Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Teknologi Sel Bahan Bakar Diterapkan LIPI

LIPI Mulai Terapkan Sel Bahan Bakar

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah menerapkan teknologi energi sel bahan bakar (fuel cell) berbahan bakar hidrogen dengan limbah senyawa air murni. Sel bahan bakar itu diaplikasikan pada proyek pembangkit listrik di daerah terisolir di Desa Malingping, Kabupaten Lebak, Banten.

Demikian dijelaskan Deputi Jasa Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jan Sopaheluwakan, Senin (12/5), di Jakarta. Penerapan teknologi energi paling mutakhir ini adalah yang pertama kali di Indonesia. Serupa dengan energi terbarukan dan energi alternatif lain, langkah komersialisasi dan menuju industri dikhawatirkan terhambat.

”Tugas pemerintah seharusnya membuka peluang pasar terlebih dahulu,” kata Jan. Menurut dia, anggaran untuk pengembangan energi ada di beberapa departemen, yaitu Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, atau Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Namun, programnya berjalan sendiri-sendiri dan tidak pernah diarahkan membuka peluang pasar bagi energi terbarukan dan alternatif.

Sel bahan bakar di Malingping, menurut Jan, adalah proyek Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal. Sel tersebut merupakan sel hibrid dengan tenaga angin dan sel surya. Hasil riset diharapkan bisa direkomendasikan sebagai proyek terintegrasi antarinstansi dengan berbagai sumber energi terbarukan yang melimpah di Indonesia, termasuk biomassa.

Koordinator proyek tersebut dari LIPI, Achiar Oemry, mengatakan, aplikasi bahan bakar hidrogen dan teknologi fuel cell mampu mengatasi persoalan penyimpanan energi listrik menjadi gas hidrogen. Kapasitas pembangkit listrik berpola hibrid dari semua energi terbarukan di Malingping itu sekitar 3 kilowatt.

”Produksi hidrogennya bergantung pada faktor kelebihan produksi listrik dari sel surya dan turbin angin,” kata Oemry. Di negara maju, termasuk China, hidrogen digunakan untuk bahan bakar mobil. (NAW

 

~ Penemu Blue Energy dari Nganjuk

Joko Suprapto, Warga Nganjuk – Penemu Blue Energy

Bali : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hari Senin (3/12) sore, menerima laporan Heru Lelono, Ketua Tim Blue Energy, tentang perkembangan percobaan bahan bakar non fosil yang dinamakan Blue Energy atau Minyak Indonesia Bersatu. Blue Energy atau Minyak Indonesia Bersatu adalah bahan bakar sintetik yang dibuat dari substitusi molekul Hidrogen dan Karbon tak jenuh. Proses pembuatannya sama dengan minyak fosil, namun dengan kadar emisi yang jauh lebih rendah.

Rombongan kendaraan berbahan bakar Blue Energy berangkat dari kediaman SBY di Puri Cikeas Indah hari Minggu (25/11) sore. Di Bali, rombongan ini mengikuti eksebisi clean air, clean fuel and clean vehicle berkaitan dengan diselenggarakannya Konferensi Internasional Climate Change pada tanggal 3-14 Desember 2007. “Keikutsertaan kita adalah untuk menunjukkan bahwa anak bangsa Indonesia mampu mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang dihadapi, khususnya mengenai bahan bakar,” kata Heru kepada wartawan.

Menurut Heru, jenis mobil yang masuk dalam tim antara lain dua Ford Ranger 2500 CC, satu Isuzu Panther 2500 CC Diesel, satu Mazda Familia 1800 CC serta satu Bus Mitsubishi 4000 CC. “Seluruh mobil itu bisa sampai di Denpasar, dan langsung dicek di bengkel yang dilengkapi dengan alat uji emisi dari PBB. Hasilnya, seluruh mobil dalam kondisi yang sangat baik,” jelas Heru.

Tim ekspedisi Blue Energy juga pernah mencoba menggunakan minyak sintetis tersebut pada mesin diesel di Dataran Tinggi Dieng. “Biasanya kalau menggunakan bahan bakar solar akan langsung beku apabila didiamkan semalaman. Namun minyak sintetis sudah dicoba semalaman di sana, dan pagi harinya langsung kita start ternyata bisa, ” kata Heru, didampingi Jubir Presiden, Andi A. Mallarangeng.

Kata Andi, Presiden SBY menyambut baik upaya-upaya kreatif anak bangsa untuk mencari energi alternatif non fosil. “Baik itu
Bio Fuel, Energi Surya dan angin. Dan karena itu, Presiden mendukung upaya-upaya semacam itu dan mengharapkan upaya-upaya itu bisa menjadi upaya yang berskala besar yang bisa memenuhi kebutuhan energi kita,” jelas Andi menutup konferensi pers yang diadakan di depan Sawangan Ballroom, Hotel Nikko, Nusa Dua, Bali. (mit)

Sumber : http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=182899&c=61

RADAR KEDIRI

 

~ Teknologi Pembangkit Listrik Dari Mikroba

"Geobacter" Mikroba Penghasil Listrik

Semakin menipisnya cadangan energi yang tak terbaharukan untuk pembangkit
energi listrik, membuat para peneliti bekerja keras menemukan alternatif
pengganti yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan energi listrik.
Salah satu yang sedang dicoba oleh tim peneliti dari NASA adalah teknologi
pembangkit listrik dari mikroba.

Walaupun gagasan ini belum sepenuhnya berhasil menggantikan sumber energi
lain yang ada, namun penyempurnaan terhadap hasil penelitian akan terus
dilakukan, sehingga diharapkan akan diperoleh hasil yang optimal.

Pesawat luar angkasa dalam perjalanan ke Planet Mars, diperkirakan memiliki
kru yang terdiri atas enam orang. Keenam astronot ini akan menghasilkan
lebih dari enam ton limbah yang sebagian besar adalah limbah padat yaitu
tinja. Jumlah yang sangat besar tentunya. Lalu, apa yang dapat dilakukan
terhadap limbah ini?

Sekarang, feses astronot dapat dikirim kembali ke Bumi. Tapi, ke depannya
ilmuwan di NASA akan berpikir untuk mendaur ulang, sebab limbah ini adalah
sumber daya yang diperlukan astornot. Salah satunya dapat dijadikan air
minum murni, untuk keperluan mereka di luar angkasa selama melakukan
misinya. Juga dapat dijadikan pupuk. Bahkan, dengan bantuan mikroba
tertentu yang unik dan spesifik, limbah ini dapat juga disulap menjadi listrik.

"Geobacter metallireducens"

Seperti banyak jenis mikroba, bakteri dari keluarga Geobacteraceae ini
dapat memakan dan hidup dengan mengurai material organik. Mikroba geobacter
yang pertama ditemukan di tambang batu bara di Sungai Potomac, Washington
D.C. 1987. Bakteri ini bersifat anaerob, yaitu hidup pada tempat yang tidak
ada oksigen. Mereka juga mempunyai kemampuan untuk berpindah, dengan cara
menggerakkan elektron dalam metal. Kemampuan ini menjadikan bakteri
geobacter, mampu menguraikan limbah sekaligus menghasilkan listrik.

Bakteri ini dikenal sebagai Geobacter metallireducens, adalah mikroba
pertama yang mampu mengoksidasi bahan organik menghasilkan karbon dioksida.
Geobacter metallireducens mendapat tenaganya dengan memanfaatkan oksida
dari besi, dengan cara yang sama seperti manusia menghirup oksigen.

Spesies Geobacter dapat digunakan mengatasi pencemaran lingkungan.
Misalnya, menguraikan tumpahan minyak di perairan menjadi karbon dioksida
yang tak berbahaya. Spesies Geobacter mengubah kondisi lingkungan, dengan
mempercepat laju degradasi kontaminan. Spesies Geobacter juga memiliki
kemampuan menyingkirkan kontaminan logam radioaktif dari perairan.

Genom beberapa Sesies Geobacter sudah diurutkan dan sedang dimasukkan ke
dalam model komputer, yang bisa meramalkan metabolisme Geobacter di bawah
kondisi lingkungan berbeda. Pendekatan biologi sistem ini sangat
mempercepat proses bagaimana Spesies Geobacter berfungsi dan mengoptimasi
proses bioremediasi dan produksi energi listrik.

"Microbial fuel cell"

Menciptakan kondisi alami, memicu peneliti menemukan suatu jenis bahan
bakar baru, yaitu sel bahan bakar mikroba (microbial fuel cell). Jenis
bahan bakar baru ini sekarang sedang dikembangkan tim riset NASA yang
dipimpin Dr. Bruce Rittmann, soarang profesor pada Northwestern University.

Semua jenis sel bahan bakar menghasilkan listrik, dengan memproduksi dan
mengendalikan suatu arus elektron. Sel-sel konvensional, termasuk
menggunakan pintalan dan dalam beberapa mobil prototipe, memperoleh
elektron dengan melepaskan atom hidrogen. Dalam melakukan itu, sel-sel
bahan bakar ini harus diberi persediaan hidrogen secara tetap.

Sel bahan bakar mikroba memperoleh elektron dari limbah organik. Bakteri
hidup dengan limbah sebagai bagian dari proses pencernaan mereka.
Geobacter, menurut peneliti NASA ini dapat `dibujuk` untuk menyampaikan
elektron secara langsung kepada elektroda sel bahan bakar ke dalam suatu
sirkuit. Ketika elektron dialirkan sepanjang sirkuit, mereka menghasilkan
listrik. Sel bahan-bakar mikroba ini telah dicoba di Pennsylvania
University, untuk menghasilkan listrik pada saat proses memurnikan limbah
cair domestik.

Guna membuat gagasan ini menjadi bentuk yang praktis, Prof. Rittmann
berpikir harus mempunyai suatu bentuk yang efisien dan sangat ringkas.
Bahan bakar sel tidak bisa dibentuk dengan banyak ruang dengan ukuran yang
luas. Untuk kebutuhan ini, peneliti sedang mempertimbangkan suatu sel bahan
bakar serabut yang dikemas dengan ketat, masing-masing akan merupakan suatu
sel bahan bakar dalam kemasan all in one.

Masing-masing serabut akan terdiri dari tiga lapisan, seperti tiga untai
jerami, satu di dalam serabut lainnya. Masing-masing lapisan terdiri dari
kutub positif (luar), electrolyte-membrane (tengah), dan katoda (dalam).
Saluran dari cairan limbah akan dipompa melewati lapisan luar, di mana
Geobacter dapat mengikat elektron dan memindahkannya ke kutub positif,
yaitu ke dalam sirkuit, dan kemudian diteruskan ke katoda pada lapisan dalam.

Namun, Rittmann dan timnya masih menemukan kendala mekanisme yang tepat
memindahkan elektron ke elektroda oleh mikroba yang masih lambat. Peneliti
masih harus mengetahui bagaimana membuat mekanisme ini lebih cepat dan
menghasilkan tenaga yang lebih kuat. Sampai sejauh ini peneliti memiliki
banyak gagasan, termasuk kemungkinan faktor voltase pada elektroda. Ini
adalah salah satu pertanyaan mereka yang sedang berusaha untuk dijawab.

Model pembangkit listrik mikroba itu dalam uji coba di laboratorium, saat
ini baru mampu mengisi baterai telefon seluler dan kalkulator atau
menyalakan satu lampu LED. Daya listrik yang dibangkitkan memang masih
terlalu kecil, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, namun sudah memadai
untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang paling mendasar di zaman
teknologi komunikasi yang semakin maju.

Kita harus memanfaatkan limbah menjadi salah satu produk yang berguna.
Jadi, kenapa tidak membuat proses untuk menghasilkan energi, sebagai
penghasil energi alternatif? Dengan memproduksi listrik, sel bahan bakar
dari miroba akan menjadikan limbah jauh lebih ekonomis. Sel bahan bakar
mikroba akan mengubah bentuk, dari sesuatu yang tidak berguna menjadi
sumber daya listrik yang bermanfaat. Sampah, kenapa tidak? (Kabelan Kunia,
M.Si., PP Bioteknologi ITB)***

 

~ Bahan Bakar Air Bisa Mengurangi Penggunaan BBM

Bahan Bakar Air, Kenapa Tidak?

Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sampai 28,7 persen membuat resah masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Sebab, efek domino dari kenaikan harga BBM tersebut, sangat luar biasa.

Walau ada bantuan langsung tunai (BLT) Rp 300.000 untuk tiga bulan ke depan, tetap saja tak menyelesaikan masalah. BLT malah dipelesetkan menjadi beban langsung terasa, dan itulah kenyataan hidup yang dirasakan rakyat kecil.

Kenaikan harga BBM, mungkin tidak menjadi beban berat bagi kalangan atas yang memiliki kendaraan banyak. Sebaliknya, bagi masyarakat kecil dampaknya sangat buruk, termasuk naiknya biaya transportasi kendaraan angkutan umum.

Masyarakat kecil yang memiliki motor pun merasakan beban berat dengan kenaikan harga BBM tersebut. Namun, di tengah keresahan itu, muncul sebuah harapan yang diharapkan bisa menjadi solusi baru bagaimana menghemat BBM yang mahal, yakni dengan menggunakan air. Mungkinkah BBM digantikan bahan bakar air (BBA)?

Joko Sutrisno warga Jl HOS Cokroaminoto No 76 Yogyakarta, telah menemukan solusi mahalnya BBM itu dengan hydrogen generator. Sebuah tabung elektrolizer plastik berisi air murni atau aquades, dilengkapi dengan elektrodae (berbahan stainless stell) dan diode atau reley (pada mobil), difungsikan sebagai pengubah molekul hidrogen menjadi energi. Melalui proses elektrolisa pengatur tekanan menuju manifold (kran plastik), sistem pembakaran mesin akan mendekati sempurna.

Alat itu bukan bertujuan membuat irit bahan bakar, namun justru dijadikan bahan mengganti premium maupun solar. Untuk ke depannya, Joko akan memaksimalkan penggunaan air atau sehingga motor akan 100 persen melaju dengan tenaga hydro.

Bukan Mimpi

Temuan Joko Sutrisno itu bukan mimpi. Faktanya, setiap hari puluhan mobil dan motor antre di rumahnya, yang minta agar alat sederhana ciptaannya dipasang pada kendaraan mereka. Harganya pun tidak mahal, yakni Rp 75.000 untuk motor dan Rp 150.000 untuk mobil, dan proses pemasangannya pun tak berbelit-belit, paling lama setengah jam.

Bahkan, Sutrisno sendiri mengaku telah menggunakan alat itu pada mobil pribadinya selama dua tahun. "Saya uji coba dengan mobil saya sendiri dan sudah berlangsung 2 tahun tanpa masalah, meski dulu saya sering dikatai orang gila," katanya.

Aktivis Gerakan Masyarakat Cinta Air (GMCA) V Kirjito Pr yang juga Romo Gereja Paroki Santa Maria Lourdes, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Yogyakarta, juga mengakui karya Joko Sutrisno yang juga umatnya itu. Kiranya perlu makin kita kenali bahwa pada dasarnya Air itu amat "baik" pada kita. Lebih-lebih jika dalam hati dan pikiran kita tidak ada sikap negatif terhadap Air. Karena Air itulah unsur pokok kehidupan,'' kata Kirjito seperti dimuat situs GMCA ini.

Menurut Kirjito, pemanfaatan molekul hidrogen melalui proses elektrolisa untuk meningkatkan pembakaran sangatlah mudah. Dan hasilnya, pembakaran mendekati sempurna. Maka jika diaplikasikan pada mobil atau motor tenaga meningkat drastis, suara mesin sangat halus, sisa gas buangnya bersih dan irit bahan bakar.

Joko sendiri yang berjanji pada bulan Desember 2008, penelitian lanjutannya akan selesai, yakni motor dapat beroperasi 100 persen dengan air. Bagaimana dengan Anda?

Harapan LIPI

Persoalan air menjadi bahan bakar memang bukan hal yang baru. Menurut Kepala Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr Achiar Oemry, informasi tentang air menjadi bahan bakar sudah lama ada di luar negeri seperti di Jepang dan India.

"Secara teori air menjadi bahan bakar memang bisa diwujudkan dan dipertangungjawabkan. Yakni dengan mengurai air menjadi hidrogen," ujar Achyar kepada SP di Jakarta Selasa (27/5).

Achiar Oemry mengatakan, air bisa menggantikan fungsi BBM untuk menggerakkan kendaraan. Oemry menjelaskan, air yang memiliki rumus kimia H2O mengandung dua unsur molekul, yakni hidrogen (H) dan oksigen (O). Dengan menggunakan mekanisme pemisahan yang sangat sederhana, molekul hydrogen dapat dipisahkan dari air yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar utama untuk menggerakkan kendaraan.

"Penggunaan bahan bakar hidrogen bukanlah hal yang baru ditemukan. Penemuan itu sudah lama. Pesawat ulang alik saja menggunakan bahan bakar ini," katanya.

Oemry yang juga Ketua Konsorsium Fuel Cell Indonesia mengemukakan, sudah ada beberapa negara yang mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan ini, seperti Tiongkok dan Jepang. Bahkan kedua negara tersebut, sudah melakukan ekspor kendaraan yang didesain menggunakan bahan bakar hidrogen.

Mengomentari adanya temuan-temuan masyarakat mengenai bahan bakar air akhir-akhir ini, Oemry mengaku, secara pribadi mendukung hal tersebut meskipun LIPI belum melakukan pengujian terhadap teknologi tersebut. Dia mengatakan, sebenarnya Indonesia sudah bisa mengubah kebiasaan menggunakan BBM menjadi bahan bakar hydrogen.

"Teknologinya sudah ada. Sekarang yang menjadi masalah adalah kebijakan politik pemerintah, mau tidak mengembangkan teknologi pemanfaatan air menjadi bahan bakar kendaraan bermotor ini," ujarnya.

Menurut Achyar, penelitian ke arah bahan bakar air untuk menggantikan BBM ini masih kurang. Namun dia menilai, penggunaan bahan bakar ramah lingkungan seperti air ini sangat tergantung dari kehendak politik pemerintah.

Tetapi, tanpa dorongan pemerintah pun, kini masyarakat tinggal memilih. Mau tetap menggunakan BBM yang mahal atau memanfaatkan air tersebut yang irit, murah, dan ramah lingkungan. [SP/Erwin Lobo]

Sumber: Suara Pembaruan, www.suarapembaruan.com

 

~ Mobil Listrik LIPI Ramah Lingkungan

Mobil listrik.lipi.jantungnya.dipatenkan

Persoalan transportasi yang sering dihadapi antara lain perlunya moda transportasi untuk area-area terbatas, seperti bandar udara, rumah sakit, atau kawasan wisata. Mobil atau motor konvensional dianggap tidak sesuai.

Selain ukurannya yang terlalu besar, mobil berbahan bakar premium menghasilkan gas buang sehingga dianggap tidak ramah lingkungan. Adapun motor memiliki kelemahan dari segi daya angkutnya.


Menghadapi kebutuhan ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui sejumlah riset yang dilakukan sejak 1995 berhasil menciptakan mobil listrik yang ramah lingkungan dan sangat sesuai daya angkutnya.

”Jantung” dari mobil listrik yang dinamai Marlip alias Marmut Listrik LIPI itu berupa sistem penggerak dengan sakelar mekanisme maju mundur (SM3) yang sudah didaftarkan patennya sejak enam tahun silam.

”Sakelar mekanisme maju mundur atau SM3 berhasil dirancang untuk menurunkan biaya sampai 10 persen, jika dibandingkan pada penggunaan beberapa solenoid yang lazim untuk sistem penggeraknya,” ujar Masrah, perancang Marlip pada Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika LIPI di Bandung.

Mudah perawatan

 


Solenoid merupakan komponen sistem induksi yang bekerja ketika mendapat aliran listrik dari sistem baterai, kemudian mendorong bekerjanya sistem penggerak pada motor. Pada pengembangan terakhir Marlip, Masrah memodifikasi mobil listriknya itu dengan satu solenoid saja, sedangkan fungsi tiga solenoid lainnya digantikan dengan SM3 yang lebih irit dan sedang dipatenkan.

SM3 merupakan sistem kerja manual pada mobil listrik Marlip. Mekanisme ini, selain lebih irit, juga lebih memudahkan perawatan bagi penggunanya. Ini cocok dengan tipikal masyarakat yang memiliki daya beli rendah, dilengkapi kinerja perawatan yang rendah pula.

Produksi Marlip antara tahun 2002 dan 2006 sudah dihasilkan delapan tipe untuk keperluan khusus, bukan untuk keperluan sarana transportasi di jalan umum. Ketentuan batas kecepatan maksimum untuk keperluan khusus itu di bawah 50 kilometer per jam.

”Modifikasi Marlip lebih lanjut bisa menghasilkan mobil listrik dengan kecepatan di atas 50 kilometer per jam atau menyamai sarana transportasi umum yang digunakan sekarang. Pengembangannya akan sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan investasi,” kata Masrah.

Investasi riset terhenti

Marlip dengan delapan tipe sekarang sudah dipasarkan untuk mobil patroli polisi, mobilisasi pasien di rumah sakit, mobil golf, dan juga untuk keperluan mobil wisata. Semuanya tanpa izin khusus dari kepolisian karena batas maksimum kecepatannya hanya 40 kilometer per jam.

Menurut Mochamad Ichwan, yang baru saja melepas jabatan struktural sebagai Kepala Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika LIPI, Marlip yang diproduksi dengan delapan tipe itu mencapai jumlah 100 unit lebih. Di antaranya tersebar di setiap kepolisian daerah di Indonesia.

”Asal usul meriset mobil listrik Marlip ini pada tahun 1995. Ide awal yang mengemuka saat itu untuk mencapai gagasan masa depan di bidang transportasi dengan menggunakan teknologi hemat energi dan ramah lingkungan,” kata Ichwan.

Antara tahun 1995 dan 2000, hasil riset mobil listrik LIPI menghasilkan rancangan sistem penggerak. Sistem penggerak terus dimodifikasi hingga tahun 2002 didaftarkan patennya dengan salah satu klaim utama berupa SM3 dengan nama periset Masrah.

Ichwan mengakui, temuan sistem penggerak SM3 belumlah dapat disandingkan dengan teknologi mutakhir yang sudah diterapkan industri otomotif dunia yang lebih dulu mengarahkan produksi mobil masa depan ramah lingkungan. Namun, setidaknya Marlip dengan ”jantung” SM3 sebagai sistem penggerak yang lebih irit itu bisa menjadi embrio industri otomotif nasional yang bertumpu pada gagasan mobil hemat energi dan ramah lingkungan.

Untuk menuju komersialisasinya, menurut Ichwan, tidak ada jalan lain melalui pengembangan sebuah riset terus-menerus. Investasi riset pada tahap awal memang menjadi tanggungan pemerintah, hingga waktu tertentu selagi pihak swasta belum mampu melakukannya. Namun, sejak 2008 investasi riset untuk mobil listrik ini terhenti.

”Pengembangan riset sekarang diarahkan pada konversi (penggantian) atau konservasi (penghematan) bahan bakar berbagai peralatan seperti pada mesin diesel. Manfaatnya ke depan juga banyak, mengingat bahan bakar minyak makin terbatas,” kata Ichwan.

Embrio industri

Optimistis yang dibangun Ichwan, supaya Marlip menjadi embrio industri otomotif dalam negeri, memiliki banyak tantangan. Persaingan dengan industri otomotif internasional di era pasar bebas nanti sepertinya tidak memungkinkan, apalagi ketika melihat persoalan-persoalan mendasar di Indonesia, seperti pada pengurusan paten yang terlalu lama.

Menurut Masrah, tahapan paten Marlip pada 2009 untuk sosialisasi usulan klaim teknologi yang akan dipatenkannya. Selanjutnya, akan ditempuh uji substantif teknologi apa saja yang akan diklaim menjadi hak paten.

”Pada umumnya, paten bisa diperoleh dalam enam tahun,” ujar Masrah.

Lemahkan daya saing

Selain tantangan pada lambatnya pemrosesan paten, seperti dikatakan Ichwan, investasi riset mobil listrik yang terhenti sejak 2008 telah melemahkan daya saing Marlip. Padahal, dunia otomotif hemat energi dan ramah lingkungan sekarang terus berpacu.

Beberapa teknologi yang berkembang terkait dengan mobil listrik di dunia saat ini meliputi mobil listrik dengan baterai, mobil hibrida, mobil surya, dan mobil sel bahan bakar (fuel cell). Marlip tergolong mobil listrik yang tidak menempati posisi daya saing tinggi karena mekanisme pengisian listrik pada baterainya yang kurang fleksibel seperti pada mobil hibrida, mobil surya, atau mobil sel bahan bakar.

Kelebihan mobil hibrida dengan energi kinetik dari mesin yang digerakkan dengan bahan bakar minyak adalah bisa menyalurkan listrik langsung ke baterainya. Mobil sel surya dapat menyimpan listrik yang berhasil diubah dari sinar matahari. Kemudian mobil sel bahan bakar saat ini dipandang sebagai mobil masa depan yang paling diharapkan karena ramah lingkungan dan hemat energi dengan bahan bakar hidrogen.

Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Jan Sopaheluwakan menuturkan, Jepang dengan pengembangan teknologi mobil sel bahan bakarnya sekarang sudah menargetkan pada tahun 2015 sebagai era mobil berbahan bakar hidrogen negaranya. Mobil-mobil yang diproduksi Jepang dan diekspor ke berbagai belahan dunia akan berubah menjadi mobil sel bahan bakar dengan bahan bakar hidrogen.

Terdapat dua alasan yang menjadikan hidrogen paling berpeluang untuk bahan bakar sarana transportasi ke depan, yaitu karena ramah lingkungan dengan limbah berupa air murni, dan secara alamiah hidrogen sangat banyak tersedia. Gas hidrogen dapat diperoleh dengan proses elektrolisa atau mengaliri listrik ke dalam air. Cara ini tidak akan mengganggu keseimbangan alam.

Bagi Ichwan dan Masrah, mereka memahami betul kesulitan dan tantangan untuk menjadikan Marlip sebagai embrio industri di dalam negeri. Namun, mereka menandaskan, Marlip hanyalah pijakan awal untuk menuju berbagai modifikasi teknologi berikutnya, termasuk menjadikannya sebagai mobil berbahan bakar hidrogen.

Sesuatu yang sekarang jarang diingat dalam sebuah pengembangan industri adalah mendapatkan pijakan awal atau landasannya yang kuat. Dalam hal ini, Marlip menjadi suatu contoh landasan pengembangan teknologi transportasi masa depan yang hemat energi dan ramah lingkungan.

Nawa Tunggal
Sumber : Kompas Cetak

 

 
Halaman 760 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook