Alpen Steel | Renewable Energy

~ PLTN di Banten Menyimpan Bahaya

PLTN Di Banten, Bak Bom Atom di Kamar Tidur

Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Provinsi Banten membangkitkan kenangan bencana Chernobyl di Unit Soviet (sekarang masuk wilayah Ukrania), 26 April 1986.

Tercatat 30 orang tewas saat itu. 240.000 orang terpaksa dievakuasi. Jutaan orang terpapar awan radioaktif. 142 ribu Km persegi terkontaminasi (banding­kan dengan luas Provinsi Banten yang hanya 9 ribu km persegi). Daerah itu sekarang meliputi utara Ukrania, selatan Belarusia dan Bryansk di Rusia.

230 dari 3.400 orang tim penyelamat (mereka disebut likuidator) meninggal tahun 1990-an akibat jantung, leukimia dan kanker lainya yang disebabkan oleh radiasi Chernobyl.

Di mulai pada tahun 1990, terjadi peningkatan tajam penderita kanker tiroid (gondok) pada anak-anak di bawah 15 tahun. Tahun 1995 tercatat 90 kasus, setidaknya sembilan meninggal dunia. Tahun 2006, tercatat 4.000 anak-anak dan remaja di Belarusia, Ukrania dan Rusia, menderita kanker. Seba­gian besar berasal dari Homyel, Belarusia. Daerah di utara Chernobyl, wilayah yang terkon­taminasi berat.

Kanker tiroid memang sudah dapat disembuhkan dengan tingkat kesembuhan yang tinggi, tetapi penderita penyakit ini tidak dapat lepas dari obat seumur hidupnya.

Selain kanker tiroid, kalangan orang dewasa terserang kanker usus dan kandung kemih. Pusat statistik kanker nasional Bela­rusia mencatat penyakit ini juga meningkat tajam di Homyel.

Tahun 2005, Chernobyl Forum memuat pernyataan sekumpulan pakar yang tergabung dalam Badan Energi Atom Internasional dan Badan Kesehatan Dunia, memperkirakan sekitar 4.000 orang akan meninggal akibat leukimia dan kanker lainnya yang disebabkan radiasi Cherno­byl. Sampai kapan korban radiasi Chernobyl dapat dipan­tau?

Mikhail Balonov, sekjen Chernobyl Forum, seperti dikutip National Geographic Indonesia, mengatakan, yakin akan ajal mereka sudah dekat, banyak korban Chernobyl hidup dalam ketakutan. Sementara yang lain hidup kacau-balau; mabuk-mabukan, seks bebas, dan meng­konsumi hasil pertanian yang berasal dari tanah yang sudah dikontaminasi.

Evakuasi dan perlakuan istimewa yang diberikan pemerin­tah, menambah masalan lain pada korban Chernobyl. Warga kota yang harus menerima pengungsi Chernobyl, melaku­kan penolakan dengan cara mereka.

“Saya sangat depresi sesu­dah­nya,” kata Olesya Shovko­shit­naya, korban Chernobyl seperti dimuat di National Geographic Indonesia, April 2006.

 

Human Error?

Waktu saat itu menunjukan pukul 1:23 dini hari, sebagian besar warga kota Pripyat masih berada dalam mimpi. Seperti biasanya dan rutin, PLTN Cher­nobyl melakukan test keamanan di reaktor nomor 4.

Tak ada pernyataan yang jelas dari pemerintah Uni Soviet saat itu tentang apa yang terjadi. Hanya dikatakan, teknisi-teknisi di Chernobyl telah mengacaukan test keamanan rutin. Human error yang berakibat fatal.

Inti reaktor bersifat tidak stabil, satu kesalahan manusia (human error) mengakibatkan reaksi berantai nuklir yang tak terkendali terjadi dalam hitungan detik.

Air pendingin reaktor menjadi uap dengan cepat, meledakkan tongkat pengukur bahan bakar berkeping-keping. Bagian dalam reaktor berserakan di sekeliling gedung, kebakaran hebat berba­han bakar sisa inti reaktor.

Hari itu tak ada pengumuman resmi. Mereka yang bekerja di PLTN Chernobyl, sepulang kerja berdiam diri di rumah dan mela­rang anak-anak main di luar. Guru-guru mengurung muridnya dalam kelas hingga waktu pulang sekolah tiba. Petugas pemerin­tah mengkunjungi mereka, membagikan tablet yodium, pencegah terhadap radioaktif yodium 131.

Baru keesokan harinya, 27 April 1986, sebuah radio mengu­mumkan telah terjadi kecelakaan di PLTN Chernobyl, warga kota Pripyat akan dievakuasi. 1.100 bis mengantri di Pripyat, evakuasi dilaksanakan sesegera mungkin. Sore hari, sekitar pukul 5, kota Pripyat telah kosong.

Kegiatan tak berhenti di situ, 3.400 likuidator tiba, berjuang sekuat tenaga memadamkan api di reaktor 4. Mereka berhasil memadamkan api 10 hari kemudian, 6 Mei 1986. Konsek­wensinya, dosis radiasi yang mampu diserap tubuh manusia seumur hidup, mereka serap hanya dalam waktu hitungan detik.

Ini hanya sebuah awal dari penderitaan panjang kecelakaan PLTN Chernobyl. Seperempat juta warga Pripyat dibayang-bayangi ketakutan dan penyakit kanker, kepastian mati karena Chernobyl.

 

PLTN Di Banten

Membayangkan kejadian Chernobyl terjadi di Provinsi Banten membuat bulu kuduk merinding. Bukan hanya luas Provinsi Banten yang cuma 9 ribu Km persegi, jauh lebih kecil dari luas pencemaran radiasi Chernobyl 142 ribu km persegi. Tetapi penduduk Banten yang padat sekitar 9 juta jiwa, 36 kali penduduk kota Pripyat.

Tak dapat dibayangkan bagaimana mengevakuasi 8 juta orang, diungsikan kemana dan bagaimana menyantuni mereka hingga puluhan tahun? Lumpur Lapindo yang berlangsung lambat dan Tsunami Aceh, telah menunjukan ketidakmampuan pemerintah dalam menangani bencana skala besar. Bagaimana mungkin dapat menangani bencana nuklir yang berlangsung dalam hitungan detik dan jam?

Seyogyanya, pembangunan PLTN di Provinsi Banten bukan didasarkan pada kebutuhan energi listrik yang murah, tapi faktor keamanan harus diuta­makan. Keamanan yang bersifat mencegah terjadinya bencana dan keamanan pasca terjadinya bencana.

Sebaik-baiknya sebuah sistem dibuat, operatornya tetaplah manusia dengan segala kekhilafannya. Orang sering menyebutnya dengan nama Human Error. Karena dalam mengo­perasikan PLTN, satu kali saja human error terjadi,… hanya Allah yang tahu apa yang bakal terjadi.

PLTN di Provinsi Banten? Bak menaruh bom atom di kamar tidur kita.

 

Ramah Lingkungan

Fakta menunjukan orang yang berjemur dibawah terik matahari seharian, mendapatkan radiasi yang lebih berbahaya dibandingkan tinggal selama setahun di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Soalnya, Menurut Nana, Kepala Bidang (Kabid) Bina Usaha Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi Banten, teknologi PLTN telah dirancang sedemikian rupa untuk meminimalisir bahaya radiasi yang ditimbulkan inti nuklir.

“Gak mungkin gara-gara PLTN, di tempat itu timbul kematian mendadak atau gejala penyakit lainnya. PLTN itu aman. Bahkan untuk lingkungan, lebih ramah dibandingkan PLTU,” katanya.

Di Amerika Serikat saja, pembangkit listrik batu bara setiap tahunnya menghasilkan 2 miliar ton karbon dioksida. Bahan yang dituding penyebab pemanasan global. Bandingkan dengan PLTN yang hampir tak menghasilkan karbon dioksida.

“PLTN itu berbahayanya kalau terjadi human error. Kecelakaan akibat kelalaian operator. Itu pun sudah disiapkan antisipasinya. Yaitu keselamatan selama operasi PLTN dan pasca bencana. Kecelakaan Chernobyl itu akibat pemerintah setempat mengabaikan unsur keselamat­an,” katanya.

Tercatat dalam sejarah, ada 3 kecelakaan PLTN di dunia, yaitu di Inggris sekitar tahun 1960-an, Three Mile Island Amerika Serikat tahun 1979 dan Chernobyl Uni Soviet 1986. Hanya di Chernobyl, kecelakaan PLTN menjadi begitu menakut­kan.

“Kita semua tahu kualitas kerja di Uni Soviet, negara adi daya komunis saat itu. Sehingga kemungkinan human error tinggi sekali. Ditambah reaktor nuklir di Chernobyl tidak seperti reaktor nuklir di negara lainnya,” katanya.

Di negara lain, reaktor nuklir disegel dalam baja tebal dan ditutup oleh beton yang tebal. Reaktor Chernobyl tidak me­ngan­dung bahan-bahan yang kuat untuk menahan ledakan.

“Jadi saat terjadi human error yang berujung pada ledakan, reaktor Chernobyl hancur berantakan, kebakaran berasal dari inti nuklir. Tidak ada bahan yang menahan radiasi, menye­bar kemana-mana. Faktor penga­baian keselamatan menjadi penyebab utama bencana Chernobyl,” ujar Nana.

400 PLTN tersebar di seluruh dunia, 103 buah ada di Amerika Serikat menyumbang 20 persen kebutuhan listrik. 78 persen kebutuhan listrik Prancis diha­silkan oleh PLTN. India memiliki 15 reaktor nuklir dan sedang membangun 8 reaktor lagi. India, negara terdepan dalam memba­ngun PLTN.

World Nuclear Association mencatat per Desember 2005, sekitar 160 reaktor nuklir direncanakan dibangun di selu­ruh dunia. Benua Asia tercatat tertinggi, sekitar 100 rencana pembangunan.

Amerika yang mela­rang pembangunan PLTN sejak tahun 1979, kini telah menyetujui 1,25 miliar dollar untuk memba­ngun reaktor nuklir percobaan yang menggunakan pendingin helium. Diharapkan tahun 2015, Amerika dapat mengoperasikan PLTN baru.

“PLTU batu bara, walaupun masih primadona, dampak negatifnya mulai dipertimbang­kan banyak negara. Karbon dioksida yang dihasilkannya merupakan ancaman besar bagi perubahan iklim dunia,” katanya.

Saat ini, 9,9 metrik ton karbon dioksida dihasilkan dari produksi listrik dunia. Diperkirakan tahun 2030, menjadi 16,8 miliar metrik ton. Sumbangan yang cukup besar untuk pemanasan global.

PLTU atau PLTN? Mungkin ucapan Michael Herrin, pastor gereja First Persbyterian Church di Port Gibson USA seperti dilansir National Geographic bisa menjadi pegangan.

“Kami tahu awan uap air yang keluar dari menara pendingin bukanlah radioaktif. Di kota ini, yang menjadi ancaman sebe­nar­nya bukan reaktor nuklir, tetapi pengangguran,” katanya menirukan ucapan Michael Herrin.

Tags: ,

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook