Alpen Steel | Renewable Energy

~ Tiga Merek Mobil Hibrida Beredar Di Indonesia, Honda Civic Hybrid, Toyota Prius, Dan Lexus LS 600h

-
MERCEDES BENZ
Memimpikan Sebuah Indonesia yang Hijau

 

Di Geneva Motor Show 2010, dua pekan lalu, dipajang beragam mobil Mercedes Benz. Salah satunya adalah sebuah Mercedes Benz E 300. Mobil itu istimewa karena dapat menempuh perjalanan sejauh 100 kilometer hanya dengan mengonsumsi 4,5 liter solar.

Itu berarti mobil tersebut hanya mengonsumsi 1 liter solar untuk melakukan perjalanan sejauh 22,22 kilometer. Biasanya sebuah Mercedes Benz E-Class mengonsumsi 1 liter solar hanya untuk melakukan perjalanan sejauh 9-10 kilometer.

Pertanyaannya, bagaimana bisa? Ternyata, mobil itu adalah sebuah mobil hibrida, atau mobil yang menggabungkan mesin diesel dengan motor listrik. Nama mobil itu adalah Mercedes Benz E 300 BlueTEC HYBRID.

Mobil itu menggabungkan mesin diesel berkapasitas 2.2 Liter yang menghasilkan tenaga maksimum 204 PK dengan motor listrik bertenaga 20,4 PK. Motor listrik, yang terletak di antara mesin diesel dan rumah persneling otomatik yang memiliki 7 tingkat kecepatan itu, berfungsi membantu mesin diesel pada saat mobil berakselerasi. Juga dimungkinkan, mobil berjalan dengan mengandalkan motor listrik saja, yang mendapatkan tenaga listrik dari baterai. Pada saat mobil mengurangi kecepatan (berdeselerasi), atau direm, motor listrik beralih menjadi generator yang berfungsi mengisi baterai.

Itu sebabnya, walaupun menghasilkan tenaga besar, mesin tetap hemat dalam mengonsumsi solar dan ramah terhadap lingkungan. Emisi CO-nya di bawah 120 gram per kilometer.

Pemerintah di banyak negara pun memberikan insentif khusus, seperti pengurangan pajak, bagi mobil hibrida sehingga harga jualnya terjangkau dan populasinya besar. Dengan semakin besarnya populasi mobil hibrida di jalan, semakin berkurang pula emisi CO yang dilepaskan ke udara.

Sayangnya langkah yang dilakukan pemerintah di banyak negara itu tidak diikuti oleh Indonesia, yang termasuk salah satu negara terdepan dalam memerangi pemanasan global. Alih-alih memberikan pengurangan pajak pada mobil hibrida yang termasuk mobil yang ramah terhadap lingkungan, atau populer dengan sebutan mobil hijau, Pemerintah Indonesia malah melipatduakan pajak bagi mobil hibrida. Alasan yang diberikan adalah mobil itu menyandang dua mesin, yakni mesin pembakaran dalam yang menggunakan bahan bakar minyak dan motor listrik yang menggunakan tenaga listrik dari baterai.

Itu menjadikan harga mobil hibrida di Indonesia sangat mahal. Pada saat ini sudah ada tiga merek mobil hibrida yang beredar di Indonesia, yakni Honda Civic Hybrid, Toyota Prius, dan Lexus LS 600h.

Jika sungguh-sungguh berniat memerangi pemanasan global, pemerintah harus melakukan serangkaian tindakan untuk itu, termasuk memberikan insentif bagi mobil hibrida.

Pekerjaan rumah

Memperbanyak populasi mobil hibrida memang bisa membantu memerangi pemanasan global, tetapi untuk memerangi pemanasan global secara menyeluruh masih banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Misalnya menyediakan bahan bakar minyak yang berkualitas dan rendah polusi, mengatasi kemacetan lalu lintas yang merupakan salah satu penyebab borosnya konsumsi bahan bakar minyak dan tingginya tingkat pencemaran, meniadakan pembakaran lahan dan kebakaran hutan, serta memberikan kemudahan bagi pengembangan bahan bakar alternatif dan pemasaran mobil listrik.

Menyediakan bahan bakar minyak yang berkualitas dan rendah polusi itu sangat penting. Bagaimana tidak, pemerintah menetapkan setiap mobil baru yang dipasarkan di Indonesia harus memenuhi persyaratan Euro 2, padahal bahan bakar minyak yang tersedia di negeri ini belum memenuhi standar Euro 2.

Namun, pekerjaan rumah terberat yang harus diatasi pemerintah adalah mengatasi kemacetan lalu lintas yang menjadi salah satu penyebab borosnya konsumsi bahan bakar minyak dan tingginya tingkat pencemaran. Hal itu mengingat kemacetan lalu lintas tak hanya mencakup jumlah kendaraan bermotor tidak sebanding dengan ruas jalan yang tersedia, tetapi juga meliputi penyediaan sistem transportasi umum yang aman, nyaman, dan murah, perilaku dan disiplin berlalu lintas, dan manajemen lalu lintas.

Dengan tersedianya transportasi umum yang aman, nyaman, dan murah, akan banyak pengendara sepeda motor dan mobil pribadi yang ditarik ke kendaraan umum. Itu berarti jumlah pengendara sepeda motor dan mobil pribadi di jalan raya akan berkurang sehingga dengan sendirinya kepadatan lalu lintas pun akan berkurang.

Busway bukanlah jawaban mengingat busway hanya dapat mengangkut sekitar 200.000 orang dalam satu hari. Padahal, jumlah orang yang bergerak di Jakarta dan sekitarnya dalam satu hari itu sekitar 7 juta orang. Itu sebabnya transportasi ideal yang harus dimiliki Jakarta adalah mass rapid transit (MRT), yang mampu mengangkut orang yang jauh lebih banyak dan tidak memacetkan lalu lintas karena bergerak di bawah tanah.

Namun, pertanyaannya, apakah lalu lintas akan lancar jika jumlah sepeda motor dan mobil di jalan raya berkurang? Rasanya tidak. Kemacetan lalu lintas tidak hanya terkait dengan jumlah kendaraan bermotor di jalan raya, tetapi juga diakibatkan oleh perilaku dan disiplin pengendara dalam berlalu lintas.

Kendaraan umum yang berhenti di sembarang tempat untuk menunggu penumpang (ngetem), baik itu bus antarkota dan antarprovinsi, bus kota, metromini, mikrolet, maupun angkutan kota, punya andil besar sebagai penyebab kemacetan lalu lintas. Belum lagi pengendara sepeda motor atau pengendara mobil pribadi yang berlalu lintas dengan semaunya sendiri, mengabaikan rambu dan tanda lalu lintas yang ada.

Itu belum semua. Masih ada pedagang kaki lima, khususnya di pasar-pasar tradisional, yang menggelar barang dagangannya di badan jalan. Penyempitan ruas jalan itu mengakibatkan terjadi antrean panjang. Situasi lalu lintas di tempat itu diperparah oleh banyaknya kendaraan umum yang ngetem. Akibatnya, aliran lalu lintas terkunci.

Untuk mengatasinya, pertama, pemerintah, dengan segenap instansi terkait, perlu melakukan pendekatan yang menyeluruh dan mengajak serta seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama mematuhi peraturan serta rambu dan tanda lalu lintas. Kedua, menindak tegas semua pelaku pelanggaran rambu dan tanda lalu lintas, tanpa pandang bulu.

Di samping itu, pemerintah juga harus memfasilitasi pengembangan bahan bakar terbarukan (renewable fuel), seperti hidrogen dan biofuel. Dan, yang tidak kalah penting adalah memberi insentif bagi mobil listrik dan membangun infrastukturnya mengingat mobil listrik sama sekali tidak mempunyai emisi.

Hanya dengan semua itulah mimpi Indonesia yang hijau bisa diwujudkan. Jika pada saat ini kita ditanya, mungkinkah itu akan terjadi? Jawabannya, kita meragukannya! Namun, kita tidak boleh berputus asa karena Indonesia hijau tidak hanya berguna bagi generasi kita, tetapi juga generasi anak, cucu, dan cicit kita. (JL)

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook