Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pencemaran Air Pengaruhi Tingkat Pengaratan

Pencemaran Berpengaruh pada Tingkat Korosi

Rencana pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Batujajar di Kp. Banusari, Desa Pangauban, Kec. Batujajar, Kab. Bandung Barat diakui akan menimbulkan dampak negatif terhadap peralatan pembangkit listrik di PLTA Saguling, apabila itu terwujud. Lokasi TPA yang bakal dibangun begitu dekat dengan perairan Waduk Saguling hingga memungkinkan air lindi yang berasal dari sampah mengalir dan mencemari kualitas air Saguling. Pencemaran itu akan berpengaruh pada tingkat korosi (pengaratan) sistem alat pendingin di PLTA Saguling.

Demikian diungkapkan General Manager PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Saguling, Sudibyanto yang ditemui di sela-sela kegiatan pembacaan hasil Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kab. Bandung Barat di Hotel Grand Lembang, Jumat (3/7). Menurut dia, air lindi tersebut akan memperparah tingkat korosi pada peralatan di Saguling.

Sistem alat pendingin, kata dia, berbahan tembaga dan kuningan yang sensitif dengan bahan kimia yang terkandung dalam air lindi. Apalagi, kualitas air Sungai Citarum kini juga terus mengalami penurunan.

Sudibyanto mengakui, pertimbangan itu sudah dikonsultasikan dengan Panglima Kodam III/Siliwangi, sebulan lalu. Hasil pertemuan itu menyatakan, sistem TPA di Batujajar tersebut merupakan TPA yang berteknologi. Langkah antisipatif harus dilakukan untuk mencegah aliran air lindi ke Saguling.

"Kami menganjurkan, di TPA tersebut menggunakan alas plastik untuk menahan air lindi agar tidak mengalir ke Saguling. Kalau untuk mendirikan benteng, biayanya terlalu mahal, jadi plastik saja," tuturnya.

Sudibyanto mengungkapkan, rencana pembangunan TPA Batujajar tersebut belum dikoordinasikan dengan tingkat pimpinan yang lebih tinggi karena masih dalam tataran wacana. Meski demikian, dia menekankan bahwa pencemaran yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh air lindi dari TPA.

"Pada dasarnya, kita jangan dahulu bicara TPA sebagai sumber pencemaran. Air Sungai Citarum secara keseluruhan harus diminimalkan tingkat pencemarannya," katanya.

Industri sampah

Sebelumnya, Bupati Bandung Barat Abubakar menyatakan, dirinya dengan tegas menolak lahan TNI di Kec. Batujajar apabila dijadikan TPA. Menurut Abubakar, tidak heran apabila masyarakat ikut menolak pembangunan TPA di Batujajar, apalagi terkait trauma peristiwa longsornya TPA Leuwigajah, Februari 2005 silam.

Meski demikian, Abubakar akan mendukung pembangunan tempat pengolahan sampah dalam arti industri pengolahan sampah. Konsep tersebut kini dalam tahap konsolidasi internal pemerintah. Dia berencana menciptakan sistem pengolahan sampah yang ramah lingkungan.

Sementara itu, wacana yang berkembang di tengah masyarakat, pembangunan TPA tersebut dipastikan akan berujung pada dampak negatif, yaitu pencemaran lingkungan. Beberapa aksi warga menentang pendirian TPA tersebut telah berlangsung beberapa kali. Di antaranya, ketika ada kunjungan Pangdam Siliwangi bersama Wakil Bupati Bandung Barat, akhir Mei lalu. Aksi mereka kemudian berlanjut pada audiensi ke Kantor Pemkab Bandung Barat, awal Juni lalu.

Menurut Baban Heryana (31), warga Kp. Pajajaran RT 1 RW 3, Desa Pangauban, Kec. Batujajar yang lantang menolak pendirian TPA, dengan adanya tempat pembuangan akhir sampah, warga hanya akan mendapatkan dampak negatifnya.

"Kami tetap akan menolak keberadaan TPA karena akan ada sumber penyakit dan pencemaran lingkungan. Bau sampah yang berasal dari lalu lalang truk pengangkut sampah. Air lindi akan merembes ke sumur warga, pada akhirnya tercemari dan timbul sumber penyakit baru," katanya.

Baban mengatakan, dari lokasi yang akan dijadikan TPA tersebut, sekitar 100 meter persegi merupakan permukiman warga.
Sumber: Harian Pikiran Rakyat,

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook