Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Empat Agenda Wamen ESDM

Jakarta-TAMBANG- Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini mengatakan, setidaknya ada empat agenda besar yang harus dilakukan kementrian ESDM untuk memperbaiki sektor yang menjadi tulang punggung bangsa ini. 

Mantan Deputi Pengendalian Operasi BP Migas ini mengatakan, tantangan sektor ESDM ini tidak kecil, tetapi ia berharap semoga tantangan ini menjadi pemciu semangatnya untuk bekerja lebih keras dan memberi kontribusi besar bagi kemajauan bangsa.

Agenda pertama menurutnya adalah dari sisi energy primer. Produksi minyak dalam negeri saaat ini terus mengalami penurunan, namun demikian, untuk gas, masih ada harapan untuk ditingkatkan, karena masih adanya proyek-proyek eksisting yang akan menghasilkan gas.

“Kapasitas kilang kita sangat terbtas, kalau ada kilang rusak maka sebagaian minyak yang kita produksi tidak akan bisa diolah di dalam negeri. Infrastruktur pipa untuk menyalurkan gas dari hulu ke hilirpun masih sangat terbatas, baik untuk konversi BBM ke BBG ataupun pipa untuk menghubungkan satu pulau ke pulau lain,” terangnya.

Agenda kedua yakni dari sisi energy non gas. Diversifikasi energy mutlak dilakukan sebab cadangan minyak Indonesia sangat terbtas, hanya 0,3 persen dari cadangan dunia dan gas hanya 1,7 persen dari cadangan dunia. Karena itu menurutnya, Indonesia harus mulai memanfaatkan sumber energi lain seperti matahri, batubara, biofuel bahkan juga energy nuklir.

Untuk panas bumi, guru besar perminyakan ITB ini memberi atensi khusus, karena sumber energinya memiliki keterbatasan jangkauan, maka prioritasnya adalah daerah penghasil panas bumi tersebut. “Kalau untuk batubara, selain bisa ditingkatkan penggunaan dalam negeri, dimungkinkan juga adanya konversi energy mulut tambang, sehingga daerah sekitar bisa menikmati energy listrik secara langusng,” ungkapnya.
Kemudian agenda berikutnya yakni pengelolaan mineral. Devisa Negara dari mineral,imbuhnya, masih sangat mungkin ditingkatkan. Langkah sederhana yakni melalui ekstrakasi mineral berkualitas tinggi yang dilepas di pasaran, disusul pembangunan infrastruktur pengolahan bijih sehingga menghasilkan bahan setengah jadi. 

“Yang juga harus menjadsi perhatian untuk ini (mineral) adalah penertiban berbagai hal, mulai dari penghitungan sumber daya yang ada, pajak, lingkungan hingga CSR dan pelestarian lingkungan,” tambahnya.

Yang terakhir adalah peningkatan elektrivikasi. Kebutuhan listrik masyarakat harus bisa menjangkau wilayah-wilayah pedalaman di Indonesia,pun demikian untuk harga optimum yang masih dijangkau masayarakat harus juga ditingkatkan. 

Tetapi, lanjutnya, efisiensi teknis dan bisnis tetap masih harus dilakukan sehingga biaya konversi listrik menjadi menurun dan biaya kepada masyarakat menjadi lebih ringan.[]

http://www.majalahtambang.com 

 

~ Tiupan Nafas langkah pendeteksi Kanker

Mendeteksi Kanker dari Tiupan Napas


 

 

TEMPO.CO, Atlanta - Pengecekan penyakit kanker ternyata bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, cukup meniupkan napas. Prosedur yang “ramah” ini ditemukan oleh tim ilmuwan dari Georgia Institute of Technology, Amerika Serikat, lewat sistem deteksi kanker lewat napas (cancer-detecting breathalyzer system).

Tes kanker inovasi baru ini akan mengubah paradigma lama yang masih menggunakan alat pemindai kanker berukuran besar yang tidak praktis, yakni CAT scan dan mammogram. Pasien terduga kanker cukup meniupkan napasnya lewat ujung alat yang berbentuk seperti pipa.

Alat ini pertama kali diperkenalkan di acara tahunan "American Society of Clinical Oncology" di Chicago, 2 Juni lalu. Kendati masih menunggu uji klinis resmi, alat tes kanker ini terbukti mampu mendeteksi kanker payudara dan kanker paru-paru.

Sistem ini diperkirakan akan merevolusi penanganan kanker, khususnya di Amerika, karena mampu secara drastis mengurangi biaya pencegahan dan pengobatan. Di negara lain, alat ini juga memiliki peluang besar terutama di sejumlah negara yang masih menganggap tes mammogram sebagai hal tabu.

"Alat deteksi kanker yang kompleks cenderung berbiaya mahal. Kami ingin alat yang sederhana, murah, dan cukup mudah digunakan pada rutinitas fisik," kata peneliti utama proyek ini, Charlene Bayer, dosen teknik kimia di Georgia Tech.

Bayer mengatakan alat ini bekerja dengan terlebih dulu menangkap napas pasien dalam wadah yang dirancang khusus. Lewat sistem penyimpanan berpendingin, napas pasien dalam wadah khusus ini akan tetap segar sampai 1,5 bulan. Wadah napas ini kemudian dikirim ke laboratorium. Di laboratorium, peranti sensor kimia dapat menemukan senyawa organik yang dilepaskan oleh tubuh yang terinfeksi kanker.

"Alat ini bisa mengubah cara diagnosis kanker," kata Bayer.

Bagi pasien di negara Barat, biaya dan ketidaknyamanan adalah masalah utama terkait pemeriksaan kanker. Namun, kata Bayer, tes kanker payudara menggunakan alat temuannya dapat mengurangi biaya dari US$ 800 menjadi kurang dari US$ 100. Tes ini akan menghilangkan faktor ketidaknyamanan fisik yang selama ini dikeluhkan pasien.

Di negara berkembang atau negara dengan hambatan gender yang ketat, alat tes ini mempermudah dokter yang beroperasi di pegunungan terpencil atau di tengah hutan.

Alat ini juga dapat mengatasi hambatan kebudayaan di negara-negara Timur, yang umumnya melarang tingkat keintiman fisik untuk melakukan tes seperti mammogram. Dengan tes lewat napas, seorang wanita yang mengenakan burqa bisa melakukan pemindaian penyakit kanker tanpa harus melepas pakaiannya.

Bayer mengakui alat tes kanker ini tidak memiliki akurasi sebaik alat serupa yang lebih mahal dan kompleks. Namun bukan berarti alat temuannya tidak layak digunakan. Sebaliknya, alat tes ini akan membantu menentukan apakah pasien perlu pengujian lebih lanjut menggunakan peranti yang lebih mahal sekaligus mengganggu.

“Bagi orang Amerika yang nyaris tidak bisa mendapatkan perawatan kesehatan secara layak karena mahalnya biaya, serta ratusan juta orang di negara berkembang yang memiliki sedikit akses ke teknologi pemindaian kanker, penemuan ini cukup untuk menyelamatkan nyawa," ujar Bayer.

 

(http://www.tempo.co/read/news/2012/06/14/095410558/Mendeteksi-Kanker-dari-Tiupan-Napas)

 

~ Rumput Laut sebagai Obat anti tumor

Rumput laut (ANTARA/Zabur Karuru)

...ekstrak rumput laut coklat bisa membunuh sel tumor mulut rahim...

 

kanker hingga tahapan di mana kondisi sudah demikian kritis.

 

 

Rumput laut Indonesia berkhasiat jadi antitumor

 

 

Jakarta (ANTARA News) - Angka penderita kanker di dunia terus menunjukkan peningkatan, kematian akibat kanker pun seakan merambat pasti dan membuat kanker sebagai salah satu persoalan terbesar di bidang kesehatan saat ini.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia, diperkirakan 11-12 juta orang di dunia tengah menderita kanker dan lebih dari separuhnya tinggal di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Di Indonesia, sedikitnya terdapat 200.000 orang penderita kanker baru per tahunnya. Dua jenis kanker dengan angka kejadian yang sangat tinggi adalah kanker mulut rahim (serviks) dan kanker payudara.

Tingkat kematian akibat kanker mulut rahim di Indonesia sangat mengerikan, di mana sekitar satu orang meninggal dunia setiap jamnya.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Faktor pertama terletak di keterlambatan diagnosa. Banyak penderita kanker tidak benar-benar sadar bahwa dirinya tengah menderita

Alasan lain adalah obat kanker yang ada sekarang ini memang memiliki efektivitas yang tidak maksimal membunuh sel-sel kanker. Di sinilah upaya pencarian obat antitumor baru sangat diperlukan.


Di Tanah Air, para peneliti bergiat mencari peluang-peluang obat antitumor ini ke berbagai penjuru. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan kekayaan hayati laut.

Riset yang menelusuri potensi manfaat kandungan dalam biota laut sebagai bahan baku obat disebut juga dengan istilah bioprospeksi.

Salah satu hasil riset bioprospeksi kelautan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi (BBRP2B) Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) adalah potensi rumput laut coklat Turbinaria decurrens sebagai antitumor.

Dalam uji hayati yang telah dilakukan di BBRP2B, terbukti bahwa ekstrak rumput laut coklat bisa membunuh sel tumor mulut rahim. Selain rumput laut coklat, ada pula rumput laut hijau Ulva fasciata dan rumput laut merah Rhodymenia palmata yang punya khasiat membunuh sel tumor payudara.

"Rumput laut kaya akan senyawa flavonoids yang banyak dilaporkan mempunyai efek sebagai antitumor," kata Nurrahmi Dewi Fajarningsih, salah satu peneliti yang terlibat riset ini.

Menurut dia, Indonesia merupakan negeri dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Ini merupakan peluang yang sangat besar bagi upaya bioprospeksi kelautan.

Senada dengan itu, Kepala Badan Litbang Kementerian Kelautan dan Perikanan Prof. Rizald M. Rompas menegaskan, "Balitbang KP memang mendorong agar pemanfaatan rumput laut tidak hanya terbatas kepada kariginannya."

"Kalau kita berhasil menciptakan industri obat-obatan berbasis rumput laut, hasilnya bisa 5-6 kali lebih besar daripada nilai hasil budidaya ikan di Indonesia setahun," ujar dia.
(E012)

Editor: Ella Syafputri

 

(http://www.antaranews.com/berita/315525/rumput-laut-indonesia-berkhasiat-jadi-antitumor)

 

~ Kondisi Renewable Energy in Indonesia

 

Kondisi EBT di INDONESIA / Renewable Energy in Indonesia

 
Sektor energi di Indonesia mengalami masalah serius, karena laju permintaan energi di dalam negeri melebihi pertumbuhan pasokan energi. Minyak mentah dan BBM sudah diimpor guna mengatasi permintaan yang melonjak dari tahun ke tahun sehingga ketahanan energi nasional rentan terhadap fluktuasi harga dan pasokan/permintaan minyak mentah dunia.
Energi Baru dan Terbarukan (EBT) harus mulai dikembangkan dan dikuasai sejak dini, dengan mengubah pola fikir (mind-set) bahwa EBT bukan sekedar sebagai energi altenatif dari bahan bakar fosil tetapi harus menjadi penyangga pasokan energi nasional dengan porsi EBT >17% pada tahun 2025 (Lampiran II Keppres no.5/2006 tentang Kebijakan Energi nasional) berupa biofuel >5%, panas bumi >5%, EBT lainnya >5%, dan batubara cair >2%, sementara energi lainnya masih tetap dipasok oleh minyak bumi <20%, Gas bumi >30% dan Batubara >33%. Pemerintah berkomitmen mencapai visi 25/25, yaitu pemanfaatan EBT 25% pada tahun 2025. Bulan Mei 2012, Sekjen PBB mendorong pemanfaatan EBT dunia duakali lipat (dari 15% hingga 30% berasal dari EBT) hingga tahun 2030, apalagi negara berkembang saat ini menguasai setidaknya 50% kapasitas global EBT.
Program-program untuk mencapai target hingga 25% EBT adalah listrik pedesaan, interkoneksi pembangkit EBT, pengembangan biogas, Desa Mandiri Energi (DME), Integrated Microhydro Development Program (IMIDAP), PLTS perkotaan, pengembangan biofuel, dan proyek percepatan pembangkit listrik 10.000 MW tahap II berbasis EBT (panas bumi dan hidro). Untuk mencapai itu, Indonesia membutuhkan dana Rp.134,6triliun (US$15,7miliar) guna mengembangkan sumber-sumber EBT untuk 15 tahun mendatang. Dana tersebut (dalam master plan 2011-2015) akan dibagikan ke 5 daerah, Sumatra (Rp 25,06 triliun), Jawa (Rp.86,3 triliun), Sulawesi (Rp.15,77 triliun), Bali-Nusa Tenggara (Rp.2,64 triliun), dan Papua-Maluku Rp.4,83 triliun). Pemerintah mendukung inovasi pemanfaatan PLTS, misalnya untuk penerangan jalan, dan mendorong pula pemasangan panel surya di atap-atap pusat pertokoan dan mal agar mendapatkan pasokan listrik sendiri.
Upaya penganekaragaman (diversifikasi) sumber energi lainnya selain minyak bumi terus dilakukan, di antaranya pemanfaatan gas, batubara, EBT (air/mikrohidro, panas bumi, biomassa, surya, angin, gelombang/arus laut, BB Nabati, nuklir), batu bara cair dan gas (liquified, gasified coal, gas hidrat).
Tahun 2011, Pemerintah mengembangkan 35 Desa Mandiri Energi (DME) berbasis non BBN, yaitu PLTMH 10 lokasi (5 di Sumatera, 2 di Jawa, 3 di Kalimantan 4 di Sulawesi, 2 di Nusa tenggara, 1 di Maluku dan Papua), arus laut 1 lokasi, Hibrid 1 lokasi, peralatan produksi (sisa energi listrik dari EBT) 10 lokasi. 
Tahun 2010, Desa Mandiri Energi (DME) sudah dikembangkan di 15 wilayah di Indonesia, 9 di luar P. Jawa  dan 6 di P. jawa. Th 2009, program DME mencapai 633 desa, dengan rincian Tenaga Air 244 desa, BB Nabati 237 desa, Tenaga Surya 125 desa, Biogas 14 desa, Tenaga Angin 12 desa, Biomassa 1 desa.
Di lain fihak, PT Pertamina (Persero) berkomitmen mengembangkan 5 jenis EBT, yaitu geothermal (panas bumi), Coal Bed Methane (CBM), Shale Gas, Alga, dan Angin (Bayu).
Beberapa pengusaha asing mulai tertarik untuk berpartisipasi dalam pengembangan EBT, misalnya Australia yang berpengalaman di bidang infrastruktur energi di bidang panas bumi, solar, alga, mikrohidro, biomassa untuk pembangkit listrik tertarik untuk mengembangkan EBT di Indonesia. Austria menawarkan kerjasama membangun PLTA di Indonesia. Jerman, Perancis(tanam US$10miliar), Amerika Serikat, dan Selandia Baru ingin bekerjasama di bidang panas bumi (geothermal). Chevron Co. (produsen gas terbesar kedua th 2011 sesudah ExxonMobil Indonesia) juga tertarik berinvestasi di bidang panas bumi dan energi laut dalam. Turki tertarik pula untuk mengembangkan energi geothermal di wilayah Palembang, Sumatera Selatan, dan Argo Puro, Jawa Timur. Di sisi lain, Amerika Serikat yang diwakili oleh Exxon dan General Electric akan membantu di sektor efisiensi energi, salah satunya adalah mengembangkan turbin dan Pembangkit Listrik skala kecil berbasis EBT yang akan dikembangkan di pulau-pulau terluar dan di daerah nelayan. Kanada (Biotermika Technology) tertarik menginvestasikan dananya di bidang sampah kota di kota-kota besar Indonesia, seperti di Bandung, Surabaya, dan Jakarta guna membangun pembangkit listrik dari sampah. Selain itu, Kanada juga tertarik di bidang PLTU (Brookfield Power and Utilities), PLTMH (Esensi Lavalin), dan PLTS (Expert Development of Canada, dan Senjaya Surya Pro). Sementara, Singapura tertarik mendirikan industri pupuk dari sampah TPA di Desa Ngembalrejo, Kec. Bae, Kudus, sedangkan Jepang dan Korea Selatan tertarik mendirikan industri pupuk dan pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar/solar/premium dari sampah kota di TPA Palembang, Sumsel. Brunei Darussalam tertarik untuk mengembangkan industri pengolahan sorghum untuk bahan makanan dan bioethanol di Soloraya. China dan Korea Selatan tertarik untuk mengembangkan PLTA. Finlandia mengajukan kerjasama dengan menghibahkan 4 juta Euro di bidang PLT biomassa di Prop. Kalteng dan Riau, dan Korea Selatan juga bekerjasama di bidang PLT biomassa di Gorontalo. Jepang (NEDO) tertarik membangun pabrik bioethanol dari tetes di Mojokerto, Jatim. Rusia dan Australia tertarik mengembangkan PLT biomassa (jerami+sekam padi) di Sergai, Sumut, sedangkan China tertarik menggunakan limbah cangkang kelapa sawit. Estonia tertarik mengembangkan pasir minyak dan biomassa.
Indonesia sudah memberlakukan regulasi dengan memberikan insentif pajak kepada perusahaan pengembang EBT dengan tetap melibatkan fihak lokal terutama pembangunan pembangkit berkapasitas di bawah 10 MW. Sistem feed-in-tariff juga diterapkan guna mendorong implementasi EBT secara komersial dan peningkatan akses kepada masyarakat.
 

~ Kereta Berjalan Tanpa Masinis

Kereta India Berjalan Tanpa Masinis
 
RAJGIR,Otoritas transportasi India menjatuhkan skors kepada dua masinis kereta api dan penyelia mereka, setelah sebuah kereta berjalan sekitar empat kilometer tanpa ada pengemudinya. 

Kereta Shramjeevi Express dari New Delhi tengah diparkir di Rajgir, pusat kota Bihar, akhir pekan lalu, ketika tiba-tiba berjalan sendiri. Kereta meluncur sendiri karena masinis melakukan kesalahan teknis dengan mematikan mesin dan seluruh sistem pengaman.

Stasiun televisi NDTV melaporkan, kereta itu memang berjalan pelan, tetapi sudah menempuh jarak 4 km sebelum para petugas yang mengejarnya berhasil menyusul, naik ke atas kereta, masuk ke kabin masinis, dan menarik rem. Duh, kayak di film saja....
Sumber :KOMPAS.com -  
 
Halaman 95 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook