Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Pengembangan PLT Bayu

 Pembangkit Listrik Tenaga Angin [PLTA].

Pemenuhan energi listrik untuk berbagai kebutuhan saat ini dirasakan masih sangat tergantung pada sumberdaya energi tak terbarukan yang relatif semakin terbatas.

Oleh karena itu dimasa mendatang pemanfaatan sumberdaya energi terbarukan merupakan alternatif yang perlu terus dikembangkan agar dapat mencapai daerah perdesaan sekalipun daerah tersebut terpencil.

Pemanfaatan Energi Listrik Terbarukan dan Ramah Lingkungan dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Perdesaan.

Penerapan pembangkit listrik tenaga angin [ energi terbarukan ] akan dikembangkan di daerah terpencil, terutama di pegunungan dan di pulau-pulau yang tidak terjangkau jaringan listrik PLN.

Saat ini 30 persen daerah terpencil belum terjangkau listrik PLN. Pelaksanaan program kelistrikan diutamakan di kawasan timur Indonesia. Energi terbarukan yang akan dimanfaatkan adalah energi angin dan mikro hidro.

Disinyalir.

  1. Bioethanol.
    Di tahun 1990-an, bioethanol di Brazil telah menggantikan 50% kebutuhan bensin.

  2. Biodiesel.
    Biodiesel telah digunakan di beberapa negara, seperti Brazil dan Amerika, sebagai pengganti solar.

  3. Tenaga Angin.
    Pembangkit listrik tenaga angin sebagai jenis pembangkitan energi dengan laju pertumbuhan tercepat di dunia dewasa ini.
    Saat ini kapasitas total pembangkit listrik yang berasal dari tenaga angin untuk Indonesia dengan estimasi kecepatan angin rata-rata sekitar 3 m/s / 12 Km/jam, 6.7 knot/jam turbin skala kecil lebih cocok digunakan, di daerah pesisir, pegunungan, dataran.
    Perlu diketahui bahwa kecepatan angin bersifat fluktuatif, sehingga pada daerah yang memiliki kecepatan angin rata-rata 3 m/s, akan terdapat pada saat-saat dimana kecepatan anginnya lebih besar dari 3 m/s - pada saat inilah turbin angin dengan cut-in win speed 3 m/s akan bekerja.
    Selain untuk pembangkitan listrik, turbin angin sangat cocok untuk mendukung kegiatan pertanian dan perikanan, seperti untuk keperluan irigasi, aerasi tambak ikan, dsb.

  4. Tenaga Panas Bumi.
    Indonesia diperkirakan memiliki cadangan tenaga panas bumi tak kurang dari 27 GW. Pemanfaatan tenaga panas bumi di Indonesia masih sangat rendah, yakni sekitar 3%.

  5. Mikrohidro.
    Mikrohidro adalah pembangkit listrik tenaga air skala kecil.

  6. Tenaga Surya.
    Energi yang berasal dari radiasi matahari?namun harganya sangat mahal.

  7. Tenaga Panas Bumi.
    Sebagai negara yang terletak di daerah ring of fire, Indonesia memiliki cadangan tenaga panas bumi yg besar.

  8. Kesimpulan.
    Krisis energi saat ini sekali lagi mengajarkan kepada bangsa Indonesia bahwa usaha serius dan sistematis untuk mengembangkan dan menerapkan sumber energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil perlu segera dilakukan.

 

 

~320 MW Divisit di Sumut-Nad

 
Defisit suplai listrik di wilayah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam kini mencapai 320 Megawatt. Sejumlah kendala perbaikan pembangkit dan tambahan pasokan daya dari tempat lain mengakibatkan pemadaman listrik kemungkinan lebih lama dari yang semula diperkirakan dua bulan.

Deputi Manajer Hubungan Masyarakat dan Hukum PT Perusahaan Listrik Negara Pembangkitan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Marodjahan Batubara, Minggu (15/7) di Medan, mengemukakan, rencana semula perluasan pemadaman umum bergilir yang dilakukan sejak 13 Juni akan berakhir tanggal 13 Agustus 2007 dengan selesainya pemeliharaan gas turbin nomor 22 di Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Sicanang, Belawan.

Sembari menunggu perbaikan gas turbin 22, PLN juga akan memperbaiki rotor generator turbin uap di Jakarta. Namun, ketika truk pengangkut rotor tersebut melintas di jembatan Belawan, jembatan ambruk dan truk bersama rotor tercebur ke sungai, Jumat (13/7).

Sampai hari Minggu siang, rotor tersebut masih berada di dasar Sungai Belawan. Arus air di sungai itu besar sehingga menyulitkan upaya evakuasi rotor. Teknisi lokal maupun asing belum bisa berbuat apa-apa untuk mengangkat rotor turbin tersebut. Sementara itu, akses jalan darat menuju dan dari Pusat PLTGU Sicanang masih terputus total.

Padahal, PLTGU berkapasitas daya mampu 1.078 MW tersebut menjadi andalan untuk memasok listrik di wilayah Sumatera Utara dan NAD. Delapan unit pembangkit di PLTGU Sicanang memiliki kapasitas daya mampu 1.078 MW, namun realisasinya hanya sekitar 700 MW. Sisa sekitar 250 MW dipasok oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lau Renun, PLTA Sipansihaporas, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Titi Kuning, PLTD Glugur, dan PLTD Paya Pasir. Itu pun PT PLN masih harus meminta bantuan pasokan listrik dari PT Indonesia Asahan Aluminium.

Menurut Marodjahan, daya mampu suplai listrik PLN wilayah Sumut dan NAD yang rata-rata 950 MW per hari kini turun menjadi hanya 700-750 MW per hari. Sementara, rata-rata beban daya yang harus ditanggung sekitar 1.120 MW.

Artinya, dengan posisi seluruh pembangkit di Sumut berjalan normal saja, wilayah itu masih defisit daya listrik sebesar 170 MW per hari. Defisit akan bertambah parah jika tiba-tiba terjadi kerusakan di salah satu unit pembangkit atau adanya pemeliharaan pembangkit seperti yang dilakukan untuk GT 22 Sicanang.

Perbaikan besar (major overhaul) GT 22 Sicanang mengakibatkan defisit daya menjadi 320 MW. Dengan defisit sebesar itu, pemadaman diperluas. Pemadaman untuk konsumen umum yang sebelumnya hanya dilakukan pada siang hari juga diberlakukan pada malam hari.

Terparah

Pemadaman yang dialami warga Sumut ini merupakan yang terparah, setidaknya sepanjang lima tahun terakhir. Tidak tanggung-tanggung, pemadaman bergilir dilakukan dua kali sehari, masing-masing berdurasi empat jam.

Geliat perekonomian kecil maupun besar terganggu. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut berkali-kali melayangkan protesnya. "Kami sangat berharap kesepakatan itu dijalankan karena sangat berdampak pada kami. Di rumah sakit yang kami kelola saja, kami harus menambah biaya dengan membeli genset dan bahan bakar. Biaya yang harus kami keluarkan untuk itu senilai Rp 2 juta per hari, belum termasuk peralatan medis dan elektronik yang rusak," kata Ketua Apindo Sumut Parlindungan Purba.

Parlindungan mengatakan, terdapat 40 persen dari 15.000 karyawan perusahaan pemakai gas dirumahkan. Belum termasuk sektor industri lain.

Dampak pemadaman juga dialami pelaku industri kecil. Ani (35), penjual lontong sayur di Jalan Setia Budi, Medan, terpaksa harus menanggung beban pemadaman dengan berjualan memakai cahaya lilin saja. Akibatnya, jumlah pembeli tidak seramai ketika lampu terang benderang.

"Kalau lampu hidup, saya biasa dapat penghasilan kotor senilai Rp 350.000 sampai Rp 400.000 per hari. Tetapi kalau mati lampu begini, saya biasa dapat Rp 250.000 sampai Rp 300.000 per hari. Saya minta tolong lampunya mohon tidak mati-mati lagi," katanya.

Tunggu Inalum

Upaya darurat untuk mengatasi defisit pasokan listrik yang begitu parah sedang dilakukan PT PLN, termasuk membeli pasokan listrik dari Asosiasi Pengusaha Pusat Perbelanjaan dan Perkantoran Sumatera Utara (AP4SU), mengoperasikan lagi pembangkit lama, dan meminta penambahan transfer pasokan listrik dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

General Manager PLN Pembangkitan Sumatera bagian Utara Albert Pangaribuan mengatakan, pihaknya sudah menandatangani kesepakatan dengan AP4SU untuk membeli listrik sebesar 20 MW. "Pusat perbelanjaan yang sudah siap menyuplai listrik ke PLN antara lain Sun Plaza, kami harapkan sebelum akhir bulan ini sudah bisa terealisasi," ujar Albert.

Tambahan daya listrik dari genset AP4SU diharapkan bisa menambah pasokan daya listrik pada siang hari. Deputi Direktur Pembangkitan dan Energi Primer PLN Ali Herman Ibrahim mengatakan, untuk menambah pasokan listrik, PLN telah mengoperasikan lagi satu unit PLTD Paya Pasir berkapasitas 15 MW. Padahal, pembangkit itu sudah termasuk yang diistirahatkan. "Kami juga akan menarik unit PLTGU terapung berkapasitas 36 MW dari Palembang," kata Ali.

Sedangkan upaya meminta tambahan pasokan daya listrik dari PT Inalum sampai saat ini belum membuahkan hasil. Padahal, sejak tahun 2004 PT PLN dan perusahaan patungan Indonesia-Jepang itu memiliki perjanjian barter energi sebesar 90 MW. PLN memasok daya listrik sebesar 30 MW ke Inalum di luar waktu beban puncak.

Sebagai gantinya, Inalum menyuplai 90 MW ke PLN saat beban puncak. "Sampai saat ini yang terealisasi hanya sekitar 40 MW karena mereka beralasan pasokan listrik untuk produksi pabrik pun pas-pasan," kata Ali.

Menurut Ali, ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral mengunjungi Inalum 1 Juli lalu, pihak Inalum mengatakan mereka harus meminta persetujuan kepada pemegang saham di Jepang. "Mereka minta waktu dua minggu untuk memutuskan," kata Ali.


Kompas (16/7)
 

~ Baterai Popeye yang Ramah Lingkungan

Baterai Alternatif Ala Popeye

Sekelompok ilmuwan MIT berhasil mengembangkan baterai ramah lingkungan. Mengadopsi proses eneri fotosintesis pada tumbuhan hijau.

Bisa dibayangkan bila Popeye hidup tanpa bayam. Mana mungkin badan si pelaut yang kerempeng itu tiba-tiba bertonjolan otot bisep dan trisep. Mana mungkin pula dia kuat melawan Brutus, perampok berbadan bongsor yang suka iseng menculik Olive, pacar Popeye. Tapi dengan menenggak sari bayam, Popeye bisa.

Kisah pelaut nan lucu itu memang Cuma cerita kartun. Di dunia nyata, kehebatan bayam ternyata tak sekedar sumber vitamin belaka. Seperti yang diungkapkan para ilmuwan MIT (Massasuchete Institute Of Technology) Amerika baru-baru ini. Mereka berhasil mengembangkan energi alternatif masa depan bagi peranti digital yang ramah lingkungan berbahan dasar bayam. Meski terdengar ajaib, namun ide awal yang mendasari penemuan ini terbilang sederhana yakni proses evolusi tumbuhan. Dari ide sederhana ini kemudian mereka membuat sebuah peranti elektrostatis yang disebut ‘spinach sandwich’.

Peranti ‘aneh’ ini dibuat dengan dasar protesin kompleks bernama Photosystem I (PS I ) yang berperan sebagai jantung mesin. PS I muncul dari derivasi kloroplast (zat hijau daun) bayam. Dengan ukuran lebar tiap PS I antara 10 – 20 nanometer, peranti elektrostatis ini dikumpulkan dari sekitar 100 PS I. Hebatnya peranti buatan ini diklaim bisa menyuplai energi untuk laptop dan ponsel selama sehari. “Sirkuit elektronik ini menjadi alat terkecil yang saya tahu, “ kata Marc A Bado, asistant profesor di departement elektronika dan ilmu komputer MIT yang juga menjadi salah satu periset seperti dikutip dari siaran pers MIT.

Menurut Nano Letter, sebuah media publikasi American Chemical Society, Baldo dan periset lain dari MIT, University of Tennessee dan Laboratorium Angkatan Laut Amerika, termasuk di dalamnya insinyur elektro, biomedis, ahli teknologi nano, dan biolog bekerjasama menghasilkan sel surya fotosintesis. Penelitian ini tambah Nano Letter, mengambil ide dari kemampuan tumbuhan menghasilkan energi untuk berevolusi selama hidupnya. Bayam, sebagai salah satu tumbuhan hijau dinilai sangat efisien, bila dilihat dari jumlah energi yang dihasilkan dibandingkan berat dan ukuran bayam itu sendiri.

“Kami berhasil menggabungkan molekul fotosintetik protein komplek dengan sebuah peranti elektro statis,�kata Baldo. Namun keberhasilan penggabungan material biologis dan non biologis tersebut tidak melalui proses sederhana. Hal ini disebabkan perbedaan sifat yang bertolak belakang antara material biologis dan elektronik. Materail biologis butuh garam dan air agar tetap bertahan tetapi sebaliknya sangat dihindari oleh perangkat elektronik. Untuk menghindari tercampurnya kedua bahan tersebut, sebuah membran baru peptida seperti bahan utama deterjen dikenalkan. Fungsi membran ini membantu proses fotosintesis dan menstabilkan sirkuit elektronik saat berada di pabrikasi.

Para periset MIT menggunakan peptida temuan Shuguang Zhang, seorang associate director MIT’s Center for Biomedical Engineering. Dengan peptida deterjen buatan Zhang ini, periset MIT dapat menstabilkan protein kompleks dalam lingkungan kering setidaknya hingga tiga minggu. “Peptida deterjen menjadi material penahan agar protein tidak menyinggung permukaan perangkat elektronik,�ucap Zhang.

Dalam peranti elektro statis ini lapisan paling bawah terbuat dari kaca transparan yang dilapisi material konduktif. Selapis tipis emas membantu reaksi kimia klorofil PS I . Kemudian mereka menguapkan semikonduktor organik yang menjaga arus elektronik dan membentengi protein kompleks dari metal yang menutupi sandwich ini. Selanjutnya sinar laser disorotkan untuk memicu bangktnya tenaga optis, yang kemudian diserap dan menjadi arus listrik arus. “Dari penyerapan tenaga optis ini kami bisa mengubah sekitar 12 persen di antaranya menjadi arus litik untuk charging baterai,� ujar Baldo. Para periset ini berharap ke depan bisa mendapatkan efisiensi konversi tenaga listrik hingga 20 persen atau lebih dengan membuat banyak lapisan PSI.

Jadi, wajar kalau Popeye bisa jadi sakti gara-gara makan bayam. Memang terbukti berkhasiat kok.

Sumber: Selular,

 

~ Cegah Pemanasan Global Kurangi Konsumsi Daging,


Kurangi Konsumsi Daging, Cegah Pemanasan Global
 
 
 
Nardi (37) memberi minuman sapi perah milik Haji Malik di belakang pusat perkantoran Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (13/8). Di tengah kepungan gedung perkantoran keberadaan mereka masih bertahan, tahun 1970-an kawasan ini menjadi sentra peternak sapi perah.
Artikel Terkait:

Di banyak negara maju, topik pembahasan pemanasan global, sudah bergeser ke arah yang lebih berdasarkan fakta, dimana peternakan dan industri daging merupakan salah satu penyebab terbesarnya. Namun di Indonesia, seruan pengurangan laju pemanasan global, agaknya baru dipahami sebatas hemat listrik, hemat air, hemat BBM, dan menggencarkan bersepeda.
  
Ketua pelaksana tim nasional penghematan energi dan air Eddie Widiono, dalam jumpa pers di sela penggalangan relawan untuk hemat energi dan air di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, mengakui bahwa di luar negri, kampanye pencegahan pemanasan global memang banyak mengarah ke imbauan mengurangi konsumsi daging.
  
"Industri peternakan dan konsumsi daging masyarakat Indonesia masih di bawah negara lain. Jadi saya rasa, peternakan dan industri daging di Indonesia bukan porsi terbesar penyumbang pemanasan global," kata Eddie. Dipaparkannya, konsumsi listrik, BBM, dan air berlebih lah yang akan disuarakannya.
   
Namun, secara terpisah, seperti pernah disampaikan oleh Prasasto Satwiko (guru besar Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang juga koordinator Pusat Studi Energi UAJY), Agustinus Madyana Putra (pemerhati lingkungan dan dosen arsitektur UAJY), juga Chindy Tanjung (Koordinator Indonesia Vegetarian Society DIY-Jateng), Indonesia harus mulai berpikir bahwa kerusakan lingkungan dunia adalah tanggungjawab kolektif.
    
"Coba kita lihat kenyataan. Sekarang  promosi santapan berbasis daging amat kencang. Kini, banyak orang kena kolesterol dan darah tinggi, industri daging fastfood tumbuh pesat, plus obesitas (kegemukan), dan anak anak yang lebih suka nugget ketimbang sayur. Apakah kita masih bisa bilang bahwa konsumsi daging di Indonesia rendah. Apakah ada jaminan peternakan di Indonesia lebih bagus pengelolaannya ketimbang peternakan di luar negeri?" ujar Agustinus.      
   
World Watch Institute, dalam Watch Magazine edisi November/Desember 2009 menyebut industri peternakan dunia menyumbang sedikitnya 51 persen gas rumah kaca penyebab pemanasan global. World Watch Institute adalah organisasi riset independen di AS yang berdiri sejak 1974. Organisasi ini dikenal kritis terhadap isu lingkungan dan hanya bersuara berdasarkan fakta. Laporan dari World Watch Insitute banyak digunakan lembaga bergengsi seperti Greenpeace.
   
Dalam menghitung angka 51persen tadi, pijakannya adalah data dari FAO yang diolah dengan memasukkan faktor lain seperti emisi gas metana yang dihasilkan dari sendawa sapi, dan kotoran sapi. Gas metana adalah salah satu gas penyebab pemanasan global. Menurut NASA-divisi penerbangan luar angkasa-kekuatan metana 100 kali lipat ketimbang CO2.
   
Sekitar 16.000 liter air bersih dan sekitar 8 kg biji-bijian harus dihabiskan hanya untuk menghasilkan 1 kg daging. Keseluruhan aktivitas peternakan dan pemrosesan daging, kata Prasasto, amat boros energi. Mulai dari transportasi untuk ternak, listrik untuk menghangatkan peternakan, pendingin, dan alat-alat. Sampai di rumah, daging masuk kulkas. Saat dimasak pun, daging sulit empuk yang artinya boros elpiji/minyak tanah.  
  
"Sehingga aneh, mengapa di Indonesia, seruan pemanasan global dan hemat energi, tak mengangkat tentang dampak peternakan dan konsumsi daging dan produk hewani," papar Chindy yang juga dokter gigi ini. (Lukas Adi Prasetya)

YOGYAKARTA, KOMPAS.
 

~ Menghasilkan Listrik Kotoran sapi Hehehe…

 Hehehe… Kotoran sapi bisa hasilkan listrik

 

The cows, whose manure produces the biogas 

Di Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat sudah diberdayakan kotoran sapi sebagai bahan bakar penghasil listrik. Prinsip kerjanya cukup sederhana, kotoran sapi yang sudah dicairkan, lalu disalurkan ke dalam reaktor. Dari reaksi yang terjadi, dihasilkan gas yang ditampung ke dalam sebuah wadah penampungan (elpiji) yang kemudian dijadikan energi untuk menghidupkan generator.

Reaktor yang dipakai terbuat dari dua tabung besar dari plastik yang dikencangkan seperti balon. Pada tabung balon pertama sepanjang 4 meter diberi pipa besar untuk memasukkan kotoran sapi pada bagian depannya. Pada bagian belakang juga diberi pipa saluran untuk keluar kotoran sapi yang telah terpakai.

Dari bagian atas tabung pertama itu juga diberi selang yang menghubungkan ke tabung balon kedua berukuran panjang 2 meter. Tabung kedua menampung gas dari kotoran tersebut. Untuk menyalurkan gas ke kompor diberi selang yang dilengkapi alat mengontrol tekanan gas. Alat itu berfungsi apabila kelebihan, gas akan keluar sendiri. Biogas yang dihasilkan bisa dipakai 2-3 hari tanpa bau kotoran sapi lagi.

Biogas inilah yang nantinya akan menghidupkan generator untuk bisa menghasilkan aliran listrik. Bisa juga langsung dijadikan bahan bakar pada kompor gas. Pada kondisi normal, dua ekor sapi perah bisa menghasilkan 4,14 m³ biogas perhari atau setara dengan 1,90 kilogram elpiji atau 2,56 liter minyak tanah. Sedangkan 1 m³ biogas setara dengan 0,46 kilogram elpiji, 0,62 liter minyak tanah, 0,80 liter bensin, dan 3,5 kilo gram kayu bakar.

Jadi siapa bilang kotoran sapi tidak bermanfaat? Jika diolah, kotoran yang sering dianggap menjijikkan ini ternyata bisa menghasilkan energi alternatif yang sangat bermanfaat. Bisa dibayangkan besarnya daya yang dihasilkan rata-rata satu unit generator adalah 400 hingga 500 watt. Ini cukup untuk menyalakan 10 lampu yang berdaya 40 watt.

Penggunaan listrik dari biogas bisa menggantikan listrik dari PLN selama lima atau enam jam. Dengan kalkulasi seperti itu, maka setiap kepala keluarga di Haurngombong bisa menghemat pemakaian listrik hingga Rp 50 ribu per bulan atau Rp 600 ribu pertahun. Saat ini sekitar 70 kepala keluarga sudah memanfaatkan listrik dari biogas. Jika di total maka setiap bulan penduduk Haurgombong bisa menghemat listrik sekitar Rp 3,5 juta atau Rp 42 juta per tahun. Hal ini belum ditambah penghematan untuk minyak tanah, elpiji, dan kayu bakar yang bisa digantikan oleh biogas.

Jika diasumsikan satu kepala keluarga menggunakan dua liter minyak tanah perhari dengan harga Rp 3.000 per liter, maka berarti di Haurngombong bisa dihemat Rp 420 ribu per bulan atau Rp 5.040.000 per tahun.

Untuk ukuran sebuah desa, penanganan kotoran sapi sampai menghasilkan listrik merupakan kemajuan besar. Penghematan energi yang luar biasa. Maka tak heran jika Haurngombong dijadikan sebagai Desa Mandiri Energi. Jika desa-desa di Indonesia lainnya juga melakukan pengembang tentu biaya yang dihemat bisa sangat besar. Dampaknya akan sangat besar terhadap perekonomian negara dan tentunya mengurangi beban PLN dalam hal krisis pasokan listrik.

 

Proyek ini sendiri dikembangkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran (Fapet Unpad) Bandung dan PT PLN (Persero) serta masyarakat Haurgombong. Kita berharap hal ini tidak sekedar proyek percontohan semata, tetapi pemanfaatannya mencakup masyarakat luas. Jika hal ini dilakukan, maka bisa dibayangkan berapa uang negara yang bisa dihemat.

Sumber : Republika, Kompas
 
Halaman 423 dari 1022
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook