Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~Keunggulan dan Kelemahan Bahan Bakar Etanol

Keunggulan dan Kelemahan Bahan Bakar Etanol

 Seperti semua bahan bakar lainnya, bahan bakar etanol juga memiliki keunggulan dan kelemahan yang akan dibahas di artikel ini. Salah satu keunggulan bahan bakar etanol yang paling jelas adalah bahan bakar etanol merupakan sumber energi terbarukan, yang berarti bahwa bahan bakar etanol tidak terbatas seperti bahan bakar fosil.

Negara yang menggunakan etanol akan mengurangi ketergantungannya pada impor minyak asing, dan juga mengurangi efek harga minyak yang tak stabil. Produksi etanol dalam jumlah besar di dalam negeri akan memastikan bahwa uang akan tetap berputar di dalam negeri dan bukannya dibelanjakan pada minyak asing yang mahal. Tentu saja peningkatan produksi etanol dalam negeri juga akan menciptakan lebih banyak pekerjaan, dan juga sangat mungkin akan menurunkan harga bahan bakar.

Pembakran etanol lebih bersih daripada bahan bakar fosil yang berarti mengurangi emisi gas rumah kaca. Hal ini merupakan keuntungan etanol yang paling signifikan bagi lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

Bahan bakar etanol juga memiliki kelemahan dan fakta bahwa sebagian besar produksi etanol berasal dari tanaman pangan memiliki potensi untuk meningkatkan harga pangan dan bahkan menyebabkan kekurangan pangan. Isu bahan bakar vs makanan adalah bahan perdebatan utama, karena dengan adanya peningkatan penggunaan etanol maka banyak lahan yang akan dipergunakan untuk memproduksi etanol, bukan untuk menghasilkan makanan, dan ini akan menyebabkan kekurangan jumlah pangan yang diikuti dengan peningkatan harga pangan, dan kemungkinan akan menghasilkan lebih banyak masalah kelaparan di dunia.

Etanol menghasilkan energi  per satuan volume lebih rendah dibandingkan dengan bensin. Etanol juga cenderung sangat korosif karena dapat dengan mudah menyerap air dan kotoran. Tanpa sistem penyaringan yang tepat, etanol dapat menyebabkan korosi di dalam blok mesin terjadi dengan cepat.

Saat kompresi, mesin yang didesain untuk etanol murni memiliki efisiensi bahan bakar 20-30% lebih rendah dibandingkan mesin yang didesain untuk bensin murni.

Mesin yang menggunakan campuran etanol tinggi akan menjadi masalah saat cuaca dingin (musim dingin).

Demikianlah keunngulan dan kelemahan pemakaian bahan bakar etanol. Semoga bisa menjadi bahan referensi bagi Anda.

Sumber : http://www.indoenergi.com/2012/04/pengertian-biodiesel.html

 

~Ternyata (Sudah) Ada Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Indonesia

Ternyata (Sudah) Ada Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Indonesia

Di penghujung liburan Lebaran 2013 ini, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu tempat wisata di Jogja, yaitu Pantai Pandansimo Baru atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pantai Baru. Kunjungan ini bukan tanpa alasan, sebelumnya saya telah searching di internet dan mendapati bahwa selain obyek wisata pantai, di Pantai Baru juga terdapat proyek penelitian Pembangkit Listrik Tenaga Bayu skala kecil.

Akhirnya kami berangkat dari lereng Merapi menuju tepi samudera Hindia via Sentolo – Lendah hehe. Seperti yang diduga, suasana pantai sangat ramai, sampai-sampai mencari tempat parkir mobil saja susah. Banyak sekali wisatawan yang berkunjung, kelihatannya para pemudik yang sekalian berwisata seperti kami hahaha..

Begitu sampai di lokasi, perhatian saya tertuju pada deretan kincir angin dengan tinggi sekitar 15 meter-an yang berada di sebelah pantai. Itu adalah mini wind farm (sebutan saya sendiri hehe), yaitu kincir angin yang dipergunakan dalam proses produksi energi listrik. Selain listrik tenaga angin, di sini juga ada juga panel surya/solar cell, yang menghasilkan listrik dari energi surya. Menurut informasi yang saya dapatkan, terdapat 33 turbin angin dan 170 panel surya. Dan energi listrik yang dihasilkan oleh kedua pembangkit tadi (angin dan surya), ternyata mampu memenuhi kebutuhan energi listrik untuk aktivitas pariwisata di Pantai Baru ini. Mantap..!!

Kincir Angin Pantai BaruTerwujudnya pembangkit hibrid (gabungan tenaga angin dan tenaga surya) di Pantai Baru merupakan kerja sama dari banyak pihak, diantaranya Kementerian Ristek, Univesitas Gajah Mada (UGM), LAPAN, BAPPEDA dan beberapa instansi terkait lainnya.

Menurut saya, ini adalah salah satu catatan penting dalam dunia energi di Indonesia, yaitu dimulainya pemanfaatan energi terbarukan dan ramah lingkungan dalam produksi energi listrik, khususnya energi angin yang secara fakta sangat potensial di Negara kita. Sebab selama ini energi listrik sebagian besar dihasilkan dari konversi bahan bakar fosil (batubara, minyak dan gas alam), pemanfaatan energi terbarukan baru sebatas PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dan sedikit energi surya.

Dan Alhamdulillah, kabarnya akan segera dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu berkapasitas 50 MW di daerah Pantai Samas, Bantul. Bahkan Head of Agreement (HoA) terkait suplai listrik dari proyek PLTBayu 50 MW Samas (Proyek Wind Farm Samas) telah ditandatangani oleh Dirut PLN Nur Pamudji, bersama Chairman UPC Renewables Indonesia Limited (Brian E Caffyn), dan President Director PT Binatek Reka Energi (Erwin Jahja) selaku konsorsium. Rencananya, listrik yang dihasilkan proyek ini akan dijual kepada PLN dalam suatu perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) jangka panjang, selama 30 tahun.

Sumber : http://www.nastopo.com/pembangkit-listrik/ternyata-sudah-ada-pembangkit-listrik-tenaga-bayu-di-indonesia/

 

~Sejarah Hydropower dari Perancis hingga Indonesia

Sejarah Hydropower dari Perancis hingga Indonesia

Tenaga air telah dimanfaatkan orang-orang zaman dahulu terutama untuk menumbuk gandum atau dimanfaatkan keperluan lainnya. Baru pada pertengahan 1770-an, insinyur Perancis, Bernard Forest de Belidor, mempublikasikan buku yang berjudul Architecture Hydraulique. oleh Deda Permana Hydropower lebih dikenal di Indonesia dengan sebutan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Pembangkit tersebut menghasilkan tenaga listrik dengan menfaatkan kekuatan gravitasi dari air terjun atau arus air.

PLTA ini termasuk bentuk energi terbarukan (renewable energy) yang digunakan secara luas. Dibandingkan pembangkit listrik tipe lain, PLTA tergolong pembangkit yang tidak menghasilkan limbah secara langsung. Kelebihan lain adalah level emisi gas rumah kaca karbondioksida (CO2) dari PLTA yang sangat rendah dibandingkan dengan pembangkit yang menggunakan bahan bakar dari fosil. Dengan besarnya keuntungan tersebut, banyak negara membangun PLTA untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Data 2006 menunjukkan bahwa kapasitas PLTA yang tersebar di seluruh dunia idengan 777 GWe telah mampu memasok 2.998 TWh. Artinya, hampir 20% kebutuhan listrik dunia berasal dari  PLTA atau sekitar 88% sumber energi terbarukan berasal dari pemanfaatan tenaga air. Namun sejumlah pertanyaan muncul, sejak kapan sebenarnya PLTA itu berdiri? Tenaga air telah dimanfaatkan orang-orang kuno terutama untuk menumbuk gandum atau dimanfaatkan keperluan lainnya. Tetapi pada pertengahan  1770-an, seorang insinyur Perancis, Bernard Forest de Belidor, memublikasikan buku yang berjudul Architecture Hydraulique. Dalam buku itu, dia menjelaskan tentang mesin hidrolik aksis vertikal dan horizontal.

Selanjutnya pada abab ke-19, ge¬nerator elektrik dikembangkan dan kini dikombinasikan dengan mesin hidrolik. Permintaan meningkat seiring Revolusi Industri yang mendorong pembangunan. Tepat pada 1878, untuk pertama kalinya di dunia dibangun rumah pembangkit hydroelectricity dengan nama Cragside di Northumberland, Inggris. Tiga tahun kemudian atau tepatnya pada 1881, pusat Pembangkit Listrik Tenaga Air, Schoelkopf Power Station No 1 dekat Niagara Falls, Amerika Serikat (AS). Setelah itu, beberapa PLTA dibangun. Pembangkit listrik hidroelektrik Edison atau diberi nama Vulcan Street Plant beroperasi pada 30 September 1882 dengan kapasitas 12,5 kilowatt di Appleton, Winconsin, AS. Sampai 1886, sebanyak 45 Pembangkit Listrik Tenaga Air dibangun di AS dan Kanada.  Bahkan memasuki 1889, PLTA tumbuh dengan cepat dan saat itu AS memiliki 200 PLTA.

Pada awal abad ke-20, banyak PLTA skala kecil dibangun perusahaan komersial di daerah pegunungan dekat area metropolitan. Kota Grenoble, Prancis pun untuk pertama kalinya menggelar pameran bertajuk ‘International Exhibition of Hydropower and Tourism’ yang didatangi jutaan pengunjung. Selanjutnya, pada 1920, sebanyak 40% pembangkit di AS merupakan PLTA hingga mendorong pemerintah membuat Federal Power Act yang dijadikan undang-undang dan dasar hukum.

Federal Power Act mengatur pembentukan Komisi Pembangkit Federal yang bertugas mengatur PLTA di sumber air dan tanah negara bagian. Ketika skala PLTA kian besar, bendungan dari pembangkit dikembangkan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan listrik, tetapi termasuk mengendalikan banjir, irigasi, dan navigasi. Seiring dengan begitu bermanfaatnya PLTA untuk memenuhi bermacam kebutuhan, pemerintah negara bagian pun menggelontorkan anggaran untuk pembangunan PLTA skala besar dan PLTA dimiliki pemerintah. Pada 1933, dibangun PLTA Tennessee Valley Authorty dan Bonneville Power Administration pada 1937. Taganya itu, Biro Reklamasi AS yang bertanggung jawab terhadap irigasi wilayah barat AS juga membangun PLTA besar pada 1928 dengan nama Hoover Dam (Bendungan Hoover). Para insinyur dari Korps Angkatan Darat AS juga terlibat dalam pengembengan PLTA dengan turut mendukung penuntasan pembangunan Bendungan Bonneville pada 1937 yang sebelum dikenal sebagai pusat pengendali banjir utama. Pengembangan PLTA terus berlanjut sepanjang abad ke-20. Bahkan sebutan hydropower diberi nama white coal (batu bara putih) karena sebelumnya banyak pembangkit listrik yang mengandalkan bahan baku batu bara. Tepat pada 1936, PLTA Bendungan Hoover dengan kapasitas 1.345 MW menjadi PLTA pertama terbesar di dunia. Memasuki 1942 dibangun  PLTA Grand Coulee Dam dengan kapasitas lebih besar atau 6809 MW.

Pengembangan PLTA terus merambah ke benua lain dan masuk ke benua Afrika. Pada 1984, pemerintah Afrika Selatan meresmikan PLTA Bendungan Itaipu dan menghasilkan 14.000 MW.  Namun ‘Negara Tirai Bambu’ membuat kejutan pada 2008 dengan meresmikan PLTA Bendungan Three Gorges dengan kapasitas 22.500 MW. Sejak itu, sejumlah negara seperti Norwegia, Republik Demokrasi Kongo, Paraguay, dan Brazil juga mengembangkan PLTA yang mampu memenuhi kebutuhan listrik di negara mereka hingga 85%. Sejarah PLTA di Tanah Air dimulia pada 1917, Biro Tenaga Air (Waterkraht burean) di bawah  Jawatan Perkeretaapian Negara (Steratz foorwegen) dari perusahaan negara (Gouvemementsbedrijven) diubah kedudukannya menjadi Jawatan Tenaga Air dan Listrik (Dienstvoor Waterkracht in Electriciteit). Dengan begitu, jawatan tersebut mulai bergerak dalam pengembangan kelistrikan hingga penggunaan secara ekonomis dari sumber-sumber tenaga air tersedia.

Jawatan tersebut  tak hanya mengurus pemberian lisensi-lisensi untuk tenaga air dan listrik, tetapi juga mengawasi pula kesamaan instalasi - instalasi listrik di seluruh Indonesia.  Pada 1906,  PLTA Pakar dengan sumber air dari sungai  Cikapundung dengan kekuatan 800 KW diresmikan. PLTA tersebut dikelola Maskapai listrik Bandung (Bandungte Electriciteits Masatsehappij) dan dapat dianggap sebagai pengolahan pertama untuk pemberian energi listrik dengan penggunaan tenaga air.

Pada 1920 didirikan Perusahaan Listrik Umum Bandung sekitarnya (Electriciteitsbederjif Bandung en omstreken, singkatnya GEBEO), dengan modal dari pemerintah dan swasta. Kemudian, maskapai tersebut ambil alih PLTA Pakar di Bandung dan PLTA Cijedil (2x174 KW dan 2x220 KW) di Cianjur. Selanjutnya bekerjasama dengan perusahaan listrik negara untuk memasok listrik kepada masyarakat. Direksi bagian swasta dipegang oleh perusahaan swasta NV Maintz & Co. Pada 1934, Dienstvoor Waterkraht an Electriciteit diubah menjadi Electriciteitswezen (Kelistrikan) singkatnya E.W.

Perusahaan Tenaga Air Negara Dataran Tinggi Bandung (Landis water kracht bedijf Bandung en) mempunyai dua grup PLTA-PLTA, yaitu Bengkok (3x1050 KW) dan Dago (1x 700KW) pada 1923 dengan menggunakan sumber air dari Sungai Cikapundung, selanjutnya  Plengan (3x1050 KW (1923), ditambah 2000 KW (1962) dan Lamajan dengan kapasitas 2x6400 KW (1924), dan  ditambah 6400 KW pada 1933 dengan sumber air Sungai  Cisangkuy dan Cisarua. Sebagai cadangan air untuk musin kemarau dibangun situ Cileunca (9,89 Juta M3 air) pada  1922 dan Cipanunjang (21,8 Juta M3 air) pada 1930. Untuk mencapai jumlah banyaknya air seperti tersebut, maka bendungan Pulo, Playangan dan Cipanunjang' dipertinggi pada 1940, sedangkan situ-situnya mendapat tambahan air dari sungai-sungai sekitarnya. Dari PLTA Plengan dibangun jalur transmisi 30 KV sepanjang 80 Km ke GI-GI Sumadra, Garut dan Singaparna untuk menghantarkan tenaga listrik ke bagian Priangan Timur. Selanjutnya dari GI Kiaracondong dibangun jalur transmisi 30 KV ke GI Rancaekek hingga Sumedang ke Priangan Utara - Timur dan kemudian hingga PLTA Parakan. Kini tegangan Sumedang - Parakan sudah menjadi 70 KV. Dari PLTA Lamajan pada 1928 dibangun jalur transmisi 30 KV (kemudian 70 KV) ke GI Padalarang, Purwakarta dan Kosambi untuk daerah Priangan Barat dan pada tahun 1966 dari Kosambi ke Cawang. Di tahun 1920 dibangun PLTU Dayeuhkolot (2x750 KW) untuk keperluan pemancar radio ke luar negeri, namun pada 1940 dibongkar dan kemudian menjadi PLTD Dayeuhkolot (2x550 KW). Kini seluruhnya telah tiada dan bangunan menjadi GI Dayeuhkolot, gudang, dan bengkel Dayeuhkolot yang sudah ada duluan. Pada 1928 dibangun Central Electriciteit Laboratorium, singkat CEL di komplek Sekolah Tinggi Tinggi (Technische Hooge School), yang meliputi pekerjaan testing dan perbaikan peralatan listrik. Kini CEL telah diserahkan kepada Institut Tehnologi Bandung (ITB ). Pada 1962 beroperasi PLTA Cikalong (3 x 6400 KW) bekerja paralel dengan PLTA-PLTA yang telah ada. Kini Sektor Priangan mempunyai 4 Gardu Induk utama yaitu: GI North di Utara, GI Cigereleng di Selatan, GI Cibeurem di Barat dan GI Sukamiskin di Timur.

Sektor Cirebon Berhubungan dengan rencana pembangunan PLTA Parakan (4x2500KW) di tahun 1939 didirikan Perusahaan Tenaga Air Negara Cirebon (Lanbswaterkrachtbedrijf Cirebon). Kota Cirebon dan sekitarnya dahulu mendapat energi listrik dari PLTD Kebonbaru kepunyaan maskapai Gas Hindia Belanda (Nederland Indische Gas Maatsekapij, singkatnya N.I.E.M). Setelah PLTA Parakan beroperasi di tahun 1957, maka PLTD Kebonbaru praktis bersifat standby. Kini di Sektor Cirebon pada tahun 1982 beroperasi PLTG Sunyaragi (2x25,125 KW). Perusahaan Tenaga Air Negara Jawa Barat Perusahaan ini mempunyai PLTA Ubrug (2x5400 KW) di tahun 1924 ditambah dengan 1x6300 KW di tahun lima puluhan dan PLTA Kracak (2x5500 KW) di tahun 1929, kemudian ditambah dengan 1x5500 KW. Kedua PLTA tersebut dengan peran¬taraan transmisi 70 kV dihubungkan bersama ke GI di Bogor dan dari sini dihantarkan dengan lin transmisi 70 kV ke Jakarta dengan GI-GI Cawang, Muster Cornelis (Jatinegara), Weltercoler (Gambir), dan Ancol. PLTU Gambir di pinggir kali Ciliwung adalah kepunyaan Maskapai Gas Hindia Belanda (NIGM) dan merupakan sentral uap pertama yang dibangun tahun 1897 untuk Jakarta dan sekitarnya. Pada 1931, sentral uap tersebut  (3200 + 3000 + 1350 KW) diambil alih dan kini tidak ada lagi. Dari PLTA Ubrug pada 1926 dibangun jalur transmisi 30 KV ke GI Lembursitu sepanjang 16 km untuk Sukabumi dan sekitarnya. Dari PLTA Kracak pada 1931 dibangun jalur transmisi 30 kV sepanjang 57 km untuk Rangkasbitung dan sekitarnya. PLTA Ubrug dan PLTA Kracak kini termasuk Sektor Bogor yang didirikan di tahun 1946. Sentral-sentral tambahan setelah perang dunia II, adalah PLTD Karet (12x1000 KW), PLTD Ancol (12x1000 KW), yang dua-duanya tak beroperasi lagi karena rusak, selanjutnya PLTD Senayan (8x2500 KW), yang sebagian mesin-mesinnya telah rusak dan sisanya selalu stand by, tahun 1961 PLTU Priok (2x25 + 2x50 MW) tahun 1962, PLTU Muara karang dan PLTG Pulo Gadung yang masing-masing beroperasi penuh. PLTA Jatiluhur (6 x 25 MW) pada 1964 yang mempunyai status otorita, memberi energi listrik via jalur transmisi 150 kV ke Bagian Timur dengan GI Cigereleng dan via lin transmisi 150 kV ke Bagian Barat dengan GI Cawang. Kemudian PLTA Saguling (4 x 175 MW) yang beroperasi pada 1986.

Dikutip Dari : Majalah Listrik Indonesia

Sumber : http://www.kip-pln.com/index.php?option=com_content&view=article&id=160:sejarah-hydropower&catid=57:berita&Itemid=264

 

~Pengertian Energi Terbarukan

Pengertian Energi Terbarukan

Secara sederhana, energi terbarukan didefinisikan sebagai energi yang dapat diperoleh ulang (terbarukan) seperti sinar matahari dan angin. Sumber energi terbarukan adalah sumber energi ramah lingkungan yang tidak mencemari lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global seperti pada sumber-sumber tradisional  lain. Ini adalah alasan utama mengapa energi terbarukan sangat terkait dengan masalah lingkungan dan ekologi di mata banyak orang.

Banyak orang biasanya menunjuk energi terbarukan sebagai antitesis untuk bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil memiliki tradisi penggunaan yang panjang, sementara sektor energi terbarukan baru saja mulai berkembang dan ini adalah alasan utama mengapa energi terbarukan masih sulit bersaing dengan bahan bakar fosil.

Energi terbarukan masih perlu meningkatkan daya saing, karena sumber energi yang terbarukan masih membutuhkan subsidi untuk tetap kompetitif dengan bahan bakar fosil dalam hal biaya (meskipun harus juga disebutkan bahwa perkembangan teknologi pada energi terbarukan terus menurunkan harganya dan hanya masalah waktu  energi terbarukan akan memiliki harga yang kompetiti tanpa subsidi dibandingkan bahan bakar tradisional.)

Selain dalam hal biaya, energi terbarukan juga perlu meningkatkan efisiensinya. Sebagai contoh, panel surya rata-rata memiliki efisiensi sekitar 15% yang berarti banyak energi akan terbuang dan ditransfer menjadi panas, bukan menjadi bentuk lain energi yang bermanfaat untuk digunakan. Namun, ada banyak penelitian yang sedang berlangsung dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi teknologi energi terbarukan, beberapa darinya benar-benar menjanjikan, meskipun kita belum melihat solusi energi terbarukan yang sangat efisien dan bernilai komersial tinggi.

Sektor energi terbarukan bisa memutuskan untuk "wait and see" karena bahan bakar fosil pada akhirnya akan habis dan energi terbarukan kemudian akan menjadi alternatif terbaik guna memuaskan rasa dahaga dunia akan energi. Tapi ini akan menjadi strategi yang buruk karena dua alasan: keamanan energi dan perubahan iklim.

Sebelum bahan bakar fosil habis, sektor energi terbarukan harus dikembangkan untuk cukup menggantikan batubara, minyak bumi, dan gas alam dan ini hanya dapat dilakukan jika kemajuan teknologi energi terbarukan berlanjut di tahun-tahun mendatang. Kegagalan pengembangkan teknologi energi terbarukan akan membahayakan keamanan energi masa depan kita, dan ini harus dihindari oleh dunia.

Energi terbarukan sering dianggap sebagai cara terbaik untuk mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim. Energi terbarukan akan mengurangi penggunakan bahan bakar fosil yang terus kita bakar, mengurangi pembakaran bahan bakar fosil berarti juga mengurangi emisi karbon dioksida dan memberikan dampak perubahan iklim yang lebih rendah.

Sebenarnya ada banyak alasan untuk memilih energi terbarukan dibandingkan bahan bakar fosil, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa energi terbarukan masih belum siap untuk sepenuhnya menggantikan bahan bakar fosil. Di tahun-tahun mendatang hal itu pasti terjadi, tetapi tidak untuk sekarang. Hal yang paling penting untuk dilakukan sekarang adalah mengembangkan teknologi yang berbeda bagi energi terbarukan guna memastikan bahwa saat datangnya hari dimana bahan bakar fosil habis, dunia tidak perlu khawatir dan energi terbarukan sudah siap untuk menggantikannya.

 

~Pembangkit Listrik Tenaga Listrik yang Melimpah di Indonesia

Pembangkit Listrik Tenaga Listrik yang Melimpah di Indonesia

Beberapa tahun belakangan ini Perusahaan Listrik Negara (PLN) kita gencar mensosialisasikan program hemat listrik dari pukul 17.00 hingga 22.00. Alasannya adalah PLN melakukan ini untuk efisiensi energi terutama dalam menghadapi beban puncak pada jam tersebut. Oleh karena itu masalah peningkatan konsumsi energi nasional ini harus segera dipecahkan. Perlu  di pahami, kebutuhan energi global dalam 30 tahun ke depan akan meningkat dua kali lipat per tahunnya.

Energi matahari atau tenaga surya. merupakan salah satu energi yang sangat besar, Energi matahari ini yang dipancarkan ke planet bumi adalah 15.000 kali lebih besar dibandingkan dengan penggunaan energi global dan 100 kali lebih besar dibandingkan dengan cadangan batubara, gas, dan minyak bumi.

Permasalahan energi matahari ini mungkin sedikit banyak mirip dengan energi nuklir. Sebenarnya secara teknologi bangsa Indonesia sudah mampu mengelolanya. Bahkan teknologi mutakhir telah mampu mengubah 10-20 % pancaran sinar matahari menjadi tenaga surya. Secara teoritis untuk mencukupi kebutuhan energi global, penempatan peralatan tersebut hanya memerlukan kurang dari satu persen permukaan bumi, Namun sebagai negara yang terletak di garis khatulistiwa bumi sehingga memiliki energi sinar matahari berlimpah tidak dapat memanfaatkannya secara baik. Pemanfaatan energi matahari selama ini baru digunakan sebagai pemanas air di rumah-rumah mewah maupun hotel, itupun masih produk impor. Padahal, di negara-negara Eropa utara yang relatif miskin sinar matahari, justru banyak memanfaatkan energi matahari sebagai energi terbaharukan, ramah lingkungan, dan murah.

Negara kita setiap tahunnya menadapat energi matahari sebesar 2.500 kW per jam-nya (sumber lainnya mengatakan bumi secara tak henti disinari energi sebesar 17 triliun kW). Jelas ini merupakan potensi. Mengutip tulisan dari Ivan A. Hadar dari Infid, energi matahari dapat dimanfaatkan secara solar thermal dan photogalvanic. Pada prinsipnya solar thermal yaitu sinar matahari diperkuat cermin yang mengalihkan ke alat penyerap berisi cairan. Cairan ini kemudian memanas dan menghasilkan uap yang membangkitkan generator turbo pembangkit tenaga listrik. Di California, AS, alat ini telah mampu menghasilkan listrik sebesar 354 MW. Dengan memproduksinya secara massal, harga satuan energi matahari ini di AS, hanya sekitar Rp 100.000 per kW per jam-nya. Hal ini tentu lebih murah ketimbang energi nuklir dan sama dengan energi dari pembangkit listrik berbahan baku fosil. Sedangkan pembangkit listrik photogalvanic, pengunaannya menggunakan sel-sel photogalvanic. Sebagai akibat sengatan sinar matahari, sel-sel tersebut melepaskan elektron yang dipaksa berputar dengan dampak terjadinya aliran listrik. Sel-sel tersebut dikemas dan dijual dalam bentuk modul dan dapat digunakan pada teknologi tegangan tinggi. Memang untuk saat ini modulnya terbilang cukup mahal. Namun perkembangan kedepannya diperkirakan harga akan menurun. Sebab salah satu pasarnya adalah mobil tenaga listrik yang diramalkan akan menjadi mobil masa depan.

Sumber : http://www.kip-pln.com/index.php?option=com_content&view=article&id=159:plts&catid=57:berita&Itemid=264

 
Halaman 34 dari 1047
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook