Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Pembangunan PLTA Cirata Ada Kerjasama Internasional

Anda tahu PLTA Cirata?

Well terus terang, saya tidak tahu. Kalau dari namanya Cirata, saya tahu pasti daerah yang terletak di Jawa Barat, karena Ci itu kan airnya Air, dan rata? masak sih dataran? …. Kalau seandainya Gen tidak memberitahukan tentang Picture Book ini, saya tidak akan tahu tentang PLTA Cirata. Saya cuma tahu waduk Jatiluhur. Dan yang membuat saya malu, saya tahu tentang negara kita ini melalui orang asing dalam hal ini orang Jepang.

Picture book ini berjudul “Para Ayah pembuat waduk —- sampai selesainya pembangunan PLTA Cirata berkat kerjasama Internasional”. Pengarangnya Kako Satoshi. Tentang pengarang ini memang sudah sejak lama Gen menyarankan saya menulis tentang dia, karena hasil karyanya sudah terkenal sejak dulu terutama yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Dan dia menyampaikan sesuatu ilmu yang sulit dengan gambar sehingga menjadi mudah dna menarik.

Di sampulnya tertulis begini,” Buku ini dibuat untuk menceritakan kegiatan para ayah yang berasal dari Indonesia, Jepang, Australia, Perancis dan Jerman waktu membuat waduk besar di tempat yang bernama Cirata”. Pembangunan dimulai bulan Desember 1983, dan selesai September 1988. Sebanyak 5000 orang bekerja dan diantaranya 300 orang Jepang, sehingga kalau dilihat dari besar dan banyaknya tenaga kerja yang dipakai bisa disebut sebagai pembuatan Piramid modern.

Dalam buku ditampilkan tokoh Ayahnya Wawam, yang harus bekerja di situs pembuatan waduk. Kemudian kita bisa melihat tempat yang dimaksud. Gambarnya begitu detil, dipenuhi dengan keterangan yang diperlukan, juga nama-nama binatang yang ada. Sementara cerita berlanjut mengenai diadakannya rapat/pertemuan untuk membicarakan pembangunan waduk itu. Kemudian mulai diadakan pengiriman barang dari luar negeri melalui pelabuhan laut dan udara.

Dari pelabuhan, barang-barang tersebut dibawa ke situs tempat pembuatan dam, dan dimulailah pembangunan prasarana jalan, juga “Camp” tempat para ayah itu menginap selama waduk dikerjakan, pembangunan waduk pun dimulai. Wahhh sebanayak 47 halaman penuh dnegan gambar mendetil proses pembuatan waduk sampai pada upacara peresmiannya. Seandainya proses pembuatan waduk itu hanya dituliskan dalam bentuk tulisan, saya yakin anak-anak tidak akan bisa mengerti. Tapi karena dapat melihata gambar yang detil tersebut, saya yakin anak-anak bahkan bisa menghapal dna bisa menjelaskana proses pembuataan waduk dengan jauh lebih berurutan daripada orang dewasa. Waktu Riku dibacakan buku inipun, dia sudah banyak bertanya-tanya, kenapa harus begini kenapa begitu. Air yang di sungai bagaimana lalu bagaimana isi air ke dalam waduk…. ditanya oleh anak usia 5 tahun …. Dan saya yakin itu karena dia bisa mengerti melalui gambar.

Kako Satoshi sendiri menuliskan dalam ending buku ini bahwa dia pernah membuat buku dnegan tema waduk Jepang pada tahun 1959, namu buku itu kemudian 絶版 zeppan (tidak dicetak lagi) akibat perubahan ekonomi dan masyarakat. Karena itu dia merasa ada kesempatan bagus membuat buku mengenai waduk yang dikerjakan dnegan kerjasama luar negeri. Dan berkat bantuan dari banyak pihak, Buku itu bisa terbit setelah hampir 30 tahun.

Keterangan buku :trackback from your own site.

About The Author

imelda
I am just an ordinary woman, who live in Tokyo with my husband and two sons. I am a lecturer, translator, and a narrator as well. I like reading, photography, philately, blogging, singing, cooking etc

Comments

 

~ Pasokan Listrik Jawa Bali Aman Selama Ramadhan

Debit Air Turun, Pasokan Listrik Jawa-Bali Selama Ramadhan Aman

surabaya.net| Meski debit air di Bendungan Sutami turun, pasokan listrik Jawa-Bali selama Ramadhan dijamin aman. Demikian seperti dilaporkan FARAH FADILLAH dari Radio Citra Malang FM dalam Jaring Suara Surabaya, Sabtu (22/08).

VONI C. SETYAWATI Sekretaris Perusahaan Umum Jasa Tirta I mengatakan selama kemarau debit air permukaan PLTA di Bendungan Sutami mengalami penurunan. Berdasarkan pemantauan elevasi di Bendugan Sutami tercatat selama kemarau sebulan ini turun dari 271,42 meter.

Penurunan ini terjadi karena air yang masuk dari Sungai Brantas hanya 43,69 meter3 /detik dari yang diharapkan sebanyak 44,83 meter3 /detik. Meskipun turun, VONI mengatakan pihaknya menyatakan kondisinya masih aman karena elevasi air di waduk / bendungan tahunan lainnya masih diatas pola.

Sedangkan berdasarkan data pantauan elevasi di bendungan lain seperti di Bendungan Selorejo, Bendungan Bening, dan Bendungan Wonorejo masih di atas standar.

Selain memasok listrik untuk wilayah Jawa-Bali, beberapa bendungan itu juga berfungsi sebagai pengendali banjir, penyediaan air baku, irigasi, pariwisata, dan pengendali debit Sungai Brantas.(far/tok)

Bendungan Sutami

 

~ Potensi Tenaga Pasang Surut Sebagai Alternatif

POTENSI TENAGA PASANG SURUT SEBAGAI ALTERNATIF PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK MENGGUNAKAN MODEL WADUK PEN 
Kandungan pasir jenis silika dan kwarsa di waduk Bakaru, disinyalir menjadi penyebab utama kerusakan turbin PLTA Bakaru. Saat ini PLTA Bakaru sementara menjalani perbaikan.

Tingginya kandungan pasir jenis silika dan kwarsa di waduk penampung air PLTA Bakaru, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) dianggap sebagai penyebab rusaknya turbin pembangkit daya unit I di PLTA tersebut.

Manejer PT PLN Persero Sektor Bakaru, Joko Sularno mengatakan di Parepare, Sulsel, Kamis (19/2), seperti diberitakan Kantor Berita Antara menyebutkan,  pihaknya terpaksa melakukan perbaikan karena pasir itu menyebabkan kerusakan di beberapa bagian turbin penghasil daya 63 Mega Watt (MW) itu.
   
"Perbaikan ini meyebabkan pemadaman bergilir di Sulsel selama 60 hari hingga April mendatang," katanya.
   
Ia menjelaskan, akibat air berkandungan pasir itu, sejumlah elemen turbin, antara lain "runner" (kincir air), "guide fan" (pengatur jumlah air yang masuk ke turbin) dan "wearing ring" (baja pelindung runner) mengalami abrasi atau pengikisan.
   
Dijelaskannnya, selama masa perbaikan PLTA Bakaru, PLN akan melakukan dua upaya penting agar ketersediaan listrik tetap terpenuhi, yakni penggantian suku cadang turbin dan pengerukan waduk.
   
Untuk pengadaan suku cadang sendiri, PLN telah menganggarkan dana sekitar Rp10 miliar belum termasuk biaya jasa teknis.
   
"Peralatan sudah diidatangkan sejak 2007, karena proses pemeliharaan sebenarnya dijadwalkan Oktober tahun itu. Namun karena beberapa pertimbangan, perbaikan itu akhirnya ditunda sehingga baru dilaksanakan sekarang," katanya.
   
Lebih lanjut Joko Sularno mengatakan, sedimentasi di waduk penampungan PLTA Bakaru dalam kondisi mengkhawatirkan.
   
Menurut hasil penelitian Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar pada tahun 1991, laju sedimen atau bertambahnya ketebalan lumpur hanya 133 ribu meter kubik per tahun.
   
Namun semenjak 2005, laju sedimen meningkat menjadi rata-rata 700 ribu meter kubik pertahun, sehingga saat ini volume lumpur di waduk mencapai 6,9 juta meter kubik.
   
Ketebalan lumpur itu menyebabkan berkurangnya ketinggian volume air dari 3,5 meter menjadi hanya sekitar 1-1,5 meter saat ini.
   
Untuk itu, katanya, PLN terpaksa melakukan pengerukan lumpur sejumlah 1.500 meter kubik per hari sehingga diharapkan pada saat proses pemeliharaan selesai di bulan April, 45 ribu meter kubik lumpur dapat diangkat.
   
Jono menjelaskan, meningkatnya volume lumpur tersebut akibat berubahnya pola pengelolaan lahan di daerah tangkapan hujan PLTA Bakaru.
   
Daerah tangkapan hujan tersebut, antara lain meliputi Kota Mamasa di Propinsi Sulawesi Barat serta Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Pinrang di Sulsel.
   
"Pemekaran wilayah kota Polewali Mamasa juga menyebabkan perubahan lingkungan. Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan perusakan lingkungan agar pasokan air kita tetap lancar," katanya.(rex)

Laporan: Muhammad Irham.PINRANG, TRIBUN

pltabakaru.page.tlBENDUNGAN BAKARU

Februari 2009

 

~ Proyek Bendungan jatigede Sumedang Tertunda

Waduk Jatigede Merupakan Pengulangan Sejarah Kegagalan

Proyek Bendungan Jatigede berlokasi di Jawa Barat tepatnya di daerah Sumedang dan telah tertunda selama 44 tahun dari perencanaannya pada tahun 1963. Pembangunan proyek ini akan menenggelamkan 5 kecamatan dan 30 desa, menggusur sebanyak 70.000 jiwa penduduknya, menenggelamkan areal seluas 6.783 ha dengan 1200 ha hutan milik Perhutani, dan puluhan situs sejarah ikut tersapu.

Dengan hilangnya 3.200 ha, lahan subur yang termasuk di dalamnya adalah pertanian Sumedang yang akan kehilangan 80.000 ton padi per tahun. Selain itu, bahaya proyek ini disebabkan letak pembangunannya di atas daerah rawan gempa dengan adanya struktur patahan yang telah menyebabkan gempa pada tahun 1912 dan 1990 akibat pergeseran zona sesar dalam. Harus dijadikan pertimbangan pula fakta bahwa kondisi DAS Cimanuk yang akan dibendung telah mengalami kerusakan sebesar 47%.

Bendungan di Dunia

Proyek Jatigede akan menambah satu terhadap 4500 bendungan yang telah tersebar di seluruh dunia, dengan puncak pembangunan besar-besaran terjadi pada tahun 1980 dan menurun drastis setelah tahun 1990. Hal ini terjadi karena bendungan mulai terlihat bukan merupakan solusi, melainkan penundaan masalah dengan resiko yang jauh lebih besar, bendungan bukan solusi.

Pembahasan permasalah bendungan di seluruh dunia banyak merujuk kepada WCD (World Comission on Dam) sebagai komisi dunia yang meneliti bendungan. Hasil evaluasi dam dengan pengambilan sampel di seluruh dunia menunjukkan fakta sebagai berikut:

-          Hanya 50% (n=99) bendungan sampel di seluruh dunia yang selesai tepat waktu,

-          Hal tersebut tentu saja berhubungan erat dengan membengkaknya anggaran proyek hingga mencapai 56% (n=80) melebihi anggaran awal

-          Bendungan dengan tujuan irigasi sebanyak 50% (n=52) tidak mampu memenuhi target jangkauan irigasinya

-          Bendungan dengan tujuan PLTA sebanyak 54 % proyek tidak menghasilkan output yang ditargetkan

-          Bendungan dengan tujuan sebagai penyimpan air sebanyak 70% gagal memenuhi suplai air yang ditargetkan. Bahkan ditemukan bahwa semakin kecil area reservoir semakin tinggi tingkat keberhasilannya untuk memenuhi target penyuplaian air. Hal ini menunjukkan bendungan untuk tujuan ini seringkali dibangun berlebihan dan mubazir.

-          60% mitigasi yang dilakukan untuk menanggulangi dampak dam tidak berhasil sehingga kerusakan terus berlangsung.

-          Jumlah masyarakat yang dipindahkan selalalu lebih besar dari yang diperkirakan bahkan mencapai 44% lebih banyak. Dan dari jumlah yang akan dipindahkan sebanyak 1% harus pindah dengan biaya sendiri karna tidak mendapatkan biaya translokasi.

-          Sebanyak 70% pembuatan kesepakatan-kesepakatan menyangkut kehidupan penduduk lokal tidak melibatkan penduduk lokal tersebut.

-          Pembangunan bendungan multipurpose (seperti bendungan Jatigede) umumnya terlambat selesai dan memakan biaya yang jauh lebih besar dari anggaran awal dibandingkan pembangunan bendungan single purpose.

Selain hasil penelitian WCD, IRN (Internatioal Rivers Network) juga meneliti mengenai kontribusi dam dalam pemanasan global. Pembangunan bendungan-bendungan pembangkit listrik di Amazon menyebabkan pelepasan gas rumah kaca berupa methan dan karbondioksida dengan implikasi hingga 45 kali lipat dibandingkan pelepasan akibat pembangkit listrik menggunakan gas alam. Hal ini terjadi karena pembanjiran kawasan dengan seluruh bahan organik seperti, hutan, kebun, bangunan kayu, tanaman dan lain sebagainya menyebabkan pembusukan berlangsung secara anaerob dan menghasilkan gas methan dan karbondioksida dalam jumlah yang besar. Ketika turbin pembangkit listrik berputar dan mengaduk sebagian air, gas tersebut akan terlepas ke udara dan menghasilkan efek rumah kaca.

Bendungan di Indonesia

Sejarah perkembangan bendungan di Indonesia tidak terdata dengan baik atau setidaknya informasinya tidak dapat diakses dengan mudah. Evaluasi performa bendungan selama ini tidak pernah dilakukan sehingga sulit melihat apakah bendungan di Indonesia berhasil memenuhi tujuan pembuatannya. Tetapi sebagai gambaran hasil evaluasi WCD dan IRN dapat kita jadikan gambaran acuan permasalahan bendungan.

Salah satu cerita besar masalah yang menyertai pembangunan bendungan terjadi di Bendungan Kedungombo yang dibiayai oleh World Bank. Para penduduk lokal yang dipindahkan dari tanahnya harus mengalami perubahan dramatis dari kondisi mampu bertahan hidup dengan tanah garapannya yang subur ke tanah yang sama sekali tidak dapat ditanami. Salah satu solusi yang dikeluarkan adalah memperbolehkan penduduk kembali ke bendungan dan memelihara ikan dalam karamaba. Bendungan sebagai ekosistem perairan yang tertutup memungkinkan penyakit tersebar dengan cepat dan mengalami perbanyakan dalam waktu yang singkat.

Hal ini terjadi di Kedungombo dan menyebabkan petani tidak dapat memlihara ikan. Sampai saat ini, sudah 4 tahun berlalu dan tidak ada yang dapat dilakukan. Bayangkan selama 4 tahun petani tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Sudah selama itu pula generasi sekolah di sana tidak dapat meneruskan pendidikannya. Masalah bendungan terus berlanjut dan meluas, dan gambaran nyata bahwa bendungan dapat menyebabkan masalah sosial sebesar hilangnya satu generasi berpotensi.

Pemerintah harus memperhatikan semua fakta sejarah bendungan dengan serius dan memperhitungkan apakah memang bendungan solusinya. Bila solusi atas kekeringan, kebnjiran, suplai air irigasi, dan tenaga listrik yang dicari maka pemerintah harus membuka alternatif solusi selain bendungan yang telah terbukti tidak efektif sebagai jawaban.

Deretan daftar buruknya performa bendungan tersebut hanya sebagian. Tetapi, seharusnya cukup untuk membuat kita mempertanyakan efektivitas dan efisiensi bendungan sebagai jawaban. Bila cara yang sama telah dilakukan ribuan kali dan masih juga tidak efisien di seluruh dunia, apa alasan proyek Jatigede akan menjadi berbeda
 

~ Penurunan Debit Air Saguling

Debit Air Waduk Saguling Menyusut


Air Waduk Saguling yang menyusut.

Musim kemarau yang berkepanjangan telah mengakibatkan menurunnya debit air di sejumlah waduk di beberapa daerah di Tanah Air. Di Waduk Saguling, Bandung, Jawa Barat, misalnya. Debit air di bendungan yang menyangga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling ini terus menurun. Kondisi yang telah berlangsung dalam dua bulan terakhir itu dikhawatirkan akan mempengaruhi operasional mesin pembangkit. Demikian pemantauan SCTV, baru-baru ini.


Menurut General Manajer Unit Bisnis Pembangkitan PLTA Saguling Anton Katili, saat ini pasokan air ke Waduk Saguling hanya delapan meter kubik per detik. Padahal, pada musim hujan pasokan mencapai 200 meter kubik per detik. Selain itu, ketinggian permukaan air saat ini juga terus menurun yakni mencapai 626,6 meter dari sebelumnya 643 meter. Padahal, batas minimal permukaan air 623 meter.

Kendati begitu, Anton menegaskan, kondisi ini tak mengganggu pasokan listrik terhadap konsumen di Pulau Jawa dan Bali. Saat ini, PLTA Saguling masih mampu memasok listrik kedua pulau tersebut dengan kapasitas sebesar 700 megawatt.

Penurunan debit air ini juga dialami Waduk Sermo di Kulonprogo, Yogyakarta. Penurunan debit air yang terjadi sejak dua bulan terakhir ini 2-4 meter. Biasanya, ketinggian air di waduk ini sekitar 7-10 meter
[baca: ].(ORS/Patria Hidayat)
Liputan6.Bandung:
 
Halaman 565 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook