Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Mengurangi Angka Kecelakaan Dengan kamera Pangukur Kecepatan

Kamera Pengukur Kecepatan Kurangi Angka Kecelakaan

Kamera Pengukur Kecepatan Kurangi Angka Kecelakaan
 

Qatar mengurangi angka kecelakaan di jalan raya dengan menggunakan kamera pengukur kecepatan. Sejak dipasang pada tahun 2007 lalu, kecelakaan berkurang cukup drastis, menurut laporan dari Weill Cornell Medical College (WMCM).

Peneliti menemukan bahwa jumlah kecelakaan yang terjadi sebelum dan sesudah pemasangan kamera itu sangat signifikan dan efektif. Saat ini, kamera yang terpasang sudah mencapai 84 buah, meningkat enam kali lipat selama beberapa tahun belakangan ini.

Peneliti membagi dua periode penelitian, yaitu periode sebelum dan sesudah pemasangan kamera serta mengambil jangka waktu 10 tahun untuk diteliti. Setelah dipasangkan kamera pengukur kecepatan itu, jumlah kecelakaan menurun hingga 15 persen.

WMCM berpendapat bahwa kamera itu sangat berguna untuk mengendalikan jalan raya. Akan tetapi pengukuran lain akan sangat dibutuhkan untuk lebih menekan jumlah kecelakaan. Kamera ini biasanya diletakkan di jalan raya dan ada petugas yang mengawasi batas kecepatan kendaraan yang melintas.

Di Indonesia sendiri, kamera pengukur seperti ini belum digunakan. Sepertinya, Pemerintah harus mengadaptasi teknologi yang sudah banyak digunakan di negara-negara maju, khususnya untuk di jalan raya agar kecelakaan fatal bisa terminimalisir.

National Geografhic.co.id

 

~ Oksigen dalam Lapisan Inti Luar Bumi Lebih Rendah dari Perkiraan

Oksigen dalam Lapisan Inti Luar Bumi Lebih Rendah dari Perkiraan

Temuan ini berarti elemen Oksigen kemungkinan hanya berperan kecil dalam pembentukan planet Bumi sekitar 4,5 miliar tahun lalu.


Foto: ASSOCIATED PRESS
Foto lapisan bumi yang dihasilkan oleh alat untuk pemonitor ozon milik NASA (foto: dok). Hasil penelitian terbaru menemukan lapisan oksigen di lapisan inti luar Bumi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Inti besi didalam Bumi memiliki dua lapisan – inti bagian dalam yang dikelilingi lapisan cair di bagian luarnya. Secara bersama, kedua lapisan inti itu menggerakkan bidang magnet yang melindungi Bumi dari radiasi matahari yang mematikan.

Meskipun kebanyakan ilmuwan setuju bahwa besi – dan sejumlah elemen nikel – merupakan isi utama dari inti Bumi, mereka masih berbeda pendapat mengenai identitas dan jumlah elemen-elemen yang lebih ringan dari besi yang mengisi 10 persen sisanya.

Pusat inti Bumi berada lebih dari 6.300 kilometer dibawah permukaan, dan itu sebabnya tidak mungkin bagi para ilmuwan untuk mengambil sampel langsung. Mereka harus bergantung pada metode pengujian tidak langsung untuk mengidentifikasi dan mengukur jumlah elemen ringan didalam lapisan cair inti.

Para ilmuwan sudah lama berbeda pendapat mengenai berapa banyak Oksigen di dalam 10 persen sisa itu, tetapi kini sebuah tim ilmuwan di Amerika dan Tiongkok yakin telah mendapatkan jawaban pasti.

Tim itu melakukan uji laboratorium dan tes kepadatan atas dua sampel elemen yang sebagian besar terdiri dari besi, tetapi masing-masing dengan konsentrasi oksigen yang berbeda. Mereka mengatakan hasil tes, disertai data-data lain, menunjukkan sampel dengan tingkat oksigen rendah paling mirip dengan yang diamati jauh di dalam Bumi.

Ilmuwan di berbagai bidang bersemangat mencari detil-detil baru mengenai komposisi ilmiah dari inti Bumi. Ini karena hasil penelitian ini bisa menjadi petunjuk mengenai kondisi lingkungan miliaran tahun lalu, yaitu saat planet-planet berevolusi dari kumpulan awan gas dan debu yang tertinggal dari proses pembentukan matahari.

VoA Indonesia

 

~ Standar Sanitasi Dan Air Bersih Belum Ada di Banyak Negara Berkembang

Standar Air Bersih Belum Ada di Banyak Negara Berkembang

Menurut laporan baru Organisasi WaterAid yang dikeluarkan tanggal 19 November banyak negara di Afrika, Pasifik, dan yang paling rendah tingkat pembangunannya masih belum berada pada jalur yang tepat untuk mencapai standar sanitasi dan air bersih seperti yang ditetapkan dalam Millennium Development Goals (MDG), atau Sasaran Pembangunan Milenium, yang ditargetkan tercapai tahun 2015.


Foto: VOA, Zafar Bamyani
Menurut WaterAid, sekitar 900 juta orang di seluruh dunia masih belum mendapatkan akses ke air bersih, umumnya di negara berkembang.

WaterAid, sebuah organisasi Inggris yang menyediakan air bersih dan sanitasi di lebih dari 25 negara di Afrika, pada tanggal 19 November mengeluarkan laporan berjudul "Keluar Jalur, Meleset dari Sasaran."

John Garrett, analis kebijakan senior WaterAid untuk pembiayaan pembangunan, mengatakan bahwa 900 juta orang di seluruh dunia masih belum mendapatkan akses ke air bersih dan lebih dari dua setengah milyar manusia di dunia masih belum memperoleh sanitasi yang layak

“Dalam kaitannya dengan Millennium Development Goals (MDG), atau Sasaran Pembangunan Milenium, kami dapat melihat bahwa target air bersih masih belum pada jalurnya di daerah-daerah di Afrika, Pasifik dan di negara-negara yang paling rendah tingkat pembangunannya. Secara global, perkembangan ke arah pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium amat jauh dari sasaran sehingga diperkirakan tahun 2015, yang merupakan tenggat waktu pencapaian target, satu milyar orang masih belum memiliki akses ke air bersih dan sanitasi,” paparnya.

Garrett mengatakan bahwa hal ini akan mengakibatkan konsekuensi amat buruk bagi anak-anak di Afrika. Diare saat ini adalah penyakit mematikan nomor satu bagi anak-anak di benua itu dan menyebabkan kematian lebih dari dua juta jiwa di seluruh dunia.

Analis kebijakan itu mengatakan bahwa laporan ini seharusnya menggugah negara-negara berkembang untuk bertindak dan melakukan sesuatu untuk mereka yang tidak mempunyai akses ke air bersih dan sanitasi. Ia mengatakan bahwa pembiayaan untuk kedua hal ini haruslah menjadi prioritas.

Garrett mengatakan bahwa laporan ini diluncurkan dalam kaitannya dengan Hari Toilet Sedunia, tanggal 19 November.

“Hari Toilet Sedunia adalah hari pada saat mana negara-negara di seluruh dunia memberikan perhatian pada kebutuhan orang akan toilet yang layak dan menyadari bahwa ada lebih dari dua setengah miliar orang di seluruh dunia yang tidak memiliki akses ke toilet, yang di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris dan Eropa, dianggap lumrah dan sewajarnya ada.” katanya.

Analis Bantuan Air Bersih ini mengatakan bahwa hanya tinggal tiga tahun lebih sedikit sebelum sasaran MDG ini dicapai, masih ada kesempatan bagi para pembuat keputusan penting untuk mengubah keadaan menyedihkan ini menjadi kesempatan dan menyadari bahwa mereka mampu membuat perubahan berarti.

WaterAid mengatakan bahwa krisis dunia akan air bersih, sanitasi dan kebersihan harus dianggap sebagai salah satu tantangan pembangunan internasional terbesar pada abad ke-21 ini.

VOA Indonesia

 

~ Rekayasa Genetika Tanaman Pangan Mendesak Dilakukan Saat Ini

Mendesak, Rekayasa Genetika Tanaman Pangan

Mendesak, Rekayasa Genetika Tanaman Pangan
 
Riset bioteknologi bidang rekayasa genetika tanaman pangan mendesak dilakukan saat ini. Pasalnya, ancaman kemiskinan dan kelaparan dunia akan terjadi pada 2050 mendatang.

Koordinator Asia bidang Program Keamanan Hayati,  Dr. Julian Adams, mengatakan perlu adanya pengembangan bioteknologi tanaman pangan yang mampu untuk meningkatkan hasil dan pendapatan usaha tani global. Serta mengurangi emisi karbon dan penggunaan pestisida. 

Di masa depan, lanjutnya, diperlukan varietas tanaman yang memiliki ketahanan terhadap toleransi panas. Termasuk varietes transgenik dengan toleransi terhadap perubahan ozon (O3) dan tingkat CO2 yang tinggi.

Dia menyebutkan, jenis varietas rekayasa genetik perlu memiliki toleran terhadap kekeringan, banjir, dan salinitas. Jenis tanamannya seperti  tebu, jagung, gandum, beras, dan kapas.

" Pemanasan global sangat mempengaruhi  hasil panen padi. Peningkatan 1 derajat celcius suhu di waktu malam mengakibatkan kerugian pada hasil panen sebesar 10%," kata Julian dalam kuliah umum ‘Rekayasa Genetika Tanaman’ di gedung Sekolah Pascasarjana UGM, Selasa (6/12).

Namun, yang perlu dikhawatirkan terhadap pemanasan global, kata Julian, adalah ancaman mencairnya es di kutub yang akan menyebabkan  kenaikan permukaan laut. Ini juga bisa mengancam keberadaan 4.000 pulau di Indonesia.
 

~ PLTN tidak perlu dikhawatirkan lagi !!!

Masyarakat tak Perlu Khawatir Keamanan PLTN Generasi Ketiga

Masyarakat tak Perlu Khawatir Keamanan PLTN Generasi Ketiga
Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)


JAKARTA -- Indonesia tengah mengalami defisit energi. Karena itu, ungkap Staf ahli Bidang Energi dan Material Maju Kementerian Riset dan Teknologi, Agus R Hoetman, dibutuhkan energi nuklir sebagai energi alternatif pengganti energi fosil. “Salah satu alternatifnya menggunakan energi nuklir generasi ke-3 yang relatif lebih aman,” katanya saat berkunjung ke Republika, Selasa (6/12).


Menurut Agus, masyarakat tidak perlu khawatir dengan keamanan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) karena teknologi reaktor nuklir generasi ke-3 dan 3+ relatif lebih aman ketimbang reaktor nuklir generasi ke-2 yang digunakan ke Fukushima, Jepang. “Apabila terjadi bencana alam dan serangan teroris maka reaktor nuklir secara natural akan mendinginkan sendiri,” kata Agus.

Agus mengatakan 90 persen kebutuhan energi di Tanah Air berasal dari energi fosil, hanya 5 persen yang berasal dari energi baru terbarukan. Sementara produksi minyak bumi nasional terus menurun. “Saat ini produksinya kurang dari 1 juta barel per hari,  padahal yang kita butuhkan sekitar 1,4 juta  barel per hari. Jadi ada defisit sekitar 400 ribu barel per hari,” kata Agus.

Selama ini defisit kebutuhan energi ini ditutupi dengan menggunakan energi batu  bara. Namun, sekitar 75 persen produksi batu bara untuk diekspor keluar negeri. Sehingga defisit kebutuhan energi terus terjadi.

Agus membandingkan, untuk membangkitkan listrik sekitar 1000 megawatt per tahun dibutuhkan sekitar 2,3 juta ton batu bara per tahun, sedangkan dengan menggunakan energi nuklir hanya diperlukan sekitar 21 ton uranium. Sehingga listrik yang dihasilkan dari nuklir akan relatif lebih murah “Ke depan batu bara akan lebih mahal yang tentunya akan mempengaruhi biaya produksi suatu perusahaan,” kata Agus.

REPUBLIKA.CO.ID

 
Halaman 192 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook