Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Penggunaan BBG untuk Transportasi Meningkat

TEXAS, (PRLM).- Perusahaan LEAM Drilling Systems di Conroe, Texas, bergerak di bidang pengiriman gas alam padat atau CNG. Wakil pimpinan LEAM, Scott Bradley, mengatakan gas alam murah membuat 18 buah truk pengangkut CNG miliknya sebagai investasi yang bagus.

“Truk-truk tipe F-550 bermesin V-10 ini dipesan dari perusahaan Ford dan telah kami miliki sejak setahun lalu. Truk-truk ini berfungsi baik sekali,” ujar Bradley.

Teknologi yang membuat gas cukup murah untuk menjadi bahan bakar gas (BBG) dikembangkan di Texas, khususnya oleh George Phydias Mitchell.

Ia mengatakan, “Apa yang terjadi di negara ini di bidang bisnis minyak dan gas, khususnya perusahaan-perusahaan independen dan besar, terjadi juga di seluruh dunia. Sungguh luar biasa.”

Perusahaan Mitchell mulai melakukan uji coba dengan dua jenis teknologi, yang disebut pemecahan hidrolik atau fracking dan pengeboran horizontal, pada dekade 1970-an. Perusahaan-perusahaan pengeboran lainnya berkembang secara cepat setelah tahun 2002, ketika Mitchell menjual perusahaanya dan mempublikasi metode-metodenya. “Saya mendapat uang yang cukup besar dan ingin supaya orang mengetahui bagaimana saya mencapai itu,” tambah Mitchell.

Direktur program Geosains Perminyakan pada Universitas Houston, Don van Nieuwenhuise mengatakan Mitchell patut mendapat banyak penghargaan. “Apa yang dilakukan George Mitchell adalah menyatukan dua teknologi yang berbeda itu, pengeboran horizontal dan pemecahan hidrolik, dan ia menunjukkan kepada dunia industri ini bagaimana mereka meraih keuntungan,” paparnya.

Namun, Emily Wurth dari kelompok lingkungan Food and Water Watch mengatakan, penduduk di dekat beberapa wilayah pengeboran khawatir tentang teknik pemecahan hidrolik itu, yang memompa air dan bahan-bahan kimia ke dalam batuan untuk mengeluarkan gas di dalamnya.

“Ada sejumlah dampak kualitas udara akibat praktik ini, karena cara itu mengeluarkan gas metan dan benzene dan bahan-bahan kimia beracun lainnya. Metan adalah gas rumah kaca,” keluh Wurth.

Para pendukung mengatakan jika mengikuti peraturan yang ada, pemecahan hidrolik bisa dilakukan dengan kerusakan minimal.

Berbagai survei menunjukkan, kebanyakan rakyat Amerika lebih memilih penelitian energi yang terbarukan. Namun, survei-survei itu juga menunjukkan, warga Amerika menyukai keuntungan produksi gas alam yang diperluas, yaitu terbukanya lapangan kerja dan harga bahan bakar yang lebih murah, walaupun mereka tetap mewaspadai risiko-risiko lingkungan. 

http://www.pikiran-rakyat.com 

 

~ Optimalkan Sel Surya Fotosintesis Buatan

 Fotosintesis Buatan Optimalkan Sel Surya

M

ASSACHUSETTS, MINGGU - Sejumlah peneliti Institut Teknologi Massachusetts (MIT), AS melakukan lompatan revolusioner yang dapat mengubah tenaga Matahari dari sumber energi alternatif menjadi sumber energi utama. Mereka telah berhasil mengatasi kendala utama tenaga solar yakni meningkatkan kemampuan untuk menyimpan energi yang cukup digunakan ketika matahari tidak bersinar. 

 


Sampai saat ini, tenaga Matahari hanya efektif menjadi sumber energi alternatif pada siang hari karena menyimpan energi solar sangat mahal dan tidak efisien. Namun, peneliti MIT berhasil menemukan proses penyimpanan energi solar yang sederhana, murah, dan efisien. 

"Ini adalah puncak dari apa yang telah kita bicarakan selama bertahun-tahun. Selama ini tenaga solar terbatas. Sekarang, kita mulai dapat berpikir tenaga solar tidak terbatas," kata Daniel Nocera, salah satu peneliti MIT.

Fotosintesis buatan

Nocera dan koleganya Matthew Kanan mengembangkan teknik yang terinspirasi fotosintesis pada tumbuhan. Mereka mengembangkan proses yang memungkinkan energi matahari digunakan untuk memisahkan gas oksigen dan hidrogen pada air. Kemudian, gas oksigen dan hidrogen digabungkan kembali di dalam sel bahan bakar (fuel cell) untuk menghasilkan listrik. 

Komponen utama dari proses baru tersebut adalah katalis baru yang menghasilkan gas oksigen dari air, sedangkan katalis lain menghasilkan gas hidrogen yang berharga. Katalis baru terdiri dari logam cobalt, fosfat, dan elektroda, yang ditempatkan di dalam air. Ketika listrik apakah dari sel photovoltaic, turbin angin, atau sumber lainnya berjalan melalui elektroda, cobalt dan phosphate membentuk lapisan tipis pada elektroda dan gas oksigen dihasilkan.

Digabungkan dengan katalis lain, seperti planitum - yang dapat menghasilkan gas hidrogen dari air, sistem ini dapat menduplikasi air memisahkan reaksi yang terjadi selama fotosintesis.

"Katalis baru bekerja pada temperatur ruangan, dalam pH air netral, dan sangat mudah dipasang. Makanya, saya tahu hal ini akan bekerja. Ini sangat mudah diimplementasikan," katanya. 


"Sinar matahari memiliki potensi luar biasa sebagai sumber energi untuk menyelesaikan masalah energi dunia," kata Nocera. Sinar matahari selama satu jam mampu menyediakan kebutuhan energi seluruh makhluk sejagat raya selama setahun. 

James Barber, pemimpin studi fotosintesis yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menyebut penemuan Nocera dan Kanan sebagai lompatan raksasa terhadap usaha menghasilkan energi yang bersih dan bebas karbon dalam jumlah besar.  "Ini merupakan penemuan besar dengan implikasi yang luar biasa terhadap kesejahteraan sejarah manusia di masa mendatang," kata Barber, profesor biokimia di Imperial College London.

Meski menjanjikan, penemuan ini belum ekonomis dan harus disempurnakan agar memiliki tingkat produktivitas tinggi. Saat ini tersedia electrolyzer, yang memisahkan air dengan tenaga listrik, dan sering digunakan oleh dunia industri. Namun, electrolyzer tidak cocok untuk fotosintesis buatan karena sangat mahal.

Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengintegrasikan penemuan ilmiah baru ini ke dalam sistem photovoltaic yang sudah ada. Namun, Nocera mengatakan optimis sistem tersebut akan menjadi nyata. 

"Ini memang baru permulaan," kata Nocera, yang melakukann atas dana Proyek Revolusi Solar yang dibiayai oleh Chesonis Family Foundation dan MIT Solar Frontiers Center. Nocera berharap, dalam sepuluh tahun mendatang, sel photovoltaic dapat memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga pada saat siang hari, dan menggunakan energi solar untuk menghasilkan oksigen dan hidrogen untuk memenuhi sel bahan bakar rumah mereka. Listrik dengan media kabel yang dialirkan dari pusat pembangkit mungkin akan menjadi masa lalu. (C9-08)


 

 

~ Dewan Energi : Konversi ke BBG Perlu Ditinjau Ulang

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Rencana pemerintah untuk menurunkan jumlah subsidi dengan melakukan konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas perlu ditinjau. "Pasalnya kebijakan itu sulit direalisasikan," kata anggota Dewan Energi Nasional Herman Darnel Ibrahim.

"Konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) itu pekerjaan yang tidak gampang, karena pemerintah harus mempersiapkan keberadaan pasokan gas, restribusi, dan perubahan mesin kendaraan," katanya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin (30/1).

Menurut dia di sela lokakarya energi, anjuran pemakaian BBM pertamax juga bukan solusi yang tepat. Jika dipaksakan, maka akan ada permintaan pertamax dalam jumlah besar, dan belum tentu semuanya mampu dipenuhi oleh Pertamina sehingga yang terjadi justru kekacauan.

"Untuk menekan jumlah subsidi, pemerintah perlu mengurangi penjualan BBM, batu bara, dan gas ke luar negeri. Meskipun pendapatan ekspor mencapai Rp272 triliun, tetapi pendapatan itu juga digunakan untuk subsidi," katanya.

Ia mengatakan konsumsi BBM mencapai 1,2 juta barel per hari. Konsumsi itu tidak sepenuhnya bisa dipenuhi, sehingga perlu impor BBM sekitar 500.000 barel per hari untuk menutupi konsumsi BBM.

"Dalam hal ini, yang perlu dilakukan adalah mengubah paradigma kebijakan energi. Energi kita jangan dijual tetapi untuk modal pembangunan, dan strategi efisiensi energi kita maksimalkan melalui energi terbarukan," katanya.

Menurut dia, kebijakan energi nasional belum sepenuhnya dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Bahkan, subsidi BBM sebesar Rp260 triliun pada 2011 terdiri atas Rp165 triliun untuk BBM dan Rp96 triliun untuk listrik hanya dinikmati sebagian masyarakat.

Selama ini, kata dia, hanya sekitar 65 persen masyarakat yang baru menikmati pasokan aliran listrik yang tersambung di rumahnya. Energi belum menyejahterahkan rakyat, yang tidak dapat listrik, tidak dapat subsidi.

"Oleh karena itu, pemerintah diharapkan menyediakan sambungan listrik ke seluruh lapisan masyarakat. Hingga 2020, semua penduduk diharapkan dapat energi listrik," katanya.

http://www.republika.co.id 

 

~ Negara Yang Maju adalah Negara yang Irit Energi

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo mengatakan, sebuah negara yang maju adalah negara yang menghemat energi dan bukan negara yang menghambur-hamburkan energi. "Bandingkan negara kita dengan Singapura dan Timor Leste yang menjual BBM dengan harga jauh lebih tinggi dari Indonesia," kata Widjajono Partowidagdo pada pada acara sosialisasi Dewan Energi Nasional (DEN) di Kupang, Selasa.

Di Timor Leste, negara yang bertetangga langsung dengan Indonesia, misalnya, harga bensin mencapai 1,5 dolar AS atau setara dengan Rp 13 ribu/ltr, ucapnya.

Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Pengelolaan Lapangan Migas pada Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB itu menambahkan, jika negara bisa menghemat bahan bakar minyak maka bangsa ini bisa lebih maju. "Energi merupakan kebutuhan yang penting di negeri ini. Bisa dibayangkan jika hidup kita ini tanpa energi," ucapnya.

Kehadirannya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini untuk melakukan sosialisasi peran Dewan Energi Nasional. DEN, kata Partowidagdo, merupakan lembaga yang dibentuk untuk memediasi jika ada konflik energi yang terjadi di tengah masyarakat.

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Esthon Foenay mengatakan, permasalahan pasokan dan pemenuhan energi masih menjadi masalah bagi masyarakat di NTT sampai saat ini. Besarnya tumpuan pemanfaatan energi yang bersumber dari bahan bakar minyak ini, sudah sewajarnya secara bertahap dialihkan atau dikonversikan menuju upaya pemanfaatan energi terbarukan.

http://www.republika.co.id 

 

~ Riau Menunggu Sumber Energi Air Laut

Penyelam mengamati berbagai ikan di kawasan Waiwo, Raja Ampat, Papua Barat, Jumat (1/6). Di balik keindahan dan kepentingannya terhadap keseimbangan alam, air laut digadang-gadang bisa menjadi sumber energi alternatif. Akan tiba masanya mengucapkan selamat tinggal pada energi fosil di Indonesia yang luas lautnya sangat luar biasa. (ANTARA/Rosa Panggabean

... kalau saja pemerintah mau, tidak susah mengajak masyarakat hemat energi. Lingkungan laut ada untuk mendapatkan energi listrik dan teknologinya tidak mahal...

 

Menunggu sumber energi alternatif bernama air laut

Tanjungpinang, Kepulauan Riau (ANTARA News) - "Air laut bakal menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan di Provinsi Kepulauan Riau, kata ahli kemaritiman pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau, Dr Ir Eddiwan MSc. Kita tunggu penerapannya pada skala massal.

"Penyulingan air laut menjadi biodiesel yang merupakan bahan bakar energi alternatif telah berhasil kami uji; tinggal lagi penyesuaian mesin kapal yang cocok untuk biodiesel tersebut," kata Eddiwan, di Tanjungpinang, Senin.

Penyesuaian mesin kapal maksud dia apakah biodiesel tersebut cocok untuk mesin berbahan bakar premium atau solar.

Ia mengatakan, pemanfaatan tekologi biodiesel dari air laut itu merupakan program instansi itu menjawab kelangkaan bahan bakar minyak.

"Teknologinya sederhana bahkan dapat dilakukan oleh nelayan yang tidak bersekolah sekalipun," ungkap Eddiwan yang memperoleh gelar magister dari Tokyo University.

Air laut diendapkan dulu dalam bak penampungan dan kemudian disuling dengan alat penyulingan berukuran 0,1 mikron (plankton net). Air laut sulingan itu akan menghasilkan minyak sel yang berasal dari biota-biota yang hidup di laut.

Alumni Boston University ini mengatakan, teknologi biodiesel dari air laut telah dipakai di Amerika Serikat untuk skala industri. Sedangkan yang dia buat untuk skala kecil terutama untuk bahan bakar kapal nelayan dan listrik di rumah masyarakat yang bermukim di pulau-pulau.

Ia mengatakan pernah mempresentasikan teknologi air laut itu di Kementerian Kelautan dalam rapat teknis untuk pengembangan biodiesel di Indonesia, tetapi idenya itu ditolak dengan alasan mahal.

"Padahal kalau saja pemerintah mau, tidak susah mengajak masyarakat hemat energi. Lingkungan laut ada untuk mendapatkan energi listrik dan teknologinya tidak mahal, masyarakat awam pun dapat membuatnya," ungkap Eddiwan. (*)

Editor: Ade Marboen

 

(http://www.antaranews.com/berita/314090/menunggu-sumber-energi-alternatif-bernama-air-laut)

 
Halaman 100 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook