Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ GM Daur Ulang Baterai Chevrolet Volt

GM Daur Ulang Baterai Chevrolet Volt

DETROIT, KOMPAS.com - Belum lagi anak kunci pertama Chevrolet Volt diterima oleh konsumen, General Motors (GM) sudah memikirkan soal usia baterai lithium-ion jika sudah habis. Raksasa pabrik mobil Amerika itu percaya kalau baterai masih bisa diperbaharui untuk menyimpan energi dan meningkatkan efisiensi sumber pembangkit tenaga angin atau matahari.

Karena itu, Selasa (22/9/2010), GM menandatangani nota kesepakatan dengan ABB Group untuk mengembangkan proyek pengolahan kembali baterai "bekas" Volt. Kedua perusahaan yakin sel-sel yang ada pada baterai masih memiliki kemampuan yang efektif untuk menyimpan energi meski telah digunakan sejauh 160.000 km atau delapan tahun sebagai batas maksimal pemakaian.

"Baterai Volt memiliki kapasitas yang signifikan untuk menyimpan energi listrik. Sekalipun, selama masa usia pakai maupun setelahnya," ujar Micky Bly, Direktur Eksekutif GM untuk Sistem Elektrikal, Hibrida, Kendaraan Listrik dan Baterai. "Itulah mengapa kami bekerjasama dengan ABB untuk menemukan jalan yang dapat membuat baterai Volt memberikan keuntungan bagi lingkungan di luar jalan raya."

Menurut siaran pers resmi dari GM, ABB pemasok sistem jaringan listrik terbesar di dunia, sehingga perusahaan ini memiliki pengetahuan yang tepat mengenai metoda penyimpanan listrik. Jika berjalan sesuai rencana, baterai Volt yang telah didaur ulang dapat digunakan untuk berbagai kegunaan. Antara lain untuk menyimpan energi yang dihasilkan pembangkit listrik angin, matahari atau mikro-hidro, atau sekedar menjadi sumber energi pendukung di lingkungan masyarakat.

 

Sumber :

GM 

 

~ KECELAKAAN PLTN Pesan untuk Optimalisasi Energi Terbarukan

KECELAKAAN PLTN
Pesan untuk Optimalisasi Energi Terbarukan
 
Kompas.com - (Nawa Tunggal),Masyarakat dunia masih menanti hasil penanganan bencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, Jepang, Rabu (23/3). Bagi negara lain yang memiliki PLTN, tragedi itu memberi pesan kuat untuk meningkatkan kewaspadaan. Bagi Indonesia, tragedi itu memberi pesan kuat untuk segera mengoptimalisasikan energi terbarukan.

 

Hingga Rabu kemarin, para pekerja dibantu teknologi lengan robotik mencoba mendinginkan reaktor PLTN Fukushima. Reaktor pada Unit 3 masih dihadapkan persoalan suhu meninggi akibat batang bahan bakar Uranium 235 meleleh.

Masih ada ketidakpastian. Di antaranya kemungkinan selubung pelindung reaktor akan tetap kokoh menahan panas. Kemungkinan lain, reaktor bocor. Paling dikhawatirkan lagi, kemungkinan panas tinggi dari dalam reaktor menimbulkan tekanan kuat hingga meledakkan reaktor tersebut.

Paparan radiasi nuklir pada skala kejadian 5 untuk PLTN Fukushima terus terjadi. Kontaminasi zat radioaktif iodin di dalam air keran di Tokyo yang berjarak sekitar 250 kilometer dari Fukushima sudah melampaui ambang batas yang aman bagi seorang bayi.

Perairan laut di sekitar Fukushima pun terdeteksi mengandung paparan zat radioaktif pula. Peringatan untuk tidak mengonsumsi sayuran dan susu dari empat prefektur, Fukushima, Ibaraki, Tochigi, dan Gunma, digencarkan.

Selain bayam, daun bunga serunai, dan canola, sekarang juga diperingatkan untuk tidak mengonsumsi brokoli serta parsley dari keempat prefektur tersebut, karena masuk daftar sayuran terkontaminasi nuklir.

Masyarakat Jepang makin dicekam banyak kekhawatiran, termasuk kekhawatiran mengonsumsi ikan laut. Masyarakat dunia dipaksa pula untuk mewaspadai kontaminasi paparan radiasi nuklir dari setiap barang dan warga yang datang dari Jepang.

Ketua Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) As Natio Lasman mengatakan, setiap warga yang datang dari Jepang dideteksi kadar paparan zat radioaktifnya. Pendeteksian hingga seluruh barang bawaan. Para kru maskapai penerbangan hingga ke kabin-kabinnya juga dideteksi.

”Sejauh ini belum ditemukan paparan zat radioaktif dari Jepang,” kata As Natio.

Kekhawatiran masyarakat dunia, seperti di Jerman, juga tertuju pada ancaman serupa, Fukushima akan menerpa terutama dari tujuh instalasi PLTN tertua mereka. Pemerintah Jerman menangkap pesan itu. Hingga Juni 2011, Jerman memutuskan akan menutup operasi tujuh PLTN.

Ketahanan energi

Ada beragam reaksi masyarakat dunia atas tragedi Fukushima. Juga di Indonesia yang merencanakan pembangunan instalasi PLTN untuk mewujudkan ketahanan energi pada masa mendatang.

”Masih banyak yang harus dikerjakan selain PLTN meskipun saya sendiri tidak anti-PLTN,” ujar Direktur Energi Primer PT PLN (Persero) Nur Pamuji kepada wartawan, Jumat pekan lalu, seusai mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Menurut Nur Pamuji, PLN merupakan institusi paling berkepentingan di dalam menjaga ketahanan energi, termasuk kemungkinan menjadi pemilik instalasi PLTN nantinya.

Ia mengatakan, sekarang ini belum saatnya merencanakan pemenuhan energi dari PLTN. ”Terlalu banyak membuang energi,” katanya.

Nur Pamuji mengakui, masih banyak peluang selain PLTN yang harus dioptimalkan untuk mencukupi kebutuhan energi, baik untuk masa sekarang dan di kemudian hari.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Luluk Sumiarso mengatakan, tantangan ke depan, selain mengoptimalkan energi terbarukan adalah mengembangkan sumber energi baru.

Energi baru bukan hanya nuklir, tetapi juga berupa batu bara dicairkan, batu bara dijadikan gas, gas metana batu bara, hidrogen, dan metana.

Ironis. Itu semua sama sekali belum digarap. Padahal, pemerintah terakhir kali menetapkan visi 25/25, yaitu visi mewujudkan 25 persen pemenuhan energi dengan energi baru dan terbarukan.

Energi terbarukan, seperti panas bumi yang pertama kali dikonversi menjadi listrik pada tahun 1982 pun, hingga sekarang stagnan atau tidak makin optimal. Pemanfaatan panas bumi masih 4,17 persen dari potensi yang dimiliki.

Pemanfaatan tenaga air untuk pembangkit listrik skala besar juga baru mencapai 7,54 persen. Biomassa hanya terpakai 3,25 persen. Minihidro dan mikrohidro relatif berkembang, 28,31 persen dari potensi.

Pemanfaatan energi terbarukan lainnya, seperti tenaga angin, sinar matahari, arus laut, dan perbedaan suhu lapisan laut, pemanfaatannya hampir nol persen dari potensinya. Saatnya berbuat, bukan berwacana lagi. 
 

~ Saatnya Konsisten Bekerja

Saatnya Konsisten Bekerja

 

Kompas.com - Krisis politik di Timur Tengah dan meledaknya PLTN Fukushima, Jepang, membuka mata tentang pentingnya mengembangkan energi baru terbarukan ramah lingkungan.

Krisis Timur Tengah mendongkrak harga minyak bumi ke aras di atas 100 dollar Amerika Serikat (AS) per barrel. Harga minyak bumi impor Indonesia yang diukur dengan Indonesia Crude Prices hingga akhir Februari bertahan pada 100,2 dollar AS per barrel, jauh di atas harga perkiraan pemerintah, sebesar 80 dollar AS. Akibatnya, subsidi bahan bakar minyak (BBM) dapat membengkak hingga Rp 14 triliun jika pemerintah menunda pengurangan BBM bersubsidi (Jakarta Post, 8/3).

Energi nuklir tampaknya bukan pilihan yang mantap setelah peristiwa Fukushima. Di Eropa, negara-negara yang semula melirik energi nuklir mengkaji ulang aspek teknologi dan keselamatan nuklir. Di Indonesia, wacana energi nuklir sebagai pembangkit listrik tidak pernah mati meskipun banyak yang menentang.

Pada saat bersamaan, laporan ilmiah tentang perubahan iklim mengubah cara pandang tentang pembangunan. Solusinya, energi terbarukan ramah lingkungan. Perusahaan raksasa yang menambang minyak bumi terus berlomba meneliti sumber-sumber energi hayati.

Eropa adalah salah satu pelopor penggunaan bahan bakar nabati (BBN). ”Di Jerman, biodiesel dipakai sejak 1996,” kata Dr Ir Andriyono Kilat Adhi, Atase Pertanian Indonesia untuk Uni Eropa periode 2001-2005.

Merasa Indonesia memiliki potensi besar dalam sumber energi hayati, Menteri Pertanian Bungaran Saragih tahun 2001 belajar ke Jerman. Saat itu produksi minyak sawit mentah (CPO) melebihi kebutuhan dalam negeri. Maka, dicari peluang mendapat nilai tambah lebih tinggi sebagai biodiesel. Secara teknologi, produksi CPO sudah mantap dan komersial. Angan-angannya, CPO akan menjadi sumber keunggulan kompetitif dan komparatif Indonesia.

”Di Jerman, biodesel awalnya dari rapeseed. Pemakaiannya untuk mobil dan lokomotif kereta api barang yang jalurnya hingga ke luar Jerman. Karena rapeseed tergantung pada musim, lalu CPO mulai dicari,” kata Andriyono. CPO tersebut sebagian berasal dari Indonesia meski dibeli lewat Singapura dan Malaysia.

Kembali ke Indonesia, gagasan memproduksi biodiesel dari CPO disampaikan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat itu. Sayang, sambutannya dingin-dingin saja. Energi hayati tetap kalah seksi dari energi fosil yang cadangannya di Indonesia menipis.

Baru evaluasi (lagi)

Upaya mengembangkan energi terbarukan dilakukan Indonesia sejak 1970-an. Waktu itu di Lampung diuji coba memproduksi bioetanol meskipun belum sebagai bahan bakar. Penggunaan panas bumi mewujud melalui Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTB) Kamojang, Jawa Barat, yang kini berkapasitas 200 MW dan kualitas uapnya terbaik di dunia.

Upaya mengembangkan energi baru terbarukan tak pernah konsisten. Pengembangan PLTB Sarulla, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, yang berkapasitas 335 MW, tak kunjung terealisasi meski sudah dibicarakan sejak 2008. Begitu juga pembangkit listrik tenaga air berkapasitas besar meskipun kebutuhan listrik terus meningkat.

Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kebijakan Energi Nasional lahir tahun 2006 dan isinya menyebut energi terbarukan. Tahun 2008 lahir peraturan Menteri ESDM tahun 2008 tentang penyediaan, pemanfaatan, dan tata niaga BBN sebagai bahan bakar lain. Namun, Direktorat Jenderal (Ditjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) baru terbentuk pada Agustus 2010.

”Tugas kami di luar migas dan batu bara. Kami akan merevitalisasi energi baru terbarukan. Seperti apa, masih kami kaji. Namun, kami ingin cepat. Arahnya peningkatan, pengembangan, dan ketersediaan energi baru, termasuk tata niaga serta aspek teknisnya,” ujar Direktur Jenderal EBTKE Luluk Sumiarso awal pekan ini.

Luluk menjelaskan, ditjennya memprogramkan pengurangan emisi gas rumah kaca akibat penggunaan energi fosil dengan menggunakan EBT. Perpres Nomor 5 Tahun 2006 menyebutkan, energi terbarukan berasal dari sumber daya energi yang secara alamiah tak akan habis dan berkelanjutan, antara lain panas bumi, aliran air sungai, BBN, panas surya, angin, biomassa, biogas, ombak laut, dan suhu kedalaman laut.

Meski demikian, Luluk menjelaskan beberapa persoalan yang dikenali. Bioetanol, misalnya, karena tidak diatur, bahan baku molases bisa dijual ke tempat lain. Tentang CPO sebagai bahan baku biodiesel, sejumlah pabrik pengolah mengeluhkan pasokannya. Untuk jarak pagar, pengembangan budidayanya masih bermasalah dan lokasinya tersebar. ”Harus ada pembeli dan penjual untuk bisa menjadi komoditas pasar,” kata Luluk. (baca juga hal 34)

Adapun pengembangan energi panas bumi sudah ada kemajuan dalam perjanjian jual-beli antara Menteri ESDM dan Menteri BUMN untuk listrik sebesar 440 MW.

Evaluasi juga akan dilakukan terhadap besaran subsidi pembelian BBN sebagai campuran bahan bakar oleh Pertamina. Saat ini pemerintah dan DPR menyepakati besarnya Rp 2.000 per liter di atas harga patokan yang dihitung dari harga rata-rata keekonomian BBM.

Lumbung energi

Tidak ada yang meragukan potensi Indonesia sebagai sumber energi terbarukan. Yang diragukan adalah konsistensi implementasi program berbagai kebijakan yang tampak indah sebagai konsep.

”Kita baru ingat pentingnya energi terbarukan ketika energi konvensional (minyak bumi) mahal. Menempatkan energi terbarukan sebagai alternatif adalah pola pikir keliru,” ujar Ketua Tim Nasional (Timnas) Pengembangan BBN Alhilal Hamdi pekan lalu.

Keberhasilan BBN sudah dibuktikan sejumlah negara, yang spektakuler Brasil. Negara itu konsisten mengembangkan bioetanol tebu sejak 1970 karena tidak mau tergantung pada minyak bumi.

Ketidakkonsistenan Indonesia mengembangkan energi terbarukan terlihat dari pengalaman Timnas Pengembangan BBN. Setelah selesai merumuskan rekomendasi kebijakan dan harga minyak bumi terkoreksi kembali, program pengembangan energi terbarukan pun masuk laci. Kini Menteri Koordinator Perekonomian kembali bicara tentang diversifikasi energi.

Menurut Alhilal Hamdi, Timnas Pengembangan BBN melihat pengembangan BBN sangat bisa dipertanggungjawabkan keandalannya. Selain terbarukan dan ramah lingkungan, Indonesia sudah menguasai teknologi budidaya sawit dan tebu—dua bahan baku BBN—selama lebih dari 100 tahun.

Industri BBN juga cocok dengan program pemerintah menurunkan jumlah orang miskin, meluaskan lapangan kerja, dan menumbuhkan ekonomi. Alhilal membandingkan industri migas dan biodiesel sawit serta bioetanol tebu. Apabila diandaikan masing-masing menghasilkan setara 2.500 barrel per hari, peluang kerja di industri migas hanya 750 pekerja, sementara dari sawit ada 10.000 pekerja di lahan 30.000 hektar (ha) dan dari tebu ada 8.000 orang di lahan 22.000 ha. Dengan target produksi 22 juta kiloliter BBN per tahun, akan ada lapangan kerja untuk 3,5 juta orang.

Karena sekarang kewajiban penggunaan BBN baru di tingkat perpres, pelaksanaannya tersendat-sendat. Oleh karena itu, Alhilal berharap kewajiban tersebut bisa dituangkan ke dalam undang-undang yang mengikat pemerintah untuk melaksanakannya.

 

(Ninuk M Pambudy/Suhartono/Doty Damayanti) 

 

~ Ilmuwan Buat Antilaser Pertama

Ilmuwan Buat Antilaser Pertama

Anti-Laser Technology Makes Its Debut 

 

KOMPAS.com — Laser, yang banyak digunakan sebagai pembaca CD dan alat penunjuk (pointer), kini menemukan pasangannya. A Douglas Stone, ilmuwan  Yale University, berhasil menemukan "antilaser" yang berguna untuk menjebak dan membuyarkan sinar laser.

Antilaser memiliki perbedaan mendasar dengan laser. Jika laser mengubah energi listrik menjadi energi cahaya dalam rentang frekuensi yang sempit, antilaser akan mengubah laser menjadi energi panas dan kemudian menjadi energi listrik.

Laser konvensional menggunakan material semacam semikonduktor yang disebut "gain medium" untuk memproduksi gelombang cahaya yang terfokus. Sementara antilaser memakai silicon sebagai "loss medium" yang menjebak cahaya sebelum diubah menjadi panas.

Stone mengatakan, teknologi antilaser bisa dimanfaatkan untuk merancang komputer optik generasi mendatang. Menurut Stone, komputer tersebut akan mendapat sumber daya dari cahaya di samping elektron.

"Generasi komputer masa mendatang yang memiliki performa tinggi akan memiliki hybrid chips," kata Stone. Komputer masa depan takkan menggunakan cip dengan transistor dan silikon. Teknologi ini juga bisa membantu kepentingan radiologi.

Meski tampak keren, teknologi ini takkan menjadi tameng bagi laser. "Ini sesuatu yang menyerap laser. Jika pistol laser dimaksudkan untuk membunuh Anda, itu memang akan benar-benar membunuh," ucap Stone.

Yunanto Wiji Utomo 

 

 

~ BTS Tenaga Surya Terbukti Menjanjikan

BTS Tenaga Surya Terbukti Menjanjikan

KOMPAS.com (wah) - Sumber energi pada Base Transceiver Station (BTS) rupanya tidak hanya dapat menggunakan sumber energi konvensional berupa listrik. Sulitnya mendapatkan pasokan listrik untuk pengoperasian BTS di daerah-daerah terpencil mendorong Telkomsel untuk mengembangkan penggunaan energi alternatif bagi BTS selain listrik.

Baru-baru ini Telkomsel secara resmi mengoperasikan BTS dengan energi alternatif dengan sumber energi cahaya matahari yang didapatkan dengan penggunaan panel solar di Pulau Senayang, Kepulauan Riau. Pengoperasian ini merupakan BTS ke 132 dengan panel solar milik Telkomsel sekaligus sebagai yang terbanyak di Asia.

GM Radion Operation Power System Telkomsel Iwan Chaerul mengatakan penggunaan panel solar sebagai sumber energi alternatif ini merupakan upaya untuk menjamin ketersediaan power supply yang dibutuhkan untuk pengoperasian BTS.

"Terutama untuk daerah-daerah terpencil dimana ketersediaan listrik PLN masih sangat minim. Apalagi wilayah Indonesia merupakan negara kepulauan dengan variasi kontur geografis yang berbedak-beda," kata Iwan Chaerul dalam konferensi persnya, di Jakarta, Kamis (18/2/2010).

Iwan menjelaskan penggunaan panel solar sebagai sumber energi BTS sangat memungkinkan dan cocok diterapkan pada pembangunan BTS di daerah-daerah dengan pasokan listrik minim. Panel solar diklaim mampu memasok energi listrik sebesar 0, 115 megawatt seperti yang terdapat pada BTS konvensional dengan sumber energi listrik atau pun genset berbahan bakar solar. "Hampir setara dengan 100 genset konvensional berkapasitas 20 kVA," tuturnya.

Sumber energi matahari dengan panel solar ini, kata Iwan, mampu memasok energi BTS hingga tiga hari. Ini sudah termasuk dengan keperluan pengisian baterai cadangan yang dioperasikan pada malam hari ketika tidak ada cahaya matahari.

"Panel solar yang kami gunakan luasnya 140 meter persegi. Ini mampu memenuhi kebutuhan listrik BTS sampai tiga hari. Lebih lama dibandingkan panel solar lainnya yang hanya bertahan 24 jam," kata dia.

Biaya yang dikeluarkan untuk pengoperasian dan maintenance BTS berpanel solar ini pun, kata Iwan, jauh lebih murah dibanding BTS yang menggunakan genset. Operator hanya mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk pengadaan panel solar dan lahan yang agak luas pada awal pembangunan BTS. "Selanjutnya dalam pengoperasian kita tidak butuh biaya apapun selain maintenance," tuturnya.

Sementara ini, ujarnya, penggunaan panel solar ini lebih tepat pada BTS di daerah-daerah terpencil. Sementara di kota besar, relatif kurang cocok karena biaya lahan yang tentu jauh lebih mahal berhubung panel solar membutuhkan lahan yang lebih luas.

Mengenai investasi yang dikeluarkan Telkomsel untuk pembangunan sebanyak 132 BTS berpanel solar tersebut, Iwan mengatakan total dibutuhkan biaya sekitae Rp 60 hingga Rp 100 miliar. "Ke depan kita punya plan untuk 39 BTS panel solar lagi," ucapnya.

Lebih lanjut mengenai konten bahan baku peralatan panel solar yang digunakan, kata Iwan, Telkomsel untuk sementara masih menggunakan panel solar keluaran Jepang dan AS seperti Energy dan Kyocera. "Ke depan tidak menutup kemungkinan kita pakai produk-produk lokal jika pengembangannya juga sudah semakin baik," tuntasnya. 

 
Halaman 245 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook