Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Maroko Sambut Kedatangan Peawat Terbang Tenaga Surya

RABAT, (PRLM).- Maroko menyambut kedatangan pesawat terbang bertenaga sinar matahari yang terbang dari Madrid (Spanyol) ke Rabat (Maroko), merayakan penerbangan antar-benua pesawat berawak tanpa menggunakan bahan bakar minyak pertama di dunia.

Pesawat Solar Impulse menyelesaikan penerbangan 830 kilometer itu Selasa (5/6/12) malam, dan mendarat di bandara internasional Rabat setelah lepas landas dari ibukota Spanyol 19 jam sebelumnya. Pilot tunggal pesawat tersebut, pengembara Swiss Bertrand Piccard, tersenyum ketika muncul dari kokpit kecil dan disambut oleh para anggota timnya dan pihak berwenang Maroko.

Bertrand Piccard mengatakan, ia merasakan suatu hal yang luar biasa dalam dirinya saat pesawat yang dikendarainya menyeberangi selat Gibraltar yang memisahkan Eropa dan Afrika.

Para pengurus timnya memilih Maroko sebagai tujuan penerbangan pertama Solar Impulse tersebut untuk menonjolkan rencana negara Afrika Utara, yang berkeinginan membangun pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia. Pimpinan Moroccan Agency for Solar Energy, Mustafa Bakkoury menyambut kedatangan Piccard di bandara dan mengatakan Maroko mendukung pesan pilot tersebut mengenai pentingnya energi yang dapat diperbaharui kembali.

“Energi surya bukan lagi hanya digunakan dalam dunia ilmiah, tetapi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari,” kata Bakkoury.

Bakkaoury mengatakan Maroko berencana untuk memulai pembangunan pembangkit energi matahari di kota Ouarzazate, Maroko Tengah, tahun 2014. Pembangkit ini merupakan bagian dari upaya Maroko untuk mengurangi ketergantungan negara pada bahan bakar fosil dan menghasilkan duaribu megawatt energi matahari sebelum tahun 2020

 

~ Ramadan Rawan DampakKenaikan Harga Gas Industri

BANDUNG, (PRLM).- Dampak kenaikan harga gas industri sebesar 55% dipastikan akan sangat terasa pada Ramadan. Pasalnya, sebagian besar industri pengguna gas diprediksi baru akan menaikkan harga jual produk pada bulan depan. Kenaikan harga diperkirakan bervariasi, hingga 15%.

Demikian diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat (Jabar), Deddy Widjaya, di Bandung, Kamis (14/6). Hingga saat ini, menurut dia, industri umumnya belum menaikkan harga jual produknya karena banyak diantara mereka yang belum menerima surat edaran terkait kenaikan harga gas.

"Kenaikan harga gas industri sudah mulai berlaku sejak Mei. Akan tetapi, sampai sekarang banyak pelaku industri yang bimbang memutuskan langkah ke depan, kapan akan menaikkan harga dan berapa besarannya. Banyak diantara mereka yang belum tahun berapa tagihan gas perusahaannya," kata Deddy.

Jika kenaikan harga gas industri tidak direvisi, ia memastikan, pada Juli industri pengguna gas akan menaikkan harga jual produknya. Dampak terbesar akan dirasakan industri keramik, kaca, dan sebagian makanan, seperti roti juga biskuit.

"Pertengahan Juli sudah masuk Ramadan. Kenaikan harga tentu sangat rawan, apalagi Ramadan adalah periode puncak lonjakan permintaan, khususnya untuk produk makanan. Dorongan terhadap inflasi tentu akan sangat besar," kata Deddy.

Dampak kenaikan harga gas industri, lanjutnya, bukan hanya semata terjadi pada harga jual produk. Deddy menilai, kebijakan tersebut juga akan menggerus daya saing industri nasional, baik di dalam maupun luar negeri. "Apalagi, pasokan gas juga belum memenuhi kebutuhan nasional," tuturnya.

Saat ini, menurut dia, krisis Eropa dan melambatnya pertumbuhan ekonomi sejumlah negara membuat ekspor Indonesia terus merosot. Sementara di dalam negeri produk industri nasional terus digempur produk impor sejenis yang harganya jauh lebih murah.

Ironisnya, lanjut Deddy, produk impor tersebut, khususnya dari Cina, diproduksi dengan menggunakan energi murah dari Indonesia, baik gas maupun batubara. Sementara industri di dalam negeri justru mengeluhkan sulitnya mengakses kedua energi murah tersebut.

"Agustus ini barang-barang impor akan membajiri pasar lokal. Kalau kebijakan gas tidak diubah, kita bisa kalah bersaing. Ancaman PHK bukan tidak mungkin terjadi. Kemungkinan besar PHK akan marak setelah Lebaran," tuturnya.

Itulah, menurut Deddy, mengapa Apindo menilai, ini bukan saat yang tepat untuk menaikkan harga gas industri sebesar itu. "Kalaupun terpaksa naik, besaran kenaikannya sekitar 10%-15%. Kalau itu, masih bisa kami terima," ujarnya.

Untuk itu, ia mengaku berharap, pertemuan antara Menteri Perindustrian MS Hidayat, pelaku industri, dan Direksi Perusahaan Gas Negara (PGN) pekan depan bisa menghasilkan solusi terbaik terkait persoalan gas industri, baik harga maupun pasokan. Pertemuan tersebut diprakarsai Menteri Perindustrian.

"Apindo Jabar akan diwakili Apindo Pusat. Ada beberapa poin penting yang akan kami sampaikan. Diantaranya, keberatan pengusaha Jabar tentang kenaikan harga gas yang sangat memberatkan dan aspirasi kami agar energi murah, seperti batubara dan gas, diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional," kata Deddy.

Pekan depan, Hidayat berencana mempertemukan pelaku industri dan Direksi PGN untuk membahas persoalan harga dan pasokan gas. Melalui pertemuan tersebut, Hidayat menargetkan, semua persoalan terkait gas industri bisa diselesaikan dengan win win solution. 

http://www.pikiran-rakyat.com 

 

~ Industri Kecil Terpukul dengan Kenaikan Harga Elpiji

BANYUMAS, (PRLM).- Industri kecil terpukul dengan kenaikan harga gas elpiji isi tabung 50 kilogram (kg). Ketakutan terjadi kebangkrutan industri kecil banyak yang beralih ke gas elpiji tabung isi 12 kg atau gas untuk rumah tangga.

Sektor usaha kecil yang terpukul dengan kenaikan gas elpiji isi 50 kg antara lain dialami oleh usaha kecil makanan di Banyumas, industri knalpot di Purbalingga, dan perajin keramik di Banjarnegara.

"Masalahnya kenaikkan harga gas elpiji 50 kg untuk industri kecil tidak kira-kira, berkisar Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per tabung," kata pemilik industri keripik tempe 'Niti', Puguh Jatmiko.

Puguh mengaku, sangat terpukul dengan kenaikan tersebut. Mengingat bukan hanya masalah bahan bakar saja yang mengalami kenaikan. Bahan baku kedelai impor dari Amerika juga mengalami kenaikan.

Sebelumnya harga gas elpiji isi tabung 50 di tingkat agen dan pengecer Rp 375.000 hingga Rp 385.000. Namun awal Mei lalu, harga gas elpiji tersebut naik menjadi Rp 470.000 hingga Rp 490.000 per tabung.

Padahal, kebutuhan bahan bakar untuk menggoreng keripik tempe cukup banyak. Dalam sehari dibutuhkan gas sebanyak 2
tabung isi 50 kg per. Atau sekitar Rp 23 juta per bulan hanya untuk membeli gas. "Tapi sejak ada kenaikan saya harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp 26 juta perbulan atau naik Rp 6 juta perbulannya," terang Puguh.

Uang Rp 6 juta bagi pemilik industri kecil seperti dirinya sangat berarti. Sebab pelanggan tidak mau jika harga tempe kripik naik. Di samping itu harga tempe sebagai bahan baku usahanya, juga mengalami kenaikan akibat harga kedelai yang naik.

Menghadapi kondisi semacam ini, dia mengaku, saat ini terpaksa beralih menggunakan gas isi 12 kg agar usahanya tidak bangkrut. "Saya harus bertahan tanpa harus menaikkan harga produksi tempenya. Oleh karena saya terpaksa beralih menggunakan gas isi tabung 12 kg," katanya.

Sebab harga gas elpiji isi tabung 12 kg sejauh ini tidak mengalami kenaikan. Di tingkat pengecer, harga gas ini masih dijual seharga Rp 75.000 hingga Rp 77.000 per tabung. Kalau menggunakan gas isi 3 kg, Puguh mengaku tidak berani dan tidak etis. Sebab gas isi 3 kg hanya diperuntukkan bagi warga miskin.

Perajin kecil knalpot Warhan (45) Pesayangan Kabupaten Purbalingga mengaku terpukul dengan kenaikan gas isi 50 kg. Sudah beberapa hari belakangan menggunakan gas isi 12 untuk pengelasan. Sebab kebutuhan gas cukup tinggi, perminggu bisa mencapai antara 5-6 tabung isi kg.

Sebelumnya industri kecil knalpot terpukul oleh naiknya harga logam. Kini mereka harus membayar lebih untuk kebutuhan bahan bakarnya.

Langkah serupa dilakukan pengusaha kerajinan keramik di Kecamatan Purworejo Klampok Kabupaten Banjarnegara. Ketua Sentra Keramik Purworejo Klampok, Sahri, mengaku perajin keramik di wilayahnya terpaksa beralih menggunakan gas elpiji isi tabung 12 kg untuk melakukan proses pembakaran kerajinan keramik yang dibuat. "Usaha kecil sudah mensiasati kenaikan gas elpiji 50 dengan beralih ke gas elpiji isi 12," kata Sahri.

"Kita tidak mau bangkrut dengan kenaikkan harga elpiji. Sebab kita tidak bisa. menaikkan harga jual keramik. Saat ini saja kita harus bertahan dengan gempuran keramik Cina yang lebih murah. Kalau kita naikkan harga maka usaha kita bisa mati," terangnya.

http://www.pikiran-rakyat.com 

 

~ Indonesia jangan jadi Importir Energi

Wamen ESDM: Jangan Sampai Indonesia Jadi Nett Importer Energi

 

JAKARTA - Bertempat di lobi Gedung Menteri ESDM, Jakarta, Kamis (14/6/2012), Menteri ESDM Jero Wacik beserta jajaran Kementerian ESDM menyambut kedatangan Wakil Menteri ESDM baru, Rudi Rubiandini, yang menggantikan Almarhum Widjajono Partowidagdo.

Dalam sambutannya Rudi Rubiandini menyampaikan kesiapannya mengemban tugas baru sebagai Wakil Menteri ESDM, membantu tugas Menteri ESDM. "Lewat syariat-nya Pak Jero, tetapi hakekatnya untuk negara, saya akan habiskan seluruh tenaga, pikiran dan kemampuan saya untuk meningkatkan bidang energi dan sumber daya mineral," ujarnya.

Saat diminta menyampaikan harapannya ke depan, Rudi Rubiandini menegaskan bahwa jangan sampai Indonesia menjadi nett importer energi. "Kita sudah masuk pada nett importer minyak, tetapi kita tidak boleh masuk pada nett importer energi," ujarnya.

Ia menuturkan, ke depan kebutuhan energi Indonesia semakin besar seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita, sementara suplai tidak akan mampu menutupi kebutuhan bila hanya bertumpu pada migas makan akan berat.

Oleh karena itu, lanjut Rudi, sudah saatnya penggunaan energi migas yang hingga saat ini masih mencapai 65% harus diturunkan, dan digeser pada divesifikasi energi lain.

Rudi menjelaskan, Indonesia harus melakukan diversifikasi energi dari minyak dan gas, karena cadangan minyak Indonesia hanya 0,3% dari cadangan dunia dan cadangan gas hanya 1,2% dari cadangan dunia.

"Sementara kita punya panas bumi yang mencapai 40% dari cadangan dunia, kita punya energi soalar yang berlimpah 12 jam sehari sepanjang tahun, kita punya batubara, juga termasuk biofuel yang diperoleh dari tanah subur di Indonesia," papar Rudi.

Menurut Rudi, diversifikasi energi merupakan program jangka panjang ESDM, sementara jangka pendeknya adalah diversifikasi dari minyak ke gas. "FSRU harus segera dibangun dan ditingkatkan, jaringan pipa harus tersambung dari Papua hingga ke Arun, dan bila telah tersambung tinggal menambah pipa yang kecil-kecil," ungkapnya.

Bila semua telah tersambung, tuturnya, maka program jangka menengah untuk diversifikasi dari minyak ke gas akan dapat terselesaikan. (KO)

 

(http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/5791-wamen-esdm-jangan-sampai-indonesia-jadi-nett-importer-energi.html)

 

~ Penghematan Pengurangan Subsidi Listrik Tidak Signifikan

BANDUNG, (PRLM).- Penghematan dari usulan pengurangan subsidi bagi pelanggan rumah tangga dengan kapasitas 1.300 Volt Ampere (VA) dan 2.200 VA serta pencabutan subsidi bagi pelanggan rumah tangga 3.500 VA dan 6.600 VA dinilai tidak akan signifikan. Bahkan, dengan usulan ini, tidak tertutup kemungkinan masyarakat mampu masih menikmati subsidi listrik yang cukup besar

Demikian diungkapkan Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat Harkat Konsumen Cecep Suhaeli, di Bandung, Kamis (14/6). Kendati demikian, ia mengaku setuju dengan usulan tersebut, khususnya pencabutan subsidi bagi pelanggan rumah tangga 3.500 VA dan 6.600 VA.

"Kalau golongan rumah tangga 3.500 VA dan 6.600 VA memang idealnya sudah masuk kategori mapan. Saya setuju kalau mereka dicabut subsidi. Pengurangan subsidi bagi pelanggan 1.300 VA dan 2.200 VA juga bisa saja dilakukan," ujarnya.

Akan tetapi, lanjut Cecep, kebijakan ini tidak menjamin bahwa masyarakat mampu akan bebas dari subsidi. Pasalnya, tidak tertutup kemungkinan ada golongan masyarakat mampu yang memiliki beberapa rumah dengan kapasitas listrik 900 VA.

"Penghematan dengan cara ini kemungkinan besar juga tidak terlalu besar. Akan tetapi, suatu saat listrik memang harus bebas subsidi dan dijual dengan harga keekonomian. Pada prinsipnya saya setuju, tapi sekarang masyarakat belum siap," tuturnya.

Jika pemerintah ingin memperoleh penghematan yang lebih besar, menurut dia, harus ditempuh oleh semua pihak, bukan hanya konsumen. Penghematan, menurut dia, harus dimulai dari pemerintah serta instansi-instansi terkait, termasuk PLN.

"Program hemat energi harus dilakukan semua pihak. Kalau hanya masyarakat yang diwajibkan melakukan hemat energi, hasilnya tidak akan signifikan," ujarnya.

Imbauan hemat energi, menurut dia, juga harus diarahkan pada pengonsumsi energi listrik terbesar, seperti mall dan pusat-pusat keramaian lainnya. "Isunya kan bukan hanya hemat subsidi, tapi hemat energi karena sumber dayanya yang semakin menipis," tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyiratkan kemungkinan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) tahun depan. Pernyataan itu tersirat dari usulan untuk mencabut subsidi bagi pelanggan rumah tangga dengan kapsitas 3.500 VA dan 6.600 VA serta pengurangan subsidi bagi pelanggan 1.300 VA dan 2.200 VA.

"Khusus bagi pelanggan 450 VA dan 900 VA, subsidi akan diberikan tetap," ujar Jero Wacik. Jika subsidi listrik tidak dikurangi, menurut dia, pada tahun depan besarannya akan membengkak hingga lebih dari Rp 100 triliun. 

http://www.pikiran-rakyat.com 

 
Halaman 94 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook