~ Pemanfaatan Biogas Belum Optimal

Pemanfaatan Biogas Belum Optimal

Bandung, Kompas - Pemanfaatan biogas untuk membangkitkan listrik di Jawa Barat belum diterapkan dengan optimal. Masih sangat sedikit desa yang menggunakan biogas meski banyak rumah penduduk belum dialiri listrik.

Kepala Laboratorium Ekonomi Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Sri Rahayu, Senin (8/11) di Bandung, mengatakan, program biogas sebenarnya sudah ada setidaknya sejak 20 tahun lalu. Di Jabar, pemerintah membangun reaktor biogas di berbagai tempat, seperti Pangalengan, Lembang, dan Sumedang.

”Di setiap daerah bisa dipasang hingga 200 pembangkit listrik dari biogas. Akan tetapi, alat itu hanya dipasang,” katanya. Ketika reaktor rusak, masyarakat kebingungan karena tak bisa memperbaikinya. Jumlah reaktor pun bukannya bertambah, malah semakin sedikit.

”Alatnya ada, tapi tidak bisa berfungsi. Plastik, misalnya, bolong. Masyarakat tahunya hanya listrik menyala. Mereka harus dibina supaya tahu cara merawatnya,” kata Sri.

Saat ini sekitar 33 persen dari 43 penduduk Jabar belum menikmati listrik. Menurut dia, gas yang dihasilkan dari reaktor biogas dengan ukuran 3 meter kubik mencapai 3,14 meter kubik gas. Reaktor membutuhkan 2 meter kubik kotoran sapi.

”Kotoran dari dua sapi pun sudah sangat berlebih untuk mengisi reaktor itu. Reaktor bisa menghemat pengeluaran warga desa,” katanya. Di Desa Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, misalnya, setiap keluarga bisa menghemat sekitar Rp 50.000.

”Warga Haurngombong menggunakan generator. Setiap hari mereka membeli bahan bakar seharga Rp 100.000. Setelah ada biogas, bisa berkurang setengahnya,” katanya.

Sulit berkembang

Menurut dosen Fakutas Peternakan Unpad, Cecep Firmansyah, secara empiris penggunaan biogas di Jabar sulit berkembang. Itu menunjukkan, terdapat masalah sosial yang tak tersentuh pemangku kepentingan.

Fakultas Peternakan Unpad pernah mengadakan penelitian di Kampung Belenung, Desa Mekarsari, Kecamatan Agrabinta, Cianjur. Kampung itu terpencil sehingga tak terjangkau layanan listrik PLN. Cecep menuturkan, kampung itu merupakan daerah padat sapi potong dengan populasi sekitar 185 ekor.

”Selain itu, pengolahan limbah sapi belum optimal, minyak tanah langka, dan masyarakatnya banyak menggunakan kayu bakar,” ujarnya. Jumlah kotoran ternak ditaksir minimal 340 ton per hari. Setelah diterapkan, biogas yang dihasilkan terbukti tidak bertentangan dengan keyakinan dan religi warga desa.

Selain itu, masyarakat bersedia memelihara, memanfaatkan, dan mengembangkan instalasi biogas secara mandiri. Lambat laun terjadi perubahan pandangan masyarakat terhadap biogas.

”Semula mereka menilai negatif. Masa, memasak pakai bahan bakar dari kotoran sapi. Sekarang sudah positif,” kata Cecep. Tanggapan yang baik ditunjukkan dengan partisipasi dalam memelihara sapi dan memanfaatkan biogas. Perubahan sikap ibu-ibu rumah tangga yang semula tak peduli juga sudah terasa, misalnya dengan merespons positif dan ikut serta di hampir setiap kegiatan.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pembangunan Peternakan Indonesia Rachmat Setiadi, populasi sapi di Jabar saat ini lebih kurang 320.000 ekor. Seekor sapi rata-rata mengeluarkan 15 kilogram kotoran per hari. Berdasarkan itu, terdapat sekitar 4.800 ton kotoran sapi per hari. Adapun potesi biogas yang terbuang sekitar 7.500 meter kubik gas setiap hari.

 

(bay) 


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum