Alpen Steel | Renewable Energy

Rubrik ini adalah kumpulan artikel tentang energi yang di-upload oleh para member kami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung yang ingin: mencari kumpulan referensi tentang energi, mengetahui seluk beluk tentang energi terbarukan secara khusus, mengaplikasikan energi terbarukan dilingkungannya. 

Teknologi energi adalah teknologi yang terkait dengan bidang-bidang mulai dari sumber, pembangkitan, penyimpanan, konversi -energi dan pemanfaatannya untuk kebutuhan manusia. Sektor kebutuhan utama yang paling besar dalam jumlah untuk massa mendatang adalah sektor kelistrikan dan sektor transportasi. Sumber energi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Dalam pembangkitan energi beberapa sistem pembangkitan yang telah digunakan untk memenuhi kebutuhan energi didunia, seperti: pembangkit listrik tenaga air /PLTA, pembangkit listrik tenaga surya/PLTS, pembangkit listrik tenaga uap dan gas/PLTU,PLTG, pembangkit listrik panas bumi/PLTP, pembangkit listrik tenaga angin/bayu/PLTB, pembangkit listrik tenaga gelombang laut/PLTGL, dan pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.



~“Menghidupkan” Teknologi Dengan Alam

“Menghidupkan” Teknologi Dengan Alam

Dapatkah teknologi mendekatkan manusia pada alam? Simon Heijdens menjawab pertanyaan tersebut. Ia melahirkan sebuah karya yang lahir dari hubungan paradoks antara alam dan teknologi. Angin, hujan, dan matahari adalah elemen utama yang ia tunjukkan pada karyanya.

Seniman berusia 36 tahun asal Jerman ini membuat proyek Shade. Proyek yang baru saja dipamerkan di London ini berbentuk fasad sebesar 140m2, terfragmen dalam sel-sel kecil berbentuk segitiga. Gerakan angin di bagian luar fasad dihitung di beberapa titik sepanjang fasad tersebut dan datanya kemudian dimasukkan ke dalam sebuah program yang akan memicu tiap sel untuk berubah transparansinya.

Karya ini menghasilkan permainan cahaya di lantai galeri. Cahaya tersebut berubah secara terus menerus. Di pagi hari, polanya keras dan dengan pola yang bersudut, sementara saat matahari bergerak semakin ke atas, cahayanya akan berubah menjadi semakin lembut.

Berikutnya adalah proyek Lightweeds. Proyek ini adalah karya Heijdens yang paling terkenal, yang juga mengaburkan batasan antara ruang dalam dan luar. Karya ini sekarang sedang dipamerkan di Museum of Modern Art di New York, Amerika Serikat.

Lightweeds seperti ilalang, yang mempunyai biji putih, diproyeksikan di dinding museum dan tumbuh berdasarkan cuaca yang ada di luar gedung tersebut. Seperti ilalang yang tumbuh di halaman rumah kita, seniman ini menumbuhkan ilalang tersebut dengan memperhitungkan respon terhadap cahaya matahari, angin dan hujan berdasarkan sensor yang disimpan di luar gedung.

Tanaman digital ini juga sensitif terhadap lingkungan di dalam gedung. Saat pengunjung museum berjalan melewatinya, angin yang ditimbulkan membuat batang tanaman melengkung dan kemudian melepaskan bijinya, kemudian tumbuh di tempat lain di dalam ruangan itu. Seniman ini menggambarkannya sebagai organisme digital.

Tujuan dari dua proyek diatas adalah untuk menyatukan manusia dengan ritme alam. Dunia modern membuat pengalaman sehari-hari menjadi semakin statis. Sehingga saat elemen alam yang tak bisa diprediksi seperti angin kecil berhembus, gerimis hujan atau tenggelamnya matahari sudah tidak bisa masuk ke dalam lingkungan kita, maka pergerakan waktu sehari-hari sudah hilang.

Bahkan karya ini bisa dianggap sebagai jendela berteknologi, membiarkan angin atau cahaya matahari masuk kembali ke dalam ruangan kita, dengan cara yang indah dan tak dapat diprediksi.

Sumber: http://www.greeners.co/ide-inovasi/menghidupkan-alam-dengan-teknologi/

 

~Gedung Parlemen Dengan Panel Surya Terbanyak Di Dunia

Gedung Parlemen Dengan Panel Surya Terbanyak Di Dunia

Gedung parlemen Israel kini menjadi gedung parlemen dengan lapangan panel surya terbesar di dunia. Baru-baru ini anggota parlemen dan aktivis lingkungan Israel bekumpul di Knesset, gedung parlemen Israel di Yerusalem untuk meresmikan 1.500 panel surya yang terpasang di gedung tersebut.

Panel surya ini merupakan bagian dari Green Knesset Project yang diluncurkan pada Januari 2014. Gedung Parlemen dipilih agar dapat menjadi contoh keberlanjutan. Sekitar 1.500 panel surya yang dipasang di atap gedung Knesset dan beberapa bangunan di sekitarnya akan menyediakan 10% kebutuhan listrik kantor dengan kapasitas sebesar 450 kilo Watt.

Pemasangan panel surya bukan satu-satu revolusi lingkungan di gedung parlemen Israel. Mereka juga berinisiatif menghemat energi dengan mengganti bohlam lampu dengan lampu LED, melakukan daur ulang, membuat kompos, memperbaiki sistem pengairan dan udara, memasang stasiun pengisian listrik untuk kendaraan, dan mengurangi kemasan botol plastik untuk konsumsi rapat. Dengan cara tersebut, mereka menargetkan tagihan listrik di akhir tahun 2015 akan berkurang sepertiganya.

Seperti dilansir dalam laman inhabitat.com, Samuel Chayen, Koordinator Keberlanjutan di Green Knesset Project, mengatakan bahwa parlemen di Asia dan Eropa tertarik untuk belajar dari Israel mengenai cara mengimplementasikan program-program keberlanjutan mereka sendiri.

“Apa yang terjadi hari ini adalah sebuah hal yang menarik, benar-benar sebuah revolusi. Bukan tentang panel surya saja, tapi sebuah pesan, sebuah ide, sebuah jalur yang baru. Ini bukan sekedar revolusi dalam penghematan energi, ini adalah sebuah titik balik dalam revolusi mengenai kesadaran lingkungan yang sudah kami promosikan selama dua tahun terakhir,” ujar Juru Bicara Knesset, Yuli Edelstein.

Selain Israel, gedung parlemen di Jerman dan Austria menempati urutan kedua dan ketiga terbanyak yang memiliki panel surya. Bahkan, negara sekelas Amerika saja belum ‘menghijaukan’ gedung Capitol-nya meski Gedung Putih (White House) sudah memasang panel surya. Akankah gedung MPR/DPR di Indonesia mengikuti langkah ini? Kita tunggu saja.

Penulis:NW/G15
Sumber: www.inhabitat.com

http://www.greeners.co/ide-inovasi/gedung-parlemen-dengan-panel-surya-terbanyak-di-dunia/

 

~Listrik Dari Tumbuhan Hidup

Listrik Dari Tumbuhan Hidup

Apa mungkin tumbuhan dapat menghasilkan energi listrik? Bisa!

Sebuah perusahaan asal Belanda berhasil mengumpulkan energi listrik dari tumbuhan. Energi tersebut digunakan untuk mengisi tenaga listrik ke ponsel hingga membuat hotspot Wi-Fi. Bahkan listrik yang datangnya dari limbah proses fotosintesis tumbuhan ini sanggup menyalakan 300 lampu LED di sepanjang jalan di dua kota di Belanda.

Plant-e meluncurkan proyek “Starry Sky” pada bulan November 2014 di sebuah situs amunisi tua yang disebut HAMburg di dekat kota Amsterdam. ‘Tumbuhan listrik’ ini juga digunakan dekat markas perusahaan tersebut di Wageningen.

Dalam proyek ini, tumbuhan ditanam di wadah plastik di lahan seluas 1,8 kilometer untuk dimanfaatkan energinya untuk menyalakan lampu jalan. Lalu bagaimana proses mendapatkan listrik dari tumbuhan tersebut?

Pada saat proses fotosintesis, tumbuhan menyerap energi dari matahari dan mengubahnya menjadi gula. Saat mereka tumbuh ada lebih banyak gula yang dihasilkan di tubuhnya. Gula berlebih ini akan dikeluarkan oleh tumbuhan melalui akar ke dalam tanah dan dipecah menjadi elektron dan proton. Elektroda yang telah disiapkan tim dari Plant-e di dalam tanah akan menunggu hingga tumbuhan mengeluarkan ‘sampah listrik’ tersebut dan mengalirkannya ke luar.

Menuai energi dari tanaman sudah sering dilakukan dalam berbagai percobaan ilmiah. Dengan menggunakan metode yang hampir sama, Plant-e memperoleh energi namun tanpa merusak tanaman tersebut. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan Plant-e di Belanda ini dapat menandakan bangkitnya revolusi clean energy atau energi bersih.

Diperkirakan sekitar 25 persen populasi dunia masih belum dapat menikmati listrik. Perusahaan ini berharap dengan teknologi yang efektif namun tidak mahal, energi yang bersih dapat digunakan untuk menghasilkan listrik di daerah yang mengalami krisis listrik.

Meski begitu, seorang profesor di University of Georgia College of Engineering, Ramaraja Ramasamy menyatakan bahwa memanen listrik dengan teknik tersebut tidak mudah. Seperti dikutip dari yesmagazine.org, Ramasamy mengatakan bahwa teknologi yang digunakan Plant-e disebut juga dengan “sel bahan bakar dengan sedimen mikroba”. Menurut Ramasamy, teknologi ini masih memerlukan beberapa tahun untuk diteliti dan dikembangkan sebelum siap diproduksi secara komersil.

Judul Asli: PANEN LISTRIK DARI TUMBUHAN HIDUP

Sumber: http://www.greeners.co/ide-inovasi/panen-listrik-dari-tumbuhan-hidup/

 

~Memanfaatkan Langkah Kaki Untuk Membangkitkan Listrik

Memanfaatkan Langkah Kaki Untuk Membangkitkan Listrik

Lampu LED yang terpasang di langit-langit salah satu koridor sebuah kantor di kota Paris dinyalakan dengan tenaga langkah kaki manusia. Bagaimana caranya?

Kantor tersebut adalah perusahaan Kereta Api Nasional Perancis (SNFC). Mereka menunjuk Pavegen, perusahaan teknologi ramah lingkungan, untuk memasang ubin khusus sebanyak enam buah. Ubin-ubin itu dipasangi dengan alat khusus yang akan menerima kekuatan pijakan langkah kaki para karyawan kantor kereta api yang melangkah di koridornya. Para staf dapat melihat energi yang mereka hasilkan melalui layar interaktif yang dipasang di dinding koridor.

Pijakan kaki dari para staf dan karyawan kantor SNFC yang melintas akan terkumpul dan menghasilkan daya untuk menerangi lampu LED di koridor. Ubin berenergi kinetik tersebut menunjukkan potensi dari kekuatan langkah kaki manusia. Pavegen mengatakan ubin kinetik ini dapat diaplikasikan di bidang transportasi di Perancis.

Pavegen mengatakan, “dengan menginstal teknologi Pavegen, SNCF telah menciptakan peluang yang lebih besar untuk daya langkah kaki, yang memungkinkan masyarakat untuk menjadi bagian inti dari pembangkit energi terbarukan mereka di seluruh Perancis.”

Pihak SNFC berjanji untuk membuat kereta api dan stasiun kereta yang lebih hemat energi. Hal ini dikarenakan mereka adalah konsumen listrik tunggal terbesar di Perancis, memakan 1,5% dari produksi energi negara.

Pavegen sebelumnya pernah memasang ubin yang dapat menghasilkan energi di stasiun kereta api West Ham Tube selama Olimpiade 2012. Mereka juga telah bekerjasama dengan GDF Suez pada Maret 2014 untuk memasang 14 ubin di bagian luar stasiun Saint Omer di Perancis. Lampu LED dan stop kontak USB di bangku kereta api di stasiun kereta tersebut berhasil menyala berkat 5.000 penumpang per harinya.

Pendiri dan CEO dari Pavegen Sistem, Laurence Kemball-Cook mengatakan, “Kami percaya bahwa teknologi ini adalah solusi bagi perkembangan masa depan industri transportasi. Teknologi dari perusahaan kami menggabungkan kemampuan untuk menghasilkan listrik terbarukan dengan upaya untuk mendidik masyarakat tentang energi keberlanjutan, serta menyediakan data yang real-timesebagai papan petunjuk, iklan dan mengurangi jejak karbon kita.”

Penulis: NW/G15

Sumber:http://www.greeners.co/ide-inovasi/memanfaatkan-langkah-kaki-untuk-membangkitkan-listrik/

 

~Dulu Gunung Sampah, Kini Tempat Wisata

Dulu Gunung Sampah, Kini Tempat Wisata

Garbage Mountain merupakan salah satu gunung yang paling dikenal di Tel Aviv, Israel. Gunung ini adalah tempat sampah raksasa dan sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Sebenarnya, nama bukit tersebut adalah Gunung Hiriya, namun karena tumpukan sampah yang luar biasa banyak di tempat itu, warga menyebutnya sebagai “Garbage Mountain” alias Gunung Sampah.

Gunung ini berada pada ketinggian 72 meter di atas permukaan laut dengan luas hampir 38 kilometer, dan tercatat pernah menampung sekitar 25 juta ton sampah. Bau sampah yang dibuang di tempat ini dapat tercium hingga puluhan kilometer jauhnya.

Sekarang gunung sampah ini telah berganti rupa menjadi salah satu tempat dengan fasilitas daur ulang terbesar di dunia. Gunung Hiriya kini menjadi ikon negara Israel dan Ariel Sharon Park dengan slogannya “membuat sampah menjadi lebih cantik”.

Setiap hari, Gunung Hiriya menyaring 3.000 ton sampah domestik, 1.500 ton sampah puing, dan 250 ton sampah alam. Di tempat ini, sampah tersebut diubah menjadi bahan bakar, pupuk, listrik, air untuk irigasi, bahkan taman bunga!

Gunung Hiriya telah menjadi tempat sampah raksasa sejak tahun 1952. Setelah hampir 16 juta meter kubik sampah nyaris tumpah ke dalam Sungai Ayalon dan tingkat polusi di Tel Aviv semakin memburuk, warga setempat memaksa agar tempat ini ditutup pada tahun 1998.

Setelah ditutup, pemerintah Israel mengadakan kompetisi internasional untuk reklamasi lahan Hiriya. Dari kompetisi tersebut, Peter Latz terpilih dari 14 arsitek lainnya dan mampu mengubah lahan tersebut menjadi area hijau.

Peter Latz adalah arsitek dan perancang tata kota. Ia mengembangkan produk Bioplastik yang dapat mencegah gas metana lolos dari permukaan tanah sehingga tanaman dan hewan dapat berkembang biak di tanah Hiriya.

Di puncak gunung yang landai berdiri tempat yang jadi pemandangan pertama para pelancong di Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv. Pengunjung dapat melihat kemajuan perkembangan yang masih dilakukan di Gunung Hiriya.

Gunung Hiriya kini menjadi salah satu tujuan wisata sekaligus lahan daur ulang raksasa. Limbah kayu didaur ulang dan diolah Hiriya Carpentry Shop menjadi mebel kayu yang menawan. Gunung Hiriya pun mampu menghasilkan energi listriknya secara mandiri dari biogas yang mereka dapat dari pengelolaan limbah, dan menjual kelebihan listriknya pada perusahaan listrik Israel.

Judul Asli: semula gunung sampah, kini tempat wisata

Sumber: http://www.greeners.co/ide-inovasi/semula-gunung-sampah-kini-tempat-wisata/

 
Halaman 34 dari 1038
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook