Alpen Steel | Renewable Energy

~ Energi Terbarukan Perlu Insentif Proyek Penghasil

 Proyek Penghasil Energi Terbarukan Perlu Insentif
 

Monday, 19 October 2009-Pemanfaatan energi terbarukan dalam penyediaan energi di Indonesia masih rendah. Padahal itu bisa meningkatkan mutu lingkungan dan ikut mengurangi ketergantungan terhadap minyak mentah dan bahan bakar minyak yang ketersediaannya terus semakin turun.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi Pri Agung Rakhmanto. Sabtu (7/10) di Jakarta, menyatakan perlu ada insentif bagi para investor dalam bidang energi terbarukan yang menggunakan teknologi efisien dan ramah lingkungan.
Data Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, pemanfaatan energi non-fosil jauh lebih kecil dibandingkan potensi yang ada. Sampai tahun 2008, kapasitas terpasang energi nonfosil. seperti tenaga air baru 4,2 gigawatt (GW) dari sumber daya 75.62 GW atau baru termanfaatkan sebesar 0,5 persen.

Demikian juga dengan panas bumi dari total potensi 27.710 megawatt (MW) yang tersebar di beberapa wilayah, lapangan yang telah berproduksi antara Iain, adalah di Sibayak. Kamojang, Lahendong, Dieng, Wayang Windu. Darajat, dan Salak dengan total kapasitas 1.052 MW.
Adapun kapasitas lapangan yang dalam pengembangan sekitar 1.537 MW, sedangkan kapasitas yang akan ditenderkan 680 MW.
Rendahnya pemanfaatan energi terbarukan, antara lain, disebabkan tingginya investasi yang dibutuhkan sehingga biaya produksi energi dari nonfosil relatif mahal.

Sebagai perbandingan, biaya pokok produksi listrik dari bahan bakar minyak atau diesel Rp 1.600-Rp 1.800 per kilowatt hour (KWh), batu bara Rp 250-Rp 350 per kWh, gas Rp 350-Rp 450 per kWh. sedangkan panas bumi Rp 700-Rp 800 per kWh.
Direktur Divisi Transmisi dan Distribusi Siemens Indonesia Markus Strohmeier menyatakan, dukungan pemerintah terhadap pemanfaatan teknologi ramah lingkungan masih kurang.
Contohnya, pemerintah mematok harga sama untuk energi listrik yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga batu bara ataupun pembangkit listrik tenaga angin dan panasbumi,padahal, biaya pokok produksi listrik dari tenaga angin dan panas bumi lebih mahal daripada BBM dan batu bara.

Tugas PLN.
Dalam rencana strategis pemerintah 2010-2014 disebutkan. PT PLN ditugaskan melakukan diversifikasi energi primer untuk pembangkit tenaga listrik 10.000 Nf\V tahap pertama.
Program 1QOO0 MW tahap kedua memberi porsi besar bagi kontribusi dari panas bumi yaitu 4.733 MW yang akan mei idorong pengembangan panas bumi.
Pri Agung menyatakan, insentif untuk proyek pembangkit listrik berbasis energi terbarukan akan menjadi daya tarik para investor untuk menanamkan modalnya.


Menurut Pri Agung, insentif yang bisa diberikan, antara lain. adalah pemerintah menanggung sebagian biaya eksplorasi memberi keringanan pajak untuk barang-barang impor atau penundaan pembayaran pajak, serta ada jaminan bahwa energi listrik yang dihasilkan akan dibeli PLN.Pemanfaatan panas bumi ini akan dapat mendorong sisi hilir, yaitu untuk meningkatkan penyediaan listrik bagi rakyat.

Dengan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan, maka akan mengurangi konsumsi minyak mentah dan BBM.* ujar Pri Agung.
Di beberapa negara maju, seperti Belanda dan Jerman, pemanfaatan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan dengan energi terbarukan mendapat dukungan penuh dari pemerintah. (EVY)

 

Ditulis oleh Luthfi Hani  

 

JAKARTA,KOMPAS,
 

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook