Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Sel PLTS Dari Bahan Alami

Sel Surya Berbahan Alami

Sel pembangkit listrik tenaga surya bisa dibuat dari bahan alami. Penggunaan bahan alami bisa menekan harga sehingga sel pembangkit listrik lebih terjangkau. Guru Besar Fotokimia ITS Syafsir Akhlus menuturkan, selama ini sel surya dibuat dari silikon. Harga silikon yang mahal membuat sel surya tidak terjangkau oleh sebagian besar publik.

“Itu menjadi penyebab sel surya susah dikembangkan. Padahal, listrik tenaga surya termasuk berpotensi besar karena Indonesia disinari matahari sepanjang tahun,” ujarnya di Surabaya, Selasa (17/4).

Karena itu, ia menguji pembuatan sel surya dari bahan alam yang lebih murah. Sel dibuat dengan menggunakan pelapis di antara dua kaca. Kedua kaca itu ditempel dengan oksida timah (SnO2) dan titanium oksida (TiO2). Pelapis itu juga ditambah dengan pewarna dari buah manji dan elektrolit.

Pewarna dapat digunakan untuk memperlakukan energi sebagai rekatan atau produk reaksi fotokimia. Bila suatu molekul menyerap foton (cahaya), maka elektron dalam keadaan dasar dapat berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi (tereksitasi). “Elekron tereksitasi singlet bisa kembali ke keadaan dasarnya bila stimulus energi yang diberikan sudah tidak ada lagi,” kata Syafsir.

Saat elektron kembali ke keadaan dasar, bisa terjadi fluorensi dan fosforesensi. Kedua proses itu menghasilkan energi listrik. Energi dari proses itu bisa dialirkan ke pewarna melalui elektroda karbon. (RAZ)

(Digunting tempel dari Kompas)

Kompas

 

~ Hambatan Penerapan Teknologi Sel Surya

Sel Surya Dinilai Negatif

Pemerintah Tersandera Kepentingan Pedagang BBM

47p.jpg


Hal-hal negatif mengenai teknologi sel surya amat menonjol sehingga hambatan menerapkan teknologi sel surya ini lebih dominan. Masyarakat masih terbentur pandangan bahwa teknologi energi terbarukan ini memakan investasi tinggi, arusnya tidak stabil, konstruksi memakan ruang, perawatan sulit.Semua itu ditutup dengan minimnya rangsangan pemerintah untuk memberikan insentif atau subsidi bagi pengembang teknologi sel surya.

Arma Tamru, Manajer Pengembangan Bisnis PT Azet Surya Lestari, sebuah perusahaan listrik tenaga surya, mengungkapkan persoalan-persoalan itu kepada Kompas ketika menunjukkan instalasi ”rumah” beratap sel surya seluas 18 m2, kapasitas 5.400 wattpeak (maksimum daya), Rabu (7/5), di kawasan Ciputat, Tangerang.

”Justru listrik dari sel surya itu lebih stabil dibanding listrik konvensional dari PLN,” kata Arma. Arma menjelaskan, instalasi sel surya sudah dilengkapi peralatan pembatas energi serta pengaturan frekuensi dan tegangan supaya stabil.

Ini berbeda dari tegangan listrik PLN. Karena penyaluran relatif jauh, frekuensi dan tegangannya sering tidak stabil. Tegangan listrik yang tidak stabil menyebabkan peralatan elektronik cepat rusak. Arma mengakui, investasi sel surya relatif mahal. Namun, itu hanya pada tahap awal pemasangan. Sekarang banyak dipasarkan teknologi sel surya dengan lifetime atau daya hidup produksi listrik mencapai 40 tahun. Jika dihitung, penggunaan listrik menjadi lebih murah.

”Sekarang yang disebutkan lifetime sel surya 25 tahun itu sebagai patokan masa garansi perusahaan. Selanjutnya, sel surya masih dapat digunakan sampai 40 tahun meski ada penurunan produktivitas,” kata Arma. Tentang anggapan sel surya memakan ruang, bisa diatasi antara lain dengan pemanfaatan modul surya sebagai pengganti genteng atau atap rumah, atau untuk kaca jendela. Soal perawatan yang rumit ditepis Arma.

Tersandera kepentingan

Masalah yang jauh lebih penting, menurut Arma, adalah perhatian yang lebih serius dari pemerintah untuk memperluas pemanfaatan sel surya.

Dihubungi secara terpisah, anggota DPR, Sonny Keraf, kemarin menyatakan, pemerintah memang tidak serius mengembangkan diversifikasi energi ke energi terbarukan, tak hanya sel surya. ”Saya berpandangan, pemerintah telah tersandera oleh kepentingan-kepentingan para pedagang bahan bakar minyak fosil sehingga enggan melakukan diversifikasi ke energi alternatif yang terbarukan,” kata Sonny.

Sonny memaparkan, pemerintah sebenarnya melalui UU No 30/2007 tentang Energi diamanatkan membentuk Dewan Energi Nasional sebagai badan yang menetapkan langkah-langkah penanggulangan kondisi krisis dan darurat energi (Pasal 12 Ayat 2 c). Semestinya, Dewan Energi Nasional sudah terbentuk pada Februari-Maret 2008. ”Sampai sekarang tidak terlihat tanda-tanda pembentukan dan operasionalisasi lembaga itu,” katanya. (NAW)

Harian Kompas

 

~ Tanggapan Pemesanan Sel Surya

Satu Tanggapan ke “Pemesanan Sel Surya untuk Penerangan Meningkat”

Kalo implementasi…benar-benar go public, dan masyarakat (nelayan) bisa menikmatinya bisa efisiensi bahan bakar minyak pa.

kira-kira implementasi produk bapak….mungkin enda dipromosikan untuk masyarakat pesisir atau masyarakat yang tinggal di kepulan (terpencil). coba pa bantu masyarakat pulau untung jawa (kab. kepulauan seribu)…sekarang kan sedang mengembangkan obyek wisatanya dan di kepulauan ini untuk keliling wisata kampung tersedia transportasi sepeda pedal alangkah indahnya jika teknologi sel suraya dikembangkan ke kendaraan roda empat sebagai pengganti sepeda pedal. selain itu untuk mengantisipasi keterbatasan pasokan listrik (giliran) milik pln yang disalurkan dari teluk gong ke pulau ini melalui bawah laut (pengkabelan) dan dapat terpenuhi pasokan penarangan penduduk, hal ini dimaksudkan untuk memberikan kenyaman bagi para wisatawan yg berkunjung ke pulau untung jawa ini. Selain itu, konsep ramah lingkungan bebas polusi ini juga sangat cocok karena untuk mengurai suara bising dari kendaraan…sehingga mengganggu kenyamanan pengunjung.
Coba…pa penjajakan dengan pemdakab Kep. Seribu…mudah-mudahan dpt mempercepat proses pembangunan di Pulau Untung Jawa ini. Dan peluang ke depannya juga dapat mengggantikan transportasi perahu kayu bermotor bakar diesel yang saat ini masih dikelola oleh masyarakat teluk gong jakarta.
terima kasih, wassalam

Sayim dolant

 

~ Pemesanan Sel Surya Kian Meningkat

Pemesanan Sel Surya untuk Penerangan Meningkat

Setelah minyak tanah makin sulit didapat dan harganya meningkat di pelosok-pelosok Nusantara, pemesanan sel surya untuk penerangan di desa-desa terpencil yang belum terjangkau oleh penerangan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) pun meningkat. Salah satu distributor sel surya merek Solare, yang bekerja sama dengan pemerintah daerah di berbagai provinsi, mengalami peningkatan pesanan tahun ini. Sejak Januari 2005, produksi 700 unit sel surya selalu habis dipasangkan ke rumah-rumah di pedesaan.

”Kami baru bisa memproduksi 700 unit per bulan. Tapi, pemesanan terus meningkat dari jumlah itu, terutama setelah minyak tanah makin sulit didapat dan harganya makin mahal di desa- desa,” kata Anton Tirto, distributor Solare, di Bandung, (28/8).

Permintaan untuk menjadi agen pun bertambah bulan ini. Di antaranya datang dari Kalimantan Timur, Jambi, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau.

Solare juga sudah membuat kontrak untuk menerangi desa- desa di beberapa kabupaten di Kalimantan Timur, Kepulauan Nias, dan Jawa Barat (Jabar) untuk bulan September ini. Wilayah di Jabar yang desanya akan diterangi lampu antara lain di Cicalengka, Majalengka, Garut, dan Cianjur.

Sebelumnya masyarakat desa menerangi rumahnya di malam hari dengan lampu minyak tanah. Namun, dengan sel surya, paling tidak setiap rumah bisa mendapatkan penerangan setara 40 watt listrik PLN. Harga sel surya yang ditawarkan dari Rp 1,05 juta hingga Rp 4 juta. Sel surya bisa bertahan selama 20 tahun, asalkan tidak pecah panelnya.

Sel Surya yang disinari matahari sehari penuh bisa menyimpan energi untuk penerangan selama empat hari empat malam.

Selain digunakan untuk rumah di pedesaan, sel surya banyak digunakan oleh para nelayan untuk dipasang di perahu-perahunya saat melaut. Juga digunakan pada vila-vila yang disinggahi beberapa hari dalam sebulan sehingga mereka tidak perlu memasang listrik dari PLN.

”Karena masyarakat tidak membeli minyak tanah, pemerintah terbantu, sebab tidak perlu mengeluarkan uang untuk subsidi,” demikian Anton. (ynt)

(Digunting-tempel dari Kompas Jawa Barat)

Bandung, Kompas

 

~ Nanosilikon Sebagai Penelitian Sel Surya II

Nanosilikon untuk Swaenergi

Kegagalan memproduksi sel surya di Indonesia, meski telah dilakukan penelitian sejak 28 tahun silam, bukan jalan buntu. Fisikawan dari Institut Teknologi Bandung, Wilson Walery Wenas (44), menerobos kebuntuan itu dengan hasil penelitian sel surya generasi kedua yang sudah dipatenkan untuk segera diproduksi di Indonesia.

Sel surya generasi kedua sering disebut teknologi nanosilikon,” tutur Kepala Laboratorium Semikonduktor dan Listrik Tenaga Surya pada Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut, Rabu (4/6).

Sel surya generasi pertama menggunakan silikon setebal 200 mikron meter (µm),  sedangkan sel surya generasi kedua dengan silikon 1 µm. Ukuran ini sama dengan 0,000001 (sepersejuta) meter.

Nanosilikon memperkecil kapasitas silikon sebagai bahan semikonduktor yang menghasilkan arus listrik dari photon atau energi cahaya matahari. Pengecilan kapasitas silikon ini menekan jumlah silikon yang dibutuhkan sehingga dapat menekan biaya produksi sel surya generasi kedua. Wilson sudah membuktikan melalui penelitiannya. Titik terang?

Memang menjadi pertanyaan, bagaimana menjadikan silikon setebal 200 µm menjadi 1 µm? Jawab Wilson, caranya dengan mengubah silikon sebagai unsur padat (pada sel surya generasi pertama) menjadi unsur gas (pada sel surya generasi kedua).

”Gas silikon dapat diperoleh di banyak lokasi pertambangan batu bara di Indonesia. Jadi, bahannya sangat berlimpah,” kata Wilson yang meraih gelar doktor dari Tokyo Institute of Technology, Jepang, pada 1994. Tahun 1992 dia meraih gelar S-2 di tempat yang sama setelah tahun 1988 lulus dari ITB.

Menurut dia, kecilnya biaya produksi sel surya generasi kedua dengan menurunkan komponen silikon sudah tahan uji.

Paten dari hasil penelitiannya mampu merangsang kegiatan komersialisasinya. Wilson telah sukses menggandeng investor dari Amerika Serikat untuk menciptakan pabrik sel surya generasi kedua di Indonesia.

Akankah industri sel surya dalam negeri menuju titik terang?

Menurut Wilson, harga sel surya generasi kedua mencapai 1 dollar AS per watt, sedangkan sel surya generasi pertama kini masih bertengger dengan harga 4-5 dollar AS per watt.

Berdasarkan penghitungan suplai energinya, bisa mencapai harga Rp 400 per kilowattjam. Ini cukup kompetitif jika dibandingkan dengan harga listrik PLN yang sekarang masih sekitar Rp 650 per kilowattjam.

Listrik dari sel surya generasi kedua ini menjadi kandidat listrik dengan harga termurah saat ini. Di dunia, penelitian sel surya generasi pertama diawali pada tahun 1970-an, sedangkan generasi kedua pada 1990-an. Pada tahun itu pula, saat gagasan sel surya generasi kedua terlahir, Wilson mulai mencecap ilmunya di Jepang.

”Hasilnya sekarang sudah diuji coba penggunaan produktivitas sel surya generasi kedua dibandingkan dengan generasi pertama di ITB. Kapasitas listrik generasi kedua hasil penelitian saya lebih tinggi 15 persen,” kata Wilson.

Efektivitas pengubahan partikel cahaya matahari menjadi listrik pada sel surya generasi kedua 7-9 persen. Menurut Wilson, itu memang di bawah sel surya generasi pertama, 12-14 persen. Tetapi, dengan ditunjang perbandingan kapasitas silikon 1:200, sel surya generasi kedua tetap lebih unggul.

Apalagi harga 1 dollar AS per watt pada sel surya generasi kedua, ungkap Wilson, juga akan lebih kompetitif jika dibandingkan dengan harga 4-5 dollar AS per watt pada generasi pertama. Tunggu saja realisasi produksinya….

”Dalam waktu satu sampai dua bulan ini akan dicapai kesepakatan joint venture antara investor AS dan investor dalam negeri. Investor AS itu maunya harus ada investasi dari pengusaha dalam negeri juga,” kata Wilson.

Rendahnya daya beli

Setelah masalah dana teratasi, konstruksi pabrik akan dimulai. Menurut Wilson, pengerjaan konstruksi pabrik dengan kapasitas produksi 10 megawatt (Mw) per tahun hanya memakan waktu sembilan bulan. Investasi awal 300 miliar rupiah.

”Untuk pemasaran hasil produksi, memang sekarang menghadapi tantangan, yaitu rendahnya daya beli masyarakat. Tetapi, kalau memang daya beli masyarakat tetap tidak menjangkau, sel surya generasi kedua ini akan diekspor,” kata Wilson.

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan, rencana pembuatan industri sel surya generasi kedua sudah disampaikan kepadanya. Pemerintah menyambut positif atas rencana tersebut. ”Akhirnya intuisi investor sampai pula untuk memproduksi sel surya,” kata Kusmayanto.

Menurut dia, pemerintah tidak perlu menyampaikan jaminan pasar untuk pengembangan industri sel surya. Begitu pula industri lainnya. Tetapi, intuisi investor itu sendiri yang akan menentukan produk industrinya akan diterima pasar atau tidak.

Wilson bukan dengan sembunyi-sembunyi, tetapi dengan ketekunan meneliti, akhirnya menyediakan jalan bagi produksi sel surya dalam negeri. Tidak tanggung-tanggung, ketekunannya itu menjadi sebuah lompatan menyongsong era teknologi nanosilikon untuk sel surya meski masih jauh dari harapan untuk menggapai swaenergi.

Menurut Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, pada 2025 kebijakan pemenuhan bauran energi dari sel surya ditetapkan pemerintah sebesar 800 MW. Tahun ini sel surya baru terpasang 10 MW.

Dalam 17 tahun ke depan, pemenuhan sel surya harus mencapai 790 MW—setiap tahun dibutuhkan pemenuhan 46 MW dari sel surya. Pabrik sel surya Wilson, jika jadi berdiri, berproduksi 10 MW per tahun.

Kiprah pemerintah sekarang tetap dinanti untuk mewujudkan swaenergi melalui produk dalam negeri….

 
Halaman 1044 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook