Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Sel Surya Dioptimalkan Fotosintesis Buatan

Fotosintesis Buatan Optimalkan Sel Surya

Sejumlah peneliti Institut Teknologi Massachusetts (MIT), AS melakukan lompatan revolusioner yang dapat mengubah tenaga Matahari dari sumber energi alternatif menjadi sumber energi utama. Mereka telah berhasil mengatasi kendala utama tenaga solar yakni meningkatkan kemampuan untuk menyimpan energi yang cukup digunakan ketika matahari tidak bersinar.

Sampai saat ini, tenaga Matahari hanya efektif menjadi sumber energi alternatif pada siang hari karena menyimpan energi solar sangat mahal dan tidak efisien. Namun, peneliti MIT berhasil menemukan proses penyimpanan energi solar yang sederhana, murah, dan efisien.

"Ini adalah puncak dari apa yang telah kita bicarakan selama bertahun-tahun. Selama ini tenaga solar terbatas. Sekarang, kita mulai dapat berpikir tenaga solar tidak terbatas," kata Daniel Nocera, salah satu peneliti MIT.

Fotosintesis buatan

Nocera dan koleganya Matthew Kanan mengembangkan teknik yang terinspirasi fotosintesis pada tumbuhan. Mereka mengembangkan proses yang memungkinkan energi matahari digunakan untuk memisahkan gas oksigen dan hidrogen pada air. Kemudian, gas oksigen dan hidrogen digabungkan kembali di dalam sel bahan bakar (fuel cell) untuk menghasilkan listrik.

Komponen utama dari proses baru tersebut adalah katalis baru yang menghasilkan gas oksigen dari air, sedangkan katalis lain menghasilkan gas hidrogen yang berharga. Katalis baru terdiri dari logam cobalt, fosfat, dan elektroda, yang ditempatkan di dalam air. Ketika listrik apakah dari sel photovoltaic, turbin angin, atau sumber lainnya berjalan melalui elektroda, cobalt dan phosphate membentuk lapisan tipis pada elektroda dan gas oksigen dihasilkan.

Digabungkan dengan katalis lain, seperti planitum - yang dapat menghasilkan gas hidrogen dari air, sistem ini dapat menduplikasi air memisahkan reaksi yang terjadi selama fotosintesis.

"Katalis baru bekerja pada temperatur ruangan, dalam pH air netral, dan sangat mudah dipasang. Makanya, saya tahu hal ini akan bekerja. Ini sangat mudah diimplementasikan," katanya.

"Sinar matahari memiliki potensi luar biasa sebagai sumber energi untuk menyelesaikan masalah energi dunia," kata Nocera. Sinar matahari selama satu jam mampu menyediakan kebutuhan energi seluruh makhluk sejagat raya selama setahun.

James Barber, pemimpin studi fotosintesis yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menyebut penemuan Nocera dan Kanan sebagai lompatan raksasa terhadap usaha menghasilkan energi yang bersih dan bebas karbon dalam jumlah besar.  "Ini merupakan penemuan besar dengan implikasi yang luar biasa terhadap kesejahteraan sejarah manusia di masa mendatang," kata Barber, profesor biokimia di Imperial College London.

Meski menjanjikan, penemuan ini belum ekonomis dan harus disempurnakan agar memiliki tingkat produktivitas tinggi. Saat ini tersedia electrolyzer, yang memisahkan air dengan tenaga listrik, dan sering digunakan oleh dunia industri. Namun, electrolyzer tidak cocok untuk fotosintesis buatan karena sangat mahal.

Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengintegrasikan penemuan ilmiah baru ini ke dalam sistem photovoltaic yang sudah ada. Namun, Nocera mengatakan optimis sistem tersebut akan menjadi nyata.

"Ini memang baru permulaan," kata Nocera, yang melakukann atas dana Proyek Revolusi Solar yang dibiayai oleh Chesonis Family Foundation dan MIT Solar Frontiers Center. Nocera berharap, dalam sepuluh tahun mendatang, sel photovoltaic dapat memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga pada saat siang hari, dan menggunakan energi solar untuk menghasilkan oksigen dan hidrogen untuk memenuhi sel bahan bakar rumah mereka. Listrik dengan media kabel yang dialirkan dari pusat pembangkit mungkin akan menjadi masa lalu. (kompas.com)

MASSACHUSETTS

 

~ Industri Sel Surya Banyak Dipesan Luar Negeri

Indonesia, Rumah Industri Inovasi Sel Surya Favorit Dunia

Industri Sel Surya - Pemesanan Justru Banyak dari Luar Negeri

JAKARTA, KOMPAS - Sel surya dari industri dalam negeri yang sedang dirancang Wilson Walery Wenas dari Institut Teknologi Bandung, dengan investor Bakrie Power, dan investor dari Amerika Serikat, justru sudah dipesan pembeli dari luar negeri.

Pemesanan sebesar 10 megawatt (MW) datang dari Spanyol dan harus bisa dipenuhi Mei 2009. Sementara itu, pemesanan dari konsumen dalam negeri sama sekali belum ada, padahal kapasitas produksina 90 MW per-tahun.

Wilson ketika dihubungi Kompas dari Jakarta, Kamis (9/10) mengatakan, lokasi yang industri sel surya yang masih dalam tahap persiapan itu berada di Cikarang, Jawa Barat, dengan nama perusahaan Nano-PV. Jenis sel surya yang akan diproduksi berupa sel surya generasi kedua, yaitu sel surya thin film (lapisan tipis) dari hasil temuan Wilson yang kini sudah dipatenkan.

“Teknologi yang saya temukan itu nanti akan digabungkan dengan teknologi dari Amerika Serikat”, kata Wilson.

Termurah di Dunia

Harga komersial sel surya yang diharapkan menurut Wilson, bisa mencapai 0,8-0,9 dollar AS per watt. “Harga dmeikian akan mengjadikan sel surya Nano-PV menjadi yang termurah di dunia”. Kata Wilson.

Beberapa waktu sebelumnya, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman mengatakan industri sel surya memiliki produk akhir yang ramah lingkungan. Akan tetapi, pada proses pembuatannya harus dicermati karena tergolong tidak ramah lingkungan.

Menanggapi persoalan ini, Wilson mengatakan pembuatan sel surya pada generasi pertama diakui memang tidak ramah lingkungan. Penggunaan logam berat merkuri masih dominan.

“Namun, tidak demikian halnya untuk produksi sel surya generasi kedua yang tidak mengandalkan penggunaan logam berat merkuri,” kata Wilson menjelaskan.

Menurut Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, kebutuhan dalam negeri terhadap sel surya sebetulnya cukup tinggi. PAda tahun 2025, pemerintah menargetkan pemanfaatan energi yang berasal dari sel surya mencapai 800 megawatt. Padahal, kapasitas terpasang sel ini baru mencapai 10 megawatt.

Dengan target yang cukup ambisius tersebut, menurut Arya, semestinya tiap tahun pemerintah menargetkan penginstalan sel surya dengan kapasitas 40 megawatt. Namun, target ini belum tercapai (NAW)

 

~ Sel Surya Buatan Wilson Walery W Dari ITB

Sel Surya Produk Indonesia Justru Dipesan Spanyol
 
Sel surya dari industri dalam negeri yang sedang dirancang Wilson Walery Wenas dari Institut Teknologi Bandung, dengan investor Bakrie Power dan investor dari Amerika Serikat, justru sudah dipesan pembeli dari luar negerl

Pemesanan sebesar 10 megawatt (MW) datang dari Spanyol dan harus bisa dipenuhi Mei 2009. Sementara itu, pemesanan dari konsumen dalam negeri sama sekali belum ada, padahal kapasitas produksinya 90 MW per tahun.

Wilson ketika dihubungi Kompas dari Jakarta, Kamis (9/10), mengatakan, lokasi industri sel surya yang masih tahap persiapan itu berada di Cikarang, Jawa Barat, dengan nama perusahaan Nano-PV. Jenis sel surya yang akan diproduksi berupa sel surya generasi kedua, yaitu sel surya thin film (lapisan tipis) dari hasil temuan Wilson yang kini sudah dipatenkan.

"Teknologi yang saya temukan itu nanti akan digabungkan dengan teknologi dari Amerika Serikat," kata Wilson.

Termurah di dunia

Harga komersial sel surya yang diharapkan, menurut Wilson, bisa mencapai 0,8-0,9 dollar AS per watt. "Harga demikian akan menjadikan sel surya Nano-PV menjadi yang termurah di dunia," kata Wilson.

Beberapa waktu sebelumnya, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan, industri sel surya memiliki produk akhir yang ramah lingkungan. Akan tetapi, pada proses pembuatannya harus dicermati karena tergolong tidak ramah lingkungan.

Menanggapi persoalan ini, Wilson mengatakan, pembuatan sel surya pada generasi pertama diakui memang tidak ramah lingkungan. Penggunaan logam berat merkuri masih dominan.

"Namun, tidak demikian halnya untuk produksi sel surya generasi kedua yang tidak mengandalkan penggunaan logam berat merkuri," kata Wilson menjelaskan.

Menurut Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, kebutuhan dalam negeri terhadap sel surya sebetulnya cukup tinggi. Pada tahun 2025, pemerintah menargetkan pemanfaatan energi yang berasal dari sel surya mencapai 800 megawatt. Padahal, kapasitas terpasang saat ini baru mencapai 10 megawatt.

Dengan target yang cukup ambisius tersebut, menurut Arya, semestinya setiap tahun pemerintah menargetkan penginstalan sel surya dengan kapasitas 40 megawatt. Namun, target ini belum tercapai. (NAW/Kompas.com)

 

~ Pemanfaatan Sel Surya Untuk Pembangkit Listrik

Target Sel Surya Ambisius, Industri Tidak Disiapkan

JAKARTA, RABU - Pemerintah menargetkan  pemanfaatan sel surya untuk pembangkit listrik pada 2025 nanti mencapai 800 megawatt. Dengan kondisi kapasitas sel surya terpasang saat ini hanya 10 megawatt, target tersebut dianggap terlampau ambisius, apalagi sampai sekarang tidak ditopang industri sendiri yang menghasilkan bahan perlengkapan sel surya.

”Dengan target ambisius seperti itu, semestinya setiap tahun pemerintah  mampu menargetkan penginstalan sel surya dengan kapasitas 40 megawatt. Kalau ada jaminan kelangsungan dari pemerintah hingga 2025 nanti, kondisi ini sebenarnya bisa meyakinkan investor untuk membuat industri sel surya,” kata Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, Rabu (16/1), di Jakarta.

Menurut Arya, pemerintah pada tahun 2008 sudah mengalokasikan anggaran untuk pengadaan sel surya di daerah-daerah terpencil. Alokasi itu terbagi di kantor Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal mencapai Rp 180 miliar, sedangkan di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral mencapai Rp 400 miliar.
 
Dari sejumlah alokasi dana tersebut, lanjut Arya, sebetulnya mampu merangsang investor untuk memproduksi sel surya di Indonesia. Selain didukung bahan baku seperti silikon yang berlimpah di Indonesia, industri sel surya turut menciptakan lapangan kerja dan memiliki prospek usaha sumber enenrgi terbarukan yang makin diminati di seluruh dunia.
 
”Untuk merangsang investor mau memproduksi sel surya di Indonesia, pemerintah cukup menjaga kelangsungan alokasi anggaran setiap tahunnya mencapai minimal seperti tahun 2008 ini,” kata Arya.


Wartawan: Nawa Tunggal
 

~ Efisiensi Sel Surya Mencapai 60 %

Efisiensi Sel Surya Capai 60 Persen

Lonnie Johnson yang dikenal sebagai penemu pistol air mainan Super Soaker kembali mengejutkan dunia dengan mengembangkan teknologi pembangkit listrik bertenaga surya yang mampu menghasilkan efisiensi hingga 60 persen. Mengingat efisiensi pengubahan energi surya, baik cahaya maupun panas, menjadi listrik dengan sel surya yang ada di pasaran baru mencapai 30-40 persen, temuan ini dapat memangkas ongkos industri hingga setengahnya.

Johnson tidak menggunakan cahaya melainkan panas Matahari untuk memanen energi listrik. Jadi, ia tidak membutuhkan prinsip kerja sel-sel fotovoltaik dari silikon yang mengonversi cahaya langsung menjadi listrik.

Panas Matahari yang dikumpulkan juga tidak dikonversi menjadi energi gerak lebih dulu untuk memutar turbin meskipun cara kerja yang digunakan mirip mesin pengubah panas menjadi gerak. Sistem yang dikembangkan Johnson disebut JTEC (Johnson Thermoelectric Energy Coversion).

Sistem JTEC menggunakan PCM (Proton Conductive Membran) atau membran yang hanya dapat melewatkan proton. Bersama dengan sepasang elektroda, membran tersebut membentuk MEA (Membran Electrode Assembly) dengan PCM berada di tengah-tengah kedua elektroda. Mirip dengan sistem yang terdapat pada fuel cell.

Jika MEA bertekanan tinggi akibat pemanasan suhu gas hidrogen mengalami reaksi oksidasi. Hasilnya berupa ion hidrogen bermuatan positif (proton) dan elektron. Perbedaan tekanan di kedua elektroda menyebabkan proton mengalir melalui membran. Sementara elektron mengalir melalui elektroda ke sirkuit luar MEA.

Pada sisi MEA yang bertekanan rendah, proton-proton direduksi oleh elektron sehingga membentuk kembali gas hidrogen. Gas hidrogen pada sisi ini dapat secara otomatis 'dipompa' kembali ke sisi yang bertekanan tinggi jika ada arus yang mengalir di MEA.

JTEC menggunakan sepasang sirkuit MEA. Sirkuit yang pertama dihubungkan dengan sumber panas dan yang lainnya dihubungkan dengan kisi pendingin. Hidrogen mengalami sirkulasi di dalam mesin ini melalui suatu saluran, diantara dua sirkuit MEA.

"Ia mirip mesin pengubah panas konvensional. Perbedaan suhu digunakan untuk menghasilkan gradien tekanan," ujar Paul Werbos, Direktur Program National Science Foundation (NSF) yang mendanai proyek ini.

Yang membedakannya, perbedaan tekanan ini tidak dipakai untuk memutar turbin, melainkan digunakan untuk mendorong ion menembus membran. "Ini benar-benar cara baru untuk menghasilkan listrik dari panas," kata Werbos dengan bangga.

Semakin besar beda suhu di antara dua elektroda, semakin besar efisiensinya. Bekerja sama dengan Heshmat Aglan, seorang profesor teknik mesin di Universitas Tuskegee, Alabama, AS, Johnson berharap dapat membuat prototip pertama yang mampu mengumpulkan panas hingga 200 derajat Celcius tahun inimenggunakan membran yang terbuat dari lapisan keramik sangat tipis.

Keduanya juga sudah merancang sistem yang mampu mengumpulkan panas hingga 600 derajat Celcius. Jika, suhu sebesar ini dicapai, efisiensi konversi energi yang diperoleh dapat mencapai 60 persen. Perlu diketahui saja, parabola pengumpul panas terbaik saat ini sudah sanggup mengumpulkan panas hingga 800 derajat Celcius.


WAH
Sumber : LIVESCIENCE
 
Halaman 1045 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook