Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Pengembangan Biofuel Dinilai Urgent

Indonesia Kaya Bahan Baku Tapi Low Profile


pengembangan biofuel dinilai sangat penting, bahkan sudah menjadi kesadaran olektif global, termasuk bagi egeri yang kurang kompetitif alam mengembangkan energi ari sumber bahan baku nabati. ontohnya Amerika Serikat (AS). Mcnurut Organisasi Pangan an Pertanian Dunia (FAO), Ne-sri Paman Sam tersebut tidak Dmpetitif mengembangkan bio-lel, baik berupa biodiesel mau-an bioethanol,

Dalam kesaksian di hadapan Kongres AS baru-baru ini, Chief Exe-itive Officer National Biodiesel Dard (NBB) Joe Jobe menegas-m, seiring dengan meroketnya irga minyak mentah dunia, pembangunan biodiesel sebagai penyelesai masalah harus dipercepat. Jika AS mampu menggantikan 5% solar yang dikonsumsi kendaraan dengan biofuel, negeri ini tak perlu me-ngimpor bahan baku solar dari Irak.

Jobe juga membeberkan ten-tang cerahnya industri biodiesel dunia, dengan pertumbuhan pe-sat dalam dua tahun terakhir. "Penjualan biodisel tahun 2005 mencapai 75 juta galon, tiga kali lipat dari penjualan tahun 2004 yang 25 juta galon. Sementara itu, dengan harga minyak dunia yang terus naik defisit perdagangan AS terus menggelembung," ucap Jo-be memperingatkan Kongres.

Menurut Jobe , AS harus mem-perluas insentif bagi industri bio­diesel. Setidaknya ada tiga kebi-jakan yang harus segera diterbitkanpajak agar energi terbarukan ini makin terjangkau konsumen. Ke-dua, memberikan insentif kredit guna mendorong pertumbuhan kapasitas produksi biodiesel. Ke-tiga, menggelar program edukasi biodiesel, agar kesadaran (aware­ness) masyarakat meningkat dari level 41% per Desember 2005.

Menurut laporan FAO, harga minyak yang mencapai lebih dari US$ 70 per barel membuat energi nabati (bioenergy) makin kompe­titif. Bahkan, raja software Bill Gates sudah memutuskan men-danai perusahaan bioenergy AS sebesar US$ 84 juta.

Saat ini, pemegang piala bioe­nergy adalah Brasil. Negeri Sam­ba ini mampu mengalahkan nega-ra adidaya, berkat 30 tahun mempeorduksi tebu. Negeri itu mampu menjual bioethanol separuh lebih murah daribensin, dengan melibatkan 1,5 juta petani tebu. Kini jutaan mobil di negeri sang legendaris sepakbola Pcle sudah beralih ke bioethanol.

Menurut kajian Uni Eropa (UE), dalam waktu dekat 13% konsumsi BBM dunia akan bera­lih ke energi nabati. Sementara itu, UE menargetkan biofuels su­dah akan menggantikan konsumsi BBM transportasi sebanyak 8% tahun 2015. Hal ini sudah mem-perhirungkan bahwa harga biofuel di Eropa dua kali lipat dari di Brasil.

Menurut perkiraan FAO, 15-20 tahun mendatang biofuel akan menggantikan 25% konsumsi energi dunia. pasang target sekitar 5%, itu pun unruk tahun 2025.

Padahal, negeri kita kaya de­ngan sumber bahan baku untuk biofuel, terutama biodiesel. Misal-nya minyak sawit mentah (CPO), yang kini produksi per tahunnya sudah mendekati angka 14 juta ton. Belum lagi, belakangan pe-merintah gencar menggalakkan budidaya tanaman jarak pagar, guna mendukung program energi alternatif dari minyak babati.

Demikian pula dengan teknolo-gi, sumber daya manusia (SDM), dan modal, sudah terjangkau ke-mampuan anak negeri. Lantas, apakah realisasi pengembangan biodiesel harus menunggu indus­tri dan keamanan negeri ini


Sumber : Kompas
 

~ 11 Investor Danai Bangun Pabrik Bioetanol Dan Biodiesel

Investor Bangun Pabrik Biodiesel dan Bioetanol


Scbanyak 11 investor telah nicndapatkan izin dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (15KPM) untuk membangun pabrik biodicsel dan bioetanol di seluruh wilayah Indonesia . Diper-kirakan, investasi untuk setiap pabrik mencapai Rp 300 miliar dengan kapasitas produksi per tahun sekitar 50.000 - 150.000 kiloliter.

Mcnristek Kusmayanto Kadiman menyatakan, investasi scbesar itu masih bcluin lermitsuk biaya penggantian lahan. "Nama-nama pemsahaannya ada BKPM, tapi yang jelas nantinya pabrik itu akan ada di Lampung, karena di sana banyak bahan baku seperti singkong," katanya usai membuka seminar energi alternatif di Ja­karta , Rabu (14/12).

Dia menyatakan, untuk mendorong pengembangan kedua energi tersebut sudah saatnya pemerintah mengeluarkan peraturan penggunaan biodiesel dan bioetanol. "Ini supaya pemakaian BBM bisa dikurangi dan mutu BBM menjadi lebih ramah lingkungan," katanya. Menurutnya, 800 SPBU di Thailand telah menerapkan hal ini.

Kusmayanto juga mengatakan, .penerapan teknologi dalam pe­ngembangan batu bara sebagai alternatif pengganti BBM telah ber-jalan baik. "Batu bara bisa saja ditaruh dipermukaan untuk bahan baku pembangldt listrik mulut tambang, atau harus dicairkan dulu untuk mempcroleh minyak. Secara teknologi sudah siap, tinggal intervensi pemerintah agar batu bara lebih banyak dipakai," katanya.

Menurutnya, selain intervensi, yang paling dibutuhkan saat ini adalah bantuan pendanaan dari sektor perbankan. "Perbankan dibutuhkan untuk bisa saling sharing risiko. Tentunya, bagi pengembang batu bara haruslah memiliki cashflow positif agar bisa memberikan jaminan bagi perbankan," katanya.

Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi Simon Felix Sembiring mempersilakan para bankir untuk membantu pendanaan para pe­ngembang batu bara. "Kami jamin opportunity dari pengemba­ngan batu bara untuk saat ini sudah layak bagi kaum perbankan, terutama setclah penerapan teknologi bam, seperti up grade dan pencairan yang menghasilkan nilai tambah," katanya.

Direktur Direktorat Pcnelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Muliaman I). Hadad menyatakan, pendanaan dari per­bankan untuk sektor pertambangan hingga September 2005 me-mang baru meneapai Rp 9,5 triliun. "Itu memang masih kecil dib-anding sektor lain. Perbankan kurang tertarik untuk mendanai pro­yek yang masih eksplorasi, kami lebih mcmilih proyek pertam­bangan yang sudah feasible dan bankable secara bisnis," katanya.

Direktur Eksckutif Asoasiasi Pertambangan Batubara Indonesia APBI Socdjoko mengatakan, dengan dana Rp 9,5 triliun mcnan-dakan peluang pembiayaan untuk sektor pertambangan batu bara masih terbuka lebar. "Itu tentunya masih bisa ditingkatkan, sebagai pengusaha kami juga akan membuat bagaimana bisnis kami yang memang penuh risiko memiliki cashflow positif," katanya. (ari)

JAKARTA
Sumber : Kompas
 

~ Harga CPO Merangkak Naik

Harga CPO Mulai Bergerak Naik

Harga minyak sawit mentah di, pasar dunia mulai naik, dipicu permintaan dunia untuk keperluan biodiesel. Situasi itu menepis kecemasan be-berapa kalangan di awal tahun ini yang memperkirakan harga CPO masih akan tertekan. Harga CPO diperkira-kan bisa mencapai 1.600 ringgit (389 dollar AS) per ton.

Ketua Harian Gabungan Peng-usaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun di Jakar­ta, Selasa (7/3), mengatakan, pe-nurunan produksi sudah terjadi pada November-Desember tahun lalu. Pasar tidak langsung me-respons ketika itu, namun penu-runan produksi baru direspons pada bulan Januari.

"Saat itu terdapat permintaan cukup besar, sementara produksi tidak bertambah sehingga harga mengaJami kenaikan. Saat ini ba-nyak permintaan untuk biodiesel. Saya memperkirakan kenaikan akan terus berlanjut sampai Ap­ril," kata Derom.

Laporan dari Departemen Per-tanian Amerika Serikat (LJSDA) juga menyebutkan kenaikan per­mintaan minyak sawit mentah (CPO) oleh pasar dan penurunan produksi juga membuat harga na­ik selama bulan Februari. Aki-batnya, harga CPO di salah satu bursa CPO, yaitu di Kuala Lum­pur, Malaysia, naik dari 1.398 ringgit per ton pada Januari men-jadi 1.445 ringgit per ton pada bulan Februari. Harga pada bulan Februari itu merupakan harga rata-rata tertinggi bulanan pada tahun 2005-2006 ini.

Derom mengatakan, ada ke-cenderungan harga akan naik pa-da beberapa bulan ke depan. La­poran dari lembaga internasional juga menyebutkan hal yang sama.

CPO diperkirakan akan diper-dagangkan pada harga 1.400 ring­git hingga 1.600 ringgit. Sejumlah analis menyebutkan harga akan mencapai 1.600 ringgit pada awal April tahun ini.

Meski demikian, kenaikan har­ga tidak terjadi di dalam negeri akibat menguatnya rupiah terha-dap dollar AS.

Biodiesel

Derom mengatakan, kenaikan harga itu dipicu oleh penggunaan CPO untuk biodiesel di Belanda. Saat ini sejumlah pembangkit di Belanda mulai beroperasi. Di sisi lain, Jerman yang menggunakan canola untuk biodiesel terpaksa juga menaikkan impor CPO un­tuk menggantikan canola sebagai minyak konsumsi.

Permintaan akan mengalami kenaikan juga akibat pembebasan kuota oleh China . Negara ini ter-masuk salah satu importir CPO yang terbesar.

Sementara itu laporan penu­runan produksi terjadi di Malay­sia juga mengakibatkan pening-katan harga. Produksi Januari ta­hun ini lebih rendah 19 persen dibanding produksi pada bulan yang sama tahun lalu. Penurunan produksi terjadi akibat rendah-nya produktivitas tanaman sejak November tahun lalu.

Kemungkinan penurunan pro­duksi masih akan terjadi karena

dugaan fenomena La Nina yang menyebabkan hujan yang lebat akan terjadi dalam waktu dekat. Akibatnya, banjir bisa merusak perkebunan.

Belum mencemaskan

Kenaikan permintaan CPO un­tuk biodiesel belum mencemas­kan kalangan pengusaha minyak goreng di dalam negeri. Mereka memperkirakan penggunaan bio-disel di dalam negeri baru akan terjadi beberapa tahun ke depan. Meski demikian perlu diantisi-pasi.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indone­sia Thomas Darmawan menga­takan, sampai saat ini pengguna­an CPO untuk biodiesel di Indo­nesia tidak secepat di negara ma-ju. "Permintaan CPO untuk mi­nyak goreng masih kompetitif di Indonesia . Produksi minyak go­reng tidak terganggu. Apalagi kita cenderung mengarahkan jarak untuk biodiesel," katanya.

Meski demikian, fenomena ini perlu diantisipasi. Problem yang dihadapi bila permintaan CPO untuk biodiesel dan minyak go­reng naik adalah pengembangan lahan, bibit dengan produktivitas tinggi, dan suku bunga bank.

"Kalau biodiesel sudah komer-sial dan pemerintah sudah me-ngeluarkan standar penggunaan bahan-bahan untuk biodiesel, maka persaingan penggunaan CPO akan terjadi," ujar Thomas.

Thomas berharap departemen terkait mengantisipasi perminta­an komoditas yang dikonversi menjadi bahan bakar alternatif seperti singkong, tetes, dan CPO. Begitu biodiesel sudah kompe­titif, maka penggunaan energi itu akan cepat berkembang. (MAR)

JAKARTA , KOMPAS
Sumber : Kompas
 

~ Pengembangan Teknologi Energi Alternatif

Perusahaan yang Meriset Iptek Dapat Insentif

Dua program penguatan dan pengem­bangan energi alternatif mulai tahun 2006 akan makin diting-katkan oleh Kantor Menteri Ne-gara Riset dan Teknologi.

Pertama, pengembangan teknologi energi alternatif cair beserta infrastruktur pendukung-nya. Kedua, peraturan pendu-kung berupa pemberian insentif keringanan pajak pada badan-ba-dan usaha yang bersedia mela-kukan riset di bidang sains dan teknologi.

"Insentif ini berbentuk insentif perpajakan, kepabeanan, serta bantuan teknis penelitian dan pe­ngembangan," kata Menteri Ne-gara Riset dan Teknologi Kus-mayanto Kadiman dalarn perbin-cangan de.ngan Kompas pekan la-lu di Jakarta . la didampingi Dewi Odjar Ratna Kumala, Asisten De-puti Pengembangan Promosi dan Pemasaran Iptek, dan Chandra M Mangan, Asisten Deputi Menneg Ristek Bidang HAKI.

"Saya sekarang ini terus men-dorong bagaimana agar lembaga kami bisa menjalin kerja sama dengan lembaga dan departemen lain, bagaimana mencapai kecu-kupan teknologi, kecukupan obat, dan bisa segera menjawab ke-butuhan energi alternatif itu," tu-tur Kusmayanto.

Dia mengatakan, pihaknya sebenarnya terus menyiapkan pengembangan energi alternatif, yaitu bahan bakar cair nabati, berupa biodiesel dari minyak sa-

wit dan minyak buah jaralc. Di luar itu dikembangkan energi al­ternatif batu bara cair, singkong, dan tebu.

Kusmayanto menegaskan, pe­ngembangan dan kebutuhan mendesak akan energi alternatif tidak bisa ditawar lagi. "Tetapi mata rantainya panjang, dari pembibitan^ pohon, proses jadi bahan baku , proses produksi da-lam jumlah besar. Prosesnya pan­jang. Itu sebabnya, kondisi in-dustri yang mengembangkan ba­han bakar tadi harus ditumbuh-kan, diberi dorongan," katanya.

Tinggal tunggu pengesahan

Sebelumnya, pada hari yang sama Menneg Ristek dalam pa-paran singkat Agenda Riset Na-sional 2006-2009 menjelaskan, pemerintah akan mengeluarkan peraturan tentang pemberian in­sentif bagi badan usaha yang me-lakukan riset iptek di Indonesia, yang meliputi kegiatan inovasi, perekayasaan, dan difusi tekno­logi. Rancangan Peraturan Pe­merintah (RPP) tentang Insentif Riset Badan Usaha itu saat ini tinggal menunggu pengesahan-nya oleh Presiden.

Kebijakan ini diharapkan da-pat meningkatkan kinerja pro­duksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan. Keterlibatan swasta dalam kegiatan riset ino­vasi dan perekayasaan memang sangat diharapkan mengingat ke-terbatasan pendanaan dari pe­merintah.

Dalam APBN tahun 2006, Ris­tek hanya mendapat anggaran 0,01 persen atau Rp 1,4 triliun. Selama ini riset oleh -pihak in-dustri swasta dilakukan oleh per-usahaan induk atau pusatnya di luar negeri, sedangkan perusa-haan yang berada di Indonesia hanya melakukan perakitan.

Kusmayanto menjelaskan, da­lam Bab III Pasal 5 dan 6 PP tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha dise-butkan, badan usaha yang meng-alokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan, inovasi, dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan dapat diberi insentif oleh peme­rintah.

Untuk pengesahan RPP ini oleh Presiden, Kusmayanto telah mengajukan surat pengajuan RPP Insentif Riset Badan Usaha ini kepada Presiden, setelah lama dibahas di 22 lembaga terkait dan melewati proses harmonisasi de­ngan undang-undang lain di De­partemen Hukum dan HAM. Harmonisasi KPP ini dilakukan terutama terhadap peraturan perpajakan yang tidak sejalan.

Keluarnya peraturan ini diakui akan berdampak terhadap ber-kurangnya pendapatan Ditjen Pa­jak. Namun, dalam UU Pajak su-dah ada pasal yang mengatur ten­tang insentif ini sehingga keten-tuan ini dapat segera dilaksa-nakan.

(WHY/YUN/HKD)

JAKARTA, KOMPAS

 

~ Langkah Positif Kebijakan Energi Nasional

 

Menunggu Ketentuan Kadar Campuran
 

- Kebijakan pemerintah terkait kebijakan energi nasional dinilai se-bagai langkah positif untuk mengembangkan bahan bakar alternatif. Namun, kebijakan itu belum lengkap tanpa keputusan tentang kepastian kadar campur-an biodiesel dan bioetanol pada minyak solar dan bensin.

Di sisi lain, pemerintah telah menetapkan target dua persen biodiesel dari keseluruhan ke-butuhan energi nasional pada ta-hun 2009 mendatang. Dua per­sen itu diperkirakan setara de-ngan 720.000 kiloliter. "Selania belum ada kejelasan kadar cam-puran, pencapaian target berpo-tensi tersendat," kata Kepala Ba-lai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Ir Soni Solistia Wirawan MEng da-lam lokakarya biofuel oleh Koperasi Mitra-Komunitas Mi-gas Indonesia di Jakarta, Selasa (4/4).

Dijelaskan Soni, ketersendatan salah satunya- disebabkan biodie­sel yang diproduksi tidak dapat dipasarkan melalui stasiun peng-isian bahan bakar umum (SPBU). Bila hal itu dilakukan, sebelum adanya keputusan resmi peme­rintah yang memperbolehkan-nya, maka dikategorikan melang-gar undang-undang.

Kadar campuran dan pemasarannya melalui SPBU, maka investor akan dapat memproyeksikan in-vestasinya. Adapun kadar cam­puran yang diusulkan Forum Bi­odiesel minimal sepuluh persen dari setiap volume solar. Usulan lain, berkisar lima persen.

 Berdasarkan roadmap biodiesel nasional, pencapaian target dua persen biodiesel, membu-tuhkan dukungan 8-25 unit pabrik berkapasitas' 30.000-100.000 ton per tahun. Kini, kapasitas terpasang yang ada masih jauh dari perhitungan itu.

Selain BPPT yang mengope-rasikan pabrik berkapasitas 1,5 ton per hari, beberapa pabrik milik perorangan juga beroperasi dengan kapasitas yang sama.

biodiesel di Indonesia dipastikan akan melonjak bila komitmen pe­merintah berjalan lancar. "Tahun ini saja harus selesai dibangun empat pabrik berkapasitas 20 ton per hari. Belum termasuk enam pabrik berkapasitas 1,5 ton per hari," kata Ir Makmuri Nuramin dari BPPT yang aktif dalam prog­ram aksi biodiesel pemerintah.

Pihak BPPT juga telah mem-bangun pabrik berkapasitas tiga ton per hari yang akan selesai pertengahan tahun 2006.

Dihubungi terpisah, Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ratna Haryati menegaskan, pemerintah telah menetapkan kadar campur­an sepuluh persen biofuel. Bah-kan, Standar Nasional Indonesia (SNI)-nya sudah keluar nomor-nya. Hanya saja, SPBU masih belum diperbolehkan mencam-pur biofuel. "Masih diperlukan satu keputusan lagi yang me­negaskan pemberlakuannya," ka­ta Ratna.

Keputusan campuran sepuluh persen didasarkan pada hasil pe-nelitian yang membuktikan per-sentase itu masih dalam taraf aman. Di beberapa negara, cam­puran biodiesel pada solar bah-kan mencapai dua puluh persen


Sumber : Kompas

 
Halaman 559 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook