Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Solusi Menguntungkan dari Limbah Pembakaran Gas Alam


Solusi Menguntungkan dari Pembakaran Gas Alam

 

 
nationalgeographic.co.id (AGUNG DWI CAHYADI)Pembakaran gas buang di tempat pengeboran maupun kilang minyak dan gas serta pabrik kimia dapat dialihkan menjadi produk yang lebih bermanfaat.

Diperkirakan sekitar lima persen produksi gas alam dunia terbuang sia-sia setiap tahun dengan jalan dibakar tanpa menghasilkan energi yang berguna. Jumlah tersebut setara dengan 30 persen konsumsi gas alam di Eropa dan 23 persen di Amerika. Sementara di seluruh dunia, miliaran meter kubik gas alam yang merupakan produk sampingan dari penggalian minyak bumi juga terbuang percuma setiap tahunnya.

Selain itu, pembakaran gas ini juga berkontribusi sebagai salah satu sumber polusi udara terbesar. Emisi yang dihasilkan dari aktivitas ini sebanyak 400 metrik ton karbon dioksida per tahun. Jumlah emisi itu setara dengan jumlah yang dikeluarkan 77 juta kendaraan bermotor setiap tahunnya.

Temuan tersebut dipaparkan General Electric (GE) setelah melakukan studi yang berjudul "Flare Gas Reduction: Recent Global Trends and Policy Considerations". Studi itu juga menyimpulkan bahwa teknologi yang diperlukan untuk menjadi solusi kedua hal tersebut sebenarnya sudah tersedia saat ini. 

Menurut Michael Farina, program manager GE Energy dan penyusun hasil studi tersebut, gas yang merupakan produk sampingan itu bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik, menggunakannya sebagai gas reinjeksi (untuk penyulingan minyak lanjutan, penampungan, dan pengolahan) atau didistribusikan melalui jaringan pipa. 

"Bahan bakar ini juga bisa digunakan untuk membangkitkan listrik dengan harga yang terjangkau bagi rumah tangga dan indsutri," tambah Farina. Hampir $20 miliar gas alam yang terbuang percuma dapat dimanfaatkan digunakan sebagai sumber energi yang handal dan menghasilkan listrik yang terjangkau serta dapat menjadi sumber pemasukan hingga milyaran dolar per tahun secara global.

Hanya saja, untuk mewujudkan hal itu diperlukan kerja sama antarpemerintah di seluruh dunia, khususnya antarpemerintah negara maju sebagai konsumen dan negara miskin sebagai produsen bahan bakar. Karena negara miskin memerlukan investasi amat besar untuk menghentikan pembakaran gas di tempat pengeboran maupun kilang minyak dan gas mereka.

Farina optimistis, dengan kerja sama dan perhatian global, termasuk dalam hal kemitraan, penyusunan kebijakan, dan pengembangan teknologi inovatif, pembakaran gas besar-besaran di seluruh dunia akan dapat dihilangkan dalam waktu lima tahun. "Ini merupakan solusi yang saling menguntungkan," kata Farina. 
 

~ Rusia-AS Berencanan Bikin Pesawat Ruang Angkasa Tenaga Nuklir


Rusia-AS Berencanan Bikin Pesawat Ruang Angkasa Tenaga Nuklir

NASA

 
Badan Antariksa Rusia (Roscosmos) dan Badan Antariksa dan Aeronautika Amerika (NASA) sepakat bekerja sama dalam pengembangan mesin bertenaga nuklir untuk pesawat ruang angkasa.

Kepala Roscosmos, Anatoly Perminov, seperti dikutip Xinhua di pusat antariksa Kazakh Baikonur, mengatakan, Rusia telah melakukan inisiasi untuk membangun mesin bertenaga nulir bersama dengan NASA hingga 2019 dan menggunakan mesin tersebut untuk penerbangan ke Planet Mars.

"Mesin tersebut akan membuat penerbangan ke Mars ditempuh dengan waktu 20 kali lebih cepat," kata Perminov, seraya menambahkan bahwa pertemuannya dengan Kepala NASA, Charles Bolden, dijadwalkan pada 15 April mendatang. (Yuli)
Sumber: Kompas.com
 

~ Rekayasa Bakteri Pemakan Minyak

Rekayasa Bakteri Pemakan Minyak

 Rekayasa Bakteri Pemakan Minyak

Para ilmuwan bereksperimen untuk menciptakan mikrobakteri yang dapat "melahap" minyak.

Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut, tapi bila bakteri telah berhasil dikembangbiakkan, maka bakteri tersebut bisa dimanfaatkan untuk membersihkan tumpahan minyak mentah di sepanjang lepas pantai, tanpa ada risiko membahayakan lingkungan.

"Kami tengah menggali semua kemungkinan untuk mengoptimalkan bakteri. Pengelolaan tumpahan minyak ini bergantung pada tempat minyak berada. Sebab di Teluk Meksiko, di Alaska, atau di tempat-tempat lain, temperatur dan tingkat salinitas berbeda," Som Somasundaran, ilmuwan dari Universitas Columbia, menjabarkan.

Bakteri pun akan berguna untuk yang tersebar area di tanah rawa. "Untuk minyak yang tumpah di lahan berawa-rawa, harus diatasi dengan teknik khusus. Tak dapat dibakar. Tak dapat dibom, karena kita tidak ingin merusak rawa," kata Som lagi.

Menurut Kyriakos Papadopouls, Profesor Kimia dan Teknik Biomolekuler dari Tulane, yang menjadi pertanyaan juga adalah bagaimana kita mengatur supaya minyak bisa dibuang. (Sumber: National Geographic News)
 

 

~ Pengamanan Reaktor Nuklir Belajar dari PLTN Fukushima

Pengamanan Reaktor Nuklir
Belajar dari PLTN Fukushima
Yuni Ikawati

Kompas.com,Yuni Ikawati - Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter diikuti tsunami di pantai timur Pulau Honshu, Jepang, Jumat (11/3/2011), tak hanya menerjang permukiman di kawasan itu, tetapi juga mengakibatkan ledakan di pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima. Bencana ini memberi pelajaran tentang peningkatan sistem pengaman reaktor.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi merupakan salah satu dari sekitar 40 PLTN yang berada di Honshu, pulau utama di Jepang. Jumlah total PLTN di Jepang ada 56, yang memasok 33 persen listrik untuk negeri itu.

"PLTN yang meledak pada Jumat tergolong pembangkit generasi awal dari tipe boiling water reactor(BWR), yaitu reaktor yang menggunakan uap air untuk menggerakkan turbin. Pembangunannya selesai tahun 1970-an dengan masa pakai 40 tahun. Jadi, PLTN ini sudah di tahun akhir penggunaannya," kata Ferhat Aziz, pakar teknik nuklir dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Meski tergolong tua, PLTN Fukushima memiliki tingkat dan sistem pengamanan yang modern. Dilihat dari ketahanan terhadap akselerasi pergerakan tanah akibat gempa, pembangkit ini memiliki skala 500 gal.

Sebagai perbandingan, PLTN di kawasan rawan gempa di negara lain umumnya berkisar 150 gal. Dengan kekuatan setinggi itu, PLTN Fukushima telah dirancang untuk menahan gempa berskala hingga 9 SR.

Berdasarkan sejarah kegempaan di kawasan itu, gempa tektonik di atas 8 SR berpotensi terjadi di sana dalam periode 140 tahun.

Menurut Ferhat, yang menyelesaikan doktor bidang teknik nuklir dari Tokyo Institute of Technology, PLTN Fukushima menggunakan sistem BWR. Reaktor ini dikembangkan di Amerika Serikat pada pertengahan 1950-an.

Selain BWR, dunia juga mengenal dua tipe lain, yaitu pressurized water reactor (PWR) yang menggunakan air tekanan tinggi untuk menggerakkan turbin serta pressurized heavy water reactor(PHWR).

Di Jepang, penggunaan tipe reaktor umumnya PWR dan BWR dengan jumlah berimbang. Sementara di dunia, jika dilihat dari jumlah PLTN yang beroperasi, PWR tergolong yang terbesar, mencapai 70 persen dari total PLTN.

Tiga tipe reaktor itu kini dikembangkan hingga generasi kedua dan ketiga. Bahkan, PWR memiliki generasi III plus. "Pengembangan mengarah ke sistem pasif. Artinya, tak tergantung penanganan eksternal. Sistem yang terbangun secara otomatis melakukan pengamanan secara komprehensif dan terpadu," kata Ferhat.

Desain BWR terbaru adalah advanced boiling water reactor (ABWR), yang dikembangkan akhir 1980. Pembangkit ini memiliki sistem kontrol komputer, sistem proses otomatis dan probabilitas kerusakan inti reaktor sangat rendah.

Sistem pengaman

Ketika gempa besar mengguncang Prefektur Fukushima, reaksi nuklir dalam inti reaktor di PLTN yang berada di dekat pantai itu otomatis berhenti. Ini sesuai dengan prosedur operasi standar yang dirancang.

Namun, dengan terhentinya reaksi fisi itu, teras tempat berlangsungnya proses tidak langsung mendingin. Bangunan teras yang terendam air masih bersuhu tinggi. Karena itu, ada prosedur lain yang harus dilaksanakan, yaitu pendinginan harus terus dilakukan dengan mengalirkan air ke teras. Dengan berhentinya aliran listrik akibat gempa, ada mesin genset yang akan bekerja menggantikannya.

Ada tiga mesin diesel yang bekerja memompa air. Sayangnya, tiga mesin itu gagal beroperasi. Skenario terakhir adalah menggunakan baterai cadangan yang dapat bekerja selama 8 jam. Namun, ini tidak cukup berarti dalam mendinginkan teras.

Berdasarkan kasus ini, menurut Ferhat, diperlukan perbaikan sistem cadangan pendinginan.

"Meski dilakukan pendinginan, suhu di dalam reaktor masih di atas 1.000 derajat celsius," kata Iwan Kurniawan, mantan karyawan Batan, yang juga menyelesaikan program doktornya di Jepang.

Kondisi ini menyebabkan

terjadinya reaksi antara zirkonium dan air menghasilkan gas hidrogen hingga tekanan dalam ruang reaktor naik. Hal ini mendorong dibukanya saluran keluar. "Ledakan terjadi karena gas hidrogen dari dalam reaktor bertemu dengan oksigen di luar," katanya.

Pembukaan saluran itu, kata Ferhat, yang juga Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Batan, telah mempertimbangkan arah angin yang mengarah ke laut. Hasil pengukuran radiasi di sekitar PLTN yang dilakukan Badan Pengawas Nuklir Jepang (NISA) menunjukkan, tidak terpantau emisi radiasi nuklir ke udara.

Meski demikian, Pemerintah Jepang mengambil langkah antisipasi dini terhadap ancaman radiasi, yaitu mengevakuasi 170.000 penduduk yang berdiam di dalam radius 20 kilometer dari PLTN.

Kecelakaan di PLTN Fukushima masuk skala 4 karena tidak menimbulkan pelelehan teras. Peringkat ini masih di bawah Threemile Island, AS, dan Chernobyl, Rusia, yang masuk skala 5 dan 7.(Brigitta Isworo Laksmi)

 

~ Angin dan Gelombang Kian Meningkat di Seluruh Dunia

(antaranews.com)Kecepatan angin dan ketinggian gelombang laut telah meningkat secara signifikan selama kuartal terakhir abad ini menurut kajian utama baru yang dilakukan oleh para peneliti Australia.

     Hasil-hasil program penelitian ini - yang merupakan riset paling komprehensif yang pernah dilakukan - telah dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Science.

     Kajian perubahan iklim biasanya mempertimbangkan pengukuran atau prediksi suhu selama jangka waktu lama. Namun kajian ini menguji perubahan kecepatan angin dan tinggi gelombang laut di seluruh dunia, yang juga merupakan indikator lingkungan penting.

     Ini ditulis oleh mantan Wakil Rektor Swinburne University Profesor Ian Young, yang awal bulan ini menjadi Wakil Rektor Australian National University serta ahli kelautan Swinburne Profesor Alex Babanin dan Dr Stefan Zieger.

     "Angin dan gelombang mengontrol aliran energi dari atmosfer ke laut," kata Profesor Young. "Jadi, pemahaman tentang apakah parameter mereka berubah di tingkat global sangat penting."
    
     Dalam melakukan kajian tersebut, para peneliti menganalisa data satelit selama 23 tahun mulai dari 1985 sampai 2008.

     "Kami menemukan tren global umum meningkatkan nilai kecepatan angin dan, pada tingkat yang lebih rendah, tinggi gelombang selama periode ini. Tingkat kenaikan untuk peristiwa ekstrim paling signifikan."
    
     Data menunjukkan bahwa kecepatan angin di sebagian besar lautan dunia meningkat sebesar 0,25 hingga 0,5 persen setiap tahun. Untuk angin yang sangat kencang, kecepatan meningkat rata-rata tahunan 0,75 persen.

     Peningkatan global tinggi gelombang paling signifikan untuk gelombang yang ekstrim, dengan satu persen terbesar naik rata-rata 0,5 persen setiap tahun. Namun di beberapa bagian laut, gelombang ekstrim meningkat hingga satu persen per tahun.

     "Ketinggian gelombang yang ekstrim naik rata-rata 0,25 persen per tahun di daerah khatulistiwa dan hingga 0,5 persen di beberapa bagian pantai Indonesia, China dan Vietnam," demikian Profesor Babanin.

 
Halaman 247 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook