Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~Pemanfaatan Teknologi Ramah Lingkungan

        
Telkomsel Terus Kembangkan Teknologi Ramah Lingkungan

Telkomsel Terus Kembangkan Teknologi Ramah Lingkungan


Pembangunan fasilitas Research and Developement (R&D) Telkomsel tidak hanya sekedar meningkatkan ekosistem jaringan wireless dan evolusi teknologi komunikasi. Namun juga memfokuskan kegiatan pada pengembangan green technology.

Direktur Utama Telkomsel, Sarwoto Atmosutarno, menjelaskan pihaknya menyadari keterbatasan sumber energi dan maraknya tren penggunaan energi alternatif serta perlunya kelestarian alam. Hal ini  membutuhkan terobosan penerapan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi.

"Karena itu, salah satu fokus yang akan dilakukan adalah pengembangan green technology melalui sumber energi alternatif," paparnya dalam launching fasilitas Telkomsel R&D, Gedung Telkom Riset dan Teknologi (RISTUI), Bandung, Senin (5/12).

Sumber energi alternatif yang dimaksud antara lain pengembangan solar cellmikrohidro, dan fuel cell. Penggunaan sumber alternatif itu sudah dilakukan tak kurang dari 2.200 Base Transceiver Station (BTS) di seluruh nusantara.

Tak hanya itu, Telkomsel berencana memperluas pemakaian Green Building Automation Solution (GBAS), energi angin, dan efisiensi energi data center. Pada bidang radio dan core, Telkomsel mempersiapkan teknologi Cloud RAN dan Core Convergence.

"Dari apa yang diujicobakan dalam BTS, masyarakat yang terisolasi dari pasokan aliran listrik konvensional mendapatkan manfaat dari sumber energi yang menggerakan BTS. Dengan demikian mendongkrak nilai perekonomian di wilayah tersebut," katanya.

Sumber : Republika 

 

~ Miss Universe Terpilih jadi Duta Melawan Desertifikasi

Miss Universe jadi Duta Melawan Desertifikasi


Miss Universe jadi Duta Melawan Desertifikasi

Corbis

 
Ratu Sejagad 2011 Leila Lopes terpilih sebagai Duta melawan desertifikasi. Atas penunjukkan ini Konvensi PBB melawan Desertifikasi (UNCCD) sudah menyiapkan program selama dua tahun untuk Lopes.

Diharapkan, program tersebut bisa diterapkan dengan baik oleh Ratu Sejagad yang berusia 25 tahun itu. Demikian disampaikan Sekretaris Eksekutif UNCCD, Luc Gnacadja, saat menghadiri Kongres Perubahan Iklim PBB di Durban, Afrika Selatan, Senin, (5/12).

Kongres ini sendiri berlangsung sejak 28 November-9 Desember 2011. Lopes yang berasal dari Angola diundang ke Kongres Perubahan Iklim untuk jadi juru bicara mengenai desertifikasi dan dampaknya pada lingkungan.

Lopes yang pernah mengunjungi Indonesia, terpilih sebagai Duta bukan saja karena status Ratu Sejagad yang disandangnya. Tapi juga karena negara asalnya, Angola, merupakan salah satu negara yang terancam desertifikasi.

Kondisi ini membuat Angola bermasalah dalam hal makanan dan keamanan. Dikatakan Gnacadja, jika desertifikasi berlanjut, maka hingga tahun 2030 Afrika akan menderita dampak terbesar. Diperkirakan Benua Hitam ini akan kehilangan dua per tiga lahan pedesaan subur.

Masalah desertifikasi dianggap sebagai salah satu dampak perubahan iklim. Menurut buletin GER (Global Education Room, South Australia) desertifikasi merupakan penambahan daerah gurun yang sudah ada. Dapat juga berarti proses dimana daerah luas yang sebelumnya subur dan produktif menjadi kering kerontang dan tidak dapat lagi digunakan untuk bercocok tanam. (Sumber: National Geografhic.co.id )
 

~ Cina Sambut Positif Secara Hukum Pengurangan Emisi Karbon

Cina Sambut Positif Pengurangan Emisi Karbon

DURBAN, (PRLM).- Uni Eropa telah mendesak negara-negara lain pada konferensi iklim PBB yang disebut COP17 untuk menerima peraturan mengikat secara hukum untuk mengurangi emisi karbon yang memicu perubahan iklim global. Komisaris Uni Eropa urusan perubahan iklim, Connie Hadegaard mengatakan delegasi Eropa akan membahas upaya itu dengan negara penghasil polusi terbesar, Cina.

Ia mengatakan, “Cina selalu mendukung kesepakatan-kesepakatan yang mengikat dan itulah pertanyaan penting bagi Cina, yakni apakah dengan peraturan yang mengikat secara hukum itu akan membuat Cina terikat secara hukum?”

Kepala delegasi Cina, Xie Zhenhua menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan Cina akan menyetujui sebuah kesepakatan jika syarat-syarat tertentu dipenuhi. Syarat-syarat itu termasuk Uni Eropa menyetujui perpanjangan Protokol Kyoto yang mengharuskan negara-negara mengurangi emisi karbon dan bahwa istilah kesepakatan hukum akan berbeda berdasarkan “kemampuan nasional” masing-masing negara.

Xie yang berbicara lewat seorang penterjemah juga mengatakan pemerintah-pemerintah harus terlebih dahulu memenuhi janji pengurangan emisi yang mereka setujui pada dua konferensi iklim sebelmnya yaitu di Kopenhagen, Denmark dan Cancun, Meksiko sebelum mempertimbangkan kesepakatan yang mengikat secara hukum pada tahun 2020.

Sementara delegasi Cina berbicara dengan wartawan di lantai dasar Pusat Konferensi Internasional Durban, di lantai atas, para pemimpin kelompok LSM mengadakan konferensi pers yang menyuarakan keluhan mereka mengenai sikap Amerika dalam konferensi itu.

Beberapa anggota panel itu mengatakan kesediaan Cina menyetujui kerangka kerja legal untuk mengurangi emisi akan mendorong negara-negara lain.

Kumi Naidoo, direktur eksekutif LSM Greenpeace International mengatakan, “Sebenarnya Cina dan Amerika perlu melakukan pembicaraan di sini, di Durban dan bukan pembicaraan yang terjadi antarperunding, tetapi antara pemimpin Cina Hu Jintao dan Presiden Amerika Barack Obama untuk berunding pada tingkatan senior, karena kita tidak boleh lupa bahwa isu ini sebenarnya berakar dari negara masing-masing.”

Cina dan Amerika sebenarnya sudah menggariskan kebijakan serupa dalam konferensi COP17 ini. Kedua negara telah menyerukan negara-negara lain untuk memenuhi target yang ditetapkan pada konferensi sebelumnya untuk membahas langkah-langkah lanjutan. Cina mengatakan telah menetapkan target untuk mengurangi 17 persen emisi dalam lima tahun mendatang, sementara Amerika berjanji akan mengurangi dengan jumlah yang sama pada tahun 2020.

Namun Amerika telah dituduh menghambat kemajuan perundingan-perundingan itu sementara kebijakan Cina telah disambut hangat.

Pikiran-Rakyat.com

 

~ Peneliti Kehutanan Ditantang Untuk Menghasilkan Teknologi Baru

Menristek Tantang Peneliti Kehutanan Indonesia
Menristek Tantang Peneliti Kehutanan Indonesia
 
Hutan Indonesia memiliki fungsi yang strategis sebagai penyangga sistem kehidupan. Oleh karenanya para peneliti kehutanan ditantang untuk menghasilkan teknologi-teknologi baru yang mendorong pengembangan industri kehutanan.

Ini dikatakan oleh Menristek Gusti Muhammad Hatta pada pembukan pertemuan Internasional Indonesia Forestry Researcher (INAFOR) 2011, bertempat di IPB Convention Center, Bogor, Senin (5/12). Pertemuan akbar INAFOR ini dihadiri oleh sekitar 500 peneliti kehutanan dari dalam dan luar negeri. Acara akan berlangsung selama tiga hari, sampai dengan 7 Desember 2011.

"Hutan dengan kemampuannya mengelola tata air, iklim mikro, penyerapan karbon, sumber kekayaan plasma nutfah adalah ekosistem yang penting dalam menyangga sistem kehidupan. Hutan juga sebagai penghasil devisa dari produksi kayu serta ketahanan pangan nasional. Saya menantang para pemulia hutan untuk berkarya lebih baik, menciptakan sebuah teknologi," Gusti menuturkan.

Ia pun menilai bahwa dapat berperan dalam pengembangan hutan di dunia sehingga Protokol Nagoya (perjanjian internasional untuk melindungi keanekaragaman hayati) bisa terlaksana. "Kekayaan sumber daya alam yang kita punyai harus dimanfaatkan dengan optimal agar pertumbuhan industri tinggi, mengurangi ekspor bahan mentah," tambahnya.

Agenda pertemuan INAFOR 2011 antara lain meliputi seminar internasional dalam bentuk presentasi lisan, diskusi lapangan atau field trip, dan pameran berbagai hasil penelitian dan produk kehutanan.

Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman internasional bagi peneliti kehutanan. Dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengambil bagian pada forum-forum ilmiah internasional, memberikan kesempatan saling tukar informasi ilmiah, hasil penelitian, dan berbagi pengalaman dalam pelaksanaan kegiatan penelitian.
 
National Geografhic.co.id
 

~ Tim Peneliti NASA Mengumumkan Penemuan " Bumi Baru "

Ilmuwan NASA Mengaku Temukan “Bumi Baru"

Planet itu kemungkinan memiliki temperatur yang tepat agar air tetap berbentuk cair.


Ilustrasi Kepler-22b, planet yang diprediksi berpotensi menampung kehidupan (space.com)

VIVAnews - Tim peneliti dari Badan Antariksa AS (NASA) mengumumkan temuan penting dalam upaya pencarian kehidupan. Mereka mendapati planet lain yang berotasi cukup dekat dengan mataharinya, di orbit yang berpotensi mendukung kehidupan.

Planet yang diberi nama Kepler-22b itu memiliki ukuran 2,4 kali ukuran Bumi dan jaraknya 600 tahun cahaya dari kita. Planet itu mengorbit di ‘habitable zone’ atau kawasan di ruang angkasa yang cukup jauh dari mataharinya di mana air bisa hadir di permukaan tanpa menguap.

“Temuan ini mendukung keyakinan kita bahwa kita tinggal di alam semesta yang penuh dengan kehidupan,” kata Alan Boss, astrofisikawan dari Carnegie Melon University, seperti dikutip dari laman Space, 6 Desember 2011.

Boss menyebutkan, bintang yang menjadi matahari bagi planet tersebut berjarak 600 tahun cahaya (1 tahun cahaya mencapai sekitar 9,65 triliun kilometer) ke arah konstelasi Lyra dan Cygnus. Meski begitu, pancaran sinar bintang itu 25 persen lebih redup dibanding matahari kita.

Tak jauh berbeda dengan Bumi yang mengorbit matahari selama 365 hari per rotasi, Kepler-22b menuntaskan orbitnya dalam 290 hari. Ini dimungkinkan karena jaraknya dengan mataharinya berada sekitar 15 persen lebih dekat dibanding jarak bumi dengan matahari.

Jarak ini cukup dekat untuk menghadirkan temperatur yang hangat dan menyenangkan di permukaannya. Di temperatur itu, air dalam bentuk cair, yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan, bisa hadir. Artinya, planet ini bukan saja bisa dihuni, tetapi bisa juga sudah berpenghuni.

“Ini merupakan tonggak utama dalam upaya pencarian kembaran Bumi,” kata Douglas Hudgins, Kepler Program Scientist, NASA Headquarters. “Temuan ini menunjukkan betapa pentingnya misi yang dilakukan oleh ilmuwan yang berupaya untuk menjawab pertanyaan terbesar terkait posisi kita di alam semesta,” ucapnya.

Sebelumnya para ahli juga menemukan sebuah planet yang mirip dengan bumi. Planet itu kemudian diberi nama Zarmina. Ukurannya lebih besar dari bumi. Sekitar 20 hingga 50 persen lebih besar. Dengan ukuran sebesar itu, Zarmina tentu saja bisa mampu menampung lebih banyak mahluk hidup, termasuk manusia.

Gravitasi di permukaannya juga lebih besar, sekitar 1 hingga 1,5 lebih besar dari gravitasi bumi. Artinya, kalau kalau di bumi bobot Anda 70kg, maka di Zarmina akan melar hingga sekitar 100kg.

Para ahli belakangan ini kian gencar memecahkan misteri alam semesta. Penjelajahan alam semesta dilakukan dengan banyak cara, dari telaah teoritis hingga pembuktian dengan memakai teleskop canggih. 

Sumber : VivaNews.com

 
Halaman 196 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook