Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Sistem Penanganan Banjir di Semarang

Menteri PU, Canangan Mega Proyek Sistem Penanganan Banjir di Kota Semarang

Pencanagan dimulainya pembangunan mega proyek sistem penanganan banjir senilai Rp 1,7 triliun di Goa Kreo, dilaksanakan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, di Kawasan Wisata Goa Kreo Kota Semarang, Kamis (15/10). Megaproyek yang direncanakan selesai pada tahun 2013 ini diharapkan mampu mengatasi banjir dan rob di tujuh kecamatan yang berada di Semarang bagian tengah.

Megaproyek penanganan banjir tersebut terdiri atas, pembangunan Waduk Jatibarang, normalisasi Kali Garang dan Sungai Banjir Kanal Barat, serta peningkatan sistem drainase di Kali Semarang, Kali Asin, dan Kali Baru.
ujar Djoko Kirmanto. Turut hadir dalam pencanangan itu Gubernur Jateng Bibit Waluyo dan Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip.

Menurut Djoko, mega proyek yang didanai Japan International Cooperation Agency (JICA) ini juga perlu dibarengi dengan perbaikan perilaku masyarakat soal pengelolaan sampah dan penanganan lingkungan.

Sehari sebelumnya Gubernur Jawa Tengah H. Bibit Waluyo, dalam selamatan dalam rangka Pencanangan Normalisasi Kali Garang dan Banjir Kanal Barat (BKB), Pembangunan Waduk Jati-barang, Perbaikan Drainase dan Pembangunan Polder Banger Semarang, Daerah Irigasi Lanang Kab. Grobogan dan Rencana Pendayagunaan Tanah Pelindo III mengatakan, Kondisi rob, banjir bahkan ancaman krisis kekeringan menjadi tantangan bagi kita untuk mencari solusi yang lebih baik. Normalisasi aliran sungai, pembuatan polder, waduk, bendungan, ataupun pembenahan saluran air di permukiman penduduk, menjadi langkah utama dalam mengurangi dampak bencana yang bisa diakibatkan oleh air. Disamping itu, keberadaan sungai-sungai besar perlu ditata sedemikian rupa, sehingga bukan hanya bermanfaat bagi pengairan pertanian dan penampung air hujan, tetapi juga menjadi penyedia cadangan air di kala musim kering.

Menyadari manfaat yang besar inilah lanjut Gubernur, maka proyek-proyek pengairan seperti pemberdayaan bendungan Kali Lanang di Kabupaten Grobogan, normalisasi Sungai Banjir Kanal Barat, Sungai Kaligarang di Semarang, serta Kolam Retensi di Kota Semarang, saya minta dapat disengkuyung bersama agar berjalan dengan lancar, tepat waktu dan tidak mengalami hambatan yang berarti. Selain itu megaproyek ini tidak hanya dapat mengatasi permasalahan banjir dan rob tetapi juga dapat menggerakkan roda perekonomian di Kota Semarang.

Terkait Hal tersebut Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral Kota Semarang Fauzi mengakui, megaproyek tersebut akan mengendalikan banjir dan rob di Semarang bagian tengah yang meliputi tujuh kecamatan, yaitu Gunungpati, Mijen, Semarang Barat, Semarang Selatan, Semarang Tengah, Semarang Timur, dan Semarang Utara.

Sementara itu untuk lebih mempercepat pelaksanaan mega proyek tersebut Ketua Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Kota Semarang Harini Krisniati mengatakan, pembebasan lahan untuk proyek Waduk Jatibarang telah mencapai 142,95 hektar atau sekitar 70 persen. Rencananya, Jumat ini akan ada sosialisasi lagi untuk pembebasan lahan seluas 8 hektar di Kelurahan Mangunsari Gunung Pati yang akan digunakan sebagai landasan bendungan, ucap Harini yang juga Sekretaris Daerah Kota Semarang.

Selain meninjau lokasi pembangunan waduk, Menteri PU juga mencanangkan pembangunan kolam retensi yang terdapat di Semarang Utara dan merupakan bagian dari megaproyek. Harini mengakui, pembebasan lahan kolam retensi seluas 9,23 hektar disepakati dengan nilai ganti rugi Rp 31,9 miliar yang akan diberikan kepada PT Tamah Mas Bharuna selaku pengelola lahan.(*Tif)

Semarang, BT .

 

~ Teknologi Jepang Dalam Memasak Nasi

Posts Tagged ‘Bahan Bakar’ Tekhnologi Memasak Nasi Dengan Air Dingin !

Pernahkah ada dibayangan anda untuk memasak nasi dengan menggunakan air yang dingin? Pasti anda berpikir hal tersebut tidak mungkin, tapi percaya atau tidak, suatu hari nanti kita akan dapat menikmati nasi yang dimasak dengan menggunakan air dingin. Hal itu akan terwujud karena sebuah perusahaan di Jepang telah berhasil menciptakan nasi yang dimasak hanya dengan menggunakan air dingin. Perusahaan tersebut telah memperkenalkan produk yang diberi nama dengan Hotto! Raisu atau Hot Rice (Nasi Hangat). Bagaimana proses pembuatannya? Nasi tersebut di masak dengan 4,000 kali tekanan normal atmosfer,...

Bagi yang memilliki Kekurangan dalam daya Pikir dan daya Ingat sebaiknya mencoba membeli Makanan yang dijuluki “Brain Food” ini diyakini dapat merangsang pertumbuhan sel-sel otak, memperbaiki fungsinya, meningkatkan daya ingat dan konsentrasi berpikir : 1. SalmonIkan berlemak seperti salmon merupakan sumber terbaik asam lemak omega-3 – DHA and EPA – yang keduanya penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak. Riset terbaru juga menunjukkan bahwa orang yang memperoleh asupan asam lemak lebih banyak memiliki pikiran lebih tajam dan mencatat hasil memuaskan dalam uji kema..

INFO KESEHATAN

Tips Dan Artikel Kesehatan

.
 

~ Hydrogen Power Booster Fuel

Hydrogen Power Booster Fuel Saver

Penghemat

 

HHO / HYDROGEN GENERATOR SAVING RATE 20-80%" width="150" height="150" />
Sebenarnya selama ini kita sebenarnya sdh dibohongi oleh kalangan ilmiah untuk kepentingan/ tujuan pihak tertentu. Dengan keberhasilan mengajukan bukti penggunaan air biasa dalam berbagai mesin, apa yang selama ini diajarkan di bangku sekolah harus dianggap keliru.
Menurut situs H2Earth Institute ( www.h2earth.org) , air biasa kini sudah bisa digunakan ( dibakar) pada mesin internal combustion engine ( ICE) atau turbin, mengolahnya menjadi bahan bakar ( fuel on-demand) , saat itu juga ( real time) , tanpa transportasi atau penyimpanan hidrogen cair atau terkompresi, alkali kaustik, garam-garam katalis, atau hidrida logam.
Hal ini bisa dilakukan pada kendaraan bermotor dengan satu alat tambahan kecil yang ditenagai oleh sistem elektris kendaraan. Jadi, hal ini pada dasarnya adalah menjadikan air sebagai bahan bakar.
Di sini, yang dibuat adalah Sel Bahan Bakar Air, yakni teknologi untuk konversi efisien air menjadi gas bahan bakar ( combustible) yang dikenal sebagai â € ™ hydroxyâ € ™ atau â €  Gas Brownâ €  . Teknologi ini bisa dikatakan merana tak dilirik setelah penemunya ( Stanley Meyer) , demikian pula penemu senyawa gas baru ( Dr Yull Brown) , dan ahli teori yang memikirkan produksi gas tersebut melalui resonansi molekuler ( Dr Henry Puharich) semua meninggal pada pertengahan tahun 1990-an.
Mungkin yang lebih dekat dengan pengalaman kita sejauh ini adalah apa yang dikemas dalam konsep hydrogen boost ( Lihat situs www.hydrogen-boost.com) . Ini adalah sistem peningkatan kinerja jarak bensin yang didasarkan pada generator gas hidrogen yang ada pada mesin. Pengembang sistem ini juga punya sistem lebih lengkap yang bisa meningkatkan jangkauan kilometer hingga 20-60 persen pada kendaraan yang diuji.

Seperti dijelaskan dalam situsnya, hidrogenâ € ” bersama dengan kombinasi gas-gas elektrolisa lain ( dalam hal ini adalah Gas Brown) â € ” yang dimasukkan dalam bagian intake mesin akan meningkatkan penyebaran nyala selama pembakaran sehingga bahan bakar dalam wujud uap yang bisa dibakar pun jadi lebih banyak. Manfaat penambahan hidrogen pada mesin pembakaran internal, termasuk mesin diesel, sudah banyak diselidiki.
Adakah kekuatan yang bisa mewujudkan impian H2Earth Institute untuk memutus rantai BBM sehingga masyarakat secara seketika, diskontiniu, dan radikal ( disruptive) bisa beralih ke teknologi energi baru yang secara lingkungan, ekonomi, dan politik memberi solusi atas permasalahan yang ada sekarang ini ?
Kami sdh membuktikan Teknologi ini dengan mengimplementasikan di kendaraan roda dua maupun roda 4, bus dan truck.

 CV Multiniaga Solusindo

  
  
  
 
 

Pengembangan Mikroba Yang Bisa Menghasilkan Listrik

Mikroba, Solusi Energi Listrik Masa Depan

Makin menipisnya cadangan energi tak terbarukan untuk pembangkit listrik membuat para peneliti bekerja keras menemukan alternatif pengganti yang dapat memenuhi kebutuhan energi listrik bagi masyarakat. Salah satunya adalah mengembangkan mikroba yang bisa menghasilkan listrik.

GAGASAN untuk memanfaatkan mikroba sebagai pembangkit listrik memang terdengar ekstrem. Namun itu ternyata bukanlah hal yang mustahil. Peneliti dari Universitas Harvard, Prof Peter Girguis, kini sedang mengembangkan teknologi pembangkit listrik dari mikroba. Tentu daya listrik yang dihasilkan tak sebesar pembangkit listrik konvensional.

Daya listrik yang dibangkitkan masih terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, namun sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan energi paling mendasar di zaman teknologi komunikasi, yaitu baterai telepon seluler.
Ya, model pembangkit listrik mikroba yang masih dalam uji coba di laboratorium itu mampu mengisi baterai ponsel, atau menyalakan sebuah lampu LED.

Bakteri yang dapat dimanfaatkan adalah jenis anaerob, yakni bakteri yang berkembang di dalam lingkungan tanpa oksigen. Penelitian menunjukkan, bakteri yang paling efektif dalam membangkitkan listrik adalah bakteri anaerob yang hidup dari unsur logam, belerang, atau gas methan.

Menemukan bakteri-bakteri seperti ini sebetulnya relatif mudah. Kita dapat hanya bermodalkan cangkul, dan menggalinya di kebun di belakang rumah.
Menurut Prof Girguis, tanah yang diberi kompos merupakan makanan ideal bagi bakteri anaerob tersebut. ’’Bakteri ini punya keunikan metabolisme yang dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Karena sebagai produk buangan dari metabolismenya, bakteri ini melepaskan elektron. Elektron inilah yang dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik,’’ ujarnya.

Secara sederhana, Girguis menggambarkan model sel pembangkit listrik mikroba itu. Pada tanah yang tak mengandung oksigen, kita tanam sebuah elektroda seperti batang grafit dari pensil atau baterai bekas. Pada elektroda inilah bakteri akan berkembang biak.

Setelah itu, kita pasang sebuah batang grafit lain di atas permukaan tanah, yang bertindak sebagai katoda. Jika elektroda dan katoda dihubungkan mengunakan kabel yang dilengkapi sirkuit saklar, kita memiliki sumber listrik. Saklar hanya berfungsi menyambung atau memutus aliran listriknya.
Geocacter Salah satu spesies bakteri anaerob yang bisa digunakan untuk menghasilkan listrik adalah Geobacter metallireducens, yang pertama kali ditemukan di tambang batu bara di Sungai Potomac, Washington DC, tahun 1987.

Geobacter mempunyai kemampuan berpindah, dengan cara menggerakkan elektron dalam metal. Kemampuan ini menjadikan bakteri tersebut dapat mengurai limbah, sekaligus menghasilkan listrik.

Geobacter adalah mikroba pertama yang mampu mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida (CO2). Ia mendapat tenaga dengan memanfaatkan oksida dari besi. Dengan cara yang sama seperti manusia, ia menghirup oksigen.

Spesies ini juga dapat digunakan mengatasi pencemaran lingkungan. Misalnya, mengurai tumpahan minyak di perairan menjadi CO2  yang tak berbahaya, mengubah kondisi lingkungan, dan mempercepat laju degradasi kontaminan. Geobacter juga punya kemampuan menyingkirkan kontaminan logam radioaktif dari perairan.

Tim Riset NASA saat ini juga mengembangkan Geobacter sebagai bahan bakar, yang kemudian dapat memiliki daya listrik. Semua jenis sel bahan bakar menghasilkan listrik, dengan memproduksi dan mengendalikan arus elektron.
Sel-sel konvensional, termasuk menggunakan pintalan dan dalam beberapa mobil prototipe, memperoleh elektron dengan melepas atom hidrogen. Dalam melakukan hal itu, sel-sel bahan bakar harus diberi persediaan hidrogen secara tetap.

Sel bahan bakar mikroba memperoleh elektron dari limbah organik. Bakteri hidup dari limbah sebagai bagian dari proses pencernaan mereka. Geobacter, menurut peneliti NASA, dapat dibujuk untuk menyampaikan elektron secara langsung kepada elektroda sel bahan bakar ke dalam suatu sirkuit.

Ketika elektron dialirkan sepanjang sirkuit, mereka menghasilkan listrik. Sel bahan-bakar mikroba ini telah dicoba di Pennsylvania University, untuk menghasilkan listrik, pada saat proses memurnikan limbah cair domestik.
Sel Serabut Untuk membuat gagasan ini menjadi bentuk praktis, peneliti harus mempunyai suatu bentuk yang efisien dan sangat ringkas. Bahan bakar sel tidak bisa dibentuk dengan banyak ruang dalam ukuran yang luas.

Untuk kebutuhan ini, tim peneliti mempertimbangkan sel bahan bakar serabut yang dikemas ketat, masing-masing bakal dijadikan sel bahan bakar dalam kemasan all in one.

Masing-masing serabut terdiri atas tiga lapisan, seperti tiga untai jerami, satu di dalam serabut lainnya. Masing-masing lapisan terdiri atas kutub positif (luar), electrolyte-membrane (tengah), dan katoda (dalam).

Saluran dari cairan limbah akan dipompa melewati lapisan luar, di mana Geobacter dapat mengikat elektron dan memindahkannya ke kutub positif, yaitu ke dalam sirkuit, kemudian diteruskan ke katoda pada lapisan dalam.

Bukan mustahil, suatu saat akan diciptakan pembangkit listrik bertenaga bakteri yang merupakan sumber energi terbarukan. Temuan ini juga bakal menjadi solusi bagi kesehatan lingkungan, karena mampu mengurai berbagai limbah berbahaya.

Uji coba sel pembangkit listrik mikroba di negara-negara berkembang seperti Indonesia memang sangat diperlukan. Sebab sasaran utama pengembangan sel pembangkit listrik mikroba adalah memerangi kelangkaan listrik di negara berkembang.

Bayangkan, betapa nikmat jika listrik hanya memerlukan mikroba untuk menghidupkannya. Kita harus memanfaatkan mikroba menjadi salah satu produk yang berguna. (Dela, dari berbagai sumber-32)

Teknologi

 

 

~ Bahan Bakar Cair Masa Depan

 Di Masa Depan Baterai Akan Gunakan Bahan Bakar Cair

Piranti mobile seperti telepon seluler (ponsel), Personal Digital Assistant (PDA) dan notebook saat ini semakin banyak digunakan. Alasannya? Selain karena praktis dan mudah dibawa kemana saja, piranti mobile juga semakin maju dalam hal kemampuan mengelola data-data milik majikannya. Ia mampu melakukan penghitungan yang tidak kalah dibandingkan komputer-komputer desktop, misalnya. Piranti mobile juga dilengkapi memori yang cukup tinggi sehingga bisa menyimpan data dalam jumlah yang cukup besar.

Tetapi sejalan dengan meningkatnya kemampuan piranti-piranti tersebut, mereka juga semakin haus tenaga. Kebutuhan akan tenaga begitu besar sehingga para produsen piranti mobile harus melengkapi produknya dengan baterai yang lebih kuat sekaligus tahan lama.

Namun baterai kuat saja tidak cukup. Manusia menginginkan segala sesuatunya menjadi praktis dan tidak makan waktu. Dengan alasan tersebut, pengisian kembali (recharge) tenaga baterai menjadi salah satu masalah yang dianggap menyebabkan pekerjaan menjadi tidak efisien.


Sebenarnya pengisian kembali tenaga baterai adalah hal sepele. Namun bagi mereka yang menggunakan piranti-piranti mobile sepanjang hari, ketidaknyamanan cara itu akan terasa. Mereka harus mencari sumber daya listrik dan menunggu hingga baterai penuh kembali sebelum dapat membawanya bepergian.

Untuk mengatasi hal itu, beberapa perusahaan di Jepang, termasuk perusahaan komunikasi mobile Toshiba Corp, mulai memikirkan penggunaan sel-sel bahan bakar sebagai sumber tenaga piranti-piranti bergerak. Diilhami dari baterai-baterai yang dipakai sebagai sumber tenaga wahana ruang angkasa di tahun 1960-an, mereka mengembangkan sel bahan bakar mini yang mampu menghasilkan energi listrik melalui reaksi antara hidrogen dan oksigen.

Dengan baterai-baterai sel bahan bakar tersebut, kegiatan recharging bisa dihilangkan karena sel-sel itu cukup diisi bahan bakar tambahan (refuiling), bila tenaganya menipis.

Dikatakan Tetsuya Mizoguchi, presiden Toshiba Corp, perusahaannya tengah mencoba menciptakan baterai sel bahan bakar yang mampu mengubah methanol menjadi tenaga listrik secara langsung. Baterai itu diharapkan akan tersedia untuk masyarakat dalam waktu dua tahun ke depan.

Hal serupa juga dilakukan oleh produsen ponsel terbesar di Jepang, NEC Corp, yang bersama dengan dua badan riset pemerintah sedang mengembangkan baterai berbahan bakar methanol dan memakai nanoteknologi. Menurut NEC, kapasitas energi hasil penemuan itu 10 kali akan lebih besar daripada baterai lithium biasa, sehingga memungkinkan seseorang menggunakan ponselnya sebulan penuh, atau memakai laptopnya seharian tanpa harus di-charge.

Mengenai pasar baterai tersebut, Yoshimi Kubo, senior manager di NEC Laboratories memperkirakan ponsel generasi ke-tiga (3G) akan memenjadi salah satu piranti yang paling cepat mengadopsi teknologi baterai sel bahan bakar. Seperti diketahui, dengan kemampuan yang dimilikinya, ponsel 3G memerlukan tenaga yang tidak sedikit, dan hal itu menjadi masalah karena dengan baterai standar saat ini pengguna ponsel 3G hanya bisa berbicara selama 100 menit atau melakukan video-conferencing selama 70 menit.

"Saya yakin industri telekomunikasi membutuhkan baterai yang dapat diandalkan karena ponsel 3G saat ini tidak mempunyai tenaga cukup. Mereka, cepat atau lambat, akan membutuhkan baterai ber-sel bahan bakar," ujar Kubo yang berencana memasarkan baterai bahan bakar NEC pada tahun 2005.

Di lain pihak, Sony Corp, salah satu raksasa elektronik dunia, juga tidak mau ketinggalan dengan ikut mengembangkan baterai ber-sel bahan bakar yang menggunakan molekul-molekul karbon, sehingga memungkinkannya berfungsi pada suhu ekstrim.

Salah satu keunggulan lain dari baterai ber-sel bahan bakar, menurut Kubo, adalah bentuknya yang dapat disesuaikan karena ia menggunakan bahan bakar cair. Karena fleksibilitasnya, maka para peneliti memperkirakan mereka tidak akan kesulitan memasang baterai tersebut pada piranti-piranti elektronik.

Sementara mengenai biaya pemakaiannya, methanol yang tidak terlalu mahal diperkirakan dapat menyaingi biaya yang dikeluarkan pada penggunaan baterai lithium. Hal itu masih ditambah keuntungan dalam hal waktu karena pengisian sel bahan bakar akan jauh lebih singkat daripada waktu recharge baterai lithium.

Sampai saat ini semua perusahaan itu pada prinsipnya hanya menghadapi masalah ukuran. Mereka sedang mencari jalan agar baterai-baterai sel bahan bakar yang mereka kembangkan bisa mencapai ukuran sekecil mungkin.

 
Halaman 582 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook