Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Di Pulau Terpencil Dipasang 1200 Unit PLTS

1.200 Unit PLTS Diprioritaskan di Pulau Terpencil

Sebanyak 1.200 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) akan dipasang di sejumlah desa di Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tahun ini. Pemasangan PLTS dipriorotaskan di desa yang sama sekali belum teraliri listrik dan berada di pulau-pulau terpencil.

Pejabat Pembuat Komitmen Listrik Perdesaan Babel Kristo Gultom mengatakan program bantuan murni pemerintah pusat ini akan direalisasikan sekitar triwulan ketiga 2007.

“Saat ini Lembaga Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral tengah menyiapkan tender pengadaan PLTS. Kami nanti akan bekerjasama dengan Dinas Pertambangan dan Energi Babel serta pemerintah kabupaten untuk menyurvei desa-desa di pulau terpencil,” ucap Kristo, Selasa (17/4).

Tahun 2004, jumlah PLTS yang sudah terpasang sebanyak 44 unit di dua desa. Tahun 2005, jumlah pemasangan PLTS bertambang menjadi 1.153 unit yang tersebar di 30 desa. Rumah yang mendapat prioritas pemasangan listrik adalah rumah milik aparat desa dan fasilitas umum.

Sumber : 1.200 Unit PLTS Diprioritaskan di Pulau Terpencil

 

 KOMPAS 


 

~ PLTS Swadaya Lokal Dikembangkan ITB

ITB Kembangkan PLTS Swadaya Lokal

Institut Teknologi Bandung mengembangkan teknologi pembangkit listrik tenaga sampah atau PLTS berbasis swadaya lokal, yaitu seluruh komponen, peralatan, dan teknologi berasal dari dalam negeri.

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Babakan menjadi lokasi proyek percontohan program tersebut. Proyek pengembangan PLTS berbasis swadaya lokal ini digarap Pusat Rekayasa Industri ITB dan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sebagai tahap awal PLN menginvestasikan dana Rp 8 miliar untuk membangun PLTS skala mikro di TPA Babakan, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung.

Menurut Kepala Pusat Rekayasa Industri ITB Ari Darmawan Pasek, proyek itu sekaligus dijadikan pusat laboratorium pengembangan teknologi energi berbahan bakar sampah. Realisasinya akan dimulai tahun 2008.

Ari mengatakan, TPA Babakan akan menjadi tempat pembelajaran yang sangat baik untuk pengembangan PLTS dalam negeri. Proyek ini merupakan yang pertama di Indonesia. Dalam mengembangkan desain dan konsep kerja PLTS, Pusat Rekayasa Industri juga melibatkan sejumlah mahasiswa ITB.

Berbeda dengan PLTS Gedebage, seluruh komponen PLTS Babakan dipasok dari dalam negeri, yaitu boiler (tungku pemanas) dari PT Dinamika Energitama Nusantara; turbin dari PT Nusantara Turbin; propulsi generator dari PT Pindad; dan balance of plant (peralatan pendukung) disediakan PT PLN Jasa dan Produksi.

"Untuk sementara, PLTS ini baru bisa menghasilkan 350 kilowatt (KW) karena keterbatasan turbin. Mudah-mudahan ke depan bisa meningkatkan kemampuannya," paparnya.

PLTS ini dirancang menghasilkan tenaga listrik sebesar 500 KW. Sementara luas lahan yang dipergunakan 2 hektar. Untuk menghasilkan listrik seperti ditargetkan, PLTS ini membutuhkan pemasukan sampah sebanyak 60-80 ton per hari. Sampah itu seluruhnya dari Kabupaten Bandung.

Menurut Ari, PLTS itu idealnya berkapasitas pembangkit minimal 2-3 megawatt (MW). Namun, untuk membuat PLTS dengan kapasitas sebesar itu, diperlukan dana yang relatif besar.

Dana yang dibutuhkan mencapai 5 juta dollar AS per MW, atau lima kali lipat dari nilai investasi pembangkit listrik tenaga uap. "Yang paling penting, bagaimana pengolahan sampahnya. Ini terkait soal lingkungan," ujarnya. 

Bandung, Kompas -
 

~ Mengangkat Air Melalaui PLTS

Ilustrasi: Nantinya, air dari PLTS diperkirakan mengalir dengan debit air 0,3 liter per detik selama enam jam dalam sehari. Menurut Koordinator KKN UGM di Desa Giriharjo Gama Hafizh Aditya, pengangkatan air ini terlaksana dengan melibatkan 26 mahasiswa Jurusan Teknik Fisika, UGM.
KKN UGM Bantu Angkat Air Lewat PLTS

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada (KKN-UGM) membantu masyarakat Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul, untuk mengangkat air lewat Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS.

Program pengangkatan air di tiga dusun yaitu Dusun Banyumeneng I, Banyumeneng II, dan Banyumeneng III itu sepenuhnya melibatkan masyarakat agar tumbuh rasa memiliki. Pelibatan masyarakat itu terutama terlihat dari maraknya sistem gotong-royong yang digelar selama satu bulan penuh.

Tanpa dibayar, warga secara bergantian menyisihkan waktu supaya bisa terlibat dalam pemasangan pipa maupun jaringan PLTS. Mahasiswa KKN UGM juga mengajak warga berdiskusi tentang tata cara pengelolaan air maupun transfer teknologi PLTS.

Sosialisasi tentang PLTS pun telah digelar pada satu bulan sebelum pemasangan jaringan PLTS. Sebanyak 12 panel surya akan dipasang bagi pemenuhan kebutuhan air 56 kepala keluarga di tiga RT yang selama ini belum teraliri jaringan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Nantinya, air dari PLTS diperkirakan mengalir dengan debit air 0,3 liter per detik selama enam jam dalam sehari. Menurut Koordinator KKN UGM di Desa Giriharjo Gama Hafizh Aditya, pengangkatan air ini terlaksana dengan melibatkan 26 mahasiswa Jurusan Teknik Fisika, UGM.

"Kami tak hanya sekadar membantu, tetapi juga ingin memberdayakan masyarakat. Pengenalan teknologi ini juga dibarengi dengan penumbuhan rasa kepemilikan," ungkap Gama, Senin (10/8).

Sementara itu, dosen Teknik Fisika UGM Ahmad Agus Setiawan mengungkapkan, bahwa pendanaan utama pengangkatan air tersebut berasal dari badan pendidikan dunia UNESCO. Pada 2007 lalu, Komunitas Mahasiswa Sentra Energi Teknik Fisika berhasil memenangkan 'Mondialogo Engineering Award' dengan hadiah sejumlah uang yang harus digunakan untuk pembangunan masyarakat.

Saat ini, organisasi masyarakat pengelola aliran air dari PLTS telah terbentuk. Organisasi Pengelola Air Kali Gede atau OPAKs tersebut sedang menggodok tentang besaran tarif air. Tarif itu, menurut Ketua OPAKs Suryanto, tidak akan lebih mahal dari aliran air PDAM. Apalagi, kedua jaringan air sama-sama memanfaatkan cadangan air dari Kali Gede.

Kepala Dusun Banyumeneng I Sukiran memperkirakan, harga air nantinya akan berkisar antara Rp 200 sampai Rp 300 per jeriken. Ke depannya, UGM masih akan mendampingi masyarakat terutama dengan pengiriman kembali mahasiswa KKN untuk pemantauan keberlanjutan dari PLTS. Warga pun mengaku sudah bisa mandiri setelah memperoleh pembekalan tentang perawatan dan pengelolaan PLTS.

Laporan wartawan KOMPAS Mawar Kusuma Wulan

Sumber : KOMPAS

 

~ Panel Surya Atasi Krisis Listrik

 PLTS Atasi Krisis Listrik di Kaltim

Pemasangan panel surya amat berpotensi mengatasi krisis listrik di Kalimantan Timur. Panel surya di setiap rumah mampu menggantikan peran mesin pembangkit mini berbahan bakar minyak yang menghabiskan biaya besar.

"Kami mendukung pengadaan listrik secara mandiri salah satunya lewat panel surya," kata Wakil Gubernur Kaltim Farid Wadjdy saat Peresmian Proyek Pilot Listrik Tenaga Surya di Kantor Gubernur Kaltim, Kota Samarinda, Selasa (27/10).

Proyek itu diprakarsai oleh perusahaan minyak dan gas bumi Total E&P Indonesie untuk warga Desa Muarapantuan, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara. Desa yang berada di wilayah operasi perusahaan asal Perancis itu cuma bisa dijangkau dengan perahu cepat sebab berada di Delta Mahakam, kawasan pesisir berhutan bakau.

"Ada sembilan puluh keluarga segera memasang panel surya secara mandiri," kata Vice President Corporate Community, Government Relation, and CSR Total E&P Indonesie, Judith Navarro Dipodiputro.

Total E&P Indonesie siap melatih dan mendampingi warga agar nantinya bisa memakai dan merawat panel surya. Perusahaan juga menjadi penjamin kredit kepada bank-bank yang bersedia menyalurkan kredit pembelian panel surya Rp 10 juta per unit.

 SAMARINDA, KOMPAS.

 

 

~ 2010 Diperkirakan PLTS Piyungan Selesai

PLTS Piyungan Diperkirakan Selesai 2010

Pembangunan instalasi penangkap gas metan yang rencananya dimulai akhir 2008 lalu di tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan Bantul, diperkirakan baru bisa terealisir tahun 2010. Sebab, Shimizu sebagai investor, baru bisa mendapatkan sertifikat Kyoto Protocol yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, paling cepat pertengahan tahun ini.

Demikian dikemukakan Gendut Sudarto, Sekretaris Daerah Pemkab Bantul, Senin (27/4). Sertifikat ini, terang dia, adalah bentuk perwujudan kesepakatan negara-negara-negara maju untuk mengurangi gas buang limbah industri. Negara atau pihak swasta yang bisa dan mau berkomitmen mengurangi gas buang limbah industri akan mendapat imbalan sejumlah uang dari PBB.

"Februari lalu, Pemkab dan Shimizu sudah bertemu dengan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Apa yang nanti dilakukan Shimizu dan bentuk kerja samanya dengan Pemkab, sudah dipaparkan. KLH telah menyatakan setuju," kata Gendut, Senin (27/4).

Shimizu, investor asal Jepang, berencana membangun instalasi penangkap metan, yakni gas kimia beracun hasil pembusukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan, Bantul. Gas metan berbahaya jika terhirup, serta sangat merusak lapisan ozon di udara alias mengakibatkan pemanasan global. Nota kesepahaman penggarapan proyek oleh Shimizu, sudah ditandatangani April 2008. Diwacanakan, nanti juga berdiri pabrik pupuk kompos.

Seperti pernah disampaikan Ferry Anggoro Suryokusumo, Manajer Sekretariat Bersama Yogyakarta, Sleman, Bantul, (Sekber Kartamantul)-yang membawahi pengelolaan TPA Piyungan-beberapa waktu lalu, gas metan bisa ditangkap jika ketinggian sampah sudah empat meter.

Dengan kenyataan bahwa sampah di TPA Piyungan saat ini sudah lebih dari 25 meter, pasti banyak gas metan yang bisa ditangkap, untuk diolah. Hasil olahan g as metan bisa digunakan sebagai alternatif sumber listrik dan bahan bakar.

TPA Piyungan-seluas 10 hektar-saat ini terisi 80-85 persen. Memang nanti akan dibangun TPA baru disamping TPA lama sebagai antisipasi TPA lama yang penuh tahun 2012, jika tak ada upaya pengolahan. Jika sampah diambil metannya dan diberi perlakuan kimiawi untuk mengurai sampah, tumpukan sampah di TPA lama tinggal ditutup tanah dan sduah tak ada masalah lingkungan, ujar Gendut.

Menyinggung apakah pemulung masih bisa merambah TPA ketika proyek Shimizu dijalankan, Gendut menjawab bisa karena tidak semua areal TPA ditutup serempak. "Tapi masalahnya 'kan siapa yang menyuruh mereka memulung di sana, termasuk sapi dan kambing yang merumput di areal TPA?" ucap Gendut.

BANTUL, KOMPAS.
 
Halaman 672 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook