat mereka meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat baru yang lebih nyaman. Atau, ikan ikan itu pusing tujuh keliling, daya tahan atau survival ratenya terbatas, dan akhirnya mati.

 

Dampak pemanasan global diprediksi bisa mengancam kehidupan manusia. Bagaimana itu bisa terjadi? Laporan badan panel PBB antar pemerintah tentang perubahan iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change) menyebutkan, rata-rata temperatur permukaan bumi sekitar 15 derajat celcius (59 derajat fahrenheit). Dalam kurun waktu seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur itu meningkat 0,6 derajat celcius (1 derajat fahrenheit).

Para ilmuwan memperkirakan, keadaan akan lebih panas pada 2100 yang mencapai 1,4 – 5,8 derajat celcius (2,5 – 10,4 derajat fahrenheit). Kenaikan temperatur tersebut akan mencairkan es di kutub dan menghangatkan lautan. Akibatnya, volume lautan meningkat dan permukaannya naik sekita 9 – 100 sentimeter (4 – 40 inci). Banjir akan timbul di daerah pantai dan mungkin menenggelamkan pulau-pulau. Terdapat sekitar 35 jenis penyakit infeksi baru yang timbul akibat perubahan iklim. Misalnya penyakit malaria, wilayah penyebarannya bakal makin meluas. Nyamuk berkembang biak pada suhu lembab dan panas, maka dengan bertambahnya nyamuk, kontak dengan manusia juga bertambah.

Dampak pemanasan global yang utama, antara lain kerusakan lingkungan yang menyebabkan banjir dan kebakaran hutan, tentu berdampak terhadap kesehatan manusia. Misalnya kualitas air yang kita minum, udara yang kita hirup, dan makanan yang kita makan.

Salah satu langkah pencegahan penyakit-penyakit itu bisa melalui Sistem Bio Informatika, yaitu penanganan perubahan dengan mengadakan peringatan dini sebelum terjadi wabah. Dari sisi kesehatan lingkungan, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan dikembangkannya Desa Sehat oleh Departemen Kesehatan. Untuk itu, Depkes mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan, antara lain memakai pengamanan vaksin yang dulu memakai minyak tanah, kini menggunakan tenaga surya.

Kondisi dan strategi program kesehatan yang dikembangkan di Indonesia saat ini masih relevan. Ada empat bidang penelitian kesehatan yang harus turut serta, yaitu bidang gizi, ketersediaan pangan, pengembangan obat-obatan, termasuk obat tradisional, dan terakhir pengendalian penyakit, baik penyakit menular maupun tidak menular.

(Sumber : Majalah Komunitas Ad Info)

 

~ Penerangan Listrik Mandiri Rakyat (LIMAR) Di NTB

1.700 KK miskin di NTB nikmati listrik tenaga surya


Warga sedang mengisi ulang battery di PLTS di NTB. (istimewa)

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT PLN (Persero) Nusa Tenggara Barat (NTB) mengembangkan proyek percontohan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala kecil untuk melistriki penduduk yang tinggal di wilayah pemukiman terpencil yang secara geografis sangat sulit untuk dijangkau. Saat ini tidak kurang dari 1.700 Kepala Keluarga (KK) miskin di sembilan Dusun yang tersebar di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Barat, Lom bok Timur, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu sudah bisa menikmati penerangan listrik dari PLTS.

Pengembangan proyek PLTS ini dipopulerkan dengan nama Penerangan Listrik Mandiri Rakyat (LIMAR) sebagai bagian dari pengembangan Program Corporate Social Responsibility (CSR) PLN Wilayah NTB yang melibatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.

Pengembangan LIMAR yang didadanai dari Program CSR sebesar 3,5 milyar ini, menjadi salah satu alternatif penyediaan listrik secara mandiri bagi keluarga miskin yang tersebar di daerah terpencil dan belum terjangkau oleh infratsruktur kelistrikan. Di Dusun Temuan Sari Desa Akar-Akar Kecamatan Bayan Lombok Utara misal nya, terdapat 104 KK yang sudah dapat menikmati listrik yang berasal dari PLTS. Di dusun yang terletak di daerah perbukitan berjarak lebih dari 160 Km dari pusat kota Mataram itu, sejak Desember tahun lalu warga setempat sudah dapat menikmati listrik yang berasal dari PLTS. Sebuah bangunan sederhana yang didirikan oleh warga dijadikan semacam power house PLTS yang dibangun oleh PLN NTB.

Di Kabupaten Lombok Utara, LIMAR dikembangkan di 2 Dusun, yakni dusun Temuan Sari dan dusun Lembah Pedek, Desa Akar-Akar Kecamatan Bayan. Di Kabupaten Lombok Barat, dikembangkan di 2 Dusun, meliputi Dusun Lonseran Barat Utara, Desa Lengko Kecamatan Linsar dan Dusun Poan Selatan, Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunung Sari.

Sedangkan untuk Kabupaten Lombok Tengah, LIMAR dikembangkan di Kecamatan Pujut, khususnya di Dusun Bumbang, Desa Mertak dan Dusun Sangi, Desa Truwai. Untuk Kabupaten Lombok Timur, terdapat 4 Dusun yang menjadi tempat pengembangan PLTS, yakni Dusun Barang Panas, Dusun Sukatain, Dusun Bukit Durian dan Limbungan Barat Dusun Limbungan. Sementara itu, di Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu LIMAR dikembangkan di 5 dusun yang tersebar .

5 Lampu LED dan 1 Aki Battery
Prinsip LIMAR ini dikembangkan dengan teknologi tepat guna. Listrik di rumah warga, disalurkan melalui battery kering ukuran kecil. Di setiap dusun yang menjadi lokasi pengembangan PLTS, didirikan bangunan sederhana yang berfungsi sebagai power house pembangkit listrik panas matahari.

Di power house sederhana itu, PLN NTB memasang semacam Solar Cell Modul (semacam peralatan untuk menyerap panas matahari) berukuran sekitar 2 meter x 3 meter. Solar modul ini, kemudian saling terhubung dengan box control panel dan storage battery 12 V 70 Ah dan battery charger 12 V 30 Ah. Kecuali solar cell modul, semua peralatan untuk menghasilkan listrik terangkai didalam bangunan power house sederhana tadi.

Sedangkan untuk bisa menikmati listrik di rumah, setiap KK diberikan bantuan 1 battery kering 12 V 9 Ah dan dipasangkan 4 - 5 lampu jenis LED. Battery kering ini setelah terlebih dahulu di cas pada battery charger yang tersedia di bangunan PLTS tadi, dapat digunakan sebagai sumber listrik di rumah-rumah penduduk untuk menyalakan lampu penerangan yang terpasang.

“Setiap battery yang sudah di cas, dapat bertahan 5 – 6 hari untuk menyalakan lampu yang hidup dari jam 6 sore sampai pagi hari “, kata Ahmadi, pria sederhana paruh baya warga dusun Temuan Sari yang juga menjadi salah seorang pengurus yang mengelola Listrik Mandiri di kampungnya, seperti dilansir laman Kementerian ESDM, Senin (2/8/2010).

Di dusun Temuan Sari ini, listrik dari PLTS selain digunakan untuk penerangan, juga dimanfaatkan untuk menyalakan televisi ukuran 14” dan menjalankan alat pengeras suara (Toa Wireless) yang kerap digunakan untuk keperluan kegiatan pengajian warga setempat.

Bila cuaca tak bersahabat hingga tidak ada sinar matahari yang cukup, warga setempat tetap bisa menikmati listrik. Sebab di setiap power house PLTS sudah dilengkapi dengan generator dalam skala kecil yang bisa digunakan untuk memfungsikan rangkaian yang terpasang di dalam power house bila cuaca tengah tak bersahabat.

Sementara itu, bila battery yang dipakai di rumah warga sudah habis terpakai, mereka dapat mengisi ulang di battery charger yang tersedia di power house.

“Setiap kali ngecas (mengisi ulang) battery, setiap warga membayar Rp. 1.000 dan sekali ngecas battery bisa dipakai untuk 5 atau 6 hari “, kata Ahmadi menambahkan. Untuk mengurus PLTS ini, Ahmadi bersama beberapa rekannya telah membentuk kepengurusan yang bertugas mengelola PLTS.

Setelah PLN membangun PLTS hingga bisa beroperasi, selanjutnya program LIMAR diserahkan ke warga setempat untuk dikelola secara mandiri. Hal ini sejalan dengan konsep pemberdayaan masyarakat yang diharapkan PLN dalam mengembangkan LIMAR di daerah terpencil. Warga setempat, biasanya membentuk semacam organisasi sederhana yang ditugasi untuk mengurus operasional PLTS.

 

Sumber : kabar bisnis

 

~ Sahur Mati Lampu, Warga Terpaksa Gunakan Lilin

Listrik Padam, Warga Sahur Ditemani Lilin  

Jayapura: Pemadaman listrik lebih dari 24 jam masih terjadi di Abepura, Jayapura. Akibat pemadaman listrik warga kompleks Youtefa, Abepura, terpaksa sahur dengan menggunakan lilin sebagai alat penerang.

"Lampu dikompleks ini sudah padam sejak Selasa malam kemarin, namun hingga kini belum nyala. Makanya kami terpaksa menggunakan lilin sebagai alat penerangan seadanya," kata Haji Jamal, salah satu warga setempat, Rabu (11/8).

Menurut Jamal, dia dan seluruh penghuni rumah merasa terganggu dengan padamnya listrik. "Mungkin ada gangguan yang belum bisa diperbaiki. Jadi kami tetap sabar menunggu sampai listrik nyala kembali," ujarnya.

Sementara warga lainnya Siti mengaku sangat kecewa dengan padamnya listrik yang sudah lebih dari 24 jam. "Saya terpaksa menyiapkan makanan dengan menggunakan lilin untuk penerangan. Belum lagi air yang tidak bisa mengalir, karena air  sumur bor yang saya miliki, harus ditarik menggunakan tenaga listrik," keluh Siti.

Menanggapi masalah pemadaman listrik, Kepala bidang Humas Perusahaan Listrik Negara (PLN) Papua, Dharmawan, yang dimintai keterangan mengatakan putusnya jaringan listrik di kompleks Youtefa itu disebabkan pada Selasa malam, ada truk kontainer yang lewat dan mengenai kabel jaringan listrik hingga putus.

Pihak PLN sendiri, sambung Dharmawan, telah menurunkan tim petugas lapangan untuk memperbaikinya, namun belum berhasil karena ketidaktersediaan kabel.

"Meneruskan laporan petugas kami di lapangan, bahwa karena kendala ketidaktersediaannya material Kabel JTR ukuran 35mm yang mengalami kebakaran/kabel lengket 200 meter di PLN, jadi sementara pekerjaan perbaikannya ditangguhkan, dan pagi ini akan dicoba untuk minta bantuan kepada salah satu rekanan PLN yang punya stok kabel tersebut. Setelah ada kabel ada, petugas lapangan akan segera mengerjakannya," jelas Dharmawan.
 
Sumber : Liputan6.com
 

~ Dengan Tenaga Surya Ribuan Warga Di Pulau Batoa, Sulawesi Barat Kini Bisa Mendengarkan Radio Dan Menonton Televisi

Tak Ada Listrik, Tenaga Surya Pun Jadi  


 
Liputan6.com, Batoa: Hari Kemerdekaan Indonesia memasuki usianya ke-65. Tapi masih banyak saja  desa-desa di Pulau Batoa, Sulawesi Barat, belum menikmati aliran listrik. Namun hal itu tak mematikan aktivitas warga. Mereka menggunakan listrik dengan tenaga surya.

Sebelumnya warga cuma menggunakan penerangan lampu tempel atau pelita. Dengan tenaga surya, kini sudah seribu warga bisa mendengarkan radio dan menonton televisi.

Kondisi ini salah satunya dirasakan Sumaila dan Ati. Dijumpai SCTV, belum lama ini, di rumah mereka terpasang papan panel di atas atap yang mampu menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi energi listrik. Energi kemudian disalurkan ke aki sebagai media penyimpanan listrik. Sebuah stabilisator diperlukan untuk mengatur tekanan arus listrik agar radio dan televisi, termasuk lampu bohlam dapat menerima aliran listrik yang stabil.

Sayangnya listrik tenaga surya memerlukan modal hingga Rp 6 juta. Sehingga belum semua warga menikmatinya. Pemerintah daerah setempat bukannya berpangku tangan. Pemda menyatakan, ada 50 desa terpencil dari 100 lebih desa di pegunungan dan pulau-pulau di Polewali Mandar yang belum tersentuh penerangan listrik.(AIS)

 

 

Sumber : Liputan6

 

~ Mahasiswa Institut Teknologi Surabaya, Ciptakan Becak Tenaga Surya

Becak Listrik Tenaga Surya !!!


http://4.bp.blogspot.com/_vtYrdJs6ewE/S8DAg6JaG0I/AAAAAAAAAQs/qkcBPVintEk/s1600/becak.jpg


Becak listrik tenaga surya. Dua mahasiswa Politeknik Elektronika Institut Teknologi Surabaya menciptakan becak listrik yang memanfaatkan tenaga surya dan motor penggerak.

"Kalau listriknya penuh akan dapat digunakan perjalanan oleh dua orang sejauh 15 kilometer dengan kecepatan 10-20 kilometer per jam," kata salah seorang perancang becak listrik, Muhammad Effendy, kepada ANTARA di Surabaya, Kamis.

Didampingi rekannya Muhammad Nasir Fanani yang sama-sama semester enam Jurusan Elektronika, ia mengemukakan hal itu di sela-sela "Final Project Competition 2010" di Gedung D4 Politeknik Elektronika Institut Teknologi Surabaya.

Menurut dia, tenaga surya untuk menghasilkan listrik yang menggerakkan becak listrik itu berasal dari solar sel ukuran 50 WP yang menghasilkan daya listrik 2 Amphere atau 19 volt. "Kalau energi surya tidak ada karena musim hujan, maka daya listriknya dapat dihasilkan dengan menggerakkan generator (motor penggerak) secara manual melalui pedal yang ada selama tiga jam," katanya.

Namun, katanya, bila tidak mau memakai cara manual, maka bisa diisi dengan aliran listrik. Ditanya kemungkinan becak listrik itu diaplikasikan kepada tukang becak yang sudah memiliki becak, ia mengatakan aplikasi dapat menggunakan satu solar sel dan aki kecil.

"Aplikasi itu hanya Rp5 juta, tapi kalau mau lengkap dengan dua solar sel dan dua aki berkisar Rp8 jutaan," katanya. Tentang ide dari gagasan becak listrik itu, ia mengatakan hal itu bersumber dari diskusi dalam komunitas mobil listrik di kalangan mahasiswa PENS ITS Surabaya.

"Dalam pemikiran kami, becak secara manual itu nggak manusiawi, bahkan becak listrik itu dapat digunakan wisata," katanya.(antaranews)
 
Halaman 295 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook