Alpen Steel | Renewable Energy

~ Kerusakan Lingkungan Sepanjang Aliran Sungai Serayu Dan Merawu

Sedimentasi Jadi 4,5 Juta Meter Kubik

 

Banjarnegara, Kompas - Kerusakan lingkungan di sepanjang daerah aliran Sungai Serayu dan Merawu yang kian parah membuat sedimentasi di Bendungan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Mrica, Banjarnegara, Jawa Tengah, meningkat. Sedimentasi naik dari sebelumnya 4,2 juta meter kubik per tahun menjadi 4,5 juta meter kubik per tahun.

”Kerusakan lingkungan di daerah hulu lebih cepat daripada rehabilitasi lingkungan,” kata Kepala Hubungan Masyarakat PT Indonesia Power Gunawan, Sabtu (10/4) di Banjarnegara. PT Indonesia Power adalah anak perusahaan PLN yang menjalankan usaha komersial di bidang pembangkitan tenaga listrik.

Kenaikan rata-rata sedimentasi di Bendungan Mrica mengakibatkan akumulasi sedimentasi di bendungan itu kini mencapai 88,5 juta meter kubik. Hal itu mengganggu perputaran turbin pembangkit listrik tenaga air bendungan.

Penyumbang terbesar sedimentasi adalah Sungai Merawu yang berhulu di Dataran Tinggi Dieng. Sungai ini memiliki sejumlah anak sungai dengan daerah aliran sungai yang tebingnya rawan longsor sehingga tingkat erosinya tinggi. Selain itu, kerusakan lingkungan sangat tinggi.

PT Indonesia Power masih mengupayakan rehabilitasi lingkungan di hulu. Salah satunya, dengan penanaman tegakan keras dan sekolah lingkungan untuk para petani. Sejumlah petani mulai sadar untuk menanam tanaman keras di lahan mereka secara tumpang sari. Perlu juga mengenalkan pola terasering agar tanah tak mudah larut ke sungai. Namun, upaya tersebut tak serta-merta langsung dirasakan dampaknya.

Hasil penelitian tim Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto menunjukkan, selain sedimentasi, persoalan lain akibat kerusakan lingkungan di hulu Serayu dan Merawu adalah adanya kandungan logam berat pada tanah dan air di hulu. Hal itu berasal dari akumulasi penggunaan pestisida dan pupuk secara berlebih oleh petani kentang.

Asisten I Bidang Pemerintahan Pemerintah Kabupaten Purbalingga Suharno mengatakan, hampir semua lahan di Dieng, baik hutan rakyat, Perhutani, maupun lahan sawah, telah terkonversi menjadi ladang kentang. Untuk merehabilitasi lahan, hal itu sangat bergantung pada kesadaran masyarakat setempat.

”Sejumlah komunitas petani mulai sadar untuk memperbaiki lingkungan, seperti Desa Karangtengah, Kecamatan Batur. Di sana sudah mulai ditanam kayu putih yang bagus untuk penghijauan dan bernilai ekonomis tinggi,” katanya.

Wilayah itu masih kekurangan bibit kayu putih. Diperkirakan lebih dari 150.000 bibit pohon kayu putih diperlukan untuk penghijauan. (HAN)

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook