Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Perkembangan Energi Alternatif di Indonesia

Menyikapi krisis dan Perkembangan Energi Alternatif di Indonesia

Dalam rangka rangkaian LUSTRUM 9 HMTG FT UGM (Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada) mengundang 2 wakil dari Instansi untuk mengikuti Seminar nasional ”Menyikapi krisis dan Perkembangan Energi Alternatif di Indonesia

Tempat: Auditorium MM-UGM, Jl. Kaliurang KM 4,5, Yogyakarta

Seminar terbagi atas 4 sesi, yaitu:
I: Kondisi perminyakan di Indonesia serta pemanfaatan gas alam sebagai energi alternatif.
II: Pemanfaatan panas Bumi (geothermal0 sebagai energi alternatif
III: Pemanfaatan bahan bakar nabati (Biofuel) sebagai energi alternatif
IV: Presentasi poster

Pembicara:
1. Purnomo Yusgiantoro (Menteri ESDM)
2. Bp. Awang Harun Satyana (Eksplorasi BP Migas)
3. Al Hilal Hamdi (Komisaris Utama PLN & Ketua Nasional bahan Bakar nabati)
4. Suroto (Direktur Renbang Pertamina Geothermal Energy)

Contact person
Pendaftaran: Arie (0818 0274 7206)
Konfirmasi kehadiran: Wiret (0818 0274 7206)
Sekretariat: Jl. Grafika 2 kompleks fak. Teknik UGM, Yogyakarta. Tlp (0274) 901380, 513668

 

~ Pemanfaatan Briket Jarak

 Semua Bisa Mandiri Energi

Enam bulan terakhir, Karnadi, warga Dusun Sono, Desa Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, punya kesibukan baru. Pria berusia sekitar 60 tahun itu kini bertanam jarak bersama sepuluh rekannya yang tergabung dalam Kelompok Tani Sri Rejeki. Satu kelompok mendapat jatah menanam bibit jarak pada demplot seluas 2,5 hektar.

"Sampai sekarang sih belum menghasilkan. Mungkin baru beberapa bulan lagi panen," ujar Karnadi, yang menjabat sebagai ketua kelompok tani itu.

Selain bantuan bibit jarak, Karnadi juga mendapat bantuan kompor briket jarak. Bentuk kompor itu mirip dengan kompor minyak tanah biasa. Namun, bagian tengah kompor terdapat cekungan untuk menampung briket jarak.

Satu kompor bisa menampung sepuluh buah briket yang bisa digunakan untuk memasak selama dua jam. Dengan harga Rp 100 per butir, memasak dengan briket ini jelas jauh lebih irit dibandingkan dengan menggunakan minyak tanah. Apalagi, harga minyak tanah mencapai Rp 2.600 per liter.

"Tetapi, kompor itu belum pernah saya pakai," ujar Karnadi malu-malu. "Soalnya saya enggak mengerti cara memakainya. Apa kompor itu bisa dipakai seperti kompor minyak tanah, ya?" ujarnya sambil menunjukkan kompor yang masih terbungkus plastik.

Karnadi mengaku belum pernah mendapat pengarahan soal penggunaan kompor minyak jarak. Namun, dia sudah mendapat penyuluhan dari Dinas Kehutanan Grobogan soal bertanam jarak dan apa peranan minyak jarak di masa mendatang.

Karnadi adalah salah satu anggota dari 21 kelompok tani binaan PT Energi Hijau Lestari atau Enhil. Perusahaan itu mengolah biji jarak menjadi berbagai produk, seperti minyak jarak, briket, dan sabun. Produk-produk itu nantinya dipasarkan lagi kepada masyarakat sehingga masyarakat menjadi mandiri.

"Inilah yang dimaksud Desa Mandiri Energi, masyarakat tidak lagi bergantung pada pemerintah. Masyarakat bisa menyediakan sendiri sumber energinya," ujar Hartono, Direktur PT Enhil.

Kepastian harga

Untuk menciptakan DME memang tidak mudah. Yang utama, niat itu harus muncul dari masyarakat. Mereka bersedia menanam jarak, tetapi masyarakat kesulitan mengolahnya. Oleh karena itu, masyarakat harus mendapat kepastian bahwa biji jarak yang mereka tanam akan ditampung dan diolah oleh pabrik.

"Pabrik ini didirikan sebagai jaminan bahwa kami akan membeli biji jarak dari mereka," kata Hartono.

Setiap kelompok tani kecamatan itu diikat dengan perjanjian berupa kepastian pembelian dan kepastian harga. Dengan perjanjian itu, pasokan jarak dari petani terus mengalir sehingga pabrik bisa terus berproduksi.

Pabrik itu didirikan di atas lahan seluas 10.525 meter persegi dengan luas bangunan 1.200 meter persegi. Pabrik juga dilengkapi dengan tiga unit mesin expeller dengan kapasitas 2,5 ton, satu unit mesin pembuat sabun, satu unit mesin pengupas biji jarak, dan satu unit mesin pembuat briket.

PT Enhil membeli biji jarak petani dengan kulitnya seharga Rp 700 per kilogram. Apabila sudah dikupas, harga biji jarak berkisar Rp 700-Rp 1.000 per kilogram. Perusahaan itu juga menerima jasa pengolahan biji jarak menjadi minyak jarak. Ongkos pengolahan minyak jarak adalah Rp 500 per liter.

Ampas jarak

Minyak jarak hasil olahan pabrik juga dijual dengan harga Rp 1.500 per liter. Sedangkan ampas jarak dimanfaatkan oleh perusahaan untuk briket dan sabun antiseptik. Briket itu dijual dengan harga Rp 100 per buah dan sabun dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 500 per buah.

"Harganya sangat terjangkau bagi masyarakat kecil," kata Hartono. Dengan harga murah dan kembali ke masyarakat, banyak yang mempertanyakan dari mana PT Enhil mendapat keuntungan. "Saya hanya tertawa. Mereka lupa, jarak itu banyak sekali mendatangkan untung. Air cucian dan kulit jarak saja laku," ujarnya.

Air cucian biji jarak dibeli oleh sebuah perusahaan Korea. Air cucian jarak ternyata mengandung unsur NPK sehingga bermanfaat untuk pupuk. Sedangkan endapan dari hasil pengepresan biji jarak laku dijual hingga Rp 10.000 per kilogram. Konon, endapan itu berkhasiat sebagai obat kanker.

Sebuah perusahaan Jepang juga membeli ampas minyak jarak seharga Rp 5.000 per kilogram. Ampas itu akan diteliti khasiatnya.

Melihat kesuksesan PT Enhil membina DME di Grobogan, banyak pemerintah daerah yang tertarik mengembangkan jarak di daerahnya. PT Enhil mendapat tawaran kerja sama dari tiga kabupaten, yakni Kendal, Rembang, dan Blora.

Kebanyakan pemerintah daerah, kata Hartono, masih bingung soal konsep DME. Beberapa malah lebih mempersoalkan payung hukum. Padahal, sebagai misi sosial, pemerintah daerah tak perlu banyak tuntutan kepada masyarakat.

Biaya mendirikan DME sebenarnya cukup murah. Sedikitnya tersedia lahan seluas 250 hektar dan unit pengolahan minyak jarak mini (UPM). Biaya pembelian UPM cukup terjangkau, hanya sekitar Rp 20 juta.

"Seluruh desa sebenarnya bisa menjadi DME. Hanya saja yang penting kemauan masyarakat dan didukung sepenuhnya oleh pemerintah daerah," ujarnya.

Karnadi mengaku senang mendapat bantuan bibit dan bertanam jarak. Apalagi, jarak bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya. Namun, dia masih mempertanyakan janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan memberikan bantuan sebesar Rp 10 miliar bagi para petani jarak.

"Padahal, waktu SBY mau datang, saya ikut kerja bakti. Tetapi, kok sekarang belum juga turun bantuannya," katanya. (KHAIRINA)

Sumber : Semua Bisa Mandiri Energi…

 

~ Motor Listrik Mampu Hemat Biaya Energi 90%

Motor Listrik Hemat Energi dan Ramah Lingkungan

Sepeda motor listrik ternyata mampu menghemat biaya energi hingga 90 persen dibandingkan dengan penggunaan sepeda motor berbahan bakar bensin. 

Bahkan, kendaraan otomotif ini tergolong ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan asap dan suara bising. Teknologi ini diharapkan terus disempurnakan sebagai salah satu alternatif untuk adaptasi terhadap perubahan iklim.

Hal itu dijelaskan Teguh P Santoso, Manajer Pemasaran Divisi E-Moto PT Modern Photo Tbk, Kamis (7/6), pada pameran perkembangan teknologi transportasi di Jakarta.

Sepeda motor listrik (E-Moto/Elektrik Motor) yang telah diluncurkan pada Februari 2007 itu menggunakan energi 1,5 kilowatt jam (kWh) untuk menempuh jarak 80 kilometer pada jalan datar. Saat ini tarif dasar listrik untuk 1 kWh mencapai Rp 600, sehingga beban biaya listrik untuk jarak 80 kilometer itu hanya Rp 900.

Sedangkan untuk menempuh jarak 80 kilometer, sepeda motor konvensional diperkirakan membutuhkan bahan bakar bensin hingga 2 liter. Dengan demikian, sepeda motor itu terbebani biaya pembelian bensin Rp 9.000 untuk jarak yang sama.

"Sepeda motor listrik saat ini memang memiliki berbagai kelemahan. Tetapi, teknologi ini akan terus dikembangkan," kata Teguh.

Menurut teknisi E-Moto, Arnold Butarbutar, tiga komponen utama, yaitu baterai, dinamo, dan pengontrol kecepatan, saat ini masih diimpor dari China.

Pada saat pameran yang diselenggarakan Departemen Perindustrian ini, di antara pengunjung yang mencobanya terkesan dengan tidak adanya suara ataupun asap yang keluar dari knalpot sepeda motor listrik itu.

Arnold menjelaskan, kecepatan maksimum sepeda motor listrik itu hanya 45-50 km per jam. Berbeda dengan aki, elemen baterai yang digunakan mirip dengan baterai telepon genggam yang tanpa perawatan khusus, seperti mengisi air aki secara rutin. "Baterai cukup di-charge (diisi listrik) ulang, setiap kali listrik habis," jelas Arnold.

Sistem baterai itu dilengkapi dengan peralatan yang mampu menghentikan arus listrik utama, ketika baterai sudah penuh menyimpan listrik. Diperkirakan baterai akan melemah hingga dua tahun, dan harus diganti dengan baterai baru yang saat ini harganya mencapai Rp 500.000 per unit. (NAW)

Sumber : Motor Listrik Hemat Energi dan Ramah Lingkungan

 

 

~ PLTMH Mulai Diminati WIB

Mikrohidro Diminati di Wilayah Indonesia Bagian Timur

Pembangkit listrik mikrohidro mulai diminati oleh pemerintah daerah di wilayah Indonesia bagian timur. Sumber energi yang mengandalkan debit air dan ketinggian jatuhnya air pada sungai ini diharapkan bisa menjawab ketersediaan energi di daerah bagian timur Indonesia, terutama yang hingga kini belum teraliri oleh perusahaan listrik negara. 

Kepala Bidang Kerja Sama Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Arie Sudaryanto di Jakarta, Jumat (8/6), mengatakan, sejak tahun 2005 LIPI telah merintis pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) di Tanete, Desa Lebani, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Energi listrik yang dihasilkan sebesar 30 kilowatt dan mampu memfasilitasi listrik 24 jam kepada 100 keluarga. "Setelah LIPI berhasil membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro bersama-sama dengan pemerintah kabupaten, mereka belajar merencanakan dan mengonstruksinya sendiri. Mereka kemudian membangun empat unit PLTM, yaitu di Bungin, Potokulin, Baraka, dan Palakka Maiwa. Kini, Kabupaten Enrekang akan dicanangkan sebagai pusat pengembangan dan pelatihan PLTM di kawasan Indonesia bagian timur," ujar Arie.

Selain Enrekang, daerah lain yang tertarik untuk mengembangkan PLTM adalah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). "LIPI sudah diminta mengembangkan PLTM di sana. Dan, sudah ada lima titik yang potensial untuk dibangun, yaitu di Weboot di Kecamatan Raihat, Lahurus di Kecamatan Lasiolat, dan di Kecamatan Lamaknen terdapat tiga titik potensial. Tahun ini, satu PLTM di Weboot dengan daya 20 kilowatt mulai dibangun," kata Arie.

Di samping bersifat terbarukan, yaitu dengan memanfaatkan aliran air serta debit dan ketinggian jatuhnya air pada sungai kecil, PLTM juga bisa dikerjakan secara swakelola oleh masyarakat. "Di Enrekang, listrik dikelola oleh kelompok masyarakat setempat: dari mulai organisasi, pembayaran bulanan penyambungan baru, pemeliharaan jaringan, pemeliharaan turbin, hingga konstruksi sipil," ujarnya.

Jika dikerjakan secara swakelola, dana yang dibutuhkan untuk membangun PLTM sekitar Rp 30 juta per kilowatt.

Selain LIPI, menurut Arie, sejumlah LSM juga mulai gencar membangun PLTM. "Salah satunya adalah Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) di Sukabumi yang dipimpin oleh Tri Mumpuni. Mereka sudah mengembangkan PLTM di 50 tempat dan kami kira ini perkembangan positif di tengah defisit listrik yang melanda wilayah Indonesia," ujarnya. (AIK)

Sumber : Mikrohidro Diminati di Wilayah Indonesia Bagian Timur

 

 

~ Sumber Energi Ramah Lingkungan

Saatnya Berkendara Tanpa Asap

Asap kendaraan hasil pembakaran bahan bakar fosil adalah penyumbang terbesar gas-gas rumah kaca yang memengaruhi perubahan iklim dunia. Karena itu, sudah saatnya kini berkendara tanpa asap, yaitu dengan menggunakan sumber energi ramah lingkungan untuk menyelamatkan bumi ini dari kehancuran.

Berbagai upaya menggantikan kendaraan berbahan bakar fosil dengan energi ramah lingkungan seperti sel surya, bahan bakar nabati, atau etanol dan fuel-cell yang menggunakan hidrogen dan oksigen telah dirintis di banyak negara, termasuk juga Indonesia.

Sejak hampir sepuluh tahun lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di antaranya telah merintis pembuatan otomotif non-BBM (bahan bakar minyak).

Dua divisi di LIPI, yaitu Pusat Penelitian Fisika serta Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika, sejak 1998 sudah mengkaji potensi pengembangan teknologi transportasi berbahan bakar listrik itu. Hasil pengkajian lembaga tersebut kini sudah menghasilkan berbagai prototipe sepeda, sepeda motor, dan mobil dengan sumber energi listrik.

Kepala Pusat Penelitian tenaga Listrik dan Mekatronika Mochamad Ichwan menjelaskan, E-Moto yang dipamerkan beberapa waktu lalu telah menunjukkan terobosan penting. Terobosan itu berupa harga yang relatif murah, sehingga produk relatif terjangkau.

"Berbagai komponen seperti baterai dan dinamo untuk motor listrik sebetulnya masih cukup mahal. Tetapi, E-Moto dapat dijual dengan harga Rp 4 jutaan dengan komponen baterai dan dinamo impor dari China. Produk yang murah ini yang masih sulit ditandingi jika ingin diproduksi di Indonesia," kata Ichwan.

Dewasa ini, pihak swasta pun telah mulai memasarkan produk sejenis. Pada pameran teknologi transportasi di Departemen Perindustrian, 6-8 Juni 2007, test drive atau uji coba mengendarai sepeda motor listrik (E-Moto/Electric Motor) paling menyedot perhatian pengunjung. E-Moto dikendarai hanya di halaman parkir gedung tersebut.

Ungkapan yang paling sering terucap setelah mengendarai sepeda motor listrik dengan baterai kering itu adalah rasa heran bercampur senang karena tak ada asap dan suara bising. Berkendara dengan sepeda motor yang tanpa menimbulkan asap ternyata sudah lama menjadi harapan banyak orang.

E-Moto hasil produksi PT Honoris Indonesia di bawah PT Modern Photo Tbk yang dipamerkan saat itu bukanlah satu-satunya produk teknologi transportasi ramah lingkungan yang ada saat ini. Apalagi seperti di Jepang atau China sudah sangat populer bagi warganya untuk mengendarai sepeda listrik maupun sepeda motor listrik di tengah-tengah kota.

Kapasitas produksi

Manajer Pemasaran Divisi E-Moto PT Modern Photo Tbk Teguh P Santoso menjelaskan, produk itu telah diluncurkan Februari 2007. Perusahaannya kini memiliki kapasitas produksi mencapai 1.000 unit E-Moto dalam sebulan. Sistem baterai yang digunakan tidak jauh berbeda dengan baterai pada telepon genggam. Sama sekali tanpa perawatan.

Dalam kondisi masih sempurna, baterai yang di-charge (diisi listrik) selama delapan jam mampu digunakan untuk menempuh jarak 80 kilometer dengan kecepatan maksimum 40-50 kilometer per jam.

Berbagai tipe E-Moto yang dijual dengan harga terendah berkisar Rp 4,4 juta itu bisa tergolong sebagai teknologi transportasi yang hemat.

Menurut Teguh, kebutuhan listrik untuk menempuh 80 kilometer itu sebesar 1,5 kilowatt jam (kWh). Jika dihitung sesuai tarif dasar listrik 1 kWh saat ini Rp 600, maka biaya yang dibutuhkan untuk menempuh jarak 80 kilometer adalah Rp 900.

Kemampuan daya tahan baterai paling optimum mencapai dua tahun, sedangkan dinamo sebagai penggerak roda dengan daya tahan optimum mencapai lima tahun. Untuk penggantian baterai dengan tegangan 48 volt itu saat ini memiliki harga sebesar Rp 500.000.

Bayangkan, asap sebagai polutan udara yang mengandung karbondioksida hasil pembakaran mesin pada sepeda motor, mobil, bus, kereta api, pesawat udara, dan kapal pada saatnya nanti akan hilang sama sekali!

Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Rinaldy Dalimi, dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar tetap bidang ilmu teknik elektro belum lama ini, menyebut masa itu sebagai masa hasil Revolusi Teknologi Energi. Revolusi Teknologi Energi itu nantinya disebut sebagai Revolusi Industri Keempat.

Revolusi Industri Pertama, saat James Watt menemukan mesin uap pada 1755. Revolusi Industri Kedua, ketika Nikola Tesla pada 1888 menemukan arus listrik bolak-balik. Revolusi Industri Ketiga, ketika beberapa dekade ini dikembangkan internet sebagai hasil Revolusi Informasi Global.

Revolusi Industri Keempat, tidak lain nantinya sebagai Revolusi Teknologi Energi. Revolusi itu terjadi ketika ada lompatan besar di bidang teknologi baterai dan teknologi listrik tenaga surya yang berhasil meningkatkan efisiensi.

"Kombinasi dari kedua teknologi itu menjadikan listrik dari sinar matahari dapat disimpan dengan baterai yang memiliki kapasitas besar," papar Rinaldy.

Bukan sesuatu yang tidak masuk akal jika saat ini membayangkan nantinya sudah tidak ada lagi asap kendaraan yang menyesakkan itu di jalan-jalan.

Sumber energi sarana transportasi nantinya bukan lagi bensin atau minyak solar, tetapi listrik dari baterai yang mampu menyimpan listrik dalam kapasitas besar. Bahkan, listrik yang didapat pun bisa secara cuma- cuma dari matahari.

"Pengembangan modul surya untuk mengubah cahaya matahari menjadi arus listrik, juga akan terus berkembang efisiensi maupun bentuknya," ungkap Rinaldy.

Bukan hal yang tidak mungkin lagi, jika kelak modul surya tidak lagi berbentuk lembaran kaku dan lebar seperti sekarang....

Sumber : Saatnya Berkendara Tanpa Asap

 
Halaman 499 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook