Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~Teluk Tomini Rusak, Ketahanan Pangan Warga Lemito-Gorontalo Terancam

Teluk Tomini Rusak, Ketahanan Pangan Warga Lemito-Gorontalo Terancam

GORONTALO, BL- Terumbu karang di perairan Kecamatan Lemito, Kabupaten Pohuwato, yang juga termasuk dalam wilayah Teluk Tomini, kini sedang terancam. Ancaman itu adalah kerusakan terumbu karangnya, yang bisa berakibat pada penduduk di Lemito. 
“Kalau terumbu karang hancur, maka mengancam ketahanan pangan, yaitu kebutuhan protein, bagi lebih dari 3,000 orang jiwa yang ada di Lemito,” kata Nilmawati, dari Destructive Fishing Watch (DFW), dalam sebuah diskusi di kantor AJI Kota Gorontalo, belum lama ini seperti dikutip DeGorontalo.co (Situs Sindikasi Beritalingkungan.com).

Berdasarkan hasil pengamatan DFW di dua kecamatan berbeda di Kabupaten Pohuwato, yaitu kecamatan Lemito dan Popayato, setiap harinya nelayan-nelayan pengguna alat tangkap yang merusak seperti pengeboman, mampu menghasilkan rata-rata 70 kilogram ikan per-tripnya. Sedangkan nelayan yang menggunakan pukat dan kompresor sebagai alat bantu dapat menghasilkan rata-rata 200 kilogram per-tripnya.

Hasil ini sangatlah jauh bila dibandingkan dengan penghasilan nelayan yang berkomitmen menggunakan alat tangkap rumah lingkungan seperti pancing dan panah. Hasil pengamatan DFW di lapangan menemukan bahwa pancing dan panah hanya mampu menghasilkan masing-masing 5 persen dan 7 persen.


“Ini berarti sekali menggunakan bom ikan maka setara dengan 27 hari menggunakan pukat, 16 hari menggunakan pancing, dan 10 hari menggunakan panah,” ungkap Nilmawati.

Hasil analisis data citra satelit menemukan bahwa telah terjadi pengurangan areal tutupan karang, dimana tutupan karang di tahun 1990 masih sebesar 883,63 hektar, sedangkan areal tutupan terumbu karang di tahun 2014 tahun kemarin menunjukan pengurangan yaitu sebesar 749,61 hektar.

“Namun, walaupun pengurangan jumlah areal tutupan karang ini tidak besar dan tidak significant, pertumbuhan terumbu karang yang begitu sangat lambat, yaitu sekitar 1 centimeter per tahunnya, tentu saja tidak akan bisa mencover laju kerusakan yang terjadi jika kegiatan penangkapan yang merusak ini tetap saja terjadi.”

“Kegiatan pengeboman ini bukan hanya membahayakan nelayan tangkap, namun juga dapat mengancam keberadaan lahan budidaya rumput laut di kawasan ini,” ujar Nilmawati.

Penulis: CHRISTOPEL PAINO

Sumber: http://www.beritalingkungan.com/2015/04/teluk-tomini-rusak-ketahanan-pangan.html

 

~Ini 5 Hal Penting Yang Perlu Diperhatikan Saat Mendaki Gunung

Ini 5 Hal Penting Yang Perlu Diperhatikan Saat Mendaki Gunung

Anggapan mendaki gunung adalah “gagah” hebat dan perkasa adalah sebuah kekeliruan. Apa tujuan seorang pendaki mendaki gunung? akankah pendakian tersebut berdasar pada cinta akan gunung atau hanya sekedar penikmat gunung atau bahkan tanpa disadari bisa menjadi perusak gunung?

Beberapa hal yang perlu kita ketahui agar pendakian gunung yang kita lakukan tidak dianggap merusak lingkungan:

1. Pendakian Massal   

Mendaki gunung dengan kelompok adalah hal yang menyenangkan, namun sebaiknya sebelum mendaki gunung tersebut dilakukan survey tentang kapasitas dan daya tampung gunung, agar program pendakian yang kita lakukan tidak merusak lingkungan akibat lokasi yang kita pakai menjadi terganggu.


2. Hindari pendakian yang di sponsori oleh perusahaan yang mencari untung
Pendakian oleh sekelompok orang yang disponsori biasanya akan mengumpulkan pendaki sebanyak banyaknya, karena semakin banyak peserta semakin banyak untung dan penjualan produk, hal ini perlu dipertimbangkan dalam memilih kegiatan pendakian yang akan dilakukan

3. Bersikap Peduli Lingkungan

Sebagai penikmat alam, selayaknya kita memperhatikan alam dan lingkungan yang kita lalui, menjaga kelestarian lingkungan bukanlah hanya tanggung jawab petugas penjaga taman atau LSM lingkungan

4. Hindari mengubah situasi

Mengambil bunga atau pohon dari gunung bisa mengakibatkan perubahan bentuk dan keberlangsungan flora dan fauna di lokasi tersebut, bisa sobat bayangkan jika setiap orang melakukan hal yang sama, al hasil terjadi perubahan drastis pada lokasi tersebut

5 Jadilah Pendaki yang konservatif

Keputusan mendaki gunung biasanya didasari atas keingintahuan bagaimana perasaan mendaki dan ditambah keinginan menikmati suasana lingkungan yang berbeda dari kehidupan sehari hari. Sebagai pendaki yang konservatif jadilah menjadi panutan dengan memberitahukan hal hal yang berguna dan tidak berguna, agar para sobat pendaki lainnya mengetahui aturan menjadi seorang pendaki yang baik dan peduli terhadap lingkungan.

Gunung adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia, selayaknya kita merawat dan melestarikannya untuk anak cucu dan generasi penerus kita.

Sumber : forumhijau_ID

Link: http://www.beritalingkungan.com/2013/11/ini-5-hal-penting-diperhatikan-saat.html

 

~Aktivis Lingkungan Indonesia Terima Penghargaan Dari Keluarga Bangsawan Kerajaan Inggris

Aktivis Lingkungan Indonesia Terima Penghargaan Dari Keluarga Bangsawan Kerajaan Inggris

London (ANTARA News) - Pendiri dan Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari, Panut Hadisiswoyo, mendapat penghargaan Whitley Award dari Whitley for Nature Fund, sebuah lembaga swadaya internasional di Inggris yang mendukung upaya konservasi alam di seluruh dunia.

Penghargaan diberikan kepada aktivis lingkungan Indonesia itu oleh Putri Anne, keluarga bangsawan Kerajaan Inggris, pada hari Rabu malam, dalam satu upacara yang diadakan di gedung Royal Geographic Society di London.

"Senang dan bangga berhasil mengharumkan nama Indonesia di dunia Internasional," ujar Panut kepada Antara London, Rabu malam usai penerimaan penghargaan yang dihadiri DCM/Wakil Dubes RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia, Anita Luhulima.

Panut terpilih menjadi penerima penghargaan Green Oscar serta dana dari The Arcus Foundation sebesar 35 ribu Poundsterling, karena dedikasi yang tiada henti selama 15 tahun menyelamatkan orangutan sumatera dan habitatnya di kawasan ekosistem Leuser di provinsi Aceh dan Sumatera Utara. 

Atas dedikasi dan komitmennya, populasi orangutan Sumatera semakin terlindungi dari perburuan dan insiden konflik. Sementara masyarakat lokal mendapat peluang peningkatan ekonomi dan kapasitas melalui kegiatan pelatihan pertanian berkelanjutan, restorasi hutan, patroli pengamanan hutan, pengembangan agroforestry, dan penanggulangan konflik antara manusia dan orangutan. 

Walau upaya perlindungan orangutan ini terus dilakukan oleh Panut dan tim nya, namun ancaman terhadap orangutan dan hutan tropis Indonesia masih terus berlangsung. Hal ini karena ekspansi perkebunan ke hutan tropis di Indonesia terus masih terjadi.


Panut menyatakan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan atas komitmen terhadap upaya perlindungan orangutan Sumatera dan hutan tropis Indonesia. 


Dikatakannya penghargaan ini juga merupakan pesan dan himbaun penting kepada semua pihak di Indonesia terutama pemerintah Indonesia untuk benar-benar menjalankan penghentian (moratorium) pemberian ijin perkebunan di kawasan hutan tropis Indonesia.


Dengan luas perkebunan sawit yang sudah mencapa 10 juta hektar, produksi buah sawit sudah mencukupi untuk memenuhi permintaan pasar domestik dan internasional. Tragis bila peningkatan luas perkebunan diproyeksikan menjadi 13 juta hektar pada tahun 2020,  karena berarti tiga juta hektar hutan tropis akan dialihfungsikan menjadi perkebunan selama lima tahun ke depan, katanya.

Sebelumnya, lanjut Panut, selama empat tahun terakhir, Indonesia sudah kehilangan hutan seluas 1,3 juta hektar per tahunnya seiring dengan peningkatan perkebunan sawit di Indonesia. Ini harus dihentikan, bila tidak nasib hutan tropis Indonesian beserta ribuan spesies penting dan keanekaragaman hayati Indonesia akan terancam punah. 

Whitley Award merupakan Green Oscar', sebuah penghargaan internasional kepada para pelaku dan aktivis konservasi yang telah memperjuangkan upaya penyelamatan keanekaragaman hayati dan spesies dari kepunahan melalui pendekatan holistik yang melibatkan masyarakat lokal melalui kegiatan pembangunan berkelanjutan dan perlindungan habitat alam.

Editor: Unggul Tri Ratomo

Sumber:http://www.antaranews.com/berita/493681/aktivis-lingkungan-indonesia-terima-penghargaan-dari-putri-anne

 

~Aktivis Greenpeace Pasang Panel Surya Di Kesepuhan Ciptagelar

Aktivis Greenpeace Pasang Panel Surya Di Kesepuhan Ciptagelar

CIPTAGELAR, BL- Greenpeace bersama Football Club Social Alliance dan warga Kasepuhan Ciptagelar melakukan instalasi panel surya hari ini di Kampung Ciptagelar, Desa Sirna resmi, Jawa Barat.Instalasi panel surya ini bertujuan untuk menyediakan sumber energi bersih dan terbarukan bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yang masih belum mendapatkan akses listrik selama ini.


Sebelum kegiatan instalasi ini dilakukan, komunitas sepakbola tersebut juga mengadakan pelatihan kepada 34 anak-anak muda Indonesia mengenai pentingnya kesadaran lingkungan dan energi terbarukan. Mereka memperoleh pengetahuan tentang isu lingkungan, perubahan iklim serta energi terbarukan di Indonesia. Pemasangan panel surya tersebut berlangsung akhir pekan lalu (26/4).


Menurut Hindun Mulaika, Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Kasepuhan Ciptagelar memiliki  pembangkit listrik mini-hydro. Namun, selama musim kemarau air perlu dialihkan untuk mengairi sawah. Produksi energi kemudian tidak lagi cukup untuk daya semua bangunan dan lembaga masyarakat. Oleh karena itu, Greenpeace melengkapi sistem energi dengan sumber lain energi terbarukan yaitupanel surya. Sehingga listrik di sekolah independen tidak bergantung pada fluktuasi grid.Panel surya yang dipasang saat ini berdaya sebesar 800 WP yang akan digunakan untuk penerangan untuk fasilitas sekolah.

“Saat ini listrik sangat dibutuhkan untuk sarana belajar mengajar.”Dengan listrik darani panel surya, guru akan sangat terbantu untuk input data, melaporkan ke pusat lebih cepat dan dapat mengajar dengan proyektor infocus,"

”Satu lagi yang Abah suka dari memanfaatkan energi dari alam yang jarang dimanfaatkan pemerintah, sekolah-sekolah yang jauh dari kota, semoga bisa terbantu, karena kebanyakan area di Indonesia ada di pedalaman. Harapan Abah, siswa disini mendapatkan pendidikan sebaik di kota, biar bisa pintar, menjaga alam, dan jaga adat istiadat”, kata Abah Ugi Sugriana, Pemimpin Masyarakat Banten Kidul Kasepuhan Ciptagelar.

Indonesia saat ini merupakan salah satu negara dengan tingkat elektrifikasi terendah di Asia Tenggara. Saat ini hanya 80 persen dari total rakyat Indonesia yang sudah menikmati akses listrik, sisanya sekitar 50 juta rakyat Indonesia yang sebagian besar merupakan masyarakat adat masih belum menikmati akses listrik dari negara sampai saat ini.

Sayangnya Indonesia masih sangat tergantung kepada bahan bakar fosil, terutama batubara. Pembangkit Listrik Tenaga Batubara adalah sumber emisi karbon terbesar yang merupakan buatan manusia, dan salah satu penyebab terbesar perubahan iklim. Batubara juga menyebabkan kerusakan lingkungan yang tak bisa diperbaiki, mata pencaharian dan kesehatan masyarakat Indonesia.


Pemanfaatan besar-besaran energi terbarukan harus dimulai sekarang. Potensi energi terbarukan sangat melimpah di Indonesia, dan potensi kelimpahan energi panas bumi mencapai 40% dari total cadangan di dunia. “Namun, data pemerintah menunjukkan bahwa penggunaan energi terbarukan di Indonesia baru mencapai angka 5% sementara 95% lainnya, masih digantungkan pada bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas, dan batubara, yang cadangannya semakin menipis dan tak begitu lama lagi akan segera habis”, kata Hindun melalui keterangan tertulisnya yang diterima Beritalingkungan.com (28/4).


Ia menambahkan, desentralisasi energi terbarukan adalah solusi untuk mencapai 100%akses listrik untuk semua warga negara Indonesia. Hal ini tidak hanya melindungi lingkungan Indonesia dan akan menciptakan lapangan kerja tetapi juga memiliki efek positif pada mitigasi perubahan iklim, dimana Indonesia sangat rentan terhadap ancaman global ini.


Tidak ada yang tidak mungkin untuk pengembangan energi terbarukan yang aman dan bersih di Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi sumber daya alam yang luar biasa berlimpah. Tenaga angin, air dan matahari yang bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif, keberadaannya sangat mudah ditemui di berbagai pelosok negeri ini.


Terkait dengan kondisi geografis Indonesia, sistem listrik nasional saat ini terfragmentasi, membuat paling tidak sepertiga masyarakat Indonesia belum dapat menikmati listrik dari negara. Saat ini, generator diesel –yang mahal dan sangat tergantung kepada suplai bahan bakar—menjadi satu-satunya sumber listrik bagi masyarakat di kawasan terpencil.


“Pembangkit listrik tenaga energi terbarukan berskala kecil yang terdesentralisasi dan mandiri akan memberikan masyarakat akses mendapat listrik bersih, dan membantu mereka meninggalkan diesel dan gas yang mahal,” pungkasnya (Marwan Azis).

Sumber: http://www.beritalingkungan.com/2015/04/greenpeace-menginstal-energi-surya-di.html

 

~Energi Harus Bersih, Murah dan Mudah

Energi Harus Bersih, Murah dan Mudah

Kebijakan diversifikasi energi yang diterapkan pemerintah akan berhasil dan diterima baik oleh semua elemen masyarakat, bila dapat memenuhi tiga prinsip utama, yakni bersih, murah dan mudah (BMM).

Hal itu disampaikan oleh Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla dalam Seminar Indonesia dan Diversifikasi Energi di hadapan para stakeholder bidang energi, di Hotel Borobudur, Selasa 14 April 2015.

Dia menjelaskan, yang dimaksud dari prinsip BMM tersebut , pertama bersih yaitu berarti energi yang dihasilkan tidak memiliki dampak terhadap kerusakan lingkungan. "Coal, the dirty energy, paling kotor tapi paling murah, walau tidak fleksibel seperti BBM," ujar Wapres.

Kemudian, lanjut dia, murah, berarti harganya yang terjangkau tetapi menguntungkan secara ekonomi. Sedangkan mudah, artinya persediaan sumber daya alam yang melimpah dan terbarukan.

Menurut Jusuf Kalla, di zaman sekarang ini energi merupakan kebutuhan masyarakat di semua sektor, mulai dari rumah tangga, perkantoran sampai industri. Tidak ada satupun manusia yang tidak memerlukan energi, mulai dari desa sampai kota. "Kalau kita bicara tentang energi, energi itu kekuatan. Semua orang butuh energi," tutur nya.

Dia juga sependapat bahwa dengan semakin tingginya kebutuhan bahan bakar energi nasional namun disisi lain Indonesia sudah bukan lagi menjadi negara dengan produksi minyak, dengan demikian perlunya memberikan perhatian lebih pada diversifikasi energi baru dan terbarukan saat ini, mengingat kebutuhan energi terus meningkat dari waktu ke waktu. "Kalau BBM sudah kita tahu, harganya terpengaruh geopolitik. Ada perang, harga naik, kita tahu fluktuasinya," jelas Jusuf Kalla.

Indonesia, kata dia, memiliki potensi yang besar untuk menggarap diversifikasi energi. "Misalnya Geothermal, Indonesia menjadi salah satu yang terbanyak di dunia, selain New Zealand, dimana potensi kita 40.000 MW, bersih dan murah, namun tempat dan lahannya harus tetap dan investasinya masih mahal,"tandas Jusuf Kalla.

Kemudian, tambah dia, ada juga energi air (hydro), dimana Indonesia memiliki potensi dengan kapasitas luar biasa yaitu hingga 75.000 MW. "Air merupakan energi yang bersih, murah, fixed, tetapi syaratnya harus menjaga lingkungan. Kalau hutan habis, hydro habis," tegasnya.

Selanjutnya energi nuklir, lebih lanjut dia mengatakan, Indonesia juga memiliki potensi yang besar untuk mengembangkannya. Walaupun saat ini, dunia terbelah pendapatnya akibat tragedi Fukushima di Jepang. "Perlu kehati-hatian dalam mengembangkannya, sebab dapat menjadi bencana bila tidak tepat pengelolaannya,"tambah Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla juga mencermati energi nabati yang berpotensi berkembang di Indonesia. Namun demikian, gejolak yang muncul adalah persaingan kebutuhan antara food dan fuel. "Kalau harga sawit turun, pasti datang ramai-ramai ke ESDM. Begitu harga sawit naik, lupa datang ke ESDM,"pungkasnya.

Judul : Diversifikasi Energi Harus Bersih, Murah dan Mudah

Sumber : Setwapres.go.id

 
Halaman 49 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook