Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Keberhasilan India Pada Energi Terbarukan Patut Ditiru

Pengembangan Energi Terbarukan: Belajar dari Keberhasilan India

Belajar (berkaca) dari keberhasilan orang lain adalah salah satu upaya menuju keberhasilan dan mandiri. Kalimat tersebut sangat tepat jika ditujukan bagi pengembangan energi terbarukan di Indonesia yang hingga kini masih seperti berjalan di tempat.

Pertanyaannya kemudian siapa yang bisa dijadikan media pembelajaran untuk mengembangkan energi terbarukan di negeri yang sangat kaya dan bervariasi akan sumber daya energi terbarukan? Jawabannya adalah India, negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia sekitar lebih dari satu miliar.

Penulis tertegun, juga mungkin banyak dari peserta yang hadir pada Roundtable Discussion on Institutional Mechanism for Developing and Financing Rural Electrification Projects in Indonesia pada 29 Agustus lalu, setelah melihat dan mendengarkan pemaparan dari delegasi India mengenai keberhasilan Program Energi Pedesaan melalui pemanfaatan energi terbarukan di negeri satu miliar penduduk tersebut.

Keberhasilan itu tidak mudah diperoleh negara berkembang mana pun, termasuk dalam komunitas commonwealth itu. Tidak hanya luasnya objek (masyarakat) yang perlu diberikan akses energi, dan keberadaan energi terbarukan itu sendiri yang secara normatif harga energi yang dihasilkan hingga saat ini masih terlalu mahal dibandingkan dengan energi konvensional, apalagi terhadap yang disubsidi.

Kemudian pertanyaan berikutnya adalah kenapa India bisa berhasil dengan kondisi seperti itu?

Secara singkat, jawabannya adalah karena India mengembangkan energi terbarukan dengan fokus dan sungguh-sungguh. Fokus karena India, dengan sumber daya energi terbarukan yang relatif banyak dan bervariasi, bertekad untuk menjelmakan kekayaan alamnya menjadi sumber daya.

Untuk menggawanginya, maka Pemerintah India perlu mengadakan jabatan menteri yang khusus mengurusi energi terbarukan atau disebut Ministry of non-Conventional Energy Sources. Di bawah komando Kementrian Sumber Energi Non-konvensional inilah pengembangan energi terbarukan dilakukan secara sistematis, komprehensif, dan integratif.

Serta yang tak kalah pentingnya (paling ditunggu dunia usaha) adalah adanya regulasi dalam bentuk kebijakan nasional yang strategis dalam mendukung terciptanya peluang penelitian dan pengembangan serta berusaha dalam sektor energi terbarukan.

Sungguh-sungguh dalam mengembangkan energi terbarukan terwujud dengan adanya keterpaduan yang dilakukan oleh semua lembaga terkait (stakeholder) telah mampu membentuk sinergi yang baik. Keterpaduan sinergi lembaga-lembaga itu juga secara bertahap telah mampu menempatkan posisi energi terbarukan tidak hanya memperkuat ekonomi rakyat maupun mereduksi kemiskinan masyarakat desa.

Berfungsinya lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan (R&D) di bidang teknologi energi terbarukan, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), dan lembaga-lembaga penelitian di perguruan tinggi di Indonesia, terbukti melahirkan mahakarya mandiri yang tidak hanya berani mengembangkan, tetapi juga dengan bangga menggunakan teknologi energi terbarukan buatan sendiri (indigenous technology).

Hal tersebut berhasil menginisiasi bermunculannya pusat-pusat studi di bidang energi terbarukan seperti Advance R&D Centers and Institute Set Up, Alternate Hydro Energy Center, Center for Wind Energy Technology, dan NIRE yang tidak lain menjadi salah kunci keberhasilan implementasi energi terbarukan di India.

Lebih jauh, kebijakan peraturan yang dikeluarkan Pemerintah India melalui Kementrian Sumber Daya Terbarukan Non-konvensional mampu menghadirkan iklim yang tidak hanya memayungi swasta, tetapi juga masyarakat sebagai bagian integral dari stakeholder di bidang energi. Misalnya, peneliti program energi Pelangi, sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan, perubahan iklim, dan isu energi terbarukan. di mana masyarakat dilibatkan mulai dari perencanaan hingga monitoring dan evaluasi.

Beberapa teknologi energi terbarukan tersebut telah sejajar dengan teknologi negara-negara maju seperti USA, Jerman, Denmark, Swedia, dan Jepang.

Biogas plants adalah teknologi energi terbarukan yang paling maju di India dan merupakan salah satu desain yang menjadi rujukan dunia selain Cina. Disain dan teknologi biogas India menempati tempat kedua di dunia dalam jumlah pembangkit biogas.

Pembangkit listrik tenaga angin (wind power) yang selama ini kita kenal melalui produksi negara-negara Eropa, seperti Denmark, Swedia, dan Jerman, ternyata juga telah dikuasai teknologinya dan diproduksi, baik untuk kepentingan dalam negeri India maupun untuk pasar ekspor dan berhasil menempati urutan kelima dunia.

Adapun untuk pembangkit listrik tenaga matahari (solar Photovoltaic/solar PV), India secara berurutan menempati posisi kelima dunia dalam hal memproduksi sendiri peralatan solar PV dan urutan keempat dalam hal pemanfaatannya.

Tabel 1 berikut ini memperlihatkan potensi energi terbarukan di India dan hasil yang telah dicapai, serta rencana pengembangan lima tahun yang ke-10, tahun 2002-2007.

Pada tatanan peraturan perundangan, Kementerian Sumber Daya Energi Non-konvensional telah mampu melahirkan kebijakan yang kondusif. Kebijakan itu, antara lain kebijakan kelembagaan pada tingkat negara (institutional arrangements including state level), mekanisme pendanaan (financing mechanism) yang mengadopsi pola "Grameen Bank", Fiscal Incentives, dan Technology Development & Commercialization.

Peran swasta dalam pengembangan energi terbarukan di India sangat besar. Total nilai investasi swasta yang ditanam mencapai 82 persen dari total investasi sebesar 250 miliar rupee atau setara 46,23 triliun rupiah dengan nilai tukar 1 rupee (INR) sama dengan 184,918 rupiah (IDR) dengan kapasitas terpasang sekitar 4 GW.

Peran swasta tersebut melalui industri manufakturnya telah menghasilkan produksi lokal per tahun yang mencapai 500 MW hingga 750 MW untuk industri tenaga angin, 32 MW untuk produksi solar cell dengan 8 perusahaan, 70 MW untuk modul PV dengan 14 perusahaan.

Selain untuk kepentingan dalam negeri, pada tahun fiskal 2002-2003, industri tenaga matahari (solar PV) juga merambah dunia dengan mengekspor sekitar 15 MW yang terdiri atas 22 MW solar cells dan 23 MW dalam bentuk modul.

Keberhasilan tersebut juga tercermin dengan meningkatnya desa yang mendapat sarana listrik melalui program energi pedesaan yang memanfaatkan energi terbarukan. Pada akhir Mei 2003 lalu, desa yang mendapat sarana listrik mencapai 83,8 persen dari total 587.258 desa.

Keberhasilan tersebut akan terus dijalankan hingga Maret 2007 di mana target desa yang memperoleh listrik mencapai 100 persen. Dengan kata lain, pada tahun 2007 nanti seluruh penduduk India, yang berjumlah lebih dari satu miliar, dapat menikmati listrik sebagai buah dari program yang mereka sebut mendesentralisasi pembangkit listrik berbasis sumber energi terbarukan (Decentralized Generation Based on Renewable Energy Sources).

Dengan berkaca atas keberhasilan India dalam pengembangan energi terbarukan dan melihat potensi yang ada di bangsa Indonesia, sebenarnya keberhasilan tersebut dapat ditiru dan dilaksanakan. Terlepas perlu atau tidaknya kita mengupayakan adanya kebijakan yang sangat kuat pada tatanan regulasi dengan mengusulkan adanya pejabat setingkat menteri untuk mengurusi pengembangan energi terbarukan.

Selain itu, kita perlu merapatkan barisan dengan meninggalkan "kegagalan kelembagaan" yang selama ini telah menjatuhkan negara Indonesia, baik secara ekonomi, politik, maupun moral. Kejatuhan moral itu, seperti egoisme sektoral (merasa lembaganya yang paling berhak) dan korupsi dengan sejuta alasan antara lain dengan mengeksploitasi kepentingan lingkungan hidup maupun kemiskinan.

Kerja keras yang harmonis antara lembaga penelitian baik pemerintah maupun non-pemerintah, pusat kajian strategis, seperti BPPT, LIPI, industri manufaktur swasta, serta lembaga profesi, seperti Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).

Yang terakhir dan tak kalah pentingnya adalah peran serta masyarakat dari awal hingga akhir proyek, yang tidak hanya memberikan hal-hal teknis dan ekonomi. Masyarakat juga harus berperan dalam hal yang berkaitan dengan pemanfaatan energi yang dihasilkan bagi kegiatan-kegiatan yang mendorong ke arah hidup yang lebih baik, seperti memanfaatkan penerangan untuk belajar serta kegiatan yang meningkatkan pendapat masyarakat, seperti untuk menjahit, menggiling padi, dan membuat penganan.

Energi terbarukan dalam pemanfaatannya tidak hanya sekadar memberikan akses energi secara luas kepada masyarakat yang ingin dicapai (belajar dari kegagalan program listrik masuk desa yang kental muatan politik di era orde baru), tetapi juga untuk sebagai alternatif penanggulangan kemiskinan.

Satu ungkapan menarik dari Mahatma Gandhi, bapak guru dunia-untuk direnungi seperti yang disampaikan delegasi India, paling tidak kepada mereka yang terlibat di sektor energi terbarukan di Indonesia sebagai agent of development-adalah "The earth has enough for everyone?s need but not for anyone?s greed". Artinya, bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk mereka yang rakus (baca: koruptor).

Sumber : Kompas 

 

~ Aceh Mulai Beralih Ke Energi Panas Bumi

Aceh Mulai Beralih Ke Energi Non Fosil

Banda Aceh ( Berita ) :  Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) mulai mengalihkan penggunaan energi listrik dari bahan bakar minyak yang berasal dari fosil ke energi yang terbarukan.

“Kalau bisa kita tidak tergantung pada daerah lain. Kini sedang diberdayakan energi terbarukan yang kita miliki seperti geotermal (panas bumi),” kata Sekda NAD, Husni Bahri TOB pada seminar Green Aceh Spirit di Banda Aceh, Jumat.

Aceh hingga saat ini masih defisit listrik dan sangat tergantung dengan pasokan dari Provinsi Sumatera Utara sehingga karena kekurangan energi tersebut masih sering terjadi pemadaman.

Salah satu upaya untuk menghemat membangun pembangkit listrik bersumber dari bahan yang dapat diperbaharui seperti air, panas bumi, angin, bahan bakar nabati dan lainnya.

Energi alternatif itu selain mengurangi ketergantungan dengan energi fosil yang tidak dapat diperbaharui dan diperkirakan hanya cukup untuk 100 tahun lagi, juga merupakan salah satu cara mempertahankan Aceh Hijau.

Pemerintah Aceh sedang mencari investor yang berminat mengelola energi baru dan terbarukan (renewable energy) sehingga dapat memenuhi kebutuhan listrik yang kini masih tergantung dengan bahan bakar minyak.

Di wilayah Aceh terdapat banyak potensi energi primer yang dapat diperbaharui dan sudah dilakukan studi awal seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan yang dapat menghasilkan listrik sebesar 86,4 MegaWatt (MW).

PLTA Tampur yang mampu menghasilkan 428 MW, PLTA Lawe Alas 216 MW, PLTA Peudada 15 MW, PLT Panas Seulawah Agam 162 MW, PLTP Jaboi 10 MW dan pembangkit listrik tenaga matahari yang tersebar di seluruh Aceh.

“Kita terus mengkaji potensi renewable energy sehingga kebutuhan listrik Aceh tidak lagi tergantung pada bahan bakar fosil yang semakin langka dan mahal serta melepaskan karbon yang berdampak pada pemanasan global.

Energi yang bersumber dari air mampu dihasilkan tenaga pembakit listrik yang cukup, sehingga Aceh bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan energinya tapi juga dapat mengimpor ke daerah lain, katanya. (ant )

Print This Post Print This Post

 

~ Persediaan Energi Untuk Masa Depan

Renewable Energy: Energi Supply untuk Masa Depan

 

google_protectAndRun("ads_core.google_render_ad", google_handleError, google_render_ad);
google_protectAndRun("ads_core.google_render_ad", google_handleError, google_render_ad);
google_protectAndRun("ads_core.google_render_ad", google_handleError, google_render_ad);
Energi terbarukan benar-benar mendapatkan perhatian yang dibutuhkan. Hari ini cadangan energi fosil yang semakin menipis dan fokus beralih ke sumber energi lain yang mengganti sumber energi tradisional ini. Fokusnya adalah pada sumber energi ini dan bukan tanpa alasan. Ini adalah ramah lingkungan dan yang hampir tidak terbatas sumber energi. Menteri energi internasional dan advokat bersama-sama dengan berbagai organisasi non-pemerintah dan lingkungan bergabung upaya untuk mempromosikan pemanfaatan energi ini. Seluruh dunia pemerintah adalah hibah dan pemberian insentif untuk pengembangan sistem energi terbarukan.

Tapi apa yang terjadi? Bagaimana kita menggunakannya saat ini dan bagaimana kita bisa menggunakannya lebih baik di masa depan? Apakah ini akan memecahkan masalah energi kita yang kita alami hari ini? Berapa harga yang harus kita bayar untuk sumber energi baru ini? Semua pertanyaan ini dan lebih panas subjek yang didiskusikan oleh banyak orang di seluruh dunia. Mari kita mulai di sini dengan pertanyaan sederhana dan jawaban untuk Anda.

Apa itu Renewable Energy?

Sumber energi ini telah digunakan dalam banyak cara, tetapi telah mengambil begitu saja bertahun-tahun sekarang. Kami biasanya tidak berhenti dan berpikir tentang mukjizat-mukjizat kecil setiap hari ini terjadi di sekitar kita. Misalnya sinar matahari melakukan hal-hal indah kita. Matahari membantu kita untuk mengembangkan tanaman, buah-buahan dan sayuran. Anda dapat mengeringkan pakaian di luar di bawah matahari dan bahkan pakaian putih menjadi lebih putih dengan sinar matahari. Setiap orang suka bersenang-senang di bawah matahari, Disney World dan Universal studio adalah membangun di lokasi di mana terdapat banyak sinar matahari dan bukan tanpa alasan. Cukup berbaring di pantai di bawah sinar matahari dilakukan oleh banyak dari kita. Matahari membuat kita bahagia dan ketika dicabut dari itu manusia menjadi tertekan. Tapi sinar matahari dapat digunakan sebaliknya juga. Anda dapat mengkonversi sinar matahari menjadi listrik dan menggunakannya untuk kekuatan yang Anda rumah dan bahkan dapat memberikan panas air panas dan kolam renang Anda. Mengubah sinar matahari menjadi energi merupakan salah satu sumber energi baru.

Tidak hanya sinar matahari dipandang sebagai salah satu sumber energi baru. Air yang kita gunakan untuk tujuan rekreasi seperti kayak dapat digunakan sebaliknya. Air yang mengalir ini juga dapat digunakan untuk menghasilkan energi.
Angin juga dapat digunakan dan sudah digunakan oleh beberapa negara. Di Inggris dan Jerman generator angin ditempatkan di pantai di mana terdapat banyak angin. Ada juga yang lebih kecil generator angin yang tersedia untuk pemilik rumah yang dapat digunakan sebagai tambahan untuk sistem grid tradisional.

Semua sumber energi yang disebutkan ini bebas menggunakan untuk setiap orang. Tersedia sinar matahari di siang hari dan angin tersedia siang dan malam. Mengalir air dapat lebih sulit untuk membuat penggunaan karena tidak tersedia untuk setiap orang. Ketersediaan sumber ini tergantung di mana Anda tinggal. Anda harus memastikan bahwa Anda menggunakan sumber yang dapat diterapkan untuk situasi pribadi dan Anda bahkan dapat menggabungkan beberapa sumber bersama-sama untuk membuat sebagian besar dari itu. Meskipun sumber-sumber bebas, perangkat yang digunakan untuk mengkonversi sumber energi ini menjadi energi yang dapat digunakan untuk rumah kita tidak. Tapi hampir untuk semua anggaran ada solusi.

Bagaimana cara kerjanya?

Tradisional sumber energi fosil seperti batu bara dan minyak bumi menghasilkan energi dengan cara pembakaran atau pembakaran bahan bakar fosil. Sumber-sumber ini bekerja dengan langsung mengubah energi menjadi bentuk yang bermanfaat. Sinar matahari secara langsung dikonversi menjadi listrik yang dapat digunakan langsung.

Mengapa kita membutuhkannya?

Ada beberapa alasan mengapa kita perlu alternatif sumber energi tradisional. Cadangan bahan bakar fosil yang semakin berkurang dan permintaan energi naik dan akan meningkat bahkan lebih. Sumber-sumber energi fosil akan menjadi sulit untuk menemukan dan bahkan lebih mahal. Untuk melawan harga tinggi ini kita perlu alternatif yang melimpah dan murah. Tepatnya, apa sumber-sumber ini adalah: murah dan berlimpah.

Pembakaran sumber energi tradisional menghasilkan emisi gas berbahaya di atmosfer kita yang menyebabkan perubahan drastis dalam iklim kita. Alasan ini juga mendorong berbagai pemerintah untuk memprioritaskan penggunaan energi terbarukan untuk menghindari kekurangan energi, ekonomi, dan masalah lingkungan.

Dengan demikian, sumber energi ini dapat pergi jauh dalam membantu kita mencapai yang stabil dan dapat diandalkan pasokan energi di masa depan. Sumber energi akan tersedia untuk semua dan akan lebih murah daripada sumber-sumber energi tradisional. Yang lebih penting adalah bahwa kita akan hidup di dunia yang merupakan tempat yang lebih baik, bagi kita sekarang dan untuk generasi yang akan datang.

Pasal Sumber: ArticleStreet.

google_protectAndRun("ads_core.google_render_ad", google_handleError, google_render_ad);
 

~ Energi Terbarukan Untuk Non Komersial Di Asia

Energy Terbarukan (Renewable energy)

Energy Terbarukan (Renewable energy) memproduksi sekitar 13% dari kebutuhan Energy Global dan 6% berada di Amerika Serikat. Dari 13%, sekitar 80% berasal dari biomassa, yang utamanya digunakan untuk non-komersial di Asia.

Source: Renewable Energy Annual 2003

http://www.greenjobs.com/public/info/industry_background.aspx

 

 

Kenapa mini-hydro ?

Pembangkit Listrik Tenaga Air berskala kecil adalah salah satu alternatif teknologi energi yang paling efisien dan sangat handal untuk memproduksi listrik yang paling bersih dan ramah lingkungan.

 

Secara spesifik, keuntungan yang dihasilkan PLTA skala kecil dibanding tenaga Angin, Gelombang dan Matahari adalah:

- Efisiensi yang tinggi (70 - 90%), sejauh ini masih yang terbaik dalam teknologi energi

- Faktor Kapasitas (biasanya >50%), dibanding 10% untuk matahari dan 30% untuk angin

- Kecermatan yang sukup untuk memprediksi pola curah hujan

- Perubahan yang berkala, Tenaga keluaran naik turun secara gradual per hari (bukan per menit)

- Perencanaan sistem yang awet, biasanya di desain untuk 50 tahun

- PLTA skala kecil biasanya hanya sedikit membendung aliran atau tidak membendung sama sekali jadi berbeda dengan PLTA skala besar yang mempengaruhi DAS (Daerah Aliran Sungai) di hilirnya.

nology; systems can readily be engineered to last for 50 years or more.

Tenaga air merupakan sumber energi primer yang terbarukan dan merupakan sumber energi domestik serta ramah lingkungan. Pemanfaatan tenaga air untuk pembangkit tenaga listrik adalah dengan membangun Pembangkit Litrik Tenaga Air ( PLTA ) untuk skala besar atau membangun Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro ( PLTM ) untuk skala menengah dan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro untuk skala kecil.

 

Pembangunan PLTM adalah dengan memanfaatkan potensi tenaga air  sungai dimana besarnya tenaga listrik yang dapat dihasilkan tergantung dari besarnya aliran sungai serta beda tinggi dari kemiringan sungai.

 

Pengembangan PLTM umumnya dilakukan dengan sistim aliran langsung yang berarti tidak diperlukan adanya waduk yang umumnya memerlukan lahan yang luas,sehingga akan tetap dapat mepertahankan lingkungannya.

 

Pembangunan PLTM dapat membantu penyediaan tenaga listrik  yang dalam pasal 4 ayat 3 UU No. 20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan disebutkan, guna menjamin ketersediaan energi primer untuk pembangkit tenaga listrik, diprioritaskan penggunaan sumber energi setempat dengan kewajiban mengutamakan pemanfaatan sumber energi terbarukan.

Pemerintah telah pula membuat peraturan perundangan yang menunjang investasi dalam bidang PLTM yaitu :

Peraturan Pemerintah No. 03 tahun 2005 tentang Ketenagalistrikan menyatakan bahwa guna menjamin ketersediaan energi primer untuk pembangkit tenaga listrik, diprioritaskan penggunaan sumber energi setempat dengan kewajiban mengutamakan pemanfaatan sumber energi terbarukan. Dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah tersebut disebutkan :

Ayat 3     Penyediaan tenaga listrik dilakukan dengan memanfaatkan seoptimal mungkin sumber energi yang terdapat diwilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ayat 4     Guna menjamin ketersediaan energi primer untuk penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum, diprioritaskan penggunaan sumber energi setempat dengan kewajiban mengutamakan pemanfaatan sumber energi terbarukan.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 001Tahun 2006 tentang Prosedur Pembelian Tenaga Listrik Dan / Sewa Menyawa Jaringan Dalam Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 002 Tahun 2006 tentang Pengusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Terbarukan Skala Menengah.

PLTM adalah menggunakan sumber energi setempat serta merupakan sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan,dan dengan dioptimalkannya penggunaan tenaga air untuk membangkitkan tenaga listrik maka sekaligus dapat menekan penggunaan Bahan Bakar Minyak yang harganya cenderung meningkat dan dan juga cadangannya semakin kecil. 

 

 

PLTM Telanai - Banding Agung - SumSel

Kecamatan Banding Agung, Kabupaten Ogan Komering Ulu Propinsi Sumatera Selatan, secara administratif merupakan wilayah kerja pelayanan tenaga listriknya berada dibawah PT. PLN (Persero) Wilayah S2JB. Pasokan tenaga listrik untuk Sistem setempat dipasok dari PLTD serta dari gardu induk 150/20 kV terdekat  dan disalurkan melalui jaringan 20 kV sebelum didistribusikan kepada para pelanggan dengan jaringan distribusi 220 Volt.

 

Kondisi keuangan PT. PLN (Persero) yang kurang menguntungkan antara lain akibat dampak krisis moneter 1997 yang efeknya masih dirasakan sampai sekarang  dan juga PLN yang masih  merugi mengakibatkan tidak tersedianya dana investasi untuk pengadaan pembangkit baru serta terbatasnya dana operasi untuk pemeliharaan pembangkit sehingga sebagian dari pembangkit-pembangkit yang ada mengalami penurunan daya mampu dan tidak dapat diandalkan serta tidak cukup untuk memenuhi pertumbuhan beban yang ada.

 

Selain itu, daerah daerah yang secara geografis terletak jauh dari pusat tenaga listrik memiliki panjang kawat penghantar yang panjang  mengakibatkan mutu listrik yang diterima oleh konsumen menjadi tidak layak.

 

Hal tersebut diatas menyebabkan keterbatasan pasokan tenaga listrik yang menimbulkan ketidak seimbangan antara pasokan dan kebutuhan daya sehingga terjadi pemadaman pada waktu beban puncak,.dan dibatasinya penyambungan pelanggan baru, baik dari pelanggan Industri, Bisnis maupun pelanggan rumah tangga , dan khususnya untuk wilayah Banding Agung, kondisi ini tentunya merupakan kendala bagi pengembangan ataupun tumbuhnya Sektor Industri dan Usaha didaerah tersebut dan berakibat   pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut menjadi terhambat.

 

 

PLTM Telanai Banding Agung tersebut akan dioperasikan dengan pola Run-off River (ROR) yaitu pola aliran langsung sehingga dengan menggunakan pola operasi ini PLTM akan dapat beroperasi selama 24 jam dalam sehari.

 

Dengan pola ROR ini maka tenaga listrik yang dihasilkan dari PLTM ini akan dipakai sebagai pemikul beban dasar pada Sistem di wilayah Banding Agung, Muara Dua, Ogan Komiring Ulu Selatan sedangkan kekurangan pada beban puncak akan masih dipasok dari Gardu Induk dan atau PLTD.

 

dipasok dari Gardu Induk dan atau PLTD.
 

~ Pemanfaatan Dari Energi Terbarukan

(Renewable Energy) Menurut Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi


Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ada tiga direktorat jenderal (ditjen) teknis yang diberi amanah membuat regulasi kebijakan dalam pemanfaatan dan pengelolaan energi: Ditjen Minyak dan Gas Bumi; Ditjen Mineral, Batubara, dan Panas Bumi; serta Dijten Listrik dan Pemanfaatan Energi (Ditjen LPE). Dari namanya cukup jelas terlihat jenis energi mana yang berada di bawah wewenang masing-masing ditjen. Untuk jenis energi terbarukan (renewable energy) selain panas bumi berada di bawah wewenang Ditjen LPE.

Satu hal yang perlu kita sadari bahwa masalah energi adalah masalah kita bersama sebagai bangsa. Manakala kita berbicara tentang energi maka kita masuk pada ranah multi disiplin, artinya bukan hanya monopoli kelompok tertentu atau disiplin ilmu tertentu saja. Setiap orang berhak berperan – sekecil apapun peranannya – sekaligus mengetahui apa yang sudah dilakukan pemerintah (pusat maupun daerah) dalam rangka mewujudkan ketahanan energi. Tentunya kita tidak ingin setiap ada lonjakan harga energi di pasar global, bangsa ini selalu dihadapkan pada krisis energi. Menurut hukum supply-demand, krisis energi terjadi manakala volume pasokan yang ada tidak dapat mencukupi volume permintaan. Sehingga terjadi kelangkaan BBM, kelangkaan gas, kelangkaan batubara. Dimana-mana panik, dimana-mana terjadi antrian, listrik sering padam.

Sekitar tiga bulan lalu saya ‘menemukan’ electronic file setebal 14 halaman berjudul “Konsepsi Energi Hijau” yang dibuat oleh Ditjen LPE. Dokumen ini memuat pokok-pokok kebijakan pemerintah dalam pemanfaatan energi terbarukan dalam rangka mewujudkan sistem ketahanan energi kita. Konsepsi energi hijau adalah sistem penyediaan dan pemanfaatan energi di tanah air; merupakan satu kesatuan konsep penyediaan energi untuk masa kini dan masa mendatang, untuk memenuhi kebutuhan energi saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan energi generasi mendatang dalam upaya menciptakan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sedangkan pembangunan berkelanjutan secara sederhana didefinisikan sebagai suatu pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan nasional saat ini serta mampu mengkompromikan kebutuhan generasi mendatang dengan tetap menjaga stabilitas daya dukung lingkungan.

Satu hal yang perlu kita ingat bahwa ketahanan energi tidak cukup hanya dengan diversifikasi energi (pemanfaatan banyaknya energi alternatif), tetapi juga mulai sekarang harus diiringi dengan pola hidup yang hemat energi – mulai dari diri kita sendiri dan mulai dari rumah tangga sendiri. Satu hal lagi adalah bahwa biasanya kita hebat dalam membuat kebijakan, blue print, atau grand design, tetapi sangat lemah dalam implementasinya akibat lemahnya kordinasi antar sektor – ego sektoral. Sikap ego seperti ini merupakan hambatan serius bagi akselerasi proses pembangunan. Di sisi lain, pasca jatunya rezim Orde Baru, elit bangsa ini begitu sibuk berpolitik, menjadikan politik sebagai panglima, sehingga beberapa kebutuhan vital bangsa terabaikan. Tahu-tahu sudah ‘disodok’ oleh negara tetangga yang dulunya banyak belajar dari kita.

Semoga informasi yang terdapat dalam dokumen ini bermanfaat bagi rekan-rekan yang juga concern dengan masalah energi. Bagi yang berminat, silakan download file komplit disini:

 
Halaman 562 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook