Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Sudah Efisienkah Pemerintah Dalam Mengelola Ketenagalistrikan?

Menyoal Kenaikan TDL

 

Oleh Ilyani S Andang

Akhirnya DPR menyetujui kenaikan tarif dasar listrik bagi pelanggan 900 VA ke atas mulai tanggal 1 Juli 2010. Kenaikan bervariasi mulai dari 10 hingga 20 persen, rata-rata diperkirakan 18 persen. Berdasarkan keterangan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, kenaikan ini mendesak karena, jika tidak, defisit APBN akan melonjak hingga Rp 5 triliun.

Ini adalah cara yang paling gampang bagi pemerintah untuk menutup defisit APBN, yaitu dengan menambah beban rakyat. Sementara bagaimana dengan tanggung jawab pemerintah dalam mengelola sektor ketenagalistrikan? Sudah efisienkah?

Tolak kenaikan TDL

Mengenai kenaikan tarif dasar listrik (TDL), dari sisi PLN sendiri, seperti dikatakan Dahlan Iskan, Dirut PLN (dalam suatu wawancara di TV swasta), persoalan kenaikan TDL adalah keputusan pemerintah. Bagi PLN tidak masalah apakah dana tersebut berasal dari APBN ataukah langsung dari rakyat.

Sementara bagi konsumen, apa esensinya kenaikan ini? Persoalannya bukan saja kemampuan membayar konsumen yang harus dihitung, tetapi juga akankah konsumen rela membayar dibandingkan dengan kualitas pelayanan yang diberikan oleh PLN selama ini? Apalagi, pelayanan PLN dan Kementerian ESDM termasuk yang terburuk dinilai oleh KPK dibandingkan dengan instansi lain.

Yang jelas, sejak rencana ini bergulir, protes keras dari konsumen begitu banyak yang masuk ke YLKI, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik yang halus maupun sangat kasar. Beban masyarakat sudah sangat berat. Apalagi kenaikan TDL akan memicu kenaikan barang dan jasa lain. Efek bergandanya ini akan menekan 40 juta rakyat miskin dan 90 juta warga kelas menengah.

Selain itu terdapat sekitar 40 juta usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang memakai listrik yang juga ikut dinaikkan oleh pemerintah. Di sini pemerintah juga tidak sensitif; bukannya mengurangi beban UMKM akibat persaingan bebas dengan China, malah menambah beban signifikan berupa kenaikan ongkos produksi. Jika asumsi UMKM tersebut memiliki keluarga dengan tiga anak, maka lebih dari 100 juta manusia Indonesia akan terkena dampak langsung dari kenaikan TDL ini, yaitu berupa sumber nafkah yang terancam gulung tikar dan daya beli yang semakin turun karena kenaikan harga. namun, apakah pemerintah dan DPR mau mendengar?

Pemerintah lalai

Bagi YLKI sendiri, tidak ada pelayanan publik yang paling banyak dikomplain oleh konsumen kecuali pelayanan listrik. Bahkan, dalam lima tahun terakhir ini, PLN menempati peringkat tertinggi keluhan/pengaduan ke YLKI.

Pengaduan yang masuk ke YLKI ini dapat dikategorikan atas dua karakteristik. Yang pertama adalah nonsistemik, yaitu pengaduan yang seharusnya bisa diselesaikan oleh sistem manajemen PLN sendiri, seperti masalah penertiban pemakaian tenaga listrik (P2TL), proses pasang baru dipersulit dan berbelit belit, informasi mengenai pemadaman listrik, dan sebagainya. Parahnya, PLN tidak memiliki akses informasi dan pengaduan yang telah diketahui dan dapat segera diakses oleh masyarakat sehingga pengaduan ini tumpah ke YLKI. Padahal, dengan adanya akses pengaduan, PLN dapat langsung berkomunikasi dengan konsumen dan dapat memberikan keterangan yang langsung dapat dipahami oleh konsumen.

Selain itu, PLN juga masih didera loss (kehilangan listrik) sebesar 10 persen. Ini tentu angka yang masih sangat tinggi, yang juga menyebabkan ”hilangnya” pendapatan PLN secara signifikan.

Yang kedua (dan ini yang terpenting) adalah masalah yang sistemik, yaitu pemadaman bergilir karena rusak atau kurangnya pembangkit listrik. Ini juga termasuk pengaduan yang paling top dan memicu emosi konsumen dalam mengomplain hal ini. Terkait dengan urusan pembangkit listrik ini adalah bukti lalainya pemerintah dalam membenahi sektor ketenagalistrikan. Padahal, lebih dari 60 persen biaya operasional PLN habis untuk membayar BBM yang digunakan di pembangkit listrik PLN.

Jika pemerintah serius membenahi energi primer untuk pembangkit, yaitu dengan menyediakan batu bara dan gas, biaya pokok per kwh bisa ditekan hingga Rp 800 (asumsi subsidi di APBN 2010, BPP Rp 1203 per kwh). Namun, pemerintah tidak serius dalam membenahi hal ini. Padahal, sumber energi berlimpah di negeri ini, tetapi kebijakan pemanfaatannya kurang diprioritaskan untuk kemaslahatan dalam negeri. Apakah kesalahan sistemik ini juga akan dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan TDL? Dan, tentu, tanpa perlu bersusah payah membenahi sistem dan melakukan efisiensi, pemerintah langsung mengeluarkan kebijakan kenaikan TDL.

Defisit semu APBN

Dari pengalaman pengelolaan APBN tahun 2009 di mana terdapat sisa dana yang tidak terserap sebesar Rp 38 triliun, pemerintah dan DPR tidak perlu menaikkan TDL hanya untuk menutupi defisit yang membengkak Rp 5 triliun di APBN 2010 ini. Apalagi hingga Mei 2010 penyerapan dana APBN baru mencapai 26 persen (sumber Bappenas).

Sementara dari sisi PLN, dari laporan keuangan PLN yang dipublikasikan di website PLN, dapat dilihat bahwa pada tahun 2009 PLN mencatat laba bersih sebesar Rp 10,355 triliun dan mengantongi uang kas sebesar Rp 13 triliun.

Ilyani S Andang Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)

 

Sumber : Kompas

 

~ Menguasai Pasar Jepang Dan Perancis Dengan Lampu Etnik

Hampir 10 produk saya diekspor ke Jepang dan Perancis secara rutin, tetapi sekarang ekspor justru nihil. Namun, pasar dalam negeri ternyata potensial,” ujar pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang kini fokus menggarap pasar domestik.

Kegemarannya membuat berbagai kerajinan tangan sejak lulus dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, merupakan cikal bakal dirinya sebagai pengusaha.

Awalnya menjual kepada teman dan ternyata diminati. Akhirnya dia serius menggeluti usaha kerajinan berupa pernak-pernik untuk suvenir pernikahan. Lalu, sejak tahun 1998 fokus membuat lampu etnik karena produk lampu etnik buatan lokal sulit ditemukan di pasaran.

Usaha pembuatan lampu etnik yang awalnya digarap oleh dua perajin kini berkembang menjadi 30 perajin. Bahkan, ketika pesanan meningkat, Liliek terpaksa melimpahkan sebagian pekerjaan kepada perajin di kawasan Banyuwangi, Jawa Timur.

Tidak hanya perajin yang terus bertambah jumlahnya, bahan baku lampu etnik untuk dekorasi taman dan berbagai acara, seperti pernikahan, pertemuan, ulang tahun, restoran, dan kafe, juga terus bergulir.

Ada saatnya pasar menyukai lampu gantung terbuat dari kain organdi, sifon, dan sutra, tetapi pada waktu lain bahan baku dari bambu atau rotan. Bahkan, saat ini yang sedang digandrungi pasar adalah model lampu teplok yang menggunakan listrik.

”Permintaan lampu teplok setelah dimodifikasi memakai energi listrik dan dilukis atau dipercantik menggunakan kain warna-warni terus meningkat. Lampunya saya ambil dari perajin di Banyuwangi. Ya, berbagi rezeki sekaligus membina jaringan sampai ke daerah,” ujarnya.

Bukan untuk rumah

Bagi Liliek, yang juga Ketua Asosiasi Perajin Jawa Timur, pasar lokal justru sangat potensial. Saat pasar lesu, setiap bulan minimal 500 lampu etnik berbagai model diproduksi untuk memenuhi permintaan pengelola katering, kafe, hotel, dan restoran.

Ketika permintaan melonjak, tak kurang 5.000 lampu harus selesai digarap. Tak jarang dalam sebulan ada pesanan mendadak sebanyak 2.000 lampu dengan sedikitnya lima model. Model lampu ada yang diberikan contoh oleh pemberi order, tetapi umumnya menyerahkan sepenuhnya kepada Liliek.

”Lampu etnik kini dibentuk lebih praktis dalam kemasan yang memang bukan untuk konsumsi rumah tangga. Jadi, tidak sulit dalam proses pengiriman. Sampai di alamat tujuan baru dibentuk sesuai dengan modelnya,” kata Liliek.

Konsumen atau pembeli tetap dari produk kerajinan yang sudah digeluti sejak tahun 1999 itu adalah kalangan pengelola katering di Jakarta, Balikpapapan, Yogyakarta, dan Bali.

Ketika berkunjung ke rumahnya di Jalan Pakis Tirtosari, Surabaya, Jawa Timur, yang sekaligus menjadi bengkel kerja, terdapat tumpukan bermacam model lampu etnik yang siap dikirim ke pemesan.

”Pesanan pengelola katering di Jakarta, minggu ini, harus sudah dikirim. Pesanannya banyak dan modelnya juga beragam,” tutur Liliek yang tak terusik dengan serbuan lampu etnik impor dari China.

Menurut dia, barang-barang kerajinan impor begitu banyak di pasar domestik. Saat bersamaan, produk dalam negeri juga berlimpah. ”Salah satu usaha menembus pasar lokal, rajin berpromosi lewat pameran meski pameran itu skalanya sangat kecil,” kata perempuan pengusaha yang terus mengupayakan tempat pameran permanen bagi pelaku UKM di Jawa Timur ini.

Hatinya begitu gusar karena ratusan ribu pelaku usaha kecil, khususnya kerajinan tangan, di Jatim tidak memiliki tempat mempromosikan hasil karya secara rutin.

”Sepantasnya provinsi ini memiliki gedung pameran produk kerajinan sekaligus sebagai tempat wisata,” katanya.

Harga terjangkau

Lampu etnik buatan perajin binaan Liliek yang tersebar di beberapa kecamatan di Surabaya relatif terjangkau. ”Tampilannya harus indah, tetapi harganya terjangkau. Apalagi produk dekorasi harus cepat diganti biar enggak monoton,” ujarnya.

Karena berfungsi sebagai dekorasi, menuntut Liliek untuk terus berinovasi menciptakan model yang beraneka. Paling tidak sekitar 20-30 model diciptakan setiap tahun. ”Kekuatan bisnis lampu etnik pada inovasi menciptakan model, bahan baku, serta warnanya,” kata perempuan yang mematok harga produknya antara Rp 75.000 dan Rp 125.000 per unit.

Seperti di pengujung Desember 2009, Liliek mengeluarkan model lampu seolah-olah menempel di tembok. ”Jangan pernah berhenti berkreasi. Tidak punya ide, berarti perajin tidak ada garapan,” ujarnya.

Apalagi perajin makin cerdas. Mereka tidak cuma menggarap sesuai dengan contoh. Bahkan, ada beberapa perajin yang membuat kreasi sehingga modelnya semakin bagus, termasuk dalam menciptakan degradasi warna menggunakan kain.

”Saya senang kalau perajin juga kreatif. Artinya, bibit menjadi wirausaha itu mulai kelihatan. Bahkan, model yang ditawarkan lebih menarik,” kata perempuan pengusaha yang rutin ikut pameran di luar negeri, terutama di kawasan Eropa.

Dia berharap pasar yang pernah dirintis kembali menggeliat. Apalagi, di pengujung tahun 2009 beberapa calon pembeli dari Belanda mulai meminta contoh produk.

”Tahun 2010, memasuki bulan April, paling tidak harus bisa meluncurkan minimal 20 model lampu etnik. Ide sudah ada, tinggal membuat contoh untuk dipromosikan,” ujarnya.

Liliek memprediksi tahun 2010 merupakan kebangkitan bagi kerajinan lampu etnik, apalagi semakin tumbuhnya kafe-kafe di hampir semua kota besar di Nusantara ini.

”Kekuatan sebuah kafe tak sekadar makanan dan minuman yang disajikan. Dekorasi justru memiliki daya tarik tersendiri sehingga konsumen betah. Kuncinya pada lampu etnik yang dipasang,” ucap Liliek berpromosi.

 

Sumber : Kompas

 

 

~ Masyarakat Khawatir Terhadap Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

Selamatkan Indonesia dari Bahaya PLTN

 

Oleh Habibullah

Memang, sejarah kelam bukan untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan pijakan dalam setiap pengambilan kebijakan. Apalagi, sejarah dalam konteks yang berhubungan dengan keselamatan hidup orang banyak dari dampak negatif bahaya penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir yang telah direncanakan oleh pemerintah.

Kekhawatiran masyarakat terhadap pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang direncanakan pemerintah di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Bangkalan (Madura), Jepara, Bangkabelitung, dan sebagainya bukanlah tanpa alasan. Ketakutan dan kekhawatiran masyarakat terhadap bahaya PLTN berangkat dari sejarah kelam yang telah terjadi di beberapa negara di dunia. Baik dari kecelakaan dalam sekala kecil maupun sekala besar, seperti pada 28 Maret 1979, terjadi kecelakaan yang relatif kecil di TMI (Three Miles Island), Amerika Serikat.

Kecelakaan yang terakhir dan terbesar terjadi 25-26 April 1986 di Chernobyl, Ukraina, 24 tahun silam. Kecelakaan yang sangat dahsyat ini melibatkan secara langsung 135.000 orang, 24.403 di antaranya dinyatakan terkena radiasi yang cukup berat, dan 29 orang menderita akibat yang fatal. Bencana Chernobyl yang memakan korban jiwa sangat banyak bermula dari rencana mengadakan percobaan untuk mengetahui kemampuan reaktor dalam keadaan darurat. Namun, kurangnya perencanaan yang matang mengakibatkan reaktor tidak dapat dikontrol dengan baik hingga berakibat fatal. Meskipun pada kecelakaan di atas mempunyai arti yang sangat penting bagi industri nuklir, bagi masyarakat kecelakaan ini menjadi catatan sejarah kelam yang meninggalkan trauma sangat dalam khususnya masyarakat Indonesia meskipun bukan bagian dari korban bencana tersebut.

Belajar pada sejarah Chernobyl

Dahsyatnya bencana Chernobyl telah membuka mata masyarakat luas dan para ahli nuklir di seluruh dunia, kemungkinan terjadi kecelakaan ternyata lebih besar daripada yang diperkirakan. Peristiwa ini membuktikan betapa teknologi yang dianggap sangat canggih ternyata tidak aman, berlawanan dengan janjinya di tahun 1950-an. Chernobyl, setelah sebelumnya terjadi kecelakaan Three Miles Island di AS, menjadi bukti bahwa kekhawatiran masyarakat yang menolak terhadap nuklir ternyata benar. Tiadanya kecelakaan yang setara dengan Chernobyl saat ini bukan berarti teknologi PLTN sudah aman dan nyaman. Berbagai laporan resmi justru menunjukkan puluhan ribu peristiwa (event), baik berupa insiden (incident) maupun kecelakaan (accident) terjadi di seluruh dunia. Oleh karena itu, jangan sampai bencana Chernobyl yang pernah mengguncang dunia kembali terjadi di Indonesia yang letak geografisnya menunjukkan akan tingginya risiko terjadinya kecelakaan nuklir.

Seharusnya pemerintah belajar dari sejarah bencana yang menimpa Chernobyl sebelum mengambil keputusan atas rencana pembangunan PLTN di Indonesia. Sejarah Chernobyl telah menjadi sejarah paling menakutkan bagi masayarakat di seluruh dunia, apalagi masyarakat Indonesia yang sedang menghadapi rencana pembangunan PLTN dari pemerintah. Meskipun kecelakaan di atas telah membawa pengaruh yang besar terutama dalam tiga kategori, yaitu perubahan dalam perusahaan (institusi), peralatan (equipment), dan cara kerja (operasional). Termasuk dalam kategori yang ketiga ini adalah faktor manusia, operator training, dan kesiap-siagaan dalam keadaan darurat (emergency preparedness). Ketakutan dan kekhawatiran masyarakat di dunia tetap ada. Di akui atau tidak, rencana pemerintah sama sekali tidak berpijak pada sejarah kelam dalam mengambil sikap dan keputusan yang mempertaruhkan keselamatan orang banyak atas rencana pembangunan PLTN tersebut.

Kebohongan pemerintah

Pemerintah seharusnya sadar bahwa Indonesia tidak pernah memiliki budaya nuklir dalam panjang sejarah peradaban manusia. Percaya atau tidak, pemerintah dalam hal ini seakan ingin membohongi masyarakat akan dampak dari bahaya PLTN dengan memelintir informasi pada publik. Seperti halnya di Chernobyl, operator PLTN beserta pemerintahnya berupaya menutup-nutupi terjadinya kecelakaan itu sehingga mengorbankan masyarakatnya yang tidak tahu bahaya yang mengintainya. Dalam rencana pembangunan PLTN ini, pemerintah Indonesia juga demikian, yaitu melakukan hal yang sama "menutup- nutupi" saat terjadi kecelakaan di fasilitas nuklir Serpong beberapa waktu lalu. Bahkan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) sama sekali tidak pernah sedikitpun memberi informasi kepada masyarakat tentang peristiwa yang seharusnya masyarakat tahu dan dilindungi dari dampak bahaya PLTN.

Rencana PLTN tersebut sangat terkesan ditutup-tutupi. Upaya pemerintah untuk merealisasikan rencana PLTN di Indonesia telah melakukan berbagai cara untuk membodohi publik agar menerima rencana itu dengan alasan bahwa energi nuklir adalah solusi yang paling tepat bagi perubahan iklim.

Padahal, sampai saat ini dampak dari energi nuklir di dunia belum mampu menyelesaikan berbagai masalah yang ditimbulkan dari energi nuklir itu sendiri, yakni radioaktif yang mencemari masyarakat dan lingkungan mulai dari penambangan uranium, pengoperasian normal PLTN, dan dalam bentuk limbah nuklir yang baru bisa habis setelah ratusan ribu tahun. Di sini kita di tuntut untuk sadar, khususnya pemerintah bahwa letak geografis keberadaan negara Indonesia yang terdiri dari kepulauan mencerminkan tingginya risiko atas penggunaan reaktor nuklir. Di sadari atau tidak, secara alamiah 84 persen wilayah kepulauan Indonesia merupakan kawasan yang rentan terhadap bencana. Jika ini terjadi, nelayan dan masyarakat pesisir akan mengalami kerugian yang teramat besar akibat dari pembangunan PLTN. Coba kita lihat pembangunan PLTU Tanjung Jati B di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang menimbulkan dampak luar biasa bagi nelayan dengan kurang lebih sekitar 160 hektar perairan tidak diperbolehkan untuk dijadikan daerah operasi penangkapan ikan.

Harus di akui, Indonesia tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menggunakan nuklir. Melihat dari semua hal yang nyaris harus diimpor dari luar negeri, mulai dari bahan bakar, reaktor, hingga suku cadang pabrik listrik itu sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah memanfaatkan energi arus laut, bukan nuklir yang berbahaya tinggi, seperti yang telah terjadi di Chernobyl jika memang untuk menyejahterakan rakyat. HABIBULLAH Direktur Eksekutif Renaisant Institute Yogyakarta

 

Sumber : Kompas

 

~ Pebisnis Hotel Di Yokyakarta Berancang-Ancang Menaikkan Tarif Inap Bila Tarif Dasar Listrik Naik

Hotel Ancang-ancang Naikkan Tarif
Kenaikan Tarif Dasar Listrik Picu Inflasi 0,26 Persen

 

YOGYAKARTA, KOMPAS - Merespons rencana kenaikan tarif dasar listrik sebesar 10 persen yang akan berlaku 1 Juli 2010, pelaku usaha di DI Yogyakarta bersiap menerapkan efisiensi. Bahkan, pebisnis hotel telah berancang-ancang menaikkan tarif inap. Pilihan lain, menurunkan kualitas layanan yang hampir tidak mungkin dilakukan pebisnis jasa.

Dua keputusan itu berisiko pada penurunan jumlah tamu menginap. "Kami sudah melakukan audit energi. Namun, tidak semuanya bisa dihemat. Jadi, pilihannya tinggal dua itu," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Istidjab M Danunagoro di Yogyakarta, Senin (3/5).

Bagi hotel berbintang, ongkos untuk memenuhi kebutuhan energi mencapai 15-20 persen. Bagi hotel kelas melati, biayanya berkisar 20- 30 persen.

Oleh karena itu, kenaikan TDL benar-benar akan menambah beban. "Kenaikan tarif listrik jelas memberatkan kami," katanya. Namun, ia mengaku tidak ada pilihan lain selain menerima kebijakan itu.

Menurut Istidjab, bisnis hotel adalah bisnis yang mengutamakan pelayanan dan kenyamanan pelanggan. Mereka tak bisa memaksa tamu mematikan televisi atau fasilitas lain yang butuh listrik pada jam- jam tertentu.

Kenaikan TDL juga memaksa pelaku usaha jasa boga mengetatkan ikat pinggang. Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJI) Provinsi DIY Dwi Murdianto menuturkan, sejumlah produsen makanan sangat bergantung pada peralatan masak yang menggunakan listrik.

Produsen kue, misalnya, membutuhkan listrik untuk menghidupkan alat pengocok hingga pemanggang makanan. Kenaikan TDL jelas menambah ongkos produksi.

Meski biaya produksi naik, produsen makanan tak akan langsung menaikkan harga. Kenaikan dikhawatirkan menjauhkan konsumen.

Konsekuensinya, produsen makanan melakukan efisiensi mulai dari proses belanja bahan hingga pengemasan. "Keuntungan pasti turun. Mau tak mau kami harus efisien di semua sisi. Selain itu, juga perlu ada inovasi sehingga bisa membuat produk yang baik dengan harga yang bisa ditekan," ujarnya.

Picu inflasi

Kenaikan TDL 10 persen yang disetujui DPR akan berdampak signifikan terhadap inflasi. Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik DIY Bagus Rahmat Susanto menuturkan, listrik merupakan salah satu sumber energi vital bagi masyarakat.

Oleh karena itu, perubahan tarif akan sangat berdampak pada perkembangan indeks harga atau inflasi.

"Dari kenaikan 10 persen itu, dampaknya ke inflasi sekitar 0,26 persen. Itu baru dihitung dari biaya listriknya, belum ke dampak terhadap harga komoditas lain," katanya. (ARA)

 

Sumber : Kompas

 

~ Perusahaan Listrik Afrika Selatan, Eskom Holding Ltd

PIALA DUNIA 2010
Eskom Pastikan Tidak Ada Pemadaman Listrik

 

Johannesburg, Senin - Perusahaan listrik Afrika Selatan, Eskom Holding Ltd, menyatakan tidak akan ada pemadaman selama musim dingin yang bertepatan dengan Piala Dunia. Persediaan batu bara mencukupi untuk memenuhi lonjakan kebutuhan listrik selama Piala Dunia pada 11 Juni-11 Juli 2010.

Perusahaan milik negara yang memasok 95 persen kebutuhan listrik Afrika Selatan itu sedang menghadapi ancaman mogok kerja dari para buruh di perusahaan rekanan Transnet. Para buruh mengancam menutup jalur kereta batu bara dan pelabuhan jika tuntutan kenaikan gaji 15 persen tidak dipenuhi.

Eskom menilai hanya pembangkit Majuba yang terpengaruh langsung oleh rencana pemogokan para pekerja.

”Pengaruhnya sangat kecil terhadap cadangan batu bara secara keseluruhan,” ujar Direktur Manajer Energi Eskom Dan Marokane kepada Dow Jones Newswire, Minggu (2/5).

Marokane yakin bisa memenuhi kebutuhan batu bara meskipun jalur kereta api ditutup. Mereka akan menambah pengiriman batu bara yang diangkut melalui jalur darat menggunakan truk ke Majuba. Alternatif lainnya adalah mengirim batu bara dari pembangkit lain yang bisa menggunakan jalur jalan.

Ia menegaskan, cadangan batu bara Eskom masih cukup untuk memenuhi peningkatan kebutuhan listrik selama musim dingin yang bertepatan dengan Piala Dunia.

Saat ini cadangan batu bara masih cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 35 hari ke depan. Cadangan tersebut cukup untuk mengantisipasi pemogokan buruh Transnet. Jaringan kereta barang Transnet setiap tahun mengirim sekitar 6 juta metrik ton batu bara ke pembangkit Majuba. Jumlah itu hanya sekitar 5 persen dari kebutuhan total Eskom.

Transnet memiliki 50.000 pekerja dan 85 persen di antaranya tergabung dalam serikat The United Transport, Allied Trade Union, The South African Transport, dan Allied Workers Union.

Mereka menyatakan bahwa para buruh akan mogok kerja pada 10 Mei untuk memberi tekanan terhadap tuntutan kenaikan gaji 15 persen dan jaminan tak akan ada pemutusan kerja tahun depan.

Transnet sudah menawarkan kenaikan gaji 8 persen, tetapi belum menghasilkan kesepakatan dengan para pekerja. Manajemen Transnet berharap bisa segera mencapai kesepakatan dengan para pekerja.

Awal bulan lalu, kecukupan cadangan batu bara juga menjadi sorotan parlemen Afrika Selatan. Anggota parlemen meminta kepastian dari pemerintah tentang ada tidaknya pemadaman selama musim dingin. Menteri Perusahaan Umum Afrika Selatan Barbara Hogan, seperti dikutip iafrica.com menyatakan, cadangan batu bara Eskom mencukupi dan tidak ada pemadaman listrik selama musim dingin.

”Sampai dengan 15 Maret 2010, cadangan mencukupi untuk 36,9 hari dan Eskom berusaha memenuhi target. Bersamaan dengan strategi pemenuhan pasokan batubara melalui kontrak jangka panjang dan membuat kontrak baru jangka menengah yang akan dimulai pada April 2010,” ujar Hogan dalam surat jawaban kepada anggota Partai Kemerdekaan, Inkatha Peter Smith. (ANG)

 

Sumber : Kompas

 
Halaman 344 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook