Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Peristiwa Longsornya TPA Leuwigajah

PLTSA = BENCANA

Peristiwa longsornya TPA Leuwigajah yang mengakibatkan tewasnya 156 warga di sekitar TPA pada tanggal 21 Pebruari 2005, menjadi catatan sejarah buruk bagi masyarakat Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi. Hujan deras yang mengguyur selama 3 hari berturut-turut, menyebabkan timbunan sampah Sekitar 2,7 juta meter kubik longsor menutupi wilayah permukiman penduduk.
Seminggu setelah kejadian ini, sampah ditiga wilayah, terutama Kota Bandung dan Kota Cimahi tidak terangkut karena tidak ada tempat untuk membuang. Kota yang mendapat julukan kota kembang ini berubah menjadi kota sampah. Sampah menumpuk ditempat TPS (Tempat Pembuangan Sementara) dan dipinggir-pinggir jalan.
Pemkot Bandung dan Cimahi menjadi panik, karena kesulitan mencari tempat pembuangan sampah. Kepanikan ini sangat beralasan karena Kota Bandung akan menyelenggarakan hajat internasional dalam rangka memperingati Konfrensi Asia – Afrika. Peristiwa ini menjadi sangat luar biasa, dimana pemerintah Kota Bandung menerapkan DARURAT SAMPAH. Sesuatu yang tak lajim, karena istilah darurat bisasanya dikenakan kepada peristiwa yang luar biasa, seperti Bencana Alam dan Peperangan.

Kelalaian dalam pengelolaan yang menjadikan sampah menjadi bencana
Bencana ini merupakan bencana beruntun yang dialami Indonesia. Menurut Andre Vltchek seorang jurnalis Amerika, bencana yang banyak terjadi di Indonesia tidak hanya faktor alam semata seperti Gunung Merapi, Tsunami, tapi juga faktor yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. Benar apa yang dikatakan Mahatma Gandhi bahwa Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun ia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan segelintir orang yang tamak. TPA Leuwigajah merupakan salah satu bencana yang disebabkan kelalaian, ketamakan manusia.

Kasus longsornya TPA Leuwigajah bukan yang pertama kali. TPA Leuwigajah sebelumnya telah terjadi longsor pada tahun 1992, namun tidak menimbulkan banyak korban seperti tahun 2005. Tanda-tanda gagalnya sistem yang ada di TPA sudah terlihat dengan tidak berfungsinya TPA lain yang ada di Kota Bandung seperti TPA Cicabe dan Jelekong karena telah habis masa pakainya, sementara TPA Sarimukti berada lebih jauh dari TPA Leuwigajah. Maka sampah yang ada di Kota Bandung dibuang ke TPA Leuwigajah dan dijadikan TPA Pusat oleh tiga wilayah (Kota Bandung , Kab Bandung, dan Kota Cimahi).

Peristiwa longsor TPA Leuwigajah tidak akan menjadi mimpi buruk dan mencoreng Bandung sebagai kota Sampah jika penanganan sampah dikontrol dengan baik. Sampah setiap hari datang ke TPA Leuwigajah lebih dari 4.000 ton. Sampah ini datang dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung serta Kota Cimahi. Sampah Kota Bandung rata-rata antara 6.500 sampai 7.500 m3/hari. Sampah dari permukiman merupakan penyumbang terbesar yaitu sekira 3.028 m3, disusul sampah pasar 459 m3, industri 366 m3, jalan 295 m3, fasilitas umum 184 m3, dan usaha/komersial 168 m3. Tidak terbayangkan begitu banyaknya sampah yang menumpuk dalam satu bulan di TPA Leuwigajah .

Peristiwa ini kembali berulang, pasca longsornya TPA SARIMUKTI yang dijadikan TPA Sementara oleh Pemkot Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung. Timbunan sampah kembali menjadi pemandangan yang dapat terlihat ditiap-tiap TPS, pinggiran jalan dan lahan-lahan kosong dipinggiran kota. Kondisi ini semakin memperburuk citra kota Bandung yang mengatakan dirinya sebagai kota BERMARTABAT (Bersih Makmur, Jujur, Taat dan Bersahabat. Paska longsor TPA Leuwigajah, Bandung dinyatakan sebagai kota DARURAT SAMPAH,padahal sebelumnya istilah ini tidak dikenal kecuali dalam keadaan bencana dan peperangan. Kemudian istilah barupun mencul kembali, Walikota Bandung menawarkan referendum kepada masyarakat dalam hal pembuatan listrik tenaga sampah (PLTSa) yang juga menuai pro dan kontra. Pernyataan ini juga menjadi bahan tertawaan. Hal ini juga seuatu yang tidak lajim. Persoalan sampah, sungguh menjadi fenomena yang luar biasa. Pemerintah Kota merasa yakin dengan PLSa sebagai jalan terbaik sebagai solusi dalam penanganan sampah di kota Bandung. Benarkah?

PLTSa Berkah atau Masalah
Keyakinan itu tentu saja bukan tanpa dasar. Pejabat Pemkot telah beberapa kali mengadakan studi Banding, kes Singapura dan China. Dimana kedua negara itu telah menjadikan sampah menjadi komoditi.Pertanyaan kita, apakah sama sampah di kedua kota tersebut?. Apakah sudah dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan sosial masyarakat?. Pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur oleh pemerintah. Karena cara yang dilakukan adalah dengan membakar sampah agar mendapatkan energi menjadi listrik.
PLTSa yang sekarang sedang hangat dibicarakan memakai teknologi Incinerator dari China dengan cara membakar seluruh sampah yang ada tanpa dipilah-pilah terlebih dahulu. PLTSa akan membakar sampah pada suhu 800 – 9500C tanpa menambah bahan bakar selama proses pembakaran. Bahan bakar hanya dibutuhkan di awal pembakaran saja. Panas hasil pembakaran dirubah menjadi energi Listrik melalui uap air. Dari sampah kota Bandung sebanyak 500 Ton akan dihasilkan listrik antara 6 – 9 MW. Karena pendapatan dari listrik hanya sedikit, nantinya setiap ton sampah yang masuk ke pabrik akan ditimbang dan dikenakan biaya pengolahan (Tipping Fee).

Kalau begitu kenapa PLTSa bukan solusi masalah sampah kota Bandung ?
1. Membakar sampah itu bisa dibilang suatu perbuatan yang amat terkutuk. Dampaknya terhadap lingkungan jauh lebih buruk ketimbang menumpuknya sampai busuk. Proses pembakaran sampah membentuk senyawa yang sebelumnya tidak ada di sampah itu sendiri, misalnya dioxins dan furan disamping senyawa lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia seperti particle pollution, polycyclic aromatic hydrocarbons, volatile organic compounds, carbon monoxide, hexachlorobenzene, ash (botom- and fly-ash).

Pembakaran TIDAK melenyapkan zat-zat berbahaya, misalnya logam berat (mercury, cadmium, timbal, dll) -- ingat hukum kekekalan massa. Justru logam berat ini menjadi terkonsentrasi didalam abu (ash) yang jatuh kebawah sebagai bottom-ash, dan yang beterbangan kemana-mana sebagai fly-ash. Banyak yang mengatakan abu ini bisa digunakan sebagai pupuk atau batubata. Ini omong-kosong, kecuali kita tidak peduli lagi dengan kesehatan badan kita sendiri. Menurut Peraturan Pemerintah No. 85tahun 1999, Tentang Pengolahan Limbah. Abu dan debu hasil pembakaran merupakan B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), walau sampah yang belum dibakarnya sendiri bukan katagori B3.

2. Dioxins diklasifikasikan sebagai polutan yang "persistent, bioaccumulative, and toxic" atau PBT [Persistent berarti tidak mudah hilang atau terurai di alam; Bioaccumulative berarti konsentrasinya meningkat sesuai dengan tingkatannya di rantai-makanan (manusia berada paling atas); Toxic artinya beracun bagi manusia/hewan]. Dioxins adalah nama kolektip dari beberapa senyawa beracun. Yang paling beracun [dan paling banyak dijadikan objek studi] adalah TCDD (nama ilmiahnya: 2,3,7,8 tetrachlorodibenzo-p-dioxin). TCDD ini adalah senyawa paling beracun yang pernah dibuat (tanpa sengaja) oleh manusia -- di dunia ini hanya kalah oleh racun radiasi nuklir. Walaupun sampah dibakar diatas suhu 8000C, fakta membuktikan bahwa incinerator tetap menghasilkan dioxin dalam prosesnya.

Beberapa literatur menyebutkan dioksin terbentuk pada waktu gas hasil pembakaran mengalami quenching (cooling down) pasca pembakaran.
3. Asupan dioxins terutama melalui makanan (racun di udara terbawa hujan jatuh di tanaman, lalu dimakan ternak, kemudian dagingnya dimakan orang), tentu saja ada yang langsung dihirup oleh mereka yang berada dalam radius beberapa puluh atau beberapa ratus kilometer (tergantung arah angin) dari incinerator. Bandung yang terletak di daerah cekungan akan memerangkap gas-gas beracun yang dihasilkan PLTSa sehingga makin terkonsentrasi di daerah cekungan Bandung.
4. Jumlah abu yang dihasilkan dari PLTSa sebesar 20% dari berat sampah yang dibakar, atau 100 Ton perhari. Jadi masih tetap dibutuhkan TPA khusus B3 untuk menyimpan abu dan debu ini.
5. Salah besar apabila dikatakan bahwa sampah kita aman karena kandungan terbesar adalah sampah organik. Walaupun non organik hanya 20 s.d. 40%, fakta di TPA ada lapak-lapak khusus yang menampung batere-batere bekas, besi, aluminium, plastik dll. Artinya logam-logam berat mempunyai berat dan volume yang banyak sehingga bisa dikumpulkan untuk dijual.
6. Peralatan pengendali pencemaran udara hanya berfungsi memindahkan polutan-polutan dari udara kedalam abu/debu, menghasilkan suatu limbah yang berbahaya dan memerlukan penanganan lanjut yang mahal biayanya.

7. Proses PLTSa membutuhkan banyak air. Untuk pembangkit listrik tenaga uap, pengolahan limbah, dan operasional lain. Akan terjadi rebutan air dengan masyarakat sekitar (yang dalam rencana tata ruang sebenarnya adalah daerah perumahan).
8. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mengoperasikan PLTSa sangat sedikit, kurang dari 50 orang (ITB menyebut angka 30 orang). Dengan adanya PLTSa akan banyak tenaga informal yang tadinya bekerja sebagai pemulung di TPA kehilangan mata pencahariannya. Mereka akan pindah mencari barang bekas langsung kesumbernya (di perumahan).

9. Jika Dikelola dengan benar PLTSa membutuhkan biaya tinggi, baik untuk investasi awal maupun untuk operasional. Biaya-biaya ini akan dibebankan kepada masyarakat baik berupa kenaikan retribusi sampah,.maupun melalui bantuan APBD. Masih lemahnya penegakan hukum dikhawatirkan menjadi peluang tersendiri untuk menekan biaya operasional dengan mengorbankan biaya pengelolaan limbah pabrik.
10. PLTSa tidak mendidik masyarakat menjadi lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Dengan adanya PLTSa masyarakat mampu akan merasa cukup membayar retribusi yang dibebankan tanpa mau tahu akan diproses seperti apa sampah dia. Sedangkan masyarakat menengah kebawah akan segan membuang sampah melalui PD Kebersihan karena tarifnya yang mahal. Boleh jadi masyarakat akan membuang sampah dimana saja atau malahan membakar sendiri sampahnya.
11. Jumlah energi yang dihasilkan tidak sebanding dengan energi yang dibutuhkan untuk operasional pabrik + pembuatan barang baru yang dihancurkan/dibakar; dibandingkan dengan energi yang dibutuhkan kalau kita mendaur ulang barang-barang tersebut.

 

~ PLTSa Sebagai Solusi Masalah Sampah

PLTSa: Alternatif Solusi Masalah Sampah

PEMBANGKIT Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), "sanitary landfill, composting", atau 3R merupakan alternatif teknologi penanganan sampah yang keberhasilan implementasinya bergantung tidak hanya pada aspek keunggulan teknologi masing-masing tetapi juga ditentukan oleh aspek-aspek lainnya seperti aspek ekonomi, politik, sosial, dan legal.


Dibandingkan dengan teknologi lain, PLTSa mampu mereduksi volume sampah dengan kecepatan yang tinggi, yaitu 20,8 ton/jam pada PLTSa Bandung. Volume residu yang dihasilkan hanya 5% dari sampah semula, dan berpotensi untuk digunakan sebagai bahan bangunan. Umur teknis dari PLTSa dapat mencapai 25 tahun, tidak memerlukan lahan yang besar dan tidak perlu berpindah-pindah seperti halnya teknologi open dumping atau sanitary landfill yang harus berpindah tempat apabila lahannya telah penuh terisi sampah.

PLTSa memperoleh pendapatan dari hasil penjualan listrik, kompensasi pengolahan sampah, dan kompensasi CER (Certified Emission Reduction), sehingga dapat dikelola secara komersial oleh perusahaan swasta, dengan biaya investasi dari bank-bank komersial ("bankable"), sehingga tidak membebani anggaran pemerintah daerah.

Dukungan politik pemerintah dan lembaga legislatif kota terhadap jenis teknologi merupakan aspek penting lainnya. Pernyataan Wali Kota Bandung yang dikutip harian ini edisi Sabtu 2 Juni 2007:

".., kita tidak bisa lagi memakai sistem open dumping, sanitary landfill, ataupun menerapkan 3R.., jadi PLTSa merupakan solusi terbaik..", menyiratkan dukungan yang kuat terhadap PLTSa sekaligus menyatakan bahwa alternatif-alternatif teknologi lain sudah pernah dicoba tetapi belum berhasil mengatasi masalah sampah. Namun demikian, pemerintah kota dan investor harus berupaya agar kedua aspek lain yaitu aspek sosial berupa public acceptance dan aspek legal dapat dipenuhi agar PLTSa ini dapat terealisasi.

Adanya PLTSa tidak menutup kemungkinan penerapan alternatif teknologi lain, malah akan merupakan solusi yang saling melengkapi. Dukungan politik terhadap teknologi lain dapat diperoleh apabila aspek ekonomi, public acceptance, dan aspek legal secara menyakinkan mengungguli PLTSa sehingga dapat mengubah pandangan pengambil keputusan politik.

PLTSa di negara lain

PLTSa yang merupakan terjemahan untuk Waste to Energi (WTE), merupakan teknologi yang berkembang setelah tahun 1990-an dan merupakan penyempurnaan dari teknologi incinerator biasa dengan menambahkan sistem kendali pembakaran, pengolahan emisi dan efluen, dan sistem pengamatan emisi secara kontinu. Informasi meluasnya penggunaan PLTSa, salah satunya disampaikan oleh Nickolas J. Themelis, Direktur Waste to Energi Research and Technology Council, University of Columbia, USA.

Dalam laporannya tahun 2006 (www.columbia.edu/cu/wtert) beliau menyebutkan bahwa saat ini tidak kurang dari 143 juta m3 sampah per tahun dimusnahkan di PLTSa. Eropa merupakan pengguna PLTSa terbesar diikuti dengan Jepang dan Amerika. Pada tahun 2006, Cina memiliki 20 PLTSa, dan akan terus meningkat karena ditargetkan 30% dari total sampahnya yang saat ini mencapai 200 juta ton per tahun akan dimusnahkan di PLTSa.

Di Belanda, sebelum tahun 1987 insinerator merupakan penghasilkan dioxin cukup tinggi, namun setelah dilengkapi dengan sistem pengolahan gas buang, tingkat pencemaran menurun tajam, dan saat ini 11 PLTSa tetap digunakan di Belanda (. Di Amerika pada tahun 1987 emisi dioxin dari seluruh incinerator di Amerika mencapai 11.478 gram pertahun. Namun, dengan melengkapi pabrik-pabrik tersebut dengan pengolah gas buang, emisi dioxin pada tahun 2004 menurun hingga 37 gram per tahun. Nilai ini lebih kecil dari emisi pembakaran sampah yang dilakukan penduduk di belakang rumahnya (628 gram per tahun), pembakaran kayu di tungku pemanas dan di rumah tangga (62 gram per tahun) dan pembakaran batubara skala rumah tangga (60 gram per tahun) sources_trends/sources.html).

Penggunaan PLTSa di Asia Tenggara telah dilakukan oleh Singapura sejak tahun 1999. PLTSa Kajang, Kuala Lumpur akan selesai dibangun akhir tahun 2007. PLTSa ini dibangun dengan menggunakan komponen-komponen yang di buat di Medan dan Jakarta oleh perusahaan pemenang tender dari Indonesia.

Pencemaran dari PLTSa

Sejumlah polutan memang akan teremisi dari PLTSa, namun PLTSa dilengkapi dengan sistem pengolahan emisi dan efluen, sehingga polutan yang dikeluarkan berada di bawah baku mutu yang berlaku di Indonesia, dan tidak mencemari lingkungan.

Untuk kelestarian lingkungan sekitarnya, efluen hasil olahan PLTSa akan dialirkan ke IPAL Bojongsoang. Kelengkapan peralatan pengolahan efluen di PLTSa akan disesuaikan dengan kemampuan pengolahan efluen yang ada di IPAL Bojongsoang.

Kendali emisi polutan di PLTSa sudah dimulai sejak saat pembakarannya, proses dan suhu pembakaran dikendalikan secara otomatis dengan sistem kendali elektronik. Di PLTSa dikenal sistem kendali pembakaran SIGMA Combustion Control System, BASIC Pulse Air Combustion System dsb. Pada prinsipnya, sistem kendali otomatis ini mirip dengan sistem kendali pembakaran di kendaraan bermotor, yaitu akan mengendalikan laju udara dan laju bahan bakar (sampah dalam hal PLTSa) sehingga terjadi pembakaran sempurna pada suhu yang dikehendaki.

Sistem kendali pembakaran dan sistem pengolahan gas buang mampu mengeliminasi gas-gas asam, Volatile Organic Compound (VOC), partikel logam, debu dan Hazardous Air Pollutant (HAP). Pada saat memasuki sistem pengolahan gas buang, suhu gas sudah mencapai 200 derajat Celcius sehingga logam-logam berat kecuali merkuri sudah dalam bentuk padatan (partikel). Uap merkuri dan gas beracun lain (jika masih ada) akan diserap oleh partikel karbon aktif yang diinjeksi sebelum air bag filter.

Abu halus dengan ukuran lebih kecil dari bakteri (0,25 mikron), akan disaring mulai dari scrubber hingga air bag filter. Abu halus tersebut akan terlarut dalam air, melekat pada partikel kapur (CaO) atau karbon aktif sehingga membentuk partikel yang lebih besar dan dapat disaring di air bag filter. Air bag filter sendiri mampu menyaring partikel PM2,5 dan PM10 dengan efisiensi 99.90% (lihat EPA-FACT Sheet, EPA-425/F03-004). Abu yang terbawa gas buang ke cerobong, konsentrasinya akan di bawah nilai baku mutu emisi yang berlaku di Indonesia.

Seperti halnya PLTU, PLTSa dilengkapi dengan sistem pengolahan air ketel, baik untuk air tambahan maupun untuk air ketel yang sedang bersirkulasi. Jenis kelengkapan sistem pengolahan air ketel ini dapat disesuai dengan kondisi air mentahnya (raw water). PLTSa Bandung rencananya akan menggunakan air olahan IPAL Bojongsoang untuk air pendingin kondensor dan apabila memungkinkan untuk air ketelnya juga.

Residu lainnya yang keluar dari PLTSa adalah abu bawah (bottom ash) dan abu terbang (fly ash). Menurut PP 18/1999 Lampiran I, D-241 abu ini dikategorikan sebagai limbah B3, namun hasil-hasil studi dan pengujian untuk pemanfaatan abu PLTSa sudah banyak dilakukan di negara-negara lain. Kuan-Yeow Show dkk. dari NTU Singapura dalam makalahnya yang dimuat di Jurnal of Material in Civil Engineering, American Society of Civil Engineers, Vol. 15, pp 335 - 343, 2003, menyebutkan bahwa abu terbang dari PLTSa di Singapura sangat baik untuk stabilisasi tanah lunak.

Berdasarkan penelitian ini dan pengujian-pengujian lain tentunya, abu dari 4 PLTSa di Singapura saat ini digunakan untuk membuat pulau (Semakau Island). Kegiatan ini dimulai sejak tahun 1999, dan pada tahun 2029 Singapura akan memiliki sebuah pulau baru seluas 350 Ha. Sampai saat ini tidak ada laporan mengenai pencemaran di perairan Singapura atau Riau.

Untuk PLTSa Bandung, pemanfatan abu bawah dan abu terbang baru dapat dilakukan setelah melalui pengujian-pengujian dan studi ilmiah sesuai dengan ketentuan. Selama pengujian belum dapat membuktikan bahwa abu-abu tersebut dapat dimanfaatkan dengan aman, abu-abu tersebut akan diperlakukan sesuai dengan ketentuan limbah B3.

Kurva pembakaran

Kurva pembakaran sampah di dalam tungku dan kondisi operasi lainnya dapat diprediksi dengan menggunakan bantuan perangkat lunak komersial. Vendor dari Cina menggunakan perangkat lunak Thermoflow. Masukan yang diperlukan bagi perangkat lunak ini adalah komposisi unsur sampah, nilai kalor sampah, dan asumsi-asumsi besaran ekonomi, sedangkan keluarannya berupa kondisi operasi, kurva pembakaran, balans material, dimensi utama, layout pabrik, dan bussiness plan. Perangkat lunak ini biasa dimiliki oleh perusahaan pembuat pembangkit listrik.
 
Tim FS ITB menggunakan kombinasi perangkat lunak Cycle Tempo dan Firecad, meskipun tidak secanggih Thermoflow, perangkat lunak ini dapat digunakan untuk memprediksi kurva pembakaran dan kondisi operasi PLTSa. Dari hasil simulasi, diketahui bahwa PLTSa Bandung bisa beroperasi normal dengan masukan sampah yang berfluktuasi antara 110% hingga 50% kapasitas. Sedangkan nilai kalor dapat bervariasi antara 800 kkal/kg sampai 2000 kkal/kg dengan kondisi perancangan pada 1200 kkal/kg. Untuk memenuhi kriteria nilai kalor tersebut, sampah Bandung akan dibiarkan mengering 3 sampai 5 hari dalam bungker bersirkulasi udara di dalam PLTSa.

Bandung memerlukan inovasi

Membangun PLTSa bukanlah tujuan. Tujuan yang utama adalah menyelesaikan masalah sampah Kota Bandung. Membangun ide-ide baru dan melakukan hal-hal nyata untuk mengurangi volume sampah lebih bermanfaat dari pada mereka-reka kelemahan teknologi yang ada. Wali kota, Dinas Kebersihan, dan seluruh masyarakat Kota Bandung tentunya akan gembira apabila di Bandung terdapat puluhan jenis teknologi pengolahan sampah sehingga tidak ada lagi sampah yang harus diangkut ke TPA (atau ke PLTSa).
Penulis, Ketua Tim FS ITB dan Kepala Pusat Rekayasa Industri ITB. Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap tulisan Gede H. Cahyana di "Pikiran Rakyat" 6 Juni 2004.
 
PLTSa: Alternatif Solusi Masalah Sampah
Oleh ARI DARMAWAN PASEK
 

~ Pembangunan Sampah Di Kota Bandung

Pembangunan PLTSa Gedebage Diharapkan Segera

Kebijakan pengelolaan sampah di Kota Bandung, tidak bisa dipisahkan dari upaya membangun lingkungan hidup yang baik dan berkualitas. Harapannya, siapapun yang menghuni dan beraktivitas di Bandung bisa merasakan kenyamanan yang paripurna, bebas dari gangguan sampah.
Persoalannya, Bandung kini tidak lagi memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk menampung sampah yang volumenya terus meningkat, mencapai lebih kurang 7.500 m3 atau 1.200 ton sampah/hari. Jika pun ada TPA Sarimukti di Cipatat Kabupaten Bandung Barat, sifatnya juga sementara. Kalau kemudian ditutup dan ditempat lain tidak diijinkan, musibah sampah di Kota Bandung di Tahun 2005, bakalan terulang kembali.

Pengalaman pahit masa lalu dan perjuangan sulitnya mencari lahan bakal TPA, serta komparasi jauh sampai ke negeri China, Singapura, Malaysia dan Belanda, menghasilkan pilihan, tekmologi west to energi (WtE) atau mengolah sampah jadi energi listrik dengan mendirikan Pembangkit Tenaga Listrik Sampah (PLTSa) yang lokasinya ditetapkan di kawasan Gedebage.
Kita tidak bisa lagi menangani sampah seperti kucing buang hajat. Simpan sampah kemudian ditimbun tanah. PLTSa harus dipahami beda, TPA berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah sedangkan PLTSa memusnahkan atau menghilangkan sampah. Pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, adalah PLTSa selain 3 R yaitu Reuse, Reduce dan Recycle, jelas Walikota Bandung, H Dada Rosada, Selasa (28/4)

Sudah menjadi tekad dan komitmen kita menyelesaikan persoalan sampah secara tuntas. Saya mentargetkan, seusai Pemilu 2009, segera akan memulai dengan membentuk tim khusus yang bertugas menindak lanjuti langkah langkah dan upaya persiapan yang telah dilakukan sebelumnya, ucap Dada.
Saat ini tambahnya, telah dibebaskan lahan lebih kurang 13 hektar. Meski fisik infrastruktur PLTSa membutuhkan 2 hektar, namun diharapkan 20 hektar. Sehingga PLTSa nantinya dibangun berada ditengah, dikelilingi ring pepohonan hutan kota yang berfungsi sebagai filter.

(zul)

Bandung, Pelita
 

~ Penanganan Sampah Perlu Keseriusan

Dada Rosada : Tidak Bisa Tangani Sampah Seperti Kucing Berak

 

Menangani sampah tidak bisa seperti kucing berak (buang hajat besar-red), yang dibuang kemudian ditimbun dengan tanah

Demikian dikatakan Walikota Bandung Dada Rosada pada saat rapat koordinasi seputar realisasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) beberapa waktu lalu.Menurut Dada, yang menjadi persoalan,
 
Kota Bandung kini tidak lagi memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk menampung sampah yang volumenya terus meningkat,  mencapai lebih kurang 7.500 m3 atau 1.200 ton sampah/hari. Jikapun ada TPA Sarimukti di Cipatat Kabupaten Bandung Barat, sifatnya juga sementara.
 
Kalau kemudian ditutup dan ditempat lain tidak diijinkan, musibah sampah di Kota Bandung di Tahun 2005, bakalan terulang kembali. Pengalaman pahit masa lalu dan perjuangan sulitnya mencari lahan bakal TPA, serta komparasi jauh sampai ke negeri China, Singapura, Malaysia dan Belanda, menghasilkan pilihan, teknologi 'Waste to energy' (W to E) atau mengolah sampah jadi energi listrik dengan mendirikan Pembangkit Tenaga Listrik Sampah (PLTSa) yang lokasinya ditetapkan di kawasan Gedebage.“Kita tidak bisa lagi menangani sampah seperti kucing berak. Simpan sampah kemudian ditimbun tanah," misal Dada. PLTSa, tambahnya, harus dipahami sebagai sesuatu yang berbeda dengan TPA.
 
Bila TPA berfungsi hanya sebagai tempat pembuangan sampah. Sedangkan PLTSa memusnahkan atau menghilangkan sampah dengan pengelolaan yang ramah lingkungan seperti pengelolaan sampah dengan cara 3 R yaitu Reuse, Reduce dan Recycle.Membangun PLTSa di Kota Bandung, ditandaskan Dada, sudah menjadi tekad dan komitmennya sebagai upaya untuk menyelesaikan persoalan sampah secara tuntas. Dirinya mentargetkan, seusai Pemilu 2009, segera akan memulai dengan membentuk tim khusus yang bertugas menindak lanjuti langkah langkah dan upaya persiapan yang telah dilakukan sebelumnya. “Saat ini kita telah membebaskan lahan lebih kurang 13 hektar.
 
Meski fisik infrastruktur PLTSa membutuhkan 2 hektar, tapi saya menginginkan 20 hektar,sehingga PLTSa nantinya dibangun berada ditengah, dikelilingi ring pepohonan hutan kota yang berfungsi sebagai filter,” ujarnya.  “Itu bukti konkret dewan setuju terhadap pembangunan PLTSa. Jadi tidak harus ragu dengan dukungan politik institusi dewan. Kalau soal perseorangan, saya tidak mengurus itu,” tandasnya.Netty warga Rancanumpang berpendapat, jika uji kelayakan dan semua persyaratan regulasi  sudah ada,  pembangunan PLTSa tidak bisa dibantah lagi.
 
Apalagi proyek ini, untuk kepentingan semua warga Bandung.  Halnya dengan Upep yang juga warga sekitar rencana lokasi, mendesak Pemkot Bandung segera mempercepat pembangunan PLTSa. Alasannya, pembangunan akses jalan SOR Gedebage yang kini sedang dikerjakan,realitanya sudah bisa dirasakan manfaatnya, tidak saja dirinya tapi juga warga Griya Cempaka Arum yang belum mau menerima pembangunan PLTSa. 

Kebijakan pengelolaan sampah di Kota Bandung, tidak bisa dipisahkan dari upaya membangun lingkungan hidup yang baik dan berkualitas. Harapannya, siapapun yang menghuni dan beraktifitas di Bandung bisa merasakan kenyamanan yang paripurna, bebas dari gangguan sampah.


Dari aspek normatif dan teknis, PLTSa Gedebage bisa dikatakan telah lolos berbagai tahap kajian, baik feasibility study (studi kelayakan) maupun kajian analisa masalah dampak lingkungan (Amdal). Bahkan Sugiarto dari tim teknis Institut Teknologi
Bandung (ITB) berpendapat, rencana pembangunan PLTSa harus sudah memulai langkah riil yang konkret.

Sugiarto setuju jika Pemkot segera melakukan lelang infrastruktur atau pelelangan administrasi, tanpa harus membuat DED (Designe Enginering Detail) terlebih dahulu,namun tentunya dengan peserta tender yang memiliki modal dan teknologi. Selama ini belum diputuskan, rencana proyek PLTSa hanya akan rapat dan rapat lagi.

“Pemkot harus sudah melangkah lebih jauh. Jika mungkin, bulan depan sudah masuk tahapan tender. Rektor ITB itu sudah mendukung penuh teknologi PLTSa. Bahkan dengan Pilkada yang menghasilkan Dada Rosada terpilih kembali, bisa membaca aksepabilitas masyarakat sudah komplit, 65 % memilih pasangan Dada Rosada yang membawa bendera mau membangun PLTSa,” ujar Sugiarto, yang menurutnya, persoalan sosialisasi sudah tidak ada masalah.Artinya masyarakat sudah sadar, paham, masyarakat tetap memilih Dada Rosada sebagai wali kota untuk mewujudkan PLTSa.

Terkait masih adanya sinyalemen penolakan  PLTSa dari anggota Dewan, Ketua Komisi C DPRD Kota Bandung, H Yod Mintaraga meyakinkan, dukungan politik dewan secara kelembagaan terhadap rencana pembangunan PLTSa, tidak ada persoalan. DPRD sudah menyetujui yang diindikasikan dukungan anggaran  dalam APBD 2008 dan 2009 untuk kepentingan persiapan pembangunan PLTSa.

(AB/YM) Dada Rosada : Tidak Bisa Tangani Sampah Seperti Kucing Berak
 

~ Teknologi PLTSa Diperbolehkan UU Sampah

Teknologi PLTSa Diperbolehkan Undang-Undang Pengelolaan Sampah Ditargetkan Selesai Juni

Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dianggap tidak bertentangan dengan RUU Pengelolaan Sampah. Walaupun RUU tersebut mendorong pengelolaan sampah pada 3R (reduce, reuse, recycle), teknologi PLTSa masih bisa dilakukan, asalkan pembangunannya memenuhi syarat lingkungan, ekologi, tata ruang, pendanaan, dan pelayanan terhadap masyarakat.

Tim Ahli Hukum Penyusunan UU Pengelolaan Sampah Asep Warlan Yusuf mengatakan hal itu ketika ditemui di Fakultas Hukum Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Rabu (13/2). “RUU tersebut sedang dibahas di Panitia Kerja (Panja). Walaupun ada yang yakin April 2008 selesai, saya pesimistis. Paling mungkin Juni 2008,” katanya.

Kendati demikian, menurut dia, pembangunan PLTSa Bandung sebaiknya tidak terburu-buru. “Karena masalah dana dan juga investor itu harus selesai dulu. Apa iya investor yang berminat pada PLTSa hanya PT BRIL? Jangan sampai untuk pengadaan barang dan jasa ini Pemkot Bandung kena masalah hukum di kemudian hari,” ucapnya.

Asep mengatakan, daerah di Indonesia yang sudah membangun PLTSa di antaranya Bali dan Pontianak. Sedangkan Batam sedang dalam taraf mengajukan. Dalam RUU Pengelolaan Sampah tersebut nantinya ada standar nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Sudah selesai

Sementara itu, Wakil Ketua Tim Amdal PLTSa Muhamad Taufik mengungkapkan, dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sudah selesai dan telah diserahkan ke Badan Pengendali Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung, Senin (11/2). Tim Amdal PLTSa masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari BPLH Kota Bandung kapan amdal tersebut disidangkan.

“Dengan selesainya amdal, PT BRIL sudah bisa mulai membangun. Namun, semua kembali pada Pemerintah Kota Bandung selaku pemberi izin. Kalau setelah ada amdal tidak dibangun dalam tiga tahun, berarti amdal itu hangus. Amdal ini juga sudah dikonsultasikan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan dianggap tidak ada masalah,” tuturnya ketika dihubungi via telefon di Bandung, Rabu (13/2).

Taufik mengatakan, dalam amdal tersebut, tim memberi banyak masukan serta pertimbangan untuk PT BRIL agar bisa mengakomodasi kepentingan masyarakat di sekitar pembangunan PLTSa. “Banyak warga yang khawatir dengan pembangunan PLTSa. Kami mempelajari apa saja penyebab kekhawatiran mereka. Kami pun memberikan beberapa masukan untuk PT BRIL yang harus mereka lakukan untuk meminimalisasi ketakutan warga,” katanya.

Menurut dia, sejumlah masukan Tim Amdal dalam dokumen tersebut di antaranya, PT BRIL harus menghilangkan ketakutan warga akan truk sampah yang melewati tempat tinggal mereka dengan membuat rute lain. “Ketakutan warga akan bau menyengat juga harus diselesikan PT BRIL. Soal pencemaran yang dikhawatirkan masyarakat, PT BRIL harus bisa menjelaskan secara komprehensif dan harus bisa menepati janji mereka,” katanya.

One Response to “Teknologi PLTSa Diperbolehkan Undang-Undang Pengelolaan Sampah Ditargetkan Selesai Juni”

  1. Yang perlu diklarifikasi pada masyarakat sekitar PLTSa Bandung Gedebage?

    Bapak Ibu panitia AMDAL,

    selamat atas selesainya dokumen AMDAL untuk PLTSa ini, memang tidak ada salahnya jika kita merujuk pada UU Sampah yang baru di sahkan oleh DPR.
    Tahun 1981-1982 saya dapat tugas menyusun FS untuk PLTSa semacam ini untuk Jakarta Pusat dengan kapasitas 1440 TPD dengan energy Recovery 12MWh, lengkap dengan polllution control devices. Saat itu hitungan kami Payback Periodnya 25 tahun.
    Untuk lebih mempertajam analisis rencana pembangunan PLTSa di Kota Bandung ada yang perlu dipersiapkan untuk Disain dan Operasi PLTSa ini, supaya everybody happy adalah informasi yang sebenar-benarnya tentang:
    1. Berapa besar BBM tambahan yang harus dipasok setiap hari (24 jam/hari) ke PLTSa ini. Sampah Bandung jelas lebih basah dibanding sampah Surabaya. Pengalaman operasi di Surabaya dengan Incinerator 200 TPD Cadoux 6 Burning Line, memerlukan sekitar 50 liter solar/ton sampah input. Di Surabaya tidak ada Energy Recovery, sehingga andaikan BBM sedang mahal atau langka, tidak masalah, paling-paling tidak terbakar. PLTSa di Bandung akan membangkitkan listrik dengan membakar sampah yang lebih basah dibanding sampah Surabaya. Anggap saja kapasitas pembakaran 500 TPD (ton/day). Anggap saja untuk Bakar sampah bandung yang basah itu sama dgn yang di Surabaya yaitu 50 liter/ton sampah input, dan agar temperatur di ruang bakar stabil 600 derajat Celcius, sehingga uap air untuk ketel uapnya stabil dan dapat menggerakkan turbin dan genset, perlu BBM Solar/Residu sebanyak 500 ton sampah input/hari dikalikan 50 liter/ton sampah input = 25.000 liter BBM. Jika harga Solar Rp 5.000/liter, maka sehari-semalam Investor harus sedia uang Rp 125.000.000 sehari (itu kalo ada pasokan BBM). Kalo harga Crude Oil/Barrel diatas USD 100, pasti biaya pasokan BBM untuk PLTSa ini harus ditambah.
    Tambahan BBM saja tidak cukup.
    Untuk menggerakkan Ketel Uap memerlukan air bersih, lebih bersih dari air minum. Dari mana didapat pasokan air bersih ini. Cara yang paling mudah ya pakai nyedot air tanah dalam, akibatnya sumur penduduk yang berada pada radius 1 km bisa kering. Apakah PDAM sudah siap mengganti pasokan air minum penduduk sekitar lokasi PLTSa? Ada lagi kebutuhan air pendingin supaya ketelnya tidak pecah. Darimana sumber air pendingin ini, Cikapundung? Bagaimana pada saat musim kemarau? PLTSanya di shut down?.
    Pada saat PLTSa ini dioperasikan dan semoga parasitic energynya kecil saja, sehingga lebih banyak listrik yang bisa dijual, biasanya setiap tahun ada masa overhaul sekitar 50 hari kerja. Selama 50 hari kerja itu harus disediakan TPA, karena tidak mungki n membangun bunker saMPAH DI pltsa itu sebesar 50 hari kali 500 ton/hari, kalo dipaksakan ya tidak feasible secara teknis dll . Biasanya maksimum cuma untuk keperluan pembakaran maksimum 5 hari kerja saja.
    Terkait dengan UU Sampah yang baru disahkan DPR kemarin, apakah lokasi PLTSa ini sudah masuk dalam RTRW Kab/Kota Bandung? Setahu saya yg masuk dalam RTRW adalah lokasi TPA Leuwigajah. Atau pindah aja lokasinya ke TPA Leuwigajah? Kalau merujuk pada UU 26/2007 tentang Tata Ruang, siapa pejabat Kab/Kota yang berani memberikan dan tanda tangan ijin lokasi untuk PLTSa impian warga Bandung ini? Bisa masuk hotel prodeo, dipecat dari PNS, didenda sekian Mrd RP. Siapa mau jadi sponsor bayar denda pelanggaran ini?

    Sekian terimakasih, sekali lagi selamat atas selesainya AMDAL PLTSa ini, Pakai PLTSa memang tidak melanggar UU Sampah yang baru.

                        BANDUNG,
  1. Wass,
    HB Henky Sutanto
    BPPT Gedung II lantai 19, Jakarta.

 
Halaman 559 dari 993
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook