Indonesia-China Sepakat Bangun Bendungan Jati Gede
Pemerintah Indonesia dan perusahaan konstruksi terbesar China Sinohydro menandatangani kontrak pekerjaan pembangunan Bendungan Jati Gede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang akan mengairi 90.000 hektar sawah di pantai utara Jawa Barat.
Penandatanganan dilakukan Direktur Sinohydro Fan Yun Long, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Graito Sutadi, dan Pejabat Pembuat Komitmen Waduk Jati Gede Jaja Sumantri, Senin (30/4) di Jakarta.
”Dua bulan mendatang, pembangunan fisik Waduk Jati Gede akan dimulai. Tahap awal, kami akan bangun terowongan pengelak atau diversion tunnel, serta mengarahkan aliran Sungai Cimanuk,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA), Departemen Pekerjaan Umum, Siswoko.
Biaya pembangunan Bendungan Jati Gede (diluar biaya pembebasan lahan dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air) sebesar Rp 2,18 triliun. Pemerintah China telah bersedia mengucurkan dana Rp 1,79 triliun, sedangkan Pemerintah Indonesia akan mengucurkan dana Rp 0,39 triliun.
Pembangunan bendungan selain dilakukan Sinohydro, juga akan melibatkan empat Badan Usaha Milik Negara, yakni PT Wijaya Karya, PT Waskita Karya, PT Hutama Karya, dan PT Pembangunan Perumahan.
Menurut Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, pekan lalu, pembangunan Waduk Jatigede akan cepat dikerjakan karena membantu produksi pertanian. Waduk besar ini strategis karena mengairi Kabupaten Majalengka hingga Indramayu, yang sebagian besar wilayahnya pertanian.
Saat ini, di Daerah Aliran Sungai Cimanuk baru ada infrastruktur sumber daya air Bendung Rentang. Namun dari potensi air Sungai Cimanuk di Bendung Rentang sebesar 4,3 miliar meter kubik per tahun, baru dapat dimanfaatkan 28 persen saja, sisanya terbuang ke laut karena belum ada waduk.
Pembangunan fisik yang telah dikerjakan berupa pembangunan infrastruktur relokasi permukiman di 12 lokasi, pembangunan basecamp, dan akses jalan antara Tolengas-Jati Gede. Diperkirakan pembangunan bendungan selesai November 2012.
Hingga tahun 2006, dari total lahan yang harus dibebaskan seluas 4.803 hektar, masih tersisa 1.667 hektar terdiri 467 hektar lahan milik rakyat dan 1.200 hektar tanah negara.
Menurut Siswoko, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jati Gede berkapasitas 110 MegaWatt (MW), akan diserahkan pada Perusahaan Listrik Negara. Estimasi biaya PLTA Jati Gede, berdasar penghitungan Ditjen SDA sebesar Rp 1,53 triliun. (RYO)
- ~ Bendungan Adalah Cara Paling Klasik
- ~ Waduk Jatiluhur Sebagai Bendungan Terbesar Di Indonesia
- ~ Waduk Terendah Namun Terbesar Di Jawa Barat
- ~ Ancaman Padam Listrik Jawa-Bali
- ~ PU Rencanakan Bangun 22 Bendungan
- ~ Pasokan PLTA Jawa-Bali Masih Aman
- ~ Analisa Manfaat Biaya Bendungan Multifungsi di Nongkojajar
- ~ Krisis Listrik Di Jawa Timur Berlangsung Lama
- ~ Bendungan Dan PLTA Bakaru Direncanakan 2014
- ~ PLTA Parakankondang Milik PLN Lumpuh Total



