Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Analisa Manfaat Biaya Bendungan Multifungsi di Nongkojajar

ANALISA MANFAAT BIAYA BENDUNGAN NONGKOJAJAR KECAMATAN TUTUR KABUPATEN PASURUAN

Bendungan Nongkojajar merupakan bendungan multifungsi yang terletak di Kabupaten Pasuruan. Rencana lokasi proyek ini terletak terletak di desa Gendro Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan dan direncanakan pembangunan bendungan ini akan menelan biaya sebesar Rp. 233.756.577.932,65. Sehingga dengan biaya yang cukup besar maka perlu dilakukan suatu analisa untuk menilai kelayakan proyek tersebut, salah satunya adalah analisa manfaat biaya. Analisa manfaat biaya menggunakan metode BCR (Benefit Cost Ratio) untuk mengetahui nilai ratio perbandingan antara benefit dengan cost. Benefit yang dianalisa adalah peningkatan hasil pertanian akibat adanya irigasi saja.

Disbenefit yang dianalisa adalah penurunan produksi pertanian dan perkebunan akibat pemakaian lahan masyarakat, sedangkan biaya (cost) yang dianalisa adalah : biaya investasi, biaya operasional serta biaya pemeliharaan dan perawatan. Untuk Analisa Manfaat Biaya yang dianalisa hanya manfaat irigasi saja. Apabila belum memenuhi kelayakan maka dianalisa manfaat lain yaitu air baku dan dianalisa semua manfaat bendungan tersebut.

Nilai manfaat diperoleh dari penambahan nilai manfaat sebelum dan setelah proyek dan untuk biaya diperoleh dari biaya konstruksi (RAB) dan biaya operasional serta pemeliharaan. Dengan menggunakan metode BCR didapat rasio perbandingan sebesar -0,62. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proyek Bendungan Nongkojajar ini tidak memenuhi persyaratan kelayakan jika hanya ditinjau dari manfaat irigasi saja. Sedangkan BCR untuk bendungan multiguna adalah -0,59 dengan menambahkan manfaat air baku dan ini menunjukkan bahwa proyek ini masih belum memenuhi kelayakan. Sehingga perlu dilakukan peninjauan terhadap manfaat lain yang bersifat tangible maupun intangible.


Alt. Description

Nongkojajar dams are multifunction dam that locate in Kabupaten Pasuruan. The location plan of this project will be at Gendro village Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan and this project may cost Rp.233.756.577.932,65. There for with a lot of cost needed we necessary to do some analysis to know if this project qualified or not, one of it with benefit cost analysis. The objective of benefit cost analysis using BCR (Benefit Cost Ratio) methode is to know the ratio between benefit and cost. The benefit which analyze is only the farm production raise because of the irrigation. The disbenefit which analyze is the farm production descent because of land villager using, and then the cost which analyze is investement cost, operational cost and maintenance cost. For Benefit Cost Analysis only the irrigation benefit that analyzed.

If its not qualified enough than analyze the other benefit which is water supply and all benefit of that dam were analyzed. The Benefit Value come from the increase of before and after project benefit velue and the cost come from construction cost and operational cost and also maintenance. By using BCR methode has got the comparation ratio about -0,62. So that project of Nongkojajar Dams is not qualifed if only observed from irrigation benefit. Whereas BCR for multifunction dam the result is -0,59 by added water supply benefit and the result still not qualified. So that need an observation to the other benefit that have a character tangible and intamgible.

Created by WAHYUDI, M. NUZUL

 

~ Krisis Listrik Di Jawa Timur Berlangsung Lama

Waduk Mengering, Jawa Timur Krisis Listrik

Krisis listrik yang terjadi di Jawa Timur kemungkinan akan berlangsung dalam waktu cukup lama. Pasalnya, dua Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di eks Karesidenan Kediri terancam tidak dapat memproduksi listrik secara normal. Empat waduk yang menjadi penopang operasional terus mengalami penyusutan debit air.
Data dihimpun menyebutkan, 4 waduk yang saat ini terus mengalami penyusutan debit air adalah Bendungan Wlingi dan Bendungan Lodoyo di Kabupaten Blitar, yang menjadi
penopang operasional PLTA Lodoyo, serta Bendungan Wonorejo dan Niyama di Tulungagung yang menjadi penyangga kebutuhan air pada operasional PLTA Wonorejo. Hingga pertengahan November 2009, debit air di 4 waduk tersebut terus menyusut hingga tinggal 50 persen.
"Kalau untuk penyebab jelas karena kemarau, karena memang waduk yang berupa bendungan itu mendapatkan suplai air dari sungai-sungai kecil di sekitarnya. Kami menganggapnya sudah sangat parah," kata Asisten Manajer Area Pelayanan Jaringan (APJ) PLN Kediri Ustriadi, Minggu (15/11) kemarin.
Dicontohkan Ustriadi, Bendungan Wlingi yang berfungsi membangkitkan PLTA Lodoyo dengan daya yang dihasilkan sebesar sebesar 27 megawatt (MW), saat ini hanya bisa
memproduksi separonya. Demikian pula Bendungan Lodoyo yang mengalami kondisi serupa, dari kemampuan semestinya dapat memproduksi listrik sebesar 1x2,7 MW. "Rata-rata memang mengalami penurunan sampai 50 persen dari kondisi semestinya. Ini karena jam berputarnya turbin menjadi sangat pendek," paparnya.
Sementara Bendungan Wonorejo juga tak jauh berbeda. Pasokan air dari Kali Bodeng dan Wlingi ke bendungan dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami penyusutan. Bahkan lebih parah dari dua waduk yang ada di Kabupaten Blitar. Akibatnya, mesin pembangkit listrik minihydro berkapasitas 2 x 118 kilowatt (KW)  yang terpasang hanya mampu memenuhi kebutuhan listrik di lokasi bendungan itu sendiri.
Dampak dari terjadinya penurunan produksi listri di 2 PLTA tersebut, secara langsung berimbas pada pasokan listrik ke gardu induk di Waru, Sidoarjo. Hal ini yang menjadikan pasokan listrik di Jawa Timur, serta secara luas di Jawa-Bali menjadi terganggu, berujung dilakukannya pemadaman bergiliran. "Di Jawa-Bali pasokan listrik memang disambungkan secara interkoneksi, jadi kalau bermasalah di induknya, ya semua gardu pembantu akan terganggu," pungkasnya. (dtc/udi)

KEDIRI-
 

~ Bendungan Dan PLTA Bakaru Direncanakan 2014

2014 Akan Dibangun Waduk dan PLTA Bakaru

PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara (Sultanbatara) umumkan jika tahun 2014 akan membangun waduk dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Bakaru Kabupaten Pinrang.

"Masalah besar PLTA bakaru saat ini adalah sedimentasi. Jadi kami akan membangun Waduk dan satu lagi PLTA pada tahun 2014 di sungai Bakaru, " kata Manager Transmisi dan Distrubusi PLN Wilayah Sultanbatara, A Lakipadada, Rabu di Makassar.

Menurutnya, dengan penambahan dua turbin PLTA dan pembangunan Waduk di sekitar sungai Bakaru adalah salah satu cara untuk meminimalisir dampak sedimentasi sungai Bakaru, yang walau dikeruk tetap saja lumpur sungai mengendap.

Pembangunan Waduk atau DAM dan PLTA ini juga telah dianggarkan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN Sultanbatara.

"Pembangunan Waduk ini sama dengan pembangunan satu PLTU yang baru, " ungkapnya

PLTA Bakaru yang berlokasi di Desa Ulusaddang, saat ini merupakan pembangkit listrik terbesar di Sulawesi Selatan (Sulsel), dengan daya mampu 126 MW atau dapat memasok 30% kebutuhan listrik di Sulsel.

Namun karena terjadi endapan lumpur sungai dan kurangnya debit air karena musim kemarau membuat daya produksi listrik menurun sehingga dengan pembangunan Waduk atau DAM di sekitar sungai Mamasa dapat menanggulangi krisis listrik.

"Kami yakin pembangunan ini akan sangat efektif, bukan hanya untuk mengatasi sedimentasi tapi juga menambahan produksi listrik, " jelasnya.

Makassar (ANTARA News) -
 

~ PLTA Parakankondang Milik PLN Lumpuh Total

      PLTA Parakankondang Lumpuh
 


Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Parakankondang milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Dusun Parakankondang, Desa Kadujaya, Kec. Jatigede, Kab. Sumedang, sejak Senin (1/6) lumpuh total.

Pasalnya, saluran dan pintu masuk air pemutar turbin generator PLTA Parakakondang di Blok Eretan tepian Sungai Cimanuk Desa Kadujaya, Kec. Jatigede itu, terkubur material tanah longsor dari tebing yang kini tengah digarap untuk pembuatan bendungan Waduk Jatigede. Meski melumpuhkan produksi listrik PLTA Parakankondang, longsor itu tidak sampai menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Berdasarkan pantauan "PR", Selasa (2/6), saluran dan pintu masuk air dari Sungai Cimanuk menuju terowongan air pemutar turbin generator PLTA itu, terkubur tanah longsor. Selain itu, titik longsor sepanjang lebih kurang seratus meter di bawah lahan projek Waduk Jatigede, masih terus bergerak turun. Akibatnya, longsoran itu merusak saluran berikut fasilitas bangunan di areal kontrol pintu masuk air PLTA .

Sementara itu, aktivitas sejumlah alat berat dan truk-truk besar yang sedang menggarap lahan untuk bendungan Waduk Jatigede di bagian atas tebing, masih terus beroperasi. Untuk mencegah agar masyarakat tidak mendekati areal yang terkena longsor tersebut, Polsek Jatigede sudah menutup area itu dengan memasang garis pengaman polisi. "Kami sudah menempatkan sejumlah anggota untuk berjaga-jaga," ujar Kapolsek Jatigede Ajun Komisaris Johny.

Manajer Teknik Unit Bisnis Pembangkitan Saguling dari Indonesian Power, Bambang Husono, menyebutkan bahwa longsor yang menutup saluran dan pintu masuk air penggerak turbin PLTA itu mulai terjadi sejak Sabtu (30/5).

"Sementara itu, longsor besar hingga menutup pintu air itu, terjadi pada Senin pagi kemarin sekitar pukul 7.30 WIB. Sejak itulah, pasokan air dari Cimanuk ke PLTA terhenti total," katanya.

Bambang menyebutkan bahwa longsor itu terjadi karena kondisi tanah yang labil dan juga terpicu pengerjaan projek Waduk Jatigede.

Tidak menggangu

Meski demikian, Bambang mengakui terhentinya produksi dan pasokan listrik dari PLTA Parakankondang tidak akan sampai mengganggu pasokan listrik bagi para pelanggan di tiga wilayah tersebut. Pasalnya, pasokan listrik yang hilang dari PLTA Parakankondang sebesar itu, masih bisa tertutupi pasokan listrik dari sejumlah PLTA besar dalam jaringan interkoneksi tersebut.

Saat ditanya nilai kerugian PLN akibat terhentinya produksi listrik PLTA itu, Bambang menyatakan cukup sulit menentukan nilai persis kerugiannya.

Sementara itu, pihak Satuan Kerja Projek Waduk Jatigede, sendiri hingga siang kemarin belum bersedia memberikan keterangan terkait longsor dari lokasi garapan projeknya itu. Salah seorang staf teknis Satker Projek Waduk Jatigede Adi Wibowo, menyatakan sementara ini pihaknya belum bisa memberikan penjelasan, dengan alasan masih harus menyusun dan membuat notulen hasil rapat pembahasan masalah tersebut terlebih dahulu. (A-91)***

SUMEDANG, (PR).-

 

~ Pembangunan Waduk Serbaguna Jatigede

 Pembangunan Waduk Jatigede

SUDAHKAH RENCANA PEMBANGUNAN JATIGEDE DIKAJI SECARA KOMPREHENSIP ? PEMBANGUNAN Waduk Serbaguna (PWS) Jatigede, yang direncanakan pemerintah sejak tahun 1963 berlokasi di Kabupaten Sumedang, propinsi Jawa Barat, Sepertinya sudah final dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah Jawa Barat, sudah tak sabar lagi untuk segera melaksanakan proyek yang diperkirakan akan menelan biaya triliunan rupiah. Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan dalam sebuah pernyataan nya sebagaimana yang dimuat di harian Kompas, jumat 12 September 2003, mengatakan bahwa pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang akan terus dilanjutkan meskipun ada sebagian masyarakat yang menolak. Gubernur menyatakan, keberadaan waduk itu sangat penting bagi masyarakat di pantai utara Jabar yang selama ini menjadi lumbung pangan.

Selain itu, tim khusus yang dibentuk Gubernur Jabar untuk menangani Waduk Jatigede saat ini tengah mencari alternatif lokasi lain untuk menjadi lokasi waduk. Titik-titik pembangunan konstruksi utama waduk dan bendungan dalam desain lama akan dipikirkan ulang dan dicari kemungkinan pemindahannya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan JATIGEDE akan dilaksanakan. Sudahkah dikaji secara komprehensip ? Pembangunan mega proyek yang menurut rencananya akan diperuntukkan bagi pembangunan di sektor pertanian (irigasi) di wilayah utara yaitu bagi daerah Indramayu, Majalengka dan Cirebon, serta pencegah banjir di wilayah kabupaten Indramayu, diperkirakan akan menenggelamkan 5 kecamatan dan 30 desa dengan jumlah penduduk sekira 7163 KK atau sekira 70.000 jiwa.

Dan, akan menenggelamkan areal lahan yang akan tergenang sekira 4896,22 ha. Ini berarti sekira 20% dari luas areal lahan pertanian di Kabupaten Sumedang akan hilang karena tergenang atau luas lahan sawah (pertanian) di Kabupaten Sumedang yang semula seluas 33.672 ha akan berkurang menjadi 26.934 ha. . Bila rencana tersebut akan menjadi kenyataan, ini berarti bahwa produksi beras di Kabupaten Sumedang akan berkurang sekira 80.000 ton per tahun atau senilai sekira Rp 120 miliar/tahun dengan harga gabah Rp 1.500.000 per ton.(Opan S Suwartapraja ? Kandidat Doktor ? Lembaga Penelitian UNPAD ? 26 Maret 2006)

Memiliki Potensi Kerentanan Tanah yang rawan longsor. Keadaan fisik Jatigede memiliki potensi rawan longsor. Hal ini pernah dikemukakan oleh geolog dari Geologi Tata Lingkungan (GTL), yang menyatakan bahwa lokasi bendungan atau dam site PWS Jatigede termasuk kategori daerah labil, daerah patahan dan sering terjadi gempa. Harian ini juga memberitakan bahwa di daerah rencana genangan PWS Jatigede telah terjadi tanah amblas sedalam 3 M di Blok Asem Desa Cijeungjing Kecamatan Cadasngampar yang menimbulkan terputusnya ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Wado dengan Tomo yang melintasi dam site, sebanyak 34 buah rumah retak-retak karena amblas sedalam 1,5 M serta 59 buah rumah lainnya terancam longsor. Begitu pula di luar rencana PWS Jatigede telah terjadi hal yang sama yaitu di Dusun Pamelangan Desa Cikade Kecamatan Jatigede ("PR", 17 Maret 2004).

Masalah lain dari aspek fisik ini adalah gundulnya hutan-hutan di daerah hulu sungai. Gundulnya hutan di hulu Sungai Cimanuk ini menjadikan mudah banjir di musim hujan dan cepat kering di musim kemarau. Banjirnya Sungai Cimanuk yang mudah terjadi pada setiap saat ini akan meningkatkan erosi, sehingga Sungai Cimanuk selain terkenal karena derasnya juga terkenal mempunyai tingkat erosi yang tinggi, sehingga akan meningkatkan sedimentasi yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap umur bendungan. (Sumber : Lembaga Penelitian UNPAD)

Hal lain yang harus diperhitungakan secara matang ,bagaimana dengan nasib puluhan ribu orang warga yang dengan terpaksa harus meninggalkan daerahnya yang selama ini sudah hidup berpuluh-puluh tahun secara turun temurun. Mereka harus memulai baru bagi segala sesuatunya. Puluhan ribu orang akan kehilangan pekerjaannya, terutama yang selama ini hidupnya dari hasil pertanian, baik palawija maupun sawah. Pemerintah selama ini tidak memiliki pengalaman yang bagus dalam relokasi dalam jumlah yang banyak. Dan sampai dengan saat ini pemerintah belum memiliki skenario yang jelas dan pasti berkaitan dengan relokasi masyarakat jatigede yang daerahnya akan tergenang. Pemerintah, baik pusat maupun pemerintah daerah Jawa Barat merasa yakin betul, bahwa pembangunan Proyek Waduk Serbaguna (PWS) merupakan satu-satunya cara yang dapat menyelesaikan masalah kekeringan dan banjir di sebagian wilayah PANTURA.

Pertanyaannya sudahkah dikaji secara komprehensip?. Waspadai : bias pada bendungan besar Menurut DAVID SUTASURYA Direktur YPBB (Yayasan Bio Science Dan Bio Teknologi) dalam sebuah tulisannya tentang DAM Jatigede mengatakan Komisi Bendungan Dunia menemukan bahwa semua proyek bendungan besar, tidak saja mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial secara memadai, tetapi juga bahwa sebenarnya ada alternatif untuk memecahkan masalah yang sama, tetapi tidak dipertimbangkan secara memadai dan setara. Bias pada bendungan besar telah meminggirkan alternatif-alternatif yang lebih efektif, mudah dan berkelanjutan.

Contoh kasus : Pada kasus Bendungan Nam Theun 2 di Laos, Bank Dunia mempromosikan bahwa bendungan ini akan meningkatkan penghasilan penduduk Laos. Namun pada kenyataannya tidak ada kajian komprehensi tentang alternatif-alternatif apa yang sebenarnya ada untuk meningkatkan pendapatan. Tidak ada analisis tentang bagaimana sumberdaya di daerah tersebut dapat dikelola untuk menyeimbangkan perlindungan Daerah Aliran Sungai dan meningkatkan penghidupan, tanpa harus menanggung konsekuensi dampak negatif dari bendungan Nam Theun 2. Pertimbangkan track record bendungan lain Masih menurut David dalam sebuah diskusi publik yang diselenggarakan WALHI JABAR, mengemukan ,terkait dengan hal tersebut, maka cara terbaik adalah melihat track record dari bendungan-bendungan lain.

Track record dapat dilihat secara global, mengingat proyek bendungan biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Selain itu track record secara lokal juga penting untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada situasi sosial, ekonomi dan alam lokal. Secara global, komisi bendungan dunia menemukan bahwa : 1. Dampak sosial bendungan adalah luar biasa, namun biasanya diabaikan. Satu persen penduduk dunia harus tersingkir dari tanah kelahirannya, kehilangan ikatan budaya, mendapat tempat tinggal yang kurang subur bahkan di daerah-daerah kumuh perkotaan. Banyak diantaranya dipindahkan secara paksa. 2. Dampak lingkungan bendungan sangat besar, sukar diantisipasi dan sulit diatasi : misalnya punahnya spesies ikan lokal, hilangnya hutan, lahan basah dan lahan pertanian yang subur.

Bahkan bendungan diperkirakan merupakan kontributor seperempat dari total pemanasan global, akibat metan dan karbondiakosida yang dikeluarkan dari proses dekomposisi tumbuhan yang tergenang. Dampak negatif ini biasanya tidak diperhitungkan sebelumnya dan langkah untuk memecahkannya tidak dilakukan. 3. manfaat yang dipromosikan seringkali tidak tercapai atau akhirnya memberikan hasil sebaliknya : a. bila bendungan dikatakan akan menyelamatkan lahan pertanian melalui sistem irigasi, ternyata 20% permukaan bumi telah rusak akibat penggaraman yang terjadi akibat irigasi dari bendungan. b. Bendungan dikatakan sebagai tempat penyimpanan air yang efektif. Namun ternyata 5% dari air tawar dunia justru menguap melalui bendungan c. Bendungan yang dikatakan sebagai sarana untuk mengontrol banjir ternyata justru meningkatkan kerentanan manusia terhadap banjir karena berbagai sebab. Antara lain : i.

Kerusakan bendungan menimbulkan banjir yang lebih dahsyat. Kerusakan ini terjadi akibat ketidaksanggupan pemerintah melakukan pemeliharaan bangunan. Semakin besar suatu bendungan, resiko jebol dan dampak yang ditimbulkan oleh banjir yang diakibatkannya semakin tinggi pula. Semakin besar suatu bendungan dibutuhkan biaya dan kemampuan sumberdaya manusia yang lebih tinggi, sesuatu yang sulit diharapkan di negara berkembang. ii. Persepsi yang salah tentang mana daerah yang aman dan yang tidak terhadap banjir. Akibatnya aset-aset bernilai ekonomi tinggi ditempatkan di kawasan yang rentan terhadap banjir (kalau bangunan jebol). Akhirnya kerugian malah lebih besar daripada kalau banjir merupakan kejadian yang rutin.

Antara 1960 dan 1985 pemerintah Amerika mengeluarkan 38 miliar dolar untuk mengontrol banjir. Sebagian besar untuk infrastruktur seperti bendungan. Tapi kerusakan akibat banjir terus meningkat lebih dari dua kalinya. d. Lebih dari setengah bendungan PLTA yang dikaji oleh KBD menghasilkan lebih sedikit energi dari yang dijanjikan e. 70% bendungan tidak memenuhi target pasokan air. Seperempat dari bendungan hanya memenuhi kurang dari setengah target pasokan. f. Setengah bendungan tidak memenuhi target irigasi. Semakin besar bendungan semakin buruk pencapaiannya. KBD memperkirakan bahwa bendungan hanya berkontribusi 12-16 persen dari total produksi makanan dunia. Sedangkan 60% nya dikontribusikan oleh pertanian tadah hujan. 4. Komisi bendungan dunia menemukan bahwa nilai ekonomi sebagian besar bendungan sebenarnya hanyalah marginal :

a. Biaya pembangunan bendungan rata-rata 56% lebih tinggi dari yang dianggarkan b. Setengah bendungan yang dikaji KBD penyelesaiannya terlambat lebih dari satu tahun Contoh perbandingan dengan kasus bendungan lain yang berdekatan : Dalam kasus Bendungan Theun-Hinboun di Laos, sebenarnya ada bendungan lain yang telah dibangun 50 kilometer ke arah hilir (didanai oleh Asian Development Bank). Namun kinerja dan dampak bendungan ini tidak dijadikan pertimbangan dalam pengambilkan keputusan dibangunnya bendungan .

Padahal, bendungan Theun-Hinboun, telah menimbulkan dampak yang besar seperti rusaknya sumber penghidupan lebih dari 25.000 orang yang tinggal di daerah hilir dan hulu bendungan, termasuk berkurangnya penangkapan ikan, rusaknya kebun sayur, sumber air minum di musim kering dan sulitnya transportasi melalui sungai. Bila semua hal di atas dipetimbangkan, jelas bahwa pembangunan bendungan adalah investasi berisko besar baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Karena itu kita perlu meminta pemerintah untuk segera melakukan : Kajian alternatif secara komprehensif, di mana semua pilihan untuk memecahkan masalah yang akan dipecahkan melalui pembangunan bendungan dipertimbangkan secara setara. (Sumber : Lakukan Kajian Secara Komprhensip- David surya) Pemerintah berhak menjawab pertanyaan tersebut diatas. Tentu saja ini menjadi penting untuk dijawab secara jujur oleh pemerintah, mengingat kegiatan proyek tersebut memiliki potensi yang dapat membahayakan keberlangsungan kehidupan manusia saat ini dan yang akan datang. Baik dari aspek soial maupun lingkungan.

Tags: Pembangunanwaduk
 
Halaman 559 dari 1038
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook