Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~Pertemuan Air Laut dan Air Tawar Simpan Energi Alternatif

Pertemuan dua air berbeda ini mampu mengurangi dampak perubahan iklim.

VIVA.co.id - Pemanfaatan sumber daya alam terbarukan saat ini semakin gencar, seperti baru-baru ini ilmuwan dari Griffith University (Queensland, Australia) tengah mempelajari energi yang diciptakan dari gradien salinitas, salah satunya energi yang dihasilkan dari pertemuan air laut dan air tawar.

Pertemuan dua air berbeda bisa menyediakan sumber energi terbarukan, dan mampu mengurangi dampak perubahan iklim, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan proses dalam industri desalinasi.

Hasil penelitian ini ditulis dalam sebuah makalah yang diterbitkan Renewable and Sustainable Energy Reviews. Penelitian ini dikerjakan Dr Fernanda Helfer dan Profesor Charles Lemckert dari Griffith's School of Engineering, makalah berisi ulasan potensi energi salinitas gradien yang dihasilkan dari perairan berbeda.

Pemanfaatan sumber daya alam terbarukan saat ini semakin gencar, seperti baru-baru ini dimana ilmuwan dari Griffith University (Queensland, Australia) tengah mempelajari energi yang diciptakan dari gradien salinitas, salah satunya energi yang dihasilkan dari pertemuan air laut dan air tawar. Pertemuan dua air berbeda bisa menyediakan sumber energi terbarukan dan mampu mengurangi dampak perubahan iklim, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan proses dalam industri desalinasi.

Hasil peneletian ini ditulis dalam sebuah makalah yang diterbitkan Renewable and Sustainable Energy Reviews. Penelitian ini dikerjakan Dr Fernanda Helfer dan Profesor Charles Lemckert dari Griffith's School of Engineering, makalah berisi ulasan potensi energi salinitas gradien yang dihasilkan dari perairan berbeda. 

Energi Pertemuan Air Laut Dan Air Tawar

Analisis ini mengeksplorasi manfaat Pressure Retarded Osmosis (PRO) sebagai proses bebas emisi karbon untuk mengekstrak dan menerapkan energi baru ini. Teknologi PRO terdiri dari membran semipermeabel diduga bisa memisahkan air mengalir dengan garam, menciptakan tekanan melalui turbin agar menghasilkan energi listrik.

Pembangkit energi listrik berteknologi PRO akan digunakan dalam proses desalinasi, sistem yang digunakan akan menolak air garam. Dr Helfer dan Profesor Lemckert setuju bahwa perbaikan secara teknis dan ekonomi akan berdampak signifikan, hal ini diperlukan untuk memastikan kelangsungan hidup secara komersial dan kredibilitas teknologi membran PRO.

Implementasi teknologi PRO sebenarnya telah lama terhambat disebabkan masalah biaya dan kualitas. Tetapi kenaikan harga energi dan pertumbuhan potensi pasar serta dampak perubahan iklim, telah memaksa teknologi PRO dan salinitas energi gradien menjadi fokus baru dimasa depan.

Australia dan negara-negara di Asia memiliki berbagai sumber air garam yang dapat digunakan sebagai solusi menarik untuk menerapkan teknologi PRO, termasuk danau garam dan air garam yang berasal dari desalinasi tanah. Seperti halnya pusat kota di Australia yang terletak di dekat laut dan berdekatan dengan muara atau mulut sungai, kondisi ini sangat ideal untuk pembangunan pembangkit listrik osmotik. 

Menurut ilmuwan, aspek unik dari penelitian ini adalah penggunaan air garam akan dipisahkan selama proses desalinasi yang bisa menjadi sumber energi osmotik. Hasil analisa penggunaan teknologi PRO dan berdasarkan daya yang dihasilkan di laboratorium, menyebutkan bahwa campuran pertemuan air laut dan air tawar bisa menghasilkan energi listrik dimana teknologi ini bisa diletakkan berdekatan dengan perangkat desalinasi.

Teknologi PRO juga membantu desalinasi, teknologi energi alternatif dari pertemuan air laut dan air tawar dianggap sangat menjanjikan untuk seluruh industri di dunia. Teknologi ini dianggap sebagai salah satu yang memberikan energi listrik dalam proses desalinasi. Diharapkan teknologi ini bisa mengurangi ketergantungan industri pada bahan bakar fosil dan meminimalkan dampak lingkungan yang disebabkan debit air garam ke laut.

Oleh : Sumiyati, buzsian

 

~Energi Terbarukan Kian Mendesak

Pemerintah harus punya komitmen yang kuat untuk segera melakukan transformasi energi dari fosil ke energi baru terbarukan

JAKARTA- Pemerintah dituntut bekerja keras mendorong proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) agar segera berjalan. Mendesaknya transformasi energi itu, karena  cadangan energi fosil khususnya minyak semakin terbatas, sementara permintaan tiap hari bertambah pesat.

“Profesor Seobroto menyatakan, saya takut kita di ambang krisis kalau tidak cepat bertindak, kita akan masuki krisis yang sulit,” kata Menteri ESDM Sudirman Said mengutip pernyataan  mantan Menteri Pertambangan dan Energi yang juga mantan Presiden Konferensi OPEC, Profesor Soebroto dalam acara Hari Pertambangan dan Energi ke-70, di Jakarta, Senin (28/9).

Dia mengakui, upaya pengembangan energi baru terbarukan sampai saat ini belum terlihat nyata.Padahal, ancaman krisis energi sudah diambang mata. Cadangan minyak Indonesia yang tersisa kurang lebih 12 tahun lagi, sementara kebutuhan BBM nasional tiap tahun terus meningkat.

Selain konsumsi BBM yang terus meningkat, konsumsi elpiji, gas bumi, hingga listrik juga setiap tahun terus meningkat.

“Seruan senior kita itu adalah nyata, makanya kami bergegas melakukan penataan diri. Tata lembaga, pikiran, ide, dan tindakan terbaik yang diabadikan kepada masyarakat ke depan,” kata Sudirman.

Sesuai amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) pada 2019, konsumsi energi dalam negeri 60 persen didominasi gas bumi, sisanya batu bara lalu energi baru terbarukan dan selebihnya BBM.

“Target produksi gas kita tahun 2019 harus 60 persen dikonsumsi di dalam negeri. Kemudian kita juga mengejar produksi batubara kita di tahan di 400 juta ton dan 60 persennya digunakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri untuk perkuat rasio elektrifikasi,” katanya.

Elektrifikasi

Elektrifikasi atau tingkat tersambungnya listrik ke seluruh kepala keluarga di Indonesia menjadi tantangan ke depan. Rasio elektrifikasi ditargetkan meningkat dari 86 persen menjadi 97 persen.

Dengan  demikian pada 10 tahun yang akan datang, energi yang dikonsumsi ditargetkan bisa 23 persen berasal dari energi baru terbarukan,” jelas Sudirman.

Sudirman menegaskan, bila proyek energi baru terbarukan tidak digeber dari sekarang, dan tidak mencapai sesuai target 23 persen dalam 10 tahun ke depan, maka Indonesia dalam ancaman serius krisis energi.

“Makanya pemerintah sekarang benar-benar mendorong proyek energi baru terbarukan bisa berjalan,” katanya.

Salah satu energi baru terbarukan yang digeber pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah proyek listrik panas bumi. Indonesia saat ini memiliki potensi terbesar listrik panas bumi di dunia, namun baru termanfaatkan sekitar 5 persen. ers/E-9

 

~Berapa Panel Solar yang Dibutuhkan untuk Seluruh Bumi?

Hanya seluas wilayah Spanyol.

VIVA.co.id- Di antara banyaknya energi terbarukan, tenaga surya merupakan yang paling diremehkan. Padahal solar panel atau energi surya memiliki kekuatan yang luar biasa untuk digunakan seluruh manusia di bumi.

Para ilmuwan percaya, lebih banyak energi yang dihasilkan cahaya matahari ke bumi dalam satu jam, ketimbang yang dibutuhan manusia di seluruh bumi. Sayangnya, tidak banyak negara yang berniat untuk menjadikannya sebagai energi utama. Bahkan di Amerika pun, penggunaan energi surya hanya sekitar 0,39 persen tahun lalu.

Pengusaha visioner seperti Elon Musk merupakan salah satu yang percaya jika energi dari solar sangat luar biasa. Bahkan dia yakin pada 2031 nanti solar panel akan menjadi energi terbesar di dunia.

Namun pertanyaannya, berapa banyak panel surya dan luas wilayah yang dibutuhkan untuk membangun ladang solar panel? Ilmuwan dari Land Art Generator Initiative menunjukkan bahwa ternyata kebutuhan solar panel untuk seluruh warga bumi tidak terlalu ekstrem jumlahnya.

Dilansir melaluiTech Insider, Selasa, 29 September 2015, dalam sebuah uji coba yang dilakukan para peneliti terbukti bahwa mengubah energi solar menjadi pembangkit efisiensinya akan sampai 20 persen. Bahkan jika seluruh wilayah Bumi mau menggunakan energi terbarukan ini pada 2030 nanti, kebutuhan wilayah untuk ladang solar panel hanya seukuran negara Spanyol.

Sebuah peta pun dibuat oleh para peneliti dari Land Art Generator Initiative. Dalam peta tersebut, jika sebuah wilayah negara Spanyol tidak tersedia, ladang solar panel bisa disebar di beberapa belahan bumi. Dan itu akan membutuhkan lahan yang lebih sedikit lagi. Bahkan solar panel bisa disematkan di atap gedung atau disebar di sepanjang gurun.

Dalam menentukan jumlah lahan yang dibutuhkan untuk ladang solar panel, para peneliti menggunakan hitungan matematika.

Data dari Badan Informasi Energi di Amerika memprediksi, konsumsi energi global sampai 2030 mencapai 678 quadriliun British thermal units (Btu). Angka itu jika dikonversikan sama dengan 198,721,800,000,000 kilowatt hours (Kwh). Dan bila angka itu dibagi 400 Kwh dari produksi solar energi per meter persegi (berdasarkan estimasi efisiensi energi sebesar 20 persen), maka hasilnya, lahan panel surya yang dibutuhkan adalah sekitar 496,805 kilometer per segi atau sekitar 191,817 mil per segi.

Jumlah ini juga mempertimbangkan estimasi 70 persen hari cerah yang dialami bumi per tahun, serta fakta adanya pancaran energi matahari sebesar 1.000 watt setiap meter persegi di daratan bumi.

"Angka ini sangat akurat jika kita benar-benar bergantung pada energi surya, tanpa energi fosil, batubara, maupun gas alam. Kita harus bisa membuat hal ini terwujud," tulis para ilmuwan dari Land Art Generator Initiative.

 

~Investor Inggris Berminat Bangun PLTS Senilai Rp 3,5 Triliun

Jakarta, CNN Indonesia -- Investor Inggris dikabarkan berminat berinvestasi di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 200 MW dengan nilai mencapai US$ 250 juta atau sekitar Rp 3,5 triliun. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan investor itu cukup serius karena mereka sudah berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan kementerian dan lembaga terkait demi menjajaki rencana investasi itu. 

Franky mengatakan BKPM melalui kantor perwakilan di London, telah memfasilitasi investor untuk bertemu dengan PLN, Kementerian ESDM, maupun pihak swasta Indonesia yang potensial sebagai mitra, untuk mendiskusikan peluang investasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), baik untuk aplikasi di atas tanah (ground-mounted solar PV) atau dipasang di atap (rooftop solarPV).

“Mereka kini sedang menentukan area potensial untuk dibangun PLTS seperti Sulut, Kalbar, Kalsel dan Kaltim, NTT dan NTB,” ujar Franky dalam keterangan resminya, di Jakarta, Senin (14/9).

Franky menambahkan BKPM berkomitmen mendukung penuh realisasi rencana investasi ini dan menjadikan sebagai pilot project investasi energi terbarukan dari Eropa ke Indonesia. Menurutnya, BKPM akan memfasilitasi investor dalam pengurusan perizinan maupun dalam proses realisasi investasi di daerah.

“Kami memaparkan langkah yang sudah dilakukan pemerintah untuk mendorong investasi di sektor kelistrikan. Salah satu langkah yang dipaparkan adalah penyederhanaan perizinan sektor kelistrikan dari 49 izin dalam waktu 923 hari menjadi 25 izin dalam waktu 256 hari,” katanya.

Pemerintah juga akan memberikan fasilitas tax allowance untuk investasi di sektor kelistrikan, dengan kepastian syarat dan waktu pemrosesan permohonan maksimal 28 hari kerja melalui PTSP Pusat di BKPM.

Dalam kegiatan pemasaran investasi di Milan, Italia, Senin (7/9), BKPM mengidentifikasi minat perusahaan pembangkit listrik terbesar di Italia, untuk membangun dua pembangkit listrik di Indonesia.

“Masing-masing pembangkit listrik tenaga uap di Riau dengan kapasitas 250 MW dan nilai investasi sebesar US$ 280 juta, serta pembangkit listrik geothermal dengan kapasitas 50-55 MW dan nilai investasi sebesar US$ 100 Juta,” kata Franky.

BKPM mencatat, sepanjang semester I 2015 terdapat 226 proyek listrik yang sedang melakukan konstruksi dengan nilai investasi Rp 18,4 triliun. Dari keseluruhan nilai investasi sektor kelistrikan tersebut, 10 persen di antaranya direalisasikan di 14 proyek energi baru dan terbarukan, yaitu pembangkit listrik tenaga air, mikrohidro, panas bumi, dan biomassa.

Minat Investasi di Sektor Industri Minuman

Selain melakukan pertemuan one-on-one dengan investor sektor kelistrikan dalam kegiatan pemasaran investasi di London, Franky juga mengadakan pertemuan one-on-one dengan investor Inggris yang berminat memperluas investasinya di sektor industri minuman sari buah yang terintegrasi dengan perkebunannya.

Franky mengungkapkan, investor tersebut sedang melakukan pembicaraan dengan partner potensial dari Tiongkok untuk melakukan joint venture investment di Indonesia.

“BKPM tentu menyambut baik upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi karena dapat memberikan nilai tambah terhadap ekonomi Indonesia, termasuk penyerapan tenaga kerja. Terlebih, investasi sektor makanan dan minuman termasuk industri padat karya yang menjadi salah satu prioritas BKPM,” ujar Franky.

Sumber: Immanuel Giras Pasopati, CNN Indonesia

 

~Dalam Setahun, 15 Ribu Orang Tewas Terpapar Polusi Batu Bara

Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi nonprofit di bidang konservasi lingkungan, Greenpeace Indonesia, mendesak pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera melakukan subtitusi atas penggunaan bahan bakar fosil ke energi terbarukan.

Desakan tersebut dilontarkan seiring dengan masifnya pemanfaatan batu bara sebagai bahan baku pembangkit listrik yang dicanangkan Presiden Joko Widodo melalui program pembangkit listrik berkapasitas 35 ribu megawatt (mw).

“Kami mengajak seluruh unsur masyarakat untuk mendesak pemerintah Indonesia agar mengakhiri era bahan bakar fosil dan menghentikan deforestasi. Peralihan menuju energi terbarukan dan perlindungan hutan harus segera dipercepat, dengan itu Indonesia dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penyelamatan iklim global,” kata Dian Elviana, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Minggu (27/9).

Dian menungkapkan, adanya dorongan untuk melakukan subtitusi dari penggunaan batu bara ke energi baru terbarukan juga tak lepas dari dampak negatif komoditas emas hitam tersebut.

Mengacu pada penelitian Greenpeace Internasional bersama Universitas Harvard baru-baru ini, tak kurang dari 15 ribu jiwa per tahun di dunia meninggal akibat terpapar polusi dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang diketahui menggunakan batu bara sebagai bahan baku energinya.

Tak hanya itu, katanya hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa ekspansi batu bara yang direncanakan secara signifikan dapat meningkatkan tingkat angka polusi di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memberi dampak negatif pada tingginya biaya kesehatan.

"Indonesia berada di persimpangan jalan. Presiden Jokowi memiliki pilihan, tetap dengan pendekatan bisnis seperti biasa untuk menghasilkan listrik dan mengambil  kehidupan ribuan orang Indonesia, atau memimpin perubahan dan melakukan ekspansi yang cepat untuk mengembangkan energi yang aman, bersih, yaitu energi terbarukan,” tegasnya.

Diminta Hitung Ulang

Dalam program 35 ribu megawatt, PLTU mengambil porsi tak kurang dari 60 persen atau berkisar 21 ribu mw. Berbekal penelitian Greenpeace, Dian pun kembali menegaskan bahwa pemerintah harus menghitung ulang menyoal porsi bauran energi yang akan dipakai dalam program 35 ribu mw.

“Ada kebutuhan mendesak, saat ini, untuk mengambil jalur pembangunan rendah karbon dengan mengembangkan energi terbarukan sebagai solusi. Ini adalah momen harapan, dan menunjukkan bahwa kita dapat memanfaatkan kekuatan alam, seperti matahari dan angin, untuk mengubah krisis iklim,” kata dia.

 

Sumber: Agust Supriadi, CNN Indonesia

 
Halaman 2 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook