Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Energi Alternatif Sumber Energinya Melimpah

Penggunaan Energi Alternatif Masih Rendah

Penggunaan energi alternatif dari sumber bahan bakar terbarukan hingga saat ini masih sangat rendah. Salah satu penyebabnya, masyarakat sudah terbiasa menggunakan energi dari bahan fosil.

” Padahal, energi alternatif sumber energinya melimpah dan bisa diperoleh secara cuma-cuma sehingga memiliki daya saing ekonomis,” kata Rektor Universitas Darma Persada Jakarta Kamaruddin Abdullah saat peluncuran mesin pengering surya untuk industri kulit, Senin (13/4) di Jakarta. Sebelumnya, sudah dihasilkan alat-alat pengering dengan tenaga surya lainnya untuk berbagai komoditas hortikultura, padi, ikan, rumput laut, kopi, coklat, dan sebagainya.

”Prototipe pengering tenaga surya untuk industri kulit sudah diuji coba di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dan terbukti meningkatkan pendapatan perajin kulit sampai dua kali lipat, bahkan lebih dari yang sebelumnya,” kata Kamaruddin.

Perajin kulit sebelumnya mengeringkan kulit dengan cara penjemuran di bawah terik matahari. Ketika musim hujan, pengeringan memanfaatkan tenaga listrik atau bahan bakar minyak yang biayanya mahal.

Uji coba dengan alat pengering tenaga surya ini untuk pengeringan 40 lembar kulit domba dengan suhu 47 derajat celsius dibutuhkan waktu rata-rata 78 menit. Untuk 20 lembar kulit sapi dengan tingkat suhu 40 derajat celsius dibutuhkan waktu pengeringan rata-rata 69 menit.

 

Hasil perbandingan keekonomisan dengan alat pengering tenaga surya juga jauh melampaui pendapatan dari cara konvensional itu.

Dengan perhitungan harga alat pengering untuk kulit ini mencapai Rp 120 juta per unit, pendapatan optimal yang bisa diraih mencapai Rp 3,6 miliar per tahun. Jumlah ini jauh melampaui pendapatan dengan pengeringan secara konvensional, yaitu dengan pendapatan optimal hanya berkisar Rp 960 juta per tahun.

Kamaruddin memaparkan, produksi kulit secara nasional cenderung terus meningkat. Pada tahun 2005 dibutuhkan bahan mentah kulit 66 juta feet persegi. Pada tahun 2006 meningkat menjadi 69 juta feet persegi dengan kapasitas 30 persen dari hasil impor.

Kamaruddin berkeyakinan penggunaan energi alternatif akan meluas seiring dengan terus berkembangnya inovasi teknologi penggunaan energi.

Kampanye hemat energi

Pengembangan terus-menerus teknologi yang menggunakan energi alternatif terbarukan juga diikuti pula dengan penggalakan kampanye hemat energi. Di Jakarta, perusahaan Total E&P Indonesie kemarin membuka Kampanye Hemat Energi dengan pameran foto, grafis, dan lukisan.

”Hemat energi merupakan langkah yang sangat penting, terutama bagi industri gas dan minyak,” kata Presiden Direktur Total E&P Indonesie Elizabeth Proust saat menyaksikan pameran tersebut. (NAW)

Jakarta, Kompas

 

~ Musliadi, Padang Membuat PLTA Mini

Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro

Di tengah tingginya harga bahan bakar minyak dan mahalnya barang bahan pokok. Musliardi seorang warga Padang, Sumatra Barat, membuat pembangkit listrik tenaga air mini. Dengan biaya sekitar Rp 6,5 juta PLTA mini tersebut jika air untuk memutar dinamo stabil mampu menghasilkan listrik dengan daya 2.200 watt. Kreativitas Musliardi ini, terdorong karena selama puluhan tahun tempat tinggalnya belum pernah dialiri listrik.

Musliardi dan 15 keluarga di kampungnya pernah mengajukan pemasangan listrik ke PLN. Namun upaya itu terbentur biaya yang mencapai ratusan juta rupiah. Musliardi tak patah arang. Dia memanfaatkan aliran sungai sebagai tenaga pembangkit litrik. Dengan modal nekat dan coba-coba, Musliardi akhirnya berhasil menciptakan PLTA mini .

Sebuah kincir yang dibuat dari kayu menjadi penggerak utama memutar dinamo 2.200 watt kemudian dialirkan ke rumahnya sejauh 70 meter. Sayangnya, fasilitas ini belum bisa dinikmati 14 keluarga tetangga Musliardi. Namun jika pemerintah bersedia memberikan dana, Musliardi dengan senang hati bisa membuatkan PLTA yang lebih besar untuk para tetangganya.

(Indrawa di-Mantari Padang)
Editor:Ita

 

~ Dalam Rangka Menyongsong Hari Bumi Dan Tahun Padi

1.000 Kincir Angin Sepanjang Jalan Anyer-Panarukan

DALAM rangka menyongsong Hari Bumi dan Tahun Padi Nasional tahun 2004 yang dicanangkan Pemerintah Indonesia, Yayasan Heritage Bogor (YHB) menyusun program pemasangan 1.000 buah kincir angin pompa air "Egra" (energi gratis) sepanjang jalur pantura dari Anyer Provinsi Banten sampai Panarukan Jatim. Rencana ini akan dicanangkan tahun 2004 .

Demikian diungkapkan Hasan Hambali, pendiri YHB kepada Kompas, Minggu (30/11) siang. Kegiatan ini, sebut Hasan, dirancang tahun 2003 dan direncanakan dilaksanakan dari awal sampai akhir tahun 2004. "Ini dimaksudkan untuk menggugah kesadaran seluruh lapisan masyarakat terhadap pentingnya ketahanan pangan nasional dan penghargaan terhadap Bumi yang senantiasa dieksploitasi," papar Hasan.

Tujuan lain, untuk memasyarakatkan teknologi sederhana, tepat guna, dan ramah lingkungan. Teknologi sederhana itu, misalnya dengan cara memanfaatkan tenaga angin sebagai tenaga pemompa air sehingga lahan di musim kemarau dapat terus dimanfaatkan untuk membantu peningkatan produksi.

"Pemasangan kincir angin pompa air sepanjang pantura ini, membantu pemerintah meningkatkan produktivitas lahan pertanian agar mampu menghasilkan produk-produk pertanian yang berkualitas tinggi dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional," kata Hasan.

Alumnus ITB tahun 1986 yang kini menjadi komisaris sebuah Hotel Salak di Kota Bogor ini, pada akhir Agustus menemukan peralatan sederhana yakni sebuah kincir angin untuk menggerakkan pompa air. Teknologi sederhana yang merupakan buah ketekunannya selama empat bulan ini, diberi nama Egra kepanjangan dari energi gratis (Kompas 6 September). "Kincir ini sangat menghemat biaya operasi karena tanpa bahan bakar, dan sumber energi angin yang digunakan tak terbatas dan gratis lagi," kata Hasan. Ia kemudian dengan gembira menambahkan bahwa sejumlah pembaca Kompas berdatangan untuk belajar membuat kincir tersebut.

Kincir pompa air Egra kini dipasang di kebun mangganya di daerah Indramayu seluas 10 hektar. Satu kincir ini, mampu mengairi kebun mangga seluas empat hektar. Kincir itu berputar sepanjang hari, dari pagi sampai malam. "Air yang keluar dari pompa air itu disalurkan ke lahan melalui parit sekeliling kebun. Air itu menyirami lahan lalu menyerap ke dalam tanah, selanjutnya dipompa dan disiramkan untuk membasahi lahan, menyerap lagi, dan seterusnya. Dengan demikian, kekeringan teratasi oleh kincir pompa air Egra," katanya. Disebutkan YHB telah menyumbangkan kincir angin Egra untuk petani di Karawang.

Bila kelak kincir pompa air terlaksana pemasangannya di sepanjang jalur pantura, masyarakat sekitar lokasi kincir pompa air khususnya para petani dapat memanfaatkan kincir angin untuk memompa air dari sumur bor yang biasanya menggunakan tenaga tangan atau motor diesel.

"Kelompok petani juga dapat membuat dan mengembangkan kincir angin sejenis. Selain pengoperasiannya sederhana, biaya pembuatannya relatif murah, tahan lama, dan besar manfaatnya.

Redaksi KOMPAS  

 

~ Pemanfaatan Energi Tenaga Angin

Pengembangan Energi Angin Memungkinkan

Pemanfaatan tenaga angin sebagai sumber energi di Indonesia bukan tidak mungkin dikembangkan lebih lanjut. Di tengah potensi angin melimpah di kawasan pesisir Indonesia, total kapasitas terpasang dalam sistem konversi energi angin saat ini kurang dari 800 kilowatt.

"Kecepatan angin di wilayah Indonesia umumnya di bawah 5,9 meter per detik yang secara ekonomi kurang layak untuk membangun pembangkit listrik. Namun, bukan berarti hal itu tidak bermanfaat," kata Kepala Penelitian dan Pengembangan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Nenny Sri Utami, membacakan pidato Menteri ESDM saat membuka seminar Teknologi dan Pemanfaatan Energi Angin sebagai Peluang Usaha Baru di Bogor, Rabu (28/3).

Di seluruh Indonesia, lima unit kincir angin pembangkit berkapasitas masing-masing 80 kilowatt (kW) sudah dibangun. Tahun 2007, tujuh unit dengan kapasitas sama menyusul dibangun di empat lokasi, masing-masing di Pulau Selayar tiga unit, Sulawesi Utara dua unit, dan Nusa Penida, Bali, serta Bangka Belitung, masing-masing satu unit.

Menurut Kepala Subdirektorat Usaha Energi Baru dan Terbarukan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) ESDM Kosasih Abbas, mengacu pada kebijakan energi nasional, maka pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) harus mampu menghasilkan 250 megawatt (MW) pada tahun 2025.

Peta potensi angin

Salah satu program yang harus dilakukan sebelum mengembangkan PLTB adalah pemetaan potensi energi angin di Indonesia. Hingga sekarang, Indonesia belum memiliki peta komprehensif, karena pengembangannya butuh biaya miliaran rupiah.

Potensi energi angin di Indonesia umumnya berkecepatan lebih dari 5 meter per detik (m/detik). Hasil pemetaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pada 120 lokasi menunjukkan, beberapa wilayah memiliki kecepatan angin di atas 5 m/detik, masing-masing Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Pantai Selatan Jawa.

Adapun kecepatan angin 4 m/detik hingga 5 m/detik tergolong berskala menengah dengan potensi kapasitas 10-100 kW.

"Agar lebih bermanfaat dan tepat sasaran, harus ada data potensi energi angin yang kontinu dan akurat di lokasi terpilih dengan lama pengukuran minimal satu tahun," kata Soeripno Martosaputro dari Lapan.

Menggerakkan pompa air

Sejak empat tahun lalu, salah satu lembaga swadaya masyarakat memanfaatkan kincir angin untuk menggerakkan pompa air di beberapa wilayah, seperti di Indramayu, Jawa Barat. Hingga kini, sudah 40 kincir angin berdiri di beberapa kota/kabupaten.

"Biaya investasinya sekitar Rp 60 juta hingga beroperasi. Dengan kecepatan angin kurang dari 3 meter per detik, air yang dapat dipompa sekitar 2,7 meter kubik per jamnya," kata pengembang kincir angin untuk energi pompa air Hasan Hambali. Produknya diberi nama energi gratis (EGRA).

Salah satu kincir angin EGRA yang pertama ada di Indramayu digunakan untuk mengairi kebun mangga seluas 10 hektar. Sebelum menggunakan teknologi kincir angin, air yang dipompa menggunakan mesin diesel menghabiskan biaya solar Rp 132.000 per hari. Kini, biaya pemeliharaan kincir sekitar Rp 500.000 per tahun. (GSA)

Sumber : Pengembangan Energi Angin Memungkinkan

GSA (Kompas) (Kompas Cyber Media) 

Bogor, Kompas

 

~ Pemanfaatan Energi Angin Menjadi Energi Angin

Energi Angin

Jenis energi ini akan mengubah tenaga kinetik (0.5 mv^2) dari angin menjadi energi bentuk lain (listrik, windmill, dan pompa). Sehingga untuk pembangkit listrik, formula yang umum digunakan adalah P [W] = 0.5 x rho [kg/m^3]x A [m^2] x (v [m/s])^3 x efisiensi. Sehingga faktor yang sangat berperan dalam pembangkitan energi angin adalah kecepatan, baru disusul luasan turbin (sudu), dan efisiensi. Mari kita bicarakan pertama kali faktor angin. Kecepatan angin. Hal yang menarik adalah kecepatan angin. Umumnya (karena alasan kemudahan dan harga), orang mengukur kecepatan udara dengan anemometer. Jika tingkat keakuratan alat tersebut 3%, artinya daya yang dikeluarkan akan berada dalam kisaran +/- 9%. Hal lain adalah masalah kestabilan kecepatan angin. Sebagaimana diketahui, kecepatan angin akan berfluktuasi terhadap waktu dan tempat. Di Indonesia misalnya kecepatan angin di siang hari bisa lebih kencang dibandingkan malam hari. Di beberapa lokasi bahkan pada malam hari tidak terjadi gerakan udara yang signifikan. Apakah untuk situasi seperti ini, kecepatan rata-rata dapat mewakili (?), padahal di malam hari turbin angin tidak bergerak sama sekali. Udara yang bergerak dekat dengan permukaan tanah akan mempunyai kecepatan nol dan kemudian meningkat terhadap ketinggian (lihat Gambar di bawah). Fenomena ini alamiah terjadi pada aliran dekat permukaan yang tidak bergerak (padahal bumi berputar? khan). Apa yang menarik? Pertama, terlalu dekat dengan permukaan tanah, kecepatan angin yang diperoleh akan kecil sehingga daya yang dihasilkan sangat sedikit. Semakin tinggi akan semakin baik. Untuk memperoleh kecepatan angin di kisaran 5-7 m/s umumnya diperlukan ketinggian 5-12 m. Kedua, untuk baling-baling yang besar (katakanlah diameter 20 m), kecepatan angin pada ujung baling-baling bagian atas kira-kira 1,2 kali dari kecepatan angin ujung baling-baling bagian bawah. Artinya, baling-baling pada saat di atas akan terkena gaya dorong yang lebih besar dari pada baling-baling pada saat di bawah. Faktor ini perlu diperhatikan pada saat mendesain kekuatan baling-baling dan tiang (menara) khususnya pada turbin angin yang besar. Gambar. Kecepatan angin terhadap permukaan tanah. Sumber. Jika kecepatan angin di baling-baling atas dan bawah berbeda secara signifikan, lantas pada kecepatan angin berapa yang pantas dan adil untuk mendesain daya keluaran dari sebuah turbin angin?. Kecepatan angin juga dipengaruhi oleh kontur dari permukaan. Di daerah perkotaan dengan banyak rumah, apartemen dan perkantoran bertingkat, kecepatan angin akan rendah. Bandingkan dengan kecepatan angin pada daerah lapang. Kepadatan benda (porositas,?) di permukaan bumi akan menyebabkan angin mudah bergerak atau tidak. Faktor porositas ini juga penting untuk diperhatikan manakala mendesain turbin angin. Posted by suyitno at 22:58 Labels: angin (wind)

 
Halaman 1042 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook