Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Sumber Energi Baru Yang Murah Dan Tanpa Polusi

Ilmuwan Kembangkan Alat Efisiensi Daya Sinar Matahari

 Dengan menggunakan lembaran kaca yang diselimuti oleh cat organik para ilmuwan telah membuat satu alat kekuatan sinar matahari yang efisien dan praktis yang mereka yakini dapat membuat sumber energi baru yang murah dan sekaligus bersih tanpa polusi.

Para ilmuwan bersemangat untuk mencari alternatif sumber energi baru yang mengunakan sinar matahari sebagai sumber energi pengganti di masa mendatang.

Para ilmuwan menggunakan lembaran gelas kaca yang dilapisi dengan cat organik untuk mengkonsentrasikan sinar matahari di satu bidang tembak.

Cat organik tersebut mengabsorbsi sinar matahari yang terkumpul yang kemudian dipindahkan ke lapisan kaca yang membawa panas sinar matahari hingga ke bagian pinggir lapisan kaca membawa atau memindahkan sinar matahari ke jarak tertentu, demikian dikatakan oleh para peneliti.

Pada bagian tepi lapisan gelas kaca terletak sel-sel sinar matahari yang kemudian mengubah sinar matahari menjadi listrik.

Jadi kami mengerjakannya hanya dengan menggunakan selembar kaca yang dilapisi cat organik diatasnya, kata profesor elektro di MIT, Marc Baldo yang memimpin proyek penelitian tersebut.

Pemikiran dasarnya adalah sinar matahari ditangkap lembaran kaca yang dilapisi cat organik . Cat itu kemudian berpindah ke bidang dipinggrir lembaran kaca . Jadi kami berpendapat dengan menggunakan metode itu kami dapat menggurangi biaya pembuatan listrik dengan menggunakan energi sinar matahari, kata Baldo.

Yang dibutuhkan hanyalah sel-sel sinar matahari yang berpindah ke bagian pinggir lembar kaca , sehingga kita dapat menghemat biaya listrik yang dihasilkan sinar matahari.

Lembar kaca yang digunakan adalah yang rata dan ringan sehingga dapat digunakan dalam panel sinar matahari yang dapat diletakkan di bagian atap atau digunakan sebagai jendela yang dapat membangkitkan tenaga listrik .

Para ilmuwan memperkirakan system yang mereka temukan dapat digunakan masyarakat luas dalam waktu tiga tahun mendatang dan dapat ditambahkan kepada sistem panel solar untuk menambah efisiensi sistem penghasil listrik mengunakan sinar matahari.

Sebagian peneliti MIT kini membentuk perusahaan yang berkantor pusat di Boston untuk mengembangkan pemasaran dan teknologi alat penghasil listrik menggunakan cahaya matahari. (Ant/OL-02)

Sumber: Media Indonesia Online

WASHINGTON--MI:
 

~ Gedung Hijau Kurangi Pemanasan Global

Program Geclung Hijau Diwajibkan Di Jakarta

Guna membantu mengurangi pemanasan global, pemerintah provinsi DKI Jakarta mewajibkan gedung-gedung di Jakarta mewujudkan program gedung hijau (green building) yang ramah lingkungan.

SELAIN untuk menyelamatkan lingkungan hidup, gedung hijau juga diharapkan dapat membantu mengurangi pemanasan global yang kini menjadi masalah besar. Kini konsep bangunan ramah lingkungan rencananya diterapkan tahun 2010.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, konsep gedung hijau diterapkan untuk menciptakan bangunan yang hemat dalam pemakaian energi dan air sehingga ramah terhadap lingkungan. Konsep yang sudah disempurnakan nantinya akan disahkan dalam peraturan daerah. Dalam peraturan daerah (perda) baru nanti akan tertuang peraturan standarisasi gedung hinjau dilengkapi sertifikat yang dikeluarkan Green Building Council International.

Penerapan konsep green building sebagai langkah awal akan

dimulai di gedung Balai Kota DKI Jakarta yang tentu saja sudah diperbaharui terlebih dahulu karena usianya yang sudah menginjak ke-35. Setelah gedung Balai Kota disulap menjadi green building yang dilengkapi eksterior dan interior bangunan. Semuanya diatur secara rapih

agar energi yang digunakan untuk penerangan dan pendingin ruangan efisien. Di samping penggunaan lampu hemat energi dan pembangkit listrik tenaga matahari di gedung juga menjadi salah satu langkah yang ditempuh. Baru setelah itu, konsep green

building wajib diwujudkan di gedung-gedung pemerintah dan gedung-gedung swasta. Kedutaan Inggris, Australia, Austria dan Swiss menjadi pionir pendaftaran yang menghendaki gedung kantor mereka diikutsertakan dalam program green building. Para pemilik gedung-gedung usia tua

juga akan mendapat penjelasan mengenai konsep yang ramah lingkungan ini.

Respon positif juga datang dari pengembang PT Medialand. Perusahaan dari grup Kompas Gramedia juga telah mencanangkan pembangunan green building di kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Gedung Kompas Gramedia Group yang dibangun PT Medialand berlantai 28 di atas lahan seluas 7.000 meter persegi dengan desain konsep green building.Perbandingannya, 70 persen lahan hijau dan 30 persen bangunan.

Untuk mewujudkan gedung hijau di Jakarta, pemerintah provinsi bekerja sama dengan Clinton Foundation untuk mencari sumber dana guna membiayai program penggunaan energi matahari. Sumber dana itu akan digunakan untuk pinjaman bagi pemilik gedung-gedung yang akan menerapkan konsep gedung hijau.

Direktur Clinton Foundation untuk Asia, Ruby Shang mengatakan, pihaknya sudah bekerja sama dengan berbagai institusi finansial di seluruh dunia untuk pembangunan gedung-gedung hijau yang ramah lingkungan.

Moch Sanan Syam EN, Jakarta Timur

 

 

~ Pengembangan Energi Terbarukan: Belajar dari Keberhasilan India

Pengembangan Energi Terbarukan: Belajar dari Keberhasilan India

Belajar (berkaca) dari keberhasilan orang lain adalah salah satu upaya menuju keberhasilan dan mandiri. Kalimat tersebut sangat tepat jika ditujukan bagi pengembangan energi terbarukan di Indonesia yang hingga kini masih seperti berjalan di tempat.

Pertanyaannya kemudian siapa yang bisa dijadikan media pembelajaran untuk mengembangkan energi terbarukan di negeri yang sangat kaya dan bervariasi akan sumber daya energi terbarukan? Jawabannya adalah India, negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia sekitar lebih dari satu miliar.

Penulis tertegun, juga mungkin banyak dari peserta yang hadir pada Roundtable Discussion on Institutional Mechanism for Developing and Financing Rural Electrification Projects in Indonesia pada 29 Agustus lalu, setelah melihat dan mendengarkan pemaparan dari delegasi India mengenai keberhasilan Program Energi Pedesaan melalui pemanfaatan energi terbarukan di negeri satu miliar penduduk tersebut.

Keberhasilan itu tidak mudah diperoleh negara berkembang mana pun, termasuk dalam komunitas commonwealth itu. Tidak hanya luasnya objek (masyarakat) yang perlu diberikan akses energi, dan keberadaan energi terbarukan itu sendiri yang secara normatif harga energi yang dihasilkan hingga saat ini masih terlalu mahal dibandingkan dengan energi konvensional, apalagi terhadap yang disubsidi.

Kemudian pertanyaan berikutnya adalah kenapa India bisa berhasil dengan kondisi seperti itu?

Secara singkat, jawabannya adalah karena India mengembangkan energi terbarukan dengan fokus dan sungguh-sungguh. Fokus karena India, dengan sumber daya energi terbarukan yang relatif banyak dan bervariasi, bertekad untuk menjelmakan kekayaan alamnya menjadi sumber daya.

Untuk menggawanginya, maka Pemerintah India perlu mengadakan jabatan menteri yang khusus mengurusi energi terbarukan atau disebut Ministry of non-Conventional Energy Sources. Di bawah komando Kementrian Sumber Energi Non-konvensional inilah pengembangan energi terbarukan dilakukan secara sistematis, komprehensif, dan integratif.

Serta yang tak kalah pentingnya (paling ditunggu dunia usaha) adalah adanya regulasi dalam bentuk kebijakan nasional yang strategis dalam mendukung terciptanya peluang penelitian dan pengembangan serta berusaha dalam sektor energi terbarukan.

Sungguh-sungguh dalam mengembangkan energi terbarukan terwujud dengan adanya keterpaduan yang dilakukan oleh semua lembaga terkait (stakeholder) telah mampu membentuk sinergi yang baik. Keterpaduan sinergi lembaga-lembaga itu juga secara bertahap telah mampu menempatkan posisi energi terbarukan tidak hanya memperkuat ekonomi rakyat maupun mereduksi kemiskinan masyarakat desa.

Berfungsinya lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan (R&D) di bidang teknologi energi terbarukan, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), dan lembaga-lembaga penelitian di perguruan tinggi di Indonesia, terbukti melahirkan mahakarya mandiri yang tidak hanya berani mengembangkan, tetapi juga dengan bangga menggunakan teknologi energi terbarukan buatan sendiri (indigenous technology).

Hal tersebut berhasil menginisiasi bermunculannya pusat-pusat studi di bidang energi terbarukan seperti Advance R&D Centers and Institute Set Up, Alternate Hydro Energy Center, Center for Wind Energy Technology, dan NIRE yang tidak lain menjadi salah kunci keberhasilan implementasi energi terbarukan di India.

Lebih jauh, kebijakan peraturan yang dikeluarkan Pemerintah India melalui Kementrian Sumber Daya Terbarukan Non-konvensional mampu menghadirkan iklim yang tidak hanya memayungi swasta, tetapi juga masyarakat sebagai bagian integral dari stakeholder di bidang energi. Misalnya, peneliti program energi Pelangi, sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan, perubahan iklim, dan isu energi terbarukan. di mana masyarakat dilibatkan mulai dari perencanaan hingga monitoring dan evaluasi.

Beberapa teknologi energi terbarukan tersebut telah sejajar dengan teknologi negara-negara maju seperti USA, Jerman, Denmark, Swedia, dan Jepang.

Biogas plants adalah teknologi energi terbarukan yang paling maju di India dan merupakan salah satu desain yang menjadi rujukan dunia selain Cina. Disain dan teknologi biogas India menempati tempat kedua di dunia dalam jumlah pembangkit biogas.

Pembangkit listrik tenaga angin (wind power) yang selama ini kita kenal melalui produksi negara-negara Eropa, seperti Denmark, Swedia, dan Jerman, ternyata juga telah dikuasai teknologinya dan diproduksi, baik untuk kepentingan dalam negeri India maupun untuk pasar ekspor dan berhasil menempati urutan kelima dunia.

Adapun untuk pembangkit listrik tenaga matahari (solar Photovoltaic/solar PV), India secara berurutan menempati posisi kelima dunia dalam hal memproduksi sendiri peralatan solar PV dan urutan keempat dalam hal pemanfaatannya.

Tabel 1 berikut ini memperlihatkan potensi energi terbarukan di India dan hasil yang telah dicapai, serta rencana pengembangan lima tahun yang ke-10, tahun 2002-2007.

Pada tatanan peraturan perundangan, Kementerian Sumber Daya Energi Non-konvensional telah mampu melahirkan kebijakan yang kondusif. Kebijakan itu, antara lain kebijakan kelembagaan pada tingkat negara (institutional arrangements including state level), mekanisme pendanaan (financing mechanism) yang mengadopsi pola "Grameen Bank", Fiscal Incentives, dan Technology Development & Commercialization.

Peran swasta dalam pengembangan energi terbarukan di India sangat besar. Total nilai investasi swasta yang ditanam mencapai 82 persen dari total investasi sebesar 250 miliar rupee atau setara 46,23 triliun rupiah dengan nilai tukar 1 rupee (INR) sama dengan 184,918 rupiah (IDR) dengan kapasitas terpasang sekitar 4 GW.

Peran swasta tersebut melalui industri manufakturnya telah menghasilkan produksi lokal per tahun yang mencapai 500 MW hingga 750 MW untuk industri tenaga angin, 32 MW untuk produksi solar cell dengan 8 perusahaan, 70 MW untuk modul PV dengan 14 perusahaan.

Selain untuk kepentingan dalam negeri, pada tahun fiskal 2002-2003, industri tenaga matahari (solar PV) juga merambah dunia dengan mengekspor sekitar 15 MW yang terdiri atas 22 MW solar cells dan 23 MW dalam bentuk modul.

Keberhasilan tersebut juga tercermin dengan meningkatnya desa yang mendapat sarana listrik melalui program energi pedesaan yang memanfaatkan energi terbarukan. Pada akhir Mei 2003 lalu, desa yang mendapat sarana listrik mencapai 83,8 persen dari total 587.258 desa.

Keberhasilan tersebut akan terus dijalankan hingga Maret 2007 di mana target desa yang memperoleh listrik mencapai 100 persen. Dengan kata lain, pada tahun 2007 nanti seluruh penduduk India, yang berjumlah lebih dari satu miliar, dapat menikmati listrik sebagai buah dari program yang mereka sebut mendesentralisasi pembangkit listrik berbasis sumber energi terbarukan (Decentralized Generation Based on Renewable Energy Sources).

Dengan berkaca atas keberhasilan India dalam pengembangan energi terbarukan dan melihat potensi yang ada di bangsa Indonesia, sebenarnya keberhasilan tersebut dapat ditiru dan dilaksanakan. Terlepas perlu atau tidaknya kita mengupayakan adanya kebijakan yang sangat kuat pada tatanan regulasi dengan mengusulkan adanya pejabat setingkat menteri untuk mengurusi pengembangan energi terbarukan.

Selain itu, kita perlu merapatkan barisan dengan meninggalkan "kegagalan kelembagaan" yang selama ini telah menjatuhkan negara Indonesia, baik secara ekonomi, politik, maupun moral. Kejatuhan moral itu, seperti egoisme sektoral (merasa lembaganya yang paling berhak) dan korupsi dengan sejuta alasan antara lain dengan mengeksploitasi kepentingan lingkungan hidup maupun kemiskinan.

Kerja keras yang harmonis antara lembaga penelitian baik pemerintah maupun non-pemerintah, pusat kajian strategis, seperti BPPT, LIPI, industri manufaktur swasta, serta lembaga profesi, seperti Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).

Yang terakhir dan tak kalah pentingnya adalah peran serta masyarakat dari awal hingga akhir proyek, yang tidak hanya memberikan hal-hal teknis dan ekonomi. Masyarakat juga harus berperan dalam hal yang berkaitan dengan pemanfaatan energi yang dihasilkan bagi kegiatan-kegiatan yang mendorong ke arah hidup yang lebih baik, seperti memanfaatkan penerangan untuk belajar serta kegiatan yang meningkatkan pendapat masyarakat, seperti untuk menjahit, menggiling padi, dan membuat penganan.

Energi terbarukan dalam pemanfaatannya tidak hanya sekadar memberikan akses energi secara luas kepada masyarakat yang ingin dicapai (belajar dari kegagalan program listrik masuk desa yang kental muatan politik di era orde baru), tetapi juga untuk sebagai alternatif penanggulangan kemiskinan.

Satu ungkapan menarik dari Mahatma Gandhi, bapak guru dunia-untuk direnungi seperti yang disampaikan delegasi India, paling tidak kepada mereka yang terlibat di sektor energi terbarukan di Indonesia sebagai agent of development-adalah "The earth has enough for everyone’s need but not for anyone’s greed". Artinya, bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk mereka yang rakus (baca: koruptor).

 

Nasrullah Salim Manajer Program Energi, PELANGI

Oleh: Nasrullah Salim
 

~ Energi Matahari Dengan Berbagai Aplikasi

 

 Berbagai Aplikasi Energi Matahari

 Energi matahari merupakan energi yang utama bagi kehidupan di bumi ini. Berbagai jenis energi, baik yang terbarukan maupun tak-terbarukan merupakan bentuk turunan dari energi ini baik secara langsung maupun tidak langsung.

 

Energi yang merupakan turunan dari energi matahari misalnya:

  • Energi angin yang timbul akibat adanya perbedan suhu dan tekanan satu tempat dengan tempat lain sebagai efek energi panas matahari.
  • Energi air karena adanya siklus hidrologi akibat dari energi panas matahari yang mengenai bumi.
  • Energi biomassa karena adanya fotosintesis dari tumbuhan yang notabene menggunakan energi matahari.
  • Energi gelombang laut yang muncul akibat energi angin.
  • Energi fosil yang merupakan bentuk lain dari energi biomassa yang telah mengalami proses selama berjuta-juta tahun.

Selain itu energi panas matahari juga berperan penting dalam menjaga kehidupan di bumi ini. Tanpa adanya energi panas dari matahari maka seluruh kehidupan di muka bumi ini pasti akan musnah karena permukaan bumi akan sangat dingin dan tidak ada makluk yang sanggup hidup di bumi.

Energi Panas Matahari sebagai Energi Alternatif

Energi panas matahari merupakan salah satu energi yang potensial untuk dikelola dan dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber cadangan energi terutama bagi negara-negara yang terletak di khatulistiwa termasuk Indonesia, dimana matahari bersinar sepanjang tahun. Dapat dilihat dari gambar di atas bahwa energi matahari yang tersedia adalah sebesar 81.000 TerraWatt sedangkan yang dimanfaatkan masih sangat sedikit.

Ada beberapa cara pemanfaatan energi panas matahari yaitu:

  1. Pemanasan ruangan
  2. Penerangan ruangan
  3. Kompor matahari
  4. Pengeringan hasi pertanian
  5. Distilasi air kotor
  6. Pemanasan air
  7. Pembangkitan listrik

Pemanasan Ruangan

Ada beberapa teknik penggunan energi panas matahari untuk pemanasan ruangan, yaitu:

  • Jendela

Ini merupakan teknik pemanasan dengan menggunakan energi panas matahari yang paling sederhana. Hanya diperlukan sebuah lubang pada dinding untuk meneruskan panas matahari dari luar masuk ke dalam bangunan. Ada jendela yang langsung tanpa ada kacanya dan ada yang menggunakan kaca. Untuk mendapatkan panas yang optimal maka pada jendela dipasang kaca ganda. Biasanya di daerah-daerah empat musim dinding/tembok bangunan diganti dengan kaca agar matahari bebas menyinari dan menghangatkan ruangan pada saat musim dingin.

  • Dinding Trombe(Trombe Wall)

tromble.jpgDinding trombe adalah dinding yang diluarnya terdapat ruangan sempit berisi udara. Dinding bagian luar dari ruangan sempit tersebut biasanya berupa kaca. Dinding ini dinamai berdasarkan nama penemunya yaitu Felix Trombe, orang berkebangsaan Perancis.

Prinsip kerjanya adalah permukaan luar ruangan ini akan dipanasi oleh sinar matahari, kemudian panas tersebut perlahan-lahan dipindahkan kedalam ruangan sempit. Selanjutnya panas di dalam ruangan sempit tersebut akan dikonveksikan ke dalam bangunan melalui saluran udara pada dinding trombe.

  • Greenhouse

greenhouse.jpgTeknik ini hampir sama dengan dinding trombe hanya saja jarak antara dinding masif dengan kaca lebih lebar, sehingga tanaman bisa hidup di dalamnya.

Prinsip kerja greenhouse juga serupa dengan dinding trombe. Panas masuk melalui kaca ke dalam greenhouse lalu dikonveksikan ke dalam bangunan untuk menghangatkan ruangan atau menjaga suhu rungan tetap stabil meskipun pada waktu siang atau malam hari.

Penerangan Ruangan

Adalah teknik pemanfaatan energi matahari yang banyak dipakai saat ini. Dengan teknik ini pada siang hari lampu pada bangunan tidak perlu dinyalakan sehingga menghemat penggunaan listrik untuk penerangan. Teknik ini dilaksanakan dengan mendesain bangunan yang memungkinkan cahaya matahari bisa masuk dan menerangi ruangan dalam bangunan.

Kompor Matahari

Prinsip kerja dari kompor matahari adalah dengan memfokuskan panas yang diterima dari matahari pada suatu titik menggunakan sebuah cermin cekung besar sehingga didapatkan panas yang besar yang dapat digunakan untuk menggantikan panas dari kompor minyak atau kayu bakar.

kompor_surya.jpg

Untuk diameter cermin sebesar1,3 meter kompor ini memberikan daya thermal sebesar 800 watt pada panci. Dengan menggunakan kompor ini maka kebutuhan akan energi fosil dan energi listrik untuk memasak dapat dikurangi.

Pengeringan Hasil Pertanian

Hal ini biasanya dilakukan petani di desa-desa daerah tropis dengan menjemur hasil panennya dibawah terik sinar matahari. Cara ini sangat menguntungkan bagi para petani karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengeringkan hasil panennya. Berbeda dengan petani di negara-negara empat musim yang harus mengeluarkan biaya untuk mengeringkan hasil panennya dengan menggunakan oven yang menggunakan bahan bakar fosil maupun menggunakan listrik.

Distilasi Air

destilasi.jpgCara kerjanya adalah sebuah kolam yang dangkal, dengan kedalaman 25mm hingga 50 mm, ditututup oleh kaca. Air yang dipanaskan oleh radiasi matahari, sebagian menguap, sebagian uap itu mengembun pada bagian bawah dari permukaan kaca yang lebih dingin. Kaca tersebut dimiringkan sedikit 10 derajat untuk memungkinkan embunan mengalir karena gaya berat menuju ke saluran penampungan yang selanjutnya dialirkan ke tangki penyimpanan.

Pemanasan Air

Penyediaan air panas sangat diperlukan oleh masyarakat, baik untuk mandi maupun untuk alat antiseptik pada rumah sakit dan klinik kesehatan. Penyediaan air panas ini memerlukan biaya yang besar karena harus tersedia sewaktu-waktu dan biasanya untuk memanaskan digunakan energi fosil ataupun energi listrik. Namun Dengan menggunakan pemanas air tenaga surya maka hal ini bukan merupakan masalah karena pemanasan air dilakukan dengan menyerap panas matahari dengan menggunakan kolektor sehingga tidak memerlukan biaya bahan bakar.

pemanas_air.jpg

Prinsip kerjanya adalah panas dari matahari diterima oleh kolektor yang terdapat di dalam terdapat pipa-pipa berisi air. Panas yang diterima kolektor akan diserap oleh air yang berada di dalam pipa sehingga suhu air meningkat. Air dingin dialirkan dari bawah sedangkan air panasnya dialirkan lewat atas karena massa jenis air panas lebih kecil daripada massa jenis air dingin (prinsip thermosipon). Air ini lalu masuk ke dalam penyimpan panas. Pada penyimpan panas, panas dari air ini dipindahkan ke pipa berisi air yang lain yang merupakan persediaan air untuk mandi/antiseptik.

Sedangkan air yang berasal dari kolektor akan diputar kembali ke kolektor dengan menggunakan pompa atau hanya menggunakan prinsip thermosipon. Persediaan air panas akan disimpan di dalam tangki penyimpanan yang terbuat dari bahan isolator thermal. Pada sistem ini terdapat pengontrol suhu jika suhu air panas yang dihasilkan kurang dari yang diinginkan maka air akan dimasukkan kembali ke tangki penyimpan panas untuk dipanaskan kembali.

Kolektor yang digunakan pada pemanas air tenaga panas matahari ini adalah kolektor surya plat datar yang bagian atasnya terbuat dari kaca yang berwarna hitam redup sedangkan bagian bawahnya terbuat dari bahan isolator yang baik sehingga panas yang terserap kolektor tidak terlepas ke lingkungan. Air panas di dalam kolektor bisa mencapai 82 C sedangkan air panas yang dihasilkan tergantung keinginan karena sistem dilengkapi pengontrol suhu.

Pembangkitan Listrik

solar_generation.jpgPrinsipnya hampir sama dengan pemanasan air hanya pada pembangkitan listrik, sinar matahari diperkuat oleh kolektor pada suatu titik fokus untuk menghasilkan panas yang sangat tinggi bahkan bisa mencapai suhu 3800 C. Pipa yang berisi air dilewatkan tepat pada titik fokus sehingga panas tersebut diserap oleh air di dalam pipa. Panas yang sangat besar ini dibutuhkan untuk mengubah fase cair air di dalam pipa menjadi uap yang bertekanan tinggi. Uap bertekanan tinggi yang di hasilkan ini kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang kemudian akan memutar turbo generator untuk menghasilkan listrik.

parabolik.gif

Ada dua jenis kolektor yang biasa digunakan untuk pembangkitan listrik yaitu kolektor parabolik memanjang dan kolektor parabolik cakram.

parabolik.jpg

Kolektor Parabolik Memanjang

parabolik1.jpg

Kolektor Parabolik Cakram

Di California, Amerika Serikat, alat ini telah mampu menghasilkan 354 MW listrik. Dengan memproduksi kolektor ini secara massal, maka harga satuan energi matahari ini di AS, sekitar Rp 100/KWh lebih murah dibandingkan energi nuklir dan sama dengan energi dari tenaga pembangkit dengan bahan baku energi fosil.(Ivan A Hadar, 2005).

Di India dengan area seluas 219.000 meter persegi maka kolektor mampu menghasilkan listrik sebesar 35-40 MW dengan rata-rata intensitas penyinaranya adalah sebesar 5.8 KWH per meter persegi per hari.(Gordon Feller).

Kita dapat juga membangkitkan listrik langsung dari energi surya, yaitu dengan menggunakan photovoltaic. Alat ini terbuat dari bahan semikonduktor yang sangat peka dalam melepaskan elektron ketika terkena panjang gelombang sinar matahari tertentu. Akan tetapi alat ini masih sangat mahal dan efisiensinya masih sangat rendah, yaitu sekitar 10%.

Pembangkitan listrik berdasarkan perbedaan tekanan pada gas juga bisa dilakukan, yaitu dengan menggunakan chimney. Ini sebuah sistem tower yang terdiri turbin gas dan jalinan kaca tertutup yang luas untuk memerangkap panas matahari.

Prinsipnya: sinar matahari akan menembus kaca dari alat ini kemudian memanaskan gas yang terperangkap di bawah kaca. Gas suhu tinggi ini akan memasuki tower tertutup yang tingginya bisa mencapai 1000 meter vertikal. Oleh karena perbedaan suhu gas pada permukaan bumi dan 1000 meter diatas permukaan bumi, maka gas akan mengalir ke atas melalui tower ini. Aliran gas/udara tersebut akan memutar turbin gas. Skema sederhana dapat dilihat pada gambar dibawah.

chimney.gif

Keuntungan dan Kerugian Energi Panas Matahari

Keuntungan dari penggunaan energi panas matahari antara lain:

  • Energi panas matahari merupakan energi yang tersedia hampir diseluruh bagian permukaan bumi dan tidak habis (renewable energy).
  • Penggunaan energi panas matahari tidak menghasilkan polutan dan emisi yang berbahaya baik bagi manusia maupun lingkungan.
  • Penggunaan energi panas matahari untuk pemanas air, pengeringan hasil panen akan dapat mengurangi kebutuhan akan energi fosil.
  • Pembanguan pemanas air tenaga matahari cukup sederhana dan memiliki nilai ekonomis.

Kerugian dari penggunaan energi panas matahari antara lain:

  • Sistem pemanas air dan pembangkit listrik tenaga panas matahari tidak efektif digunakan pada daerah memiliki cuaca berawan untuk waktu yang lama.
  • Pada musim dingin, pipa-pipa pada sistem pemanas ini akan pecah karena air di dalamnya membeku.
  • Membutuhkan lahan yang sangat luas yang seharusnya digunakan untuk pertanian, perumahan, dan kegiatan ekonomi lainya. Hal ini karena rapat energi matahari sangat rendah.
  • Lapisan kolektor yang menyilaukan bisa mengganggu dan membahayakan penglihatan, misalnya penerbangan.
  • Sistem hanya bisa digunakan pada saat matahari bersinar dan tidak bisa digunakan ketika malam hari atau pada saat cuaca berawan.
  • Penyimpanan air panas untuk perumahan bukan merupakan masalah, tetapi penyimpanan uap air pada pembangkit listrik memerlukan teknologi yang sulit.

Pustaka

  • Arismunandar, W. 1995. Teknologi Rekayasa Surya. Bandung. Pradnya Paramita.
  • Boyle, G. 1996. Renewable Energy. Milton Keynes. The Open University.
  • Gordon Feller. India Building Large-Scale Solar Thermal Capacity. Available from http://www.ecoworld.org/Home/Articles2.cfm?TID=325
  • Ivan A Hadar. Kompas, 11 Oktober 2005. Keluar dari Ketergantungan (Pasar) BBM.
  • Passive Solar Architecture – Heating. Available from www.azsolarcenter.com/design/pas-2
  • Solar Cooking. Available from www.energiinfo.org/solar_cooking
 

~ Stasiun Luar Angkasa jepang Bangun Penangkap Energi Matahari

jepang Bangun Stasiun Luar Angkasa Penangkap Energi Matahari

 

Kedengarannya seperti dalam kisah film fiksi, tapi rencana badan luar angkasa Jepang benar-benar serius: Tahun 2030 mereka akan menangkap energi matahari di luar angkasa dan mengirimkannya ke bumi lewat sinar laser atau gelombang mikrowave. Demikian dilansir oleh AFP, Minggu (8/11).

Pemerintah Jepang baru saja memilih sekelompok perusahaan dan tim peneliti yang ditugaskan untuk mencapai ambisi tersebut, mimpi bernilai miliaran dollar, untuk menghasilkan energi bersih dalam jumlah tak terbatas dalam beberapa dekade mendatang.Dengan sedikit sumber energi yang mereka miliki dan ketergantungan yang tinggi pada import, Jepang telah lama ingin menjadi terdepan dalam hal energi matahari dan energi terbaharukan lainnya. Tahun ini Jepang telah menetapkan target ambisius pengurangan emisi gas rumah kaca.

Tetapi rencana Jepang paling berani hingga hari ini adalah pembangunan Space Solar Power System (SSPS), yang berupa serangkaian panel Photovoltaic berukuran beberapa kilometer persegi yang melayang-layang di orbit geostasiun, jauh di atas atmosphere bumi.

“Karena energi matahari bersih dan merupakan sumber yang tak terbatas, kami yakin sistem ini akan mampu membantu memecahkan persoalan kekurangan energi dan pemanasan global,” kata peneliti pada Mitsubishi Heavy Industries, salah satu partisipan proyek dalam laporannya.

“Sinar matahari melimpah ruah di luar angkasa.”sebut laporan tersebut.

Panel solar akan menangkap energi matahari, yang paling tidak lima kali lebih kuat di luar angkasa dibandingkan dengan di bumi, dan memancarkannya ke bumi melalui sinar laser atau microwave. Energi ini akan di kumpulkan oleh antenna parabola raksasa, yang ditempatkan dilokasi tertentu di laut atau di dam, kata juru bicara Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) Tadashige Takiya.

Peneliti mentargetkan sistem satu gigawatt, ekuivalen dengan pembangkit listrik tenaga nuklir ukuran menengah, yang akan menghasilkan listrik dengan harga delapan sen per Kwh, enam kali lebih murah dari tarif di Jepang sekarang.

Berbagai tantangan, termasuk membawa komponen ke luar angkasa, bisa muncul luar biasa besar, tetapi Jepang telah menjalankan proyek ini sejak tahun 1998, bersama 130 peneliti yang melakukan riset di bawah pengawasan JAXA.

Bulan lalu, Menteri Ekonomi dan Perdagangan bersama Menteri Sain dan Teknologi, membuat satu langkah maju menuju realisasi proyek dengan memilih beberapa perusahaan teknologi terkemuka Jepang untuk melaksanakan proyek. Konsorsium ini diberi nama Institute for Unmanned Space Experiment Free Flyer, beranggotakan Mitsubishi Electric, NEC, Fujitsu dan Sharp.

Roadmap proyek terdiri dari beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum peluncuran penuh di tahun 2030.

Dalam waktu beberapa tahun, “Sebuah satelit yang didesain untuk mencoba transmisi microwave akan ditempatkan pada orbit rendah dengan roket Jepang,” kata salah satu kepala peneliti JAXA Tatsuhito Fujita.

Langkah selanjutnya, diharapkan terjadi sekitar 2020, akan diluncurkan sebuah struktur besar Photovoltaic dengan kapasitas sepuluh megawatt, diikuti dengan sebuah protipe berukuran 250 megawatt.

Langkah ini akan membantu mengevaluasi kemampuan keuangan proyek, dimana hasil akhirnya adalah untuk menghasilkan listrik murah yang mampu bersaing dengan teknologi alternative lainnya.

JAXA mengatakan teknologi transmisi aman tetapi mengakui harus terlebih dahulu meyakinkan publik, yang sering mengkaitkan gambaran sinar laser akan ditembakkan dari luar angkasa, memanggang burung-burung atau memotong pesawat yang sedang terbang.

Menurut penelitian yang dilakukan JAXA tahun 2004, kata “laser” dan “microwave”, merupakan kata yang paling banyak mendapat perhatian diantara 1000 orang responden penelitian. (m. nizar ab

Tokyo 
 
Halaman 423 dari 1038
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook