Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Energi Listrik Bertumpu Pada PLTA

PLTA Tumpuan Energi Listrik

Keberlanjutan proyek energi listrik 10.000 megawatt kelak bertumpu pada penggunaan sumber energi terbarukan seperti air dan panas bumi. Potensi air, misalnya, diperkirakan mampu menghasilkan energi 70.000 MW. Untuk tahap kedua proyek 10.000 MW perlu dibangun 10 bendungan baru. Demikian diungkapkan oleh Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Fahmi Mochtar dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (2/7). ”Ini konsekuensi dari potensi yang dimiliki Indonesia,” kata Fahmi seraya mengakui bahwa dari 70.000 megawatt (MW) potensi energi dari air, baru sekitar 6 persen atau 3.529 MW yang dimanfaatkan. Fahmi menegaskan, strategi tersebut didukung oleh murahnya biaya operasional untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yaitu Rp 140 untuk menghasilkan satu kWh. Pembangkit yang menggunakan batu bara memakan biaya Rp 500 per kWh. Adapun pembangkit bertenaga diesel berbiaya Rp 3.000 per kWh. Djoko memperkirakan lebih dari 10 bendungan perlu dibangun untuk memenuhi 7.000 MW dalam proyek 10.000 MW tahap dua. Ia mengaku sudah punya data-data mengenai daerah yang berpotensi untuk dibangun bendungan baru. Daerah itu di antaranya Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, dan beberapa provinsi di Jawa. Kondisi PLTA Dari Padang, Sumatera Barat, dilaporkan, pemadaman listrik bergilir diperkirakan berlangsung hingga September mendatang. Pemadaman dilakukan karena sejumlah pembangkit sedang mengalami pemeliharaan bergilir dan adanya kerusakan. Deputi Manajer Humas PLN Sumatera Barat Asril Kalis mengatakan, saat ini pemadaman diperkirakan akan bertambah banyak mulai 5 Juli karena empat pembangkit di PLTA Singkarak akan mengalami pemeliharaan secara bersamaan. ”Kalau PLTA Singkarak tidak beroperasi sama sekali, defisit listrik untuk Sumatera bagian tengah dan selatan bisa mencapai 230 megawatt. Saat ini, defisit listrik mencapai 150 megawatt,” kata Asril. Terkait dengan optimalisasi sumber daya air, Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Eddy Syofian mengungkapkan, proyek Asahan harus sudah dikelola Indonesia sepenuhnya pada tahun 2013. Pasalnya, selama dikelola Jepang, proyek tersebut tak efektif mengatasi krisis listrik di Sumut. ”Padahal, di daerah ini terdapat PLTA dengan kapasitas terbesar se-Indonesia. Listrik dari PLTA Siguragura dan Tangga sempat masuk ke sistem listrik PLN sebesar 45 MW pada saat beban puncak,” ujarnya. Di Probolinggo, Jawa Timur, Direktur Muda Umum Personalia PT Kutai Timber Indonesia M Sain Latief menyatakan bahwa pemadaman listrik dikhawatirkan memperburuk iklim investasi. (ART/BIL/LAS/PRA/A07) Sumber: Kompas Cetak, cetak.kompas.com

 

~ Pemadaman Listrik di Medan Dimulai

Pet...! Pemadaman Listrik di Medan Pun Dimulai 

Memasuki awal tahun 2009, pemadaman listrik di Sumatera Utara mulai terjadi, dengan durasi waktu pemadaman berkisar 15 hingga 30 menit dalam sehari. "Dalam dua pekan terakhir di bulan Januari ini, sedikitnya pasti ada dua sampai tiga kali pemadaman listrik dalam sepekan," ujar Dona (29), warga Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan, Selasa.

    
Pemilik rental internet di Jalan Marelan Raya itu mengemukakan lamanya waktu pemutusan aliran listrik yang bersifat sementara itu paling cepat sekitar 15 menit dan paling lama 30 menit. Pemadaman di sekitar pemukiman warga dan tempat usahanya itu dilakukan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dari PLN, baik secara langsung atau melalui perantara media massa. "Dampak yang ditimbulkan dari pemadaman tersebut telah mengurangi kenyamanan para pelanggan atau pengguna jasa di tempat usaha itu dan para konsumen hanya bisa mengutuk PLN," ujarnya.
    
Ibu-ibu rumah tangga di Medan berharap pemadaman listrik di daerah itu hendaknya tidak dilakukan pada malam hari atau pada waktu jam belajar anak di rumah.     
"Kalaupun pemadaman itu terpaksa dilakukan, kami meminta dari dulu hendaknya pemadaman itu tidak dilakukan malam hari atau pada saat anak kami belajar. Tapi sepertinya PLN tidak menggubrisnya," ujar Dewi (30), warga Jalan Kenanga Raya, Helvetia, Medan.
    
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari PLN Wilayah ataupun PLN Pembangkit Sumbagut terkait pemadaman yang mulai terjadi di Sumut pada awal 2009 itu.         
Namun sebelumnya, Dirut PLN Fahmi Mochtar, ketika meresmikan pengoperasian PLTD MFO 65 MW di PLTU Sektor Sicanang Belawan beberapa waktu lalu, mengatakan, kondisi kelistrikan di Sumbagut kian membaik.

KOMPAS, MEDAN

ABI, Sumber : Ant


 

~ Sekitar 45.000 Calon PLN di Sulselrabar Antre

45.000 Calon Pelanggan PLN di Sulselrabar Antre

Pemadaman Bergilir di Kendari Terjadi Sekali dalam Dua Hari

Akibat krisis energi, sekitar 45.000 dari 65.000 calon pelanggan yang masuk daftar tunggu PT PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat hingga tahun ini masih harus antre. Bahkan di Kendari pemadaman bergilir lebih sering terjadi akibat pembangkit listrik rusak.

Deputi Manajer Komunikasi PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) Agung Murdifi mengungkapkan hal tersebut di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (13/4). "Kami baru bisa melayani sekitar 20.000 calon pelanggan tahun ini," katanya.

Memang, lanjut Agung, calon pelanggan PT PLN yang terlayani masih sedikit. "Apalagi jika mengingat jumlah daftar tunggu (calon pelanggan) terus bertambah setiap tahun. Tapi, memang baru ini yang bisa dilayani," ujarnya.

Agung menambahkan, pelayanan terhadap 20.000 calon pelanggan itu pun bisa dipenuhi karena PLN akan mendapat tambahan daya 20 megawatt (MW) dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Sengkang. Selain itu, akhir tahun ini PLN juga akan menyewa mesin pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang mampu menghasilkan daya listrik sebesar 70 MW.

Krisis energi di Sulselrabar sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini antara lain akibat mesin-mesin pembangkit yang dimiliki PT PLN pada umumnya sudah tua dan boros bahan bakar. Satu-satunya sumber pembangkit yang murah, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru, pun bermasalah akibat sedimentasi.

Berdasarkan pemantauan Kompas di Waduk Bakaru akhir tahun lalu—berikut penjelasan Direktur Operasional PLTA Bakaru, Ahmad Saleh—lumpur dan pasir yang ikut masuk ke Bakaru sudah mencapai 6 juta meter kubik sehingga mengakibatkan pendangkalan waduk. Kondisi ini mengakibatkan PLTA Bakaru tidak bisa bekerja maksimal, terutama pada musim kemarau.

Pemadaman bergilir

Dari Kendari, Sulawesi Tenggara, dilaporkan, sejak awal April lalu pemadaman listrik bergilir semakin sering terjadi. Kalau sebelumnya sekali dalam 11 hari, kini sekali dalam dua hari.

Pelaksana Manajer PT PLN Cabang Kendari Djamaluddin Amba kemarin mengatakan, hal itu terjadi akibat lima dari 18 mesin pembangkit yang dioperasikan PLN Kendari rusak. Kondisi ini menyebabkan daya listrik berkurang 12,5 MW.

Praktis, lanjut Djamaluddin, daya PLN Kendari kini tinggal 24,4 MW dari total 36,9 MW. Kondisi daya maksimal pun, lanjutnya, hanya bisa dicapai setelah dilakukan pemadaman terhadap hampir 80 persen lampu jalan di seantero Kota Kendari serta pemblokiran aliran untuk industri, hotel-hotel, dan bisnis lainnya saat beban puncak.

Karena itu, lanjutnya, pemadaman bergilir saat beban puncak mulai pukul 17.00 hingga 22.00 Wita terpaksa dilakukan sekali dalam dua hari.

Krisis listrik ini diperkirakan berakhir dua bulan mendatang. Sebab, kerusakan empat mesin pembangkit berdaya 10 MW itu cukup parah. (REN/YAS)

Kompas, Makassar

 

~ Krisis Listrik di Sulsel Belum Diatasi

BISAKAH KRISIS LISTRIK DI SULSEL TERATASI?

Hari-hari belakangan ini banyak warga Makassar, Sulawesi Selatan, “marah” kepada PLN Sebab, mereka menjadi korban pemadaman listrik secara bergilir terus-menerus. Menjelang Ramadhan saat banyak aktivitas di malam hari-ini, baik warga maupun pemerintah daerah mengingatkan agar pemadamain, sekalipun harus dilangsungkan, jangan dilakukan pada malam hari.

Menurut warga, pemadaman listrik telah mengganggu aktivitas sehari-hari. Mereka berpendapat, pemadaman bukanlah solusi, mengingat krisis listrik merupakan persoalan kronis yang tak kunjung mendapatkan jalan keluar. Begitu kesalnya warga sehingga Kantor PLN Wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara di Jalan Hertasning Makassar pun belakangan ini sering didatangi pengunjuk rasa. Sebagai bentuk protes, para pengunjuk rasa bahkan melempari kantor itu dengan tomat busuk.

Pemerintah maupun PLN dinilai lamban mengatasi krisis listrik yang mendera Sulsel. Dalam beberapa tahun ini pemadaman bergilir di Makassar dan kabupaten lainnya di Sulsel Seakan menjelma menjadi “hantu”, yang datang pada siang maupun malam hari. Setiap saat warga terbayang soal pemadaman bergilir. “Hari ini jam berapa pemadaman? Berapa kali dan berapa lama?” demikian pertanyaan yang acap muncul dari warga.

Pemadaman listrik membuat warga tak bisa lagi mencuci atau mnenyetrika pakaian sesuai “jadwal normal”. Semua pekerjaan yang tergantung listrik terpaksa dikumpulkan pada saat listrik menyala. Warga juga mengeluh, banyak alat-alat listrik mereka yang rusak akibat pemadaman listrik yang berkali-kali. Sehari acap tiga kali pemadaman.
“Ini sudah mengganggu dan merugikan warga. Kalau kekesalan menghadapi pemadaman ini terakumulusi dengan berbagai persoalan lain, dikhawatirkan bisa timbul hal-hal yang negatif,” kata Aswar Hasan, pengajar ilmu komunikasi Universitas Hasanuddin, yang terganggu atas pemadaman tersebut.

Faktor alam
Walaupun dihujat masyarakat, PLN Unit Bisnis Wilayah Sulselra terkesan hanya bisa menerima nasib. Faktor alam menjadi alasan klasik tentang tak normalnya sistem kelistrikan di Sulsel. PLTA Bakaru yangmenyuplai 25 persen-32 persen energi listrik di Sulsel, nyaris kekeringan air pada musim kemarau ini setiap saat, debit airnya menyusut. Masalah makin parah karena sedimentasi di PLTA itu memprihatinkan. Diperkirakan tumpukan sedimen di Bakaru sudah lebih dari satu juta meter kubik sehingga memengaruhi arus air yang masuk ke turbin.

Awal September ini. debit air PLTA hanya 12 meter kubik per detik. Padahal pada saat normal mampu memasok 126 megawatt (MW) dengan debit air 45 meter kubik per detik. Kondisi saat ini mengakibatkan dua mesin pembangkit tak bisa difungsikan optimal. Pada saat beban puncak, kedua turbin bisa hidup, tetapi hanya beberapa jam.

Ikhsan Asaad, Manajer Area Penyaluran dan Pengatur Beban Sistem Sulselrabar (Sulsel, Sultra, dan Su1bar, PLN Wilayah Sulselra mengatakan, saat satu turbin yang berfungsi, daya yang dihasilkan tinggal 50 MW-70 MW—dan 126 MW saat normal.

Kuota BBM
Sebetulnya PLN Sulselra bisa saja memaksimalkan pembangkit yang menggunakan mesin-mesin berbahan baku solar di PLTU Tello atau PLTD Suppa. Namun, kondisi mesin PLTU sendiri tidak memungkinkan. Apalagi ada pembatasan kuota pembelian bahan bakar minyak.

“Untuk PLN Sulselra, kuota kami sebesar 223.000 kiloliter per tahun. Memang dengan penggunaan solar, untuk setiap kilowatt per hour (kWh) dibutuhkan 0,56 liter, yang kalau dirupiahkan menjadi Rp 2.000 per kwh. ini cukup mahal. Kalau penggunaan solar melebihi kuota, kami kena denda,” ujar Arifuddin Nurdin, General Manajer PLN Wilayah Sulselra.

Menurut Ikhsan, dengan memaksimalkan penggunaan pembangkit yang menggunakan solar, pemakajan solar bertambab 20 persen-30 persen dari jumlah kuota. Kalau saat normal kebutuhan solar hanya sekitar 100 kiloliter-200 kiloliter per hari, dengan memaksimalkan pembangkit kebutuhan solar meningkat menjadi 600 kiloliter per hari. Untuk penambahan pemakaian solar ini saja, PLN harus mengeluarkan anggaran Rp 4 miliar-Rp 5 miliar per hari.

Pembangkit baru
Saat ini dari kapasitas terpasang sebesar 575 MW, PLN Sulselra hanya punya daya 445 MW. Saat beban puncak daya rata-rata 430 MW-440 MW. Karena itu, menghadapi kondisi sampai kini sistem kelistrikan di Sulsel selain dipasok PLTA Bakaru (kapasitas 126 MW), juga dipasok Pembangkit Listrik Tenaga Diesel PLTD) Suppa (65 MW), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tello (197 MW), PT Energi Sengkang (135 MW), PLTA Bili-bili (20 MW), dan sejumlah pembangkit lainnya yang berkapasitas kecil. Tetapi, sejak beberapa bulan ini pembangkit-pembangkit itu kerap menghadapi sejumlah kendala. Sejak beberapa waktu lalu PLTA Bili-bili juga tak beroperasi maksimal karena sumber air yang ada harus dibagi untuk kepentingan irigasi dan air bersih. Karena itu, PLTA itu rata-rata hanya menyuplai 9 MW (siang) dan 13 MW (malam).

Runyamnya, masalah kelistrikan di Sulselra seakan silih berganti dan terjadi rutin setiap tahun. Tatkala beberapa PLTA didera faktor alam, sejumlah pembangkit lainnya menghadapi masalah lain lagi. Sejak enam bulan terakhir ini PLTD Suppa, PLTG Sengkang (PT Energi Sengkang), dan PLTU Tello tak mampu beroperasi secara optimal karena sejumlah mesinnya mengalami perbaikan berkala. PLTG Sengkang yang mempunyai tiga mesin pembangkit hanya mampu menyuplai 67,5 MW dan daya normal 135 MW. Di PLTU Tello, dan 11 pembangkit yang beroperasi hanya 3 mesin. Sisanya, selain dalam perbaikan juga ada yang rusak. Karena itu, belakangan ini PLTU Tello hanya mampu memasok 70 MW. alam dan mesin-mesin pembangkit yang telah uzur, harapan PLN tak lain adalah pembangunan pembangkit baru yang andal.

Namun, proyek-proyek pembangkit baru itu diprediksi solesai pada tahun 2008-2009. Penjelasan PLN Sulselra di hadapan DPRD Sulsel pada 10 Mei lalu bahkan membuat hati waswas tinggal di Sulsel. Sebab, pemadaman bergilir diperkirakan akan terus berlangsung di Makassar dan wilayah lainnya di Sulsel hingga tahun 2007.

Memang saat ini ada tambahan daya dari PLTU Jeneponto (2 x 100 MW), PLTU Kassa (2 x 20 MW), PLTU Bosowa (2 x 100 MW), PLTG Sengkang, PLTA Poso (120 MW), dan lainnya, di samping pemerintah pusat berjanji akan menyiapkan tambahan daya 10.000 MW. Tetapi, apakah dengan pembangkit baru krisis listrik di Sulsel akan teratasi? Pasalnya, daya pembangkit baru sudah ditunggu puluhan ribu pelanggan baru. Runyamnya, bila pengelolaan sistem pembangkit tidak dilakukan ketat seperti kasus tumpukan sedimentasi di Bakaru yang lamban ditangani, bukan tak mungkin krisis listrik di Sulsel ibarat ulangan tahunan.

KOMPAS,Makassar
 

~ Di Kota Palu Pemadaman Listrik Berlangsung

 PEMADAMAN LISTRIK DI PALU MELUAS
 
Pemadaman listrik di Kota Palu yang belangsung kurun tiga pekan terakhir ini meluas sehingga merugikan para pelanggan. Sejumlah warga di ibukota Provinsi Sulteng itu mengeluh karena  pasokan listrik PLN setempat setiap hari dalam kurun waktu tiga pekan terakhir ini semakin berkurang.

  
"Pemadaman listrik pada awalnya dilakukan hanya pada malam hari. Tetapi sudah berlangsung sepekan terakhir ini justru siang hari," keluh pengelola usaha wartel da warnet di Jalan Dewi Sartika  Palu, Susanto  Selasa
   
Susanto mengatakan, dampak dari pemadaman bergilir yang diberlakukan PLN menyusul salah satu dari sejumlah mesin PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Disel) rusak, adalah usahanya tidak berjalan maksimal.
   
"Terus terang pendapatan dari usaha wartel dan warnet turun drastis selama kurun Januari 2009 ini sebab kebanyakan tutup daripada buka," katanya dengan nada kesal.
    
Untuk mengadakan mesin genset sendiri selain biaya cukup mahal, juga menggunakan genset mudah merusakkan perangkat lunak. Humas PLN Cabang Palu Petrus mengatakan, mesin PLTD unit VIII mengalami kerusakan pada sistem turbo sehingga selama diperbaiki, maka otomatis tidak beroperasi menyuplai listrik.
    
Petrus mengatakan, tim teknis PLN saat ini berusaha memperbaiki mesin PLTD yang rusak tersebut, dan diharapkan dalam waktu dekat sudah kembali normal.

KOMPAS, PALU, Abi

Sumber antara

 
Halaman 840 dari 1054
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook