Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut

Membangkit Listrik dengan Bandul Gelombang

GELOMBANG seperti berkejaran menghempas ke Pantai Padang. Riak yang dihembus angin Samudera Hindia itu terus berdebur menciptakan nyanyian khas dari laut, selama berabad-abad. Selama itu pula, kebanyakan orang hanya memandangnya sekedar sebagai ombak yang bergulung dan kemudian pecah ke tepian.

Tidak demikian dengan Zamrisyaf, 48. Pada 1999, ketika menumpang Speed Boat ‘Kuda Laut’ dari Mentawai menuju Padang , ia tercenung lama. Hempasan gelombang yang keras menghantam kapal kecil tersebut menginspirasinya tentang energi lautan yang selama ini terabaikan.

“Saya berpikir, bagaimana caranya memindahkan energi gelombang yang besar itu menjadi energi gerak, sehingga bisa dimanfaatkan menjadi pembangkit tenaga listrik,” katanya kepada Media Indonesia, Rabu (26/7/2006).

Zamrisyaf, lulusan STM Muhammadiyah Padang pada 1976 itu merupakan karyawan Bidang Perencanaan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Sumatra Barat (Sumbar). Ia ditugaskan ke Mentawai untuk mencari kemungkinan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

“Setelah berkeliling Mentawai, kami tidak menemukan sungai atau tenaga air yang bisa dimanfaatkan untuk membangun PLTMH. Sehingga, saya kemudian berpikir, apakah bisa memanfaatkan tenaga gelombang,” kata pria kelahiran 19 September 1958 itu.

Ide tersebut lama mengendap. Sampai akhirnya pada tahun 2002, ketika naik kapal laut dari Padang menuju Jakarta , Zamri terinspirasi melihat lonceng kapal yang berdentang karena kerasnya gelombang.
“Itulah ide awalnya. Bandul yang bergerak karena gelombang!” seru Zamrisyaf. Dia pun bersemangat meneruskan konsep rancangannya. Mulanya dengan membuat gambar dan kemudian berkonsultasi dengan sahabatnya Aidil Zamri, Dosen Politeknik Teknologi, Universitas Andalas.

Aidil kemudian membantu dengan hitungan dan rumus untuk membuat alat yang diinginkan Zamrisyaf. Rancangan itu disusun dalam posisi mengapung di atas permukaan air laut. Temuan yang akhirnya diberi nama Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut Sistem Bandulan (PLTGL-SB) itu akan bergerak mengikuti arus gelombang. Ini membuat bandul yang digantung di alat tersebut selalu bergerak sesuai dengan alur gelombang.

Gerakan bandul yang terus-menerus tersebut menggerak pompa hidraulik type cilender, sehingga memompa fluida dari resevoir ke motor hidraulik. Setelah distabilkan di tabung acumalator selanjutnya tekanan fluida menggerakan motor hidraulik yang langsung memutar dynamo untuk mengeluarkan energi alias daya listrik.

Temuan bapak dari tiga anak tersebut merupakan pertama di dunia dengan memanfaatkan tenaga gelombang sistem bandul. Sebelumnya beberapa negara lain di dunia sudah memanfaatka gelombang laut untuk membangkit tenaga listrik, tapi dengan cara yang berbeda.

Misalnya, dengan memanfaatkan tenaga hempasan gelombang untuk menghasilkan tekanan penggerak dynamo. Atau, sistem gerakan engsel yang kemudian diubah menjadi tenaga listrik. Untuk membuatnya, dibutuhkan biaya lebih mahal bila dibandingkan sistem bandul temuan Zamrisyaf.

Karena ini yang pertama di dunia, temuan tersebut kemudian dipatenkan pada 2002. Zamrisyaf pun mendapat Satya Lencana Pembangunan dari Presiden Megawati Soekarno Putri.

Departemen Sumber Daya Energi dan Mineral pun menguji temuan Zamrisyaf dalam penelitian yang intens di Jakarta. Namun, baru sebatas penelitian. Temuan itu belum diuji dalam skala yang lebih besar karena terbatasnya dana penelitian di negeri ini. “Padahal, jika ini dikembangkan, kita akan mengakhiri krisis energi yang terjadi saat ini,” ujar Zamrisyaf.

Dia memberikan hitungan, untuk areal lautan dengan luas satu kilometer persegi, energi gelombang laut dapat menghasilkan daya listrik sekitar 20 Megawatt (Mw). Jumlah ini sama dengan kekurangan daya listrik di Sumbar saat ini. Investasinya Rp20 juta per Kilowatt (Kw) atau total Rp400 miliar dan sanggup menerangi 40.000 rumah.

“Jumlahnya memang hampir sama dengan membangun PLTA dan PLTU bahkan lebih mahal dibanding diesel. Tapi, setelah beroperasi akan jauh lebih murah, karena tenaga yang digunakan gratis,” katanya.
Namun, menurut Zamrisyaf, sebelum temuan ini dikembangkan dan bermanfaat untuk masyarakat, tak ada gunanya.Bagi dia, penghargaan yang diterima belum seberapa dibanding jika melihat hasil kerjanya bisa berguna.

Sebelumnya, pada era 1980-1983, nama Zamrisyaf pernah cukup terkenal di Sumbar, bahkan di Indonesia. Ketika itu, ia baru beberapa tahun menamatkan STM dan menetap di kampungnya di Nagari Sitalang, Kecamatan Ampek Nagari, Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Karena ingin mandiri dan berpenghasilan sendiri, sulung dari sembilan bersaudara itu mencoba buka bengkel elektronik kecil-kecilan di rumah.

Kendalanya ketika itu, tak ada listrik. Sehingga, Zamrisyaf tak bisa menggunakan solder yang amat diperlukan untuk memperbaiki berbagai peralatan elektronik. Ia kemudian mencoba meloby ayahnya, Syahroel Sutan Sinaro untuk membeli genset sebagai sumber tenaga listrik.
“Awalnya dengan pemikiran, genset itu bisa disewakan juga kepada tetangga yang butuh penerangan listrik. Namun, setelah kami hitung-hitung biaya untuk membeli bahan bakar solar terlalu besar, sehingga akhirnya batal.”

Zamrisyaf kemudian dapat ide ketika melihat kincir air di dekat rumahnya yang biasa digunakan untuk menumbuk padi di lesung. Berbekal keinginan kuat mendapatkan listrik, ia mulai mengutak-atik kincir agar bisa menggerakkan dynamo. Enam bulan lamanya dia mencoba, kegigihan itu akhirnya membuahkan hasil.

Kincir air Zamrisyaf bisa menghasilkan listrik yang bisa menerangi 20 rumah selama 24 jam. Nama Zamrisyaf pun melambung. Media massa ketika itu ramai memberitakan. Menteri, Gubernur (ketika itu) Azwar Anas, silih berganti datang memuji dan berjanji akan menerapkan konsep Zamri ke seluruh Sumbar. Pemuda tersebut pun dijanjikan akan disekolahkan oleh pemerintah.

Namun, janji hanya tinggal janji. Zamrisyaf kemudian dilupakan begitu saja. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi ia kemudian merantau ke Malaysia pada 1983. Ternyata, diam-diam sekelompok wartawan mengusulkan Zamri untuk menerima Kalpataru. Setelah dinilai, ternyata dia mengalahkan 22 nama lainnya yang diusulkan pemda. Pemda Sumbar pun kelimpungan mencarinya ke Malaysia . Karena tak kunjung bertemu, akhirnya Syahroel, ayah Zamrisyaf mewakilinya bertemu Presiden Soeharto untuk menerima penghargaan tersebut.

Zamri sendiri, baru tahu kabar itu setelah mendengar radio di Malaysia. Media massa , ketika itu ribut menyalahkan pemda. Untuk menebus hal itu, Gubernur Azwar Anas memanggilnya pulang. Oleh Azwar, Zamri direkomendasikan menjadi karyawan PLN.

“Tanggung jawab itu, kemudian melekat pada diri saya. Saya ingin agar bisa memanfaatkan sumber energi lain yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik,” ujarnya. (Hendra Makmur)

 

 

~ Energi Surya sebagai Sumber Energi Alternatif Masa Depan

Energi Surya: Alternatif Sumber Energi Masa Depan di Indonesia

Jika kita melihat tingkat konsumsi energi di seluruh dunia saat ini, penggunaan energi diprediksikan akan meningkat sebesar 70 persen antara tahun 2000 sampai 2030. Sumber energi yang berasal dari fosil, yang saat ini menyumbang 87,7 persen dari total kebutuhan energi dunia diperkirakan akan mengalami penurunan disebabkan tidak lagi ditemukannya sumber cadangan baru.

Cadangan sumber energi yang berasal dari fosil diseluruh dunia diperkirakan hanya sampai 40 tahun untuk minyak bumi, 60 tahun untuk gas alam, dan 200 tahun untuk batu bara. Kondisi keterbatasan sumber energi di tengah semakin meningkatnya kebutuhan energi dunia dari tahun ketahun (pertumbuhan konsumsi energi tahun 2004 saja sebesar 4,3 persen), serta tuntutan untuk melindungi bumi dari pemanasan global dan polusi lingkungan membuat tuntutan untuk segera mewujudkan teknologi baru bagi sumber energi yang terbaharukan.

Di antara sumber energi terbaharukan yang saat ini banyak dikembangkan [seperti turbin angin, tenaga air (hydro power), energi gelombang air laut, tenaga surya, tenaga panas bumi, tenaga hidrogen, dan bio-energi], tenaga surya atau solar sel merupakan salah satu sumber yang cukup menjanjikan.

Energi yang dikeluarkan oleh sinar matahari sebenarnya hanya diterima oleh permukaan bumi sebesar 69 persen dari total energi pancaran matahari. Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3 x 1024 joule pertahun, energi ini setara dengan 2 x 1017 Watt. Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0,1 persen saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10 persen sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini.

Energy surya atau dalam dunia internasional lebih dikenal sebagai solar cell atau photovoltaic cell, merupakan sebuah divais semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari rangkaian dioda tipe p dan n, yang mampu merubah energi sinar matahari menjadi energi listrik.

Pengertian photovoltaic sendiri merupakan proses merubah cahaya menjadi energi listrik. Oleh karena itu bidang penelitian yang berkenaan dengan energi surya ini sering juga dikenal dengan penelitian photovoltaic. Kata photovoltaic sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Yunani photos yang berarti cahaya dan volta yang merupakan nama ahli fisika dari Italia yang menemukan tegangan listrik. Sehingga secara bahasa dapat diartikan sebagai cahaya dan listrik  photovoltaic.

Efek photovoltaic pertama kali berhasil diidentifikasi oleh seorang ahli Fisika berkebangsaan Prancis Alexandre Edmond Becquerel pada tahun 1839. Atas prestasinya dalam menemukan fenomena photovoltaic ini, Becquerel mendapat Nobel fisikia pada tahun 1903 bersama dengan Pierre dan Marrie Currie.

Baru pada tahun 1883 divais solar sel pertama kali berhasil dibuat oleh Charles Fritts. Charles Fritts saat itu membuat semikonduktor Selenium yang dilapisi dengan lapisan emas yang sangat tipis sehingga berhasil membentuk rangkaian seperti hubungan semikonduktor tipe p dan tipe n. Pada saat itu efisiensi yang didapat baru sekitar 1 persen. Pada perkembangan berikutnya seorang peneliti bernama Russel Ohl dikenal sebagai orang pertama yang membuat paten tentang divais solar sel modern.

Efisiensi divais solar sel dan harga pembuatan solar sel merupakan masalah yang paling penting untuk merealisasikan solar sel sebagai sumber energi alternatif. Efisiensi didefinisikan sebagai perbandingan antara tenaga listrik yang dihasilkan oleh divais solar sel dibandingkan dengan jumlah energi yang diterima dari pancaran sinar matahari.
.
Pada tengah hari yang cerah radiasi sinar matahari mampu mencapai 1000 watt permeter persegi. Jika sebuah divais semikonductor seluas satu meter persegi memiliki efisiensi 10 persen maka modul solar sel ini mampu memberikan tenaga listrik sebesar 100 watt. Saat ini modul solar sel komersial berkisar antara 5 hingga 15 persen tergantung material penyusunnya. Tipe silikon kristal merupakan jenis divais solar sel yang memiliki efisiensi tinggi meskipun biaya pembuatannya relatif lebih mahal dibandingkan jenis solar sel lainnya.

Pembangkit energi surya sebenarnya tergantung pada efisiensi mengkonversi energi dan konsentrasi sinar matahari yang masuk ke dalam sel tersebut. Professor Smalley, peraih Nobel bidang kimia atas prestasinya menemukan Fullerene, menyatakan bahwa teknologi nano menjanjikan peningkatan efisiensi dalam pembuatan sel surya antara 10 hingga 100 kali pada sel surya. Smalley menambahkan bahwa cara terbaik untuk mendapatkan energi surya secara optimal telah terbukti ketika sel surya dimanfaatkan untuk keperluan satelit ruang angkasa dan alat alat yang diletakkan di ruang angkasa. Penggunaan sel surya dengan meletakkannya di ruang angkasa dapat dengan baik dilakukan karena teknologi nano diyakini akan mampu menciptakan material yang super kuat dan ringan yang mampu bertahan di ruang angkasa dengan efisiensi yang baik.

Perkembangan yang menarik dari teknologi sel surya saat ini salah satunya adalah sel surya yang dikembangkan oleh Michael Gratzel. Gratzel memperkenalkan tipe solar sel photokimia yang merupakan jenis solar sel exciton yang terdiri dari sebuah lapisan partikel nano (biasanya titanium dioksida) yang di endapkan dalam sebuah perendam (dye). Jenis ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1991 oleh Gratzel, sehingga jenis solar sel ini sering juga disebut dengan sel Gratzel atau dye-sensitized solar cells (DSSC).

Sel Gratzel dilengkapi dengan pasangan redoks yang diletakkan dalam sebuah elektrolit (bisa berupa padat atau cairan). Komposisi penyusun solar sel seperti ini memungkinkan bahan baku pembuat sel Gratzel lebih fleksibel dan bisa dibuat dengan metode yang sangat sederhana seperti screen printing.

Meskipun solar sel generasi ketiga ini masih memiliki masalah besar dalam hal efisiensi dan usia aktif sel yang masih terlalu singkat, solar sel jenis ini diperkirakan mampu memberi pengaruh besar dalam sepuluh tahun ke depan mengingat harga dan proses pembuatannya yang sangat murah.

Indonesia sebenarnya sangat berpotensi untuk menjadikan solar sel sebagai salah satu sumber energi masa depannya mengingat posisi Indonesia pada khatulistiwa yang memungkinkan sinar matahari dapat optimal diterima di permukaan bumi di hampir seluruh Indonesia.

Berdasarkan perhitungan Mulyo Widodo, dosen Teknik Mesin ITB yang mengembangkan solar sel merk SOLARE di pasar komersial Indonesia, dalam kondisi puncak atau posisi matahari tegak lurus, sinar matahari yang jatuh di permukaan panel surya di Indonesia seluas satu meter persegi akan mampu mencapai 900 hingga 1000 Watt. Lebih jauh pakar solar sel dari Jurusan Fisika ITB Wilson Wenas menyatakan bahwa total intensitas penyinaran perharinya di Indonesia mampu mencapai 4500 watt hour per meter persegi yang membuat Indonesia tergolong kaya sumber energi matahari ini. Dengan letaknya di daerah katulistiwa, matahari di Indonesia mampu bersinar hingga 2.000 jam pertahunnya.

Dengan kondisi yang sangat potensial ini sudah saatnya pemerintah dan pihak universitas membuat satu pusat penelitian solar sel agar Indonesia tidak kembali hanya sebagai pembeli divais solar sel di tengah melimpahnya sinar matahari yang diterima di bumi Indonesia.

Oleh :
Brian Yuliarto, peneliti ISTECS, saat ini sebagai postdoctoral fellow di Energy Technology Research Institute, AIST Japan.

 

~ Listrik Tenaga Angin Dan Gelombang Air Laut

Listrik Tenaga Bayu Jangkau Pedesaan 

Listrik tenaga bayu (angin) dan tenaga gelombang arus laut, menurut Kepala BPPT Said D. Jenie, ditargetkan pada tahun 2010 akan menjangkau desa-desa yang selama ini belum mendapat aliran listrik.

"Kami menargetkan energi bayu berkapasitas 100-200 kilowatt dengan teknologi material turbin yang kuat, ringan, dan ulet bisa mengaliri listrik ke desa-desa," kata Jenie, di Jakarta, Rabu, seperti dilaporkan Antara.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa saat ini BPPT sedang mencari teknologi material bahan turbin yang ringan agar bisa bergerak dengan kecepatan angin yang tidak terlalu besar, seperti yang ada di kebanyakan daerah di Pulau Jawa.

Tantangan terbesar BPPT saat ini, menurut dia, adalah menemukan material turbin yang ringan dan bisa dibuat lebih panjang, agar bisa dipasang di Pulau Jawa yang kecepatan anginnya relatif rendah.

Selain tenaga bayu, BPPT juga tengah mengkaji teknologi gelombang arus air laut untuk mengaliri listrik desa-desa di kawasan pesisir pantai.

"Saat ini tengah dikembangkan pembangkit listrik berkekuatan 10-15 kilovolt untuk memasok listrik bagi pedesaan di kawasan pesisir," katanya.

Jenie menegaskan, pada tahun 2010 kedua jenis energi terbarukan itu ditargetkan sudah bisa digunakan untuk mengalirkan listrik ke desa-desa, selain teknologi biofuel yang saat ini tengah dikembangkan. (*)

Sumber : investorindonesia.com, 23 Agustus 2007

 

 
 

~ PLT Ombak Sebagai Solusi Krisis

Pembangkit listrik tenaga ombak

Krisis energi telah diprediksikan akan melanda dunia pada tahun 2015. Hal ini dikarenakan semakin langkanya minyak bumi dan semakin meningkatnya permintaan energi. Untuk itu diperlukan sebuah terobosan untuk memanfaatkan energi lain, selain energi yang tidak terbarukan. Karena kalau kita tergantung pada energi tidak terbarukan, maka di masa depan kita juga akan kesulitan untuk memanfaatkan energi ini karena keterbatasan populasi dari energi tersebut.

Untuk itu kita akan mencoba menggali informasi tentang tenaga ombak yang sebenarnya sudah dimanfaatkan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemerintah Norwegia sejak tahun 1987, terlihat bahwa banyak daerah-daerah pantai yang berpotensi sebagai pembangkit listrik bertenaga ombak. Ombak di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa, di atas Kepala Burung Irian Jaya, dan sebelah barat Pulau Sumatera sangat sesuai untuk menyuplai energi listrik. Kondisi ombak seperti itu tentu sangat menguntungkan, sebab tinggi ombak yang bisa dianggap potensial untuk membangkitkan energi listrik adalah sekitar 1,5 hingga 2 meter, dan gelombang ini tidak pecah hingga sampai di pantai.
Potensi tingkat teknologi saat ini diperkirakan bisa mengonversi per meter panjang pantai menjadi daya listrik sebesar 20-35 kW (panjang pantai Indonesia sekitar 80.000 km, yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau, dan sekitar 9.000 pulau-pulau kecil yang tidak terjangkau arus listrik nasional, dan penduduknya hidup dari hasil laut). Dengan perkiraan potensi semacam itu, seluruh pantai di Indonesia dapat menghasilkan lebih dari 2~3 Terra Watt Ekuivalensi listrik, bahkan tidak lebih dari 1% panjang pantai Indonesia (~800 km) dapat memasok minimal ~16 GW atau sama dengan pasokan seluruh listrik di Indonesia tahun ini.

Untuk sistem mekaniknya, PLTO dikenal memakai teknologi OWC (Oscillating Wave Column). Untuk OWC ini ada dua macam, yaitu OWC tidak terapung dan OWC terapung. Untuk OWC tidak terapung prinsip kerjanya sebagai berikut. Instalasi OWC tidak terapung terdiri dari tiga bangunan utama, yakni saluran masukan air, reservoir (penampungan), dan pembangkit. Dari ketiga bangunan tersebut, unsur yang terpenting adalah pada tahap pemodifikasian bangunan saluran masukan air yang tampak berbentuk U, sebab ia bertujuan untuk menaikkan air laut ke reservoir.

Bangunan untuk memasukkan air laut ini terdiri dari dua unit, kolektor dan konverter. Kolektor berfungsi menangkap ombak, menahan energinya semaksimum mungkin, lalu memusatkan gelombang tersebut ke konverter. Konverter yang didesain berbentuk saluran yang runcing di salah satu ujungnya ini selanjutnya akan meneruskan air laut tersebut naik menuju reservoir. Karena bentuknya yang spesifik ini, saluran tersebut dinamakan tapchan (tappered channel).
Setelah air tertampung pada reservoir, proses pembangkitan listrik tidak berbeda dengan mekanisme kerja yang ada pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Air yang sudah terkumpul itu diterjunkan ke sisi bangunan yang lain. Energi potensial inilah yang berfungsi menggerakkan atau memutar turbin pembangkit listrik. OWC ini dapat diletakkan di sekitar ~50 m dari garis pantai pada kedalaman sekitar ~15 m.
Selain OWC tidak terapung, kita juga mengenal OWC tidak terapung lain seperti OWC tidak terapung saat air pasang. OWC ini bekerja pada saat air pasang saja, tapi OWC ini lebih kecil. Hasil survei hidrooseanografi di wilayah perairan Parang Racuk menunjukkan bahwa sistem akan dapat membangkitkan daya listrik optimal jika ditempatkan sebelum gelombang pecah atau pada kedalam 4-11 meter. Pada kondisi ini akan dapat dicapai putaran turbin antara 3000-700 rpm.
Posisi prototip II OWC (Oscillating Wave Column) masih belum mencapai lokasi minimal yang disyaratkan, karena kesulitan pelaksanaan operasional alat mekanis. Posisi ideal akan dicapai melalui pembangunan prototip III yang berupa sistem OWC apung. Untuk OWC terapung, prinsip kerjanya sama seperti OWC tidak terapung, hanya saja peletakannya yang berbeda.

Energi tidal juga merupakan salah satu macam dari energi ombak. Kelemahan energi ini diantaranya adalah membutuhkan alat konversi yang handal yang mampu bertahan dengan kondisi lingkungan laut yang keras yang disebabkan antara lain oleh tingginya tingkat korosi dan kuatnya arus laut.
Saat ini baru beberapa negara yang yang sudah melakukan penelitian secara serius dalam bidang energi tidal, diantaranya Inggris dan Norwegia.
Di Norwegia, pengembangan energi ini dimotori oleh Statkraft, perusahaan pembangkit listrik terbesar di negara tersebut. Statkraft bahkan memperkirakan energi tidal akan menjadi sumber energi terbarukan yang siap masuk tahap komersial berikutnya di Norwegia setelah energi hidro dan angin. Keterlibatan perusahaan listrik besar seperti Statkraft mengindikasikan bahwa energi tidal memang layak diperhitungkan baik secara teknologi maupun ekonomis sebagai salah satu solusi pemenuhan kebutuhan energi dalam waktu dekat.


SUMBER geton.nedw.org/pembangkit-listrik-tenaga-ombak/gerakan-tolak-nuklir

Oleh EKO SARJONO
 

~ Gelombang Laut Berpotensi Sebagai Energi Listrik

Mengubah Gelombang Laut Jadi Energi Listrik

GELOMBANG laut seperti berkejaran menghempas ke Pantai Padang. Riak yang dihembus angin Samudra Hindia itu terus berdebur menciptakan nyanyian khas dari laut, selama berabad-abad.

Selama itu pula, kebanyakan orang hanya memandangnya sekadar sebagai ombak yang bergulung dan kemudian pecah ke tepian. Tetapi, tidak demikian bagi Zamnisyaf, 48.
Tujuh tahun lalu, ketika karyawan Bidang Perencanaan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sumatra Barat ini menumpang speed boat ‘Kuda Laut’ dan Mentawai menuju Padang, ia termenung lama. Hempasan gelombang yang keras menghantam kapal kecil tersebut menginspirasinya tentang energi lautan yang selama ini terabaikan.

“Saya berpikir, bagaimana caranya memindahkan energi gelombang yang besar itu menjadi energi gerak, sehingga bisa dimanfaatkan menjadi pembangkit tenaga listrik,” katanya kepada Media Indonesia, Rabu (26/7).Saat itu, Zamrisyaf ditugaskan ke Mentawai untuk mencari kemungkinan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Setelah berkeliling Mentawai, kami tidak menemukan sungai atau tenaga air yang bisa dimanfaatkan untuk membangun PLTMH, sehingga saya kemudian berpikir, apakah bisa memanfaatkan tenaga gelombang,” kata pria kelahiran 19 September 1958 itu.
Ide tersebut lama mengendap Sampai akhirya pada 2002, ketika naik kapal laut dan Padang menuju Jakarta, Zamrisyaf terinspirasi melihat lonceng kapal yang berdentang karena kerasnya gelombang.

“Itulah ide awalnya. Bandul yang bergerak karena gelombang!” seru Zamrisyaf. Dia pun bersemangat meneruskan konsep rancangannya. Mulanya dengan membuat gambar dan kemudian berkonsultasi dengan sahabatnya, Aidil Zamri, dosen Politeknik Teknologi, Universitas Andalas.

Aidil kemudian membantu dengan hitungan dan rumus untuk membuat alat yang diinginkan Zamrisyaf. Rancangan itu disusun dalam posisi mengapung di atas permukaan air laut. Temuan yang akhirnya diberi nama Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut Sistem Bandulan (PLTGL-SB) itu akan bergerak mengikuti arus gelombang. Ini membuat bandul yang digantung di alat tersebut selalu bergerak sesuai dengan alur gelombang.

Gerakan bandul yang teru-menerus tersebut menggerak pompa hidraulik tipe silinder, sehingga memompa fluida dari resevoir ke motor hidrolik. Setelah distabilkan di tabung acumalator selanjutnya tekanan fluida menggerakkan motor hidraulik yang langsung memutar dinamo untuk mengeluarkan energi alias daya listrik.

Dalam suatu uji coba di Pantai Padang, Desember 2003, perangkat kerasnya berupa perahu atau ponton. Di atas ponton ada tiang besi tempat bandulan (mirip bandulan jam dinding) dengan ayunan bandul 30 derajat. Sumbu pada lengan bandulan disatukan dengan roda freewheel, bak roda sepeda.

Untuk mendatangkan kelipatan kecepatan,freewheel dihubungkan dengan rantai ke roda transmisi, lalu dirangkai dengan vbeel ke satu atau dua roda gila, untuk selanjutnya dihubungkan ke dinamo, yang akan memproduksi listrik.

Model PLTGL itu lalu diletakkan di bibir pantai. Dalam uji coba tersebut, PLTGL model Zamrisyaf mampu menghasilkan daya listrik tiga kilowatt dan menerangi 20 rumah di desa nelayan.

Departemen Sumber Daya Energi dan Mineral pun menguji temuan Zamnisyaf dalam penelitian yang intens di Jakarta. Namun, baru sebatas penelitian.
“Padahal, jika ini dikembangkan, kita akan mengakhiri krisis energi yang terjadi saat ini,” ujar Zamrisyaf.

Dia memberikan hitungan, untuk areal lautan dengan luas 1 kilometer persegi, energi gelombang laut dapat menghasilkan daya listrik sekitar 20 megawatt (Mw). Jumlah ini sama dengan kekurangan daya listrik di Sumbar saat Investasinya Rp20 juta per kilowatt (Kw) atau total Rp400 miliar dan sanggup menerangi 40000 rumah.

Namun, menurut Zamnisyaf, sebelum temuan ini dikembangkan dan bermanfaat untuk masyarakat, tak ada gunanya. Bagi dia, penghargaan yang diterima belum seberapa dibanding jika melihat hasil kerjanya bisa berguna.

Berkat temuan PLTGL itu, suami Erliza, serta ayah dan Rina Astniyeni, 20, Madya Detni
Erlanda, 17, dan Nining Tridila Suwasti, 16, sering diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan hasil percobaan itu.

Akhir Januari 2004, lulusan STM itu tampil bareng dengan 20 peneliti lainnya (hasil seleksi dan sekitar 58 proposal yang masuk ke BPPT).

Temuan Zamrisyaf adalah pertama di dunia dengan memanfaatkan tenaga gelombang sistem bandul. Sebelumnya beberapa negara lain di dunia sudah memanfaatkan gelombang laut untuk membangkit tenaga listrik, tapi dengan cara yang berbeda.

Misalnya, dengan memanfaatkan tenaga hempasan gelombang untuk menghasilkan tekanan penggerak dinamo. Atau, sistem gerakan engsel yang kemudian diubah menjadi tenaga listrik. Untuk membuatnya, dibutuhkan biaya lebih mahal bila dibandingkan sistem bandul temuan Zamrisyaf.

Zamrisyaf muda tergolong anak yang kreatif dan selalu mencoba-coba hal yang baru. Pada era 1980-1983, usai menamatkan STM dan menetap di kampungnya di Nagari Sitalang, Kecamatari Ampek Nagari, Lubuk Basung, Kabupaten Again, sulung dan sembilan bersaudara itu membuka bengkel elektromk kecil-kecilan di rumah.

Kendalanya ketika itu, tak ada listrik sehingga Zamrisyaf tak bisa menggunakan solder yang amat diperlukan untuk memperbaiki berbagai peralatan elektronik. Ta kemudian melobi ayahnya, Syahroel Sutan Sinaro untuk membeli genset sebagai sumber tenaga listrik.

“Awalnya dengan pemikiran, genset itu bisa disewakan juga kepada tetangga yang butuh penerangan listrik. Namun, setelah kami hitung- hitung biaya untuk membeli bahan bakar solar terlalu besar, sehingga akhirnya batal.”

Zamrisyaf dapat ide ketika melihat kincir air di dekat rumahnya yang biasa digunakan untuk menumbuk padi di lesung. Berbekal keinginan kuat mendapatkan listrik, ia mulai mengutak-atik kincir agar bisa menggerakkan dinamo. Enam bulan lamanya dia mencoba, kegigihan itu akhimya membuahkan hasil. Kincir air Zamrisyaf bisa menghasilkan listrik yang bisa menerangi 20rumah selama 24 jam. Nama Zamrisyaf pun melambung.

Sejak itu nama Zamrisyaf menghiasi sejumlah mas media, baik lokal maupun nasional. Dia berkali-kali diundang Gubernur Sumbar, waktu itu Azwar Arias, untuk presentasi di hadapan menteri, antara lain Menteri Koperasi Bustanul Arifin, Menteri Negara Lingkungan Hidup Emil Salim, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Harun Zain, serta Menteri Perindustrian AR Suhud. Gubernur berjanji akan mempercayakan kepadanya untuk mengembangkan 4.000 unit kincir air di Sumbar guna dijadikan pembangkit listrik. Ternyata itu hanya sekadar janji.

Kecewa dengan janji pemerintah daerah, pada 1983 Zamrisyaf merantau ke Malaysia. Ternyata, diaindiam sekelompok wartawan mengusulkan Zamrisyaf untuk menerima Kalpataru. Setelah dinilai, ternyata dia mengalahkan 22 nama Iainnya yang diusulkan pemda.

Pemda Sumbar pun kelimpungan mencarinya ke Malaysia. Karena tak kunjung bertemu, akhimya SyahroeL ayah Zamrisyaf mewakilinya bertemu Presiden Soeharto, 5 Juli 1983.
Zamri sendiri, baru tahu kabar itu setelah mendengar radio di Malaysia. Media massa, ketika itu ribut menyalahkan pemda. Untuk menebus hal itu, Gubernur Azwar Arias memanggilnya pulang, kemudian direkomendasikan menjadi karyawan PLN.

“Tanggung jawab itu, kemudian melekat pada diri saya. Saya ingin agar bisa memanfaatkan sumber energi lain yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik,” ujarnya.

Awal 2002 ia diundang Presiden Megawati ke Istana Negara. Di sana Zamrisyaf mencoba memperkenalkan temuan baru berupa teknologi PLTGL. Tanggal 5 November 2002 ia kembali diundang Presiden untuk menerima Tanda Kehormatan Satya rencana Pembangunan.
posted by Awang Riyadi @ 3:01 PM
 
Halaman 678 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook