Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Teknologi Sel Surya Amerika Serikat

Sel Surya Bisa Melapisi Kaca

Para periset teknologi sel surya Amerika Serikat menemukan cara meningkatkan efisiensi silikon untuk mengubah sinar matahari menjadi listrik. Kini bentuknya amat tipis, bisa dilekatkan pada media lentur sehingga dapat digulung dan transparan sehingga bisa untuk melapisi kaca jendela rumah atau mobil.

"Juga bisa dibuat sebagai lapisan film keabu-abuan untuk arsitektural kaca," kata John Rogers dari Universitas Illinois di dalam jurnal Nature Materials yang dikutip Reuters, Senin (6/10).

Menteri Negara Riset dan teknologi Kusmayanto Kadiman beberapa waktu lalu mengungkapkan, produk akhir sel surya memang dapat dikatakan ramah lingkungan. Akan tetapi, pada proses pembuatannya sebetulnya menimbulkan banyak produk limbah yang tidak ramah lingkungan.

"Inilah yang perlu diwaspadai ketika memproduksi sel surya," kata Kusmayanto. Rogers mengatakan, lapisan sel surya temuan timnya itu diproduksi Semprius Inc di Durham, North Carolina.(NAW)



Sumber : Kompas Cetak

JAKARTA,Rabu

 

~ Pakar Sel Surya Dari Malaysia

Sel Surya Dinilai Negatif
Sebenarnya sumber energi yang tak pernah habis adalah
energi surya. Kecuali matahari sudah tidak mau
bersinar lagi baru energi surya habis hehe
Di Malaysia penelitian untuk eksploitasi energi surya
sangat besar kalau dapat saya kira-kira di UKM dalam
satu tahun mencapai 20 miliar hanya untuk satu
universitas dan satu fakultas saja lho....
Salah satu lulusan dari fakultas energi surya ini
kawan saya baru saja lulus namanya DR. Ir. Tjukup
Marnoto, MT. Dialah pakar pertama yang menggeluti
energi surya. Kalau penasaran mengenai a sampai z nya
energi surya silahkan hubungi dia. Ini alamat emailnya
([EMAIL PROTECTED]). Mudah-mudahan ilmunya dapat
digunakan oleh Bangsa Indonesia.

Salam
Reni
 

~ Sel Surya Buatan Dalam Negeri Dipesan Luar Negeri

Sel Surya Buatan Dalam Negeri Justru Dipesan Luar Negeri

Sel surya dari industri dalam negeri yang sedang dirancang Wilson Walery Wenas dari Institut Teknologi Bandung, dengan investor Bakrie Power dan investor dari Amerika Serikat, justru sudah dipesan pembeli dari luar negeri. Pemesanan sebesar 10 megawatt (MW) datang dari Spanyol dan harus bisa dipenuhi Mei 2009. Sementara itu, pemesanan dari konsumen dalam negeri sama sekali belum ada, padahal kapasitas produksinya 90 MW per tahun. Wilson ketika dihubungi Kompas dari Jakarta, Kamis (9/10), mengatakan, lokasi industri sel surya yang masih tahap persiapan itu berada di Cikarang, Jawa Barat, dengan nama perusahaan Nano-PV. Jenis sel surya yang akan diproduksi berupa sel surya generasi kedua, yaitu sel surya thin film (lapisan tipis) dari hasil temuan Wilson yang kini sudah dipatenkan. "Teknologi yang saya temukan itu nanti akan digabungkan dengan teknologi dari Amerika Serikat," kata Wilson. Termurah di dunia Harga komersial sel surya yang diharapkan, menurut Wilson, bisa mencapai 0,8-0,9 dollar AS per watt. "Harga demikian akan menjadikan sel surya Nano-PV menjadi yang termurah di dunia," kata Wilson. Beberapa waktu sebelumnya, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan, industri sel surya memiliki produk akhir yang ramah lingkungan. Akan tetapi, pada proses pembuatannya harus dicermati karena tergolong tidak ramah lingkungan. Menanggapi persoalan ini, Wilson mengatakan, pembuatan sel surya pada generasi pertama diakui memang tidak ramah lingkungan. Penggunaan logam berat merkuri masih dominan. "Namun, tidak demikian halnya untuk produksi sel surya generasi kedua yang tidak mengandalkan penggunaan logam berat merkuri," kata Wilson menjelaskan. Menurut Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, kebutuhan dalam negeri terhadap sel surya sebetulnya cukup tinggi. Pada tahun 2025, pemerintah menargetkan pemanfaatan energi yang berasal dari sel surya mencapai 800 megawatt. Padahal, kapasitas terpasang saat ini baru mencapai 10 megawatt. Dengan target yang cukup ambisius tersebut, menurut Arya, semestinya setiap tahun pemerintah menargetkan penginstalan sel surya dengan kapasitas 40 megawatt. Namun, target ini belum tercapai. (NAW) Sumber : Kompas Cetak

 

~ LIPI Kembali Mengukuhkan Profesor Riset

LIPI Kembali Kukuhkan Tiga Profesor Riset

Tiga orang peneliti Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI) dikukuhkan menjadi profesor riset, Selasa (19/6). Ketiga peneliti tersebut adalah Dr Sumardi (bidang Kimia), Ir. Ika Hartati Ismet, M.A. (bidang Komponen Elektronika), dan Dr. Yayuk Rahayuningsih (bidang Biologi).

Dalam orasi ilmiahnya, Ir. Ika Hartati Ismet, M. A. menekankan pentingnya pengembangan listrik tenaga surya sebagai upaya mengatasi krisis energi. Menurutnya, pengembangan listrik tenaga surya untuk negara kepulauan seperti Indonesia memiliki prospek yang baik karena bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.

"Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah terpencil dan berskala kecil," ujarnya dalam rilis yang diterima KCM. Ia mengatakan inti PLTS berupa sel surya yang terbuat dari kristal silikon untuk mengubah cahaya Matahari menjadi listrik. Sedangkan, komponen pendukungnya berupa modul surya, baterai, regulator, dan konstruksi penyangganya.

Selama ini, kebutuhan sel surya di Indonesia masih tergantung impor sehingga harganya masih tinggi. Selain itu, efisiensi sel surya dalam menghasilkan listrik belum sebaik sumber energi lainnya sehingga kurang ekonomis. Namun, seiring bertambahnya permintaan akan sel surya dan teknologi pembuatannya yang masih terus dikembangkan, harga sel surya secara bertahap dapat diturunkan.

Sementara itu, Dr. Yayuk Rahayuningsih dari Pusat penelitian Biologi LIPI menjelaskan peran Collembola (spring tail atau ekor pegas) dalam perombakan bahan organik tanah. Sedangkan, Dr. Sumardi dari Pusat penelitian Kimia menakankan pentingnya kompetensi metrologi kimia agar validitas hasil penelitan/pengukuran dapat lebih baik.

Dengan dikukuhkannya tiga peofesor riset baru, kini sudah terdaftar 187 profesor riset. Gelar profesor riset merupakan gelar yang diberikan LIPI kepada para penelitinya yang telah berjasa mengembangkan bidang penelitian yang ditekuninya. (*)


Penulis: Wah

JAKARTA, KCM

 

~ Pemerintah Tidak Punya Kemauan Komersialisasi Sel Surya

Sel Surya Gagal Komersial - Pemerintah Tidak Punya Kemauan

Riset dan pengembangan teknologi sel surya sebagai sumber energi listrik terbarukan oleh LIPI gagal menuju komersialisasi. Mengantisipasi krisis energi karena harga minyak terus melambung, LIPI beralih fokus pada riset dan pengembangan sel bahan bakar dengan gas hidrogen.

"Teknologi sel surya tidak bisa secara penuh menggantikan bahan bakar minyak. Masih butuh teknologi baterai yang lebih efisien untuk menyimpan energinya," kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie kepada Kompas, Senin (28/4) di Jakarta.

LIPI sejak tahun 1980 menetapkan riset dan pengembangan sel surya untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan energi (listrik) dari sumber energi terbarukan. Sel surya butuh sumber energi sinar matahari sebagai sumber terbarukan itu.

Salah seorang peneliti sel surya dari Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI, Ika Hartika Ismet, di Bandung ketika dihubungi kemarin menyatakan, sel surya sudah diteliti sampai tingkat efisiensi 10 persen dalam mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Standar efisiensi untuk bisa diproduksi komersial minimal 12-14 persen.

Tak ada kemauan

Menurut Ika, selama ini tidak ada kemauan pemerintah untuk mengaplikasikan dan mengomersialisasikan sel surya secara serius sehingga Indonesia ketinggalan dibandingkan Singapura atau Malaysia. "Saya merasa tua di laboratorium. Tetapi, hasil riset dan pengembangan sel surya hanya berjalan di tempat," katanya.

Untuk meningkatkan efisiensi dari 10 persen menjadi 12-14 persen tidaklah sulit. Menurut Ika, dibutuhkan perlengkapan plasma-enhanced chemical vapor deposition dengan harga di bawah 1 juta dollar AS.

Selain itu, secara teknis pembentuk sel surya berupa wafer silicon multikristal dengan ukuran 10 cm x 10 cm x 0,3 mm harus ditingkatkan, dari lifetime electron 1-1,5 micro second menjadi 5 micro second.

"Peningkatan kemampuan itu tidak butuh biaya yang tinggi, tetapi sampai sekarang tidak pernah ada investasi pengembangan sel surya," kata Ika.

Menurut Umar, tidak hanya kelengkapan teknologi sel surya yang masih menghadapi kendala, tetapi faktor pendukung seperti baterai sebagai penyimpan arus listrik yang dihasilkan dari pengubahan sinar matahari tersebut sampai sekarang belum diperoleh teknologi yang optimal.

Akibat gagalnya sel surya, LIPI sekarang memfokuskan diri pada pengembangan teknologi sel bahan bakar. "LIPI telah mengembangkan pembuatan membran sebagai media reaksi hidrogen dengan oksigen untuk menghasilkan energi," ujar Umar.

Saat ini di beberapa negara seperti China sudah dikembangkan jenis kendaraan dengan sumber bahan bakar gas hidrogen dengan limbah paling ramah lingkungan, yaitu air murni.

LIPI sekarang mengembangkan kendaraan marlip (singkatan dari marmut listrik LIPI)-semula berbahan bakar listrik dari baterai, sekarang akan diganti dengan gas hidrogen. (KOMPAS/NAW)

JAKARTA, SELASA

Sumber : KOMPAS
 
Halaman 1046 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook