Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Produksi Sel Surya Pakai Mesin Cetak Uang

Makin Murah, Produksi Sel Surya Pakai Mesin Cetak Uang

Para peneliti Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Australia berhasil mengubah mesin cetak uang untuk memproduksi lembaran sel surya yang dapat digulung. Terobosan tersebut menjanjikan ongkos produksi yang murah dan jenis sel surya fleksibel.

"Manfaat utamanya, saat ini sel surya dapat diproduksi dalam lembaran yang sangat panjang atau gulungan, sehingga ideal untuk dipakai di jendela atau atap berukuran besar," ujar Gerry Wilson, kepala proyek CSIRO. Ia mengatakan, mesin cetak uang yang dipakai sanggup menghasilkan lembaran sel surya sepanjang 100 kilometer setiap hari.

Mesin cetak uang tersebut dapat langsung dipakai karena mata uang Australia bukan dibuat dari kertas melainkan plastik jenis polypropylene. Proyek pengembangan sel surya fleksibel dengan bahan yang sama didukung investasi 7,7 juta dollar AS dari konsorsium energi yang dimotori BP Solar dan sejumlah perusahaan konstruksi material.

Untuk saat ini, sel surya yang dihasilkan baru memiliki efisiesni sebesar 3 persen. Namun, Wilson yakin tahun depan akan berlipat ganda dan mencapai target 10 persen dalam lima tahun. Produksi massal baru akan dilakukan jika efisiensinya lebih dari 10 persen.

Sel surya fleksibel mengatasi berbagai masalah yang dihadapi sel surya konvensional yang kaku. Jika sebelumnya konstruksi bangunan yang harus menyesuaiakn dengan sel surya, kelak sel surya yang menyesuaikan dengan struktur bangunan dan bisa dipasang di bagian manapun.


WAH
Sumber : National Geographic News

MELBOURNE,

 

~ Santa Coloma Dimanfaatkan Lahan Solar Panel

Wuih! Kuburan Dijadikan Lahan "Solar Panel"

MADRID, SENIN -  Konsep pemanfaatkan lahan solar panel di Santa Coloma de Gramenet ini terbilang unik. Santa Coloma, kota kelas pekerja di luar Barcelona, mengubah lahan pemakaman menjadi lautan solar panel. Lautan solar panel ini sekaligus menyulap tempat peristirahatan terakhir menjadi pusat energi tergantikan.  

Santa Coloma, lahan yang datar, terbuka di Santa Coloma sangat langka sehingga hanya lahan pemakaman yang dapat mendukung program energi solar. Tenaga listrik yang dihasilkan 462 solar panel -menghasilkan setara dengan konsumsi energi 60 rumah dalam setahun, dapat memenuhi konsumsi listrik masyarakat sehari-hari, serta dapat ikut memerangi pemanasan global.

"Penghormatan terbaik yang dapat kita berikan kepada nenek moyang kita, apa pun keyakinan Anda, adalah dengan menghasilkan energi bersih untuk generasi-generasi mendatang," ujar Esteve Serret, direktur Conste-Live E nergy, sebuah perusahaan di Spanyol yang menjalankan usaha di bidang pemakaman di Santa Coloma, dan pembaruan energi.

Solar panel tersebut dipasang di baris-baris makam, menghadap ke Selatan. Posisi tersebut merupakan posisi terbaik untuk menyerap sinar matahari. Proyek ini mulai bergulir sejak Rabu ini dan sekaligus menandai puncak pekerjaan yang dilakukan sejak tiga tahun lalu.

Konsep ini muncul sebagai cara untuk mengoptimalkan lahan yang terbentang di sebuah kota yang membutuhkan energi solar. Sayangnya, hampir semua lahan telah digunakan oleh penduduk Santa Coloma yang kini tercatat tak kurang dari 124 ribu jiwa. Alhasil, hampir-hampir tidak ada tempat lapang untuk menempatkan 462 solar panel tersebut.  

"Awalnya, penempatan solar panel tersebut mendapat tentangan dari warga," ujar anggota Dewan Kota Antoni Fogue. "Misalnya, kami mendengar respon seperti, mereka gila. Mereka pikir mereka siapa? Mereka telah kehilangan rasa hormat!" ujar Fouge.  

Namun, Dewan Kota dan pejabat pemakaman terus memberikan kesadaran publik mengenai bernilainya proyek tersebut, serta berjanji akan menjalankannya secara hati-hati. "Akhirnya, proyek tersebut dapat dijalankan," ujar Fogue.  

"Panel tersebut dibangun pada posisi serendah mungkin. Proyek ini tidak akan menimbulkan masalah karena ketika orang pergi ke pemakaman, mereka tidak akan melihat ada hal yang berubah. Pemasangan solar panel sesuai dengan sesuai dengan rasa hormat kepada para mendiang dan keluarga yang ditinggalkan," ujar Fogue.  

Di lahan tersebut, terdapat 57.000 makam, dan solar panel hanya menempati lima persen dari total lahan. Proyek ini telah memakan dana 900 ribu dollar AS, dan setiap tahunnya akan menahan 62 ton karbondioksida keluar dari lapisan atmosfir.  

Menurut Fogue, para pemimpin komunitas tersebut berharap dapat membangun lebih banyak lagi solar panel sehingga dapat menghasilkan energi listrik lebih banyak. Sebelumnya, Santa Coloma memiliki beberapa taman solar panel yang berada di atap bangunan, namun pembangunan di pemakaman merupakan yang terbesar. 

HIN
Sumber : AP
 

~ Gelar Mobil Hibrida Pertama

Toyota Prius Kini Dilengkapi "Solar Panel" 

Sukses dengan gelar mobil hibrida pertama yang diproduksi secara massal, Toyota Prius tak tinggal diam. Penyempurnaan pun terus ditambahkan pada mobil ramah lingkungan yang hemat bahan bakar ini. Satu lagi terobosan yang kini tengah disiapkan untuk dipasangkan dalam Prius next generation adalah "solar panel".

Edisi yang telah diluncurkan sejak bulan Januari lalu, ini akan dilengkapi dengan piranti tambahan untuk mendapatkan sumber energi alternatif.  Menurut harian Nikkei Business, Prius next-genereation akan menjadi kendaraan produksi massal pertama yang menggunakan solar panel.

Disebutkan, sekalipun Prius next-generation dapat menggunakan energi baterai dan mesin listrik dalam keadaan tertentu, namun solar panel yang akan diproduksi oleh Kyocera akan digunakan untuk menjalankan sistem pendingin. Hal ini penting untuk menghemat umur pakai baterai, sehingga selalu harus di-recharge.

Penambahan solar panel akan mengurangi aliran pada drive train hybrid, yang menambahkan (translate) efisiensi bahan bakar hingga beberapa kilometer per liter. Namun dilaporkan pula, penggunaan solar panel baru hanya tersedia pada tipe Prius mutakhir. (C9-08)

Sumber: Kompas.com

 

~ Rumah Yang Ramah Lingkungan Japan Expo 2008

Rumah Ramah Lingkungan dari Jepang

Inilah salah satu pojok yang sayang banget kalau kita lewatin di acara Indonesia Japan Expo 2008. Namanya, Eco House di Hall A. Lihat deh, Eco House buka terus kok selama pameran pada 1-9 November. Dibikin New Energy and Industrial Technology Development Organization (Nedo), inilah rumah yang ramah lingkungan.

Nedo dibentuk Pemerintah Jepang karena negeri itu menyadari betapa pentingnya energi untuk kehidupan manusia. Masalahnya, harga energi tidak saja terus meningkat, tetapi ketersediaannya pun semakin terbatas.

Makanya, mereka mau berpusing-pusing dan capek-capek bikin riset untuk menemukan bentuk energi baru sekaligus menghemat energi yang sudah ada. Beberapa proyek mereka yang heboh banget itu antara lain sel surya yang kapasitasnya 5 megawatt. Ini kira-kira bisa buat listrik 1.700 rumah.

Nah, Eco House ini adalah gabungan dari semua penelitian mereka. Diharapkan, proyek ini bakal menjadi contoh dan inspirasi buat kita-kita untuk menghemat energi atau menggunakan energi baru.

Banyak lho merek-merek terkenal di Jepang bekerja sama dengan Nedo untuk memproduksi secara massal hasil penelitian ini. Mitsubishi, misalnya, sudah membuat baterai kapasitas tinggi litium-ion atau Toshiba yang memproduksi pendingin ruangan hemat energi.

Terbayang kan beberapa tahun lagi kita bakal membeli barang-barang mereka supaya tagihan listrik di rumah gak semakin mahal. Makanya, MuDA-ers pada bikin sendiri juga dong barang-barang yang ramah lingkungan....

Memproduksi sendiri

Ini MuDA daftarin beberapa bentuk teknologi masa depan yang enggak cuma asyik, tetapi juga bikin kita lebih ramah lingkungan. Intinya adalah kita memproduksi energi kita sendiri, memakainya sehemat mungkin, dan meminimalkan jumlah sampah.

Kita mulai dari luar rumah dulu ya. Di halaman ada sel surya dan turbin angin kecil untuk memproduksi listrik. Sementara di bagian atapnya diisi dengan tumbuhan.

Sel Surya. Tujuan utamanya adalah mencapai sesedikit mungkin pengeluaran karbon dari proses pemakaian energi. Oleh karena itu, sistem sel surya yang dibikin Nedo ini mengurangi banget emisi CO2.

Pengurangan dari pemakaian 4.03 kW sel surya Nedo itu sama jumlahnya dengan CO2 yang harus diserap oleh 160 pohon dalam satu tahun. Buat yang mau lihat-lihat lebih jauh, klik aja www.sekisuihouse.co.jp.

Turbin angin kecil. Ukurannya relatif kecil dan terbuat dari karbon ringan, mengadopsi bentuk-bentuk desain Jepang yang sederhana. Bisa digunakan untuk angin dalam kondisi kecepatan dari 3,5 meter per detik sampai 50 meter per detik. Oh ya, kamu bisa lho bikin sendiri di rumah. Beberapa situs menyediakan petunjuknya, seperti http://www.instructables.com/id/DIY- 1000-watt-wind-turbine/.

Hm, yang seru juga adalah atap bertumbuhan. Menurut penelitian, naiknya suhu di ruangan itu karena ada radiasi panas dari bangunan. Ini sebab bangunan tembok dan atapnya menangkap panas matahari, baru diteruskan ke dalam ruangan.

Nah, dengan adanya atap yang ditanami tumbuhan rumput, misalnya, itu bisa menyerap panas. Sekalian, ini juga bisa menurunkan kadar CO2 di udara sebab rumput menyerap CO2 dan menghasilkan O2. Sederhana ya..., enggak jauh dengan pelajaran kita pas SD, he-he....

Di dalam rumah, ada kaca yang bisa didaur ulang. Selama ini kan kaca susah didaur ulang, sebagian besar disebabkan karena komponen non-kaca yang dikandungnya. Namun, teknologi baru membuat pecahan-pecahan kaca bisa didaur ulang menjadi bahan bangunan. Kira-kira hanya lima persen bahan yang harus dibuang.

Ada juga yang namanya lampu cermin. Intinya adalah menyalurkan cahaya matahari ke dalam dudukan di dalam rumah untuk dijadikan lampu. Lampu ini sebenarnya cahaya matahari yang disalurkan seperti air dari luar ke dalam ruangan. Canggih ya.... Mau lihat gambarnya? Klik di www.materialhouse.co.jp.

Untuk layar televisi, ada yang namanya Organic Light Emitting Diode (OLED). Layarnya bisa memendarkan cahaya sendiri. Dengan teknologi ini, televisi jadi tipis banget, sekitar tiga milimeter saja! Selain itu, karena layarnya bisa memendar sendiri, ini artinya penghematan energi juga. Teknologi ini pun digunakan untuk lampu gantung di dalam rumah, apalagi sebaran cahayanya sama seperti sinar matahari. Jadi, bisa lebih bagus dari lampu-lampu buatan yang ada sekarang.

Oh ya, Nedo juga tidak melupakan ruang belajar (maksudnya supaya kita rajin belajar kali). Di ruang belajar ini ada laptop yang terbuat dari bahan bio-plastik, juga printer hemat energi, yang listriknya cuma 14 persen dari printer biasa. Ukurannya juga relatif kecil, berkurang 46 persen dari printer yang ada sekarang, sedangkan beratnya juga turun 19 persen.

Hebatnya, orang-orang Jepang ini walau sudah secanggih itu, tetapi mereka enggak lupa sama budayanya, lho. Di Eco House ini juga ada Tamamushi-no-Zushi, yang merupakan warisan dari 1.400 tahun yang lalu. Ini, lho, sebuah gaya arsitektur yang merupakan tiruan bentuk pagoda dan berada di dalam rumah.

Hmm, segini dulu ya cerita tentang Eco House-nya Jepang. Kalo penasaran, di Indonesia Japan Expo 2008 ada rumah modelnya kok. Ada miniaturnya, ada yang dalam ukuran sebenarnya.

Di sini kita juga bisa ngeliat dan megang-megang kincir angin mini yang dipamerkan. Hm, kapan ya kita bisa bikin seperti itu? Terbayang indahnya rumah gadang dari Sumatera Barat atau honay dari Papua yang ramah energi. Asyik, kan! (EDN)

 

~ Pengembangan Turbin Angin Mini

Mini Wind Turbine

Pengembangan energi terbarukan tidak hanya terpaku pada kapasitas yang dihasilkan (skala besar), melainkan juga dapat dikembangkan dalam skala terkecil. Dengan kata lain, pengembangan sumber energi terbarukan saat ini sudah mencapai dalam skala rumah tangga. Sesuatu yang mungkin dahulu dianggap mustahil, tetapi sekarang semuanya bisa terwujud.

Belum lama ini telah diluncurkan sebuah wind turbine dalam skala kecil, dan hanya ditempatkan di atap rumah saja. Cukup simpel dan efisien bukan? Mini wind turbine tersebut diberi nama Swift Wind Turbine.  Swift Wind Turbine adalah sebuah produk green, mengerakan generator kecil dan dipasangkan diatap rumah. Swift Wind Turbine cukup menjanjikan, dengan bentuk tidak terlalu besar serta hanya menghasilkan suara bising sampai 15dB pada jarak 1 meter diklaim mampu menghasilkan listrik sebesar 2 ribu kWh dalam 1 tahun.

                

Swift Wind Turbine memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

  • Tidak berisik, sehingga aman beroperasi di atap rumah.
  • Pemasangan yang mudah.
  • Aman dan efisien.
  • Desain yang menarik

Instalasi Swift Wind Turbine juga mudah, dapat dipasangkan diatas atap rumah atau gedung dengan mudah. Asalkan ada jarak sekitar 2 feet (sekitar 70 cm) dari atap gedung. Selain suara bising dari turbin yang rendah, Swift Wind Turbine  juga dapat meredam getaran ketika bekerja.

                                

Akan tetapi, mini turbin tersebut masih cukup mahal jika diaplikasikan di Indonesia, dengan harga sekitar $10.000 sampai $12.000 setiap unit (berapa rupiah kira-kira?). Swift Wind Turbine  dikembangkan oleh Swift Wind Turbine dan  baru dipasarkan bulan Juli 2008.

Bagaimana dengan kita, mampukah negara kita (Pemerintah) mengembangkan energi terbarukan (Renewable Energy-RE) sebagai sumber energi alternatif? Indonesia adalah sebuah negara dengan garis pantai yang cukup panjang dengan kapasitas angin rata-rata tahunan yang intermediet (sekitar 9 m/s) dan tingkat pancaran matahari yang cukup tinggi (karena terletak di sekitar khatulistiwa). Sudah banyak peneliti di Indonesia yang melakukan riset dan kajian mengenai RE yang murah dan sesuai dengan kondisi ekonomi dan alam Indonesia. Sekarang, mampukah Pemerintah kita membuat sebuah kebijakan dan bantuan dana (hibah aplikasi) atas energi terbarukan dan alternatif? Ataukah kita masih ingin selalu dipusingkan dengan setiap terjadinya gejolak kenaikan harga BBM? Atau masih belum sadarkah kita semua jika minyak bumi semakin menipis?

Sumber : http://www.obengware.com/news/index.php?id=2351
              http://www.swiftwindturbine.com
 
Halaman 1047 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook