Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Ban Bekas Bisa Dijadikan Pembangkit Listrik

Pembangkit Listrik Bertenaga Ban Bekas

Anda barangkali sering melihat kursi, meja, dan perabot rumah tangga
lainnya yang bahan bakunya berasal dari ban bekas. Semua itu merupakan
hasil kerajinan tangan sebagai upaya memanfaatkan ban kendaraan yang sudah
tidak terpakai lagi.

Praktik semacam itu lain lagi dengan yang dilakukan beberapa pengusaha
angkutan umum di Jakarta. Sejak krisis ekonomi melanda, harga ban menjadi
melejit tidak karuan.

Akibatnya, beberapa pengusaha angkutan, terutama bus, mendaur ulang ban
bekas sedemikian rupa sehingga bisa digunakan di jalanan.

Upaya itu berbahaya tetapi tetap saja dilakukan sehingga tidak heran
apabila banyak kasus ban bus angkutan umum yang meletus karena sebetulnya
tidak laik jalan.

Banyak cara telah dilakukan untuk mendaur ulang ban bekas. Selain menjadi
perabot, juga dijadikan sandal atau peranti rumahan lainnya.

Itu antara lain solusi pengolahan ban bekas di Indonesia. Kalau tidak untuk
perabot, digunakan lagi sebagai ban ya... bisa dipakai untuk dijadikan
pelampung darurat di kapal-kapal.

Bagaimana dengan pengolahan ban bekas di mancanegara?

Setiap tahun di Amerika Serikat sekitar 300 juta ban mobil bekas dibuang
sebagai sampah. Belum lagi di negara-negara Eropa yang diperkirakan lebih
dari 200 juta ban mobil bekas tiap tahunnya dibuang percuma. Demikian
laporan Voice of America baru-baru ini.

Mengolah ban dengan membakarnya, selain merusak pemandangan, juga
menimbulkan polusi udara. Sebabnya ban mobil bekas mengandung karet,
karbon, dan unsur kimia lainnya yang amat berbahaya bila dibakar begitu saja.

Sebagai contoh, di Virginia Amerika Serikat pada tahun 1983 tempat
pembuangan ban mobil bekas yang di dalamnya terdapat lima sampai tujuh juta
ban mobil bekas yang dibakar.

Bisa dibayangkan betapa tebalnya asap tebal yang berbau busuk dan beracun.
Api baru padam setelah sembilan bulan kemudian.

Dari sejumlah pengolahan ban mobil bekas tersebut, ternyata bahan baku itu
bisa didaur ulang untuk dijadikan energi listrik. Caranya, dengan
menghancurkannya, kemudian berupaya untuk mencampurnya dengan aspal pelapis
jalan.

Metode lainnya adalah dengan membakarnya sebagai bahan tambahan batu bara
di pusat-pusat pembangkit listrik. Dengan demikian, batubara pembangkit
listrik tidak melulu sebagai bahan baku tetapi ada suplemen lainnya yakni
ban bekas itu.

Namun, ternyata cara pembakaran seperti itu masih menimbulkan polusi yang
akhirnya terpaksa harus ditangani pula. Asap hasil pembakaran itu sangat
mengganggu kesehatan.

Beberapa waktu kemudian, sebuah perusahaan di Oklahoma, Amerika Serikat,
berhasil menciptakan teknologi baru untuk memanfaatkan ban mobil bekas itu
sebagai sumber energi dan sumber bahan baku. Hasil daur ulang dari ban
bekas yakni seperti carbon black bisa dipakai untuk membuat ban baru.

Selain itu, perusahaan Integrated Technology Group yang melakukan
pengolahan ban bekas ini akan mulai menggunakan ban bekas sebagai bahan
baku pusat pembangkit listrik yang tidak menimbulkan polusi.

Caranya ban bekas dibakar dan diambil panasnya untuk dijadikan pembangkit
listrik. Untuk itu, perusahaan dimaksud membuat media pembakaran yang mampu
menyaring asap tebal hasil pembakaran ban tersebut.

Saat ini, proyek dimaksud masih bersifat percontohan. Karena sifatnya masih
percontohan, listrik yang dihasilkannya juga hanya cukup untuk memenuhi
kebutuhan beberapa blok perumahan dalam sebuah kota.

Temuan baru ini banyak mendapat pengakuan dari para penata kota dan pakar
lingkungan Eropa.

Guna menggalang dana untuk proyek pembangkit listrik tenaga ban bekas itu,
Integrated Technology Group telah menjual sahamnya sejak Juli tahun lalu di
pasar saham Frankfurt.

Animo masyarakat lumayan terhadap langkah yang diambil untuk mengolah ban
bekas dimaksud. Hanya saja, ternyata masih dibutuhkan dana lebih untuk itu.

Solusi yang ditawarkan tersebut telah membuat kelompok negara persatuan
Eropa mengambil sikap bahwa mulai tahun 2006 nanti, semua mobil ban bekas
harus di daur ulang dan tidak boleh dibuang di tempat penimbunan sampah.

Menurut Scott Holden, seorang pejabat di Integrated Technology Group,
kesadaran orang Eropa untuk mencegah polusi lingkungan yang ditimbulkan
oleh dampak sampingan kehidupan modern cukup tinggi.

Siap-siap menikmati listrik bertenaga ban bekas? (N-5)

 

~ Listrik Padam Menyelimuti Kota New York Dan Sekitar

Pemadaman Listrik di Amerika Serikat

Amerika pun pernah kena pemadaman listrik. Yang paling dahsyat terjadi pada 9 November 1965. Saat itu kegelapan menyelimuti Kota Toronto, Rochester, Boston dan New York. Peristiwa yang dikenal dengan the great blackout itu sangat menggemparkan. Sampai-sampai waktu itu timbul spekulasi bahwa negara adidaya itu tengah diserang teroris atau alien.

Dari udara, seorang pilot yang melintas di atas Kota New York terkejut ketika menyaksikan lampu Times Square mendadak redup. Dalam waktu 13 menit, jaringan listik seluas 80 ribu mil padam. Masyarakat panik. Kota mendadak diselimuti kegelapan, jaringan kereta api bawah tanah terhenti. Selama puluhan tahun, itulah pertama kalinya 30 juta penduduk di wilayah tersebut tidak dapat menikmati televisi, pengatur lalu lintas, lampu pendaratan pesawat, elevator dan lemari pendingin.

Ternyata 38 tahun kemudian, peristiwa serupa kembali terjadi di negeri Paman Sam itu. Kali ini pemadaman listrik terjadi pada 14 Agustus 2003 dan menimpa sejumlah kota di wilayah timurlaut AS, mulai dari Cleveland, Akron, Toledo, New York, Baltimore, Buffalo, Albany, Dotroit dan sebagian New Jersey. Kemudian Long Island, Westchester County, Rockland County, Putnam Coutny, Vermont, Connecticut dan sebagian besar wilayah Canada termasuk Toronto, dan Ottawa. Diperkirakan mencakup wilayah seluas 24.000 kilometer.

Peristiwa di tahun 1965 itu setelah ditelusuri ternyata karena satu stasiun relay di Ontario yang overloaded. Sedangkan peristiwa di tahun 2003 itu hasil laporan US-Canada Power System Outage Task Force menunjukkan bahwa peristiwa pemadaman listrik itu karena perusahaan FirstEnergy gagal untuk memangkas sejumlah pohon di wilayah Ohio. Rupanya pepohonan itu telah mengganggu jaringan listrik bertegangan tinggi yang mensuplai 100 pusat tenaga listrik. Selain itu perusahaan ternyata computer software bug di General Electric tidak mengontrol sistem tersebut sehingga tidak ada alarm peringatan akan terjadinya peristiwa tersebut.

Efek peristiwa yang terjadi di tahun 2003 jauh lebih besar dari pada tahun 1965. Mulai kegiatan rumah tangga dan industri terhenti, hingga suplai air bersih juga terhenti. Kegiatan transportasi seperti Amtrak Northeast Corridor mengalami gangguan, begitu juga kereta listrik seperti Long Island Rail Road, dan Metro North Railroad, demikian juga kegiatan pernerbangan harus dihentikan karena kesulitan untuk mengakses informasi tiket elektronik dan tidak bekerjanya menara pengawas. Banyak stasiun pengisian bahan bakar berhenti beroperasi karena menggunakan tenaga listrik, mengakibatkan jalur transportasi bus juga mengalami gangguan. Belum lagi gangguan terhadap sistem komunikasi seperti radio, telepon, internet, dan TV kabel serta kerugian di bidang industri lainnya.

 

Mengubah Kebijakan

Krisis energi listrik ini menunjukkan betapa dunia begitu ringkih dan bergantung pada infrastruktur yang namanya listrik. Tak heran setelah blackout kedua, Presiden George W Bush menganggap perlu untuk mengubah kebijakan energi nasional.

Inovasi untuk dapat menemukan sumber energi listrik baru dikembangkan. Pada 1999, perusahaan raksasa Swiss ABB mengejutkan dunia ketika mereka mengumumkan bahwa mereka mengalihkan fokus dari pembangunan pembangkit energi listrik nuklir ke pembangunan pembangkit listrik dari sumber yang bisa diperbarui dan tersebar.

Itu merupakan istilah lain metode berukuran kecil untuk mendatangkan listrik lebih dekat lagi ke konsumen. Seth Dunn dari Worldwatch Institute menggunakan istilah canggih untuk pembangkit listrik ter- sebar: micropower.

Sumber daya ramah lingkungan seperti rangkaian photovoltaic dan turbin angin termasuk dalam kategori micropower. Begitu juga mesin timbal balik, fuel cell, serta turbin mikro berbahan bakar bensin. Micropower cukup populer di pasar dunia, di negara industri, dan di daerah-daerah tidak terjamah listrik, yang memungkinkan daerah sekitarnya tumbuh tanpa harus menunggu listrik nasional berbiaya mahal. Yang lebih ekstrem adalah Silicon Valley menggunakan micropower dengan metode generator berbahan bakar fosil.

Sedangkan alternatif lain jaringan pembangkit listrik adalah penggunaan tenaga angin (photovoltaic). Kini kincir angin bertebaran, terutama di Eropa. Denmark mengambil 13 persen kebutuhan listriknya dari sumber yang bisa diperbarui ini.

Sementara perusahaan Denmark seperti Vestas Wind System dan Bonus Energy menghasilkan turbin angin untuk setengah permintaan dunia (Jerman, Spanyol, dan Inggris). Akhir tahun ini, ladang turbin angin di Texas yang sedang dibangun, akan menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan 139 ribu rumah.

Penghasilkan listrik dari sinar matahari juga mulai populer. Musim gugur ini, proyek tenaga matahari terbesar akan dijalankan di Filipina. Proyek bernilai US$ 48 juta itu akan menghasilkan listrik untuk 400 ribu rumah dari 150 desa di Pulau Mindanao, Filipina. Proyek itu juga mampu mem-bangun 69 sistem irigasi dan 97 sistem penyaluran air minum baru. Pembangkit listrik tenaga angin dan matahari juga mulai dikembangkan di Tiongkok, India, Indonesia, dan Afrika. [dari berbagai sumber/W-10]

 

~ Pabrik Motor Jepang Kembangkan Teknologi Fuel Cell

Daihatsu Kembangkan Teknologi "Fuel Cell"

Daihatsu Motor Co.,pabrik mobil dari Jepang, Jumat (14/9), di Tokyo, Jepang menegaskan bahwa mereka kini tengah mengembangkan penggunaan teknologi fuel cell untuk kendaraan bermotor yang diproduksi.
"Prioritas pada teknologi fuel cell akan memberikan sejumlah keuntungan, termasuk ikut melestarikan lingkungan, biaya murah, hasil yang maksimal, dan keamanan, serta mudah dirawat," demikian pernyataan perusahaan tersebut.
Teknologi ini pada dasarnya adalah memanfaatkan hidrogen untuk menghasilkan sumber tenaga mobil, khususnya yang menggunakan listrik. Teknologi ini dikenal sangat ramah lingkungan. Bahkan tekno-logi fuel cell yang dikembangkan Daihatsu ini tidak akan menghasilkan emisi karbondioksida sama sekali.
Jadi, dengan salah satu tujuan membantu melestarikan lingkungan global, Daihatsu akan mengakselerasikan penelitiannya dengan pengembangan teknologi lebih mendalam lagi.
Kini memang ada kecenderungan perusahaan-perusahaan elektronik dan industri mobil di Jepang, aktif mengembangkan teknologi fuel cell. Teknologi ini menggunakan bahan kimia seperti hidhrogen dan oksigen, untuk menghasilkan listrik dengan dampak yang sangat kecil terhadap lingkungan.
Untuk mengembangkan teknologi fuel cell ini menurut Daihatsu menggandeng Badan Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Industri Maju Jepang.
Daihatsu adalah industri mobil yang mengkhususkan diri pada kendaraan kecil dan murah. Kini di pasar internasional perusahaan itu mengeluarkan kendaraan dengan nama Coure, Sirion dan Terios.
Rata-rata per tahun Daihatsu memproduksi 850.000 unit kendaraan dan 292.000 mobil untuk merek Toyota. Bahkan juga memproduksi 9.000 mobil OEM per tahun untuk Toyota dengan model keluaran Daihatsu.
Perusahaan yang didirikan tahun 1907 itu memiliki empat pabrik di Jepang dan produknya diekspor ke lebih dari 140 negara. Kini 51 persen saham perusahaan mobil itu dimiliki oleh Toyota.
 
Suara Pembaruan

 

~ Energi Fuel Cell Mulai Dikembangkan

Saatnya Kembangkan Energi Fuel Cell

Polusi atau emisi gas buang kendaraan bermotor dan efek rumah kaca menjadi salah satu pemicu utama terjadinya pemanasan global. Dunia kini dihantui suhu permukaan bumi yang kian panas. Lalu, terobosan apa yang harus dilakukan untuk mengerem laju kenaikan suhu itu ?

PEMICU UTAMA - Polusi atau emisi gas buang kendaraan bermotor menjadi salah satu pemicu utama terjadinya pemanasan global. Penerapan teknologi ramah lingkungan fuel cell diharapkan menjadi pengerem laju kenaikan suhu bumi yang kian memanas.

Berdasarkan data dari US National Climatic Data Center tahun 2001, para ilmuwan memperkirakan bahwa dalam lima tahun ke depan, rata-rata keseluruhan permukaan temperatur akan mengalami peningkatan sekitar 1 - 4,5 derajat Fahrenheit atau 0,6 - 2,5 derajat Celsius. Pada abad berikutnya, kenaikan itu berkisar 2,2 - 10 derajat Fahrenheit (1,4 - 5,8 derajat Celsius).

Lalu apa yang menjadi penyebab kenaikan suhu tersebut" Salah satunya berasal dari kian banyaknya kendaraan bermotor di berbagai penjuru kota dunia.

Di Indonesia misalnya, berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2001, dalam tujuh tahun terakhir, jumlah kendaraan menjadi hampir dua kali lipat dengan kenaikan rata-rata 14 persen.

Sedangkan jumlah kendaraan di Jakarta, dalam tujuh tahun terakhir mengalami kenaikan rata-rata 21 persen. Artinya, dari 2.063.490 unit kendaraan pada tahun 1993 bertambah menjadi hampir 5 juta unit di tahun 1999.

Terus Bertambah

Menurut Kepala Pusat Puslitbang Fisika Terapan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Achiar Oemry, laju penggunaan minyak di Indonesia kurang lebih 10 persen per tahun dari total persediaan minyak bumi Indonesia. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan maraknya populasi kendaraan di Indonesia.

Terlebih lagi pada awal abad ke-21 sektor transportasi menggeser sektor industri sebagai pengguna energi terbesar, dengan pangsa lebih dari 90 persen bersumber dari persediaan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia. Padahal persediaan energi fosil, khususnya minyak atau oli cadangannya terbatas dan tidak dapat diperbarui.

Untuk itu, menurutnya, dibutuhkan energi alternatif yang dapat digunakan untuk menghemat persediaan minyak bumi.

Selain itu juga yang ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi tingkat polusi akibat emisi gas buang kendaraan.

Achiar berpendapat, bahwa penggunaan fuel cell, yaitu bahan bakar berbasis hidrogen, seperti gas alam, metana, methanol, biogas, coal gasification, dan lain-lain dapat menjadi energi alternatif yang paling tepat saat ini.

Soalnya, penggunaan teknologi fuel cell memiliki beberapa kelebihan, yaitu memiliki efisiensi konversi yang cukup tinggi, sekitar 40 - 70 persen. Energi tersebut juga ramah lingkungan karena mengandung emisi gas buang yang sangat rendah, modular pengubahan kapasitas sangat fleksibel, tingkat kebisingan sangat rendah, lebih tahan lama, proyeksi harganya pun akan terus menurun.

Menurut Achiar, prospek penggunaan fuel cell di dunia pun cukup bagus, terlebih lagi hingga saat ini teknologi fuel cell tengah dikembangkan oleh para ahli. Diperkirakan pada tahun 2005 mendatang bisnis pasar fuel cell sebesar US$ 8 miliar. Jumlah tersebut akan bertambah hingga tahun 2010 menjadi US$ 32 miliar.

Di negara-negara maju, penggunaan energi fuel cell sebagai bahan bakar untuk transportasi telah dimulai sejak 2003. Bahkan kini tengah dimulai perubahan konsep dari centralized menjadi distributed pada pembangkit tenaga listrik.

Banyak Keuntungan

Selain itu juga terjadi perubahan teknologi otomotif, dari combustion engine ke electric drive vechile.

Menurut Arthur D Little Inc Cambridge, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fuel cell, banyak keuntungan dicapai jika menggunakan fuel cell.

Di Amerika misalnya, kendaraan angkutan mengkonsumsi 6 juta barel (1 barel setara 159 liter) minyak per hari, equivalen dengan 85 persen minyak impor. Bila 20 persen kendaraan angkutan menggunakan fuel cell maka dapat mengurangi penggunaan minyak impor 1,5 juta barel per hari.

Dengan demikian, konsumsi minyak dapat dihemat 6,98 juta gallon per tahun untuk 10 ribu kendaraan bila memakai fuel cell. Jika 10 persen kendaraan angkutan menggunakan fuel cell maka sebanyak 60 juta ton gas CO2 dapat dikurangi.

Perbandingan energi antara penggunaan fuel cell dengan motor bakar, menurut kajian Achiar, menunjukkan bahwa konversi total hidrogen ke penggerak motor listrik sebesar 34,5 persen. Sedangkan konversi total BBM ke penggerak motor bakar 12,4 persen.

"Peran fuel cell untuk menstabilkan iklim amat besar. Hal itu dikarenakan fuel cell merupakan sel bahan bakar yang mempunyai peran sangat penting untuk mengurangi dampak memburuknya iklim global," jelasnya.

Terlebih lagi kendaraan fuel cell itu dapat mengurangi emisi gas buang 85 -100 persen. Bahkan meskipun bahan bakar yang digunakan dari gas alam dapat mengurangi emisi gas buang hingga 60 - 70 persen.

Menurut Achiar, fuel cell sebagai sel bahan bakar untuk transportasi telah menarik perhatian penentu kebijakan dan pengamat lingkungan. Soalnya, teknologi ini merupakan device konversi energi yang penting untuk menyelamatkan lingkungan.

"Selain itu, sel bahan bakar dipercaya akan dapat memenuhi kebutuhan para konsumen. Bahkan kini telah banyak produsen kendaraan utama di dunia telah meluncurkan program untuk mengembangkan mobil berenergi sel bahan bakar dengan zero-polluting," katanya.

Sumber : Suara Pembaruan
 

~ Kendaraan Bermotor Memakai Energi Hibrid

Efisiensi BBM: Kini Sudah di Era Energi Hibrid
 
Cadangan bahan bakar minyak terus menyusut. Diperkirakan 20 tahun lagi sumber energi ini akan terkuras habis. Karena itu, upaya menekan penggunaan bahan bakar fosil gencar dilakukan di banyak negara

Caranya, antara lain, dengan mengintroduksi sumber energi lain sebagai pendamping dalam sistem hibrid hingga suatu saat dapat menyubstitusi secara penuh bahan bakar minyak (BBM).

Penggunaan sistem hibrid telah lama diterapkan pada pembangkit listrik, yaitu mengombinasikan pembangkit listrik tenaga (PLT) diesel atau solar dengan energi surya dan energi angin.

PLT hibrid ini telah luas digunakan di pulau-pulau kecil dan daerah terpencil di Indonesia di kawasan tengah dan timur, antara lain di Nusa Penida (Bali), Pulau Bima (NTB), dan Rotendau (NTT).

Pada kendaraan bermotor, sistem hibrid diterapkan pada akhir 1980-an di taksi di kota Jakarta, dengan menggunakan dual sistem, memadukan BBM dan bahan bakar compressed natural gas (CNG). Sayangnya, penggunaan ini agak tersendat karena keterbatasan ketersediaan stasiun pengisian CNG.

Di negara maju, penggunaan sistem hibrid telah lama dirintis. Di Jepang, pada tahun 1977 Toyota memperkenalkan prototipe mobil sportnya yang menggunakan hibrid gas turbin. Dua puluh tahun kemudian, 1997, perusahaan otomotif ini meluncurkan tipe sedan dan bus yang menggunakan sistem hibrid, yaitu mesin kendaraan bermotor yang mengombinasikan penggunaan listrik dari baterai penyimpan dan mesin kendaraan yang menggunakan BBM.

Dengan sistem hibrid ini, penghematan dicapai melalui penggunaan listrik ketika mesin dalam keadaan statis dan direm. Sedangkan mesin diaktifkan saat kendaraan dipercepat lajunya.

Dengan mesin hibrid, penggunaan bahan bakar bisa mencapai 1 : 25, sedangkan dengan mesin konvensional 1 : 10 hingga 12 atau lebih dari dua kali lipat.

Sejak tahun 1997 hingga 2007, penjualan kendaraan hibrid telah mencapai sekitar 1,5 juta unit di seluruh dunia. Ditargetkan, tahun 2010 jumlahnya akan mencapai 1 juta kendaraan hibrid per tahun. Pada 2020 semua tipe kendaraan produksi Toyota Motor Corporation (TMC) telah memakai sistem hibrid.

Pada Toyota Environment Forum (TEF) 2008 di Tokyo, 11 Juni lalu, President TMC Katsuaki Watanabe mengatakan, teknologi hibrid akan terus dikembangkan penerapannya pada semua tipe kendaraan yang dibuat perusahaannya. Menurut dia, teknologi hibrid adalah batu loncatan menuju era kendaraan berbahan bakar fuel cell yang disebut sebagai ultimate eco-car karena sama sekali tidak menghasilkan gas buang. Pada tahun 2002 TMC pertama kali meluncurkan fuel cell hybrid vehicle yang menggunakan hidrogen bertekanan tinggi.

Pengembangan sistem hibrid pada kendaraan bermotor itu mendorong beberapa produsen mobil, baik di Jepang maupun Amerika Serikat antara lain General Motor, untuk menerapkan dan mengembangkannya.

Pada TEF 2008 juga diperkenalkan sistem hibrid plug-in, yang memungkinkan pengisian listrik pada baterai dari litium ketika mobil diparkir. Cara ini memungkinkan penggunaan kendaraan komuter berukuran kecil, yang jarak jelajahnya relatif dekat, 10-15 kilometer.

Penerapan Brown energy yang baru diperkenalkan di Indonesia pekan lalu pun sebenarnya juga merupakan sistem hibrid, yang memadukan BBM dengan BBA (campuran air destilasi dengan soda kue), yang menghasilkan gas hidrogen dan oksigen dari sistem elektrolisa. Sistem tersebut masih dalam tahap proses pengajuan untuk uji kelayakan dan keamanan serta memperoleh SNI. Sementara itu, fuel cell juga telah dirintis beberapa tahun terakhir ini, antara lain di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dengan membuat prototipe skala kecil.

Aplikasi industri

Penerapan sistem hibrid tidak hanya diterapkan pada produk otomotif, tetapi juga pada proses produksi. Di pabrik TMC di Tsutsumi Nagoya, Toyota menerapkan kombinasi pembangkit listrik siklus kombinasi (combine cycle) dan sel surya.

Untuk menghasilkan tenaga listrik dari sistem pembangkit fotovoltaik, Toyota memasang panel-panel sel surya di atap- atap pabrik. Perusahaan otomotif Jepang ini memiliki pabrik seluas 610.000 meter persegi, yang memproduksi enam jenis atau tipe kendaraan. Di pabrik itu ada 12.000 panel surya yang luasnya ekuivalen dengan 60 lapangan tenis, ujar Takeshi Uchiyamada, Executive Vice President TMC.

Dengan menggunakan sistem sel surya fotovoltaik, penggunaan listrik, terutama untuk penerangan di pabrik, dapat dikurangi.

Dalam mengembangkan energi alternatif pengganti BBM, Toyota lebih mengarahkan pada penggunaan energi ramah lingkungan dengan tujuan menekan emisi gas karbon dioksida (CO2). Pada sistem mesin gas kogenerator, sejak September 2004, penggunaan minyak berat telah digantikan dengan gas alam cair—yang juga menggantikan gas petroleum cair (PLG) yang dipakai di semua pabrik.

Dengan penggunaan bahan bakar alternatif itu, pabrik Tsutsumi Toyota dapat mereduksi emisi CO2 tahun lalu secara akumulatif 127.000 ton—lebih dari 51 persen dibandingkan dengan tahun 1990. Reduksi per tahun mencapai 740 ton, ini ekuivalen dengan 1.500 barrel minyak mentah.

Watanabe memproyeksikan, tahun 2010 total industri TMC akan mereduksi CO2 sebesar 30 persen dari tahun 1990—naik dari 25 persen tahun lalu.

Contoh beberapa mesin yang digunakan dalam penghematan BBM pada kendaraan:

MAX 2A

 

Digunakan pada mobil NON TURBO. Berfungsi untuk mengatasi BACK PRESSURE (menghisap udara kotor yang keluar dari mesin agar tidak terhisap kembali sehingga 100% udara bersih bisa dihisap secara sempurna)

RFF (Rizor Fuel Filter)

Saringan bahan bakar yang dapat dicuci dan dibersihkan berulang kali. Efisien dan efektif, tanpa harus membeli lagi penyaring bahan bakar

MAX 2B

Digunakan pada mobil TURBO dan berfungsi untuk mengatasi BACK PRESSURE dan TURBO LAG (2B berfungsi pada saat Turbo System tidak digunakan oleh kendaraan)

RFEM (Rizor Fuel Eficiency Maximizer)

Digunakan pada KENDARAAN KOMERSIAL (mulai dari mobil, bus, dan truk) sampai ke ALAT BERAT, KAPAL LAUT, & KERETA API) berdasarkan besaran HP (Horse Power)

RFP (Rizor Fuel Power)

Digunakan pada mobil NON TURBO dan TURBO yang berfungsi untuk menghemat pemakaian BBM dengan cara menyempurnakan sistem aliran bahan bakar

RAF (Rizor Air Filter)

Saringan udara yang dapat dicuci dan dibersihkan berulang kali. Efisien dan efektif, tanpa harus membeli lagi penyaring udara

REPS (Rizor Economic Power System)

Digunakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (genset) berdasarkan besaran KW mesin, atau di Mesin Boiler, Dryer, Oven, berdasarkan liter pemakaian. Fungsinya seperti RFEM (lebih ke arah penghematan pemakaian BBM).

sumber : www.kompas.com ; www.Rizor.Info

 
Halaman 758 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook