Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Kuliah Umum Teknologi Energi Alternatif

Kuliah Umum Teknologi Energi Alternatif Terbarukan (Renewable Energy) pada Sistem Listrik Hybrid Pr

Jurusan Teknik Mesin Universitas Gunadarma menyelenggarakan Kuliah Umum Teknologi Energi Alternatif Terbarukan (Renewable Energy) pada Sistem Listrik (Hybrid Protovoltaic) dan Fuel Cell yang diselenggarakan di Auditorium Kampus J  Kalimalang. Kuliah yang diadakan pada Sabtu (18/4 itu) dihadiri oleh mahasiswa Jurusan Teknik Mesin semua angkatan. ”Bahkan untuk jurusan lain yang tertarik pun boleh mengikuti,” kata panitia.

Pembicara dalam kuliah umum tersebut adalah Dr. Sri Poernomo Sari Ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas Gunadarma, Dr. Hariyanto, peneliti dari BPPT,  C Jarot, ST., MT  dan tim HHO dari Jurusan Teknik Mesin Universitas Gunadarma.
Dr. Sri Poernomo Sari, doktor lulusan  University of Burgundy, Dijon, Prancis  Spesialisasi Mechanic Energetic,    sebagai pembicara pertama banyak memaparkan mengenai energi alternatif secara umum. Energi alternatif, merupakan sumber energi alternatif yang dapat diperbarui. Energi ini digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil minyak bumi, batu bara dan sebagainya dan juga sebagai sistem pembangkit tenaga listrik.Energi alternatif menjadi isu menarik karena ancaman ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yaitu menipisnya cadangan minyak bumi yang makin sedikit. ”Apalagi bila tanpa temuan sumber minyak bumi,” katanya.

Selain itu ada juga  masalah kenaikan dan ketidakstabilan harga akibat laju permintaan yang lebih besar dari produksi minyak bumi, juga soal polusi gas rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fosil. Karena kadar CO2 saat ini disebut sebagai yang tertinggi selama 125000 tahun belakangan.Solusi masalah ini adalah dengan pengembangan dan implementasi bahan baku terbarukan yang ramah lingkungan dan perhatian serius dari berbagai negara terutama Indonesia.Untuk potensinya di Indonesia, energi alternatif bisa berupa bioethanol sebagai pengganti bensin, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi (geothermal), mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, sampah, limbah untuk membangkitkan listrik.Sedang bioethanol adalah ethanol yang didapat dari tumbuhan yang ada di Indonesia seperti tebu, jagung, singkong, ubi dan sagu.

Sementara biodiesel adalah pengganti solar yang didapat dari minyak tumbuhan seperti kelapa, jarak pagar dan kapuk. Tenaga panas bumi berasal dari magma, panas tersebut akan mengalir menembus beberapa lapisan batuan di bawah tanah. Selain itu energi alternatif juga bisa dari cadangan tenaga panas bumi yang tak kurang dari 27 GW tapi sayangnya pemanfaatannya masih rendah.  Padahal bisa untuk memutar turbin.Selain itu, ada juga mikrohidro, yaitu pembangkit listrik tenaga air skala kecil bagi daerah yang tidak ada listrik di pedesaan dan bisa untuk memutar turbin yang dihubungkan dengan generator listrik. Indonesia juga memiliki tenaga surya yang tak menimbulkan polusi ke atsmosfir.

Dr Hariyanto dari Balai Besar Teknologi Energi BPPT menyebutkan, pemanfaatan energi matahari menjadi sumber energi  thermal yaitu surya thermal (solar thermal). Komponen utama pada energi surya thermal adalah pada sistem penampung thermal radiasi surya. Photovoltaic atau sel surya dan cahaya matahari, terangnya, menghasilkan listrik yang disebut efek fotolistrik, yaitu pelepasan elektron ke permukaan metal yang disebabkan penumbukan cahaya.Jenis sel surya sendiri  terbagi menjadi single kristal, polikristal dan EFG berupa pita langsung dari cairan silikon.

Untuk mendapatkan daya dan tenaga surya yang diinginkan, sel surya dihubungkan secara seri dan paralel, dilaminasi dan diberi fram mejadi model surya. ”Umumnya radiasi surya mempunyai sistem tenaga kerja 12 V dan 21 V serta mempunyai daya yang bervariasi, mulai dari 10 Wp sampai 300 Wp,” katanya.Selain itu Hariyanto juga menjelaskan tentang rangkaian modul surya, pengujian modul PV dan aplikasi Photovoltaic untuk penerangan jalan. Ia juga menjelaskan soal  energi terbarukan  lainnya seperti mesin expeller minyak jarak, grasifikasi biomassa dan pembangkit listrik PV Diesel.Hariyanto juga menerangkan soal Teknologi Fuel cell, yaitu konversi energi dari kimia yang terkandung dari bahan bakar menjadi energi listrik. Proses kimia energi melalui reaksi elektrikimia.

Bahan bakar Fuel Cell adalah hidrogen dan udara sebagai oksida. Efisiensi konversi energi Fuel Cell antara 40 % sampai 75%. Ia juga menerangkan masalah jenis fuel cell dan teknologi yang dikembangkan di Indonesia serta bagian fuel cell yang terdiri dari fuel processor, power dan conditioner.Dijelaskannya tentang prinsip kerja fuel cell, susunan sel pada fuel cel, aplikasinya, penggunaan tenaga serta konsep aplikasi pada sistem perumahan.

Sesi terakhir kemudian menghadirkan Tim HHO yang terdiri dari Ageng Saputro, Amy Arta Dalimo, Ahmad Irmansyah dan Ahmad Ardhiko dari Jurusan Teknik Mesin Universitas Gunadarma yang mempresentasikan karya mereka berupa Generator Hydrogen (HHO) terhadap Emisi Gas Buang pada Bahan Bakar Premium Produk Pertamina.

UG 126

 

~ Pertumbuhan Energi Hijau Menigkat

Program Studi Energi Terbarukan (Renewable Energy Education)

Pertumbuhan lapangan kerja di bidang energi hijau (green energy) dalam satu dekade balakangan sungguh pesat. Diperkirakan pertumbuhan akan makin tinggi di masa depan. Hingga 2030, diperkirakan sekitar 20 juta lapangan kerja baru di bidang energi terbarukan akan tersedia (UNEP, 2008). Silahkan baca tulisan yang lebih detail tentang topik ini di sini.

Peningkatan lapangan kerja seperti dipredisksi di atas disambut antusias oleh berbagai perguruan tinggi papan atas dunia. Kini, jumlah perguruan tinggi yang membuka program-program studi di bidang renewable energy bertambah. Antusias ini dipicu oleh trend dunia yang sedang transisi menuju green economy.

Berikut adalah beberapa universitas yang saya ketahui memiliki program studi dan riset di bidang renewable energy. Terdapat juga link ke website program studi jika anda berminat menelusuri lebih jauh.

Murdoch University, Western Australia

—- Energy Studies Program
—- Research Institute of Sustainable Energy

Solar Energy Reserach Institute, Universitas Kebangsaan Malayisa

Florida Solar Energy Centre, University of Central Florida

Energy Technology, School of Engineering Science, University of Southampton, UK.

Strategic Energy Institute, Georgia Institute of Technology, USA.

McMaster Institute for Energy Studies, McMaster University, Canada.

Institute of Energy Technology, Aalborg University, Denmark

Institut fur Solare Energieversorgungstechnik, Kassel University, Jerman.

National Library for Sustainable Energy, Technical University of Denmark

Centre of Renewable Energy System Technology, Loughborough University, UK.

Clean Energy Technology, The University of Texas-Austin, USA.

Renewable and Sustainable Energy Initiative, University of Colorado-Boulder, USA

Solar Energy, Australian National University

School of Photovoltaic and Renewable Energy, University of New South Wales, Australia

Renewable and Appropiate Energy Laboratory, University of California-Berkeley, USA.

The Centre for Energy Efficiency and Renewable Energy, University of Massachusetts, USA.

Centre for Energy, University of Newcastle, Australia

Power Engineering Research Laboratory, Mc Gill University, Canada

Solar Energy Laboratory, University of Wisconsin-Madison, USA

Institute for Energy System, Edinburgh University

Ada yang mau menambahkan daftar ini? Silahkan isi di from komentar di bawah.

Di bawah ini beberapa foto kagiatan perkuliahan dan fasilitas sistem energi terbarukan di universitas tempat saya belajar energi terbarukan, Murdoch University Western Australia.

196

Salah satu fasilitas riset off-grid power system di RISE – Murdoch Unversity (Foto: Anonymous)

1971

Fasilitas riset snergi surya, energi angin, dan beberapa aplikasi seperti solar pump di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

 

198Solar Taxi berkunjung ke Murdoch University (Foto: Anonymous)

 

199

Fasilitas praktikum pemanas air surya (solar water heater) di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

198

Fasilitas riset Hydrogen Fuel-Cell di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

199

Bus berbahan bakar Hydrogen Fuel-Cell. Salah satu hasil riset Murdoch University (Foto: Anonymous)

 

200

Mahasiswa Murdoch University di bawah bimbingan Dr. August Schlapfer memasak menggunakan kompor matahari (Foto: Anonymous)

201

Mahasiswa Murdoch University di bawah bimbingan Dr. August Schlapfer memasak menggunakan kompor matahari (Foto: Anonymous)

solar-cook05

Saya bersama teman-teman melakukan praktikum solar cooking (memasak dengan energi matahari) (Foto: kunaifi)

 

202

Di fasilitas RISE – Murdoch University ini mahasiswa mengamati karakteristik berbagai jenis solar cell. Di dalam bangunan berbentuk kotak di belakang PV array mahasiswa dapat membuat tiruan intensitas cahaya matahari yang mencapai Bumi (Foto: Anoymous)

191

Dengan fasilitas ini, RISE – Murdoch University melakukan pengujian peralatan energi terbarukan (misalnya inverter) sesuai standar internasional (Foto: RISE)

 

187

PV Array simulator di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

188

Panel-panel sistem energi terarukan di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

189

Battery storage array di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

190

Sebagian instrumen pengukur cuaca (intensitasradiasi matahari, kecepatan angin, arah angin, kelembaban, tekanan udara, dll) di RISE-Murdoch University (Foto: RISE)

194

Salah satu PV system di RISE-Murdoch University yang tersambung dengan jaringan listrik lokal (Foto: RISE)

 

203

Fahmi
 

~ National Alternative Energy

ALTERNATIVE ENERGY TOWARDS NATIONAL SUFFICIENCY
Energy needs are an inseparable need of human live nowadays. Energy plays an important role in the sustainable social, economical and environmental living as agreed world-wide in the World Summit on Sustainable Development (WSSD).

The world energy in the future, as forecasted by Energy Information Administration (EIA), until the year 2025 will still be dominated by fossil based fuel: oil, natural gas, and coal -- alternative energy will still play a small role. Meanwhile, from usage perspective, oil based energy usage is dominated by transportation sector, and is predicted to continuously increases until 2025, while the commercial and residential sector will see not much changes.


The World wide electric consumption is projected to increase from 14.275 billion watt in 2002 jumping to 26.018 billion watt in 2025, and most of the source for this energy needs will be coal based which constitute almost 40%, followed by the ever increasing natural gas.

In Asia, the projected energy needs will increase from 110 quadrilliun Btu (Qbtu) in 2002 to 221 QBtu in 2025 or increase 200% within 23 year period. From those such high increases,, China is the country with the highest increase, that is from 43 Qbtu in 2002 to 109 Qbtu in 2025.

With such high energy needs, some countries, such as Japan, Malaysia, Thailand, etc. planned to save energy . In Malaysia, SREP (Small Renewable Energy Power) program were planned, and a Special Committee on Renewable Energy (SCORE) were formed to run the program. Meanwhile, Thailand has formed EPPO (Energy Policy and Planning Office). EPPO policy stated a goal to save fossil based energy usage up to 70 % with 10 years Strategic Plan Energy Conservation. That strategy main focus is to increase the efficiency and economic in transportation, industry and residential sectors. To head towards the goal, steps to develop human resources and increasing community awareness has been taken through various campaigns. To direct the alternative energy goal, Thailand formed DAEDE (Department of Alternative Energy Development and Efficiency). Currently, Thailand already have renewable alternative energy source consisting of approximately 17% of the whole energy needs, and their domestic usage covers for more than 53% of it, while import takes 46%.

Energy usage in Indonesia also follows the general world wide trend --it is increasing as the population, economy or technology growth increases. Energy usage mix in Indonesia currently is more than 90% fossil based, consisting of oil 54,4%, gas 26,5% and coal 14,1%. For native heat (Panas Bumi) 1,4%, PLTA (Hydro based) 3,4%, while new and renewable energy 0,2%.

The oil reserve is estimated at 9 billion barrel, with average production rate of 0,5 billion barrel per year, therefore the oil reserve wil be depleted in about 18 years. The estimated reserve of natural gasis 170 TSCF (trillion standard cubic feet), while the production capacity reaches 8,35 BSCF (billion standard cubic feet) which are divided for export 4,88 BSCF and for domestic usage 3,47 BSCF. The coal reserve in Indonesia is estimated at 57 billion ton, and consist of explored reserve of 19,3 billion ton; with production capacity of 131,72 million ton per year. Therefore, assuming there is no additional explorations, the coal reserve will stand for 147 years.

From reserve perspective, Indonesia still has large enough reserve, but the main issue in Indonesia is that there are no policy that provided for national energy sufficiency/tenacity, where so many communities have not even get supply of energy such as electricities, not enough domestic oil production to fulfill domestic energy needs so that import is needed, subsidized oil prices that heavily burdening government financials, and if the price is adjusted to conform to internasional pricing, there will be unrest in the population due to the low buying power, etc.

At this time, electricity availability in Indonesia has only reached 21,6 GW or 108 watt per person, almost exactly like India which is only one sixth of Malaysia (609 watt/person) and far lower than Japan that already reached 1.874 watt/person. Ironically, Indonesia has a lot of potential for electricity , from non-fossil energy like native heat (Panas Bumi) equivalent of 27 Giga watt (GW), hydro power 75 GW, biomass 49 GW, solar power 48 kWh/m2/day, wind power 9 GW, uranium 32 GW or in total more than 230 GW and only 10% has been used for electricity.


The availability of energy that can be used by the Indonesian people is still very low, that is 0,467 toe per capita, compare that to Japan with 4,14 toe/capita, but on the other hand, so much energy was wasted, estimated at 470 toe per million US Dollar, while Japan only 92,3 toe per million US Dollar.

To cope with the issues in the energy sector, many policies have been created, such as Kebijakan umum bidang energi (KUBE) (General Energy Sector Policy) since 1981, and it has been revised in 1987, 1991 and 1998. Also, Kebijakan Energi Nasional (KEN) (National Energy Policy) created in 2003. Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan (Renewable Energy Development Policy) and Konservasi Energi (Energi Hijau) (Energy Conservation) that was issued by Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (Department of Energy and Mineral Resources) on 22 Desember 2003.

The Policies above have not completely answered all of the issues; therefore, for operational reason, the Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025 (National Energy Management Blueprint 2005-2025) which stated: The energy usage mix for oil shall become 26,2%, Natural Gas 30,6%, Coal 32,7%, Hydro Power 2,4%, Native Heat 3,8% and others 4,4% comprising of :  biofuel, solar power, wind power. Fuelcell, biomass, nuclear energy, etc.

The Blueprint has not been formalized into government policy, therefore has not been used as a national reference. For that matter, it's been suggested to create an energy law as the main umbrella for matters related to energy , and then the adaptation or related laws, such as nuclear energy laws, electricity laws, etc. The law must be accompanied by instruments to make it easier to implement, both in the regions and in central.

It is also necessary to revise the pricing policy, to lower the subsidies, the smuggling of refined fuel oil to foreign countries, the mixing of different types of oil, etc.. Coordination at national level is necessary. especially with regard to the Police, the Army and other law enforcing agencies. Regional Policy typically waits for policies from the central; with the advent of the energy law and its clear programme, regions can decide the energy development direction that matches their existing potential.

Fiscal Policy related to energy is very important, such as those that can provide fair and consistent insentives. The Insentives that are needed, among others, are provision for tax insentive in the form of postponement, dispensation, waiver of VAT, as well as import tax exemption for those companies that are active in the renewable energy sectors and energy conservation; appreciation to businesses that excel in implementing energy conservation and utilization of renewal energy; luxury item tax exemption for renewal energy and energy conservation equipment; providing interest-free financial loans for engineering sector as an investment in renewable energy and energy conservation development.

Research and Development in the altenative energy and energy conservation needs to be directed towards improving national capabilities in the mastery of science and technology, within the framework of developing the related service and technology of renewable energy and energy conservation, through the cooperation with superior research intstitute or industry. Besides that the program needs to be budgeted well, the cost for research and development can be taken from the reduction of subsidies, as well as from special budgets that can reduce the social and economical cost due to energy wasting issues. Government budget for alternative energy is suggested to be 2,5% of subsidy budget, be it subsidy for oil or subsidy for electricity, and year after year, is given priority for increases to accelerate resolution of energy issues.

Educational Policy needs to be directed towards encouraging public to initiate more alternative energy and energy conservation implementations. In addition, technical regulations are required to guarantee availability and utilization of high quality, safe, reliable and environmental-friendly alternative energy and energy conservation.

Also the implementation of standard to guarantee product quality for energy products as well as for the energy system and equipment produced domestically or internationally, related to alternative energy and energy conservation.

If in Malaysia, they've SCORE and Thailand formed EPPO, in Indonesia, other than organization in the Departemen ESDM(Department of Energy and Mineral Resources), BP Migas has been formed. To specifically manage the alternative energy and energy conservation, it is recommended to form alternative energy and energy conservation organization separate from existing department.

One need to be aware that the resolution to the national energy problem cannot happen overnight, and it must encompasses comprehensive long term policies. Holistic and comprehensive long term Macro level policies that are consistently implemented is much needed.

 

RECOMMENDATION


Energy reserve in Indonesia is still large, but has not provide the national energy tenacity, while fossil-based energy utilization has its limitation, therefore conservation and high efficiency is necessary. Especially for oil energy, besides the limited domestic reserve, the domestic production capacity is also decreasing year after year and cannot meet the OPEC quota..

Therefore, it's been suggested to create an energy law as the main umbrella for matters related to energy , and then the adaptation or related laws, such as nuclear energy laws, electricity laws, etc. The law must be accompanied by instruments to make it easier to implement, both in the district and in central. It is also need to provide a clear program, such should be stated in the energy blue print, that need to be synchronized with housing, transportation, industry and commercial area policy. The blueprint needs to be formalized to be a national reference, so that all energy related needs should be adapted to the blueprint.

It is also necessary to revise the pricing policy, to lower the subsidies, the smuggling of refined fuel oil to foreign countries, the mixing of different types of oil, etc.. Coordination at national level is necessary. especially with regard to the Police, the Army and other law enforcing agencies. Regional Policy typically waits for policies from the central; with the advent of the energy law and its clear programme, regions can decide the energy development direction that matches their existing potential.

Fiscal Policy related to energy is very important, such as those that can provide fair and consistent insentives. The Insentives that are needed, among others, are provision for tax insentive in the form of postponement, dispensation, waiver of VAT, as well as import tax exemption for those companies that are active in the renewable energy sectors and energy conservation; appreciation to businesses that excel in implementing energy conservation and utilization of renewal energy; luxury item tax exemption for renewal energy and energy conservation equipment; providing interest-free financial loans for engineering sector as an investment in renewable energy and energy conservation development.

Research and Development in the altenative energy and energy conservation needs to be directed towards improving national capabilities in the mastery of science and technology, within the framework of developing the related service and technology of renewable energy and energy conservation, through the cooperation with superior research intstitute or industry. Besides that the program needs to be budgeted well, the cost for research and development can be taken from the reduction of subsidies, as well as from special budgets that can reduce the social and economical cost due to energy wasting issues. Government budget for alternative energy is suggested to be 2,5% of subsidy budget, be it subsidy for oil or subsidy for electricity, and year after year, is given priority for increases to accelerate resolution of energy issues.

Educational Policy needs to be directed towards encouraging public to initiate more alternative energy and energy conservation implementations. In addition, technical regulations are required to guarantee availability and utilization of high quality, safe, reliable and environmental-friendly alternative energy and energy conservation.

Also the implementation of standard to guarantee product quality for energy products as well as for the energy system and equipment produced domestically or internationally, related to alternative energy and energy conservation.

If in Malaysia, they've SCORE and Thailand formed EPPO, in Indonesia, other than organization in the Departemen ESDM(Department of Energy and Mineral Resources), BP Migas has been formed. To specifically manage the alternative energy and energy conservation, it is recommended to form alternative energy and energy conservation organization separate from existing department.
 
 

~ Menggabungkan Kegiatan Otomotif Dengan Kesayangan

Bangsawan Touring & Wisata kuliner

Menggabungkan kegiatan Otomotif yaitu menjelajahi tempat-tempat menarik dengan mobil kesayangan bersama rekan-rekan & keluarga sekaligus memuaskan kegemaran akan makan enak, agaknya merupakan paduan yang pas untuk AXIC Bangsawan Chapter. Kali ini dengan tajuk ALA MAKJAN edisi 1 yang merupakan kegiatan touring sekaligus wisata kuliner, rombongan Bangsawan Chapter pada minggu pagi yang cerah beranjak meninggalkan tikum (titik kumpul) di Pujasera Blok S menuju tol Cikampek dengan tujuan pertama sarapan di Pepes Jambal Walahar H. Dirja, yang terletak disebelah bendungan Walahar Karawang. Setelah keluar pintu tol Karawang Timur konvoi yang dipandu road captain Ditto-0813 Black AvG (B3 50LO) dengan berbekal perangkat radio komunikasi (rakom), kami pun menyusuri tepian sungai dan berbelok memasuki jalan kecil diatas pintu air yang dibangun pada pada jaman Belanda dengan hati-hati, mengingat jalan yang hanya pas untuk 1 kendaraan saja. Ditambah dengan lalu-lalangnya sepeda motor penduduk yang sedang menikmati wisata di tepian danau menuntut keahlian dan konsentrasi pengemudi untuk melewatinya. Ahirnya setelah mengatur kendaraan di lahan parkir yang tidak begitu luas, rombongan segera menyerbu dengan antusias makanan yang telah dipesan sebelumnya yaitu aneka pepes dengan varian ayam, jambal, jamur, udang dan sambal terasinya yang mengingatkan slogan terkenal dari kepala suku milis Jalan Sutra Mas Bondan yaitu “maknyuss” alias mantab atau lazis kalo kata Beno. Aroma pepes yang dimasak dengan kayu bakar ditambah nasi panas yang mengepul cukup membuat semua kami “kalap” dan harus berkonsentrasi penuh mencicipi semua makanan yang ada. Peluh pun bercucuran di sekitar kening sekalipun diluar cuaca mendung dan hujan mulai turun rintik-rintik. Nggak salah jika warung kecil ini cukup terkenal di kalangan pekerja Jakarta yang rela jauh-jauh datang untuk meluangkan waktu makan siangnya disini. Kapan yah YM (AXYC) bisa kopdar disini?? Sayang Mbak Miek sebagai EO maksibar (makan siang bareng) terpaksa berhalangan ikut karena anaknya mendadak agak panas. Next time yah ….

Perjalanan menuju PLTA JATILUHUR

 Namun the show must go on karena masih ada beberapa tempat yang harus dituju, sesuai rencana rombongan pun balik kanan kembali menuju tol Cikampek. Kami sempat berpapasan dan mengucapkan salam melalui rakom kepada rombongan I-Mac (Indonesia Mazda Community) yang bermaksud mengadakan halal bihalal. Setelah berkordinasi dengan Mas Nandy PIC AXIC Cabang Purwakarta rombongan pun menuju tol Cipularang dan dijemput di batas kota Purwakarta untuk dipandu menuju Waduk Jatiluhur. Perjalanan mulai terasa mengasyikan dengan kontur jalan yang berbukit-bukit, naik turun dengan pemandangan hutan tropis yang indah tampak dikejauhan mulai terlihat danau yang dikelilingi pepohonan hijau, kaca mobil pun diturunkan agar anak-anak dapat menikmati ahir pekannya dengan antusias. Tak luput jejeran perangkat telekomunikasi pengendali satelit raksasa berwarna putih milik stasiun bumi PT Indosat. Di kantor pengelola, rombongan disambut anggota AXIC Cabang Purwakarta dan petugas Humas PLTA Jatiluhur, hadir juga Mas Nano pemilik penginapan di sekitar waduk yang membantu menerangkan fasilitas maupun sarana yang ada di kawasan ini. Kebetulan karena pada awal tahun depan AXIC merencanakan untuk mengadakan Jambore, kedatangan kali ini pun tidak disia-siakan untuk sekaligus melakukan survey lokasi untuk membicaraan mengenai rencana acara jambore. Kawasan wisata yang luas ini ternyata menyimpan berbagai potensi wisata seperti waduk yang dimanfaatkan untuk wisata air maupun budidaya ikan dengan karambanya, view perpaduan bukit dan lembah mengapit bendungan raksasa yang berdiri dengan tegak di tengah-tengah danau ditambah fasilitas water boom, trek yang menantang untuk light offroad ataupun fun rally ditambah bungalownya yang cukup untuk menampung rombongan yang ingin menghabisakan waktu disini bersama keluarga. Kami pun tak melewatkan tawaran dari pengelola untuk naik sampai ke atas bendungan dengan izin khusus untuk berfoto dan mengambil gambar dengan menggunakan handycam di atas mobil Mas Nandy yang menggunakan sunroof. Setelah sejenak berfoto bersama dan menikmati keindahan pemandangan dari atas bendungan, kembali kami bergerak kali ini turun menuju tunnel PLTA Ir. H. Juanda di dasar bendungan untuk melihat bagaimana PLTA ini bekerja. Sayang tidak cukup waktu untuk menyusuri sampai masuk kedalam karena sudah saatnya makan siang. Ahirnya kami hanya mengambil beberapa foto dan berbincang-bencang mengenai sejarah PLTA dengan pemandu kami yang selalu setia menemani.

 

Penutupnya adalah : IKAN BAKAR TEPI DANAU!!

Tak terasa waktu pun beranjak siang, waktunya untuk makan siang di warung ikan bakar dengan menu ikan-ikan segar hasil budidaya karamba di waduk. Sambil menunggu hidangan, beberapa peserta menggunakan kesempatan ini untuk sholat atau sekedar menghilangkan penat dengan berbaring dan bercengkrama dengan keluarga dari peserta lainnya. Kecerian dan keakraban pun terjalin diantara anak-anak yang mendapat kesempatan mendapat pengalaman baru dalam touring kali ini.

Tidak lupa dibagikan goodies bag yang berisi aneka CD musik, topi, voucher diskon, souvenir untuk seluruh peserta. Ahirnya makanan yang ditunggu-tunggu pun datang dan dengan sigap pula seluruh peserta melakukan “sapu bersih” tanpa ragu apalagi malu-malu karena memang sudah lewat waktunya untuk makan siang. Beberapa peserta tampak asik pula menikmati kelapa muda batok dan mulai tergiur dengan wangi duren Purwakarta yang bentuknya tidak begitu besar namun beraroma kuat.

Karena waktu yang sudah beranjak sore maka rencana terahir yang seharusnya berlanjut ke hutan jati Wanayasa dan menikmati Sate Maranggi terpaksa dibatalkan. Ahirnya Mas Ari sebagai PIC Bangsawan menutup acara dengan melakukan tradisi pengukuhan dan penerimaan gelar RM kepada 3 anggota baru Bangsawan Chapter (RM PAS, RM PAT, RM GAB) yang telah mengikuti beberapa kali kegiatan internal kopdar chapter dan kegiatan AXIC.

Selain itu diberikan juga peningkatan status dari BA (Bangsawan Associate) kepada BA-DIT menjadi RM DIT setelah yang bersangkutan menikah dengan RA YAI dari Bangsawan Chapter. Keempatnya menerima gelar dari Pengurus Chapter secara simbolis dengan penyiraman air kembang yang disimpan di dalam batok kelapa. Dengan upacara ini mereka secara resmi sudah dapat menggunakan gelar dan sebutannya dengan harapan dapat memberikan sumbangsihnya untuk kemajuaan Bangsawan Chapter dan juga AXIC.

Ahirnya setelah berdoa bersama dan mengucapkan terima kasih atas sambutan yang luar biasa dari AXIC Cabang Purwakarta kami pun berpisah dengan Mas Nandy untuk melaju pulang kearah Jakarta. Lalu lintas yang cukup lancar membantu kami sampai dengan selamat di rumah masing-masing sebelum jam 7 malam. Sungguh pengalaman yang menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Sampai jumpa di di ALA MAKJAN edisi berikutnya …… nantikan kehadirannya dengan tempat dan menu yang berbeda. SALAM MAKNYUSS

 

 

~ Kendala Penerapan Teknologi Energi Laut

Kendala Teknologi dan Kapasitas Ocean Energy

Para insinyur Indonesia pada umumnya menguasai teknologi secara global dan di atas kertas. Karena ketika di kampus hampir semua mahasiswa tidak pernah melakukan praktek penerapan teknologi secara langsung, apalagi di perguruan tinggi swasta. Penyebab utama adalah kurangnya biaya untuk melakukan praktek penerapan teknologi tersebut

Apa yang salah di bangsa kita, sehingga sampai saat ini Indonesia masih berada di kelompok negara berkembang. Indonesia pada tahun 1966 memperoleh kepercayaan menjadi negara pertama di Asia untuk tempat asembling mobil-mobil Jepang, tetapi hingga saat ini telah lebih dari 40 tahun, bangsa ini belum mampu membuat mobil sendiri. Indonesia merupakan negara ketiga di dunia melakukan pengeboran minyak setelah Amerika Serikat dan Venezuela, tetapi hingga saat ini explorasi minyak dari perut bumi pertiwi ini masih diserahkan ke negara-negara asing.

Demikian pula halnya dengan teknologi pemanfaatan Ocean Energy atau enerji laut. Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah mulai dengan beberapa pengembangan enerji laut, seperti enerji gelombang di Yogyakart. Tetapi mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa alat-alat tersebut sumbangan dari negara eropa (maaf lupa negara nya). Yang menjadi pertanyaan, apakah BPPT sudah mampu membangun sendiri mulai dari nol hingga menghasilkan listrik ? Ini perlu pembuktian.

Penguasaan teknologi tidak bisa hanya menghafal pelajaran sejarah, termasuk juga pengembangan dan penerapan enerji laut. Tetapi harus diterapkan secara langsung oleh bangsa sendir. Tidak ada istilah alih teknologi di dunia ini, yang ada adalah pencurian teknologi dari bangsa asing yang bekerjasam dengan Indonesia.

Pada kesempatan ini penulis mencoba sekedar memberikan gambaran tentang kendala teknologi dan kapasitas listrik yang dapat dihasilkan dari enerji laut.

Tidal Power (Enerji Pasang Surut)
Teknlogi pembangkit listrik pasang surut (PLPS) ini mungkin sudah dikuasai penuh oleh bangsa Indonesia, karena prinsipnya tidak berbeda dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) seperti di waduk Jatiluhur dan waduk-waduk lainnya. Air laut ketika pasang ditampung dalam suatu wilayah yang di bendung dan pada waktu pasang surut air laut dialirkan kembali ke laut. Pemutaran turbin dilakukan dengan memanfaatkan aliran air ketika masuk ke dalam dam dan ketika keluar dari dam menuju laut.

Kendala utama penerapan teknologi PLPS ini ada dua, pertama Pemerintah belum pernah memanfaatkan enerji pasang surut ini untuk menghasilkan listrik. Sehingga tenaga ahli kita yang telah menguasai teknolgi pembangkit listrik tenaga air belum pernah merancang dan menerapkan atau membangun secara langsung dari awal. Kedua, untuk pembangunan ini akan merendam wilayah yang luas, apalagi bila harus merendam beberapa desa disekitar muara atau kolam. Disisni akan muncul masalah sosial, bukan masalah teknologi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para insinyur Indonesia untuk penerapan tekknologi ini adalah efisiensi propeler ketika air masuk dan air keluar. Kalau di PLTA arah air penggerak turbin hanya satu arah, sedangkan pada pembangkit listrik pasang surut ini dari dua arah. Hal kedua yang menjadi perhatian, adalah material yang dipergunakan. Untuk air laut diperlukan material khusus disesuaikan dengan kadar garam dan kecepatan airnya

Kapasitas listrik yang dihasilkan oleh PLPS ini sebaiknya untuk kapasitas besar (> 50 MW), agar bisa ekonomis seperti PLTA.

Sayangnya sumber enerji PLPS ini banyak berada wilayah timur Indonesia, mulai dari Ambon hingga ke Papua. Di wilayah ini kebutuhan lsitrik masih kecil dan membutuhkan power cable bawah laut yang sangat panjang untuk bisa membawa listrik ke pulau Sulawesi yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar

BERSAMBUNG (Wave Power/Enerji Gelombang)

 

 
Halaman 563 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook