Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Biogas Dari Proses Penguraian Anaerob

BIOGAS SYSTEM

Biogas adalah gas-gas yang dihasilkan dari proses penguraian anaerob (tanpa udara) atau fermentasi dari material organik seperti kotoran hewan, lumpur kotoran, sampah padat, atau sampah terurasi secara bio. Gas utama dari proses biogas terdiri dari methane dan CO2.

Biogas konvensional umumnya menggunakan proses cair dimana kotoran/sampah dicampur dengan air untuk membantu proses penguraian. Biogas sistem padat juga dimungkinkan, misalnya yang terjadi pada tempat pembuangan sampah padat (landfil). Karena CH4 mempunyai sifat sulit dikompres (berbeda dengan LPG), maka CH4 dari pembangkit biogas umumnya dipakai secara langsung. Beberapa pendapat lebih menyarankan gas dari biogas digunakan langsung untuk memasak, pemanas, penerangan, menggerakkan pompa atau kompresor, atau bahkan untuk sistem pendingin absorpsi dibandingkan dikonversi menjadi listrik [*].


Gas-gas yang dihasilkan dari reaktor biogas umumnya terdiri dari [*]:

  1. Methane, CH4 = 55-75%.
  2. Carbon dioxide, CO2 = 25-45%.
  3. Carbon monoxide, CO = 0-0,3%.
  4. Nitrogen, N2 = 1-5%.
  5. Hydrogen, H2 = 0-3%.
  6. Hydrogen sulfide, H2S = 0,1-0,5%.
  7. Oxygen, O2 = sisanya


Jika diasumsikan
  1. Gas methane yang dihasilkan mencapai 65% (gas-gas sisanya tidak dapat dikonversi menjadi energi).
  2. Reaktor biogas memproduksi gas 2000 m³/hari.
  3. Nilai kalor rendah (LHV) CH4 = 50,1 MJ/kg.
  4. Densitas CH4 = 0,717 kg/m³.

Atau dalam 1 m³ gas CH4 mengandung energi sebesar = 50,1 x 0,717 = 35,9 MJ = 0,00997 MWh.

Jumlah panas yang dihasilkan per hari adalah = 65% x 2000 m³ x 0,00997 MWh/m³ = 12.96 MWh.

Perlu diketahui bahwa:
  1. Efisiensi untuk menghasilkan panas saja ~ 90%.
  2. Efisiensi untuk menghasilkan panas dan listrik 85% (35% untuk listrik + 50% untuk panas).
  3. Efisiensi untuk menghasilkan listrik saja ~ 35%.
Some important information about biogass:


1. biogas powerplant UC Davis in youtube.
2. biogas design in costa rica.
 

~ Peningkatan Permintaan Energi Biogas

 PEMANFAATAN BIOGAS SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF

Beberapa tahun terakhir ini energi merupakan persoalan yang krusial didunia. Peningkatan permintaan energi yang disebabkan oleh pertumbuhan populasi penduduk dan menipisnya sumber cadangan minyak dunia serta permasalahan emisi dari bahan bakar fosil memberikan tekanan kepada setiap negara untuk segera memproduksi dan menggunakan energi terbaharukan. Selain itu, peningkatan harga minyak dunia hingga mencapai 100 U$ per barel juga menjadi alasan yang serius yang menimpa banyak negara di dunia terutama Indonesia.
Lonjakan harga minyak dunia akan memberikan dampak yang besar bagi pembangunan bangsa Indonesia. Konsumsi BBM yang mencapai 1,3 juta/barel tidak seimbang dengan produksinya yang nilainya sekitar 1 juta/barel sehingga terdapat defisit yang harus dipenuhi melalui impor. Menurut data ESDM (2006) cadangan minyak Indonesia hanya tersisa sekitar 9 milliar barel. Apabila terus dikonsumsi tanpa ditemukannya cadangan minyak baru, diperkirakan cadangan minyak ini akan habis dalam dua dekade mendatang.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak pemerintah telah menerbitkan Peraturan presiden republik Indonesia nomor 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut menekankan pada sumber daya yang dapat diperbaharui sebagai altenatif pengganti bahan bakar minyak
Salah satu sumber energi alternatif adalah biogas. Gas ini berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran manusia, kotoran hewan dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik digestion. Proses ini merupakan peluang besar untuk menghasilkan energi alternatif sehingga akanmengurangi dampak penggunaan bahan bakar fosil

2. ANAEROBIK DIGESTION
Biogas merupakan sebuah proses produksi gas bio dari material organik dengan bantuan bakteri. Proses degradasi material organik ini tanpa melibatkan oksigen disebut anaerobik digestion Gas yang dihasilkan sebagian besar (lebih 50 % ) berupa metana. material organik yang terkumpul pada digester (reaktor) akan diuraiakan menjadi dua tahap dengan bantuan dua jenis bakteri. Tahap pertama material orgranik akan didegradasi menjadi asam asam lemah dengan bantuan bakteri pembentuk asam. Bakteri ini akan menguraikan sampah pada tingkat hidrolisis dan asidifikasi. Hidrolisis yaitu penguraian senyawa kompleks atau senyawa rantai panjang seperti lemak, protein, karbohidrat menjadi senyawa yang sederhana. Sedangkan asifdifikasi yaitu pembentukan asam dari senyawa sederhana.

Setelah material organik berubah menjadi asam asam, maka tahap kedua dari proses anaerobik digestion adalah pembentukan gas metana dengan bantuan bakteri pembentuk metana seperti methanococus, methanosarcina, methano bacterium.

Perkembangan proses Anaerobik digestion telah berhasil pada banyak aplikasi. Proses ini memiliki kemampuan untuk mengolah sampah / limbah yang keberadaanya melimpah dan tidak bermanfaat menjadi produk yang lebih bernilai. Aplikasi anaerobik digestion telah berhasil pada pengolahan limbah industri, limbah pertanian limbah peternakan dan municipal solid waste (MSW).

3. SEJARAH BIOGAS
Sejarah penemuan proses anaerobik digestion untuk menghasilkan biogas tersebar di benua Eropa. Penemuan ilmuwan Volta terhadap gas yang dikeluarkan di rawa-rawa terjadi pada tahun 1770, beberapa dekade kemudian, Avogadro mengidentifikasikan tentang gas metana. Setelah tahun 1875 dipastikan bahwa biogas merupakan produk dari proses anaerobik digestion. Tahun 1884 Pasteour melakukan penelitian tentang biogas menggunakan kotoran hewan. Era penelitian Pasteour menjadi landasan untuk penelitian biogas hingga saat ini.

4. KOMPOSISI BIOGAS
Biogas sebagian besar mengandung gs metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), dan beberapa kandungan yang jumlahnya kecil diantaranya hydrogen sulfida (H2S) dan ammonia (NH3) serta hydrogen dan (H2), nitrogen yang kandungannya sangat kecil.

Energi yang terkandung dalam biogas tergantung dari konsentrasi metana (CH4). Semakin tinggi kandungan metana maka semakin besar kandungan energi (nilai kalor) pada biogas, dan sebaliknya semakin kecil kandungan metana semakin kecil nilai kalor. Kualitas biogas dapat ditingkatkan dengan memperlakukan beberapa parameter yaitu : Menghilangkan hidrogen sulphur, kandungan air dan karbon dioksida (CO2). Hidrogen sulphur mengandung racun dan zat yang menyebabkan korosi, bila biogas mengandung senyawa ini maka akan menyebabkan gas yang berbahaya sehingga konsentrasi yang di ijinkan maksimal 5 ppm. Bila gas dibakar maka hidrogen sulphur akan lebih berbahaya karena akan membentuk senyawa baru bersama-sama oksigen, yaitu sulphur dioksida /sulphur trioksida (SO2 / SO3). senyawa ini lebih beracun. Pada saat yang sama akan membentuk Sulphur acid (H2SO3) suatu senyawa yang lebih korosif. Parameter yang kedua adalah menghilangkan kandungan karbon dioksida yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas, sehingga gas dapat digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Kandungan air dalam biogas akan menurunkan titik penyalaan biogas serta dapat menimbukan korosif

5. REAKTOR BIOGAS
Ada beberapa jenis reactor biogas yang dikembangkan diantaranya adalah reactor jenis kubah tetap (Fixed-dome), reactor terapung (Floating drum), raktor jenis balon, jenis horizontal, jenis lubang tanah, jenis ferrocement. Dari keenam jenis digester biogas yang sering digunakan adalah jenis kubah tetap (Fixed-dome) dan jenis Drum mengambang (Floating drum). Beberapa tahun terakhi ini dikembangkan jenis reactor balon yang banyak digunakan sebagai reactor sedehana dalam skala kecil.
1. Reaktor kubah tetap (Fixed-dome)

Gambar 1. Jenis digester kubah tetap (fixed-dome)

Reaktor ini disebut juga reaktor china. Dinamakan demikian karena reaktor ini dibuat pertama kali di chini sekitar tahun 1930 an, kemudian sejak saat itu reaktor ini berkembang dengan berbagai model. Pada reaktor ini memiliki dua bagian yaitu digester sebagai tempat pencerna material biogas dan sebagai rumah bagi bakteri,baik bakteri pembentuk asam ataupun bakteri pembentu gas metana. bagian ini dapat dibuat dengan kedalaman tertentu menggunakan batu, batu bata atau beton. Strukturnya harus kuat karna menahan gas aga tidak terjadi kebocoran. Bagian yang kedua adalah kubah tetap (fixed-dome). Dinamakan kubah tetap karena bentunknya menyerupai kubah dan bagian ini merupakan pengumpul gas yang tidak bergerak (fixed). Gas yang dihasilkan dari material organik pada digester akan mengalir dan disimpan di bagian kubah.

Keuntungan dari reaktor ini adalah biaya konstruksi lebih murah daripada menggunaka reaktor terapung, karena tidak memiliki bagian yang bergerak menggunakan besi yang tentunya harganya relatif lebih mahal dan perawatannya lebih mudah. Sedangkan kerugian dari reaktor ini adalah seringnya terjadi kehilangan gas pada bagian kubah karena konstruksi tetapnya.

2. Reaktor floating drum

Reaktor jenis terapung pertama kali dikembangkan di india pada tahun 1937 sehingga dinamakan dengan reaktor India. Memiliki bagian digester yang sama dengan reaktor kubah, perbedaannya terletak pada bagian penampung gas menggunakan peralatan bergerak menggunakan drum. Drum ini dapat bergerak naik turun yang berfungsi untuk menyimpan gas hasil fermentasi dalam digester. Pergerakan drum mengapung pada cairan dan tergantung dari jumlah gas yang dihasilkan.
Keuntungan dari reaktor ini adalah dapat melihat secara langsung volume gas yang tersimpan pada drum karena pergerakannya. Karena tempat penyimpanan yang terapung sehingga tekanan gas konstan. Sedangkan kerugiannya adalah biaya material konstruksi dari drum lebih mahal. faktor korosi pada drum juga menjadi masalah sehingga bagian pengumpul gas pada reaktor ini memiliki umur yang lebih pendek dibandingkan menggunakan tipe kubah tetap.

3. Reaktor balon

Reaktor balon merupakan jenis reaktor yang banyak digunakan pada skala rumah tangga yang menggunakan bahan plastik sehingga lebih efisien dalam penanganan dan perubahan tempat biogas. reaktor ini terdiri dari satu bagian yang berfungsi sebagai digester dan penyimpan gas masing masing bercampur dalam satu ruangan tanpa sekat. Material organik terletak dibagian bawah karena memiliki berat yang lebih besar dibandingkan gas yang akan mengisi pada rongga atas.

6. KONSERVASI ENERGI
Konversi limbah melalui proses anaerobik digestion dengan menghasilkan biogas memiliki beberapa keuntungan, yaitu :
- biogas merupakan energi tanpa menggunakan material yang masih memiliki manfaat termasuk biomassa sehingga biogas tidak merusak keseimbangan karbondioksida yang diakibatkan oleh penggundulan hutan (deforestation) dan perusakan tanah.
- Energi biogas dapat berfungsi sebagai energi pengganti bahan bakar fosil sehingga akan menurunkan gas rumah kaca di atmosfer dan emisi lainnya.
- Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang keberadaannya duatmosfer akan meningkatkan temperatur, dengan menggunakan biogas sebagai bahan bakar maka akan mengurangi gas metana di udara.
- Limbah berupa sampah kotoran hewan dan manusia merupakan material yang tidak bermanfaaat, bahkan bisa menngakibatkan racun yang sangat berbahaya. Aplikasi anaerobik digestion akan meminimalkan efek tersebut dan meningkatkan nilai manfaat dari limbah.
- Selain keuntungan energy yang didapat dari proses anaerobik digestion dengan menghasilkan gas bio, produk samping seperti sludge. Meterial ini diperoleh dari sisa proses anaerobik digestion yang berupa padat dan cair. Masing-masing dapat digunakan sebagai pupuk berupa pupuk cair dan pupuk padat.

7. KESIMPULAN
Harga bahan bakar minyak yang makin meningkat dan ketersediaannya yang makin menipis serta permasalahan emisi gas rumah kaca merupakan masalah yang dihadapi oleh masyarakat global. Upaya pencarian akan bahan bakar yang lebih ramah terhadap lingkungan dan dapat diperbaharui merupakan solusi dari permasalahan energi tersebut. Untuk itu indonesia yang memiliki potensi luas wilayah yang begitu besar, diharapkan untuk segera mengaplikasi bahan bakar nabati. Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses anaerobik digestion dan memiliki prosepek sebagai energi pengganti bahan bakar fosil yang keberadaaanya makin

N. Agung Pambudi

 

~ Kebijakan Pengelolaan Sampah di Kota Bandung

Pembangunan PLTSa Gedebage Usai Pemilu

Kebijakan pengeolaan sampah di Kota Bandung, tidak bisa dipisahkan dari upaya membangun lingkungan hidup yang baik dan berkualitas. Harapannya, siapapun yang menghuni dan beraktifitas di Bandung bisa merasakan kenyamanan yang paripurna, bebas dari gangguan sampah.

Persoalannya, Bandung kini tidak lagi memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk menampung sampah yang volumenya terus meningkat,  mencapai lebih kurang 7.500 m3 atau 1.200 ton sampah/hari. Jikapun ada TPA Sarimukti di Cipatat Kabupaten Bandung Barat, sifatnya juga sementara. Kalau kemudian ditutup dan ditempat lain tidak diijinkan, musibah sampah di Kota Bandung di Tahun 2005, bakalan terulang kembali. Pengalaman pahit masa lalu dan perjuangan sulitnya mencari lahan bakal TPA, serta komparasi jauh sampai ke negeri China, Singapura, Malaysia dan Belanda, menghasilkan pilihan, teknologi waste to energi (WtE) atau mengolah sampah jadi energi listrik dengan mendirikan Pembangkit Tenaga Listrik Sampah (PLTSa) yang lokasinnya ditetapkan di kawasan Gedebage.

"Kita tidak bisa lagi menangani sampah seperti kucing berak. Simpan sampah kemudian ditimbun tanah. PLTSa harus dipahami beda, TPA berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah sedangkan PLTSa memusnahkan atau menghilangkan sampah. Pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, adalah PLTSa selain 3 R yaitu Reuse, Reduce dan Recycle," jelas Wali Kota Bandung, H Dada Rosada, di Pendopo Jalan Dalem Kaum Bandung, usai memimpin rapat koordinasi, merespon desakan sebagian besar warga kota Bandung yang mempertanyakan realisasi pembangunan PLTSa, Jumat (3/4/09).

Membangun PLTSa di Kota Bandung, ditandaskan Dada, sudah menjadi tekad dan komitmennya, menyelesaikan persoalan sampah secara tuntas. Dirinya mentargetkan, seusai Pemilu 2009, segera akan memulai dengan membentuk tim khusus yang bertugas menindak lanjuti langkah langkah dan upaya persiapan yang telah dilakukan sebelumnya. "Saat ini kita telah membebaskan lahan lebih kurang 13 hektar. Meski fisik infrastruktur PLTSa membutuhkan 2 hektar, tapi saya menginginkan 20 hektar, sehingga PLTSa nantinya dibangun berada ditengah, dikelilingi ring pepohonan hutan kota yang berfungsi sebagai filter," ujarnya.

Dari aspek normative dan teknis, PLTSa Gedebage bisa dikatakan telah lolos berbagai tahap kajian, baik feasibility study (studi kelayakan) maupun kajian analisa masalah dampak lingkungan (Amdal). Bahkan Sugiarto dari tim teknis Institut Teknologi Bandung (ITB) berpendapat, rencana pembangunan PLTSa harus sudah memulai langkah riil yang konkret.

Sugiarto setuju jika Pemkot segera melakukan lelang infrastruktur atau pelelangan administrasi, tanpa harus membuat DED (Designe Enginering Detail) terlebih dahulu, namun tentunya dengan peserta tender yang memiliki modal dan teknologi. Selama ini belum diputuskan, rencana proyek PLTSa hanya akan rapat dan rapat lagi. "Pemkot harus sudah melangkah lebih jauh. Jika mungkin, bulan depan sudah masuk tahapan tender. Rektor ITB itu sudah mendukung penuh teknologi PLTSa. Bahkan dengan Pilkada yang menghasilkan Dada Rosada terpilih kembali, bisa membaca aksepabilitas masyarakat sudah komplit, 65 % memilih pasangan Dada Rosada yang membawa bendera mau membangun PLTSa," ujar Sugiarto, yang menurutnya, persoalan sosialisasi sudah tidak ada masalah.. Artinya masyarakat sudah sadar, paham, masyarakat tetap memilih Dada Rosada sebagai wali kota untuk mewujudkan PLTSa.

Terkait masih adanya sinyalemen penolakan  PLTSa dari anggota Dewan,Ketua Komisi C DPRD Kota Bandung, H Yod Mintaraga meyakinkan, dukungan politik dewan secara kelembagaan terhadap rencana pembangunan PLTSa, tidak ada persoalan. DPRD sudah menyetujui yang diindikasikan dukungan anggaran dalam APBD 2008 dan 2009 untuk kepentingan persiapan pembangunan PLTSa. "Itu bukti konkret dewan setuju terhadap pembangunan PLTSa. Jadi tidak harus ragu dengan dukungan politik institusi dewan. Kalau soal perseorangan, saya tidak mengurus itu," tandasnya.

Netty warga Rancanumpang berpendapat, jika uji kelayakan dan semua persyaratan regulasi  sudah ada,  pembangunan PLTSa tidak bisa dibantah lagi. Apalagi proyek ini, untuk kepentingan semua warga Bandung.  Halnya dengan Upep yang juga warga sekitar rencana lokasi, mendesak Pemkot Bandung segera mempercepat pembangunan PLTSa. Alasannya, pembangunan akses jalan SOR Gedebage yang kini sedang dikerjakan, realitanya sudah bisa dirasakan manfaatnya, tidak saja dirinya tapi juga warga Griya Cempaka Arum yang belum mau menerima pembangunan PLTSa

BANDUNG, (SPN) -

 

 

~ Walikota Bandung Sosialisasikan PLTSa

 Walikota Bandung Sosialisasi PLTSa ke Ulama

Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) masih menuai pro dan kontra warga Bandung. Untuk menyosialisasikan program ini, Pemkot mengundang ulama se-Kota Bandung.

Dalam acara yang digelar di Gedung Pendopo Jl Dalem Kaum Bandung, Jumat (14/12/2007), hadir Walikota Bandung Dada Rosada yang memberi penjelasan langsung.

"Sampah adalah problem umat manusia, khususnya perkotaan. Bagi masyarakat pedesaan sampah masih bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya untuk pupuk dalam upaya menyuburan lahan pertanian. Tetapi bagi perkotaan justru sebaliknya," papar Dada.

Menurut Dada, pembangunan PLTSa di Kelurahan Rancanumpang Kecamatan Gedebage Kota Bandung sampah bisa diolah menjadi energi listrik dan diharapkan tidak berpengaruh buruk terhadap lingkungan.

Diakui dia, sampah selama ini merupakan masalah yang cukup pelik. Persoalan klasik ini dalam penanganan sampah terus-menerus menjadi beban, bukan saja bagi Pemkot Bandung tetapi juga bagi warganya.

"Sampah selain dianggap sumber penyakit, juga mencemarkan lingkungan dengan bau busuk yang menyengat. Oleh karena itu dalam sosialisasi ini menjelaskan tata letak dan cara penanganan sampah yang baik," pungkasnya.
(bal/bal)

Bandung

Agung Jaka P - detikNews

 

~ Kajian Awal Pembangunan PLTSa Di Kota Bandung

 KAJIAN AWAL PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH DI KOTA BANDUNG

Permasalahan sampah di kota Bandung memerlukan solusi yang sifatnya segera dan signifikan. Salah satu solusi permasalahan sampah kota Bandung tersebut adalah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kota Bandung.

Dalam tugas akhir ini akan dikaji mengenai aspek-aspek awal pembangunan PLTSa yang sesuai dengan karakteristik sampah kota Bandung, baik secara teknis maupun ekonomis. Kajian ini berupa usulan teknologi dan peralatan yang sesuai dengan PLTSa kota Bandung.

Untuk mengusulkan teknologi yang akan diterapkan pada PLTSa, terlebih dulu perlu diketahui karakteristik sampah kota Bandung dan macam-macam teknologi PLTSa. Pengujian karakteristik sampah kota Bandung dilakukan dengan cara melakukan uji sampah kota Bandung. Sedangkan kajian mengenai teknologi dilakukan dengan metode studi literatur.

Kajian awal pembangunan PLTSa di kota Bandung ini meliputi kajian keterbakaran sampah kota Bandung serta usulan teknologi yang sesuai bagi PLTSa kota Bandung. Akan dikaji pula usulan desain secara umum dari teknologi yang akan dipakai pada PLTSa kota Bandung.

Deskripsi Alternatif :

Bandung' waste has caused a great deal of problem since early 2002. It needs an immediate solution from the authority. One of many alternatives solution is to build waste-to-energy facilities in Bandung.

In this final project will be discussed about early aspects of the construction of waste-to-energy facilities in Bandung. It will also propose a basic technology for the waste-to-energy facility in Bandung, based on Bandung's waste characteristics.

In order to propose the technology that will be used, bandung's waste characteristic and basic technology in waste-to-energy facility will be described in this report. The waste characteristic is collected by conducting laboratory analysis and the basic technology is learned by literature.

This preliminary study of the waste-to-energy facility in Bandung will describe the combustibility of Bandung's waste and present general components that will be used in waste-to-energy facility in Bandung.

Copyrights : Copyright Â(c) 2001 by ITB Central Library. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.


 

 
Halaman 559 dari 994
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook