Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Peletakan Batu Pertama Pembangunan PLTS Diundur

Peletakan Batu Pertama PLTS di Bandung Timur Diundur


Rencana peletakan batu pertama pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah atau PLTS terpaksa diundur sampai Maret 2008 dari rencana semula 8 Januari 2008. Sebab, hingga saat ini dokumen analisis mengenai dampak lingkungan atau amdal PLTS dan izin bangunannya belum beres.

Wali Kota Bandung Dada Rosada mengatakan hal itu di Bandung, Rabu (2/1). Menurut Dada, acara itu kemudian diganti dengan penghijauan sebab persyaratan izin bangunan belum terpenuhi. Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung Nana Supriatna menjelaskan, agenda peletakan batu pertama PLTS itu mundur karena tim amdal mendapat resistensi warga di sekitar lokasi PLTS. Akibatnya, tim amdal kesulitan menghimpun data.

Tim amdal sedang mengumpulkan data terkait dengan rencana pemantauan lingkungan dan rencana kelola lingkungan (RPL-RKL). Syarat memenuhi RKL-RPL antara lain adalah aspek legalitas tanah dan bangunan, termasuk di dalamnya adalah kajian ekologi, teknologi, dan sosial.

Tim amdal kemudian memasang patok di atas lahan di dekat perumahan Griya Cempaka Arum (GCA) yang akan digunakan sebagai pintu masuk ke PLTS. Namun, warga GCA menganggap bahwa PLTS akan dibangun di atas lahan yang dipatok tersebut. "Kemudian warga mencabuti patok yang ada. Ini kesalahpahaman semata," kata Nana.

Nana menjelaskan, warga juga beraksi saat tim amdal hendak menguji kualitas air di beberapa selokan di sekitar lokasi PLTS. Warga menilai Pemkot Bandung akan menyedot air tanah untuk keperluan PLTS.

Padahal, lanjut Nana, itu tidak mungkin dilakukan Pemkot Bandung. Sebab, kondisi air tanah di daerah GCA atau Gedebage tidak memenuhi syarat untuk disedot.

Dengan adanya resistensi tersebut, kata Nana, penyusunan dokumen amdal yang sedianya selesai 18 Desember mundur. "Semoga saja peletakan batu pertama bulan Maret nanti tidak mundur lagi," kata Nana.

Penjelasan tentang PLTS

Sementara itu, sebelum acara penghijauan dilaksanakan, pada 5 Januari Dada akan memberikan penjelasan tentang PLTS kepada warga Kelurahan Cimencrang. Selain warga, anggota Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kota Bandung dan DPRD Kota Bandung juga diundang.

Dalam acara itu, kata Dada, Pemkot Bandung akan memberikan kesempatan kepada tim studi amdal dan studi kelayakan dari Institut Teknologi Bandung untuk menjelaskan manfaat PLTS. PT Bandung Raya Indah Lestari (PT BRIL) selaku pengembang juga diberi kesempatan serupa.

Koordinator Umum Aliansi Rakyat Tolak PLTSa (ARTP) Roni Muhammad Tabroni meminta Pemkot Bandung agar mendahulukan aspek sosial, terutama mengenai nasib warga terdekat dari lokasi PLTS. Pemkot Bandung tidak perlu mencari dukungan dari jauh atau dari pihak lain. (MHF)

Bandung, Kompas

 

 

~ 15.000 PLTS Akan Dibangun Pemerintah

Pemerintah Akan Bangun 15.000 PLTS


Pemerintah Akan Bangun 15.000 PLTS Pemerintah akan membangun sebanyak 15.000 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan 200 unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) di Indonesia bagian timur pada 2006.

Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) Yogo Pratomo di Jakarta, pekan lalu, mengatakan, pembangunan pembangkit berdaya kecil tersebut merupakan upaya pemerintah memenuhi kebutuhan energi listrik di Indonesia bagian timur yang kini tertinggal dibandingkan bagian barat. “Saat ini terjadi penumpukan daya listrik di Pulau Jawa ketimbang di luar Jawa. Karenanya, pemerintah akan memperbanyak pembangunan PLTS dan PLTM di Indonesia bagian timur,”

katanya. Menurut dia, pemerintah memang telah membangun puluhan ribu unit PLTS di seluruh Indonesia. Namun, mulai 2006 , pembangkit jenis itu akan diperbanyak dan difokuskan di wilayah Indonesia timur. “Setiap unit PLTS berdaya sekitar 100 watt yang diharapkan mencukupi kebutuhan listrik di wilayah terpencil dan pelosok-pelosok wilayah timur Indonesia,” ujarnya.

Yogo mengatakan, investasi awal dalam penyediaan PLTS memang cukup besar yakni antara Rp5-6 juta per unit. Namun, setelah PLTS terpasang, pembangkit tersebut tidak memerlukan biaya pembelian energi lagi untuk menghasilkan listrik.

Pasalnya, energi telah terpenuhi secara gratis dari matahari yang sepanjang tahun ada di wilayah Indonesia. Sementara itu, mengenai PLTM, Yogo mengatakan, pada 2006 , pemerintah menargetkan pembangunan 200 unit PLTM dengan kapasitas antara 50-500 kilowatt dengan kebutuhan investasi per kilowatt sekitar Rp20 juta. Kalau pemerintah merencanakan pembangunan 200 unit pembangkit dengan kapasitas rata-rata 100 kilowatt, kebutuhan dana mencapai Rp400 miliar. “Dana itu diperoleh dari APBN dan PT PLN (Persero),” ujarnya. Sumber : Pemerintah Akan Bangun 15. 000 PLTS » kirim ke teman » versi cetak   Dikelola oleh TGJ LIPI

Posted by TenagaSurya

kompas (Kompas Cyber Media) Jakarta, Sabtu, 5 Nov 2005

 

~ Pesan Energi Pengganti Minyak

Pesan Original
Warga Kelurahan Kameloh Baru, Kecamatan Sabangau, Kota Palangkaraya, 
Kalimantan Tengah,
merupakan sebagian kecil warga yang tidak terlalu pusing ketika minyak tanah
sering kali sulit
didapat. Bantuan gratis pembangkit listrik tenaga surya dari pemerintah
tahun 2007 telah
mengubah segalanya. Penduduk kini tidak perlu lagi menggunakan penerangan
berbahan
bakar minyak tanah.

Pada Selasa (6/5) sekitar pukul 19.00, kerumunan warga Kameloh Baru masih
terlihat di
warung Wahidin dan Apri yang menjajakan penganan, rokok, dan minuman. Warung
yang
diterangi nyala lampu neon bertenaga surya tersebut berada dekat muara jalan
desa yang
bersimpangan dengan trans-Kalimantan penghubung Palangkaraya dengan Kota
Banjarmasin,
Kalimantan Selatan. Penuturan beberapa warga, sebelum ada pembagian
pembangkit listrik tenaga
surya (PLTS), suasana desa yang berada di perbatasan Palangkaraya dengan
Kabupaten Pulang
Pisau itu sudah sepi menjelang magrib. Apalagi, desa yang berjarak sekitar
30 kilometer dari pusat
Kota Palangkaraya itu belum terjangkau layanan PLN.

Setahun terakhir, yakni ketika PLTS sudah dipasang di atap rumah warga,
hingga pukul 22.00
pun kadang warung masih buka. Sebelum ada PLTS, lampu teplok berbahan bakar
minyak tanah
menjadi andalan warga. Lampu teplok hanya dipasang di dalam rumah sebab
harga minyak tanah
sangat mahal, mencapai Rp 4.000 per liter. Tak heran bila di tengah
wawancara, Ujik Amir, warga
Desa Kameloh Baru, berkali-kali mengungkapkan syukurnya atas pembagian PLTS
gratis bagi
146 KK di desanya, seolah ingin meyakinkan bahwa PLTS benar-benar sangat
meringankan beban warga.
Betapa tidak? Sebelum ada PLTS, kata Ujik, warga harus membeli minyak 5-7
liter tiap bulan hanya
untuk menyalakan lampu teplok dan kadang kala petromaks. Petromaks hanya
dipakai bila ada
hajatan atau pertemuan warga sebab dalam semalam lampu dengan cahaya putih
terang itu bisa
menghabiskan seliter minyak tanah. Setelah ada PLTS, warga Kameloh Baru yang
hampir seluruhnya
memasak menggunakan kayu ini tidak terlalu menggantungkan minyak tanah.
Persediaan 2 liter minyak
tanah pun sudah berlebih untuk satu bulan sebab hanya dipakai untuk
memudahkan api menyala saat
pertama membakar kayu.

"Memakai lampu neon tenaga surya juga enak. Ada angin kencang dan hujan
deras pun nyala lampu
tetap saja terang, tidak berkelip-kelip, " kata Mahuliah, istri Ujik. Tak
heran bila pada Selasa malam itu
anak-anak Ujik tampak asyik bercengkerama di ruang depan dengan beberapa
buku pelajaran terserak
di lantai. Cahaya lampu TL yang terang itu kiranya menyamankan anak-anak
untuk belajar.

Sangat terbantu

Bila siang matahari bersinar terik, instalasi PLTS yang dipasang di atap
rumah warga Kameloh Baru
itu mampu menyalakan tiga lampu neon 10 watt, sejak petang hari hingga pagi
hari.
Namun, bila siang harinya matahari tertutup mendung, kata Ujik, hanya satu
lampu yang bisa
dinyalakan semalaman. Kalau dipaksakan tiga lampu tetap menyala, selepas
tengah malam energi
listrik PLTS itu akan habis. Meski daya PLTS itu relatif minim, yakni hanya
50 watt, sehingga belum
mampu dimanfaatkan untuk menyalakan televisi, warga merasa terbantu karena
terkurangi biaya
pembelian minyak tanah.

Kepala Subdinas Minyak, Listrik, dan Energi Dinas Pertambangan dan Energi
Provinsi Kalimantan
Tengah (Kalteng) Tomas Sembiring menuturkan, dengan adanya PLTS, tiap
keluarga mampu
menghemat 4 liter minyak tanah per bulan.

Pada tahun 2007, pemerintah memberikan 2.018 unit PLTS kepada 2.018 rumah
tangga di sejumlah
kota dan kabupaten di Kalteng. Kalau dihitung secara rata-rata, minyak tanah
yang bisa dihemat oleh
warga yang mendapatkan PLTS pada tahun 2007 mencapai 8.000-an liter per
bulan atau setara sekitar
96.000 liter minyak tanah dalam satu tahun. Ini jumlah yang tidak sedikit,
terlebih ketika saat ini
gonjang-ganjing kenaikan harga minyak membayang di depan mata.

Kincir air

Lain lagi yang terjadi di sepanjang selokan di Jalan Durian Tarung,
Kelurahan Pasar Ambacang, Kota
Padang. Irama merdu terdengar dari kayu beradu kayu. Irama teratur itu
berasal dari pertemuan alu dan
lesung penggilingan padi yang digerakkan kincir air. Kincir air berdiameter
1 meter tersebut sudah
beroperasi secara tradisional selama puluhan tahun.
Nyaris tidak ada biaya yang dikeluarkan oleh pemilik penggilingan karena
kincir digerakkan aliran
air dari selokan. Kalau aliran air dari bendungan Gunung Nago sedang deras,
seorang pemilik kincir
bisa menyelesaikan penghalusan beras sebanyak 10 karung, yang masing-masing
berisi 50 kilogram.
Untuk tiap karung beras yang telah ditumbuk, pemilik kincir mendapatkan upah
dari pemilik beras
Rp 24.000. Upah ini dibagi dua antara pemilik kincir dan pekerja yang
menjalankan penumbukan beras.

Bila air selokan sedang susut, perputaran kincir menjadi lambat yang
menyebabkan proses penumbukan
lambat. Dalam sehari, seorang penumbuk hanya bisa menyelesaikan enam sampai
delapan karung beras.
Namun, itu pun sudah lumayan karena pemilik penggilingan padi tidak perlu
pusing dengan kenaikan
harga minyak. Kincir berjalan, rezeki pun berputar. (Anto Saptowalyono dan
Agnes Rita S)
From: St. Herwinoto 
To: Forum-Pembaca-Kompas
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Siang Malam Desa Itu "Disinari" Surya
 

~ Iptek Diskusikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya

[Iptekdiskusi] PLTS (Surya)
> Sudah menjadi program Pemerintah.
> Namun pertanyaannya tetap :" Tenaga listrik ini utk penerangan saja atau
> utk industri ringan dirumah penduduk ?". Kalau hanya penerangan listrik
> saja, buang uang percuma !!
> Mensubsidi aparat saja (Kades, Camat ???)
>
> MAngSi
>
> 1.200 Unit PLTS Diprioritaskan di Pulau Terpencil
> Lusianus Andreas Sarwono (Kompas Cyber Media)
> PANGKAL PINANG, KOMPAS � Sebanyak 1.200 unit Pembangkit Listrik Tenaga
> Surya (PLTS) akan dipasang di sejumlah desa di Kepulauan Bangka Belitung
> (Babel) tahun ini. Pemasangan PLTS dipriorotaskan di desa yang sama sekali
> belum teraliri listrik dan berada di pulau-pulau terpencil.
> Pejabat Pembuat Komitmen Listrik Perdesaan Babel Kristo Gultom mengatakan
> program bantuan murni pemerintah pusat ini akan direalisasikan sekitar
> triwulan ketiga 2007.
> �Saat ini Lembaga Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya
> Mineral tengah menyiapkan tender pengadaan PLTS. Kami nanti akan
> bekerjasama dengan Dinas Pertambangan dan Energi Babel serta pemerintah
> kabupaten untuk menyurvei desa-desa di pulau terpencil,� ucap Kristo,
> Selasa (17/4).
> Tahun 2004, jumlah PLTS yang sudah terpasang sebanyak 44 unit di dua desa
> Tahun 2005, jumlah pemasangan PLTS bertambang menjadi 1.153 unit yang
> tersebar di 30 desa. Rumah yang mendapat prioritas pemasangan listrik
> adalah rumah milik aparat desa dan fasilitas umumGet more from the Web.
> FREE MSN Explorer download :
> _______________________________________________
> Iptekdiskusi mailing list

 

~ Solusi Masalah Sampah Di Negara Maju

Haruskah PLTS?

Kecepatan pembakaran bukanlah jaminan atas solusi masalah sampah. Ada aspek lain, seperti ekonomi, sosial, dan ekologi, yang konjugasinya disebut sosioekologi (sosiobudaya, ekonomi, dan ekologi atau ekonologi).

Berbeda dengan negara di Eropa, Amerika, Jepang, China, dan Singapura yang tinggi taraf kesehatannya. Sebagai negara agraris dan agamis, masalah sampah bisa didekati dari sosiobudaya. Dengan memasukkan rohaniwan, tetua adat, atau tokoh masyarakat, pembiasaan reduksi sampah bisa dilakukan. Apalagi, kalau dibantu penyuluhan oleh dinas-dinas. Ini serupa dengan evolusi keberterimaan program keluarga berencana (KB) oleh masyarakat.

Pendekatan sosiobudaya sulit ditempuh di negara yang kuat individualismenya sebab massa sulit dilibatkan untuk implementasi 7R (reduce, reuse, recycle, replace, recovery, relocation, dan responsible). Wajarlah insinerasi yang dipilih. Di Indonesia berbeda. Orang Indonesia berguyub. Paguyuban menjadi keseharian dalam bertetangga. Lewat sosiobudaya inilah sampah dikelola, diolah di RT/RW, melibatkan Karang Taruna, PKK, ormas, partai politik, pelajar SD sampai dengan universitas. Gerakan ini tak perlu teknologi mahal dan riskan serta nihil dari petaka ekologi (ecological disaster).

Itu sebabnya, yang dinilai bukanlah aspek kecepatan, melainkan efek terhadap manusia dan lingkungan. Ini yang dikhawatirkan. Manusia harus sehat, lingkungan harus dikonservasi. Berhati-hati (precautionary principle) dan mencegah lebih baik daripada mengobati atau rehabilitasi pascabencana. Memadaikah paramedis, dokter, dan fasilitas kesehatan di rumah sakit? Adakah prosedur operasi standar atas bencana PLTS? Bagaimana tindakan step by step yang dikaitkan dengan sosiobudaya orang Bandung?

Karena itu, pola yang bersahabat dengan lingkungan lebih tepat. Konsep 7R layak digunakan karena kita punya struktur formal-informal pemerintahan yang bagus. Ada tanggung jawab bersama antara pejabat dan rakyat. Solutif, murah, dan tahan lama tanpa batas waktu. Semua dilaksanakan dengan penyuluhan dan melibatkan pejabat dan perangkatnya, anggota DPRD, fungsionaris dan kader partai, ormas beserta keluarganya.


Betul bahwa PLTS menghasilkan listrik. Namun, listrik itu dijual ke warga, padahal bahan bakarnya dari warga. Ini berbeda dengan sanitary landfill, composting, dan 7R yang keuntungannya justru untuk warga. Yang terlibat tak hanya 20 warga atau 200 warga, tetapi ratusan ribu warga. Warga se-Bandung bisa melibatkan diri dalam mengelola sampah sekaligus melestarikan fungsi lingkungan. Sampah dari rakyat, dikelola rakyat (plus pemerintah), dan untuk rakyat (juga untuk pemerintah yang diringankan pekerjaannya dan hemat APBD).

Bagaimana mekanismenya? Pemerintah lewat dinas-dinasnya dapat memulai pembuatan pabrik pengelola dan pengolah sampah. Selain membuat pabrik, pemerintah hendaklah membantu distribusi produk sekaligus menurunkan penganggur. Sektor hulu-hilir sampah ini dapat melibatkan ratusan ribu orang. Pemerintah tinggal mengatur tata niaganya. Misalnya, dalam proyek konstruksi (sipil) dan permesinan, benda olahan sampah dengan konsep reuse, recycle, recovery itu dapat digunakan.

Yang terakhir, aspek ekologi. Intinya, sanitary landfill yang sudah penuh bisa ditanami pohon menjadi hutan, penyumbang oksigen, dan kenyamanan, selain juga bisa dijadikan daerah tujuan wisata berwajah ekowisata, serta bisa dijadikan permukiman setelah tuntas biodegradasinya. Dalam hal ini PLTS tidak bisa!

Penanganan sampah yang solutif ialah berbasis masyarakat karena sampah bersumber dari masyarakat. Upaya ini butuh waktu. Pelajar pun perlu 12 tahun agar bisa menjadi mahasiswa. Mengubah karakter tak semudah membuang sampah sebab perlu ilmu, konsistensi kebijakan, dan pembiasaan. Ini harus dimulai dari pejabat publik agar praktik memilah-milah sampah kemudian diikuti masyarakat.

Yang di KOMPAS.


 
Halaman 671 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook