Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Pembangkit Listrik Tenaga Angin Sebagai Pengganti Nuklir

nationalgeographic.co.id (Firman Firdaus) - Setelah terjadi ledakan instalasi nuklir di Prefektur Fukushima, Jepang, beberapa waktu lalu menyusul gempa dahsyat sebelumnya, banyak pihak yang buru-buru mengaitkannya dengan pro dan kontra pembangunan PLTN Muria di Tanah Air. Yang kontra tentu saja bersandar pada pertanyaan mendasar: apa mampu kita mengelola instalasi yang rawan celaka, dengan sumber daya manusia yang minim?

Apalagi, kebutuhan energi kita kian membubung seiring pertumbuhan populasi. Negara-negara Eropa dan kemudian Asia seperti China, Korea, dan Jepang sudah lebih dulu bertindak dengan nuklir. Prancis bahkan begitu mengandalkan nuklir: sekitar 75% produksi energi listrik domestiknya berasal dari nuklir. Karenanya tidak heran jika kemudian pemerintah tetap bersikukuh pada rencana pembangunan PLTN.

Amerika merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan instalasi pembangkit tenaga angin paling pesat (Amerika apa sih yang nggak pesat? :)) Dalam kurun 2007-2010 konsumsi minyak bumi negeri Paman Sam itu telah turun 8% disertai penurunan penggunaan dan produksi batu bara. Pada saat yang sama, sekitar 300 ladang angin dibangun, membangkitkan 21.000 megawatt energi listrik.

Macan Asia, China, juga melakukan hal yang sama: menjadi negara ranking dua (setelah AS) dalam memanen energi lewat angin, dengan kapasitas 26.000 megawatt. China juga terus melakukan ekspansi untuk menutupi kebutuhan energi listrik domestik hingga 16 kali lipat dari produksi saat ini. Dengan program Wind Base, China bakal membangun tujuh megakompleks angin, masing-masing berkapasitas 10-38 gigawatt, di enam provinsi. Saat selesai, kompleks ini akan membangkitkan lebih dari 130 gigawatt energi listrik. Ini setara dengan membangun satu pabrik batu bara per minggu, selama 2,5 tahun.

Menurut Indonesia Energy Outlook and Statistics yang diterbitkan Pengkajian Energi Universitas Indonesia (2006, seharusnya sudah ada versi terbarunya :)) dalam periode 2025, diproyeksikan kebutuhan listrik domestik mencapai 440,5 GWh, sebanyak 83%-nya masih bergantung pada batu bara dan gas alam. Sementara kontribusi dari energi terbarukan hanya 13,1 persen. Meski baru proyeksi, tentu saja ini angka yang mengkhawatirkan, ditilik dari sisi lingkungan.

Dengan kontur lanskap yang kaya, Indonesia seharusnya juga memiliki peluang untuk menikmati potongan kue energi dari angin. Sayangnya, masih minim sekali riset potensi angin sebagai sumber energi terbarukan. Di Bukit Mundi, Desa Klumpu, Nusa Penida, penelitian terowongan angin malah dinilai gagal karena pada kenyataannya kincir yang sudah telanjur dibangun hampir tidak pernah berputar.

Penelitian terakhir yang dilakukan BMG adalah 16 tahun lalu, itu pun tanpa memerinci potensi kapasitasnya (hanya penelitian kecepatan angin). Padahal, dari hasil penelitian kecepatan angin, rata-rata wilayah yang disurvei memiliki kecepatan skala sedang (3-4 meter per detik) hingga besar (lebih dari 4 m/s) pada ketinggian 24 m.

Energi angin adalah sumber energi yang ramah lingkungan, karena ditenagai oleh angin: sumber ini tidak mengotori udara kayaknya pembangkit yang mengandalkan pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara atau gas alam. Turbin angin juga tidak melemparkan emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Yang tak kalah penting, energi angin bergantung pada tenaga angin yang dapat diperbarui (dan mungkin tidak akan habis, selama kondisi iklim tidak berubah secara drastis). Dari sisi keekonomian, energi angin merupakan salah satu teknologi energi terbarukan paling murah saat ini.

 

~ Bisakah Listrik Negara 90% Berasal dari Energi Terbarukan?


Bisakah Listrik Negara 90% Berasal dari Energi Terbarukan?

 

 

nationalgeographic.com (Alex Pangestu) - Sebuah laporan penelitian--segera terbit--dari National Solar Energy Center di Israel mengungkapkan bahwa 90 persen listrik di negara tersebut bisa bergantung pada energi terbarukan, khususnya matahari, menggunakan media penyimpanan listrik.


Salah satu masalah utama yang dihadapi oleh energi terbarukan adalah penyimpanan. Tanpa penyimpanan, asupan listrik tidak stabil, akhirnya tidak dapat diandalkan. Menurut laporan penelitian tersebut, pembangkit listrik tenaga surya tanpa penyimpanan hanya mampu menghasilkan listrik 3 hingga 4 persen dari kebutuhan seluruh negara. "Saat Anda membuat pembangkin listrik tenaga surya, masalah besarnya adalah menyalurkannya ke dalam jaringan," kata David Faiman, direktur National Solar Energy Center.

Tapi ketika fasilitas penyimpanan ditambahkan, pembangkit listrik dapat memenuhi kebutuhan jauh lebih banyak. Dengan memanfaatkan sel tenaga surya di beberapa area dengan sinar matahari berlimpah, seperti di Gurun Negev di selatan plus beberapa sel surya di beberapa lokasi lain, 90 persen kebutuhan listrik Israel bisa dipenuhi. "10 persen lagi bisa disediakan oleh pembangkit listrik dari gas bumi," kata Faiman. Ahli fisika lingkungan itu juga menambahkan, "Israel tak perlu lagi membuka tambang batu bara, bahkan reaktor nuklir."

Faiman mengatakan kalau pilihan utamanya untuk media penyimpanan adalah sistem air pompaan. Ia juga suka dengan sistem baterai vanadium-redox, tangki luas dengan elektrolit di dalamnya. Kedua sistem itu bisa mendistribusikan listrik dengan cepat. 
 

~ Saatnya UKM Berbasis Eco-Green

Saatnya UKM Berbasis Eco-Green

 

KOMPAS.com - Kementerian Koperasi dan UKM sejak jauh-jauh hari menyatakan siap mengakomodasi pelaku UKM berbasis ramah lingkungan seperti yang dijalankan Beni Chandra.

Teknologi eco-green ini harus mulai kita adopsi karena erat kaitannya dengan pemeliharaan lingkungan, penggunaan material berbasis daur ulang, penghematan bahan bakar, hingga pendiversifikasian energi.
-- Sjarifuddin Hasan

Institusi itu menyatakan mulai mengupayakan secara bertahap agar produk UKM Indonesia mulai berbasis eco-green agar lebih mudah menembus pasar ekspor.

"Kami mulai mendorong pelaku UKM agar memproduksi barangnya dengan menerapkan konsep eco-green yang lebih ramah lingkungan," kata Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Neddy Rafinaldi Halim.

Hal itu menurut Neddy Rafinaldi Halim harus mulai dilakukan untuk membuka peluang lebih besar lagi bagi pasar produk UKM yakni pasar ekspor. Produk berbasis eco-green saat ini banyak diminati berbagai negara maju.

"Oleh karena itu, kami melakukan fasilitasi dan pendampingan kepada sejumlah UKM agar mulai menerapkan konsep eco-green dalam memproduksi barang-barangnya," kata Neddy.

Salah satu yang dilakukan adalah memberikan perkuatan modal kepada pelaku UKM ramah lingkungan termasuk usaha Beni Chandra melalui skema dana bergulir.

Kerjasama

Pihaknya juga telah melakukan berbagai upaya untuk menerapkan konsep eco-green tersebut termasuk menggandeng Korea Selatan (Korsel) yang selama ini dikenal dengan produk-produk UKM-nya yang ramah lingkungan.

Pihaknya bahkan telah menjalin kesepakatan dengan Korsel untuk bekerja sama dalam penerapan eco-green belum lama ini.

Konsep eco-green merupakan konsep pengelolaan dan produksi material yang diupayakan untuk selalu ramah lingkungan. Korsel merupakan salah satu negara yang sangat concern terhadap pengelolaan produk berbasis eco-green.

"Kami telah sepakat untuk membuat "joint operation" dalam kerja sama eco-green yang akan dikembangkan di Indonesia," kata Menteri Koperasi dan UKM, Sjarifuddin Hasan, belum lama ini.

Menteri Sjarifuddin mengatakan, Korsel telah setuju untuk membantu Indonesia dalam menerapkan konsep eco-green khususnya bagi pelaku UKM di tanah air. Untuk kepentingan itu, akan segera dibuka kantor perwakilan dan pemasaran bersama di Indonesia.

"Teknologi eco-green ini harus mulai kita adopsi karena erat kaitannya dengan pemeliharaan lingkungan, penggunaan material berbasis daur ulang, penghematan bahan bakar, hingga pendiversifikasian energi," katanya.

Korsel setuju untuk membiayai proyek percontohan penerapa konsep eco-green di Indonesia khususnya dalam bidang UKM sekaligus pemasaran produk UKM berbasis eco-green yang ramah lingkungan. "Kita harapkan konsep seperti ini bisa dilaksanakan di Indonesia," kata Menteri Sjarifuddin Hasan.

 

~ Bekali Anak Cerdas dengan "Green Growth"

Bekali Anak Cerdas dengan "Green Growth"

  

Laporan wartawan KOMPAS.com Laksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com — Untuk mengoptimalkan pembangunan ekonomi berbasis lingkungan, Indonesia perlu membekali anak-anak dengan kecerdasan istimewa dengan pengetahuan mengenai sinergi lingkungan dan ekonomi (green growth).

Asisten Deputi Data dan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kementerian Riset dan Teknologi Finarya Legoh mengatakan bahwa kecerdasan istimewa pada anak-anak ini merupakan aset berharga bagi negara untuk pembangunan pada masa depan. Sistem pendidikan nasional di Indonesia, papar Finarya, sebetulnya sudah mengatur secara khusus mengenai pendidikan bagi anak-anak berbakat istimewa, yakni anak yang memiliki IQ lebih dari 130. Akan tetapi, proses pembelajaran bagi anak-anak ini belum optimal, misalnya karena kurang tepatnya proses seleksi siswa, kurangnya kualitas dan kemampuan pendidik, serta padatnya kurikulum pendidikan di Tanah Air.

Untuk itu, Finarya menekankan perlunya pengembangan bakat anak cerdas istimewa ini seperti sudah dilakukan oleh Korea Selatan. Pada 2002, Korea Selatan menerbitkan Undang-undang tentang Pendidikan Anak Cerdas Istimewa dan ini memicu perkembangan pendidikan khusus bagi anak-anak bertalenta tersebut.

Kurikulum green growth sudah diajarkan pada sekolah-sekolah dan diperdalam lagi pada tingkat universitas. Korean Advanced Institue of Science Technology (KAIST), misalnya, membuat laboratorium-laboratorium khusus bagi anak-anak cerdas di sekolah menengah atas.

"Kami ingin mengembangkan program-program yang bisa diserap oleh anak-anak cerdas istimewa. Jadi, yang kami utamakan adalah program green growth," kata Finarya dalam diskusi Indonesia-Korea Forum mengenai Green Growth and Gifted in Science Towardas Nation Buliding di Jakarta, Rabu (13/10/2010).

"Kami banyak belajar dari Korea Selatan bagaimana mereka memperlakukan anak-anak cerdas istimewa ini," ujarnya.

Finarya menambahkan, untuk menjalankan program-program khusus tersebut, Kementerian Riset dan Teknologi harus bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional agar tidak terjadi tarik-menarik kepentingan antar-kementerian. 

 

~ "Green Energy" Solusi Terbaik

"Green Energy" Solusi Terbaik

Kompas.com (M Sigit Cahyono) -  Saat ini Indonesia di ambang keterpurukan karena krisis energi. Harga minyak mentah yang melonjak sampai 145 dollar per barrel menekan pemerintahan SBY untuk menaikkan harga bahan bakar minyak dengan alasan menyelamatkan APBN. Akibatnya, harga kebutuhan pokok semakin meningkat, yang berakibat menurunnya kesejahteraan masyarakat.

Adanya kebijakan ini ditentang banyak kalangan, terutama mahasiswa dan politikus yang vokal terhadap pemerintah. Bahkan, nasib pemerintah di ujung tanduk setelah munculnya hak angket di DPR, yang bisa berujung pada impeachment terhadap presiden. Jika ini terjadi, bisa dibayangkan kondisi bangsa Indonesia kelak.

Sebenarnya, semua permasalahan menyangkut krisis energi tidak akan terjadi jika menyadari bangsa ini memiliki potensi besar yang belum dikembangkan secara optimal. Apa itu? Jawabannya adalah green energy!

Energi hijau adalah energi yang berasal dari tanaman hidup (biomassa) yang terdapat di sekitar kita. Energi itu biasa disebut sebagai bahan bakar hayati atau biofuel. Energi ini tidak akan pernah habis selama tersedia tanah, air, dan matahari masih memancarkan sinarnya ke muka bumi. Selama mau menanam, membudidayakan, serta mengolahnya menjadi produk bermanfaat seperti bahan bakar.

Kita sering kali diingatkan, Indonesia sebagai negara agraris merupakan negara yang kaya akan potensi energi terbarukan, salah satunya adalah energi dari biomassa. Menurut data Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (2001), potensinya mencapai 50.000 megawatt. Ironisnya, dari potensi yang besar itu baru 302 megawatt atau 0,64 persen yang dimanfaatkan.

Saat ini, Indonesia merupakan negara yang paling kaya dengan energi hijau. Kita memiliki minimal 62 jenis tanaman bahan baku biofuel yang tersebar secara spesifik di seluruh pelosok Nusantara. Kelapa sawit tumbuh di wilayah basah dengan curah hujan tinggi.

Selain itu, ada tanaman tebu yang menghendaki beda musim yang tegas antara hujan dan kemarau. Singkong mampu berproduksi baik di lingkungan sub-optimal dan toleran pada tanah dengan tingkat kesuburan rendah. Jarak pagar mampu berproduksi optimal di daerah terik dan gersang. Kelapa terdapat di pantai-pantai, bahkan di pulau- pulau terpencil. Ditambah tanaman lainnya, seperti sagu, nipah, nyamplung, bahkan limbah-limbah pertanian, seperti sekam padi, ampas tebu, tongkol jagung, dan biji-bijian sangat mudah didapatkan di Indonesia.

Ini menunjukkan ada banyak pilihan untuk memproduksi biofuel di seluruh Indonesia sesuai karakter daerah, sifat lahan, kekayaan sumber energi hijau setempat, dan penguasaan ilmu. Betapa indah dan bijak jika warga Papua menghasilkan biofuel dari ubi jalar dan nipah, warga Maluku dari sagu, penduduk Madura dari jagung dan nyamplung, orang Manado dari aren, masyarakat Lampung dari singkong, Pulau Sangir Talaud dan pulau-pulau terluar Indonesia dengan biofuel berbasis kelapa, rekan-rekan di Rote dengan kesambi, dan warga Kupang dengan jarak pagar atau kelor.

Teknologi

Di sisi lain, penguasaan teknologi sangat diperlukan dalam memanfaatkan energi biomassa. Ada tiga cara yang paling populer dalam mengonversi biomassa jadi energi, yaitu pembakaran langsung (direct combustion), pembuatan gas biomassa, dan konversi menjadi bahan bakar cair.

Pemanfaatan energi biomassa melalui pembakaran langsung telah dilakukan sejak zaman nenek moyang kita, dengan pemanfaatan kayu bakar. Saat ini, teknologi yang bisa menghasilkan energi cukup besar, yaitu pembakaran biomassa untuk menghasilkan uap pada pembangkit listrik atau bahan penunjang manufaktur. Dalam sistem pembangkit, kerja turbin biasanya memanfaatkan ekspansi uap bertekanan dan bersuhu tinggi untuk menggerakkan generator yang bisa menghasilkan listrik.

Sebagai contoh, Pembangkit Listrik Tenaga Sekam di Desa Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat. Di sana terdapat mesin setinggi 4 meter hasil penelitian PT Indonesia Power, anak perusahaan PLN, yang berdiri sejak September 2003. Pembangkit ini berkekuatan 100 kilowatt, berbahan bakar sekam padi, yang dibakar menjadi gas yang dialirkan ke dalam ruang bakar mesin diesel. Tambahan gas itu bisa menekan kebutuhan solar hingga tinggal 20 persen, artinya enam kilogram sekam menggantikan satu liter solar sebagai bahan bakar.

Sementara itu, pemanfaatan gas biomassa pada skala kecil sudah banyak diaplikasikan masyarakat, yaitu pemanfaatan gas metana hasil fermentasi yang langsung dibakar untuk kebutuhan rumah tangga, yang dikenal melaui teknologi biogas digester.

Teknologi ini berkembang pesat di India, yang ditandai dengan pembangunan digester sebanyak 400.000 unit pada kurun waktu 1980- 1985. Pada skala yang lebih besar dan massal, pemanfaatan gas biomassa melalui sistem pirolisis dan gasifikasi menggunakan temperatur tinggi untuk mengubah biomassa menjadi campuran gas hidrogen, karbon monoksida, dan metana, yang telah banyak diaplikasikan di negara-negara maju sebagai bahan bakar kendaraan yang ramah lingkungan.

Cara ketiga dan yang paling populer adalah mengonversi biomassa menjadi bahan bakar cair, yaitu bioetanol dan biodiesel. Bioetanol adalah alkohol yang dibuat dengan fermentasi biomassa, terutama bahan berpati, seperti singkong, biji jagung, biji sorgum, sagu, gandum, dan kentang, serta bahan bergula seperti tetes tebu, nira kelapa, dan batang sorgum manis.

Adapun biodiesel adalah ester yang dibuat menggunakan minyak tanaman, lemak binatang, ganggang, atau minyak goreng bekas melalui proses esterifikasi. Kedua produk biofuel ini paling sering digunakan sebagai aditif bahan bakar untuk mengurangi emisi karbon monoksida (CO) dan asap lainnya dari kendaraan bermotor. Secara ekonomis, kedua produk ini lebih murah dibanding BBM. Bandingkan, biaya produksi bioetanol per liter hanya Rp 2.400, jauh lebih murah daripada harga bensin saat ini yang Rp 6.500 per liter.

Melihat potensi biomassa yang cukup melimpah di Indonesia dan teknologi pemanfaatannya yang berkembang sangat cepat, green energy merupakan alternatif terbaik dalam mengatasi krisis energi di Indonesia.

Kini saatnya kita mendirikan "kilang-kilang hijau" berupa alat pemerah biji tanaman penghasil biodiesel dan bio-oil skala rumahan, juga alat mini fermentasi penghasil bioetanol skala kemasyarakatan. Melalui alat-alat sederhana itu, akan terwujud desa mandiri energi. Harapannya, oil-refinery Pertamina akan berubah pula menjadi "kilang hijau" karena disuplai dengan biofuel untuk diolah menjadi green diesel, bahan bakar nabati ramah lingkungan yang harganya pasti lebih murah dibanding biodiesel konvensional.

M Sigit Cahyono Mahasiswa Magister Sistem Teknik UGM, Yogyakarta Bekerja sebagai Konsultan di Bidang Lingkungan Hidup

 

 

 

  • Penulis: Cahyono, M Sigit
 
Halaman 251 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook