Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Kondisi Listrik di Riau

 Gubernur Baru dan Listrik (Electricity and Riau Governors)

Suatu hari saya mengundang seorang professional dari Swedia ke UIN Suska. Saat presentasi tentang kondisi kelistrikan Eropa, dia menampilkan daftar pendek kejadian listrik padam di Eropa 10 tahun terakhir. Daftar itu lengkap dengan hari, tanggal, lokasi dan lama listrik padam. Rupanya di Eropa listrik padam termasuk kejadian langka, sehingga perlu dicatat. Lalu sepanjang apa daftar yang akan anda miliki jika diminta membuat catatan yang sama di Riau? Percayalah! Daftar anda akan lebih pendek, berisi: “di sini listrik padam tiap hari.” Semoga artikel ini dapat memberi ide pemula bagi pasangan Gubri terpilih untuk mengurangi krisis listrik Riau.

Kondisi Listrik Riau

Riau mengalami krisis listrik bertahun-tahun karena beban (kebutuhan pelanggan) lebih besar dari pada kapasitas listrik yang diproduksi. Menurut PLN Wilayah Riau, beban puncak adalah 268,5 MW (menjelang September 2008). Sedangkan suplai listrik hanya 230 MW. Sehingga dalam keadaan normal, defisit listrik Riau Daratan mencapai 20 – 40 MW. Defisit sewaktu-waktu bisa meningkat karena kontribusi sistem jaringan Sumatera Bagian Selatan dan Tengah (SumBagSelTeng) pada sub sistem Riau cukup besar, yaitu 35 % (PLN Wil. Riau). Jika salah satu pembangkit pada sistem SumBagSelTeng mengalami gangguan, berdampak langsung ke Riau. Sebagai contoh, kerusakan PLTU Ombilin di Sumbar tahun 2004 memperparah krisis listrik yang saat itu berlangsung di Riau (Kompas, 2004).

Begitulah kondisi listrik di Pekanbaru dan sekitar. Keadaan lebih buruk akan anda jumpai di daerah-daerah yang agak jauh dari Pekanbaru. Di Rokan Hulu misalnya, listrik bukan cuma sering padam. Saat menyala pun, masyarakat tidak bisa memanfaatkan listrik secara wajar. Kalau anda masyarakat kelas menengah ke bawah, jangan harap bisa menonton TV dengan nyaman, menyalakan pompa air listrik, apalagi AC atau kulkas. Bahkan lampu pun menyala redup. Negeri Seribu Suluk kini seakan butuh seribu ‘suluh.’ Saat anda masuk ke sebagian kampung-kampung, bukan hanya di Rokan Hulu, anda akan tertegun karena di sana justru tidak ada tiang PLN. Walhasil, masyarakat pun ‘membuat’ listrik sendiri dengan cara membeli genset.

Ada sedikit harapan di Pekanbaru dan sekitar beberapa tahun ke depan. Kawasan ini, karena tersambung sistem SumBagSelTeng, bisa mengambil manfaat jika ada penambahan pembangkit baru di sistem ini. Tapi ini bukan harapan besar. Sebab, jika cuma mengharapkan program rutin PLN, pertumbuhan pembangkit tidak akan mampu mengatasi kecepatan pertumbuhan pelanggan; baik rumah-tangga maupun industri.

Di kampung-kampung, kegelapan diperkirakan masih menyelimuti di tahun-tahun mendatang. Jumlah mereka tidak sedikit. Hingga 2005, menurut Indonesia Energy Statistics and Outlook 2006, sekitar 60% masyarakat Riau belum pernah menikmati listrik. Itulah mereka yang di kampung-kampung.

Berharap pada PLN?

Sulit berharap pada PLN. Perusahaan Listrik Negara kini menghadapi masalah lebih krusial seperti krisis listrik Jawa-Bali. PLN telah berusaha melakukan perbaikan melalui restrukturisasi internal. Wilayah-wilayah dan Cabang-cabang operasi baru banyak dibentuk. Swasta pun kini diijinkan ikut dalam bisnis listrik, walaupun tidak diijinkan bersaing pada posisi setara dengan PLN. Salah satu hasil yang dicapai adalah Riau kini punya kantor wilayah sendiri, memisahkan diri dari kantor lama di Sumbar. Pembentukan PLN Wilayah Riau telah menghasilkan perbaikan mengagumkan, seperti perbaikan pelayanan pada pelanggan dan peningkatan kepedulian PLN pada lingkungan hidup.

Namun yang diharapkan adalah restrukturisasi kelistrikan nasional, bukan cuma restrukturisasi PLN. Pengalaman banyak negara semisal Inggris, Australia, Singapura, dan lain-lain, telah membuktikan bahwa restrukturisasi kelistrikan secara nasional adalah solusi tepat. Jika dilakukan secara benar, restrukturisasi akan meningkatkan efisiensi perusahaan listrik, meningkatkan pelayanan masyarakat, dan mempertinggi keandalan suplai listrik. Restrukturisasi juga akan menciptakan pasar listrik kompetitif karena swasta dan PLN bisa bersaing secara adil. Konsekuensi logis adalah PLN tidak lagi menjadi Pemegang Kuasa Usaha Kelistrikan (PKUK) tunggal seperti kini. Hukum bisnis mengatakan; ketika pasar kompetitif tercipta, yang paling dimanjakan adalah pelanggan. Itulah sesungguhnya harapan rakyat.

Berharap pada Gubri terpilih

Tapi sudahlah! Restrukturisasi adalah kuasa Pemerintah Pusat. Lalu apa yang bisa dilakukan Riau? Guna meletakkan dasar kuat, pasangan Gubri terpilih perlu mendorong lahirnya semacam Perda tentang Rencana Pengembangan Kelistrikan Riau. Dulu, UU 20/2002 tentang Ketenagalistrikan telah mengatur hal ini melalui Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah (RUKD). Sayang, UU tersebut dibatalkan Mahkamah Konstitusi, sehingga UU lama (No. 15/1985 tentang Ketenagalistrikan) kembali berlaku. Di UU lama tidak ada ketentuan mengenai RUKD.

Namun daerah masih punya ‘celah’, yaitu UU 30/2007 tentang Energi. UU ini merekomendasikan daerah membuat Perda tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Berbeda dengan RUKD, RUED tidak hanya mengatur soal listrik, tapi seluruh jenis energi. Pasangan Gubri terpilih dapat mendorong kelahiran Perda RUED di mana terdapat bab yang ‘kuat’ tentang listrik, sambil menunggu janji pemerintah pusat menerbitkan UU Kelistrikan baru.

Yang dimaksud Perda RUED yang ‘kuat’ adalah practicable alias bisa diterapkan. Dengan syarat, masalah harus diidentifikasi secara tepat dan tawaran solusi langsung fokus pada masalah. Sebuah Perda ‘awang-awang’ berisi cita-cita terlalu tinggi hanya buang-buang energi, biaya, dan waktu. Perda ini mesti dirumuskan secara serius, bebas dari orientasi proyek pihak-pihak tertentu yang berpotensi mengorbankan isi. RUKD yang dulu pernah dibuat bisa digunakan sebagai awal pijakan, tentu setelah diperbaiki dan disesuaikan. Perbaikan misalnya dengan memperbaharui data dan usulan kebijakan, memasukkan faktor-faktor eksternal ke dalam pertimbangan, dan mengakomodasi perkembangan nasional dan global terbaru. Menurut saya, dua tahun masa jabatan adalah cukup bagi pasangan Gubri baru dan DPRD untuk melahirkan Perda ini. Setelah itu, mengacu pada Perda tingkat Propinsi, Kabupaten/Kota bisa membuat Perda serupa.

Penutup

Listrik adalah lifeblood (darah kehidupan) bagi pembangunan. Namun masyarakat kita sudah terlalu lama kekurangan ‘darah’ satu ini. Akibat sosialnya besar. Tanpa listrik yang andal, kesejahteraan dan pendidikan masyarakat terhambat. Inilah waktu bagi Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota mengambil peran serius mengatasi masalah ini, dalam bentuk program-program kongkrit dan alokasi APBD. Masyarakat kita sudah kepayahan. Alasan lama yang digunakan Pemda untuk lepas dari pekerjaan ini, yaitu karena tanggungjawab kelistrikan berada pada PLN adalah benar, tapi kini tidak relevan lagi.

Artikel ini tidak dimaksudkan memberi solusi persoalan kelistrikan Riau. Masalah terlalu kompleks untuk dituntaskan di sini. Ini hanya sebuah awal. Kita menantikan ide segar dari pemimpin baru untuk membawa Riau keluar dari krisis listrik.***

 

~ Transportasi Masa Depan Untuk Riau

Transportasi Masa Depan di Riau

BUKTI-bukti pemanasan global makin banyak. Surat kabar menceritakan kisah pencairan es besar-besaran di kutub, spesies-spesies yang punah, cuaca makin panas dan tidak menentu dan berbagai bencana alam.

Setiap pribadi perlu menyumbang peran dalam membantu menyelamatkan dunia, termasuk dari jalan raya. Sektor transportasi menyumbang secara signifikan kepada perubahan iklim. Menurut Badan Perubahan Iklim Australia, dari setiap liter bensin dibakar kendaaan bermotor, sekitar 2,3 kilogram karbon dioksida (CO2) dilepaskan ke udara.

Secara global, seperlima emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab perubahan iklim, berasal dari sektor transportasi. Di negara-negara maju bahkan mencapai 30 persen. Di Indonesia, pada 2005, lebih 56 persen dari konsumsi BBM digunakan sektor transportasi (PEUI dan PLN, 2005).

Pada 2007 lalu diadakan pertemuan tingkat tinggi di California mengusung pertanyaan penting; apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan transportasi berkelanjutan (sustainable transport)?

Konferensi yang dihadiri ratusan pemimpin dan pakar dari seluruh dunia, industri otomotif, industri energi dan LSM tersebut menyepakati tiga strategi mengurangi emisi GRK dari sektor transportasi; Pertama, tingkatkan efisiensi kendaraan bermotor. Kedua, kurangi muatan karbon (carbon content) bahan bakar kendaraan bermotor. Ketiga, kurangi perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Artikel ini membuka wacana awal tentang sustainable transport di Provinsi Riau merujuk tiga strategi global di atas. Peran pemerintah dan masyakarat untuk membantu bumi dari bencana pemanasan global akan diusulkan.

Kendaraan Efisiensi Tinggi
Untuk jarak sama, kendaraan efisien mengkonsumsi lebih sedikit BBM. Beberapa ciri kendaraan efisien adalah memiliki teknologi variable valve, injeksi bahan bakar langsung, sistem transmisi lebih efisien, desain aerodinamik, dan lain-lain.

Menurut Dan Sperling dan Nic Lutsey dari Universitas California dan James Cannon dari Majalah Energy Futures (2009) dalam artikel berjudul Climate Change and Transportation, minimal 30 persen emisi GRK dapat dikurangi dengan menggunakan kendaraan efisiensi tinggi.

Penurunan emisi GRK lebih besar (hingga 80 persen, bahkan lebih) dapat dicapai melalui teknologi kendaraan hibrid. Sesuai namanya, kendaraan hibrid bekerja dengan lebih satu jenis sumber energi. Gasoline-fueled hybrid electric vehicles bekerja dengan listrik dan bensin. Pada jenis ini, listrik disimpan di baterai yang dapat diisi ulang. Bensin digunakan saat listrik pada baterai telah kosong atau digunakan bersama-sama dengan baterai.

Pada tipe hydrogen-powered fuel cell vehicles, hydrogen dan oksigen diubah menjadi listrik dan panas untuk menggerakkan mesin kendaraan. Banyak produsen mobil kini mengembangkan mobil hibrid. Namun karena mahal, diperlukan waktu cukup lama untuk penggunaan secara massal.

Jika kendaraan efisiensi tinggi atau kendaraan hibrid bukan pilihan anda, masih ada yang dapat dilakukan untuk membantu menyelamatkan umi, yaitu dengan merawat kendaraan dan mengubah perilaku saat berkendaraan.

Dengan memperhatikan kondisi ban, oli, dan filter udara misalnya, kendaraan menjadi lebih irit BBM yang juga berarti irit biaya. Selain itu, dengan mengubah teknik mengemudi, anda dapat mengurangi konsumsi BBM.

Ada beberapa kebijakan yang bisa digagas pemerintah untuk mengurangi emisi karbon dari jalan raya. Pertama, menaikkan bea masuk kendaraan bermotor efisiensi rendah dan sebaliknya, menurunkan bea masuk kendaraan efisiensi tinggi. Kedua, mendidik pengemudi, misalnya dengan memasukkan materi mengemudi ramah lingkungan ke soal-soal test pembuatan SIM. Ketiga, mendorong riset kendaraan efisiensi tinggi.

Bahan Bakar Rendah Karbon
Biodiesel atau Bahan Bakar Nabati (BBN) yang diproduksi dari beberapa jenis tumbuh-tumbuhan memiliki kandungan karbon lebih rendah daripada bensin dan solar. Beberapa jenis mesin diesel dapat dioperasikan dengan bahan-bakar seratus persen biodiesel. Namun kebanyakan dicampur dengan solar (diesel) dengan perbandingan 80:20 untuk solar dan biodiesel. Menurut Dan Sperling dkk. (2009), sekitar 20 persen pengurangan emisi GRK bisa didapatkan, tanpa mempengaruhi performa dan umur mesin.

Sebagai salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia, Riau berpotensi menjadi pelopor penggunaan biodiesel rendah karbon. Beberapa kebijakan yang bisa ditempuh Pemerintah Riau antara lain; Pertama, memberikan subsidi dan insentif kepada biodiesel. Kedua, meningkatkan harga jual kelapa sawit untuk biodiesel minimal sama dengan harga untuk CPO. Ketiga, menerapkan sanksi bagi kendaraan yang melampaui batas emisi gas buang. Keempat, mewajibkan industri menggunakan BBN untuk kendaraan operasional.

Transportasi Massal
Transportasi massal adalah krusial dan perlu digarap pemerintah. Di banyak negara maju, bus kota dan trem populer sebagai sarana transportasi dalam kota. Sedangkan untuk perjalanan antar kota, kereta api listrik merupakan pilihan bagus.

Dioperasikannya Trans Metro oleh Pemko Pekanbaru adalah terobosan bagus dan akan makin baik jika bahan-bakar Trans Metro diganti dari BBM ke gas yang lebih ramah lingkungan. Di masa depan, perlu digagas jaringan kereta api listrik minimal menghubungkan ibukota kabupaten-kabupaten dengan Kota Pekanbaru.

Namun, ada syarat minimal yang wajib dipenuhi pengelola transportasi massal: Pertama, biaya yang dikeluarkan penumpang dengan transportasi massal harus lebih murah daripada biaya menggunakan kendaraan pribadi.

Kedua, aman. Ketiga, nyaman, misalnya sirkulasi udara baik, bebas pedagang dan pengamen dan sebagainya. Keempat, mudah digunakan. Kelima, tepat waktu. Keenam, mudah diakses.

Jika syarat-syarat tersebut dipenuhi, maka penggunaan kendaraan pribadi akan ber-kurang. Misalnya, untuk perjalanan rutin seperti ke kantor dan sekolah, masyarakat akan lebih suka menggunakan transportasi umum karena sama aman dan nyaman dengan berkendaraan pribadi, tepat waktu dan lebih murah.

Kesimpulan
Ketiga strategi yang ditawarkan Konferensi Dunia Sustainable Transport 2007 dapat membantu mengurangi konsumsi BBM di sektor transportasi dan pada akhirnya mengurangi emisi GRK serta menghemat rupiah. Riau berpotensi menjadi pioner mewujudkan sustainable transport, minimal karena kekuatan finansial yang dimilikinya. Namun sesungguhnya persoalan utama kita bukan pada uang atau soal-soal teknis, namun political will dan political action. Ditunggu gebrakan anggota DPRD Riau dan kabupaten/kota yang baru dilantik untuk menggagas sustainable transport di Riau.***

 

~ Penggunaan Energi"Hydro Fuel Cell" Telkomsel Pelopori

Telkomsel Pelopori Penggunaan Energi "Hydro Fuel Cell"

Telkomsel menerapkan teknologi energi terbaru yang ramah lingkungan hydro fuel cell di Gedung Telkomsel Trade Centre (TTC) di Sumut. Teknologi itu untuk pertama kalinya dilakukan di industri telekomunikasi seluler di Asia.

"Untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan sekaligus ikut melaksanakan imbauan pemerintah untuk melakukan efisiensi penggunaan listrik, Telkomsel terus melakukan riset dan pengembangan penggunaan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan salah satunya adalah hydro fuel cell di mana diterapkan pertama kali di Gedung TTC Medan," kata Direktur Operasi Telkomsel, David Ng, di Medan, Jumat (12/12). Dia bersama VP Network Operation Telkomsel, Andrew Thaf, mengunjungi Gedung TTC di Medan yang baru selesai dibangun.

David menjelaskan bahwa selain hydro fuel cell, Telkomsel juga sudah menerapkan dan tengah mempersiapkan uji coba sejumlah sumber pembangkitan listrik alternatif yang ramah lingkungan seperti solar cell (tenaga surya ), micro hydro ( tenaga angin ), dan termasuk wind turbin (tenaga angin). Secara total, kata dia, energi yang terpasang dari sumber energi ramah lingkungan yang diterapkan Telkomsel sudah lebih dari 0,112 megawatt (MW) atau setara dengan hampir 100 genset konvensional kapasitas 20 KVA yang biasa dipakai di industri telekomunikasi seluler.

Keunggulan hydro fuel cell antara lain tidak menimbulkan kebisingan karena tidak terdapat komponen bergerak, tidak polutan (tidak beracun, tidak berbau) karena sekresi (zat buangan) yang ditimbulkan adalah H2O alias unsur air, dan memiliki efisiensi proses yang jauh lebih baik dibanding dengan sistem konvensional.

Lebih jauh Andrew manambahkan bahwa pembangkit listrik berteknologi hydro fuel cell yang digunakan Telkomsel di Medan sangat bersejarah, mengingat penerapan teknologi yang ramah lingkungan ini merupakan yang pertama di Asia untuk industri telekomunikasi.

General Manager Network Telkomsel Wilayah Sumbagut Dedy Jaka menyebutkan, penerapan teknologi hydro fuel cell ini di Medan karena Sumut khususnya kota Medan dinilai memiliki potensi pertumbuhan pelanggan yang pesat sehingga pelayanan harus juga ditingkatkan di tengah sedang terjadi krisis energi.

Keunggulan penerapan sumber energi alternatif hydro fuel cell antara lain: tidak bising karena tidak terdapat komponen bergerak, tidak polutan (tidak beracun, tidak berbau) karena sekresi (zat buangan) yang ditimbulkan adalah H2O alias unsur air, dan memiliki efisiensi proses yang jauh lebih baik dibanding dengan sistem konvensional.

WAH

MEDAN,
 

~ Segala Cara Dilakukan Untuk Kurangi Emisi

Segala Cara untuk Mengurangi Emisi


Tabung-tabung ini berada di ruang produksi Novozymes yang memproduksi berbagai enzim. Beberapa produknya digunakan untuk meningkatkan efisiensi detergen guna mengurangi jumlah air yang digunakan.
TERKAIT:

Mungkin Pemerintah Denmark kali ini ingin ”pamer”. Betapa proses pembangunan dengan pendekatan pengurangan emisi karbon bukan berarti keterpurukan ekonomi. Buktinya, ekspor teknologi bersih justru terus membubung dan pada tahun 2007 mencapai sekitar 65 miliar krone Denmark —atau sekitar Rp 910 triliun menurut Kementerian Luar Negeri— mengalahkan nilai ekspor sektor-sektor lain yang total sekitar 558,1 miliar krone Denmark (sekitar Rp 7.812 triliun).

Panggung Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) mendatang merupakan ajang tepat untuk menunjukkan kepada lebih dari 190 negara di dunia, baik kaya maupun miskin, apa sebenarnya ide pembangunan berbasis teknologi bersih.

Denmark yang pada tahun 1970-an berjaya dalam industri perkapalan dan industri berat secara perlahan namun pasti mulai meninggalkan itu semua. Upaya untuk tidak bergantung pada bahan bakar fosil telah membawa Denmark melakukan perubahan kebijakan secara drastis.

Wartawan harian Politiken, Flemming Ytzen, dalam perbincangan dengan Kompas, awal Juni lalu di Kopenhagen, Denmark, mengatakan, ”Perhelatan COP-15 amat berarti bagi Denmark. Sebab, selama ini Denmark nyaris tenggelam dalam bayang-bayang Jerman dan Swiss karena Denmark posisinya terpencil di utara,” ujarnya.

Jika dilihat secara lebih dekat, apa yang dilakukan Denmark bisa membuat kita ternganga karena langkah Pemerintah Denmark pada tahun 1970-an bisa dikatakan bagai sebuah ”revolusi pembangunan” atau ”revolusi energi”. Ini sungguh amat berbeda dari Indonesia yang meski bencana mengancam dari sana-sini akibat kerusakan lingkungan yang amat parah, semuanya tetap berlangsung ”business as usual”. Perubahan seakan menjadi sebuah momok.

Perlahan, sebagian besar pabrik mulai dipindahkan ke luar negeri demi mengurangi polusi udara. ”Banyak pabrik, seperti pabrik tekstil dan pabrik sepatu, mulai dipindahkan ke luar negeri, seperti ke China dan beberapa negara Asia lainnya,” tutur Ytzen yang lama bermukim di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Pekerjaan yang semula sebagai buruh pabrik berpindah ke industri energi terbarukan. Ketika isu perubahan iklim menjadi isu utama dunia, Denmark tidak menemui kesulitan karena telah berada di jalur yang benar. Namun, untuk mempertegas posisinya, pemerintah mengajak masyarakat untuk bersama-sama menghadapi tantangan perubahan iklim.

Warga Denmark mau tidak mau harus tunduk pada kebijakan baru tersebut. ”Pada awalnya, ketika harus melakukan pengetatan konsumsi energi pada tahun 1970-an itu, masyarakat banyak protes. Itu berlangsung sekitar satu-dua tahun,” tutur Claus Hermansen dari Kementerian Luar Negeri. Namun, lanjutnya, ketika beberapa saat kemudian masyarakat mulai merasakan manfaatnya, gelombang protes pun reda.

Mewujudkan mimpi menjadi negara hijau tersebut, Denmark yang pajaknya bisa mencapai 70 persen dari pendapatan individu itu dengan berani mulai menginvestasikan dana pembangunannya untuk membangun pembangkit listrik dengan energi kombinasi, memaksa pemerintah lokal mendirikan perusahaan pengolah sampah, antara lain Vestforbr?nding yang mengolah sampah dan selanjutnya dari hasil pengolahan sampah tersebut menyuplai pemanas untuk perumahan.

Menurut Søren Skov, pejabat humas Vestforbr?nding, perusahaan tersebut sekarang sudah menjadi perusahaan masyarakat. Masalah sampah teratasi, sementara laba pun diraup. Sementara proses sampah dengan insinerator pun telah zero emission—tidak mengeluarkan emisi.

Berbagai upaya mitigasi

Setidaknya, Denmark dapat dijadikan contoh untuk melakukan mitigasi dan beberapa program adaptasi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Hampir semua teknologi dan sistem dijalankan Denmark untuk mengurangi emisi karbonnya.

Soal pembuatan teknologi beremisi rendah, sudah beberapa contoh dikemukakan, antara lain sistem insulasi, sistem kombinasi pembangkit listrik dan pemanas, serta energi angin.

Untuk mengurangi emisi karbon yang telah terlepas, Denmark juga berada di garda depan untuk teknologi carbon capture and storage (CCS) yang intinya adalah menangkap emisi karbon dan menyimpannya di bawah permukaan tanah.

Denmark dalam Climate Solutions Denmark menyatakan bahwa perusahaan Vattenfall akan melakukan pendekatan untuk pembangunan CCS di Northern Jutland, utara Kopenhagen. Menurut sejumlah ahli geologi, kawasan Jutland merupakan tempat yang ideal untuk pembangunan CCS. Tentang CCS, masih banyak pihak tidak sepakat karena dikhawatirkan kebocoran yang akan mengakibatkan katastropi.

Selain CCS, energi angin di Denmark telah mencapai tahapan amat maju. Saat ini energi angin telah berhasil beberapa jam dalam setahun mampu menghasilkan listrik. Pulau Samsoe, sekitar empat jam menyeberang dari Kopenhagen, kini menjadi satu-satunya pulau di dunia yang sama sekali tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil. Mereka membangun industri wind turbine, setidaknya satu wind turbine membutuhkan tenaga pekerja sekitar 13 orang.

Denmark juga menjadi rumah dari pabrik enzim terkemuka di dunia, Novozymes, yang memproduksi enzim yang jika digunakan, dapat dilakukan penghematan air. Novozymes telah merambah lebih dari 130 negara dan lebih dari 50 persen pasar dunia yang ditangani.

Semua langkah untuk menghadapi ancaman perubahan iklim telah dijalankan Denmark. Dan, kini Denmark telah mengecap manisnya buah hasil ”revolusi pembangunannya”. Namun, di sana ada suara sumbang yang masih terdengar dari kalangan organisasi nonpemerintah. Tokoh Greenpeace Denmark, Tarjei Haaland, dalam Monday Morning, dikutip mempertanyakan bahwa Connie Hedegaard, Menteri Lingkungan dan Energi Denmark, saat ini sedang ”membual” soal pengurangan emisi karbon Denmark.

Haaland menuntut agar perusahaan transportasi kapal juga dihitung emisinya agar semua terlihat lebih jelas dan benar. Saat ini emisi dari armada laut jasa angkutan Maersk secara global nyaris sama jumlahnya dengan emisi karbon seluruh negeri Denmark. Tak ada satu pun negara di dunia yang memiliki armada jasa angkutan laut sebesar Denmark dengan Maersk-nya. Itulah yang seharusnya kini menjadi pekerjaan rumah Connie— yang dikenal amat kritis terhadap sesama negara Uni Eropa.

(Brigitta Isworo Laksmi)

 KOMPAS/BRIGITTA ISWORO LAKSMI

 

Jaringan Raksasa Listrik diEropa

Jaringan Listrik Raksasa Eropa




Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Ilustrasi: www.thecuttingedgenews.

Komisi Eropa berniat membangun jaringan listrik raksasa di perairan sekitar Eropa seperti Laut Utara, Laut Mediterania dan Wilayah Balkan. Tujuannya, menaikkan pasokan listrik dari energi air dan angin.

Produksi besar-besaran adalah satu-satunya jalan keluar untuk menghasilkan pasokan listrik hijau yang stabil, baik dari angin atau surya. Ahli energi hijau dari Inggris James Woudhuysen menjelaskan, sumber energi ini tergantung pada aliran tenaga dalam jumlah besar.

"Kita tidak bisa mengandalkan hanya pada panel surya di atap rumah atau kincir angin kecil. Semuanya harus dilakukan dalam skala besar. Ini adalah prinsip produksi energi ini," kata Woudhuysen.

Dengan produksi besar-besaran ini listrik bisa dialirkan dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya dari tempat yang banyak angin ke tempat yang tidak berangin. Jadi pasokan listrik bisa dipertahankan.

Para peneliti dari Universitas Kassel di Jerman menerapkan ide produksi besar-besaran listrik tenaga angin. Untuk memasok listrik secara berkesinambungan ke Eropa mereka merencanakan pembangunan 'supergrid' atau jaringan listrik raksasa.

Jaringan ini akan menghubungkan berbagai wilayah di Eropa. 70 persen dari listrik akan berasal dari tenaga angin. Pusat pembangkit listrik tenaga air juga akan di bangun di Skandinavia sebagai penunjang.

Profesor Wil Kling, ahli transisi energi dari TU Eindhoven mendukung ide para ilmuwan Jerman itu. Namun demikian ia lebih berhati-hati. Menurutnya sangat mungkin untuk memasok 50 persen kebutuhan energi eropa dengan listrik hijau. Untuk itu perlu dilakukan investasi besar-besaran mencapai milyaran Euro. Ini karena harus dibangun jaringan bawah tanah dan bawah laut dengan kapasitas sangat besar.

Investasi mahal ini tidak harus menjadi masalah. Jaringan ini akan menghasilkan uang besar. Antara Belanda dan Norwegia, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir dipakai jaringan listrik bawah laut. Pembangunannya menghabiskan dana 400 juta euro. Wil Kling optimis investasi ini tetap menguntungkan.

"Jaringan antara Belanda dan Norwegia itu dalam waktu satu tahun sudah menghasilkan lebih dari 100 juta Euro. Kalau trend ini bisa dipertahankan dalam beberapa tahun ke depan modal investasi akan balik. Dari kaca mata ekonomi ini adalah investasi yang menarik," jelas Wil Kling.

Langkah pertama pembangunan Supergrid Eropa telah diambil oleh Komisi Eropa. Komisaris Energi Andris Piebalgs dalam waktu dekat akan berunding dengan Jerman, Swedia dan Denmark. Mereka akan menjajagi kemungkinan penggabungan produksi energi angin dari Jerman dan Denmark melalui pusat pembangkit tenaga air di Swedia.



Sumber: alpensteel.com/AFP

 

 
Halaman 423 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook