Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Sel Surya Potensial Dikembangkan

Perlu Keputusan Politik Kembangkan Sel Surya

Sebagai negara yang dilewati garis khatulistiwa, Indonesia potensial mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya sebagai alternatif batubara dan diesel. Namun, hingga saat ini sikap pemerintah untuk mengembangkannya dirasa kurang serius.

Ahli sel surya, Wilson Wenas dari Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (28/10), di Bandung, mengatakan, belum ada keputusan politik untuk mengembangkan teknologi itu sebagai bagian dari industri strategis.

"Kami khawatir jika nantinya teknologi ini berkembang, Indonesia hanya jadi penonton. Padahal, Indonesia mempunyai nilai tambah sebagai negara khatulistiwa yang menerima panas matahari lebih banyak dari negara lain," katanya.

Menurut Wilson, aplikasi teknologi sel surya untuk sekarang memang relatif mahal, namun bila tidak mengembangkannya , nantinya Indonesia hanya akan menjadi pasar empuk bagi produsen luar.

"Dulu, aplikasi teknologi handphone juga pernah dilakukan oleh ITB. Tetapi, karena tidak ada keputusan politik mengenai industri handphone ini, akhirnya Indonesia hanya jadi konsumen. Mana ada handphone buatan Indonesia," katanya.

Menurut Wilson, booming handphone di Indonesia adalah tragedi, mengingat teknologi itu sesungguhnya sudah dikembangkan ITB hampir 20 tahun silam. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar teknologi sel surya tidak mengulang tragedi tersebut.

Wilson yang pernah meraih award dan hadiah 500.000 yen dari Tokyo Institute of Technology dengan proyek penelitian S3 teknologi semikonduktor dan aplikasi sel surya mengatakan, pengembangan berikut aplikasi teknologi membutuhkan waktu serta modal untuk industri.

Namun, pengembangan teknologi ini dilematis di Indonesia. Di satu sisi perakitan pembangkit listrik tenaga surya diwajibkan menggunakan komponen minimal 80�roduk lokal, sedangkan di sisi lain pabrik pembuatan photovoltaic berupa film tipis sebagai komponen utama belum ada.

Di Jepang, teknologi sel surya sudah berkembang pesat sebagai industri dengan dipelopori oleh pemerintah setempat. Pada tahun 1974, harga selembar film tipis 25.000 yen/watt, tahun 1992 harganya sudah turun drastis menjadi 400 yen/watt.

Thin film bisa diproduksi apabila telah ada pabrik photovoltaic, sedangkan biaya pembuatan pabrik berkisar Rp 50 miliar-Rp 100 miliar. Sel surya bisa tahan dipakai 20 tahun. Selembar sel ukuran satu meter persegi bisa menghasilkan 100-150 watt. (zal)

Sumber : Redaksi Kompas 

 

~ Masa Depan Listrik Tenaga Surya Di Indonesia

Wilson Wenas Gelisah akan Tragedi Sel Surya

PERASAAN galau bercampur waswas menghinggapi Wilson Walery Wenas PhD ketika berbincang dengan Kompas, Senin (15/12), tentang masa depan listrik tenaga surya di Indonesia. Kepala Laboratorium Riset Semikonduktor Institut Teknologi Bandung ini menyatakan, nasib teknologi listrik tenaga surya yang dikuasai ITB bakal tidak ada manfaatnya apabila pemerintah terlambat menurunkan kebijakan pengembangannya.

Ironisnya lagi, tutur Wilson, jika kemudian Indonesia yang memiliki potensi tinggi di bidang teknologi sel surya (solar cell) ini lalu cuma jadi pasar potensial dari negara tetangga, seperti Thailand, Korea, dan Jepang, yang giat mengembangkan teknologi ini.

"Kalau pemerintah terlambat menurunkan kebijakan pengembangan listrik tenaga surya seperti halnya saat pemerintah enggan memanfaatkan teknologi telepon seluler (handphone/ HP) yang dikuasai ITB sejak 15 tahun lalu, sudah dapat diduga nasib teknologi solar cell ini akan sama dengan teknologi HP. Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi negara produsen solar cell. Ini namanya tragedi," kata Wilson.

PERKEMBANGAN pesat sedang terjadi pada teknologi listrik tenaga surya. Pada saat Jepang mulai mengembangkan pada tahun 1974, harganya berkisar 20.000 yen per watt peak (Wp). Tahun 1985, harga turun menjadi 1.000 yen per Wp, dan dengan kemajuan pesat dalam riset dan pengembangan teknologi, harga per Wp turun lagi saat ini mencapai 140 yen.

Harga ini masih lebih mahal dari harga listrik konvensional sebesar 100 yen per Wp, tetapi mulai tahun 2020 harga pembangkitan listrik sel surya ini sudah bisa lebih murah 50 persen dari listrik konvensional.

Wilson yang juga Wakil Direktur Basic Science Center Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan, dengan total intensitas penyinaran rata-rata 4,5 kWh per meter persegi per hari, Indonesia tergolong kaya sumber energi Matahari. Di samping itu, karena letaknya di khatulistiwa, Matahari bersinar di Indonesia per tahun berkisar 2.000 jam.

Sementara itu, menurut data tahun 1997 dari Ditjen Listrik dan Pengembangan Energi, kapasitas terpasang listrik tenaga surya di Indonesia baru mencapai 0,88 MW dari potensi yang tersedia 1,2 x 109 MW29.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah mengembangkan aplikasi teknologi sel surya dengan menggunakan panel sel surya impor sejak tahun 1980. Sistem fotovoltaik ini dipasang di daerah terpencil seperti Sumba, Sipirok di Sumatera Utara, Pelaw di Maluku, Kepulauan Seribu, Nusa Penida, dan beberapa daerah terpencil lainnya.

Riset dan aplikasi sel surya juga sudah dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Lembaga Energi Nasional (LEN) dengan fokus riset masih berbasis silikon. Sedangkan di Departemen Fisika ITB dikembangkan sel surya silikon amorf dengan teknik penumbuhan menggunakan peralatan plasma enhanced chemical vapor depodotion. Teknologi ini mampu memperoleh efisiensi sebelum terdegradasi sekitar 11 persen.

Untuk memasuki tahap produksi ekonomis, efisiensi sel surya silikon amorf harus mencapai 10 persen. Peningkatan dimaksud sangat mungkin karena masih banyak variabel fabrikasi yang belum dioptimalkan. Di samping itu, menurut Wilson, ia sedang mengembangkan sel surya baru dengan struktur berbasis material ZnO dan Si. Sel surya ini akan difabrikasi dalam ukuran besar dan diharapkan akan menjadi modul sel surya pertama yang dibuat secara mandiri di Indonesia.

Wilson dalam disertasi berjudul Study on Textured ZnO Thin Film and Its Application to Sollar Cells untuk gelar doktor pada tahun 1994 di Department of Electrical and Electronic Engineering, Tokyo Institute of Technology, menawarkan tekstur bergerigi, selama ini rata, sebagai usulan baru dalam pengembangan sel surya. Teori baru itu ternyata mampu membuktikan dengan menggunakan lapisan bergerigi, sinar Matahari yang terserap ke dalam sel surya tingkat efisiensinya meningkat, sekitar 15-20 persen dari potensi awal.

Penemuan ini cukup spektakuler sehingga dimuat di Nihon Kogyo Shimbun edisi 12 April 1991. "Besok hari, sesudah dipublikasi koran, laboratorium tempat saya meneliti didatangi kalangan industriwan Jepang," kata Wilson yang dalam penelitian dibimbing oleh Makato Konagai.

Sekarang material ini telah digunakan secara luas di industri sel surya di Jepang, yaitu Fuji Elektrik dan Showa Sel. Penemuan itu kemudian dipatenkan atas namanya, Wilson Walery Wenas, nyong Manado kelahiran Desa Suwaan, Kecamatan Airmadidi Tonsea, yang masih membujang.

"PENEMUAN itu bukan puncak pencarian saya sebagai ilmuwan," kata Wilson. Hingga kini dia masih terus dalam proses pencarian dan pendalaman.

Beberapa penemuan terbarunya akan dipublikasikan awal Januari 2004 di Konferensi Internasional Ke-14 Photovoltaic di Bangkok, Thailand, di depan pakar sel surya, termasuk Prof Martin Green dari Australia. Pada forum itu, Wilson bersama mahasiswanya, Syarief Riyadi, untuk pertama kali memaparkan teori baru lagi mengenai cara kerja sel surya baru berstruktur Zno, Si02, dan Si.

Sel surya ini cukup ekonomis, sudah dibuat di beberapa negara termasuk di ITB, namun sampai saat ini belum ada penjelasan teoretis tentang cara kerjanya. "Kami diundang sebagai penemu teori dan kami siap menjelaskan teori itu di hadapan para ahli semikonduktor dunia," katanya.

Kehadiran Wilson di Bangkok sekaligus menunjukkan bahwa peneliti negara berkembang pun dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu dasar, tidak melulu melaporkan data atau fenomena eksperimen yang bersifat empiris atau aplikasi suatu teori secara sporadis. Penjelasan yang sama rencananya juga akan dilakukan di European Photovoltaic Conference, di Paris, Juni 2004.

WILSON Walery Wenas dilahirkan tanggal 21 September 1964 dari pasangan Bernhard Gerungan Wenas dan Jeannette Wuysang. Ia lulus nomor satu (terbaik) di SMA Negeri I Manado, kemudian masuk ITB, mengambil ilmu fisika.

Sejak menyelesaikan studi doktor di Jepang pada tahun 1994, Wilson tiga kali menjadi peneliti muda terbaik Indonesia dalam bidang teknik dan rekayasa, yaitu tahun 1996, 1997, dan 1998, setelah itu diangkat menjadi juri oleh LIPI. Pada tahun 1998 mendapat penghargaan Dosen Teladan I ITB.

Selain itu, ia pernah diundang menjadi ilmuwan tamu di Aritsu Companny, Jepang (1999), dosen tamu di Utrech University, Belanda (2000), dan menjadi pembicara pada seminar fotovoltaik internasional, selain menghasilkan 125 tulisan ilmiah yang sudah termuat di berbagai jurnal akademi tingkat dunia.

Untuk disertasi doktornya, Wilson mengembangkan sel surya jenis a-Si (amorf silikon) dan menghasilkan rekor efisiensi tertinggi di dunia, sebesar 12,9 persen. Hasil penelitian ini dianggap terbaik sehingga mendapat penghargaan dari Tokyo Engineering Institute of Technology dan uang 500.000 yen.

Tiga tahun kemudian, ITB membuat thin film light emitting diode dari bahan a-Si, yaitu lapisan tipis yang dapat memancarkan cahaya merah dan kuning, dan biasanya digunakan dalam peralatan seperti TV layar datar dan layar komputer notebook. Walaupun bukan yang pertama di dunia, ini salah satu tonggak terpenting di Indonesia untuk pengembangan teknologi optoelektronik.

Satu keinginan Wilson adalah melihat adanya suatu industri hi-tech yang strategis di Indonesia, tetapi langsung menyentuh kehidupan rakyat banyak. Contoh paling dekat adalah industri sel surya. Siapa berani? (Jean Rizal Layuck)

Sumber : Kompas 

Jean Rizal Layuck (Kompas) 

 

~ Sel Surya Efisiensinya Hingga 40%

Efisiensi Sel Surya Capai 40 Persen

Efisiensi tertinggi yang dicapai sebuah sel surya kini telah mencapai 40
persen. Prestasi yang berhasil dicapai Spectrolab Inc., salah satu anak
perusahaan Boeing, baru-baru ini bakal mendorong pemanfaatan panel surya
sebagai sumber listrik alternatif yang layak dan ekonomis.


Spectrolab dapat menghasilkan efisiensi sebesar itu dengan teknologi sel
surya multijunction yang mampu menangkap komponen cahaya dengan berbagai
panjang gelombang. Struktur multijunction sel surya tersusun dari tiga
lapisan yang masing-masing terdiri dari dua jenis bahan semikonduktor
berbeda yang memungkinkan terjadinya lompatan elektron di anatarnya. Setiap
junction memproses cahaya dengan panjang gelombang berbeda.


Dengan memanfaatkan tipe baru bahan semikonduktor metamorf, para peneliti di
sana dapat mengubah cahaya dengan berbagai panjang gelombang menjadi
listrik. Sel surya yang banyak dipakai di pasaran umumnya hanya mengubah
listrik dari gelombang cahaya tampak.
"Kinerja yang mengagumkan dari material ini menunjukkan bahwa efisiensi yang
lebih besar dapat dicapai pada teknologi sel surya berikutnya," ujar Dr.
Richard R. King, peneliti utama dari Spectrolab. Bahkan, hasil yang dicapai
Spectrolab ini telah melampaui batas efisiensi yang dapat dicapai teknologi
sel surya berstruktur junction tunggal yang dipakai untuk kebutuhan konsumen
saat ini, yakni 37 persen.


Dengan junction yang lebih banyak, empat atau lima, para peneliti
memprediksi efisiensi sel surya dapat ditingkatkan hingga 58 persen.
Sedangkan dengan tiga junction saja seperti sekarang masih dapat
ditingkatkan mencapai 45 persen hingga 50 persen.


Sumber: Physorg
Penulis: Wah

 

~ Sel Surya Dari Buah Mangsi Ditemukan ITS

ITS Temukan Bahan Sel Surya Dari Buah Mangsi

Guru besar Fotokimia ITS Surabaya Prof Dr Syafsir Akhlus MSc menemukan sel surya dari bahan alam, yakni buah mangsi (buah tinta). “Saya sedang memulai ujicoba membuat sel surya dengan pelapis diantara dua kaca ditempel dengan oksida timah (SnO2), TiO2 (titanium oksida), zat warna dari buah manji, dan elektrolit,” ujarnya di Surabaya, Senin. Dosen Jurusan Kimia F-MIPA ITS Surabaya yang dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 18 April mendatang itu, menjelaskan, pihaknya mengembangkan sel surya dari bahan alam, karena mahalnya bahan sel surya dari bahan silikon.

“Teknologi pembuatannya juga sulit. Padahal upaya yang saya lakukan cukup menjanjikan, karena teknologinya cukup mudah dan harganya jauh lebih murah dibanding sel surya berbahan silikon,” paparnya.

Apalagi, kata ayah tiga putra itu, Indonesia memiliki bahan zat berwarna dari berbagai bahan alam yang melimpah. Bahkan buah mangsi sendiri dapat ditemukan pada beberapa pasar di kota Surabaya.

“Ke depan, saya yakin jika uji coba yang saya lakukan berhasil, maka kesulitan untuk mengembangkan sel surya akibat mahalnya harga akan teratasi,” ungkapnya.

Ditanya cara kerja pewarna yang bisa menyerap sinar matahari dan kemudian menghasilkan energi, ia menyatakan, zat warna atau pewarna dapat digunakan memperlakukan energi sebagai rekatan atau produk dari suatu reaksi fotokimia.

“Bila suatu molekul mengabsorsi foton (cahaya), maka elektron dalam keadaan dasar dapat berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi (tereksitasi), tergantung kepada seberapa besar energi yang diserap,” ucapnya.

Doktor lulusan Institut National Polytechnique de Lorraine (INPL), Nancy, Perancis dengan predikat “cum laude” itu, menuturkan, elekron yang berada pada keadaan tereksitasi singlet akan cenderung kembali ke keadaan dasar, bila stimulus energi yang diberikan tidak ada lagi.

“Kembalinya elektron ke keadaan dasar itu dapat melalui beberapa cara, diantaranya melalui penyilangan antar sistem ke keadaan triplet dahulu, kemudian memberikan emisi foton dan turun ke keadaan dasar. Proses itu dikenal sebagai fosforisensi,” tukasnya.

Cara lain, kata pria kelahiran Tanjungpinang pada 3 Oktober 1962 itu, turunnya elektron dari keadaan singlet tereksitasi langsung ke keadaan dasar diikuti emisi foton, sering disebut peristiwa fluorisensi.

“Fluoresensi dan fosforisensi itu merupakan proses fotokimia. Dari situ, peran pewarna dari buah mangsi bisa dimanfaatkan untuk mengalirkan energi melalui elektroda karbon, karena antara materi dan energi tidak dapat dipisahkan dalam pendekatan kuantum, sehingga dapat menghasilkan produk sesuai rencana,” tuturnya.

Pemilik hak paten untuk temuan Fotosensitizer Katil Bergerak (FKB) itu menambahkan, pemanfaatan senyawa fotosensitizer sebagai bahan baku sel surya merupakan teknologi alternatif untuk mendapatkan sumber energi terbarukan di masa mendatang. (*/rsd)

(Digunting-tempel dari Kapanlagi.com)

 

~ Pengembangan PLTS

Sinar Matahari, Sumber Energi tak Terbatas

ADA kenyataan yang sulit dibantah, setengah dari 220 juta jiwa penduduk negeri ini belum menikmati penerangan listrik. Banyak alasan yang menjadikan demikian. Mulai dari ketidakmampuan pemerintah menyediakan jaringan listrik, hingga harga yang sulit terjangkau oleh warga. Sistem penerangan paling murah yang mungkin dimiliki masyarakat daerah terpencil adalah lampu cempor atau patromaks dengan bahan bakar minyak tanah.

Mengingat besarnya investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun jaringan sistem kabel, PLN kini mulai menempuh cara baru, yakni mengembangkan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya). PLTS lebih diperuntukkan bagi warga desa yang belum tersentuh jaringan listrik. Pertimbangannya, meski dari sisi biaya investasi masih relatif tinggi, namun jika dibandingkan dengan membangun jaringan kabel, pengembangan PLTS lebih memungkinkan.

Segala kebutuhan

Di luar negeri, pemanfaatan energi surya melalui sistem photovoltaic sudah berlangsung lama dan banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Di Indonesia, pengembangannya sudah dilakukan pada tahun 1980-an. Penerapan pertama pemanfaatan energi surya oleh Lembaga Elektronika Nasional (LEN) yang juga diresmikan oleh Presiden Soeharto di lakukan di Kec. Sukatani, Kab. Purwakarta pada 1989. Hanya, dalam perjalanannya, kebijakan pemanfaatan energi surya seperti setengah hati. Alasannya klise, skala kegiatan yang kurang ekonomis, sementara biaya investasi yang dibutuhkan sangat besar.

Ke depan, dengan kondisi topograpi wilayah yang dimiliki Indonesia, untuk menjangkau masyarakat di daerah terpencil, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tampkanya akan menjadi sebuah tuntutan yang tak bisa ditawar. Selain sumber energinya (matahari) begitu melimpah sehingga pemanfaatannya tak terbatas, PLTS relatif lebih mudah dipasang dan dipelihara, ramah lingkungan, tahan lama, dan tak menimbulkan radiasi elektromagnetik yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, PLTS bisa digunakan untuk segala kebutuhan, seperti penerangan rumah tangga, pompa air, atau telekomunikasi.

Bukan itu saja. Berdasarkan hasil perhitungan Dr. Mulyo Widodo, dosen Teknik Mesin ITB yang juga penemu sistem penerangan listrik tenaga surya Solare, total biaya yang dikeluarkan pengguna PLTS relatif lebih murah daripada menggunakan energi listrik PLN dan lampu minyak tanah. Dengan menghitung biaya investasi awal, nilai depresiasi terhadap umur instalasi tiap tahun, dan biaya operasional per hari, rata-rata biaya per bulan yang harus dikeluarkan pengguna PLTS Solare SP-4 dengan 4 titik penerangan hanya mencapai Rp 7.000,00. Sedangkan rata-rata biaya yang harus dikeluarkan pengguna PLN 450 Watt Rp 32,083,33 per bulan dan lampu minyak tanah dengan empat titik penerangan Rp 14,133,33 per bulan.

Memang, dibandingkan dengan kualitas penerangan yang dihasilkan lampu TL, penerangan lampu LED masih kalah terang. Namun, jika dibandingkan dengan lampu cempor, lampu LED jelas lebih baik. “Lagi pula tidak seimbang membandingkan kualitas penerangan lampu LED dari PLTS dengan yang dihasilkan listrik PLN. Janganlah mengukur itu semua dengan kacamata orang kota. Lihatlah manfaatnya bagi penduduk yang puluhan tahun tak pernah menikmati penerangan listrik,” kata Mulyo.

Cukup sederhana

Cara kerja PLTS cukup sederhana. Pancaran sinar matahari ditangkap oleh sebuah panel dan diubah menjadi energi listrik. Energi itu disimpan dalam sebuah baterai (aki) yang bisa digunakan sebagai sumber penerangan pada malam hari atau saat tak ada sinar matahari. Kemampuan energi yang dapat dibangkitkan oleh sebuah panel surya sangat bergantung kepada kondisi radiasi sinar matahari. Sistem PLTS adalah sistem arus searah (DC) sehingga peralatan yang digunakan harus disesuaikan dengan arus searah tegangan nominal 12/24 volt.

Besar kecilnya energi yang dihasilkan dari radiasi sinar matahari akan sangat ditentukan oleh seberapa kuat pancaran sinar, lebar dan kualitas bahan panel surya penerima sinar. “Ada beberapa jenis panel surya, dari yang kualitasnya paling baik dan harganya mahal hingga yang biasa-biasa saja dan murah. Yang paling baik itu monokristal, harganya mahal dan biasa digunakan oleh lembaga strategis. Yang banyak di pasaran adalah polikristal,” jelas Gusrilizon, salah seorang ahli sistem tenaga surya PT LEN Industri.

Berdasarkan hasil perhitungan Mulyo Widodo, dalam kondisi peak atau posisi matahari tegak lurus, sinar matahari yang jatuh di permukaan panel surya di Indonesia seluas 1 meter persegi setara dengan daya 1.000 watt atau 900 watt. Dengan bahan panel surya yang monokristal dan poli-kristal, sistem photovoltaic bisa mengkonversi daya sebesar 900-1000 watt itu menjadi energi listrik sebesar 17 %. Jadi, dalam kondisi pancaran sinar yang peak (cerah dan posisi matahari tegak lurus dengan permukaan panel penerima), satu panel surya seluas 1 meter persegi akan menghasilkan daya sebesar 170 watt.

Dengan rumus tersebut, akan mudah menentukan berapa luas bahan panel surya dibutuhkan untuk menghasilkan daya listrik sesuai kebutuhan. Atau sebaliknya, dari rumus itu juga bisa menentukan berapa besarnya daya listrik yang dihasilkan dari sebuah bahan panel surya dengan ukuran tertentu. Faktor inilah yang menjadikan sistem tenaga surya masih relatif mahal karena struktur biaya PLTS masih didominasi oleh harga panel surya. Makin besar dan luas panel surya, energi yang dihasilkan memang makin besar, namun harga yang harus dibayar juga makin mahal.

Dalam aplikasinya, PLTS bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Mulai dari sistem penerangan rumah tangga (solar home system), lampu penerangan jalan (solar street lamp), wartel satelit tenaga surya (solar satellite public phone), pembangkit listrik tenaga hibrida (hybrid solar diesel), hingga system pompa air tenaga surya (solar pumping system). Di samping itu, bisa juga digunakan untuk para nelayan, penerangan di bagan apung atau tancap, puskesmas terpencil, penerangan pos keamanan, camping dan kegiatan outdoor, hingga sistem pengisian baterai radio komunikasi di lapangan.

Saat ini, selain PT LEN Industri yang merupakan lembaga milik pemerintah, perusahaan swasta yang bergerak dalam pengembangan PLTS adalah Solare Indonesia. Dua perusahaan tersebut menghasilkan produk dengan segmen pasar berbeda. Produk buatan LEN umumnya berukuran relatif besar, minimal 50 WP untuk skala rumah. Telah terpasang lebih dari 250 kWP yang terdiri dari hampir 50.000 unit PLTS yang tersebar di berbagai pelosok tanah air. Khususnya di daerah-daerah terpincil di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Berbeda dengan LEN yang masih ditujukan untuk skala besar, PT Solare Indonesia mengembangkan sistem penerangan PLTS berskala kecil dengan target rumah-rumah penduduk dengan ukuran lebih kecil dan harga relatif terjangkau. Pada sistem Solare terdapat dua komponen yang “dibuang” yakni inventer dan sistem kontrol baterai atau battery control unit (BCU) sehingga harganya relatif lebih murah. Selain itu, jenis lampu yang digunakan bukanlah lampu TL, tetapi LED (light emitting diode) yang lebih awet. PT LEN sendiri masih menggunakan konfigurasi PLTS konvensional dengan jenis lampu TL.

“Sistem Solare sangat sederhana dan mudah digunakan. Ini adalah teknologi tepat guna yang dirancang sangat simpel dan aplikatif untuk masyarakat pedesaan atau siapa pun yang menggunakannya,” jelas Anton S. Tirto, Direktur Citra Surya Utama, distributor Solare. Produk Solare sudah digunakan di berbagai tempat seperti Kampung Cigumentong (Sumedang) dan daerah translok Kertajati (Majalengka) bersama dengan produk LEN. Selain itu, digunakan pula di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias, serta sejumlah tempat lain di tanah air.

Terlepas dari adanya dua perbedaan antara dua produk, tetap saja keduanya memberi andil sangat besar dalam membantu memutus keterisolasian penduduk negeri ini yang belum terjamah. Keduanya memang berbeda karena filosofi yang menjadi dasar bagi kedua perusahaan itu juga berbeda. Justru, dari perbedaan spesifikasi itu pula, bisa dicapai nilai ekonomis dan efisiensi penggunaan PLTS.

Untuk sistem penerangan rumah-rumah penduduk yang jarak antarrumah berjauhan, sistem Solare lebih cocok. Apalagi jika dikaitkan dengan faktor harga. Sedangkan untuk daerah-daerah dengan rumah penduduk terkonsentrasi dan jarak antarrumah tak berjauhan, pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) atau hybrid solar diesel (HSD) buatan LEN lebih cocok.

HSD adalah salah satu alternatif sistem PLTS, yakni dengan mengombinasikan antara energi matahari dengan diesel/generator sel (genset) sehingga menghasilkan energi listrik yang lebih efektif dan efisien. Pada sistem ini, satu sistem PLTH bisa menghasilkan energi listrik yang dibagi-bagi ke rumah-rumah penduduk. Saat ini, sudah ada 14 lokasi di Indonesia yang menggunakan hybrid solar diesel, yakni 8 unit di Sulawesi Tengah dan 6 unit di Sulawesi Tenggara. “Di Indramayu juga ada, tapi tak terurus,” kata Gusrilizon.

Harus diakui, peibangunan PLTS masih butuh investasi besar. Maklum saja, beberapa komponen mulai dari panel surya, aki, hingga lampu LED masih harus didatangkan dari luar negeri. Padahal, seperti diakui Gusrilizon dan Mulyo Widodo, para pakar Indonesia sudah mampu membikin sendiri. Apalagi sejumlah bahan baku, seperti silica untuk pembuatan panel surya, juga tersedia melimpah di tanah air.

“Untuk skala laboratorium kita (LEN) sudah mampu bikin sendiri panel surya. Yang jadi persoalan adalah belum bisa mencapai skala efisiensi karena kita tak punya pabrik untuk menghasilkan secara missal,” kata Gusrilizon. (Muhtar IT/”PR”)***

(Digunting-tempel dari Kolom Cakrawala)

Pikiran Rakyat

 
Halaman 1043 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook