Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Flood Gate Of Kedung Ombo Reservoir

 Kedung Ombo resevoir water gate closing for one month

Flood Gate of Kedung Ombo Reservoir, Grobogan district at Mid Java, will be closed for a month from 1-31 August. During closure, farmers live along the irrigation pipeline of Kedung Ombo Reservoir make the most of water supply from three dams that comprised to become part of the current Reservoir.

"Sidorejo, Sedadi, and Klambu dam provide constant irrigation. Currently, the condition of three dams is good with level of water depth 80% from normal condition," told Bambang Harijanto, Coordinator Division for the Flood Gate of Kedung Ombo Reservoir, in Grobogan, Tuesday (15/7).

According to him, based on report from the Federation of Farmers Irrigation area of Kedung Ombo Reservoir, there are around 2000 acres of wet rice fields have need of water. Those wet rice fields scattered throughout Demak, Grobogan, Kudus, and Pati district. According to Bambang, closing flood gate of Kedung Ombo Reservoir affected PLTA Kedung Ombo electricity production activities. For one month, PLTA Kedung Ombo has been unable to supply electricity 1x22.5 MW due to water that activated the turbine has stopped flowing. Still Secure In the mean time, volume of water at Sermo Reservoir, Kulon Progo district, special region of Yogyakarta, still categorised as safe for at least 2 more months. Anticipation of drops in water volume has been prevented by closing water irrigation since beginning of the month.

Based on the observation done by Bureau Water Supply Sourcing / Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Sermo Reservoir, starting 15th July water level height should average 133.47 meters above sea level (dpl). The contents of water volume contained by the reservoir approximated to be at 13.79 million meter cubic. According to Head Section Operation Data Sourcing BPSDA Sermo Reservoir, by the name of Subagiya, Tuesday, condition of dam only be categorised critical if fall below the operational level, that is at level 113.70 meter dpl.

With assumption, decrease in reservoir water surface level roughly 1 meter per week, such critical limit not possible to occur until the beginning of November raining season. In drought season, at least 1200 acres of wet rice fields of Kebumen district, at Mid Java, also go through drought thus failed to harvest. Around 809 acres of wet rice fields failed to harvest, represent wet rice field technically irrigated in Puring sub-district because do not get irrigated by Sermo Reservoir. According to Head Section Planner Agriculture and Data Monitoring of Kebumen Farming Department, by the name of Triharnani, drought season in Puring take place every year. Water irrigated does not get into the sub-district.

Related to the demand of clean water supply of Mountain Kidul district, lack of sufficient raw material is main problem for drinking water supply company at the province / Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) to expand their network locally. At the moment, PDAM supply up to 75% of water supply consumption to citizens living in the district. As indicated by Managing Director PDAM Mountain Kidul, Tjiptomuljono, Tuesday. (WKM/YOP/HEN/MDN) Source: Kompas Cetak, cetak.kompas.com

Grobogan, Kompas

 

~ Bendungan Adalah Cara Paling Klasik

Merawat Waduk

Air sarana mutlak pengembangan agribisnis. Bendungan adalah cara paling klasik untuk menabung air buat hari depan, baik untuk pertanian, perikanan, minum, dan mandi. Sejak beratus tahun lalu, nenek moyang kita ahli membuat bendungan berskala kecil, dalam bentuk telaga, sendang, atau waduk. Contoh terpopuler adalah waduk Kali Opak di Jawa Tengah, yang dibangun pada abad ke-9 atau pada 869, sepuluh tahun sesudah candi Prambanan selesai dibangun. Sayang waduk itu hancur karena letusan Gunung Merapi.

Contoh lain, waduk Prijetan di Jawa Timur, yang dibangun pada zaman Majapahit. Umurnya sudah lebih dari 600 tahun, tetapi masih berfungsi dengan baik meski airnya hijau akibat eutrofikasi.
Yang mengejutkan, itu juga terjadi pada waduk-waduk raksasa alias bendungan modern. Sekadar contoh, air waduk Gajahmungkur menyusut, sementara air Saguling berkurang drastis dan cenderung beraroma. Bendungan atau dam itu diharapkan bisa berfungsi hingga 100 tahun. Namun, dikhawatirkan kini tinggal 30-an tahun karena sedimentasi, penyusutan akibat kemarau panjang, kena racun tumpukan makanan ikan, dan pencemaran limbah rumahtangga maupun industri.

Akibatnya banyak ikan mati, karamba kosong, dan akuakultur tidak berkembang maksimal. Bahkan sayuran dan tumbuhan yang dialiri air beracun itu tidak dapat dimakan. Waduk seolah-olah menjadi monster menakutkan. Air waduk yang beracun tak layak minum.
Tanpa pemilik
Pada 2004 paling sedikit 500 waduk besar dan kecil di seluruh Indonesia mendapat masalah. Ada ribuan waduk, telaga, danau, dan bendungan di sekitar kita. Saya lahir di sebuah desa kecil di daerah pegunungan kapur utara. Desa-desa di sana tergantung pada sendang, semacam kolam besar, sumber air minum warga. Setahun sekali, sendang dibersihkan.
Warga bergotong-royong, mengurasnya dan membawa pulang ikan wader. Ikan kemudian dibagi rata kepada semua penduduk desa. Hal seperti itu, tidak mungkin terjadi di lingkungan waduk yang besar. Secara tradisional, sendang dan telaga milik rakyat setempat. Sedangkan di zaman modern, waduk-waduk besar dinyatakan sebagai sarana publik, yang tidak jelas kepemilikannya.
Kerusakan alam dan sarana publik, teristimewa di bidang perairan, biasanya berawal dari tidak adanya penanggung-jawab yang jelas. Kita lihat kerusakan sungai. Aliran yang melewati lebih dari satu provinsi, bahkan lebih satu kabupaten dan kota, seringkali rusak kualitas airnya. Sampah menggunung di hilir, erosi, dan penggundulan hutan terjadi di hulu.

Siapakah yang bertanggung-jawab? Masyarakat hilir atau hulu? Semua saling lempar tanggung-jawab. Bahkan kalau Jakarta kebanjiran, sering terdengar tuduhan: ini banjir kiriman dari Bogor! Kasus Situ Babakan di Depok, Jawa Barat, yang berbatasan dengan Jakarta, juga demikian. Danau yang semula indah menjadi kurang terawat. Masih untung kalau airnya tidak keruh, menghijau, dan bau seperti Situ Saguling. Yang terjadi sekarang, laut, danau, dan sungai-sungai Indonesia seolah-olah hidup tanpa pemilik.
Tanpa adanya pemilik yang jelas, sarana sebesar dan sebagus apa pun menjadi rentan, mudah rusak, tidak terawat, dan berumur pendek. Inilah yang sedang diantisipasi dan dicermati.

Berkah bendungan
Secara teoritis bendungan punya sejuta manfaat. Saguling memberi kita anak ikan yang gurih. Jatiluhur jadi lahan outbond. Bermega-mega watt listrik diproduksi bendungan. Berjuta-juta hektar sawah, kebun, dan ladang disuburkan oleh airnya. Pendeknya dari ekowisata sampai akuakultur. Dari karamba sampai selancar dan lomba perahu motor.

Berpuluh dam kecil dan raksasa kini tersebar di seluruh Indonesia. Saya sempat mengenalnya sejak masih sekolah gemar berkemah ke Waduk Karangkates di Jawa Timur, sampai pensiun dan menjadi konsultan lingkungan di Situ Saguling, Jawa Barat. Semua pengalaman menyenangkan, tapi juga menyedihkan. Menyenangkan karena menunjukkan kekuatan dan kreativitas manusia. Desa-desa di tepi Saguling punya beras malio berwarna merah kecokelatan dan gurih. Ada salak khas Desa Pangauban, besar, manis, dan renyah.
Bermacam produk agrikultur, akuakultur, hidroponik, permakultur, semua dapat dihasilkan oleh sebuah bendungan. Bahkan produk nonpangan seperti kesenian, pariwisata, olahraga, juga tersedia. Jangkauan jasa sebuah bendungan pun bisa sampai jauh. Misalnya bendungan Jatiluhur menyediakan air minum untuk Jakarta.
Masalahnya, sekarang banyak bendungan dalam bahaya. Umurnya jadi lebih singkat karena buruknya perawatan maupun faktor cuaca. Beberapa bendungan bahkan secara rutin memerlukan pasokan air hujan buatan. Kedung Ombo pun melahirkan garis-garis yang semakin lebar. Artinya, permukaan air menurun sampai jauh. Itulah kerusakan yang kelihatan.
Sebaliknya, kualitas air yang merosot bisa kelihatan, tercium baunya, tapi bisa juga tidak tampak sama sekali. Begitu juga lenyapnya kehidupan biota dalam air. Berjenis-jenis ikan dikabarkan punah saat pestisida dan pupuk kimia digunakan secara intensif sejak akhir 1960-an. Pada puncaknya, bukan hanya ikan yang punah, ternak yang minum air bendungan pun mati. Sejumlah kerbau, kambing, dan sapi jadi korban.

Mestinya bendungan memperbaiki bentang alam, meningkatkan kesuburan tanah, menyegarkan udara, dan menyejukkan suhu. Namun, faktanya justru keindahan dan kesuburan wilayah merupakan daya tarik yang menghancurkan. Tepian waduk diserbu pabrik-pabrik, restoran, bengkel-bengkel, dan perumahan. Limbah pertanian dan perkebunan pun mengalir ke sana. Akibatnya bendungan bisa menjadi tempat sampah raksasa.
Akibatnya, ikan keracunan. Apalagi bila terjadi penurunan suhu secara tajam pada Juli-September. Permukaan bendungan yang dingin akan berbalik ke bagian bawah yang lebih hangat. Pembalikan air ini mengakibatkan bencana. Bukan hanya pada ikan, tapi juga pada manusia yang mengkonsumsi airnya.
Pohon kearifan
Memasuki musim kemarau, angin keras mengguyur waduk Gajahmungkur. Saya membawa lebih dari seribu pohon, terdiri dari 31 jenis tanaman untuk membantu tim Ekspedisi Bengawan Solo. Sekelompok wartawan harian terkemuka sedang meneliti sungai sepanjang 527 km.
Penanaman pohon dilakukan di berbagai desa dan kawasan yang memerlukan tumbuhan produktif. Saya senang menyerahkan pohon-pohon produktif seperti melinjo, mangga, jati, petai, dan jeruk. Namun, sebetulnya kita berhak merasa prihatin. Penanaman pohon sebaiknya tidak dilakukan pada awal kemarau. Kecuali kalau tersedia air dan tenaga penyiram yang selalu siap sedia.

Sayangnya, Hari Lingkungan, yang dimeriahkan setiap awal Juni, memang cocok dengan musim tanam di negara-negara subtropis, khususnya di belahan utara. Ketika hal yang sama diterapkan di Indonesia, taruhannya sangat besar. Desa-desa di seputar Saguling protes keras ketika disumbang tanaman pada awal Juni. 'Pada saat kemarau air sangat langka. Jangankan untuk menyiram tanaman, untuk minum sehari-hari air bersih pun susah dicari,' kata seorang warga Desa Bongas.
Penanaman pohon di seputar waduk dan tepi sungai hanyalah satu langkah kecil untuk memelihara debit air dan mengamankan tebing dari bahaya longsor. Langkah penting yang harus diwujudkan adalah kepedulian dan kearifan masyarakat. Bukan hanya masyarakat setempat, tapi juga masyarakat hilir atau di tempat lain yang ikut menikmati hasil bendungan itu. Para konsumen listrik di perkotaan, misalnya, adalah pemangku bendungan yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Bukan hanya listrik, tapi juga buah-buahan, beras, keladi, ternak, maupun tanaman lain yang berkembang di seputar waduk. Kearifan yang sudah telanjur ditinggalkan adalah mengutamakan sarana publik dengan skala yang tertangani. Di Tabanan, Bali, ada bendungan Telaga Tunjung yang luasnya hanya 16,5 ha. Sekecil apa pun, ia mampu mengairi lahan pertanian seluas 1.335 ha. Waduk kecil itulah yang membuat Tabanan dikenal sebagai lumbung beras.
Sebaliknya, kalau kita lihat Saguling dengan luas hampir 48.000 ha, yang terbayang adalah kerja superkeras. Untuk merawatnya diperlukan penegakan hukum yang kuat, teknologi yang tinggi, dan masyarakat yang cinta bendungan.
Penegakan hukum
Terwujudnya masyarakat peduli bendungan syarat menjaga mutu air dan merawat sarana publik. Contoh munculnya Keswadayaan Masyarakat Menjaga Mutu Air Sungai (KM3AS) di Sungai Citarum. Mereka belajar hidup cerdas lingkungan. Bukan hanya mengelola tebing bendungan dengan tanaman produktif, tapi juga mencermati 200-an pabrik yang membuang limbah ke Saguling.

Menurut peraturan, semua pabrik punya pengolahan limbah. Kenyataannya, air tetap kotor, bau, dan cenderung semakin rusak. Oleh karena itu, rakyat berkewajiban memantau, mengawasi, dan menjaga agar tidak terjadi pelanggaran peraturan.

Jadi, membangun agribisnis, memelihara sarana sebesar apa pun, pada dasarnya dapat dimulai dari rumah sendiri. Itulah yang mulai dilaksanakan di desa-desa Selacau, Pangauban, Bongas, Laksanamekar, dan Cangkorah di seputar Situ Saguling, agribisnis, bermula dari dapur yang memproduksi makanan kita sehari-hari. ****) Eka Budianta, kolumnis Trubus, direktur proyek Jababeka Botanical Gardens, budayawan. 

 

~ Waduk Jatiluhur Sebagai Bendungan Terbesar Di Indonesia

JATILUHUR BENDUNGAN dgn SISTEM LIMPASAN TERBESAR DI DUNIA

JATILUHUR BENDUNGAN TERBESAR DI INDONESIA

Waduk Jatiluhur terletak di Kecamatan Jatiluhur,

Bendungan Jatiluhur adalah bendungan terbesar di Indonesia.

Bendungan itu dinamakan oleh pemerintah Waduk Ir. H. Juanda, dengan panorama danau yang luasnya 8.300 ha.

Bendungan ini mulai dibangun sejak tahun 1957 oleh kontraktor asal Perancis, dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9 milyar m3 / tahun dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia.

Di dalam Waduk Jatiluhur, terpasang 6 unit turbin dengan daya terpasang 187 MW dengan produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahun, dikelola oleh PT. PLN (Persero).

Selain dari itu Waduk Jatiluhur memiliki fungsi penyediaan air irigasi untuk 242.000 ha sawah (dua kali tanam setahun), air baku air minum, budi daya perikanan dan pengendali banjir yang dikelola oleh Perum Jasa Trita II.

Selain berfungsi sebagai PLTA dengan sistem limpasan terbesar di dunia, kawasan Jatiluhur memiliki banyak fasilitas rekreasi yang memadai, seperi hotel dan bungalow, bar dan restaurant, lapangan tenis, bilyard, perkemahan, kolam renang dengan water slide, ruang pertemuan, sarana rekreasi dan olahraga air, playground dan fasilitas lainnya.

Dikawasan ini pula kita dapat melihat Stasiun Satelit Bumi yang dikelola oleh PT. Indosat Tbk. (±7 km dari pusat Kota Purwakarta), sebagai alat komunikasi internasional. Jenis layanan yang disediakan antara lain international toll free service (ITFS), Indosat Calling Card (ICC), international direct dan lainnya.


sumber
wikipedia

 

~ Waduk Terendah Namun Terbesar Di Jawa Barat

Jatiluhur -- Turbin PLTA
Jatiluhur merupakan waduk/danau terendah tetapi terbesar diantara trilogi waduk buatan di Jawa Barat yaitu Saguling,Cirata dan Jatiluhur. Danau dengan lokasi tertinggi dan terkecil adalah Saguling. Jadi kalau di urutkan Air dari Citarum masuk ke Saguling diturunkan ke Cirata baru ke Jatiluhur. Begitu pula tingkat polusi airnya yang paling parah adalah Saguling dan yang paling bersih adalah Jatiluhur. Di ketiga waduk/danau tersebut terdapat turbin pembangkit listrik (PLTA) yang menerangi Jawa-Bali. Bendungan yang luasnya 8.300 ha mulai dibangun sejak tahun 1957 oleh kontraktor asal Perancis, dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9 milyar m3 / tahun dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia. Di dalam Waduk Jatiluhur, terpasang 6 unit turbin dengan daya terpasang 187 MW dengan produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahun.

-- Jatiluhur --
Turbin PLTA
 

~ Ancaman Padam Listrik Jawa-Bali

Listrik Jawa-Bali Terancam Padam

Akibat pencemaran larutan nitrogen dan fosfat pada air Bendungan Ir Sutami, di Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengancam alat pendingin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Karangkates yang berada di sisi tanggul Bendungan Sutami. Jika alat pendingin rusak, maka otomatis PLTA Karangkates sebagai penyangga pasokan listrik interkoneksi Jawa-Bali akan padam.

[MALANG] Matinya ikan-ikan di Bendungan Ir Sutami di Karangkates, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim), dalam dua hari terakhir dipastikan akibat tercemar buangan limbah pabrik ke badan Sungai Brantas. Buangan limbah dari sejumlah pabrik di wilayah Kecamatan Sumberpucung, diduga mengandung larutan nitrogen dan fosfat dalam kadar yang sangat tinggi.

"Larutan nitrogen dan fosfat yang dibuang ke badan sungai terbesar dan terpanjang di Jatim itu pada gilirannya dapat merusak sistem pendingin (cooling system) Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Karangkates," kata Kepala Unit Pembangkit Listrik Karangkates, Malang, Suparno kepada wartawan, di Malang, Jumat (28/9).

Dikatakan, jika temperatur sistem pendingin ini naik hingga di atas ambang batas maksimum, dipastikan akan mengakibatkan PLTA Karangkates ini padam. Jika listrik di sini sampai padam, otomatis aliran listrik interkoneksi penyangga Jawa-Bali akan mengalami pemadaman.

Karenanya, upaya pencegahan pencemaran air bendungan (waduk) harus diupayakan terus-menerus agar tidak sampai mempercepat kerusakan sistem pendingin PLTA Karangkates yang dapat berdampak merugikan banyak pihak, utamanya kalangan pengusaha industri itu sendiri khususnya dan masyarakat Jawa-Bali pada umumnya.

Sebagaimana terjadi, belasan ribu ikan yang ada di Bendungan Sutami, dalam dua tiga hari terakhir diketemukan mati mendadak dan bangkainya mengambang ke permukaan air, Kamis (27/9).

Dari hasil langkah cepat Perum Jasa Tirta I Malang selaku pengelola Sungai Brantas, diperoleh petunjuk dari hasil laboratorium, kondisi air waduk yang dewasa ini elevasinya turun hampir satu meter dari posisi normal 267,53 meter di atas permukaan air laut (m.dpl), selain kekurangan oksigen juga mengandung nitrogen dan fosfat.

"Fenomena ini terjadi setiap musim kemarau panjang, karena kekurangan pasokan air," ujar Sekretaris Perum Jasa Tirta I Malang, Haryanto yang dikonfirmasi terpisah, sehubungan matinya ikan-ikan di Bendungan Sutami secara massal.

 

Hasil Survei

Warna air bendungan pun yang biasanya membiru, kini berubah cokelat keruh akibat tanaman ganggang yang biasanya menjadi penyaring limbah dan penghasil oksigen, mati dan membusuk.

"Jadi, bau busuk di bendungan itu selain berasal dari tanaman ganggang yang mati, juga ditambah ikan-ikan yang mati," ujarnya.

Dari hasil survei Perum Jasa Tirta I Malang, sekitar 60 persen dari belasan pabrik yang ada di hulu Sungai Brantas membuang air limbahnya langsung ke badan sungai yang menjadi pemasok utama volume air Bendungan Sutami.

Terkait penyelamatan kualitas air bendungan dan sekaligus mengamankan PLTA dari kerusakan fatal, kini sedang dirancang gelontoran air bersih dari hujan buatan. "Satu dua minggu ini mesti ada hujan, agar dapat menurunkan tingkat pencemaran air bendungan," katanya.

Jika akhir bulan September ini, program hujan buatan masih belum dapat direalisasikan karena harus berkoordinasi dengan kesiapan pesawat di Lanud Abdulrahman Saleh, Singosari, Malang, maka paling tidak awal Oktober sudah dapat diwujudkan.

Jika terlalu lama menunda realisasi hujan buatan, ancaman kerusakan pada alat pendingin PLTA bisa jadi kenyataan. "Ini yang

SP/ARIES SUDIONO
 
Halaman 567 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook