Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Riau Menunggu Sumber Energi Air Laut

Penyelam mengamati berbagai ikan di kawasan Waiwo, Raja Ampat, Papua Barat, Jumat (1/6). Di balik keindahan dan kepentingannya terhadap keseimbangan alam, air laut digadang-gadang bisa menjadi sumber energi alternatif. Akan tiba masanya mengucapkan selamat tinggal pada energi fosil di Indonesia yang luas lautnya sangat luar biasa. (ANTARA/Rosa Panggabean

... kalau saja pemerintah mau, tidak susah mengajak masyarakat hemat energi. Lingkungan laut ada untuk mendapatkan energi listrik dan teknologinya tidak mahal...

 

Menunggu sumber energi alternatif bernama air laut

Tanjungpinang, Kepulauan Riau (ANTARA News) - "Air laut bakal menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan di Provinsi Kepulauan Riau, kata ahli kemaritiman pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau, Dr Ir Eddiwan MSc. Kita tunggu penerapannya pada skala massal.

"Penyulingan air laut menjadi biodiesel yang merupakan bahan bakar energi alternatif telah berhasil kami uji; tinggal lagi penyesuaian mesin kapal yang cocok untuk biodiesel tersebut," kata Eddiwan, di Tanjungpinang, Senin.

Penyesuaian mesin kapal maksud dia apakah biodiesel tersebut cocok untuk mesin berbahan bakar premium atau solar.

Ia mengatakan, pemanfaatan tekologi biodiesel dari air laut itu merupakan program instansi itu menjawab kelangkaan bahan bakar minyak.

"Teknologinya sederhana bahkan dapat dilakukan oleh nelayan yang tidak bersekolah sekalipun," ungkap Eddiwan yang memperoleh gelar magister dari Tokyo University.

Air laut diendapkan dulu dalam bak penampungan dan kemudian disuling dengan alat penyulingan berukuran 0,1 mikron (plankton net). Air laut sulingan itu akan menghasilkan minyak sel yang berasal dari biota-biota yang hidup di laut.

Alumni Boston University ini mengatakan, teknologi biodiesel dari air laut telah dipakai di Amerika Serikat untuk skala industri. Sedangkan yang dia buat untuk skala kecil terutama untuk bahan bakar kapal nelayan dan listrik di rumah masyarakat yang bermukim di pulau-pulau.

Ia mengatakan pernah mempresentasikan teknologi air laut itu di Kementerian Kelautan dalam rapat teknis untuk pengembangan biodiesel di Indonesia, tetapi idenya itu ditolak dengan alasan mahal.

"Padahal kalau saja pemerintah mau, tidak susah mengajak masyarakat hemat energi. Lingkungan laut ada untuk mendapatkan energi listrik dan teknologinya tidak mahal, masyarakat awam pun dapat membuatnya," ungkap Eddiwan. (*)

Editor: Ade Marboen

 

(http://www.antaranews.com/berita/314090/menunggu-sumber-energi-alternatif-bernama-air-laut)

 

~ Ponsel Dengan Tenaga Surya,Samsung Crest Solar

 Samsung Crest Solar, Ponsel Dengan Tenaga Surya 

Dengan menggunakan baterari bertenaga solar tambahan, Samsung Crest Solar menyediakan waktu bicara kurang lebih 5-10 menit dengan pengisian ulang menggunakan solar selama satu jam. Untuk memperoleh waktu bicara dengan durasi selama itu, ponseh harus dimatikan di bawah cahaya matahari 80.000 lux. Tentu hasil dapat berbeda tergantung pada situasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Samsung Electronic, sebagai salah satu penghasil handphone kelas dunia, merilis ponsel dengan tenaga surya, yang diberi nama "Crest Solar" (E1107). Ponsel ini memiliki kemampuan untuk mengisi baterai dengan menggunakan cahaya matahari.
Crest Solar akan sangat cocok bagi Anda yang sering bekerja di lapangan atau di pedalaman, juga bagi Anda yang senang bepetualan di daerah terpencil. Memang tidak dapat dipungkiri, masih banyak daerah pedalaman yang belum dialiri oleh listrik.

Ponsel ini juga telah ditambah dengan beberapa feature seperti FM radio, nada dering MP3, dan juga beberapa game. Crest Solar juga sudah dilengkapi beberapa feature keamanan, seperti Mobile Tracker dan fake call. Mobile Tracker akan secara otomatis memberikan sinyal ketika SIM card diganti atau mengirimkan pesan SOS dalam keadaan darurat. Sedangkan dengan menggunakan fake call, si pengguna seolah-olah menerima panggilan masuk untuk menghindari situasi yang tidak aman.

Crest Solar akan tersedia di beberapa pasar termasuk India, Eropa, Asia Tenggara, Asia Barat Daya, dan Amerika Latin mulai bulan Juni 2009.(CHIP.CO.ID/DEL)

 

~ Akses Listrik Masyarakat Adat Kian Terancam

REPUBLIKA.CO.ID, TOBELO -— Peluang masyarakat adat untuk bisa mendapatkan akes listrik semakin  terancam. Kerusakan lingkungan serta sumber daya alam (SDA) yang ada di dalamnya, dituding menjadi penyebab utama.

Sejumlah potensi pengembangan sumber energi terbarukan banyak mengalami kerusakan akibat penguasaan hutan adat. Terutama oleh kepentingan ekonomi yang kurang berpihak kepada masyarakat adat.

“Bagaimana kami bisa mengembangakan energi listrik berbasis mikrohidro, kalau kami terus terdesak,” ungkap Ruslan Haji Hamid, perwakilan masyarakat adat Khaltim, Maluku Utara dalam sarasehan ‘Kemandirian Energi Komunitas Adat Berbasis Energi Terbarukan Sesuai Potensi di Daerahnya’, di aula Gonsalo, Tobelo, Jumat (20/4).

Hal serupa juga disampaikan Makarmis, salah satu utusan masyarakat adat Krayan, Provinsi Kalimantan Timur. Menurutnya,  saat ini banyak komunitas dan masyarakat yang tergusur oleh kepentingan ekonomi modern.

Termasuk pemberian ijin pengelolaan hasil hutan yang sebenarnya merupakan hutan adat. Akibatnya masyarakat adat kian mengalami kesulitan, baik dalam hal memanfaatkan sumber daya alam maupun sumber ekonominya, termasuk kapasitas diri masyarakat adat.

Untuk merintis kemandirian energi masyarakat adat berbasis potensi yang ada di wilayah masing- masing memang sangat mulai. Namun ia berpendapat agar pengembangan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan ini lebnih mengacu kepada penguatan sumber daya manusia (SDM).

“Misalnya dengan memperbanyak pelatihan-pelatihan dan peningkatan kapasitas lain tentang keahlian dalam memanfaatkan teknologi pemanfaatan sumber energi yang terbarukan,” jelasnya.   

Sebelumnya, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace, Arief Fiyanto dalam diskusi ini menjelaskan pentingnya kemandirian energi komunitas adat berbasis energi terbarukan.

Ia menjelaskan, saat ini rasio  elektrisasi penduduk Indonesia –yang mencapai 230 juta jiwa—baru mencapai 65 persen. Sisanya sebanyak 35 persen penduduk negeri ini belum mendapatkan akses listrik dan umumnya mereka adalah penduduk yang tinggal di wilayah terdepan.

Ttermasuk di dalamnya masyarakat adat yang banyak tinggal di pedalaman daerah terluar. Yang memprihatinkan, 90 persen akses listrik ini bersumber dari sumber energi tak terbarukan seperti fosil, yang pemanfaatannya kian mengancam lingkungan.

“Hanya kurang dari 5 persen akses listrik yang menggunakan sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, mikrohidro dan panas bumi,” paparnya.

Ia menjelaskan, pemanfaatan sumber energi tak terbarukan kian mengancam masyarakat adat akibat dampak yang ditimbulkan, seperti terjadinya fenomena perubahan iklim yang sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara konsumsi energi listrik di negeri ini tiap tahun mengalami kenaikan berkisar 7 persen per tahun. Sementara upaya untuk mengurangi pemanfaatan sumber energi tak terbarukan belum dapat dilakukan.

Padahal sejumlah peluang pengembangan sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan cukup tersedia. “Misalnya potensi panas bumi yang diperkirakan mampu menghasilkan energi listrik hingga 29 ribu Mega Watt, mini dan mikro hidro, biomassa dan sebagainya,” jelas Arief.

Sementara Technical Advisor Jaringan Orang Asal se-Malaysia (JOAS), Adrian Lasimbang merekomendasikan, perlu pusat- pusat pelatihan pemanfaatan dan penguasaan teknologi listrik berbasis sumber energi terbarukan.

“Karena menciptakan SDM merupakan tantangan yang cukup berat dalam pengembangan energi listrik di kalangan masyarakat adat,” lanjutnya.

http://www.republika.co.id

 

 

~ Energi dari Kakus ke Dapur

 

 

Energi Alternatif, dari Kakus ke Dapur

Mobil dijalankan pakai tinja. Pemanas dari jasad manusia.

VIVAnews – Deretan kamar mandi dan WC umum itu terletak di ujung gang Petojo Binatu I yang sempit, di pojokan, pinggir Kali Krukut. Untuk warga, fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) itu tak melulu soal urusan buang hajat, juga kebanggaan yang membuat nama kampung mereka mendunia. Mereka menyebutnya, “MCK ++ Plus Plus”.

Pejabat pemerintah, tokoh tersohor rela datang, demi MCK itu. Bahkan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton rela jalan kaki menyusuri gang sempit, demi melongoknya, ketika Nyonya Clinton itu melawat ke Indonesia tiga tahun silam.

Apa yang membuatnya begitu istimewa? Rahman, petugas kebersihan di sana menyebut sederet kelebihan: satu-satunya fasilitas MCK di kawasan itu, relatif bersih, ada kompleks Posyandu. Limbah cair dari MCK dibebaskan dari bakteri E.coli, sebelum masuk kali.

Dan yang paling istimewa, ada teknologi biogas digester dan buffled reactor. Limbah tinja yang dihasilkan dari MCK diolah dalam tabung kedap udara dengan tekanan tertentu. Tabung ini ditanam di bawah tanah dengan kedalaman 1,5 meter, dilengkapi sistem kontrol sederhana. Menghasilkan gas metana (CH4).

Biogas dari tabung itu lalu dialirkan melalui paralon yang menempel di dinding posyandu. Ada empat lubang tempat selang kompor dicolokkan. Dari kakus langsung ke dapur. “Bisa langsung dipakai memasak. Kompor terlebih dulu dipancing dengan api,” kata Rahman kepada VIVAnews.com, Rabu 4 April 2012.

Prosesnya mirip kompor gas konvensional, bedanya sebelum api menyala, harap tutup hidung. Sebab, ke luar bau khas kotoran manusia dari kompor. “Tapi begitu api muncul, bau hilang. Biasa saja, nggak bau,” kata dia.

Rahman menjelaskan, butuh setahun menunggu septic tank penuh agar bisa menghasilkan metana. Tapi hanya perlu seminggu sampai warga terbiasa dan mau menggunakan bahan bakar itu. “Awalnya geli, jijik, membayangkan memasak pakai kotoran,” kata Rahman. Namun, setelah tahu manfaatnya, warga pun dengan senang hati memakainya.

Apalagi, terbukti, memasak dengan gas dari MCK lebih cepat matang, baik untuk menggoreng atau merebus air. “Meski air yang direbus sedikit bau, tapi warga sudah biasa,” kata dia.

Keuntungan lain, warga tak perlu merogoh kocek membeli gas, juga bebas dari horor ledakan tabung gas elpiji. Paling banter masalah ada pada paralon pecah, yang bisa diselesaikan dengan lem.

Warga dari empat RT berdekatan dengan lokasi MCK bergantian menggunakan kompor itu, juga ketika ada hajatan.

Rabu sore itu, meski warga hilir mudik bergantian ke toilet, membawa handuk dan peralatan mandi, tak ada satupun warga memasak. Kata Rahman, sudah sebulan bahan bakar alternatif itu dibiarkan menganggur. Alasannya, dua kompor modifikasi yang selama ini digunakan warga rusak. Sedang diservis. “Beberapa warga sempat punya rencana menyalurkan gas ke masing-masing rumah tangga, karena pertimbangan biaya, takut pada iri, akhirnya ditunda.” Kini, warga kembali menggunakan elpiji untuk masak.

Tenaga tinja di Oslo
Jadi jangan remehkan tinja. Jika cerita Petojo belum cukup menggugah, pada Agustus dua tahun lalu, perusahaan energi ramah lingkungan asal Inggris, GENeco mengumumkan gas kotoran manusia sebagai bahan bakar masa depan, pengganti BBM.

Mereka berhasil menjalankan Volkswagen Beetle yang telah dimodifikasi menjadi mobil berbahan bakar gas dari kotoran manusia. Kecepatan dihasilkan sama dengan versi bensin, yakni mampu berjalan 114 mil per jam (183 km per jam) . “Mobil ini dinamai Bio-Bug, dengan kapasitas mesin 2.000 cc,” kata Mohammed Saddiq Head up GENeco, kala itu.

Limbah dari sekitar 70 rumah di Inggris ini cukup menjalankan satu kendaraan dengan jarak sekitar 10 ribu kilometer. Ini adalah jarak tempuh rata-rata kendaraan Inggris selama satu tahun.

Meski sudah menggunakan gas metana, mobil ini masih membutuhkan sedikit bensin menjalankan mesin.  Bensin ini untuk memanaskan mesin. Setelah panas,  otomatis mesin beralih menggunakan biogas. "Jika Anda mengemudikan mobil ini, Anda tidak akan tahu mobil ini memakai bahan bakar kotoran manusia, karena sama seperti mobil konvensional," katanya.

Namun langkah lebih radikal diambil Norwegia, negeri berambisi menetralkan karbonnya pada 2050. Tiga tahun lalu, 2009, mereka mengumumkan telah menggunakan sumber energi melimpah, yang tak ada kaitanya dengan ladang minyak di Arab Saudi, dan terpenting tak memicu pemanasan global. Setiap warga bahkan bisa berkontribusi  menambah jumlah pasokannya, dari septic tank mereka. Ya, kotoran manusia.

"Kota Oslo memiliki visi yang luar biasa sebagai 'kota hijau'. Menjadi kota paling ramah lingkungan di dunia," kata pemimpin proyek, Ole Jacob Johansen seperti dimuat Guardian.  Dua instalasi pengolahan limbah di Oslo mengolah kotoran manusia menjadi biometan – hasil pemurnian biogas. Biometan ini selain lebih sedikit mengandung karbon, prosesnya lebih mudah dan murah.


Gas olahan dari kotoran manusia ini digunakan untuk menjalankan 80 bus kota. Kendaraan yang menggunakan bahan bakar ini hanya butuh sedikit modifikasi.
Tak hanya kotoran manusia, Oslo juga berencana menggunakan biogas dari sampah makanan untuk menggerakkan transportasi publik pada tahun 2013.

Seperti dimuat laman Sustainable Guernsey, kulit pisang, ampas kopi, dan sampah makanan lain akan dijadikan bahan bakar hijau.

Pabrik akan dapat memproses 50.000 ton limbah makanan per tahun, mengubahnya menjadi bahan bakar ramah lingkungan untuk 135 bus kota. Produk sampingannya, pupuk cukup digunakan untuk sekitar 100 peternakan lokal tipe menengah.

Virus sampai jasad manusia
Tak hanya membuat Indonesia bergolak dengan isu kenaikan harga BBM, harga minyak yang tinggi juga membuat Presiden AS, Barack Obama pusing alang kepalang.

Seperti dilansir Reuters, ia pun mengimbau, daripada uang rakyat digunakan memperkaya para juragan minyak dan spekulan, lebih baik mengembangkan teknologi energi bersih terbarukan.

"Investasi di pembangkit tenaga angin, matahari dan biosolar, investasi di mobil dan truk hemat bahan bakar, dan investasi di rumah dan bangunan yang hemat energi. Itulah masa depan. Itulah cara satu-satunya menghentikan siklus tingginya harga BBM yang terjadi dari tahun ke tahun," dia menambahkan.

Sejatinya banyak sumber energi di sekitar kita, yang lama terabaikan.  Gas alam, panas bumi, matahari, biofuel, hingga yang masuk kategori nyeleneh.

Para ilmuwan dari Departemen Pertanian AS mengumumkan, jus semangka dapat menjadi sumber berharga biofuel, karena dapat secara efisien difermentasi menjadi etanol.  Tak perlu khawatir membuat orang tak bisa makan semangka. Yang dibuat etanol adalah buah cacat yang tak laku dijual. Produk pertanian lain adalah bawang merah, cairannya yang membuat mata pedas, bisa membuat petani menangis bahagia mendapat untung dari penjualan metana.

Sementara, ilmuwan Massachusetts Institute of Technology (MIT) bahkan berhasil merekayasa sebuah virus membuat batere ramah lingkungan. Batere ini bisa dipakai untuk memberi tenaga pada perangkat elektronik. “Bahkan mobil hibrida,” kata ilmuwan MIT, Angela Belcher seperti dimuat situs MIT Energi Initiative.

Energi bahkan bisa berasal dari jasad manusia. Warga Kota Halmstead, Swedia memanfaatkan panas dari krematorium yang terbuang sia-sia ke angkasa, untuk menghangatkan tubuh di musim dingin. Mereka memutuskan menyalurkan panas itu ke gedung sekitarnya. Tentu saja, mereka harus mengolahnya terlebih dahulu, sebab udara dari krematorim mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dari tambalan gigi.

Langkah serupa juga ditiru di Inggris. Saat Krematorium Durham mengumumkan, panas dihasilkan dari dua turbinnya, yang digunakan saat mengkremasi jenazah, bisa memproduksi listrik, “untuk menghidupkan 1.500 televisi,” demikian dilaporkan Telegraph.

Bagaimana dengan Indonesia, negara kaya sumber energi: matahari yang bersinar sepanjang tahun, angin, panas bumi, tanaman yang tumbuh subur, juga gas alam yang melimpah? Kita masih tergantung pada bahan bakar fosil.

Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi, BPPT, Erlan Rosyadi mengatakan, masih banyak persoalan yang dihadapi terkait energi terbarukan. Misalnya, biofuel. “Persoalannya, biofuel tidak hanya untuk bahan bakar saja, para pemainnya mengarah ke minyak goreng, lebih untung. Belum mengarah ke bahan bakar kendaraan,” kata dia kepada VIVAnews.com.

Sementara, energi surya terkendala harga sel surya yang masih tinggi, karena harus impor .(np)

 

(http://teknologi.vivanews.com/news/read/304494-energi-alternatif--dari-kakus-ke-dapur)

 

~ Calon Teknopreneur Muda miliki Ide-ide Liar

 Ide-ide Liar Calon Teknopreneur Muda

AIR Mata Ibu Pertiwi, demikian konsep produk itu dinamakan. Produk ini bukan sebuah alat jargon politik ataupun nama sebuah lembaga swadaya masyarakat. Melainkan sebuah teknologi sistem pembangkit listrik dan pengairan terintegrasi untuk pedesaan di wilayah terpencil.

Konsep sistem pembangkit listrik dan pengairan terintegrasi ini merupakan salah satu produk hasil karya mahasiswa yang pernah dilombakan dalam kegiatan National Innovation Contest (NIC) 2008, di Bandung.

Menurut Fadolly Ardin (21), mahasiswa Teknik Elektro ITB yang menjadi salah satu penggagas produk Air Mata Ibu Pertiwi , teknologi yang masih dalam tahap desain ini memang bercita-cita mulia, yaitu mendorong elektrifikasi (cakupan listrik) sekaligus memperbaiki sistem pengairan sawah yang kerap menjadi momok di desa-desa terpencil.

Teknologi ini memanfaatkan dua sumber energi terbarukan yang sangat melimpah di Indonesia, yaitu tenaga gerak air dan surya. Masing-masing pembangkit, turbin air dan solar cell diproyeksikan mampu menghasilkan listrik total 1 kilowatt per jam. Pada siang hari, kedua pembangkit yang bekerja bersamaan ini difungsikan menggerakkan enam unit pompa air yang berkapasitas 250 liter untuk mengairi sawah yang terletak di atas sungai-yang sulit terjangkau teknologi irigasi manual.

Dibandingkan alat generator diesel yang biasa dipakai masyarakat terpencil untuk penerangan, dalam kajian ek onomisnya, teknologi terpadu ini jauh lebih murah. Investasi awal adalah Rp 31,4 juta. Pada tahun kelima, teknologi ini mampu menghemat biaya Rp 122 juta dibandingkan jika menggunakan solar diesel. Atau, lebih hemat seperlimanya. Ia pun mengklaim, teknolo gi ini telah dilirik sejumlah pemerintah daerah di Aceh, Riau, dan Papua. Namun, kami diminta survei tempat lebih dahulu,

Nilai tambah

Teknologi tinggi, namun tepat guna, harus bisa diperoleh masyarakat ekonomi lemah guna memberi nilai tambah kehidupan mereka.

"Produk yang ingin kami hasilkan sebisa mungkin punya fungsionalitas tinggi dan bisa dimanfaatkan banyak orang. Inilah esensi sesungguhnya dari teknologi. Tidak perlu hi-tech, mahal. Yang penting bisa diakses banyak orang dan punya potensi pasar tinggi," tutur Tessal M.F (20), mahasiswa Teknik Mesin ITB yang mengembangkan Walker  yaitu kursi roda multi-guna yang bisa digunakan sebagai penopang, alat bantu jalan, sekaligus tempat duduk. Produk sederhana tepat guna ini keluar sebagai juara ketiga NIC 2008.

Produk yang punya ergonomis tinggi dan bisa dilipat-lipat dan mudah dibawa ini ditujukan kepada lanjut usia dan mereka yang tengah menempuh terapi cacat. Harga jualnya ada pada kisaran Rp 400 Rp 500 ribu per unit. nya. Filosofi tentang teknologi ini diterapkan juga dalam produk Eksoskeleton yang juga dikembangkan dari Teknik Mesin ITB. Alat bantu distribusi beban ini sengaja didesain hanya menggunakan alumunium, bukan titanium, agar murah serta bisa diakses banyak penggunanya.

Para mahasiswa ini berharap, suatu waktu, karya mereka yang sebagian masih konsep, sisanya model dan prototipe ini bisa dikomersialkan suatu hari nanti. Teknopreneur senior yang juga dosen ITB Prof. Muljowidodo Kartidjo mengatakan, kunci sukses t eknopreneur bukanlah dari pengetahuan ataupun ilmunya. Teknologi sebatas dimaanfaatkan untuk inovasi hal-hal baru.

"Kunci suksesnya semangat yang membara, lebih ke soft skill kita. Inilah yang juga menentukan banyakentrepeneur sukses dunia," tutur dosen yang menciptakan berbagai produk teknologi pembangkit listrik tenaga surya dan kendaraan tidak berawak ini.

 
Halaman 101 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook