Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Pertamina Siap Produksi Biodiesel Dari CPO

Biodiesel? Pertamina Siap!

Pertamina siap memproduksi dan menjual biodiesel dari bahan dasar minyak kelapa sawit atau CPO (crude palm oil). Biodiesel adalah salah satu jenis bahan bakar hayati non fosil (biofuel) yang sedang digalakkan Pemerintah pemakaiannya melalui Perpres No. 5 Tahun 2006 dan Inpres No. 1 Tahun 2006. Bahan bakar ini secara bertahap akan mengurangi peran solar. Dengan kualifikasi biodiesel B-5 yang diluncurkan 20 Mei 2006 ini, biodiesel bermerek Bio-Solar tersebut mengandung lima persen CPO yang telah dibentuk menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan 95 persen solar murni bersubsidi. Dengan formula seperti itu, untuk tahun 2006 ada penghematan impor solar sebanyak 720.000 kiloliter.

Ini adalah proyek untuk solusi bangsa di bidang energi.Tak berlebihan, karena dengan langkah Pertamina ini berarti Indonesia pada 20 Mei 2006 ini telah memulai sesuatu yang bersejarah, yaitu mengembangkan energi alternatif yang memiliki multiplier effect secara ekonomi dan ketahanan bangsa di sektor energi.

Memilih tanggal 20 Mei 2006 sebagai tanggal peluncuran produk perdana ini, pasti tak dilepaskan dari semangat historis kebangkitan bangsa pada 20 Mei 1908 oleh organisasi Budi Utomo.

Boleh jadi meluncurkan produk Bio Solar merupakan langkah kita menuju alam yang bebas krisis, atau kalau perlu menuju alam yang membawa kembali kejayaan bangsa. Nilai dan semangat di balik peluncuran ini yang tidak boleh diabaikan dan dipandang sebelah mata. Parameternya adalah langkah nyata dan bersemangat problem solving.

PROBLEM ENERGI NASIONAL

Tak hanya Indonesia yang dipaksa berpikir untuk mengabil langkah strategis, berjangka panjang, berkesinambungan, di seputar masalah kebijakan energi. China yang mengonsumsi minyak 6,5 juta bph pada tahun 2004 dan diperkirakan memakai 10,5 juta bph pada tahun 2020, sedang melalukan “revolusi” energi. Juga AS, negeri-negeri Eropa, dan sejumlah negara Asia seperti Jepang, Thailand, dan India.

Kalau tidak direm, konsumsi minyak oleh bangsa Indonesia bisa melonjak tajam. Ada pakar yang mencatat prediksi kebutuhan BBM dalam negeri pada tahun 2010 sekitar 1,6 juta bph. Kebutuhan ini ekivalen dengan minyak mentah 2 juta bph.

Apa yang dicatat oleh sang pakar memang belum terjadi, tetapi kalau trend konsumsi BBM oleh bangsa ini tidak direm, kemungkinan krisis energi minyak tidak mustahil terjadi. Karena kebutuhan energi adalah bersifat kebutuhan primer dan selalu beriringan dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan perkiraan tingkat pertumbuhan ekonomi Nasional yang terus dipacu dan terus membaik, maka tingkat konsumsi energi akan ikut terdongkrak.

Energi memang tak hanya minyak bumi. Namun kalau melihat pola konsumsi minyak bumi yang masih dominan, maka gerakan klimaks konsumsi BBM dalam negeri tidak gampang distop.

Dengan teori berpikir seperti ini kita bisa menerima angka prediksi kalau impor minyak mentah Indonesia akan melonjak di atas 400 ribu bph. Padahal saat ini “hanya” sekitar 0,400 juta bph.

Menutupi demand minyak bumi yang terus melonjak dengan opsi menaikkan tingkat produksi crude Nasional untuk dalam kondisi sekarang tidaklah gampang, untuk tidak mengatakan tidak mungkin. Faktanya booming minyak bumi di negeri kita seperti tahun medio 1970-an dan awal 1980-an agaknya belum terbayangkan terjadi lagi.

Tingkat produksi Nasional terus melorot sejak 2000. Bahkan sempat menyentuh sedikit di bawah satu juta bph, walaupun kemudian berusaha didongkrak menggenapkan lagi ke angka satu juta bph, dan ditargetkan 1,3 juta bph pada tahun 2006 ini.

Penemuan cadangan baru memang sempat memberikan harapan, bahwa posisi net oil importer akan bisa diperbaiki, dan kembali mengekspor. Tapi dengan berpikir realistis bahwa karakteristik energi fosil pada akhirnya harus habis, bangsa Indonesia tetap saja harus mempersiapkan diri mengantisipasi kondisi memilukan, minyak bumi habis dari perut bumi kita.

Menemukan kembali giant field minyak mentah kita? Kepala kita akan menggeleng sebagai jawaban. Kenyataannya sejak ditambang secara komersial pada tahun 1885 oleh bangsa asing dan dimanfaatkan mereka hingga 1945, sumber minyak bumi di perut Nusantara sudah “lelah.”

Ironisnya kita masih berboros-boros ria dengan BBM yang murah (gara-gara harga subsidi). Sebagian dari komponen bangsa ini seperti tidak menyadari potensi masalah besar di sektor energi sedang dihadapi. Sehingga opsi menurunkan subsidi BBM secara bertahap gencar dipolitisasi. Ditentang, dikritik, dan dihujat. Padahal menurunkan subsidi secara bertahap sudah diputuskan Pemerintah dan DPR melalui UU No. 5 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas).

Bangsa AS saja sudah dikukuhkan oleh UU energi mereka, US Energy Act 2005, untuk mengurangi pemakaian bensin sebesar 1,0 juta bph pada tahun 2015 (Kompas, 20/8/05). Bahkan diberitakan, atas perintah Presiden Bush, program-progam khusus di Departemen Energi AS dikonsentrasikan untuk mengganti lebih dari 75 persen impor minyak AS dari Timur Tengah pada tahun 2025 (Kompas, 5/5/06).

Ada langkah-langkah cerdas yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain. Mereka seperti mengerti kapan bersatu padu mengatasi masalah besar bangsa, kapan mereka berseberangan secara politik dengan pemerintah. Perahu bocor diatasi bersama. Konflik kepentingan di atas perahu bocor hanya akan menenggelamkan seluruh penumpang perahu.

Sementara China membangun energy security melalui investasi besar-besaran di proyek eksplorasi dan pengembangan di berbagai negara lain. Negeri tirai bambo ini membentuk “balatentara” untuk melaksanakan misi ini, yaitu membentuk tiga BUMN minyak skala besar pada tahun 1980-an.

Ada The China National Offshore Oil Corporation (CNOOC), The China National Petrchemical Corporation (Sinopec), dan The China National Petroleum Corporation (CNPC). Ketiga BUMN ini menjadi lokomotif Chinauntuk memenuhi security of supply energi minyaknya.

Braziladalah contoh lain betapa negeri itu berhasil mengembangkan bioethanol dengan memanfaatkan sari tebu. Dan ketika sejumlah negara menjerit dan berteriak karena masalah eneri, negeri Samba ini tersenyum dengan energi alternatifnya.

Indonesiasebenarnya boleh dikatakan melakukan langkah cerdas. Strategi menghidupkan bahan bakar dari unsur hayati non fosil berarti memanfaatkan kelebihan alamnya yang kaya dengan unsur-unsur hayati. Tidak mustahil, dari pengembangan biodiesel berbahan dasar CPO saja membuka kemungkinan negara ini menjadi produsen CPO terbesar di dunia, menyalip Malaysiayang kali ini sebagai produsen CPO terbesar di dunia.

BUMN-BUMN bidang perkebunan, yaitu PTPN diperkirakan akan hidup subur karena CPO-nya selain diekspor bisa dijadikan bahan dasar biodiesel. Tak mustahil, Indonesiamelalui Pertamina kelak akan mengekspor biodiesel ke negeri-negeri yang membutuhkan energi besar seperti China, AS, dan India.

Ini adalah mimpi dan optimisme kita. Tak ubahnya mimpi para pendiri bangsa ketika beberapa puluh tahun sebelum proklamasi sudah tersenyum dengan imajinasi mereka memiliki negeri yang merdeka bebas dari penjajahan. Bukankah mereka berhasil mewujudkan mimpinya?

Oleh karena itu, maaf, untuk program besar seperti Kebijakan Energi Nasional yang ditetapkan awal 2006 tak seharusnya “dikoyak-koyak” lagi oleh publik, seperti nasib kebijakan mengurangi subsidi BBM (melalui penentangan public atas kenaikan harga BBM). Perahu kita di sektor energi sudah berlobang. Mari kita tutupi lobang itu bersama-sama tanpa melihat perbedaan aliran politik dan faham.

Kebebasan berpendapat yang “liar” sebagai konsekuensi alam demokrasi sudah saatnya untuk kita letakkan secara arif agar urusan urgen dan strategis, yang menyangkut program keselamatan bangsa pada masa depan, tidak berantakan oleh kekuatan kita sendiri. Demokrasi yang tetap memperhatikan kepentingan lebih besar yang bersifat strategic problem solving bangsa.

ARTI PENTING BIODIESEL

Opsi mengalihkan konsumsi energi dari jenis energi fosil yang tidak bisa diperbarui (unrenewable energy) ke jenis energi hayati non fosil yang bisa diperbarui (renewable energy) bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Karena asumsi yang ada sudah tak terbantahkan, yaitu energi fosil akan habis pada saatnya.

Cukup aman, karena jenis energi terbarukan ini memiliki sumber daya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola dengan baik. Sebutlah misalnya, panasbumi, biofuel, aliran sungai, panas surya, angina, ombak laut, dan suhu kedalaman laut.

Dari sederet jenis energi yang terbarukan itu Pertamina bergerak di dalam salah satunya, yaitu panasbumi. Nah, sekarang Pertamina bergerak lagi ke energi yang terbarukan jenis yang lain, yaitu biofuel. Salah satu biofuel yang digarap Pertamina adalah biodiesel, yaitu bahan bakar diesel yang terbuat dari unsur hayati-nabati non fosil.

Seperti diketahui, biofuel itu ada yang dibuat dari minyak nabati seperti minyak kelapa sawit atau CPO (Crude Palam Oil) dan minyak pohon jarak pagar atau CJCO (Crude Jatropha Curcas Oil), dibuat dengan proses transesterifikasi. Proses ini pada dasarnya merupakan proses yang mereaksikan minyak nabati (CPO atau CJCO) dengan methanol dan ethanol dengan katalisator soda api (NaOH atau KOH).

Dari hasil proses transesterifikasi CPO itu akan dihasilkan metil ester asam lemak murni (FAME). Lalu FAME tersebut di-blending dengan solar murni selama 10 menitan, menghasilkan biodiesel yang siap pakai. Itulah biofuel jenis biodiesel! Biodiesel penggunaannya adalah untuk menggantikan solar.

Kalau untuk kebutuhan minyak goreng, CPO tidak mengalami transesterifikasi, melainkan mengikuti proses pemurnian, sehingga warna keruh CPO itu menjadi “terang-benderang.” Itulah minyak goreng!

Biodiesel memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan bentuk energi lain. Lebih mudah ditransportasikan; memiliki kerapatan energi per volume yang lebih tinggi; memiliki karakter pembakaran yang relatif bersih; dan ramah lingkungan.

Kelemahannya tak cocok dipakai untuk kendaraan bermotor yang memerlukan kecepatan dan daya, karena biodiesel menghasilkan tenaga yang lebih rendah dibandingkan solar murni.

Jenis biofuel lain adalah bioethanol. Dibuat dari tanaman yang mengandung gula dan pati seperti tebu, singkong, sagu, dan sorgum. Bahan-bahan ini yang diubah menjadi ethanol. Bioethanol itu yang berhasil dikembangkan Brazildengan memanfaatkan tetes tebu. Bioethanol digunakan untuk menggantikan bensin.

Bioethanol bisa digunakan dalam bentuk neat 100 persen (E-100). Atau di-blending dengan bensin (E-XX).

Sedangkan biofuel yang sudah banyak dipraktekkan oleh sementara lapisan masyarakat di daerah peternakan adalah biogas. Bahannya adalah limbah cair, limbah kotoran ternak, dan bahkan kotoran manusia. Bentuknya adalah gas. Bisa menggantikan minyak tanah.

Sebenarnya biogas ini ada yang memasukkan ke dalam keluarga biomassa yang menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia adalah massa tumbuhan dan kotoran hewan yang dapat memberikan energi, baik dengan dibakar langsunbg, maupun setelah diubah menjadi bahan lain yang pembakarannya lebih mudah.

Jadi, biogas diperoleh dari bahan biomassa hasil peragian oleh mikroorganisme tanpa adanya oksigen. Contoh bahan biomassa yang sering dipakai adalah kayu atau limbah kayu, produk atau limbah pertanian, ganggang, eceng gondok, kotoran ternak, dan lain-lain.

Burhani Rahman (Kompas, 8/6/05) menulis, bahwa bahan bakar ini dibuat dari limbah kotoran ternak, bahkan tinja manusia. Bahan-bahan itu dicampur dengan potongan jerami, sekam, dan daun-daunan sortiran sayur, dan lain sebagainya.

Biogas cocok dikembangkan di daerah-daerah yang memiliki biomassa melimpah, terutama di sentra-sentra produksi padi dan ternak di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali, dan lain-lain.

Kembali ke soal biodiesel. Arti penting pemanfaatan biodiesel antara lain menyangkut kebutuhan solar untuk transportasi yang terus meningkat. Tahun 2006 ini saja sudah mencapai 12,438 juta kiloliter. Sehingga dengan pengembangan biodiesel, maka impor solar akan sedikit demi sedikit bisa dikurangi. Ada penghematan devisa negara.

Ketika laju konsumsi BBM sulit direm, maka mensubstitusi BBM dengan biofuel akan memperingan beban impor BBM. Di tengah melonjaknya harga crude sampai 74 dolar AS per barel (per akhir April 2006), penghematan impor BBM akan sangat berarti bagi kondisi cash flow Pemerintah. Karena ketika volume impor BBM dan crude meningkat, maka beban keuangan Negara pun semakin dibuat cekak.

MENGURANGI KONSUMSI BBM

Pengembangan biodiesel oleh Pertamina menempati posisi strategis dalam memperkuat implementasi kebijakan Pemerintah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak fosil. Perpres No. 5 Tahun 2006 menargetkan peningkatan pemanfaatan gas bumi lebih dari 30 persen. Saat ini masih kecil, sekitar 26,5 persen terpakai.

Demikian batubara, harus melonjak tingkat konsumsinya ketimbang gas bumi sekalipun. Perpres menetapkan konsumsi batubara harus menjadi lebih dari 33 persen. Sekarang batubara baru dipakai orang Indonesia hanya 14,1 persen saja.

Intinya energi alternatif masih begitu rendah tingkat konsumsinya, dan arah kebijakan Pemerintah adalah meningkatkan volume pemakaian non BBM tersebut.

Panasbumi yang begitu melimpah ditargetkan harus melebihi lima persen. Sedangkan energi terbarukan lainnya (biomasssa, nuklir, tenaga air skala kecil, tenaga surya, dan tenaga angin) diharapkan menjadi lebih dari lima persen.

Dan terakhir, bahan bakar lain yang berasal dari pencairan batubara ditargetkan harus menjadi lebih dari dua persen.

Ada empat kebijakan utama Pemerintah untuk mencapai keamanan pasokan energi dalam negeri serta berbagai sasarannya. Dari mulai penyediaan energi; pemanfaatan energi; penetapan harga energi ke arah harga keekonomian; maupun pelestarian lingkungan dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Salah satu contoh dari kebijakan pemanfaatan energi adalah melalui diversifikasi energi, yaitu penganekaragaman penyediaan dan pemanfaatan berbagia sumber energi dalam rangka optimalisasi penyediaan energi.

Dalam kerangka diversifikasi energi lah pengembangan biodiesel dilakukan oleh Pertamina. Tinggal bagaimana bentuk insentif dari Pemerintah agar para pelaku pengembangan penyediaan dan pemanfaatan biofuel tidak merugi dan tetap bergairah. “Pemerintah dapat memberikan kemudahan dan insentif kepada pelaksana konservasi energi dan pengembang sumber energi alternative” (Pasal 6 Perpres No. 5 Tahun 2006).

Diambil dari : www.pertamina.com

 

~ Pasir Sebagai Sumber Energi Masa Depan

Pasir, Energi Alternatif Masa Depan

ENERGI merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena hampir semua aktivitas manusia selalu membutuhkan energi. Misalnya untuk penerangan, proses industri atau untuk menggerakkan peralatan rumah tangga diperlukan energi listrik; untuk menggerakkan kendaraan baik roda dua maupun empat diperlukan bensin, serta masih banyak peralatan di sekitar kehidupan manusia yang memerlukan energi.

SEBAGIAN besar energi yang digunakan di Indonesia berasal dari energi fosil yang berbentuk minyak bumi dan gas bumi. Energi juga dapat diperoleh dari turbin yang digerakkan oleh air dan menghasilkan energi listrik.

Saat ini sudah banyak diketahui potensi alam dalam menyediakan energi alternatif pengganti energi dari fosil, antara lain energi dari reaktor nuklir, energi dari tenaga angin atau energi dari sinar matahari, dan lain sebagainya.

Mengapa saat ini perlu dipikirkan energi alternatif untuk masa depan? Persoalan ini dimulai dari persediaan energi dari fosil sangat terbatas dan diperkirakan akan habis dalam kurun beberapa tahun mendatang.

Dengan demikian, banyak negara, terutama yang tidak memiliki persediaan energi fosil dan sangat tergantung dengan negara-negara pengekspor minyak dan gas bumi, sudah mulai mempersiapkan diri untuk mencari energi alternatif serta melakukan program-program nasional untuk menghemat penggunaan energi.

Kedua kegiatan ini dilakukan secara paralel, keterlibatan pihak pemerintah sangat besar dalam pelaksanaan program tersebut, terutama dalam melakukan sosialisasi hasil penelitian dan pengembangan di bidang energi.

Pada pertemuan tahunan para ahli silisium bulan Mei 2000 di Tromse, Norwegia, seperti yang diberitakan majalah Stren tanggal 9 November 2000, diperoleh ide untuk memanfaatkan pasir sebagai sumber energi alternatif masa depan yang diungkapkan oleh Prof Nobert Auner dari Universitas Frankfurt, Jerman.

Ide ini diperolehnya setelah dia mendengarkan presentasi Gudrun Tamme dari PT Wacker, Berghausen, Jerman, tentang "Silisium dan Tembaga Dioksida dalam Produksi Silikon merupakan Campuran yang Berbahaya?".

Tema ini diangkat berdasarkan pengalaman PT Wacker pada tahun 1998 yang memproduksi silan (produk antara dalam proses produksi silikon).

Silo tempat penyimpanan silisium dan tembaga dioksida menunjukkan kenaikan temperatur yang sangat tinggi, dari suhu ruang menjadi 200 derajat Celsius dan bahan campuran dalam silo tersebut menjadi sangat keras.

Selanjutnya silo tersebut dikurangi isinya hingga separuh, dengan harapan suhu akan turun. Akan tetapi, suhu dalam silo masih tetap tinggi, bahkan suhu di tengah silo menunjukkan angka 400 derajat Celsius.

Para pekerja berupaya menurunkan suhu silo dengan cara menyiramkan air pada bagian luar silo, karena sangat berbahaya apabila air bereaksi dengan silisium maka akan terjadi reaksi panas yang luar biasa, bahkan bisa menimbulkan ledakan pada silo.

Usaha ini belum berhasil, kemudian ditempuh upaya dengan mengalirkan gas nitrogen dan selanjutnya gas argon untuk menurunkan suhu silo. Usaha yang ditempuh terakhir ini menunjukkan hasil positif, suhu silo kembali normal.

Pada saat dilakukan penyaluran gas argon ke dalam silo, diketahui adanya "lava" dalam bahan campuran di dalam silo tersebut.

Lava ini yang memberikan ide bagi Prof Nobert Auner untuk memanfaatkan pasir yang memiliki penyusun utamanya silisium dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif masa depan.

Kondisi tersebut merupakan ide dasar untuk menggunakan pasir sebagai bahan bakar. Berdasarkan kondisi yang terjadi di PT Wacker tersebut dan hasil penelitian di Universitas Frankfurt, maka ada beberapa kemungkinan dalam pemanfaatan pasir tersebut.

1. Pasir terdapat di banyak tempat, baik dalam bentuk batuan atau pasir seperti yang terdapat di gurun pasir. Pasir sebagian besar tersusun oleh silisiumdioksida, sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku produksi silisium.

Dalam proses pengolahan silisiumdioksida menjadi silisium atau bahan metal yang berwarna abu-abu dapat digunakan energi yang ramah lingkungan dan disediakan oleh alam, yaitu energi angin atau tenaga dari sinar matahari.

Silisium merupakan bahan tidak beracun serta memiliki kandungan energi seperti karbon, yang merupakan inti energi fosil.

Energi dalam silisium tersimpan dengan aman karena adanya ikatan kimia, serta dapat dipindahkan ke tempat yang lain dengan aman. Sebagai bahan pembanding pada tabel I ditampilkan besarnya energi yang dihasilkan oleh beberapa sumber energi alternatif. Lihat Tabel 1.

2. Silisium murni merupakan bahan baku industri yang bernilai miliaran dollar, karena silisium merupakan bahan baku untuk memproduksi chip komputer dan silikon.

Dari silikon masih dapat diproduksi beberapa macam barang lanjutan seperti bahan pembuatan cat, payudara buatan, bahan kosmetik, contact-lens, keramik, dan ban mobil.

Saat dilakukan proses produksi silisium menjadi silikon diperoleh produk samping cair, Tetramethylsilan (TMS) yang memiliki energi bakar sebesar bensin dari minyak bumi. Apabila TMS ini dibakar, maka akan dihasilkan energi serta gas CO2 yang lebih sedikit dibandingkan bensin serta pasir bersih.

Dengan demikian, TMS ini bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif masa depan, walaupun perlu diperhatikan pasir yang dihasilkan selama proses pembakaran.

3. Reaktor silisium merupakan reaktor yang ramah lingkungan, karena dalam proses pembakaran untuk menghasilkan energi, reaktor ini menggunakan gas O2 dan N2 yang banyak tersedia di udara bebas.

Panas yang dihasilkan dari proses pembakaran dapat digunakan untuk menjalankan turbin yang dapat menghasilkan energi listrik.

Selain dihasilkan energi panas, dalam proses pembakaran juga dihasilkan pasir dan silisium nitrit, yang dapat digunakan untuk memproduksi keramik atau gelas. Selain itu, silisium nitrit bisa digunakan sebagai bahan pelapis yang tahan goresan, kelembaban udara, api, dan asam.

Di samping itu juga dihasilkan gas yang mempunyai komposisi 80 persen gas N2, CO2, dan O2 yang mirip dengan komposisi gas di udara bebas sehingga tidak banyak menimbulkan masalah polusi.

Adapun dari silisium nitrit sendiri dapat dihasilkan gas NH3 atau amoniak, yang juga dapat digunakan sebagai bahan bakar penggerak motor atau mobil di masa yang akan datang. Di samping itu amoniak juga bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk urea atau pupuk nitrogen.

Apabila hal ini bisa dilaksanakan, maka akan dapat dilakukan perbaikan proses untuk menghasilkan pupuk urea, yaitu dengan tidak digunakannya lagi proses klasik Haber-Bosch yang membutuhkan temperatur dan tekanan yang tinggi serta memerlukan biaya proses yang mahal.

Selain itu, gas CO2, yang dikeluarkan selama proses dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan methan, bahan bakar pengganti bensin. Pembakaran gas methan juga akan menghasilkan gas CO2 lagi, tetapi menurut Daniel Herbst dari Universitas Karlsruhe, Jerman, dapat pula dihasilkan cairan bahan bakar yang bebas CO2 melalui proses bioteknologi atau elektrolisa.

Pengetahuan awal tentang penggunaan pasir sebagai bahan bakar alternatif di masa mendatang masih perlu dikembangkan lebih lanjut. Tetapi terobosan ilmiah ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak baik pemerintah, perusahaan, dan lembaga penelitian atau perguruan tinggi yang memberikan prioritas dalam pengembangan energi masa depan.

Di Indonesia yang selama ini dimanja dengan berbagai fasilitas kekayaan alamnya, masih sangat rendah perhatiannya terhadap penggunaan energi secara efektif.

Hal ini sangat perlu diubah untuk mengantisipasi era globalisasi yang semakin dekat, karena isu penggunaan energi atau manajemen energi maupun manajemen lingkungan hidup akan menjadi isu penting dari produk-produk perdagangan dunia.

Dengan diberlakukannya ISO 14000 tentang manajemen lingkungan serta ISO 14040 mengenai Life Cycle Assessment (LCA) semakin menyadarkan kita bahwa pengelolaan lingkungan hidup, kekayaan alam, serta manajemen energi pasti akan menjadi salah satu isu penting di dunia perdagangan internasional.

(Oleh Wahyu Suparton , Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta)

 

~ Seruan Pencegahan HIV-AIDS Menyentuh Masyarakat Papua

Gubernur Papua Kampanye Pencegahan HIV/AIDS

Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, menyerukan kampanye besar-besaran untuk pencegahan HIV-AIDS yang menyentuh seluruh masyarakat Papua termasuk yang tinggal di kampung-kampung.
          
Seruan itu disampaikan Barnabas Suebu ketika memberi pengarahan kepada panitia Pertemuan Pemangku Kepentingan untuk Percepatan Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS di Tanah Papua dan para kepala dinas/instansi, di Gedung Negara, Jayapura, Senin (17/11).

"Pertemuan ini jangan hanya sekedar rutinitas tapi bisa membedah permasalahan HIV-AIDS di Papua sampai pada akar masalahnya sehingga kita bisa menyusun rencana aksi yang bisa menjawab permasalahan sekaligus menyentuh seluruh masyarakat sampai di kampung-kampung," tegas Suebu.

Gubernur juga menegaskan sejak kasus pertama dilaporkan 16 tahun silam sebanyak tujuh kasus dan  jumlah kasus  HIV-AIDS di Papua saat ini sudah lebih dari empat ribu.

Menyikapi hal ini, lanjut Suebu, yang terpenting yang bisa dilakukan adalah percepatan aksi pencegahan  dan penanggulangan terkait HIV-AIDS.

"Kita tidak perlu menangisi angka yang terus meningkat tapi bagaimana bisa merubah bola pingpong menjadi bola basket dan bola tenis tetap menjadi bola tenis,".

Gubernur mengibaratkan upaya penanggulangan AIDS sebagai bola pingpong dan masalah HIV-AIDS sebagai bola tenis. Artinya, pertemuan pemangku kepentingan yang digelar 19-21 November, akan menjadi awal percepatan upaya penanggulangan AIDS di Papua, sehingga epidemi HIV-AIDS di Papua bisa dikendalikan.

Terkait penanggulangan AIDS di Papua, Gubernur Suebu menekankan tiga hal. Pertama, sinkronisasi program  dan terfokus. Program penanggulangan AIDS harus sejalan dan  sinergi dengan program lain, tidak berjalan sendiri-sendiri, dan bisa menjawab permasalahan.

Kedua, komprehensif. Program HIV-AIDS harus dikolaborasikan dengan upaya penanggulangan penyakit lain seperti TB (Tuberkulosis) dan penyakit menular lain. Ketiga, program harus dimulai dan melibatkan semua orang.

"Informasi yang harus sampai ke masyarakat adalah pengetahuan tentang hidup sehat, upaya pencegahan penyakit menular termasuk HIV, gizi, rumah sehat, pendidikan dasar, dan ekonomi. Informasi harus disampaikan secara besar-besaran dan benar-benar sampai ke masyarakat,"  jelas Gubernur.

Untuk itu, Gubernur mengisyarakat akan mengembangkan program pendidikan yang akan disiarkan melalui media massa. Terkait dengan ini, Gubernur akan memberikan bantuan kepada setiap kampung berupa pesawat radio, pesawat televisi, dan energi solar cell yang berfungsi untuk menghidupkan peralatan tersebut.

Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Papua melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, akan menggelar Pertemuan Pemangku Kepentingan untuk Percepatan Penanggulangan HIV-AIDS di Tanah Papua, 19-21 November.

Tujuan kegiatan ini adalah mempromosikan hasil-hasil penanggulangan AIDS, mensosialisasikan inovasi baru program penanggulangan AIDS yang berorientasi pada penanganan pada akar masalah dan pengintegrasian sistem pelayanan kesehatan masyarakat, serta mengadvokasi pemangku kepentingan (stakeholder) untuk percepatan pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di Tanah Papua.

Salah satu keluaran yang diharapkan dari pertemuan para pemangku kepentingan ini adalah grand design penanggulangan AIDS di Tanah Papua yang berisi kebijakan, rencana strategis, program, dan komitmen para pemangku kepentingan untuk melaksanakan program yang disepakati.
AC
Sumber : Antara

 

~ Proses Teknologi Benda-Benda Ukuran Nano

Nano Teknologi di Depok

Fakultas Ilmu Komputer UI, Depok, Senin (15/6) menggelar seminar dengan tema New Frontiers In Micro/Nano Technology , dengan pembicara Profesor Ioan Marinescu, PhD, Direktur Precision Micro- Machining Center Universitas Toledo, Ohio, USA . Pendiri American Society for Abrasive ini akan menyajikan temuan teknik rekayasa presi si yang baru, termasuk, pembuatan lensa mikrosperikal, dinamika molecular.

Deputi Direktur Kantor Komunikasi UI, Devie Rahmawati , mengatakan, dunia terus mencari penyempurnaan dari kemampuan mesin yang mampu menghasilkan produk struktur multifungsional dengan tingkat presisi ultra tinggi. "Dalam dunia industri, contoh struktur multifungsional antara lain, holographic optical elements (OHE), silicon-on-insulator (DOI), ultra-large scale integrated circuits (ULSI). Semua kebutuhan tersebut, dapat dipenuhi dengan adanya terobosan dari ilmu nano teknologi," katanya.

Nanoteknologi adalah teknologi yang menciptakan benda dalam dimensi sekitar 1 hingga X nanometer. 1 nanometer adalah sepermilyar meter . Sebagai ilustrasi, selembar kertas kira-kira setebal 100 ribu nanometer dan diameter satu atom emas sekitar sepertiga atau satu nanometer. Nanoteknologi b erarti menciptakan gambar, mengukur, membuat model dan memanipulasi benda-benda dalam rentang ukuran tersebut. Benda-benda yang berukuran nano itu disebut nanomaterials.

Devie menjelaskan, dewasa ini nanomaterials dapat diaplikasikan untuk menambah kekuatan bahan komposit dalam pembuatan raket tenis ; pemukul baseball; dan sepeda agar lebi h ringan. Tidak hanya itu, k atalisator yang dibuat dengan nanoteknologi membuat proses kimia di pabrik berjalan lebih efisien, hemat energi dan mengurangi limbah. Sedangka n industri farmasi menggunakan nanoteknologi untuk menambah kapasitas penyerapan serta produk lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan.

Produk optik yang mengaplikasikan lapisan nano (nanocoatings) pada kacamata akan menghasilkan produk yang lebih mudah dibersihkan dan lebih tahan terhadap goresan. nanoceramics digunakan juga sebagai tambal gigi atau untuk mengisi lubang pada tulang setelah mengangkat tumor tulang. Pengunaan material ini menguntungkan karena dapat diatur agar sesuai dengan daerah sekitar operasi. Bagi dunia telekomunikasi transistor yang menggunakan nanoteknologi mampu menghasilkan interkoneksi yang lebih cepat.ICT.  

Menurut Devie, UI yang menyandang nama Indonesia, sudah barang tentu memiliki tanggung jawab besar untuk senantiasa menghasilkan karya yang ke lak mampu mempermudah sekaligus mensejahterakan kehidupan masyarakat. Untuk itu, UI akan menempatkan diri di titik terdepan pengembangan ilmu ( frontier/cutting-edge). Upaya yang ditempuh adalah memilih fokus atau ceruk (niche ) riset. Untuk rumpun Ilmu Alam dan Teknologi, fokus riset UI diarahkan diantaranya untuk riset Intelligence Multimedia and Information Processing, nano technology,

Para peneliti UI terkait riset nano teknologi terus mengembangkan material yang mampu mengh asilkan nanomaterials dan metodo logi pembuatan benda-benda berukuran nano. Salah satu yang sudah dikerjakan (departemen Fí sika) ialah membentuk nanopowder (serbuk nano) yang dapat diaplikasikan sebagai pelapis, yang berfungsi sebagai anti radar pada pesawat tempur. "Tidak hanya itu, para peneliti UI juga terus menyempurnakan materi sensor dengan nanoteknologi yang dapat digunakan sebagai sensor cahaya, listrik, gas dan solar cell," jelasnya.Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi

 

~ Pembangkit Listrik Tenaga Surya Meningkat

Sel Surya Perlu Pasar

Dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sel surya sebagai pembangkit listrik milik pemerintah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2008 meningkat Rp 200 miliar dibandingkan tahun ini. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan domestik akan sel surya.Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2007 untuk memenuhi kebutuhan sel surya sebagai pembangkit tenaga listrik di berbagai pelosok Tanah Air mencapai Rp 300 miliar, sedangkan pada tahun 2008 nanti Rp 500 miliar.

Meningkatnya biaya ini merupakan indikasi pertumbuhan kebutuhan domestik akan sel surya sebagai salah satu sumber energi terbarukan. Dengan adanya peningkatan kebutuhan akan sel surya di dalam negeri yang cukup signifikan tersebut, seharusnya dapat segera dibuat pabrik sel surya di dalam negeri untuk memenuhinya. Demikian dikatakan Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, Jumat (19/10). “Beberapa investor dari luar negeri beberapa tahun belakangan telah menawarkan proposal pendirian pabrik sel surya atas pertimbangan pasar domestik yang makin mencukupi. Salah satunya, perusahaan Isofoton dari Spanyol,” kata Arya.

Belanja di luar negeri

Dia mengakui, sejauh ini pemerintah memang belum melirik peluang menggaet investor asing untuk mendirikan pabrik sel surya di Indonesia. Bahkan, pemerintah cenderung makin meningkatkan pembelanjaan sel surya dari luar negeri. Alokasi dana APBN sebesar Rp 300 miliar pada tahun 2007, menurut Arya, sudah dibelanjakan 50.000 unit sel surya. Masing- masing modul sel surya itu memiliki kapasitas memproduksi listrik 50 watt.

Sel surya tersebut sudah disebarkan ke berbagai pelosok daerah yang sulit terjangkau distribusi listrik dari PLN. Arya mengatakan, kecenderungan pemenuhan kebutuhan sektor energi yang konsumtif saat ini akan menimbulkan kesulitan pada tahun-tahun mendatang. Ia mengatakan, pemerintah sebaiknya mengalihkan pandangan pemenuhan kebutuhan sektor energi dari konsumtif menjadi produktif.

Kendala kebijakan

Secara terpisah, Kepala Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) BPPT M Oktaufik mengatakan, kendala yang ada saat ini adalah tidak adanya kebijakan ekonomi yang mendorong perkembangan industrialisasi di sektor energi, terutama untuk energi terbarukan. Padahal, tambah dia, kapasitas lembaga riset energi di Indonesia sudah mampu mendukung tumbuhnya industrialisasi di sektor energi. “Dari riset dan pengembangan di B2TE, produksi energi terbarukan secara teknis sebenarnya sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri,” kata Oktaufik.

Lebih lanjut, Arya menjelaskan, komponen industri yang paling penting untuk pabrik sel surya saat ini adalah silikon. Apalagi, di Indonesia keberadaan pasir silika sebagai bahan dasar pembuatan silikon tergolong melimpah. “Kebijakan konsumtif terhadap sel surya saat ini karena adanya anggapan bahwa dari tahun ke tahun harga komponen itu akan semakin murah sehingga dianggap tidak perlu memproduksinya sendiri,” kata Arya. (NAW)

 
Halaman 754 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook