Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~ Tahun 2013 BBM harus Energi Mix 9,7%

 2013, BBM dalam Energy Mix Hanya 9,7 Persen

JAKARTA - Menteri ESDM Jero Wacik menyampaikan, pada tahun 2013, target penggunaan BBM dalam energy mix adalah sebesar 9,7 persen. Angka tersebut turun dari angka  2012 yang mencapai 13,83 persen.

"Tahun 2013 ditargetkan energy mix untuk BBM sebesar 9,7%, biodiesel 0,25%, hidro 6,19%, panas bumi 4,8%, gas 22,12%, dan batubara 56,66%," papar Menteri ESDM pada Raker dengan Komisi VII DPR mengenai pembahasan dan penetapan asumsi dasar subsidi listrik dalam RUU APBN Tahun Anggaran 2013 di Jakarta, Selasa (12/6/2012).

Menteri menjelaskan, subsidi listrik dari tahun ke tahun cenderung naik, salah satunya disebabkan ketergantungan BBM di dalam pembangkit.

Untuk mengatasinya, lanjut Jero Wacik, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk melarang pembangunan pembangkit baru yang menggunakan BBM.

"Efisiensi di dalam PLN harus dilakukan, salah satunya dengan optimalisasi energy mix," tegas Jero Wacik.

Menurut Menteri ESDM, peningkatan pertumbuhan ekonomi akan mengakibatkan peningkatan pertumbuhan kelompok ekonomi menengah yang cukup besar.

"Akibatnya, pertumbuhan kebutuhan listrik sangat besar karena kelompok ini menyerap sekitar 53 persen kebutuhan listrik," jelas Jero Wacik. (KO)

 

(http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/5787-2013-bbm-dalam-energy-mix-hanya-97-persen.html)

 

~ Rumah Hemat Energi

Rumah Hemat Energi UMY

Sebagai upaya untuk memberikan metode pembelajaran kepada masyarakat tentang rumah yang mengkonservasi energi, UMY meresmikan ‘Demo House” : Rumah Hemat Energi’, sebuah rumah yang tidak membutuhkan AC, cahaya lampu yang berlebih dan mempunyai sumber energi yang mandiri. Selain itu rumah tersebut juga dapat memanfaatkan tanaman untuk memberikan efek sejuk yang bermanfaat bagi lingkungan. Melalui rumah tersebut UMY bisa memberikan pengetahuan kepada masyarakat.

“Misalnya desain jendela. Saat ini desain jendela cenderung tertutup karena menggunakan AC. Pada rumah hemat energi ini, jendela rumah bisa diatur cara membukanya sehingga ventilasi bisa dimaksimalkan. Kemudian ketinggian atap atau ceiling, ventilation shaft untuk mengalirkan udara, plantation, penggunaan lampu LED hemat energi, serta penggunaan solar water heater,”jelas Project Coordinator CASINDO, Surya Budi Lesmana, MT.

Desain demo house berukuran 6 m x 8 m. Terdiri dari dua lantai, menggunakan besi, hal ini mengaki batkan tidak akan memotong kayu sehingga lebih ramah lingkungan. “Rumah tersebut disarankan menghadap utara selatan karena pertimbangan wind blows,”tambahnya.

Sebagai salah satu kebutuhan primer, rumah dipilih untuk dilakukan konservasi energi. Tidak hanya dilakukan pada rumah baru tetapi konservasi energi juga bisa dilakukan pada rumah lama atau rumah yang ada sebelumnya. “Rumah tangga pada dasarnya salah satu komponen utama penggunaan energi sehingga konservasi di rumah tangga harapannya bisa mengurangi penggunaan elektrifikasi. Selain itu juga perlu ditingkatkan kesadaran kepada masyarakat mengenai penggunaan energi baru terbarukan dan bagaimana menghemat energi.,”tegas Surya.

Sementara itu, Menurut Tony K Hariadi, Coordinator TWG VI (University Education and Research) dalam CASINDO, rumah hemat energi ini merupakan bentuk karya nyata kerjasama antara UMY dengan Technische Universiteit Eindhoven (TUe) dengan CASINDO  yang dilakukan dengan Fakultas Pertanian, Ekonomi, dan Teknik UMY, rumah ini tidak memerlukan alat pendingin ruangan serta dapat mengonversi energi.

“Rumah ini dibangun sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan pendingin ruangan karena ventilasi dan atapnya memungkinkan udara tersirkulasi dengan baik sehingga dapat mendinginkan ruangan. Juga terdapat panel tenaga surya yang dapat menghasilkan energi.”

Tony juga menjelaskan rumah hemat energi ini tidak menggunakan kayu sebagai bahan pembangunannya sehingga lebih ramah lingkungan. “Bangunan ini menggunakan rangka baja untuk menggantikan kayu sehingga kita tidak perlu memotong lebih banyak pohon. Kita berharap rumah ini dapat menjadi ikon untuk gerakan anti krisis energi dan pemanasan global.” ungkapnya.

Solar Water Heater adalah alat konversi energi untuk memanaskan air yang memanfaatkan energi matahari sebagai sumber energi dengan menggunakan sistem thermosiphon. Beragam keuntungan diperoleh saat memanfaatkan Solar water heater karena energi yang digunakan berasal dari tenaga matahari yang tersedia melimpah di alam, gratis dan
terus-menerus (renewable). Keamanan penggunaan terjamin karena sumber energinya berbeda dengan sistem pemanas air lainnya. Selain itu, pemeliharaan sederhana dan tidak memerlukan biaya yang tinggi dan hemat energi serta hemat biaya. Sementara itu, konversi energinya tidak memerlukan pembakaran sehingga tidak ada limbah dan bebas
polusi.

Sementara itu, Nico Vander Linden, perwakilan dari Energy Research Centre of the Netherland melihat bahwa kesadaran akan pentingnya program efisiensi energi di Indonesia masih rendah. Rumah hemat energi ini dapat menjadi proyek percontohan tentang bagaimana bangunan hemat energi. Karena itu ia berharap akses kepada rumah hemat energi UMY ini tidak hanya terbatas untuk mahasiswa saja, tapi dapat diperluas kepada pemerintah, masyarkarat dan sektor industri.

“Secara umum, kesadaran akan pentingnya penghematan energi masih rendah. Sangat penting untuk pihak-pihak seperti pemerintah dan swasta tentunya untuk melihat bagaimana penggunaan energi yang efisien di rumah ini. Sehingga akan meningkatkan kesadaran pemerintah dan masyarakat akan pentingnya efisiensi energi guna terwujudnya masa depan energi Indonesia yang berkesinambungan” jelas Nico.

 

~ Pengolahan air laut menjadi energi alternatif

 

Sumber Gambar: sxc.hu

Sumber Gambar: sxc.hu

 

 

Mengolah Air Laut Menjadi Energi Alternatif

 

Dua per tiga wilayah Indonesia terdiri atas lautan. Sayangnya, air laut yang begitu melimpah di negeri ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, air laut dapat menjadi bahan bakar alternatif yang juga ramah lingkungan.

Hal tersebut disampaikan oleh ahli kemaritiman Dr. Ir. Eddiwan Msc kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau. Ia menerangkan bahwa mereka telah menguji penyulingan air laut untuk menjadi biodiesel, yang merupakan bahan bakar energi alternatif.

Satu hal yang perlu dilakukan hanyalah menyesuaikan msein kapal agar cocok untuk biodiesel tersebut. Penyesuaian msein kapal disini maksudnya adalah menyesuakan apakah biodiesel tersebut cocok untuk mesin berbahan bakar premium atau solar.

Eddiwan yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan DKP mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi biodiesel dari air laut dapat menjadi salah satu solusi yang akan menjawab kelangkaan bahan bakar minyak.

“Teknologinya sederhana bahkan dapat dilakukan oleh nelayan yang tidak bersekolah sekalipun,” ujar Eddiwan yang memperoleh gelar magister dari Tokyo University ini kepada Antara.

Cara pengolahan biodiesel dari air laut ini adalah dengan pengendapan air laut dalam bak penampungan. Air ini kemudian disuling dengan alat penyulingan berukuran 0,1 mikron (plankton net). Air laut sulingan ini akan menghasilkan minyak sel yang berasal dari biota-biota yang hidup di laut.

Lelaki yang juga lulusan dari Boston University ini mengatakan bahwa sebenarnya teknologi biodiesel dari air lau telah digunakan di Amerika Serikat. Bedanya, jika di Amerika Serikat biodiesel telah digunakan untuk skala industri, biodiesel yang akan dikembangkan di Riau hanya untuk skala kecil saja. Khususnya, biodiesel ini akan digunakan untuk bahan bakar kapal nelayan dan listrik di rumah masyarakat yang tinggal di pulau-pulau.

Eddiwan sebenarnya pernah mempresentasikan idenya mengenai teknologi air laut itu kepada Kementrian Kelautan dalam rapat teknis untuk pengembangan biodiesel di Indonesia. Sayangnya, idenya ditolak karena alasan biaya yang besar. Padahal, ide ini sangat tepat untuk mengajak mendapatkan energi alternatif. Selain itu, menurut Eddiwan biaya yang dibutuhkan pun tidak terlalu mahal dan masyarakat awam sekalipun dapat menggunakannya. [Tika/Mizan.com/dari berbagai sumber]

 

(http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=news_det&id=661)

 

~ BBM dari Air Seni

 

BBM Air Seni

Teknologi mengkonversi urin jadi BBM tengah serius diteliti di Belanda. Di Indonesia?

 

 

VIVAnews - Gas air mata dan lemparan batu bersahutan di depan Gedung DPR RI, 30 April Jumat pekan lalu. Di Jakarta, Medan, Makassar, dan kota-kota lainnya ribuan demonstran mahasiswa dan buruh tumpah ke jalan,  menentang rencana kenaikan harga BBM bersubsidi.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tiba-tiba dari Belanda terdengar kabar ada penemuan baru. Para ilmuwan di sana tengah mengolah urin alias air seni alias air kencing manusia sebagai energi alternatif pengganti BBM.

Berita dahsyat itu pertama kali disiarkan oleh Radio Nederland.  Para ilmuwan Negeri Oranye telah berhasil menguji kekuatan si “air kuning”. Kabarnya, hasilnya amat menjanjikan.

Adalah Universitas Teknologi Delft dan lembaga penelitian DHV yang mengembangkan teknologi pemrosesan urin ini. Baru-baru ini, mereka berhasil mendaftarkan paten temuan ini di China, Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa. "Kami memproses urin yang dikumpulkan secara konvensional dan kimiawi," kata Andreas Glesen, Manajer Inovasi DHV Research.

Menurut Thiss Westerbeek, jurnalis Radio Nederland di Belanda, bahan bakar urin ini telah memasok energi setara 110 ribu Megawatt di 30 ribu rumah atau seluas satu kota kecil. Jika produksi urin ditingkatkan, para periset memprediksi daya yang dipasok bisa digenjot hingga lima kali lipat untuk jumlah rumah yang sama. Dan ini yang terpenting, tak cuma bisa dipakai untuk memasak, “energi kuning” ini dapat digunakan sebagai BBM alternatif untuk menggerakkan mobil bertenaga listrik.

Proses mengubah urin menjadi sumber energi alternatif ini cukup “sederhana”. Air seni mengandung senyawa amonia. Jika dipanaskan secara perlahan, urin akan berubah menjadi gas amonia. Gas tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sel bahan bakar (fuel cell), sejenis generator, dan kemudian digunakan untuk memproduksi energi lisrik. (lihat Infografik: Dari Urin ke Energi Listrik)

Jika pasokan urin dijaga selalu tersedia, energi listrik pun bisa diproduksi terus-menerus, setiap saat. Inilah keunggulan teknologi ini dengan energi yang dikonversi dari angin dan matahari, yang amat bergantung pada kondisi alam.

Sudah begitu, bahan sisa pemrosesan urin, asam fosfat, juga bisa digunakan untuk membuat pupuk urea yang tak berbahaya karena tak mengandung bahan kimia.

Temuan ini akan dibuka untuk para investor. Meskipun biaya awalnya cukup tinggi —tak dijelaskan berapa-- namun investasi selangit itu diproyeksikan sudah akan kembali dalam waktu 8-10 tahun. Di Belanda, jangka waktu seperti itu dianggap masih masuk akal dan bisa diterima dunia bisnis. “Penelitian ini dibiayai oleh pemerintah,” ujar Thiis.

Keseriusan Belanda mengolah air seni bisa ditarik lebih jauh ke belakang. Seperti dilansir CSIR e-News, untuk mengambil kekuatan “si kuning”, sejak tahun 2006 mereka telah mengembangkan teknologi yang dapat memisahkan air dari urin di toilet. Teknologi ini dikembangkan Dr. Jac Wilsenach. Gelar doktornya dia dapat dari Universitas Delft.

“Kita harus melihat urin sebagai sumber daya ketimbang limbah,” begitu kata Wilsenach yang kini bekerja sebagai peneliti senior CSIR Natural Resources and Environment.

Menurut dia, sebagai limbah kebanyakan urin mengandung 80 persen nitrogen, 50 persen fosfat, dan 70 persen potasium. Untuk memisahkan zat-zat itu dari air urin diperlukan toilet pemisah khusus. Maka, dia pun menciptakan toilet spesial yang diberi nama “NoMix.” Kendalanya, untuk mendapat bahan baku urin segar, jutaan rumah harus dibuat untuk mengganti toilet lama mereka dengan Nomix. Ini tentu bukan pekerjaan mudah.

Wilsenach tak hilang akal. Bekerja sama dengan pemerintah lokal, dia akan memasang "NoMix" di tempat-tempat umum: di blok perkantoran, sekolah, mal, dan bandara. Di area publik itu urin melimpah ruah, dan selama ini terbuang percuma. Dari situlah terbuka lebar untuk memproduksi energi alternatif dari urin jadi terbuka lebar.

Amerika Serikat
Diam-diam, teknologi ini tak hanya dikembangkan di Belanda, tapi juga di sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris, Meksiko, dan Skotlandia.

Di Amerika Serikat, pelopornya adalah Profesor Gerardine Botte dari Universitas Ohio. Pada tahun 2009, ia melihat ada tiga kelemahan dalam bahan bakar fosil. Pertama, tidak bisa atau sulit diperbarui. Kedua, proses eksplorasinya butuh biaya besar. Dan ketiga, emisi gasnya terbukti menyebabkan peningkatan pemanasan global.

Dia juga melihat kelemahan bahan bakar hayati (bio-fuel). Sebab, di masa depan ini akan menyebabkan perebutan antara kebutuhan akan makanan dan bahan bakar.

Maka, dia pun melirik urin. Dia melihat kemungkinan urin menjadi sumber energi masa depan buat kendaraan berbahan bakar hidrogen. 
 
Botte melihat urea adalah zat terbanyak di urin. Urea itu merupakan sumber potensial untuk dikonversi jadi hidrogen. Lantas, dia memanfaatkan teknologi elektrolit untuk menghasilkan hidrogen dari air seni. Setiap molekul urin mengandung empat atom hidrogen. Jumlah ini lebih banyak dibanding hidrogen yang dikandung air. Dalam perhitungannya, seperti dikutip wired.com, mengolah hydrogen dari urin lebih efisien biayanya ketimbang dari air. Listrik yang digunakan juga hanya 0,37 volt, sementara dari air memerlukan 1,23 volt.

Urin juga melimpah. Saban hari setiap orang mengeluarkan urin sebanyak 0,9 sampai 1,5 liter per hari. Kalikan saja dengan jumlah penduduk dunia yang berkisar 7 miliar. Dengan demikian, tersedia 7 miliar liter urin segar setiap hari untuk dikonversi menjadi hidrogen.

Kini, Botte tengah difasilitasi Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk membuat kendaraan tempur ringan berbahan bakar hidrogen dari urin. “Dengan demikian, tentara di lapangan bisa membawa BBM-nya sendiri,” kata Botte seperti dikutip Discovery News. Itu bukan guyonan, karena memang bisa jadi persoalan serius di medan perang yang sulit, seperti gurun atau hutan.

Inggris
Di negeri Big Ben, BBM-urin diteliti Dr. Ioannis Jeropoulos dan timnya dari Universitas West England, Bristol. Menurut The Guardian, dia telah mempublikasikan hasil risetnya di Journal of Physical Chemistry.

“Urin secara kimia sangat aktif, ” kata Dr. Jeropoulos. Menurut hitungan dia, tiap manusia memproduksi urin sebanyak 6,4 triliun liter urin per tahun. Jumlah itu lebih dari mencukupi untuk mensuplai teknologi Microbial Fuel Cell (MFC) atau sel bahan bakar mikroba yang tengah dia kembangkan.

Penelitiannya sudah berjalan tiga tahun. Dia menggunakan energi MFC dari urin untuk menggerakkan robot EcoBot III yang dia rancang bersama peneliti Bristol Robotics Laboratory. Dia melihat urin banyak mengandung nitrogen, urea, klorida, kalium dan bilirubin. Ini material yang sangat baik untuk sel bahan bakar mikroba. Menurut dia, 25 mililiter urin yang disuntikkan ke kotak anoda bisa menghasilkan daya 0,25 megawatt listrik--cukup untuk menyalakan alat bantu pendengaran selama tiga hari.

Meksiko
Diungkap Space Safety Magazine, Badan Luar Angkasa Meksiko pun rupanya tengah meneliti kegunaan urin untuk kepentingan penjelajahan luar angkasa. Penelitian itu dipimpin Prof. Gabriel Lunar Sandoral. Dia meneliti urin untuk menghasilkan hidrogen dan oksigen untuk dimanfaatkan di luar angkasa. Hidrogen bisa dijadikan bahan bakar pesawat luar angkasa, sementara oksigen—tentu saja--untuk bernafas. NASA sendiri sejauh ini baru mengolah urin menjadi air minum.

Skotlandia
Di negeri “Brave Heart”, penelitian air seni untuk menjadi pengganti BBM tengah dilakukan di Fakultas Teknik dan Ilmu Fisika Universitas Edinburgh. Dua orang doktor kimia di universitas itu, Shanwan Tao dan Rong Lan, mendapat hibah 130 ribu pounds untuk melakukan riset penting tersebut.

Indonesia
Lantas bagaimana di negeri yang riuh dengan soal harga BBM ini?

Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Ir. Erlan Rosyadi M.Eng, garuk-garuk kepala. “Riset urin? Tidak pernah kita melakukan itu,” ujarnya kepada VIVAnews (lihat Energi Alternatif, Dari Kakus ke Dapur).

Hal senada disampaikan Dr. Neni Sitawardani, peneliti fisika senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Menurut dia, urin belum diteliti sebagai alternatif pengganti BBM.

Urin, jelas Dr. Neni, baru dimanfaatkan untuk membuat pupuk. Salah satu yang memeloporinya adalah sebuah pabrik pupuk di Indramayu. Petani di sekitar pabrik itu menggunakan pupuk urin itu. “Hasilnya cukup bagus,” kata Neni. Selain mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, para petani mengaku padi yang dihasilkan lebih pulen dan manis.

Nah!

Daripada ribut terus tak berkesudahan, kenapa tak segera saja meneliti dan memanfaatkan air kencing 250 juta penduduk negeri yang amat haus BBM ini? (kd)

 

(http://sorot.vivanews.com/news/read/302369-bbm-air-seni)

 

~ Energi Alternatif perlu 2 kebijakan pemerintah

 

Pengembangan energi alternatif butuh dua kebijakan pemerintah

 

 

Jakarta (ANTARA News) - Pengembangan energi alternatif seperti bioetanol memerlukan insentif pajak dan pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM).

"Pajak untuk alkohol (dari bioetanol) sebagai bahan bakar tidak dapat disamakan dengan alkohol yang dikonsumsi oleh karena itu harus ada intervensi kebijakan," kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lukman Hakim, dalam jumpa pers di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) Serpong, Tangerang Selatan, Selasa.

Lukman mengatakan insentif pajak itu merupakan salah satu skema kebijakan yang ditujukan kepada industri yang memproduksi bioetanol.

"Insentif pajak juga dapat diberikan kepada industri yang membiayai riset energi alternatif, misalnya," kata Lukman.

Kebijakan kedua, menurut Lukman, adalah pengalihan anggaran subsidi BBM untuk riset energi alternatif.

"Harga jual etanol belum kompetitif jika dibandingkan dengan BBM subsidi. Itu berlaku untuk semua bahan bakar atau energi alternatif," kata Lukman.

Lukman membandingkan persentase alokasi dana riset di China sebesar dua persen dari produk domestik bruto (PDB), Korea sebesar empat persen, sedangkan Indonesia belum menyentuh satu persen (atau sekitar Rp75 triliun).

"Sering terdapat kesenjangan yang lebar ketika hasil kajian lembaga penelitian akan digunakan industri sehingga dibutuhkan peranan pemerintah sebagai fasilitator," kata Lukman.

LIPI memperkirakan cadangan minyak bumi di Indonesia akan habis pada 2024, cadangan gas akan habis pada 2042, sedangkan batu bara masih dapat digunakan hingga 2082.

(I026)

Editor:

(http://www.antaranews.com/berita/308591/pengembangan-energi-alternatif-butuh-dua-kebijakan-pemerintah)

 
Halaman 34 dari 984
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook