Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Pasokan Listrik Untuk Bali Terbatas

Listrik Bali Berstatus Siaga

Sistem kelistrikan di Pulau Dewata mengalami status siaga karena kurangnya cadangan 102 megawatt yang seharusnya memiliki 130 megawatt. Kantor PLN Distribusi Bali memprediksi kondisi siaga akan berlangsung hingga memasuki 2009.

Ini merupakan dampak dari masih tingginya pemakaian listrik oleh pelanggan khususnya kepentingan pemerintahan dan pariwisata, serta belum selesainya beberapa proyek untuk mengurangi ketergantungan dengan sistem dari Jawa.  

"Imbauan agar masyarakat terus berhemat dalam pemakaian listrik pun masih kurang dari target sekitar 10 persen. Kami pun terpaksa memperketat pengajuan pemasangan baru dan menerapkan sistem prioritas," kata General Manager PLN Distribusi Bali Sudirman, di Denpasar, Kamis (6/11).  

Hingga akhir Oktober, lanjut Sudirman, beban puncak mencapai lebih dari 460 megawatt. Padahal, pasokan listrik untuk Bali hanya tersedia 562 megawatt. Sementara daftar tunggu pemasangan baru tercatat sekitar 4.000 calon dan pelanggan tetap hingga sekarang berjumlah 740.000 tagihan.  

Menurut Sudirman, ramainya kedatangan wisatawan baik asing maupun domestik ke Pulau Dewata pun memicu tingginya pemakaian listrik. Kami pun sudah berupaya mengirimkan surat imabuan kepada menejemen hotel dan restoran agar berhemat termasuk mengancam adanya pemadaman jika tidak diindahkan. Tetapi juga sulit diterapkan, lanjutnya.  

Bahkan, ia tidak memungkiri jika kantor-kantor pemerintah di wilayah Bali masih belum menerapkan dan mengganti lampu-lampunya dengan lampu hemat energi. Meski sempat mengimbau melalui Gubernur Bali, ia pesimis karena mendapat alasan belum adanya anggaran dari pemerintah daerah untuk penggantian lampu tersebut.  

Manager Bidang Listrik PLN Distirbusi Bali Hari Suryanto mengatakan pula agar masyarakat waspada hingga awal Januari 2009. Alasannya, bulan-bulan tersebut tengah rawan hujan dan angin. Kemungkinan k ami akan banyak pemadaman ketika musim hujan dan angin mulai datang hingga awal tahun depan, katanya.

.indosat {font: bold italic 12px
Ayu Sulistyowati
 

~ Paket Televisi dan Solar Panel Dari Sharp



 Sharp Kenalkan Paket TV LCD dan Panel Surya

Untuk menjangkau daerah yang belum terjangkau listrik, perusahaan elektronika Jepan, Sharp, menawarkan paket televisi dan solar panel. Panel surya tersebut memang khusus didesain untuk televisi LCD 26 inci yang baru akan dipamerkan pertama kali pada Hokkaido Toyako Summit, di Hokkaido, Jepang, 7-9 Juli 2008.

Dibandingkan televisi tabung atau CRT (cathode ray tube) dengan ukuran layar yang sama, televisi tersebut hanya membutuhkan daya seperempat dan konsumsi listrik sepertiganya. Bahkan dibandingkan TV LCD yang beredar di pasaran saat ini, kebutuhan dayanya hanya sepertiga dan konsumsi energi setengahnya.

Paket tersebut didesain hemat energi dan praktis digunakan. Kebutuhan listrik yang rendah membuat televisi besutan Sharp itu dapat dipasok energi dari sel surya yang ukurannya hampir sama dengan ukuran layar televisi.

Produk tersebut lebih banyak ditujukan untuk konsumen di daerah terpencil yang tidak terjangkau jaringan listrik. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 1,6 miliar penduduk yang belum terjangkau listrik. Untuk konsumen yang peduli terhadap lingkungan, produk ini juga bisa dilirik.

Dalam beberapa tahun terakhir, Sharp memang fokus pada pengembangan LCD dan sel surya. Selain mengembangkan LCD yang lebih hemat energi, Sharp juga mengembangkan sel surya transparan yang cocok dipakai dalam elemen arsitektur, seperti di bagian atap atau dinding.        


WAH

Sumber : PHYSORG
 

~ Solar Cell Untuk Penerangan Jalan Umum

Lamongan Gagas Penerangan Jalan Gunakan Tenaga Matahari

Sebagai salah satu upaya menghemat energi listrik, pemerintah kabupaten Lamongan menggagas penerangan jalan umum di desa dan kota menggunakan energi matahari atau solar cell. Bupati Lamongan, Masfuk, Kamis (28/8) mengatakan gagasan itu merupakan salah satu solusi terhadap ancaman pemanasan global.

Jika semua lampu penerangan jalan umu (PJU) di Lamongan bisa diganti dengan energi solar (matahari), saya kira ini akan sangat bagus sekali untuk mendukung program penghematan energi yang dicanangkan presiden," kata Masfuk saat peresmian Jalan Poros Desa Butungan Kecamatan Kali Tengah dan pembinaan terhadap kader Program Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang dipusatkan di Kecamatan Kalitengah.

Selain dukungan dari masyarakat Lamongan, Masfuk berharap ide tersebut mendapat dukungan dari legislatif sehingga program ini dapat lebih cepat berjalan. Dia menambahkan manfaat program itu bukan hanya akan menghemat anggaran rutin Pemkab Lamongan tetapi juga untuk masa depan anak cucu kita.  

"Energi matahari sampai saat ini masih gratis. Dibandingkan dengan listrik dari PLN yang bahan bakunya dari batu bara dan gas alam, energi matahari ini adalah energi hijau yang nol polusi. Jika bisa mewujudkan ini, Lamongan akan menjadi pionir penggunaan PJU dengan tenaga solar cell," ujarnya.

Menurut Masfuk, jika gagasan PJU gunakan tenaga surya tersebut dapat terwujud, Pemkab dapat menghemat biaya yang selama ini dikeluarkan untuk kebutuhan listrik. Biaya untuk listrik bisa dialihkan untuk percepatan pembangunan di Lamongan.

Masfuk menambahkan, Pemkab Lamongan telah membuat berbagai kebijakan untuk percepatan perkembangan Lamongan agar tidak lagi tertinggal dengan daerah lain. Sehingga semua pihak termasuk aparatur desa harus menyamakan persepsi dan pemahaman tentang kebijakan pemerintah.

Tidak hanya aparatur desa, camat juga harus mengetahui pertumbuhan daerahnya, paham akan skala prioritas di daerahnya, sehingga kebijakan yang ditetapkan tepat sasaran. "Jangan sampai camat yang sekarang sama dengan camat zaman dulu yang hanya menjadi ndoro kanjeng tanpa mau turun ke desa. Datangi desa, lihat pembangunan yang sedang berjalan, tegur kalau memang proyek yang berjalan tidak sesuai. Pembangunan yang dilaksanakan itu dari rakyat dan untuk rakyat," katanya.

.indosat {font: bold italic 12px Tahoma;
ACI
 

~ Langkah Unik Global Intel Untuk Energi Alam Yang Bisa Diperbharui

Intel Bermain Sel Tenaga Surya

Kepedulian akan lingkungan dan sumber energi alam yang bisa diperbarui telah ditunjukkan Intel dengan langkah unik. Mereka tidak cuma memperkenalkan mikroprosesor yang bebas dari plumbum dan halogen.

Raksasa prosesor ini – melalui perusahaan investasi globalnya Intel Capital, telah mengucurkan dana untuk membangun sebuah perusahaan baru yang independen bernama SpectraWatt Inc. SpectraWatt Inc. yang dibentuk bersama Cogentrix Energy, , PCG Clean Energy and Technology Fund, Solon AG akan bertindak sebagai produsen dan pemasok sel-sel photovoltaic bagi para pembuat modul solar.

Selain berfokus pada teknologi sel tenaga surya (solar cell), SpectraWatt juga akan mengembangkan teknik manufaktur untuk menekan biaya pembuatan energi photovoltaic. Produk pertama perusahaan yang bermarkas di Oregon ini diperkirakan akan dipasarkan pada pertengahan tahun 2009.

Pasar teknologi solar ini sendiri diperkirakan tahun lalu bernilai US$ 30 biliun, atau meningkat 50% dari tahun sebelumnya.


WIEK

 

~ Pemadaman Bergilir Menyatakan Energi Nasional Lemah

Listrik Byarpet, Rapuhnya Ketahanan Energi

Pemadaman bergilir yang dilakukan Perusahaan Listrik Negara atau PLN di hampir seluruh wilayah Jawa, Madura, dan Bali, termasuk Ibu Kota Jakarta, merupakan salah satu ciri rapuhnya ketahanan energi nasional, khususnya energi listrik. Kondisi ini sungguh merupakan sebuah ironi bagi sebuah negeri yang memiliki kekayaan sumber daya energi, bukan hanya minyak, batu bara dan gas, tetapi sumber daya energi alternatif yang terbarukan seperti geotermal, angin, solar cell, ombak, dan air.

Ketahanan energi adalah sebuah kondisi di mana semua orang di dalam sebuah wilayah, sepanjang waktu, memiliki akses yang baik secara fisik maupun ekonomis terhadap komoditas energi. Selain itu, ketahanan energi tidak hanya mencakup aspek ketersediaan, melainkan juga aspek accessibility, yakni kemampuan untuk mengakses. Kondisi ini tidak hanya berlaku untuk jangka pendek, melainkan juga jangka panjang dengan memerhatikan aspek keberlanjutan (sustainability) yang selaras dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan.

Kebijakan pemadaman bergilir yang diprediksikan berlanjut hingga 2009 itu disebabkan terhambatnya pasokan batu bara dari Kalimantan yang digunakan sebagai pembangkit beberapa PLTU di Jawa sebagai akibat gangguan cuaca serta rusaknya beberapa turbin pembangkit. Jelas pemadaman bergilir ini memberikan dampak negatif terhadap kegiatan perekonomian. Banyak pengusaha yang mengeluh dengan kebijakan pemadaman bergilir ini. Sebagai dampaknya, omzet produksi harian tidak memenuhi target. Akibatnya keuntungan produksi tidak bisa optimal.

Pada 2005, sebagian besar listrik di Indonesia yang dibangkitkan oleh pembangkit listrik milik PLN sebanyak 53,56 persen menggunakan batu bara sebagai bahan bakar; 30,16 persen menggunakan minyak solar; 14,98 persen menggunakan gas alam; 1,19 panas bumi, dan 0,11 persen minyak diesel (Neraca Energi Indonesia 2001-2005, BPS, diolah).

Besaran listrik yang dibangkitkan oleh PLN pada 2005 sebesar 98.123 gigawatt hour dengan komposisi 43,08 persen dibangkitkan oleh PLTU (Steam) berbahan bakar batu bara; 31,87 persen dibangkitkan oleh PLTGU (steam gas) berbahan bakar gas alam; 10,02 persen dibangkitkan oleh PLTA; 6,15 persen dibangkitkan oleh PLTG (gas turbine); 5,82 persen dibangkitkan oleh PLTD (diesel), dan sisanya sebesar 3,06 persen dibangkitkan oleh PLTP (geotermal). Dari total 98.123 gigawatt hour yang dibangkitkan oleh PLN, sekitar 77.461 gigawatt hour (77,46 persen) dibangkitkan di Pulau Jawa (Neraca Energi Indonesia 2001-2005, BPS).

Listrik yang sebagian besar dibangkitkan di Pulau Jawa mengindikasikan kebutuhan listrik di Pulau Jawa lebih besar dibandingkan dengan pulau lainnya. Masih belum meratanya kegiatan ekonomi yang selama ini lebih terpusat di Pulau Jawa serta padatnya penduduk di Pulau Jawa juga menjadi salah satu faktor penyebab. Terjadinya krisis listrik yang berujung pada dikeluarkannya surat keputusan bersama (SKB) lima menteri yang mengeluarkan kebijakan penggeseran hari kerja ke hari Sabtu-Minggu ditanggapi dingin oleh para pengusaha. Selain mekanismenya yang ribet, dikhawatirkan akan terjadi lag para pekerja yang bisa mengurangi produktivitas kerja mereka. Akan diperlukan penyesuaian-penyesuaian dengan lingkungan (terutama kebiasaan berlibur di hari Sabtu-Minggu bersama keluarga, terutama anak) dan lingkungan terkait dengan penggeseran hari kerja ini.

Paling baik

Meskipun demikian, kebijakan ini dinilai yang paling baik guna mengurangi beban listrik PLN pada hari kerja biasa, Senin-Jumat. Jika sebagian pabrik mau menggeser kegiatan produksinya, diharapkan beban listrik PLN bisa dibagi pada hari Sabtu-Minggu. Meskipun ada kebijakan lain yang bisa dilaksanakan, yakni gerakan penghematan listrik, hal ini tidak akan bisa berakselerasi dengan defisit listrik yang ada, mengingat perilaku masyarakat Indonesia yang terkenal boros.

Kesalahan mendasar, yang seandainya tidak segera dibenahi akan bisa menjadi bom waktu, adalah kurang terencananya penempatan pembangunan power plant yang kurang memerhatikan aspek kedekatan lokasi pembangkit dengan bahan baku. Beberapa pembangkit di Jawa seperti PLTU Cilacap, Tambaklorok Semarang, Paiton, dan Jakarta menggunakan bahan bakar batu bara yang perlu didatangkan dari Kalimantan.

Jika seandainya perjalanan kapal tongkang pengangkut batu bara tidak bisa berlayar dikarenakan cuaca buruk, pasokan batu bara di pembangkit akan terganggu yang pada akhirnya akan menghambat suplai listrik. Jika hal ini terjadi dan tidak ada kebijakan atau rencana yang lebih baik terkait dengan rencana pembangunan berbagai proyek power plant lainnya, ketahanan energi (dalam hal ini listrik) yang terkait dengan konsep keberlanjutan (sustainability) dan keselarasan dengan paradigma pembangunan yang berkelanjutan (sustainability development) akan terganggu.

Melihat komposisi bahan bakar serta jenis pembangkit yang didominasi oleh batu bara, maka perlu segera dicari alternatif lain yang bisa menggeser batu bara dalam menghasilkan listrik. Sumber energi yang memungkinkan adalah energi panas bumi. Selain ramah lingkungan, panas bumi banyak terdapat di Indonesia. Dengan potensi sebesar 27.000 mwh, menjadikan panas bumi sebagai sumber pembangkit listrik yang bisa diandalkan di masa mendatang.

Pada 2005, data yang dipublikasikan oleh Departemen ESDM menyebutkan sumber energi panas bumi (hipotesis) terbanyak terdapat di Pulau Sumatera dengan potensi sebesar 2.130 mwe (48,52 persen). Kemudian di Pulau Jawa sebesar 1.591 mwe (36,24 persen), Nusa Tenggara sebesar 427 mwe (9,73 persen), Sulawesi sebesar 125 mwe (2,85 persen) dan Maluku sebesar 117 mwe (2,67 persen). Potensi sumber energi panas bumi yang terdapat di Pulau Jawa yang mencapai 36,34 persen dari total sumber daya panas bumi nasional (hipotesis) menjadikan sumber daya ini bisa diharapkan menggantikan peran batu bara dalam membangkitkan listrik. Investasi yang mahal, terutama teknologi, seharusnya tidak menyurutkan niat pemerintah untuk bisa mewujudkan ketahanan energi nasional.

Perlu adanya inisiatif dari pemerintah guna mengembangkan potensi geotermal yang melimpah tersebut. Pemberian insentif pajak ataupun kemudahan investasi kepada para investor yang terjun di pengembangan power plant berbasis geotermal bisa menjadi langkah nyata pemerintah.

RUSLI ABDULAH Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang

 
Halaman 753 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook