Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Lampu Tenaga Matahari

Jalur Pantura Minim Penerangan
Pemerintah Kabupaten Cirebon Sanggupi Pasang Lampu Jalan

 

Subang, Kompas - Jalur di wilayah pantai utara (pantura) Kabupaten Subang dan Karawang gelap pada malam hari karena sebagian besar lampu penerangan jalan mati. Hal itu dikhawatirkan memicu kecelakaan selama arus mudik dan balik Lebaran tahun ini.

Penelusuran Kompas, Minggu (6/9), menunjukkan, sebagian besar lampu di ruas sepanjang 45 kilometer dari Cikampek, Kabupaten Karawang, hingga Pamanukan, Kabupaten Subang, mati. Penerangan relatif lebih baik hanya terdapat di sekitar persimpangan jalan, pasar, gerbang pabrik, stasiun pengisian bahan bakar untuk umum, dan rumah makan.

Lampu tenaga matahari (menggunakan sel surya sebagai sumber daya listrik) yang belum genap dua tahun dipasang di median jalan juga tidak berfungsi. Itu terlihat dari daerah Kotabaru, Jatisari (Karawang), Patokbeusi, Ciasem, Sukasari, hingga Pamanukan (Subang). Santana (19), warga Desa Tanjungrasa, Kecamatan Patokbeusi, mengatakan, kondisi jalan yang gelap sering memicu kecelakaan. Beberapa kecelakaan terjadi di daerah Tanjungrasa karena pengendara tidak melihat kendaraan mogok di tepi atau di bahu jalan.

"Beton pembatas jalan, tiang lampu, penyeberang, dan kendaraan yang melaju pelan pernah tertabrak di sini karena tidak terlihat jelas oleh pengendara yang melaju kencang," ujar Santana.

Hindari malam

Syukur (48), warga Desa Batangsari, Kecamatan Sukasari, menambahkan, sebagian lampu tenaga matahari dipasang di jalur pantura di desanya pada tahun lalu. Namun, kini banyak lampu tersebut mati. Kepala Kepolisian Resor Subang Ajun Komisaris Besar Sugiyono, di sela-sela persiapan pengamanan Lebaran di Cikopo, Purwakarta, Senin, mengatakan, sebagian besar dari total 58 lampu tenaga matahari di jalur pantura Kabupaten Subang tidak berfungsi. Pihaknya mengimbau pemudik agar lebih hati-hati saat melintas di jalur pantura pada malam hari. Pengguna sepeda motor diimbau menghindari perjalanan pada malam hari.

"Kami telah mengonfirmasi ke instansi terkait, seperti Dinas Bina Marga, Dinas Perhubungan, dan Jasa Marga, terkait kondisi penerangan di jalur pantura. Namun, hingga kini belum ada solusi," kata Sugiyono. Terkait mudik Lebaran, Pemerintah Kabupaten Cirebon berjanji menambah penerangan jalan di jalur pantura. Pemkab akan meminta Balai Besar Jalan Nasional Pantura memasang lampu penerangan jalan. Salah satunya jalur Pangenan-Gebang ataupun Kapetakan-Celancang yang selama ini selalu gelap dan rawan kecelakaan.

Bupati Cirebon Dedi Supardi, saat mengunjungi pos Losari, Senin, menyanggupi pembiayaan penerang jalan agar pantura layak dilewati kecuali jalur tol yang menjadi tanggung jawab Jasa Marga. Idealnya lampu jalan dipasang setiap 50 meter, tetapi selama ini sebagian dipasang per 100 meter jalan.

Kepala Kepolisian Wilayah Cirebon Komisaris Besar Tugas Dwi Apriyanto menyatakan, Jasa Marga menyepakati pemasangan penerangan jalan guna memudahkan pemudik melewati calon Tol Kanci-Pejagan. Jalur alternatif penghubung Cirebon di Jawa Barat dan Brebes di Jawa Tengah itu masih dibangun sehingga jaringan penerangan jalan belum terbangun. (MKN/NIT)

 

Sumber : Kompas

 

~ PT PLN Wilayah Kalimantan Timur

Kasus Lahan Gardu PLN Terus Diproses

Samarinda, Kompas - Kasus dugaan korupsi dalam proyek pembebasan lahan untuk pembangunan gardu induk PLN di Kecamatan Samarinda Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur, diproses lanjut. Rabu (28/4) Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur di Samarinda memeriksa Sekretaris Kota Samarinda Fadly Illa dan empat pegawai PT PLN Wilayah Kalimantan Timur. Mereka diperiksa sebagai saksi.

Asisten Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Timur (Kaltim) Baringin Sianturi kepada pers mengatakan, pemeriksaan Fadly dilakukan untuk mengetahui kewenangan Tim Sembilan yang dibentuk Pemerintah Kota Samarinda dalam proyek pembebasan lahan tahun 2007. Lahan yang dibebaskan itu luasnya 3,7 hektar, dengan dana PT PLN sebesar Rp 4,7 miliar.

Kejati Kaltim menduga, terjadi penggelembungan dana pembebasan lahan yang melibatkan anggota Tim Sembilan. Dalam penyidikannya, Kejati Kaltim telah menjebloskan tujuh pejabat Pemerintah Kota Samarinda yang masuk dalam Tim Sembilan ke Rumah Tahanan Negara Samarinda.

Ketujuh pejabat itu adalah Staf Ahli Wali Kota Samarinda Hamka Halek, Kepala Dinas Perhubungan Supriyadi Semta, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Kota Yosef Barus, Kepala Dinas Pertanian Syaifullah, Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional Kota Samarinda I Made Mandiya, Kepala Badan Perizinan Terpadu Abdullah, serta Lurah Sungaikapih (Samarinda Ilir) Awal Ahmadi.

Selain menjebloskan ketujuh tersangka itu, Kejati Kaltim juga menetapkan tiga tersangka lain, yakni Camat Samarinda Ilir Didi Purwito; karyawan PT PLN Cabang Samarinda, Bambang; dan pegawai Kantor Pelayanan Pajak Samarinda, Edi Wahyudi. ”Mereka belum bisa diperiksa sebagai tersangka karena sakit,” kata Baringin.

Kemarin tim penyidik Kejaksaan Agung yang beranggotakan lima orang juga memproses kasus dugaan korupsi di Kaltim. Tim itu memeriksa tiga pejabat Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan seorang unsur pimpinan bagian keuangan PT Kutai Timur Energi (KTE).

Keempatnya diperiksa sebagai saksi dalam dugaan kasus korupsi pengelolaan dana penjualan saham Pemerintah Kabupaten Kutai Timur yang nilainya Rp 576 miliar. Saham itu dikelola PT KTE yang dibentuk pemerintah setempat.

Ketua Tim Penyidik Uung Abdul Syakur menolak memberikan nama-nama pejabat yang diperiksa. Ia hanya membenarkan bahwa dalam kasus tersebut kejaksaan telah menetapkan Direktur Utama KTE Anung Nugroho dan Direktur KTE Apidian Tri Wahyudi sebagai tersangka. ”Kami berada di Kaltim sejak Senin lalu,” katanya.

Senin lalu tim Kejaksaan Agung juga menggeledah kantor KTE di Sangatta, ibu kota Kabupaten Kutai Timur, untuk menyita sejumlah dokumen. (BRO)

 

Sumber : Kompas

 

 

~ PLTG Teluk Lembu, Pekanbaru

Semburan Gas PT Kalila Belum Terkendali

 

Pekanbaru, Kompas - Semburan gas dari sumur PT Kalila di areal Blok Pegan I, Desa Langgam, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau, tidak terkendali sejak hari Minggu (14/3). Sampai hari Selasa kemarin, semburan gas masih terus terjadi dan lokasi sumur terpaksa diblokir dalam radius 250 meter untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

”Kami sudah berupaya menutup semburan itu dengan berbagai upaya, tetapi belum dapat teratasi. Hari Rabu besok (hari ini), tim dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan datang ke lokasi untuk membantu pengendalian gas itu,” kata Agustinus, Manajer Area dan Operasi PT Kalila, Selasa (16/3).

Sumur Pegan I adalah sumur lama yang mulanya dieksplorasi untuk mencari minyak bumi pada kurun 20 tahun lalu. Hanya saja, ketika itu minyak bumi yang dicari tidak ada dan yang keluar hanya gas. PT Kalila kemudian mencoba mengaktifkan kembali sumur dimaksud untuk mencari gas.

Hari Minggu lalu, kata Agustinus, para pekerja sedang mengeluarkan pipa lama dari dalam sumur untuk diganti pipa baru. Pada saat pipa lama diangkat, terjadi ledakan dan gas menyembur tidak terkendali.

Berdasarkan saksi mata, yakni penduduk Desa Langgam, pada saat kejadian terdengar suara ledakan yang cukup keras. Bunyi ledakan itu terdengar sampai radius 4 kilometer dari lokasi. ”Kami melihat gas putih menyembur sampai ketinggian 50 meter,” ujar Said Muktarudin, penduduk Desa Langgam yang melihat semburan awal.

Menurut Agustinus, volume gas yang terbuang mencapai 5 juta standar metrik kaki kubik per hari (MMSCFD). Harga gas 1 MMSCFD mencapai 2.650 dollar AS. Artinya, dalam dua hari ini sudah terbuang gas 10 MMSCFD atau 26.500 dollar AS.

Pada siang atau malam hari, gas akan terbuang ke angkasa. Namun, saat hujan, gas merendah seiring curah hujan mendekati bumi. ”Kami mengkhawatirkan gas itu pada saat hujan. Kami sudah mengamankan lokasi sejauh radius 250 meter. Sedikit saja ada percikan api bisa membuat sumur itu meledak,” kata Agustinus.

PT Kalila adalah perusahaan gas pemasok kebutuhan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) milik PLN di PLTG Teluk Lembu, Pekanbaru. (SAH)

 

Sumber : Kompas

 

~ Pembangunan Pembangkit Listrik 15.000 MW

Mengejar Investasi Rp 10.000 Triliun

 

Oleh Nur Hidayati

Mengawali rapat kerja di Istana Tampaksiring, Bali, pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan 10 arah sasaran untuk dicarikan cara pencapaiannya. Salah satu yang perlu dicari upaya dan caranya adalah mengejar nilai investasi Rp 10.000 triliun dalam lima tahun, yakni hingga 2014. 

Investasi senilai Rp 2.000 triliun per tahun itu diperhitungkan menjadi prasyarat untuk mendukung perekonomian tumbuh 7 persen hingga 7,7 persen tahun 2014.

Rapat kerja yang berlangsung 19-21 April ini diikuti semua menteri, pejabat setingkat menteri, pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, direktur BUMN, gubernur dan ketua DPRD provinsi se-Indonesia, pakar teknologi, ekonom, dan pelaku usaha.

Rapat dibagi dalam empat kelompok kerja (pokja), masing-masing membahas perekonomian, program prorakyat, program keadilan untuk semua, dan program pencapaian tujuan pembangunan milenium.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan memimpin pokja perekonomian. Pada pokja inilah pembahasan yang berlangsung sekitar 1,5 hari berjalan paling alot.

Hasil pembahasan pokja yang dipaparkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa terlihat komprehensif. Namun, bila pada pokja lain program bisa sepenuhnya diturunkan dalam matriks rencana aksi, tidak demikian halnya dalam urusan perekonomian.

Program unggulan

Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 7,7 persen dalam skenario optimis atau 7 persen dalam skenario pesimis tahun 2014. Angka itu haruslah menggambarkan pertumbuhan yang merata. Artinya, kebijakan pengembangan ekonomi yang sinergis antara pemerintah pusat dan daerah menjadi prasyarat.

Pengembangan produk unggulan dengan sistem kluster, pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, dan kawasan ekonomi khusus yang kondusif tak mungkin terjadi tanpa kerja sama pusat-daerah.

Upaya mendorong pertumbuhan membutuhkan investasi sebagai ”bahan bakar”. Dalam pembahasan pokja ditargetkan investasi tumbuh di atas 12 persen tahun 2014.

Investasi ini mesti dikejar dengan pembenahan koordinasi lintas sektoral maupun pusat-daerah. Penghilangan tradisi egosektoral diyakini penting untuk membuat iklim investasi lebih baik. Pembiayaan jangka panjang juga perlu didukung penurunan suku bunga riil dan optimalisasi sumber pendanaan alternatif seperti Jamsostek, asuransi, dan dana pensiun.

Pembiayaan jangka panjang, antara lain, berperan menentukan dalam pengembangan infrastruktur. Khusus proyek infrastruktur, diperkirakan bakal diserap investasi Rp 1.500 triliun dari total investasi Rp 10.000 triliun hingga tahun 2014.

Penyelesaian dry port tahun 2010, pembangunan trek ganda angkutan batu bara dan komoditas lainnya di Sumatera serta Kalimantan tahun 2011 termasuk dalam proyek infrastruktur yang mendesak.

Diprioritaskan pula pembangunan pembangkit listrik 15.000 megawatt, pembangunan dan perbaikan 20.000 kilometer jalan, perluasan pelabuhan utama, dan pembangunan pelabuhan baru yang terintegrasi dengan kawasan ekonomi khusus.

Pokja menyepakati bahwa investasi mesti diarahkan yang lebih bersifat inovatif dan ramah lingkungan. Akan disusun cetak biru kebijakan inovasi nasional yang bakal mendongkrak daya saing ekonomi nasional.

Inovasi yang mampu meningkatkan daya saing perlu dituangkan dalam program strategis bersifat terapan dan riset jangka panjang. Kebijakan inovasi ini akan difokuskan pada pengembangan sumber daya maritim dan sumber daya alam lainnya, sumber daya insani, bioteknologi, dan energi terbarukan.

Pokja juga mengusulkan untuk ditetapkan tiga atau empat inovasi terbaik dan berdampak luas untuk mendapat dukungan biaya riset serta perlindungan pemerintah. Untuk mendorong inovasi yang meningkatkan daya saing, revitalisasi balai-balai latihan di semua provinsi juga mendesak dilakukan.

Sistem insentif yang memungkinkan sektor swasta, BUMN, dan lembaga-lembaga penelitian bersinergi juga perlu diimplementasikan. Perusahaan swasta dan BUMN yang melakukan penelitian dan pengembangan itu dapat dihitung sebagai pengurangan dalam pembayaran pajak.

Menjelang penutupan raker, Wakil Presiden Boediono menyebutkan, ada tiga kunci yang menentukan apakah raker ini bermanfaat atau tidak. ”Pertama, implementasi. Kedua, implementasi. Ketiga, implementasi,” ujar Wapres.

 

Sumber : Kompas

 

~ Visi Misi Pengetahuan Dan Teknologi

Iptek, Inovasi, dan Kemajuan

Di hadapan 400-an ilmuwan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (20/1), menyampaikan visi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Paparan Presiden di depan ilmuwan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dewan Riset Nasional, dan komunitas ilmiah lain adalah paparan yang sudah lama ditunggu. Selama ini pemerintah sering dipandang kurang memberi perhatian memadai terhadap masalah iptek.

Dari paparan tampak, selain memiliki wawasan tentang perkembangan iptek dunia, Presiden memiliki visi tentang iptek yang seharusnya dikuasai bangsa Indonesia dalam upaya penyelesaian masalah yang dihadapinya. Presiden menegaskan, kunci keunggulan Indonesia pada abad ke-21 adalah sains dan teknologi.

Bangsa Indonesia, dengan segala pencapaian yang diraihnya, menjadi negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20, harus diakui masih terbelakang dalam bidang iptek. Meski ada 140 juta pengguna telepon seluler, kita tidak menyumbang apa-apa dalam kemajuan teknologi seluler. Sebelum ini, dalam produk otomotif yang digandrungi masyarakat Indonesia juga tak banyak yang berasal dari karya putra bangsa. Merek mobil yang lalu lalang di jalanan masih dari negara lain.

Di luar produk konsumen, kita dihadapkan oleh realitas baru bahwa kita hidup di Cincin Api yang setiap kali harus menghadapi gempa bumi dan letusan gunung api. Kita butuh banyak iptek kebumian. Kita butuh banyak iptek energi, penanggulangan pemanasan global, peningkatan produktivitas pertanian. Selain itu, Presiden juga menyebut perlunya kita menguasai iptek peningkatan industri serta ketangguhan pertahanan dan keamanan negara. Bahkan, teknologi menjemput masa depan—seperti teknologi nano—sempat disinggung.

Berbagai tantangan yang terkait dengan visi di atas, oleh Presiden coba diwujudkan selain oleh semua perangkat yang kini sudah ada, juga akan didorong oleh Komite Inovasi Nasional yang segera dibentuk.

Kita berharap berbagai inisiatif dan program yang sudah diluncurkan bisa mencapai dua sasaran strategis. Pertama, mampu menanggulangi permasalahan bangsa. Kedua, mengangkat bangsa ke kedudukan yang lebih tinggi di dunia, khususnya dalam pencapaian iptek.

Menyangkut inovasi, sesungguhnya dari sisi bakat dan kemampuan kita tidak kekurangan. Kendala yang sejauh ini kita amati adalah justru kurangnya dukungan dari bangsa kita sendiri untuk mengulurkan tangan bagi pengembangan karya inovasi lokal, dan berikutnya, untuk menggunakan karya tersebut. Selain ada unsur politik-ekonomi di sini, alasan lain adalah karena bangsa kita masih banyak memuja merek asing, sampai muncul ungkapan, kalau bisa dibeli, mengapa harus buat sendiri.

Kalau mentalitas di atas tak kita ubah, visi Presiden tidak akan dicapai, demikian pula cita-cita menjadi bangsa maju berdasar iptek. Inovasi pun hanya akan sebatas hobi dan eksperimen. Kita tidak ingin hal itu terjadi.

 ***

Konflik Sektarian Belenggu Nigeria

Nigeria berada di pinggir jurang kehancuran. Konflik sektarian telah lama merobek-robek negeri itu, dan kini meledak lagi.

Catatan sejarah negeri ini membuktikan bahwa konflik sektarian bukan hal baru. Dengan jumlah penduduk lebih dari 154 juta jiwa dan terdiri atas 250 kelompok etnis, Nigeria terbagi menjadi dua: bagian utara sebagian besar Muslim serta bagian selatan Kristen dan animis.

Pada 2001 pecah konflik di kota Jos yang menewaskan 1.000 orang. Sekitar 500 orang tewas akibat bentrok antara Hausas yang Muslim dan Berom yang Kristen di Yelwa pada 2004. Empat tahun kemudian, 2008, pecah konflik sektarian lagi di Jos yang menewaskan 700 orang. Kini, tahun 2010, konflik terjadi lagi di Jos dan paling sedikit 265 orang tewas.

Mengapa konflik sektarian mudah meletus di Nigeria? Apakah karena negeri itu terdiri atas 250 kelompok etnis? Apakah pemisahan yang begitu tajam antarwilayah dua kelompok masyarakat yang berbeda agama? Apakah karena pemerintah lemah? Apakah karena pemimpinnya lemah?

Banyak pertanyaan yang bisa dikemukakan, tetapi sangat tidak mudah untuk menjawabnya. Misalnya, apa yang menjadi penyebab atau pemicu konflik sektarian di kota Jos beberapa hari lalu? Tak seorang pun tahu, atau paling tidak tak seorang pun memiliki jawaban yang pasti.

Ada yang mengatakan, konflik terjadi setelah pertandingan sepak bola. Yang lain mengatakan, orang-orang Kristen diserang orang-orang Muslim ketika tengah di gereja. Yang lain lagi mengatakan, orang-orang Muslim yang tengah memperbaiki rumah yang rusak akibat kerusuhan tahun 2008 diserang oleh orang-orang Kristen.

Akan tetapi, para pemimpin kedua agama menegaskan, konflik yang pecah di Jos bukan berlatarkan agama. Dengan kata lain, ini bukan konflik agama. Konflik terjadi karena kemiskinan.

Nigeria adalah salah satu negara terkaya di Afrika. Akan tetapi, kekayaan dari minyak itu hanya dinikmati kelompok elite saja, dan korupsi merajalela. Sementara sebagian besar rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Bahkan, pemerintah tak mampu memberikan layanan yang paling dasar sekalipun, seperti listrik dan air.

Itulah sebabnya, kerusuhan sangat mudah pecah lantaran kemiskinan, banyak orang menganggur, dan terjadi perebutan penguasaan tanah. Kondisi tersebut diperparah dengan digunakannya agama dalam usahanya mempertahankan hidup dan kekuasaan.

Pemerintah Nigeria tak berdaya karena sudah lebih dari 50 hari presidennya sakit dan tidak mendelegasikan kekuasaanya kepada wakil presiden. Yang dibutuhkan Nigeria sekarang adalah seorang pemimpin yang kuat, yang mampu menyatukan semua rakyatnya tanpa membedakan apa agama dan etnis mereka.

 

Sumber : Kompas

 
Halaman 333 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook