Alpen Steel | Renewable Energy

~ Investor Ras Alkhaimar, Uni Emirat Arab, Akan Berinvestasi 5,2 Miliar Dollar AS Atau Rp 49,4 Triliun Untuk Produksi Batu Bara Dan Aluminium Di Kutai, Kalimantan Timur

Investasi di Kutai Rp 49,4 Triliun
Aturan Pembebasan Lahan Sebaiknya Berupa UU

 

Jakarta, Kompas - Investor Ras Alkhaimar, Uni Emirat Arab, akan berinvestasi 5,2 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 49,4 triliun di produksi batu bara dan aluminium di Kutai, Kalimantan Timur. Guna membangun infrastruktur pendukung telah dikucurkan 200 juta dollar AS.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengungkapkan hal itu di Jakarta, Rabu (6/1). Dia menjelaskan, status realisasi investasi ini telah disiapkan di BKPM dalam 1,5 bulan terakhir.

Beberapa prasarana yang disiapkan oleh investor Ras Alkhaimar adalah pembangunan rel kereta api sepanjang 139 kilometer dengan lebar koridor 100 meter senilai 1,2 miliar dollar AS. Proyek ini ditargetkan selesai dalam dua tahun.

Seiring pembangunan rel kereta, investor mengembangkan pelabuhan, reaktor energi alternatif, dan pembangkit listrik. ”Teknologi yang digunakan dari Kanada. Mereka menyatakan komitmen di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 3-4 tahun ke depan, seluruh proyek mulai direalisasikan,” kata Gita.

Dari catatan BKPM disebutkan, investor dari Ras Alkhaimar mengagendakan investasi pembangunan pembangkit listrik 1.400 megawatt (MW) sebesar 1,5 miliar dollar AS. Untuk produksi aluminium smelter 500.000 ton per tahun mulai 2014, investasinya 2 miliar dollar AS.

Adapun untuk produksi batu bara dilakukan dengan peningkatan kapasitas produksi berkala, yaitu 1 juta ton pada 2010, lalu 17 juta ton pada 2014, dan 35 juta ton pada 2017. ”Sumber pembiayaannya dibantu perbankan dari luar negeri, antara lain dari pemasok kredit asal Timur Tengah dan India,” tutur Gita.

Gita menjelaskan, awal Maret 2010 rel kereta api mulai dibangun karena pembebasan lahan sudah dilakukan dalam beberapa bulan ini. ”Untuk smelter alumina dan pembangkit listrik baru saja, investasinya 2,5 miliar dollar AS,” ungkap dia.

Untuk pembangunan rel kereta api, sekitar 5.000 tenaga kerja akan terserap. Seluruh proyek di Kutai, kata Gita, akan menyerap 50.000 tenaga kerja langsung.

Minta undang-undang

Adapun untuk proyek jalan tol, menurut Gita. para investor asing meminta agar aturan tentang pembebasan lahan ditetapkan dalam bentuk undang-undang, bukan peraturan pemerintah seperti yang berlaku saat ini.

”Dengan ditetapkan dalam bentuk undang-undang, kontrak yang ditetapkan akan aman karena bisa dipertanggungjawabkan ke pengadilan. Investor merasa kalau hanya berupa peraturan pemerintah belum cukup kuat,” kata Gita.

Sebelumnya, dalam Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Selasa lalu, terungkap keluhan tentang rendahnya daya tarik investasi di daerah.

Keterbatasan infrastruktur, terutama pasokan listrik serta kerusakan jalan dan jembatan, salah satu faktor yang menghambat minat investasi ke daerah.

Anggota DPD dari Nusa Tenggara Timur, Emanuel Babu Eha, meminta pemerintah memberikan keringanan kepada daerah yang terbelakang terkait ketersediaan dana pendamping. Dana pendamping harus disediakan oleh daerah yang menginginkan bantuan dana pembangunan dari pemerintah pusat, termasuk untuk pembangunan infrastruktur.

”Untuk daerah tertinggal, sebaiknya pemerintah pusat tidak meminta dana pendamping karena mereka tidak akan sanggup menyediakannya,” ujarnya.

Sementara anggota DPD dari Kalimantan Timur, Bambang Susilo, menyampaikan keluhan masyarakat di sekitar perkebunan kelapa sawit yang tidak diperhatikan oleh investor.

”Warga tidak mau hanya jadi pekerja atau penonton, sementara manfaat terbesar diserap investor tertentu saja,” kata dia. (OIN)

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook