Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Bendungan Jatiluhur Sebagai Objek Wisata

Bendungan Jatiluhur

jatiluhur

Obyek wisata Jatiluhur terletak 9 km dari kota Purwakarta, terkenal dengan Bendungan Ir. H. Juanda, dengan panorama danau yang luasnya 8.300 ha. Bendungan ini mulai dibangun sejak tahun 1957, dapat menampung tidak kurang 3 milyar3 air Sungai Citarum dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia.

Di dalam Bendungan Ir. H. Juanda, terpasang 6 unit turbin dengan daya terpasang 187 MW dan produksi tenaga listrik rata-rata 1000 juta kwh setiap tahun. Selain dari itu, memiliki fungsi penyediaan air irigasi untuk 242.000 ha sawah (dua kali tanam setahun), air baku air minum, budi daya perikanan dan pengendali banjir.

Selain berfungsi sebagai PLTA dengan sistem limpasan terbesar di dunia, kawasan Jatiluhur memiliki banyak fasilitas rekreasi yang memadai, seperi hotel dan bungalow, bar dan restaurant, lapangan tenis, bilyard, perkemahan, kolam renang, ruang pertemuan, sarana rekreasi dan olahraga air, playground dan fasilitas lainnya. Sarana olahraga dan rekreasi air misalnya mendayung, selancar angin, kapal pesiar, ski air, boating dan lainnya.

Di perairan Danau Jatiluhur ini juga terdapat Budi daya Ikan Keramba Jaring Apung, yang menjadi daya tarik tersendiri. Di waktu siang atau dalam keheningan malam kita dapat memancing penuh ketenangan sambil menikmati ikan bakar.

Dikawasan ini pula kita dapat melihat Stasiun Satelit Bumi yang dikelola oleh PT. Indosat, sebagai alat komunikasi internasional. Jenis layanan yang disediakan antara lain international toll free service (ITFS), Indosat Calling Card (ICC), international direct dan lainnya. Terletak 7 km dari kota Purwakarta.

 

~ Pintu Air Waduk Kedung Ombo Ditutup Sementara dalamSebulan

 

Pintu Air Waduk Kedung Ombo Ditutup Sebulan

 Pintu air Waduk Kedung Ombo di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, akan ditutup selama sebulan pada 1-31 Agustus. Selama penutupan, petani di sepanjang aliran irigasi Waduk Kedung Ombo dapat memanfaatkan air dari tiga bendung yang menjadi bagian aliran waduk tersebut.

”Bendung Sidorejo, Sedadi, dan Klambu tetap melayani kebutuhan untuk irigasi. Saat ini kondisi tiga bendung bagus dengan debit air masih 80 persen dari kondisi normal,” kata Bambang Harijanto, Koordinator Pembagi Pintu Air Waduk Kedung Ombo, di Grobogan, Selasa (15/7).

Ia mengatakan, berdasarkan laporan Federasi Petani Daerah Irigasi Waduk Kedung Ombo, masih ada sekitar 2.000 hektar sawah yang membutuhkan air. Sawah-sawah itu tersebar di Kabupaten Demak, Grobogan, Kudus, dan Pati.

Menurut Bambang, penutupan pintu air Waduk Kedung Ombo juga memengaruhi kegiatan produksi listrik PLTA Kedung Ombo. Selama sebulan, PLTA Kedung Ombo tak dapat memasok listrik 1 x 22,5 MW karena air penggerak turbin tidak lagi mengalir.

Masih aman

Sementara itu, volume air di Waduk Sermo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih dikategorikan aman setidaknya hingga dua bulan ke depan. Antisipasi kehilangan volume air pun telah dilakukan dengan menutup saluran air irigasi sejak awal bulan ini.

Berdasarkan pengamatan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Waduk Sermo, mulai 15 Juli ketinggian muka air waduk sekitar 133,47 meter di atas permukaan laut (dpl). Adapun volume air yang terkandung di dalam waduk diperkirakan 13,79 juta meter kubik.

Menurut Kepala Seksi Operasi Pengolahan Data BPSDA Waduk Sermo, Subagiya, Selasa, kondisi waduk baru dikategorikan kritis jika berada di bawah batas operasional, yakni pada ketinggian 113,70 meter dpl. Dengan asumsi penurunan muka air waduk rata-rata 1 meter per minggu, batas kritis ini diperkirakan tidak akan tersentuh hingga awal musim hujan November.

Pada musim kemarau ini, sedikitnya 1.200 hektar sawah di Kabupaten Kebumen, Jateng, juga kekeringan hingga puso (gagal panen). Sekitar 809 hektar sawah yang puso merupakan sawah irigasi teknis di Kecamatan Puring karena tidak terjangkau irigasi Waduk Sempor.

Menurut Kepala Seksi Perencanaan Pertanian dan Monitoring Data Dinas Pertanian Kebumen, Triharnani, kekeringan pada musim kemarau di Puring terjadi setiap tahun. Pasokan air dari Waduk Sempor tak pernah sampai ke kecamatan itu.

Sehubungan dengan pemenuhan air bersih di Kabupaten Gunung Kidul, DIY, tidak adanya bahan baku air yang cukup menjadi kendala utama bagi perluasan jaringan perusahaan daerah air minum (PDAM) setempat. Saat ini, PDAM menyuplai hingga 75 persen kebutuhan air warga kabupaten itu. Hal itu dikatakan Direktur Utama PDAM Gunung Kidul Tjiptomuljono, Selasa.(WKM/YOP/HEN/MDN)

Sumber: Kompas.

Grobogan, Kompas
 

~ Waduk Terbesar Di Jawa Barat Bermasalah


Problematika di Waduk Saguling
 
Waduk Saguling adalah waduk terbesar di Jawa Barat, disamping Waduk Jatiluhur dan Waduk Cirata. Ketiga bendungan yang katanya mulai dirancang di jaman Belanda ini amat besar kegunaannya untuk perikanan (Saguling dan Cirata), irigasi dan pembangkit tenaga listrik. Walaupun sepertinya merupakan sarana yang bagus untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat, ketiga waduk ini, terutama Saguling, menyimpan permasalahan jangka panjang, yang juga dimiliki oleh bendungan lainnya, yaitu masalah sedimentasi.

Bendungan dibangun dengan menghambat aliran air sungai. Air yang tadinya mengalir dan menyapu daerah-daerah pinggir sungai menjadi tergenang atau mengalir lambat. Dengan demikian daerah pinggiran yang tadinya padat menjadi lebih gembur dan mudah erosi dan membuat air makin keruh. Yang tererosi diantaranya adalah garam-garam mineral yang berguna untuk kesuburan tanah, bahan-bahan kimia seperti pestisida, serta limbah sehingga selain mengurangi kualitas pertanian, juga menyebabkan pencemaran. Di samping itu siklus ekosistem menjadi terhambat, sehingga memunculkan dominasi organisme-organisme baru seiring dengan perubahan kondisi air yang terus menerus. Endapan yang muncul di dasar waduk yang diakibatkan erosi maupun bahan organik seperti kotoran hewan dan jasad hewan yang mati dari perairan waduk itu sendiri akan terus bertambah dan menurunkan fungsi bendungan itu sendiri. DIsamping itu, limbah industri dan domestik yang terbawa aliran sungai Citarum juga turut memperburuk kondisi endapan waduk.

Dalam kenyataannya, kini kondisi lingkungan di waduk saguling cukup buruk sehingga pemerintah tidak lagi merekomendasikan kegiatan perikanan disana. Beberapa jaring ikan tidak beroperasi lagi. Di samping itu fungsi waduk Saguling sebagai PLTA pun makin berkurang. Diperkirakan, bila laju sedimentasi yang ada sekarang (yaitu 4,2 juta meter kubik per tahun) tidak bisa dikurangi maka umur pembangkit listrik tinggal 24 tahun lagi. Karena itu pihak Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling melakukan kegiatan penghijauan daerah aliran sungai dan pengerukan dengan 70 alat berat. Namun hal ini cukup sulit dilakukan dan memakan biaya besar.

Maka untuk mengatasi masalah ini, disamping upaya-upaya pengurangan tingkat erosi dan pencemaran, harus dilakukan upaya pemanfaatan sedimen Saguling untuk mendapatkan nilai ekonomis yang kurang lebih setara dengan usaha mengeruknya. Di berbagai bendungan di dunia, orang melakukan berbagai cara untuk memanfaatkan sedimen yang menjadi masalah lingkungan di bendungan. Cara memanfaatkannya antara lain adalah :

1. Menjadikannya pupuk organik. Sedimen yang berasal dari jasad mati dan kotoran ikan akan mengandung nutrisi yang lengkap untuk pertumbuhan tanaman. Di samping itu dalam sedimen juga mengandung mneral-mineral tanah dari lapisan topsoil yang terkumpul karena erosi. Hal ini dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan lahan kritis di daerah aliran sungai sungai Citarum. Namun harus dilihat juga kandungan logam berat yang terdapat dalam sedimen, sebab hal ini bisa berbahaya bagi tanaman atau produknya. Karena itu usaha pemanfaatannya terus dikaji.

2. Menjadikan sedimen sebagai bahan bangunan seperti bahan baku batu bata.

Adapun solusi jangka panjang, disamping pemanfaatan sedimen sebagai pupuk adalah :

1. Memulihkan kondisi kawasan daerah aliran sungai citarum.
2. Membatasi jumlah penduduk di kawasan perlindungan sungai.
3. Mengurangi pembuangan limbah industri dan domestik ke sungai. Industri harus punya kemampuan mengolah limbahnya dengan baik bila hendak dibuang ke sungai. Pemerintah harus bersungguh-sungguh menangani limbah dengan menggunakan semua teknologi yang ada seperti bioremediasi.
 
 
 
 

~ Bendungan Karangkates Perlu Dwspadai

Waspadai Bendungan Karangkates

Jebolnya tanggul Situ Gintung Ciputat, memaksa Perum Jasa Tirta I (PJT I) meningkatkan kewaspadaan terhadap bendungan dan cek dam di wilayah kerjanya. Bendungan Sutami yang lebih populer sebagai bendungan Karangkates di Kecamatan Sumberpucung, menjadi prioritas utama pengawasan PJT I. Pasalnya, Bendungan Sutami merupakan bangunan tertua dari belasan bendungan yang diawasi PJT I. Selain menyandang predikat tertua, kekhawatiran muncul karena tingkat sedimentasi di bendungan Karangkates d [...]

03.29.2009
 
 

~ PLTA Mrican Terancam Untuk Berhenti

PLTA Mrican Terancam Berhenti


Untuk antisipasi kemarau hingga akhir tahun 2002 Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil) menganggarkan dana Rp 4,2 miliar untuk membuat hujan buatan di sejumlah waduk yang mengalami penyusutan debit air cukup signifikan.
”Selain itu, pemerintah butuh dana Rp 1,2 triliun untuk memperbaiki sarana irigasi dan rehabilitasi pascabanjir,” kata Menkimpraswil Soenarno saat dihubungi SH di Jakarta, Kamis (11/7) pagi.

Menurut Soenarno, dalam bulan Juli ini pemerintah mengalokasikan dana Rp 800 juta dari total Rp 4,2 miliar hingga akhir tahun ini. ”Menjelang awal musim hujan kita prioritaskan pengisian reservoar atau waduk-waduk terutama waduk Kedungombo dan Gajah Mungkur. Sebabnya kita khawatir debit air di sana akan di bawah normal jika tidak segera dilakukan hujan buatan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, selain kedua waduk tersebut, yang juga akan diisi kembali antara lain waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Sremo, Sempor.
Depkimpraswil dan instansi di daerah selama musim kemarau ini terus meningkatkan frekuensi pengawasan dan melakukan operasi waduk. Dari pemantauan di sejumlah waduk memang belum ada yang sampai di bawah normal. Namun seperti Kedungombo dan Gajah Mungkur sudah mulai menyusut drastis dan perlu segera diatasi dengan mengisi waduk kembali.

Soenarno mengingatkan pembuatan hujan buatan bekerja sama dengan Menteri Riset dan Teknologi harus dilakukan secara hati-hati karena ada daerah yang sangat rentan dengan hujan buatan. Seperti wilayah Jember yang merupakan daerah penanaman tembakau, di sana tengah musim tanam tembakau sehingga jika mendapatkan hujan justru akan merusak tanaman dan mengganggu produksi tembakau.
Soenarno mengungkapkan akibat bencana banjir yang lalu diperkirakan seluas 175.000 hektare lahan pertanian rusak. Untuk memperbaiki lahan tersebut dan rehabilitasi jalan serta jembatan dan aktivitas perbaikan lain, Depkimpraswil membutuhkan dana Rp 1,2 triliun. Sayang Departemen Keuangan baru menyetujui kucuran dana Rp 329 miliar.

Ia menambahkan, untuk penanganan perbaikan irigasi dan rehabilitasi lainnya, pihaknya memprioritaskan 13 wilayah yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi pangan. Daerah tersebut di antaranya Indramayu, Cilacap, Pantai Selatn, Gunung Kidul, Purwodadi, Jepara, dan lain-lain.
”Selama kemarau ini kita memprioritaskan perbaikan irigasi dan tersedianya air bersih bagi penduduk. Jangan sampai irigasi terganggu akibat kekeringan dan mengganggu produksi pangan,” Soenarno menambahkan.

Waduk Mrican
Sementara itu, tiga waduk di Jawa Tengah bagian Selatan masing-masing Waduk Mrican di Kabupaten Banjarnegara, Waduk Sempor dan Waduk Wadas Lintang di Kebumen mengalami penurunan volume air akibat musim kemarau sekarang. Khusus di Waduk Mrican, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrican umur operasionalnya tinggal tiga hari, jika memproduksi tenaga listrik sampai 180 Mega Watt (MW).
Manajer Operasional dan Niaga Unit Pembangkit Bisnis (UPB)

PLTA Mrica Teguh Adi Nuryanto menjawab pers di sela Rapat Koordinasi Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air (PPTA) di Gedung eks Karesidenan Banyumas di Purwokerto Rabu (10/7) menyatakan, saat sekarang volume air mengalami penurunan drastis. Bila hari-hari normal, pasokan air dari hulu ke waduk antara 200 - 700 m3/detik, saat ini hanya 11 m3/detik.
”Dengan pasokan air yang demikian minim, elevasi air di waduk setempat juga turun. Kini elevasi waduk sekitar 228,43 m. Padahal batas elevasi untuk bisa menghasilkan energi listrik setinggi 226,4 m. Jika melewati sampai 226,4 m, operasional harus dihentikan, karena kalau dipaksakan bisa merusak bendungan.

Dengan asumsi itu, apabila PLTA Mrica memproduksi tenaga listrik dengan turbin penuh 180 MW, maka umurnya tinggal tiga hari saja,” jelasnya.
Untuk itu, kata Teguh, pihak PLTA melakukan penghematan produksi energi listrik. Menurutnya, tiap harinya PLTA Mrica hanya beroperasi selama lima jam dengan produksi 30 MW. Hitungan di atas kertas, dengan produksi 30 MW, maka lama operasi PLTA Mrica bisa diperpanjang maksimal sampai 19 hari. ”Kita melakukan penghematan. Tidak ada cara lain kecuali menghemat, karena pasokan air dari hulu tinggal 11 m3/detik.
Aliran itu pun tidak masuk ke waduk melainkan lewat aliran samping menuju saluran irigasi Banjarcahyana untuk mengairi lahan seluas 4.883 hektare di Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara. Jadi praktis, air yang masuk ke waduk tidak ada, karena penyaluran ke saluran irigasi Banjarcahyana juga sebesar 11 m3/detik,”ujarnya.

Teguh menambahkan, ”selama 14 tahun PLTA Mrica beroperasi baru sekarang mengalami kondisi seperti ini. Kita tidak tahu, mengapa pada bulan tujuh saja kondisi Waduk sudah seperti ini. Padahal selama 14 tahun, belum pernah mengalami situasi seperti ini pada bulan yang sama.”
Apa yang menjadi masalah? ”Saya kira banyak faktor, yang pasti pasokan air dari daerah hulu berkurang drastis. Selain kemarau, mungkin kerusakan lingkungan sehingga tidak ada tumbuhan yang menyimpan air di kala hujan tidak datang. Tapi itu dugaan saya, karena kalau mengkaji masalah itu bukan kewenangan saya.”
Dampak lainnya adalah tidak adanya pasokan air ke wilayah Klampok Banjarnegara. Pasalnya, irigasi ke Sungai Serayu dari buangan air bekas penggerak turbin sudah tidak mengalir. Sehingga volume air Sungai Serayu di wilayah Klampok dan sekitarnya turun.
Dikatakan Teguh, tidak ada alternatif lain selain tidak beroperasi bila elevasi air di waduk mencapai 226,4 m. Saat sekarang saja, katanya, pihaknya hanya memasok 50 MW untuk listrik Jateng dan Yogyakarta yang membutuhkan daya sebesar 2000 MW.
Dalam kesempatan terpisah, Asisten Operasi dan Pemeliharaan Bendungan Sempor dan Wadas Lintang Ir Sukamto menjawab pertanyaan SH mengungkapkan, kedua waduk telah mengalami penurunan volume. Waduk Sempor yang berada di Kecamatan Gombong Kebumen, elevasi airnya tinggal 57,66 m dengan kapasitas volume efektif 13,6 juta m3.
Padahal waduk yang memasok air ke 6480 hektare lahan di Kebumen dan sekitarnya, pada waktu normalnya memiliki elevasi 72 m dengan volume waduk 38 juta m3.

”Tetapi hal ini tidak berpengaruh terhadap lahan pertanian. Sebab, kewajiban kita hanya sampai 15 Juli mendatang, setelah itu petani bisa panen dan mengganti tanamannya dengan palawija,”katanya.
Untuk waduk Wadas Lintang yang berada antara Kebumen dan Wonosobo kondisinya juga sama saja yakni mengalami penurunan volume air waduk. ”Kini volume waduk 216,9 juta m3 dengan elevasi 166,82 m. Dalam kondisi normal volume waduk dapat mencapai 400 juta m3 dengan elevasi 185 m,” katanya.

Waduk Wadas Lintang, katanya, dipakai untuk irigasi lahan seluas 31.500 hektare. Meski saat sekarang volume airnya menurun, tetapi, kata Sukamto, hal itu tidak menjadikan sawah kekeringan. ”Kita masih punya kewajiban mengairi sawah sampai Agustus mendatang. Dan setelah ada hitung-hitungan, air waduk masih cukup untuk mengairi sawah.”(rvs/lid)

 
Halaman 566 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook