Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Korsel Ingin Kerjasama Dengan Indonesia Untuk Energi Alternatif Pengganti BBM

Korsel Ingin Kerjasama Energi Ethanol Dengan Indonesia

Korea Selatan menyatakan ingin bekerjasama dengan Indonesia di bidang pengembangan energi pengganti ethanol sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM). 

Kami mempunyai pengalaman 50 tahun dalam hal penggunaan ethanol sebagai energi substitusi, karena itu kami mengajak Indonesia untuk menjalin kerjasama pengembangannya, karena Indonesia mempunyai bahan baku sedangkan Korea mempunyai teknologinya, kata mantan PM Korea Selatan, Dr. Chang Yuei Lim di depan diskusi yang diselenggarakan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Jakarta, Selasa (24/01).

Sebagai negara yang kaya bahan baku pembuatan ethanol, yaitu singkong, Korea mengharapkan Indonesia menjadi negara terdepan ASEAN dalam mengekploitasi penggunaan ethanol sebagai bahan bakar pengganti BBM. Ia menyatakan keyakinannya, jika itu dilakukan, Indonesia akan mendapat keuntungan dalam mengatasi masalah BBM.

Korea sendiri tak punya singkong karena iklim kami tidak cocok untuk tanaman tersebut. Tapi kami mempunyai teknologinya untuk menjadikan singkong sebagai ethanol, ujarnya. Dr. Chang Yuei Lim mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya sudah mengadakan pembicaraan dengan Gubernur Jawa Timur untuk pengembangan industri ethanol ini, tapi belum membuahkan hasil.

Ketua Umum DPP PPP yang juga mantan Wapres, H. Hamzah Haz menyambut baik ajakan kerjasama Korea untuk mengembangkan ethanol sebagai energi substitusi BBM yang penggunaannya semakin membesar. Kerjasama kedua negara dalam hal pengembangan ethanol sebagai energi alternatif, menurutnya perlu disambut baik demi kebaikan masa depan, sebab diperkirakan permintaan BBM nantinya akan semakin besar.

Ketika menjawab pertanyaan pers seusai membuka diskusi, Hamzah mengatakan, pengembangan ethanol akan sangat membantu tatkala kebutuhan BBM untuk pembangkit tenaga listrik yang dikelola PT. PLN semakin meningkat.

Tentang rencana kenaikan tariff dasar listrik (TDL) sampai sekitar 100 persen, Hamzah mengatakan, masalahnya tidak sekedar setuju atau tidak setuju terhadap rencana kenaikan TDL itu. Tapi juga harus diperhitungkan dampaknya, jangan sampai pertumbuhan ekonomi mandeg dan pengangguran semakin banyak, ujarnya.

Politisi wanita PPP, Ny. Aisyah Aminy juga menyambut positif kerjasama Korsel-Indonesia dalam pengembangan ethanol sebagai sumber energi alternatif. Tapi menurutnya, industri ethanol sebaikknya difokuskan pengembangannya di Sumatera, mengingat pulau tersebut sangat kaya dan cocok untuk pengembangan singkong. Saya kira, pemerintah harus segera mengembangkan energi alternatif pengganti minyak. Rencana-rencana yang sudah ada mestinya segera dilakukan, demikian Aisyah Aminy SH. (*/lpk)

Sumber : Korsel Ingin Kembangkan Kerjasama Energi Ethanol Dengan Indonesia

kapanlagi.com (KapanLagi.com)
 

 

~ Pemanfaatan Teknologi PLTMH

PLTMH - Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro


Potensi tenaga air tersebar hampir di seluruh Indonesia dan diperkirakan mencapai 75.000 MW, sementara pemanfaatanya baru sekitar 2,5 persen dari potensi yang ada. Turbin air sebagai alat pengubah energi potensial air menjadi energi torsi / putar yang dapat dimanfaatkan sebagai penggerak generator, pompa dan peralatan lain. Untuk daerah / lokasi yang mempunyai sumber energi air sangatlah menguntungkan apabila memanfaatkan teknologi turbin air. 

Keunggulan :
Beberapa kelebihan dari PLTMH antara lain :
Potensi energi air yang melimpah;
Teknologi yang handal dan kokoh sehingga mampu beroperasi lebih dari 15 tahun;
Teknologi PLTMH merupakan teknologi ramah lingkungan dan terbarukan;
Effisiensi tinggi (70-85 persen).

Spesifikasi teknis :
Dengan memakai rumus di bawah ini, bisa dihitung kapasitas PLTMH sesuai dengan spesifikasinya :

P = r x g x Q x H x eff (Watt)

Sebagai contoh disini diberikan data spesifikasi teknis untuk tipe DASTEL 400CF.

DASTEL 400CF

Net Head Hnet meter 10 15 20 30 40

Debit Q m3/s 0,61 0,75 0,86 1,10 1,22

Diameter Runner Do meter 0,40 0,40 0,40 0,40 0,40

Putaran turbin N Rpm 315 386 446 546 630

Power Ps kW 42 78 119 229 338

Efisiensi h ,71 0,71 0,71 0,71 0,71

Lebar runner Bo meter 0,60 0,61 0,60 0,63 0,60

Diameter pipa Dia in 35 38 41 47 49

Selain tipe ini, telah dikembangkan pula tipe DASTEL 100,150 dan 200CF.

Aplikasi :
Sejauh ini, PLTMH ini telah diaplikasikan di antara lain Kampung Cibunar, Desa Pager Ageung, Tasikmalaya.

Kontak :
Pusat Penelitian Listrik dan Mekatronik
Kompleks LIPI Gd. 20
Jl. Cisitu Sangkuriang
Bandung 40135
Tel. +62 (022) 2503055
Fax +62 (022) 2504773

Sumber : LIPI - Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro

 

~ 15.000 PLTS Pemerintah Akan bangun

Pemerintah Akan Bangun 15.000 PLTS

Pemerintah akan membangun sebanyak 15.000 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan 200 unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) di Indonesia bagian timur pada 2006. 

Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yogo Pratomo di Jakarta, pekan lalu, mengatakan, pembangunan pembangkit berdaya kecil tersebut merupakan upaya pemerintah memenuhi kebutuhan energi listrik di Indonesia bagian timur yang kini tertinggal dibandingkan bagian barat.

"Saat ini terjadi penumpukan daya listrik di Pulau Jawa ketimbang di luar Jawa. Karenanya, pemerintah akan memperbanyak pembangunan PLTS dan PLTM di Indonesia bagian timur," katanya.

Menurut dia, pemerintah memang telah membangun puluhan ribu unit PLTS di seluruh Indonesia. Namun, mulai 2006, pembangkit jenis itu akan diperbanyak dan difokuskan di wilayah Indonesia timur.

"Setiap unit PLTS berdaya sekitar 100 watt yang diharapkan mencukupi kebutuhan listrik di wilayah terpencil dan pelosok-pelosok wilayah timur Indonesia," ujarnya.

Yogo mengatakan, investasi awal dalam penyediaan PLTS memang cukup besar yakni antara Rp5-6 juta per unit. Namun, setelah PLTS terpasang, pembangkit tersebut tidak memerlukan biaya pembelian energi lagi untuk menghasilkan listrik. Pasalnya, energi telah terpenuhi secara gratis dari matahari yang sepanjang tahun ada di wilayah Indonesia.

Sementara itu, mengenai PLTM, Yogo mengatakan, pada 2006, pemerintah menargetkan pembangunan 200 unit PLTM dengan kapasitas antara 50-500 kilowatt dengan kebutuhan investasi per kilowatt sekitar Rp20 juta.

Kalau pemerintah merencanakan pembangunan 200 unit pembangkit dengan kapasitas rata-rata 100 kilowatt, kebutuhan dana mencapai Rp400 miliar. "Dana itu diperoleh dari APBN dan PT PLN (Persero)," ujarnya.

Sumber : Pemerintah Akan Bangun 15.000 PLTS

kompas (Kompas Cyber Media)

Jakarta,  
 

 

 

~ Minyak Jarak Lebih Menguntungkan

Minyak jarak lebih untung dari briket batu bara

Pemerintah telah memprogramkan penggunaan briket batu bara secara massal untuk keperluan rumah tangga penduduk miskin. Sebagai langkah teknis merealisasikan program tersebut, pemerintah menganggarkan Rp150 miliar untuk pembelian sepuluh juta tungku briket batu bara yang akan dibagikan secara gratis atau dijual murah kepada penduduk miskin.

Rencananya, anggaran tersebut akan dibebankan kepada APBN 2006. Di sisi lain, masih dalam rangka menanggulangi kemiskinan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan energi alternatif, pemerintah juga sedang merintis kegiatan penanaman jarak pagar di berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Jarak pagar ini akan digunakan untuk membuat minyak jarak sebagai alternatif pengganti solar atau minyak tanah.

Adanya program-program tersebut menunjukkan betapa pemerintah sangat peduli kepada nasib rakyat miskin. Namun demikian, ditinjau dari berbagai aspek seharusnya pelaksanaan program pengembangan minyak jarak lebih diprioritaskan dibandingkan program briket batu bara, khususnya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Perbandingan antara briket batu bara & minyak jarak ditinjau dari berbagai aspek

Briket batu bara Minyak jarak Pengeluaran konsumen per 5500 kcal Rp1.500 Rp1.157 Subsidi pemerintah Ada, terutama untuk penyediaan tungku gratis/murah Tidak ada Penciptaan lapangan kerja untuk investasi Rp2,5 miliar 50 orang 3.000 orang Pengaruh terhadap kesehatan Menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker paru-paru dan infeksi saluran pernafasan Tidak menimbulkan penyakit Dampak terhadap lingkungan Polusi gas karbondioksida dan zat berbahaya lain, kerusakan bekas areal pertambangan Rehabilitasi lahan yang rusak, pemanfaatan lahan terlantar * diolah dari berbagai sumber

Konsumsi minyak tanah rakyat miskin sekitar 2,7 juta kiloliter per tahunnya. Jumlah ini dapat disubstitusi seluruhnya oleh minyak jarak, sebab potensi produksi minyak jarak Indonesia setiap tahunnya berkisar antara 20 juta kiloliter hingga 60 juta kiloliter.

Dengan potensi ini, bahkan konsumsi total minyak tanah yang 'hanya' 12 juta kiloliter per tahun semuanya dapat dipenuhi oleh minyak jarak.

Lebih jauh, tabel menggambarkan beberapa pertimbangan penting mengapa upaya pengembangan minyak jarak harus didahulukan dibandingkan usaha pengembangan briket batu bara.

Briket batu bara mahal

Harga briket batu bara di tingkat konsumen adalah Rp1.500 per kg. Meskipun harga ini seolah-olah lebih murah dibandingkan harga minyak jarak (Rp2.000 per liter berdasarkan perhitungan pesimistis), namun jika dihitung berdasarkan nilai kalorinya ternyata minyak jarak lebih murah.

Satu kilogram briket batu bara hanya mengandung kalori rata-rata sebesar 5.500 kcal, sementara satu liter minyak jarak memiliki kalori rata-rata sebesar 9.500 kcal. Dengan demikian, harga minyak jarak untuk kalori sebesar 5.500 kcal hanya Rp1.157, atau Rp325 lebih murah dibandingkan dengan briket batubara.

Jika konsumsi rata-rata minyak tanah satu keluarga miskin per harinya adalah setengah liter, maka keluarga tersebut akan membutuhkan sekitar 0,8 kg briket batu bara sebagai pengganti minyak tanah. Dengan demikian, mereka harus mengeluarkan Rp432.000 untuk membeli 228 kg briket batu bara setiap tahunnya.

Sedangkan jika konsumsi minyak tanah disubsitusi oleh minyak jarak, satu keluarga miskin membutuhkan 0,47 liter minyak jarak per hari. Dalam satu tahun, keluarga tersebut harus mengeluarkan Rp339.000 untuk membeli 170 liter minyak jarak.

Jadi, minyak jarak lebih layak dibandingkan briket batu bara dilihat dari segi cost yang harus dikeluarkan konsumen keluarga miskin.

Sementara itu, keluarga miskin juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli tungku briket batu bara. Tetapi karena biaya ekstra untuk tungku ini dianggap akan mengurangi minat keluarga miskin menggunakan briket batu bara, pemerintah memutuskan untuk menggratiskan atau menjual murah komponen tersebut. Artinya, pemerintah akan mengeluarkan subsidi.

Tentu subsidi dalam hal ini menjadi tidak relevan terutama karena pemerintah telah bertekad menghilangkan seluruh subsidi di sektor energi.

Investasi briket batu bara juga lebih bersifat padat modal dibandingkan investasi minyak jarak. Dana sebesar Rp2,5 miliar jika diinvestasikan dalam briket batu bara hanya menyerap tenaga kerja sekitar 50 orang, sedangkan jika ditanamkan di usaha minyak jarak akan menyerap tenaga kerja 60 kali lipatnya.

Dengan biaya sekitar Rp1 triliun seluruh lahan kritis di Jawa seluas 400.000 hektare bisa termanfaatkan untuk pengembangan minyak jarak. Di samping itu, pemanfaatan lahan kritis tersebut akan menciptakan lapangan kerja untuk 1,2 juta orang.

Dalam kondisi masyarakat yang sedang dilanda krisis tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, investasi tidak mungkin diarahkan sekadar untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Investasi juga memiliki fungsi sosial, di antaranya adalah menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya.

Karena itu jika dipandang dari fungsi sosialnya, investasi untuk pengembangan minyak jarak jauh lebih layak dibandingkan dengan investasi briket batu bara.

Merusak kesehatan

Tulisan Igor O'Neill dalam harian Kompas (15/10/2005) melukiskan secara gamblang betapa berbahayanya briket batu bara jika digunakan untuk keperluan rumah tangga. Pengguna briket batu bara terancam berbagai penyakit degeneratif seperti kanker paru-paru atau kanker tenggorokan.

Mengutip WHO, O'Neill menyatakan memasak dengan bahan bakar padat di ruangan menyebabkan kematian dini. Menurut penelitian, korban terbanyak adalah perempuan dan anak-anak.

Bahaya ini semakin nyata jika mengingat rumah-rumah di Indonesia biasanya tidak memiliki cerobong dapur sebagai saluran pembuangan asap.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga lain juga menunjukkan kesimpulan yang sama. Penyakit kanker maupun infeksi saluran pernafasan akan menjadi risiko akibat polycyclic aromatic hydrocarbons yang dihasilkan oleh proses pembakaran batu bara, serta zat-zat lain yang beracun seperti sulfur, merkuri, arsenik, selenium, dan fluorida.

Lain halnya dengan minyak jarak. Sejak dulu minyak jarak digolongkan ke dalam clean energy atau green energy. Penelitian membuktikan bahwa minyak jarak tidak mengandung buangan beracun sehingga-jangankan dibandingkan dengan briket batu bara-dibanding minyak tanah pun masih jauh lebih bersih.

Penggunaan briket batu bara juga berpotensi mengotori udara terutama akibat emisi karbondioksida yang dihasilkan dari proses pembakarannya.

Penggunaan briket batu bara juga akan memicu kegiatan pertambangan dalam skala yang lebih ekstensif, padahal tidak jarang lingkungan sekitar area pertambangan rusak parah akibat kegiatan pertambangan yang dilakukan di area itu.

Berlawanan dengan kerusakan lingkungan yang sangat mungkin timbul akibat penggunaan briket batu bara, penelitian menunjukkan penggunaan minyak jarak dapat menurunkan emisi karbon dioksida hingga lebih dari 50

 

~ Kelapa Sawit kurang Fleksibel dari pada jarak-pagar-

Jarak Pagar Lebih Fleksibel dari Kelapa Sawit 

 Jarak pagar (Jathropa curcas) menjadi sangat populer ketika menyoal energi alternatif ramah lingkungan. Biji-bijinya mampu menghasilkan minyak campuran untuk solar. Selain dari jarak pagar, pada dasarnya minyak yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan dapat dijadikan bahan campuran solar, misalnya kelapa sawit atau kedelai. 

Dari percobaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), campuran solar dan minyak nabati (biodiesel) memiliki nilai cetane (oktan pada bensin) lebih tinggi daripada solar murni. Solar yang dicampur dengan minyak nabati menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna daripada solar murni sehingga emisi lebih aman bagi lingkungan.

"Jika solar murni nilai angka cetane-nya sekitar 47, biodiesel antara 60 hingga 62," kata Sony Solistia Wirawan, Kepala Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT di Pusat Penelitian Ilmu Penegtahuan dan Teknologi Serpong, Selasa (14/2). Dalam satu liter bahan bakar, komposisi minyak nabati yang dapat digunakan baru 30 persen agar tidak mengganggu mesin yang dipakai kendaraan sekarang. Menurutnya, di beberapa negara maju biodiesel bahkan telah digunakan 100 persen dengan modifikasi mesin. Bahan-bahan dari karet diganti dengan sintesis viton yang tahan minyak.

Meskipun percobaan baru dilakukan untuk minyak nabati dari bahan kepala sawit, menurut Soni, hal tersebut dapat dilakukan juga untuk minyak jarak. Minyak mentah hasil perasan biji kering akan diolah dengan proses trans-esterifikasi menggunakan metanol untuk memisahkan air. Reaksi tersebut tergolong sederhana dan hanya diperlukan sekitar 10 persen metanol. Hampir 100 persen minyak dapat dimurnikan, bahkan menghasilkan produk samping gliserol yang juga bernilai ekonomi.

"Satu pabrik ukuran kecil yang ada di Serpong dapat menghasilkan 1,5 ton minyak perhari," kata Soni. Meskipun demikian, pihaknya sedang mengembangkan mesin pengolah berkekuatan berkapasitas lebih kecil maupun besar untuk kalangan industri. Biaya investasi untuk mesin saja diperkirakan sekitar 800 juta, sedangkan untuk mesin berkekuatan 3 ton perhari mungkin mencapai 2 hingga 3 miliar.

"Secara teknis prosesnya tidak jauh berbeda dengan pengolahan minyak goreng," katanya. Hanya saja, pasokan bahan baku minyak nabati jumlahnya masih terbatas. Kelapa sawit masih ekonomis diolah menjadi minyak goreng meskipun minyak mentahnya (CPO) yang berkualitas rendah berpotensi untuk diolah menjadi biodiesel.

Jika dibandingkan, jarak pagar mungkin lebih berpotensi daripada kelapa sawit. Jarak pagar yang dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia baru digunakan sebagai pagar hidup. Tumbuhan bergetah ini dapat tumbuh di mana saja, hidup di berbagai kondisi tanah, dan tahan kekeringan, tidak seperti kelapa sawit, yang membutuhkan lahan khusus, ketinggian daerah, dan faktor iklim tertentu. Oleh karena itu, para peneliti BPPT berharap bahwa pengembangan jarak pagar tidak diarahkan untuk merelokasi lahan subur, namun memberdayakan lahan kritis.

"Produktivitasnya juga tidak jauh berbeda, dalam satu hektar lahan dapat dihasilkan sekitar 5 ton minyak pertahun," kata Nadirman Haska, Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT. Satu hektar lahan mampu menghasilkan 25 ton tandan kelapa sawit segar yang dapat diolah menjadi 5 ton CPO sejak tahun ketiga hingga usia produktif 20 tahun.

"Dengan luas lahan yang sama, saya perkirakan dapat ditanam 2.500 batang jarak pagar," kata Nadirman. Sejak usia 5 hingga 8 bulan, buahnya matang sehingga di tahun pertama pun hasilnya dapat dinikmati. Meski demikian, lanjut Nadirman, mungkin baru dihasilkan sekitar 0,5 ton minyak. Seiring tumbuhnya tanaman, produksinya diharapkan terus meningkat lebih dari 10 ton sejak tahun keenam. Usia produktif jarak pagar diperkirakan antara 20 hingga 50 tahun.

Ongkos perawatan untuk tanaman liar ini juga lebih murah. Nadirman memperkirakan hanya perlu 20 hingga 25 persen pendapatan dari hasil produksinya yang dipakai. Sedangkan untuk kelapa sawit, biaya operasionalnya 40 hingga 50 persen dari besar pendapatan produksinya.

Pada dasarnya pembibitan dapat dilakukan secara generatif atau vegetatif. Namun, pembibitan generatif menggunakan biji tidak disarankan karena menurunkan sifat genetik berbeda, sedangkan dengan stek atau kultur jaringan sifat-sifat unggul dapat dipertahankan pada keturunannya.

Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT telah mengembangkan proses pembibitan sederhana yang dapat dilakukan siapa pun dengan sedikit latihan. Bahkan telah disiapkan cairan nutrisi tanaman untuk mencegah mortalitas (kegagalan) bibit dan merangsang pertumbuhannya dari proses penyiapan hingga siap tanam di ruang terbuka.

Selain itu, teknik kultur jaringan yang membutuhkan teknik lebih rumit di laboratorium terus dikembangkan, termasuk menyiapkan pohon induk yang memiliki sifat-sifat genetik baik yaitu menghasilkan biji besar, buah banyak, dan masa tanam cepat.

Sumber : (Jathropa curcas)

 
Halaman 423 dari 990
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook