Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Geen Peace Indonesia Tolak Pembangunan PLTN

Green Peace Indonesia Tetap Tolak PLTN

Meski Indonesia sedang dilanda krisis energi,  Green Peace Indonesia tetap menolak gagasan untuk membangun pembangkit listri tenaga nuklir, seperti apa yang direncanakan pemerintah. Sebab, PLTN hanya akan membuat Indonesia bergantung pada negara lain dalam pengusahaan nuklir. Selain itu, teknologi pengelolaan limbah nuklir yang belum dikuasai juga membuat PLTN menjadi sangat berbahaya.

Itu belum lagi kalau terjadi kebocoran instalasi yang bisa mengancam keselamatan penduduk sekitar lokasi PLTN.

“Kami sangat tidak setuju terhadap rencana Pemerintah akan didirikannya PLTN, karena selain kita akan selalu bergantung pada negara lain untuk mengusahakan nuklir tersebut, limbahnya juga sangat membahayakan makhluk hidup bila tidak dikelola dengan profesional” kata Sonki Prasetya, Climate & Energy Campaigner Greenpeace Indonesia dalam diskusi tentang krisis energi di Jakarta, Rabu (30/4). Pembicara lain dalam diskusi itu adalah Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Siti Maemunah.

Seperti diberitakan, pemerintah kembali menghidupkan rencana pembangunan PLTN di Gunung Muria, Jepara, Jawa Tengah. Atas rencana itu, berbagai kalangan sudah menggelar aksi penolakan.

Penolakan atas PLTN itu juga dilandasi kenyataan bahwa di Indonesia masih terdapat sumber energi lain untuk pembangkit tenaga listrik. Misalnya, air, angin (bayu), panas bumi, matahari, dan sampah organik. Menurut Sony, kelima sumber energi tersebut sangat aman. "Sebagai negara tropis, kita tidak perlu membeli air, angin, cahaya matahari, panas bumi, atau sampah sekalipun ke negara lain. Pemerintah hanya harus melakukan pemetaan kepada setiap daerah di Indonesia, sumber daya alam manakah yang terdapat di dalamnya," kata Sony.

Ditambahkan Sony, dengan mengelola sumber energi terbarukan tersebut, kebutuhan akan bahan bakar fosil dan batu bara bisa ditekan.

Sementara itu, Siti Maemunah dari Jatam memaparkan bahwa potensi batu bara Indonesia sangat besar. Ironisnya, 80 persen dari produksi batu bara yang mencapai 100 juta ton itu justru diekspor. (C5-08)

Sent from Indosat
JAKARTA, KOMPAS



 

~ Aksi Unjuk Rasa Warga Balong Terhadap PLTN

Ratusan Warga Balong Tetap Menolak PLTN

 Pembantu Rektor III Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Husni Amriyanto dan rombongan disambut aksi unjuk rasa ratusan warga Desa Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Selasa (8/4) pukul 14.30 di simpang lima desa setempat. Warga desa semula menduga rombongan itu hendak mengajak pulang mahasiswa UMY yang selama ini melakukan advokasi dan mendampingi warga Desa Balong.

Dalam unjuk rasa, warga laki-laki, perempuan, remaja, hingga anak-anak mendengarkan orasi sejumlah aktivis Koalisi Rakyat dan Mahasiswa Tolak PLTN (Kraton) dan warga setempat. Mereka membawa poster penolakan terhadap PLTN.

Menurut koordinator Kraton, Darul Hasyim, warga Desa Balong konsisten menolak PLTN yang hendak dibangun di wilayah itu.

Menghadapi unjuk rasa, Husni memperkenalkan diri dan rombongan kemudian mengajak warga berdialog di balai desa.

Husni yang dihubungi via telepon menyatakan, ada enam mahasiswa UMY yang tinggal sementara di Desa Balong.

”Kami berkewajiban menjenguk mahasiswa kami, apa benar tinggal di Desa Balong. Kegiatan mereka di Balong terkait dengan kegiatan perkuliahan,” tuturnya.

Husni menyatakan bisa memahami perjuangan warga Desa Balong dalam menolak PLTN. Selama ini warga desa didampingi sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. ”Kami berusaha ikut membantu sesuai bidang kami,” kata Husni. (SUP

WIBJEPARA, KOMPAS
 

~ Kapan Indon Bikin PLTN ?

PLN Dodol … Kapan Indon Bikin PLTN?

Direktur Hubungan Masyarakat (Humas) Japan Atomic Energy Agency (JAEA), Minoru Kubo, mengatakan bahwa Indonesia bisa mengeksplorasi dan mengayakan uraniumnya sendiri untuk bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di masa depan.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) sedang mengupayakan suatu sistem yang memudahkan perizinan bagi pengayaan uranium untuk kepentingan keberlanjutan energi, katanya di sela-sela “Workshop on Public Information of Nuclear Science and Technology in Indonesia” di Jakarta, Senin.

“Tentu saja dengan catatan tanggung jawab dan keterbukaan. Jadi, jika Indonesia sangat terbuka bagi berbagai inspeksi IAEA, maka tidak ada masalah,” ujarnya.

Sejauh ini, Indonesia belum mempunyai rencana jangka pendek mengeksplorasi cadangan uraniumnya dan mengayakannya sendiri, serta lebih memilih mengimpor dari negara-negara yang diperkenankan. Mengayakan uranium sendiri akan mengalami hambatan politis besar.

Ia mengatakan, Jepang meski sudah memiliki 55 unit PLTN, namun tak memiliki cadangan Uranium, sehingga selain mengimpor Uranium untuk bahan baku PLTN-nya Jepang juga memiliki fasilitas daur ulang bahan baku nuklir bekas pakai.

“Cadangan dunia akan Uranium sekitar 60 tahun saja, harga yang 10 tahun lalu hanya tujuh dollar AS per pon (0,45 kilogram) pada November 2007 sudah naik menjadi 100 dolar AS per pon, meski pada 2008 ini sempat turun menjadi 80 dollar AS per pon. Jadi, memang dituntut untuk optimalisasi bahan baku,” katanya.

Menurut dia, seperti halnya Rusia, Kazakstan atau Australia, maka Indonesia yang memiliki cadangan uranium sendiri tak perlu mengimpornya atau mendaur ulangnya, tetapi dengan mengeksplorasi cadangannya.

Jepang memulai PLTN pada 1963, lanjut dia, karena ketergantungan impor minyak dari Timur Tengah sebesar 99 persen sementara kebutuhan energi untuk pembangunan terus meningkat, dan perlunya diversifikasi energi.

Kubo mengakui, setiap membangun fasilitas PLTN, Jepang pun tidak luput dari demonstrasi warganya, namun Jepang berhasil mengatasinya dengan terus memberi pengertian melalui media massa, serta pembuktian bahwa tingkat keselamatan PLTN-nya cukup tinggi.

“Tingkat alergi masyarakat Jepang terhadap bom nuklir cukup tinggi, tapi kami jelaskan PLTN bukan bom. Perizinan pembangunan PLTN sangat ketat, begitu pula pengawasannnya,” demikian Kubo. (*)

Sumber: Antara

 

~ PLTN Rencana Dibangun Di Pantura Banten

Menristek: PLTN Akan Dibangun di Pantura Banten

Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman, di Tangerang, Senin, mengatakan, pemerintah berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di wilayah perairan Pantai Utara

Kadiman mengungkapkan, PLTN yang akan dibangun pada tahun 2015-2020 tersebut memiliki kapasitas sebesar 1.000 Megawatt (Mw) dengan nilai investasi sekitar 2-3 juta dollar AS.

Alasan pemilihan Peraian Utara Banten sebagai lokasi pembangunan PLTN, katanya, karena wilayah itu dinilai memiliki potensi sumber daya air yang melimpah untuk proses pengelolaan mesin pembangkit tenaga nuklir.
    
Perairan Utara Banten juga dinilai memiliki standar keselamatan radiasi nuklir yang aman dan tidak memiliki riwayat sejarah serta tidak, termasuk daerah rawan gempa dan gelombang tsunami.

Namun demikian, mantan rektor Institut Teknologi Bandung tersebut belum bisa memastikan lokasi desa atau kecamatan yang akan dijadikan pusat operasional PLTN tersebut.

Berdasarkan rencananya, pemerintah akan mengembang teknologi pembangkit tenaga nuklir tersebut pada tahun 2015 hingga 2020 merujuk kepada Undang-Undang 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional berkaitan dengan Indonesia harus memiliki PLTN pada pada 2015-2019.

Rencana tersebut juga diperkuat dengan keluarnya Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tertanggal Januari 2006 tentang keharusan Indonesia memiliki sumber energi listrik dari PLTN.

Sementara itu, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Hudi Hastowo menuturkan pembangunan PLTN di Indonesia terdiri dari enam titik untuk kebutuhan pasokan listrik di Jawa dan Bali.

Hastowo menyebutkan, kapasitas PLTN dengan kekuatan sebesar 1.000 Mw dengan kebutuhan bahan baku batu bara sebanyak dua hingga enam ton dan 30 ton uranium per tahun tersebut termasuk kategori kecil, namun dapat memenuhi pasokan listrik se-Jawa dan Bali.

Program pembangunan PLTN juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengkonsumsi energi listrik per kapitanya hanya mencapai 0,467 di Indonesia atau jauh dibanding Jepang yang menembus angka 4,14.

TANGERANG

 

 

~ Pembangunan PLTN Dalam Memenuhi Kebutuhan Energi

Rektor ITB: Pengembangan PLTN tak Bisa Dihindari

Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso M.Sc berpendapat, pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia di masa depan tidak dapat dihindari dalam memenuhi kebutuhan enerji masyarakat.

"Namun, untuk memenuhi kebutuhan enerji sekarang ini, pemanfaatan sumber daya alam seperti gas, batubara dan minyak, relatif masih mencukupi," kata Djoko di Bandung, Selasa, seputar upaya mengatasi krisis tenaga listrik di berbagai wilayah Indonesia.

Dari sisi teknologi, katanya, PLTN tidak bermasalah karena faktor keamanannya telah dirancang dengan baik. Namun demikian faktor manusiannya, tentu masih perlu waktu, sehingga PLTN sebaiknya menjadi pilihan pembangkit terakhir dalam mengatasi krisis enerji.

Memang PLTN secara teknologi pernah mengalami masalah seperti kasus Chernobyl di Rusia dan Bhopal di India puluhan tahun lalu, tetapi dari pengalaman tersebut telah dilakukan berbagai evaluasi dan perbaikan sehingga PLTN dinyatakan tetap aman dan efisien.

Rektor ITB

sumber: kompas

 

 
Halaman 840 dari 993
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook