Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Pembangunan Bendungan Jati Gede Di Kab. Sumedang

Indonesia-China Sepakat Bangun Bendungan Jati Gede

 Pemerintah Indonesia dan perusahaan konstruksi terbesar China Sinohydro menandatangani kontrak pekerjaan pembangunan Bendungan Jati Gede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang akan mengairi 90.000 hektar sawah di pantai utara Jawa Barat.
 
Penandatanganan dilakukan Direktur Sinohydro Fan Yun Long, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Graito Sutadi, dan Pejabat Pembuat Komitmen Waduk Jati Gede Jaja Sumantri, Senin (30/4) di Jakarta.
 
”Dua bulan mendatang, pembangunan fisik Waduk Jati Gede akan dimulai. Tahap awal, kami akan bangun terowongan pengelak atau diversion tunnel, serta mengarahkan aliran Sungai Cimanuk,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA), Departemen Pekerjaan Umum, Siswoko.
 
Biaya pembangunan Bendungan Jati Gede (diluar biaya pembebasan lahan dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air) sebesar Rp 2,18 triliun. Pemerintah China telah bersedia mengucurkan dana Rp 1,79 triliun, sedangkan Pemerintah Indonesia akan mengucurkan dana Rp 0,39 triliun.
 
Pembangunan bendungan selain dilakukan Sinohydro, juga akan melibatkan empat Badan Usaha Milik Negara, yakni PT Wijaya Karya, PT Waskita Karya, PT Hutama Karya, dan PT Pembangunan Perumahan.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, pekan lalu, pembangunan Waduk Jatigede akan cepat dikerjakan karena membantu produksi pertanian. Waduk besar ini strategis karena mengairi Kabupaten Majalengka hingga Indramayu, yang sebagian besar wilayahnya pertanian.
 
Saat ini, di Daerah Aliran Sungai Cimanuk baru ada infrastruktur sumber daya air Bendung Rentang. Namun dari potensi air Sungai Cimanuk di Bendung Rentang sebesar 4,3 miliar meter kubik per tahun, baru dapat dimanfaatkan 28 persen saja, sisanya terbuang ke laut karena belum ada waduk.
 
Pembangunan fisik yang telah dikerjakan berupa pembangunan infrastruktur relokasi permukiman di 12 lokasi, pembangunan basecamp, dan akses jalan antara Tolengas-Jati Gede. Diperkirakan pembangunan bendungan selesai November 2012.

Hingga tahun 2006, dari total lahan yang harus dibebaskan seluas 4.803 hektar, masih tersisa 1.667 hektar terdiri 467 hektar lahan milik rakyat dan 1.200 hektar tanah  negara.
 
Menurut Siswoko, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jati Gede berkapasitas 110 MegaWatt (MW), akan diserahkan pada Perusahaan Listrik Negara. Estimasi biaya PLTA Jati Gede, berdasar penghitungan Ditjen SDA sebesar Rp 1,53 triliun. (RYO)

JAKARTA, KOMPAS-
 

~ Pasokan PLTA Jawa-Bali Masih Aman

Operasional PLTA Tak Terganggu, Pasokan Listrik Aman

Pasokan listrik Jawa-Bali dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Bendungan Sutami atau Bendungan Karangkates, Desa Sumberpucung, Kabupaten Malang hingga saat ini masih aman meski debit air permukaan mengalami penurunan karena musim kemarau.

Sekretaris Perusahaan Umum Jasa Tirta I (Perum PJT I), Kota Malang, Vonny C Setiawati mengatakan, berdasarkan data pemantauan, elevasi di Bendungan Sutami tercatat 271,42 meter sedangkan kondisi aktual 270,72 meter.

Menurutnya, penurunan debit air itu terjadi karena air masuk dari Sungai Brantas hanya 43,69 meter kubik per detik dari yang diharapkan sebanyak sebanyak 44,83 meter kubik per detik.

Dengan kondisi debit air di Bendungan Sutami saat ini yang mencapai 270,72 meter, PJT menyatakan kondisinya masih aman karena elevasi air di waduk atau bendungan tahunan lainnya masih di atas pola.

"Data pantauan elevasi di Bendungan Selorejo, Bendungan Bening, Bendungan Wonorejo masih di atas pola," katanya, Jumat (21/8/2009).

Di antara bendungan di bawah pengelolaan PJT I yang menghasilkan pasokan daya listrik adalah Bendungan Sutami dan Selorejo, Malang, Bendungan Bening, Nganjuk, Bendungan Wonorejo, Tulungagung, Bendungan Wlingi dan Bendungan Lodoyo, Blitar.

Selain memasok listrik untuk wilayah Jawa-Bali, beberapa bendungan itu juga berfungsi sebagai pengendali banjir, penyediaan air baku, irigasi, pariwisata, dan pengendali debit Sungai Brantas. [air/har]

Malang (beritajatim.com)-
 

~ Analisa Manfaat Biaya Bendungan Multifungsi di Nongkojajar

ANALISA MANFAAT BIAYA BENDUNGAN NONGKOJAJAR KECAMATAN TUTUR KABUPATEN PASURUAN

Bendungan Nongkojajar merupakan bendungan multifungsi yang terletak di Kabupaten Pasuruan. Rencana lokasi proyek ini terletak terletak di desa Gendro Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan dan direncanakan pembangunan bendungan ini akan menelan biaya sebesar Rp. 233.756.577.932,65. Sehingga dengan biaya yang cukup besar maka perlu dilakukan suatu analisa untuk menilai kelayakan proyek tersebut, salah satunya adalah analisa manfaat biaya. Analisa manfaat biaya menggunakan metode BCR (Benefit Cost Ratio) untuk mengetahui nilai ratio perbandingan antara benefit dengan cost. Benefit yang dianalisa adalah peningkatan hasil pertanian akibat adanya irigasi saja.

Disbenefit yang dianalisa adalah penurunan produksi pertanian dan perkebunan akibat pemakaian lahan masyarakat, sedangkan biaya (cost) yang dianalisa adalah : biaya investasi, biaya operasional serta biaya pemeliharaan dan perawatan. Untuk Analisa Manfaat Biaya yang dianalisa hanya manfaat irigasi saja. Apabila belum memenuhi kelayakan maka dianalisa manfaat lain yaitu air baku dan dianalisa semua manfaat bendungan tersebut.

Nilai manfaat diperoleh dari penambahan nilai manfaat sebelum dan setelah proyek dan untuk biaya diperoleh dari biaya konstruksi (RAB) dan biaya operasional serta pemeliharaan. Dengan menggunakan metode BCR didapat rasio perbandingan sebesar -0,62. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proyek Bendungan Nongkojajar ini tidak memenuhi persyaratan kelayakan jika hanya ditinjau dari manfaat irigasi saja. Sedangkan BCR untuk bendungan multiguna adalah -0,59 dengan menambahkan manfaat air baku dan ini menunjukkan bahwa proyek ini masih belum memenuhi kelayakan. Sehingga perlu dilakukan peninjauan terhadap manfaat lain yang bersifat tangible maupun intangible.


Alt. Description

Nongkojajar dams are multifunction dam that locate in Kabupaten Pasuruan. The location plan of this project will be at Gendro village Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan and this project may cost Rp.233.756.577.932,65. There for with a lot of cost needed we necessary to do some analysis to know if this project qualified or not, one of it with benefit cost analysis. The objective of benefit cost analysis using BCR (Benefit Cost Ratio) methode is to know the ratio between benefit and cost. The benefit which analyze is only the farm production raise because of the irrigation. The disbenefit which analyze is the farm production descent because of land villager using, and then the cost which analyze is investement cost, operational cost and maintenance cost. For Benefit Cost Analysis only the irrigation benefit that analyzed.

If its not qualified enough than analyze the other benefit which is water supply and all benefit of that dam were analyzed. The Benefit Value come from the increase of before and after project benefit velue and the cost come from construction cost and operational cost and also maintenance. By using BCR methode has got the comparation ratio about -0,62. So that project of Nongkojajar Dams is not qualifed if only observed from irrigation benefit. Whereas BCR for multifunction dam the result is -0,59 by added water supply benefit and the result still not qualified. So that need an observation to the other benefit that have a character tangible and intamgible.

Created by WAHYUDI, M. NUZUL

 

~ Krisis Listrik Di Jawa Timur Berlangsung Lama

Waduk Mengering, Jawa Timur Krisis Listrik

Krisis listrik yang terjadi di Jawa Timur kemungkinan akan berlangsung dalam waktu cukup lama. Pasalnya, dua Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di eks Karesidenan Kediri terancam tidak dapat memproduksi listrik secara normal. Empat waduk yang menjadi penopang operasional terus mengalami penyusutan debit air.
Data dihimpun menyebutkan, 4 waduk yang saat ini terus mengalami penyusutan debit air adalah Bendungan Wlingi dan Bendungan Lodoyo di Kabupaten Blitar, yang menjadi
penopang operasional PLTA Lodoyo, serta Bendungan Wonorejo dan Niyama di Tulungagung yang menjadi penyangga kebutuhan air pada operasional PLTA Wonorejo. Hingga pertengahan November 2009, debit air di 4 waduk tersebut terus menyusut hingga tinggal 50 persen.
"Kalau untuk penyebab jelas karena kemarau, karena memang waduk yang berupa bendungan itu mendapatkan suplai air dari sungai-sungai kecil di sekitarnya. Kami menganggapnya sudah sangat parah," kata Asisten Manajer Area Pelayanan Jaringan (APJ) PLN Kediri Ustriadi, Minggu (15/11) kemarin.
Dicontohkan Ustriadi, Bendungan Wlingi yang berfungsi membangkitkan PLTA Lodoyo dengan daya yang dihasilkan sebesar sebesar 27 megawatt (MW), saat ini hanya bisa
memproduksi separonya. Demikian pula Bendungan Lodoyo yang mengalami kondisi serupa, dari kemampuan semestinya dapat memproduksi listrik sebesar 1x2,7 MW. "Rata-rata memang mengalami penurunan sampai 50 persen dari kondisi semestinya. Ini karena jam berputarnya turbin menjadi sangat pendek," paparnya.
Sementara Bendungan Wonorejo juga tak jauh berbeda. Pasokan air dari Kali Bodeng dan Wlingi ke bendungan dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami penyusutan. Bahkan lebih parah dari dua waduk yang ada di Kabupaten Blitar. Akibatnya, mesin pembangkit listrik minihydro berkapasitas 2 x 118 kilowatt (KW)  yang terpasang hanya mampu memenuhi kebutuhan listrik di lokasi bendungan itu sendiri.
Dampak dari terjadinya penurunan produksi listri di 2 PLTA tersebut, secara langsung berimbas pada pasokan listrik ke gardu induk di Waru, Sidoarjo. Hal ini yang menjadikan pasokan listrik di Jawa Timur, serta secara luas di Jawa-Bali menjadi terganggu, berujung dilakukannya pemadaman bergiliran. "Di Jawa-Bali pasokan listrik memang disambungkan secara interkoneksi, jadi kalau bermasalah di induknya, ya semua gardu pembantu akan terganggu," pungkasnya. (dtc/udi)

KEDIRI-
 

~ Bendungan Dan PLTA Bakaru Direncanakan 2014

2014 Akan Dibangun Waduk dan PLTA Bakaru

PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara (Sultanbatara) umumkan jika tahun 2014 akan membangun waduk dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Bakaru Kabupaten Pinrang.

"Masalah besar PLTA bakaru saat ini adalah sedimentasi. Jadi kami akan membangun Waduk dan satu lagi PLTA pada tahun 2014 di sungai Bakaru, " kata Manager Transmisi dan Distrubusi PLN Wilayah Sultanbatara, A Lakipadada, Rabu di Makassar.

Menurutnya, dengan penambahan dua turbin PLTA dan pembangunan Waduk di sekitar sungai Bakaru adalah salah satu cara untuk meminimalisir dampak sedimentasi sungai Bakaru, yang walau dikeruk tetap saja lumpur sungai mengendap.

Pembangunan Waduk atau DAM dan PLTA ini juga telah dianggarkan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN Sultanbatara.

"Pembangunan Waduk ini sama dengan pembangunan satu PLTU yang baru, " ungkapnya

PLTA Bakaru yang berlokasi di Desa Ulusaddang, saat ini merupakan pembangkit listrik terbesar di Sulawesi Selatan (Sulsel), dengan daya mampu 126 MW atau dapat memasok 30% kebutuhan listrik di Sulsel.

Namun karena terjadi endapan lumpur sungai dan kurangnya debit air karena musim kemarau membuat daya produksi listrik menurun sehingga dengan pembangunan Waduk atau DAM di sekitar sungai Mamasa dapat menanggulangi krisis listrik.

"Kami yakin pembangunan ini akan sangat efektif, bukan hanya untuk mengatasi sedimentasi tapi juga menambahan produksi listrik, " jelasnya.

Makassar (ANTARA News) -
 
Halaman 559 dari 1038
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook