Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Inilah Pembangkit Listrik Skala Kecil

Inilah Pembangkit Listrik Skala Kecil

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangkit listrik alternatif terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah dan desa-desa terpencil yang belum terjangkau pasokan listrik PLN. Sejak produksi prototipe pertama tahun 2007 lalu hingga saat ini, Kementerian Perindustrian melalui Balai Besar Logam dan Mesin telah menciptakan empat jenis pembangkit listrik skala kecil yang diperuntukan bagi desa-desa tertinggal dan industri kecil.

Dalam Ritech Expo 2010 di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu ( 22/8/2010 ) , Balai Besar Logam dan Mesin memamerkan empat buah prototipe pembangkit listrik skala kecil hasil produksinya.

"Ada empat jenis pembangkit listrik skala kecil yang kami rancang untuk memenuhi kebutuhan listrik untuk membangun desa mandiri energi dan industri-industri kecil," kata Nana Juhana, salah satu peneliti di Balai Besar Logam dan Mesin di JCC, Jakarta, Minggu.

Keempat mesin dan prototipe tersebut memiliki jenis dan sumber pengadaan energi yang berbeda-beda, terdiri dari pembangkit listrik kincir angin, alternator permanen magnet, turbin kaplan, dan mesin bio diesel.

Nana menjelaskan, pembangkit listrik kincir angin dan mesin bio diesel sudah berhasil diproduksi sejak tahun 2007 . Kedua pembangkit listrik skala kecil ini sudah tidak lagi berupa prototipe namun sudah dikembangkan dan dipasarkan kepada kelompok-kelompok swasta. Pembangkit listrik kincir angin produksi Balai Besar Logam dan Mesin mampu menghasilkan energi listrik sebesar 1 kVA dari tiupan angin yang didistribusikan oleh tiga buah blade berdiameter delapan meter dan tiang kincir setinggi 12 meter dari permukaan tanah.

"Untuk kincir angin ini produksinya sudah berjalan dan dikembangkan oleh kelompok swasta. Sasarannya memang untuk daerah pedesaan terutama pegunungan yang wilayahnya punya potensi angin yang stabil," kata Nana.

Produksi serupa juga sudah berhasil dilakukan untuk mesin bio diesel berkapasitas 500 cc yang sudah dikembangkan sejak tahun 1998 . Mesin bio diesel produksi Balai Besar Logam dan Mesin memiliku output daya sebesar 12 HP dengan putaran 2.200 rpm dengan kapasitas mesin 500 cc. Bahan bakarnya dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam yang terdapat di seluruh daerah di Indonesia seperti singkong, jarak, dan rumput laut.

"Mesin bio diesel ini prototipe pertamanya tahun 2008 . Saat itu memang kurang berhasil. Tapi sekarang sudah cukup berkembang di industri kecil," tuturnya.

Sementara dua pembangkit lainnya, yakni alternator permanen magnet dan turbin air kaplan baru berhasil dikembangkan pada akhir 2009 lalu. Hingga kini prototipenya masih terus dikembangkan Balai Besar Logam dan Mesin.

Menurut Nana, dua jenis pembangkit ini masih merupakan jenis pembangkit yang belum banyak dikembangkan di negara-negara lain. Alternator permanen magnet merupakan pengembangan energi listrik tenaga angin dan air yang menggunakan suatu alternator dengan putaran poros rendah. Pengembangan alternator rendah ini dilakukan karena alternator yang ada di pasaran biasanya memiliki putaran poros rotor yang tinggi di atas 1.500 rpm.

"Nah, sumber tenaga air dan angin yang digunakan industri kecil dan masyarakat di desa-desa biasanya menghasilkan putaran yang rendah. Maka itu, alternator permanen magnet ini cocok untuk penggunaan di desa-desa dan industri kecil karena bisa menghasilkan energi listrik dengan putaran rendah," terang Nana.

Sama halnya dengan pembangkit listrik kincir angin dan mesin bio diesel, alternator permanen magnet mampu menghasilkan enegri piko hidro sebesar kurang dari 10.000 watt.

Khusus untuk turbin air kaplan, menurut Nana, mampu menghasilkan energi yang paling besar dibanding ketiga pembangkit sebelumnya. Turbin air kaplan yang prototipenya tercipta sejak akhir 2009 kemarin ini mampu menghasilkan energi mikro hidro di atas 10.000 watt.

Turbin air ini dikembangkan dengan head rendah dari turbin air jenis kaplan. Turbin air ini dirancang untuk ketinggian air 8-15 meter, dengan debit 3 m3/detik. Dengan diameter 1.750 mm dan panjang 2.350 mm serta diameter runner 900 mm dan poros runner mampu mengjasilkan putaran 570 rpm. "Alternator putarannya sebesar 750 rpm. Kapasitas tenaga listrik yang dihasilkannya sebesar 300 kVA," ujar Nana.

Dari keempat jenis pembangkit listrik skala kecil tersebut, Nana mengakui hingga saat ini memang belum ada pengembangan secara massal. Balai Besar Logam dan Mesin Kementerian Perindustrian memang baru menciptakan prototipe untuk selanjutnya dikembangkan oleh kelompok swasta yang berminat. "Peminatnya sebenarnya cukup tinggi dari kalangan swasta. Cuma memang saat ini kami tidak bisa memproduksi secara massal untuk didistribusikan kepada masyarakat di pedesaan dan industri kecil," kata dia.

Keempat jenis pembangkit listrik tersebut, menurut Nana, terus dikembangkan secara internal sambil terus menyosialisasikan kepada kelompok swasta dan masyarakat. "Jadi siapa yang berminat bisa langsung ke Balai Besar Logam dan Mesin untuk kita kembangkan bersama," tutupnya.

 

 

  • Penulis: 
  • Editor: Erlangga Djumena
  •  

     

     

    ~ Status Darurat Nuklir Jepang di Level Maksimum

    Jepang meningkatkan status darurat nuklirnya ke level tujuh pada Selasa (12/4). Level tujuh adalah level maksimum yang menyetarakan bencana ini dengan bencana nuklir Chernobyl 25 tahun yang lalu. Keputusan itu diambil berdasarkan jumlah total radiasi yang dilepaskan. 


    Meskipun levelnya sama dengan level Chernobyl, jumlah radiasi yang dilepaskan masih sepersepuluh radiasi Chernobyl. "Di Chernobyl ada paparan akut dari radiasi level tinggi dan 29 orang meninggal karenanya. Di Fukushima, hal itu tidak ada," kata Hidehiko Nishiyama dari badan keselamatan nuklir.

    Meskipun demikian seorang petugas dari Tokyo Electrical Power Co. (TEPCO) mengatakan bahwa kebocoran radiasi belum dihentikan sepenuhnya. "Kami khawatir situasi ini akan berbuntut lebih parah dari Chernobyl," ungkapnya dalam sebuah siaran pers.

    Level tujuh pada skala menandakan ada pelepasan materi radioaktif dengan penyebaran efek terhadap kesehatan dan lingkungan yang membutuhkan penanganan panjang dan terencana. Sebelumnya, status darurat nuklir di Jepang hanya berskala lima.

    Saat para pekerja berusaha menstabilkan reaktor yang rusak akibat gempa 9 SR pada 11 Maret, mereka harus menghadapi gempa-gempa susulan. Pada gempa terakhir yang berkekuatan 6,3 SR, para pekerja terpaksa dievakuasi sementara. "Ancaman terbesar sekarang adalah gempa susulan dan tsunami," kata seorang senior di pemerintahan--tak bersedia disebutkan namanya--dikutip oleh Discovery News.

    Pemerintah Jepang menegaskan kalau kru di pembangkit listrik bekerja non-stop untuk mengendalikan bencana. (Sumber: Discovery News)
     

    ~ PLN Segera Bangun Ratusan Pembangkit Listrik Tenaga Surya


    PLN Segera Bangun Ratusan Pembangkit Listrik Tenaga Surya

     

     
    PLN akan bangun ratusan pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia bagian timur pada tahun ini.

    Pembangunan pembangkit listrik ini bertujuan untuk mempercepat akses masyarakat terhadap listrik. "Jika menunggu jaringan reguler, butuh waktu lama," kata Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Vicker Sinaga, Jumat (8/4), dalam jumpa pers, di kantor Pusat PT PLN, Jakarta.

    Saat ini daftar tunggu sambungan listrik di kawasan timur masih panjang. Untuk tahun ini, PLN menargetkan 1,1 juta pelanggan di timur Indonesia, 370.000 pelanggan di antaranya akan dialiri listrik dari pembangkit-pembangkit listrik tenaga surya.

    PLN akan membangun 124 pembangkit tenaga surya di Indonesia bagian timur,15 lokasi di 15 kabupaten di Papua dan Papua Barat dengan total daya 4.500 kilo Watt Peak (kWP). Perseroan itu juga akan membangun 109 pembangkit tenaga surya di 100 pulau yang tersebar di daerah Papua, Papua Barat, Maluku, dan NTT dengan total kapasitas 18.150 kWp 

    Untuk sistem pembangkit listrik tenaga surya mandiri, biaya penyambungan Rp 3,5 juta per pelanggan dan itu ditanggung PLN. Sedangkan pelanggan wajib membayar uang jaminan Rp 500.000 dan biaya berlangganan Rp 35.000 per bulan.

    "Setiap pelanggan dapat tiga lampu super ekstra hemat energi (SEHEN) 2-3 watt. Lebih murah kan jika dibandingkan pakai lampu petromax yang butuh beli minyak tanah Rp 90.000 per bulan," kata Vicker.  

    Menurut Sekretaris Eksekutif Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Martono, saat ini pembangunan ratusan PLTS itu baru tahap penyiapan dokumen. "Dalam waktu dekat akan tender. Proses pengadaan barang dan pembangunan konstruksi diperkirakan butuh waktu lima bulan," ujarnya menjelaskan. (Evy Rachmawati)
    Sumber: Kompas.com
     

    ~ PLTS Terbesar Eropa ada di Italia

    PLTS Terbesar Eropa ada di Italia

    KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) paling kuat di Eropa ditetapkan mulai beroperasi di Italia akhir tahun ini. Adalah perusahaan AS yang membangun instalasi di sebuah area seluas 120 lapangan sepak bola mengatakan, Kamis (11/3/2010). 
        
    Pembangkit listrik di Rovigo di dekat Venice di timur laut Italia akan mengambil 850.000 meter persegi (9,15 juta kaki persegi) dan menghasilkan 72 megawatt, SunEdison mengatakan dalam sebuah pernyataan pengumuman memulai konstruksi. 
        
    Saat ini pembangkit listrik terbesar di Eropa, berlokasi di Spanyol menghasilkan 60 megawatt dan terbesar kedua di Jerman 50 megawatt, kata SunEdison. 
        
    "Taman fotovoltaik di Provinsi Rovigo merupakan tonggak penting dalam pembangunan dan pembentukan energi matahari di Italia," manajer umum SunEdison Italia, Francesco Liborio Nanni, mengatakan dalam sebuah pernyataan. 
        
    Total investasi akan berada di antara 200 juta  hingga 250 juta euro (273 juta hingga 342 juta dollar AS), kata perusahaan itu. 
        
    Produksi energi akan dimulai pada paruh kedua 2010 dan pembangkit listrik akan sepenuhnya beroperasi pada akhir tahun, kata SunEdison, yang bekerja pada proyek dalam hubungannya dengan raksasa perbankan Spanyol Santander. 
        
    Selama tahun pertama operasi, pembangkit listrik akan menutupi kebutuhan listrik dari 17.000 rumah tangga dan akan mencegah emisi 41.000 ton karbon dioksida ke atmosfer. 
        
    SunEdison, sebuah anak perusahaan dari perusahaan AS MEMC Electronic Materials, adalah perusahaan pembangkit listrik tenaga surya terkemuka di Amerika Serikat dan terbesar ketiga di dunia. 
        

    Italia berada di urutan kedua setelah Jerman untuk produksi listrik tenaga surya di Eropa. 

     

    ~ Waspada, Batubara Penghasil CO2 Terbanyak

    Waspada, Batubara Penghasil CO2 Terbanyak

     

    Kompas.com - Orin Basuki  - Diantara barang-barang tambang yang digunakan sebagai pembangkit listrik, batubara merupakan sumber penghasil karbondioksida atau CO2 terbesar, yakni 1.006 gram pada setiap kilo watt jam atau kwh listrik yang dihasilkan. Ini ditekankan karena sumbangan batubara terhadap polusi sangat tinggi. Atas dasar itu, setiap negara yang ingin mengembangkan pembankit listrik tenaga batubara sebaiknya menggunakan mesin pembangkit yang mampu mereduksi produksi CO2 tersebut.

    General Manager Operasi Komersial untuk Kawasan Asia dari General Electric (GE) , Alan F Sides mengungkapkan hal tersebut di Singapura, Rabu (25/6) dalam seminar terbatas bertajuk Asia Energy Executive Education (AEEE) yang digelar GE.

    Menurut Sides, karbon yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga angin adalah 14 gram per kwh, sementara dari pembangkit listrik tenaga matahari sebanyak 17-39 gram per kwh. Adapun karbon yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga nuklir masih relatif rendah, yakni 16-55 gram per kwh. Kemudian karbon yang dihasilkan dari tenaga listrik berbasis gas mencapai 466 gram per kwh.

    Bandingkan dengan karbon dari pembangkit bertenaga batubara yang jauh lebih tinggi yakni 1.006 gram per kwh. "Dengan demikian, pilihannya sudah jelas, tenaga mana yang paling ramah lingkungan," ujar Sides.

    Pengembangan energi alternatif menjadi syarat utama pengamanan pasokan energi di masa mendatang. Itu disebabkan peningkatan jumlah penduduk dunia sangat tinggi, yakni dari 6,4 miliar jiwa di tahun 2005 menjadi 8,4 miliar orang di 2030. Kenaikan jumlah penduduk itu diiringi oleh melonjaknya konsumsi terhadap energi. Namun, peningkatan konsumsi itu tidak diiringi kenaikan pasokan energi.

    "Dalam kondisi itu, semua alternatif perlu dipikirkan, termasuk mengembangkan energi dari biomassa, terutama gas metan yang dihasilkan dari sampah," ujar Sides.

    Saat ini, pengembangan pembangkit listrik tenaga sampah belum maksimal di Indonesia. Pengembangan energi sampah ini justru berkembang di Eropa. Salah satu penyebabnya adalah mahalnya mesin pengolah sampah tersebut. Mesin buatan GE yang menghasilkan listrik 1 megawatt harus dibeli dengan harga 350.000 euro per unit atau sekitar Rp 5,1 miliar per unit.  

     
    Halaman 244 dari 1047
    PageRank  Hit Counters
    free counters
    Alpen Steel Facebook