Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pengembangan Prasarana Sumber Daya Air

Arahan Pengelolaan Sistem Prasarana Sumberdaya Air

Prasarana sumberdaya air adalah prasarana pengembangan sumberdaya air untuk memenuhi berbagai kepentingan, pengembangan prasarana sumberdaya air untuk air bersih diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber air permukaan dan sumber air tanah.
Rencana pengembangan prasarana sumber air permukaan untuk air bersih, dikembangkan di lokasi:
a.    Bendungan karet Kali Lamong untuk memenuhi kebutuhan air bersih khususnya di daerah Gresik.
b.    Bengawan Jero di Kabupaten Lamongan.
c.    Dam Sine di Kabupaten Ngawi.
d.    Jabung retarding basin – Sembayat barrage dan Flood way Sedayu Lawas di Kabupaten Lamongan.
e.    Pemenuhan air baku Floodway Sedayu Lawas – Babat Barrage – Jabung retarding basin, Sembayat Barrage, Bojonegoro Barrage, Waduk Tawun di Kabupaten Bojonegoro.
f.    Pelayaran di Kabupaten Sidoarjo.
g.    Penjernihan air Jagir di Wonokromo.
h.    Singoladri, Lider dan Kedawung di Kabupaten Banyuwangi.
i.    Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo.
j.    Umbulan di Kabupaten Pasuruan.

    Pengembangan prasarana sumber air tanah untuk air bersih dengan melakukan penurapan mata air dan membangun sumur bor, pencegahan pencemaran pada Cekungan Air Tanah (CAT), meliputi:
a.    CAT  Brantas;
b.    CAT  Bulukawang;
c.    CAT  Besuki;
d.    CAT  Bondowoso-Situbondo;
e.    CAT  Banyuwangi;
f.    CAT  Blambangan;
g.    CAT  Bangkalan;
h.    CAT  Jember-Lumajang;
i.    CAT  Ketapang;
j.    CAT  Lasem;
k.    CAT  Ngawi-Ponorogo;
l.    CAT  Panceng
m.    CAT  Panceng
n.    CAT  Pasuruan
o.    CAT  Probolinggo
p.    CAT  Randublatung
q.    CAT  Surabaya-Lamongan
r.    CAT  Sumberbening
s.    CAT  Sampang-Pamekasan
t.    CAT  Sumenep
u.    CAT  Tuban
v.    CAT  Toranggo
w.    CAT  Wonosari
x.    CAT  Wonorejo
y.    Waduk dan embung

Arahan pengelolaan sumberdaya air, meliputi:
a.    Pembangunan prasarana sumber daya air.
b.    Semua sumber air baku dari dam, embung, waduk, telaga, bendungan serta sungai-sungai klasifikasi I – IV yang airnya dapat dimanfaatkan secara langsung dan dikembangkan untuk berbagai kepentingan.
c.    Zona pemanfaatan DAS dilakukan dengan membagi tipologi DAS berdasarkan tipologinya.
d.    Penetapan zona pengelolaan sumber daya air sesuai dengan keberadaan wilayah sungai tersebut pada zona kawasan lindung tidak diijinkan pemanfaatan sumber daya air untuk fungsi budidaya, termasuk juga untuk penambangan.
e.    Prasarana sumberdaya air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan lintas wilayah administratif kabupaten/kota, dikoordinasikan oleh Pemerintah Provinsi.
f.    Prasarana pengairan direncanakan sesuai dengan kebutuhan peningkatan sawah irigasi teknis dan non teknis baik untuk irigasi air permukaan maupun air tanah.

Pengembangan waduk, dam dan embung serta pompanisasi terkait dengan pengelolaan sumber daya air, dengan mempertimbangkan :
a.    Daya dukung sumber daya air.
b.    Kekhasan dan aspirasi daerah serta masyarakat setempat.
c.    Kemampuan pembiayaan.
d.    Kelestarian keanekaragaman hayati dalam sumber air.
e.    Posisi Jawa Timur sebagai lumbung nasional.

Dengan pertimbangan, maka pengembangan waduk, dam dan embung serta pompanisasi ditetapkan meliputi :
a.    Dam Genting I di Kabupaten Blitar.
b.    Dam Babadan di Kabupaten Nganjuk.
c.    Dam Tugu di Kabupaten Trenggalek.
d.    Dam Wonosalam di Kabupaten Jombang.
e.    Dam Karangnongko di Kabupaten Bojonegoro.
f.    Embung Dempobarat, Jarin, Bujur Timur dan Embung Sumberwaru di Kabupaten Pamekasan.
g.    Embung Pangolangan, Tambak Poncok, Sangkiyah, Dupok, Paselaju, Pangolangan 2, Maneron, Pakis 3, Manuan, Kombangan 1, Kombangan 2, Kombangan 3 dan Kampak di Kabupaten Bangkalan.
h.    Embung Cepret, Wakah II di Kabupaten Ngawi.
i.    Embung Pacin di Kabupaten Madiun.
j.    Embung Kertosari di Kabupaten Pasuruan.
k.    Embung Mojoroto di Kabupaten Mojokerto.
l.    Embung Dermo, Kabluk di Kabupaten Lamongan.
m.    Waduk penampung banjir Jabung/Jabung retarding basin di Kali Lamongan.
n.    Waduk Beng di Kabupaten Jombang.
o.    Waduk Genting di Kabupaten Malang.
p.    Waduk Bajulmati di Kabupaten Banyuwangi.
q.    Waduk Nipah di Kabupaten Sampang.
r.    Waduk Blega di Kabupaten Bangkalan.
s.    Waduk Kedung Brubus di Kabupaten Madiun.
t.    Waduk Gonggang di Kabupaten Magetan.
u.    Waduk Bendo di Kabupaten Ponorogo.
v.    Waduk Banjaranyar di Kabupaten Gresik.
w.    Waduk Tawun, Pejok di Kabupaten Bojonegoro.
x.    Waduk Antrogan di Kabupaten Jember.

Area lahan beririgasi teknis harus dipertahankan agar tidak berubah fungsi menjadi peruntukan yang lain, jika areal tersebut terpaksa harus berubah fungsi maka disediakan lahan areal baru yang menggantikannya dengan luasan minimal sama. Prasarana pengairan direncanakan sesuai dengan kebutuhan peningkatan  sawah irigasi teknis. Dalam revisi tata ruang wilayah Jawa Timur ini tidak direncanakan perluasan sawah, tetapi peningkatan pengairan dari irigasi non teknis atau setengah teknis menjadi irigasi teknis. Disamping itiu direncanakan pula beberapa pemindahan sawah yang menempati lahan dengan fungsi lindung mutlak, dipindah ke lahan dengan fungsi semusim sesuai dengan daya dukung lingkungannya.
Peningkatan prasarana sawah irigasi ini merupakan rencana pengembangan sawah dari studi revisi tata ruang wilayah Jawa Timur ini. Rencana dari masing-masing wilayah sungai dijelaskan secara berurutan sebagai berikut.
A.    WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO
Pengembangan sumber daya air secara terencana dan menyeluruh di wilayah Sungai Bengawan Solo telah dimulai sejak tahun 1974, atas bantuan teknis dari Overseas Technical Cooperation Agency (OTCA) Jepang. Hasil rumusan OTCA itu pada dasarnya meletakkan konsep dasar pengembangan sumber daya air dengan tujuan :

a.    Melindungi basin dari bahaya banjir.
b.    Penggunaan sumber-sumber air.
c.    Meningkatkan hasil pertanian.
d.    Mensuplai air baku untuk rumah tangga dan industri.
Seperti telah dikemukakan sebelumnya di wilayah Bengawan Solo hilir, hasil pertanian yang rendah terutama diakibatkan kekurangan air di musim kemarau. Perkembangan irigasi dan pertanian di wiayah hilir ini masih rendah dibandingkan dengan wilayah Sungai Madiun, padahal potensi areal pertanian yang ada masih besar sekali dan banyak yang belum dapat dimanfaatkan karena kekurangan air. Pada sisi yang lain, eksploitasi air irigasi adalah kunci utama pertumbuhan ekonomi bagi wilayah Bengawan Solo hilir.

Menghadapi situasi demikian, dapat dibayangkan bahwa untuk mengatasi masalah ini perlu diupayakan penyimpanan air sebesar-besarnya pada musim hujan dengan bangunan-bangunan penampung air pada anak-anak sungai yang kemudian dapat dimanfaatkan pada musim kering. Berkaitan dengan ini, ada beberapa rencana bendungan-bendungan kecil yang sudah diidentifikasikan pada studi yang banyak dilakukan di Bengawan Solo serta rencana pengembangan sumber daya air dari pengairan Jawa Timur. Beberapa rencana bendungan di wilayah Bengawan Solo selain difungsikan sebagai sumber air irigasi juga untuk memenuhi kebutuhan domestik dan industri. Untuk mengembangkan potensi pertanian di wilayah hilir Bengawan Solo direncanakan 10 waduk irigasi yang tersebar di Bojonegoro, Tuban dan Lamongan, antara lain : bendungan irigasi Krejo, Cawak, Tawun dan Gongseng. Krejo dan Cawak yang lokasinya berdekatan dapat disatukan fungsinya melalui saluran penghubung.

Selain itu untuk mengembangkan potensi pertanian Pacitan tampaknya rencana pembuatan waduk di Kali Grindulu menjadi prioritas mengingat kondisi sekarang hampir seluruh wilayah pertanian menjadi tegalan karena kekurangan air. Di wilayah Kali Madiun direncanakan waduk yang cukup besar yakni Dam Badegan di Ponorogo serta waduk-waduk kecil yang juga mendukung pertanian dan penyediaan air domestik dan industri. Rencana pengembangan sumber daya air di wilayah DAS Bengawan Solo ini dapat dilihat pada tabel 4.12.
Selain rencana pembuatan waduk yang berfungsi sebagai pengendali banjir, sumber air baku, dan irigasi, proyek induk pengembangan wilayah Sungai Bengawan Solo juga telah melakukan studi pengendalian Bengawan Solo hilir yang merencanakan sistem pengendalian banjir di Begawan Solo hilir ditetapkan berdasarkan hasil studi tahun 1995, yaitu:

a.    Perbaikan dan pengaturan Sungai Bengawan Solo hilir, sepanjang 220 km (Cepu – Tanjung Kepala) untuk meningkatkan kapasitas aliran, perbaikan alur sungai serta perbaikan sistem drainase diluar tanggul.
b.    Sidatan ke laut Jawa, (Jabung-Sedayu Lawas) sepanjang 15,50 km yang saat ini sudah selesai dan mulai dioperasikan, Sidatan dari outlet Waduk Jabung ini berfungsi menurunkan puncak debit banjir di hilir babat. Pembangunan Bendungan Karet dengan lebar dasar 75 m dan panjang 15,5 km, dan 3 km dari muara untuk mencegah intrusi air laut serta long storage saat kemarau. Pada musim kemarau  sidatan ini digunakan sebagai saluran pembawa air baku bagi daerah industri yang dikembangkan di daerah Pantura.
c.    Waduk penampung banjir Jabung/Jabung retarding basin, direncanakan dibangun di daerah rawa Jabung hilir Kota Babat dengan kapasitas tampung 141,7 juta m3. Fungsi waduk sebagai retensi banjir untuk menurunkan puncak debit banjir di hilir Babat dengan mengalirkan sebagian debit banjir ke waduk. Kombinasi waduk dan sidatan sangat efektif menurunkan puncak debit banjir sebesar 3.810 m3/det.
d.    Rehabilitasi drainase saluran ledeng gelap.
e.    Bendung gerak babat, berfungsi menaikkan elevasi muka air Bengawan Solo pada akhir musim hujan sehingga dapat dialirkan ke Waduk Jabung secara gravitasi sekaligus berfungsi juga sebagai long storage air baku.



B.    WILAYAH SUNGAI BRANTAS
Untuk wilayah Sungai Brantas direncanakan 13 waduk yang tersebar di anak Kali Brantas yang direncanakan akan mengaliri wilayah irigasi seluas 14.000 ha lebih. Hal ini untuk meningkatkan suplai air irigasi yang menyertai upaya perluasan jaringan teknis mengingat wilayah DAS Brantas pelayanannya masih dalam kategori sedang. Waduk ini dibangun sekaligus berfungsi sebagai tambahan sumber air baku baik untuk domestik maupun industri yang saat ini mengalami peningkatan kebutuhan yang cukup besar utamanya di wilayah perkotaan. Rencana pengembangan sumber daya air di Brantas dapat dilihat dalam Tabel 4.13 di bawah ini :
 


Selain rencana pembangunan waduk pada anak Kali Brantas, untuk menambah debit Kali Brantas utamanya saat kemarau, upaya yang juga harus dilakukan oleh masing-masing kabupaten/kota adalah melindungi daerah resapan air dan lahan konservasi yang berfungsi sebagai tata guna air di masing-masing kabupaten/kota. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan tersedianya air baik dalam bentuk air tanah, mata air dan air permukaan. Tiap kabupaten/kota juga dapat memanfaatkan mata air yang banyak terdapat di wilayah masing-masing. Potensi mata air ini cukup besar untuk digunakan baik sebagai air irigasi maupun air minum.    

C.    WILAYAH SUNGAI PEKALEN SAMPEAN
Wilayah Sungai Pekalen Sampean saat ini memiliki tingkat pelayanan irigasi yang cukup tinggi dan merata hampir di seluruh kabupaten/kota. Perluasan jaringan irigasi teknis diperlukan untuk melayani persawahan yang mengandalkan irigasi sederhana maupun yang belum terlayani. Upaya ini nampaknya tidak menemukan kendala kekurangan sumber air, mengingat potensi mata air yang belum dimanfaatkan secara optimal baik di Jember, Banyuwangi, Situbondo maupun Bondowoso. Rencana pengadaan waduk di wilayah Pekalen Sampean dapat dilihat pada tabel 4.14.



Waduk Bajulmati direncanakan dibangun untuk memenuhi kebutuhan air irigasi dan domestik serta industri, Kondisi saat ini pembebasan tanah telah selesai dilakukan dan hanya tinggal konstruksinya saja. Rencana pemerintah kabupaten untuk pembangunan bandara di Bajulmati ini nampaknya perlu dikaji ulang mengingat rencana bandara ini menempati lahan irigasi teknis yang potensial sebagai podusen padi di Jawa Timur. Rencana lain adalah waduk Suko, dan Kuripan di Probolinggo serta pembuatan Embung Boto di Probolinggo.

Untuk wilayah Kabupaten Pasuruan, irigasi teknis banyak mengandalkan ranu/danau yang ada (Grati, Bedali, Sukolilo). Untuk perluasan jaringan irigasi nampaknya dapat dikembangkan pembuatan embung karena daerah ini relatif kering, sehingga saat kemarau tersedia air yang cukup untuk irigasi. Perlu juga diimbangi dengan perlindungan wilayah konservasi untuk perlindungan tata guna air. Mata air yang dapat dikembangkan sebagai sumber irigasi sangat besar dengan total debit 6.710 m3/dt.

Keberadaan Bendungan Sampean Baru di Bondowoso cukup membantu irigasi di wilayah ini selain difungsikan sebagai PLTA. Kota Situbondo sendiri belum memiliki pola pengaliran air/pola sistem drainase yang dapat mengalirkan limpahan sungai sampean maupun dari hujan lokal yang dapat mengakibatkan banjir sehingga perlu dipikirkan pembuatan kanal untuk membuang overflow Bendung Sampean ke laut utara seperti Kanal Parit Jaya di Tulungagung yang membuang kelebihan waduk Karangkates ke Laut Selatan.

 
D.    WILAYAH SUNGAI MADURA DAN KEPULAUAN
Wilayah Sungai Madura dan kepulauan memiliki tingkat pelayanan irigasi yang rendah di seluruh kab/kota. Keberadaan Waduk Klampis nampaknya tidak cukup untuk menopang keperluan irigasi di wilayah ini. Seperti halnya wilayah Bengawan Solo hilir, kunci keberhasilan perekonomian di wilayah ini adalah tersedianya cukup air untuk pertanian, mengingat karakteristik wilayah ini yang cenderung kering.


Rencana pengembangan sumber daya air di wilayah Madura meliputi pembangunan 2 (dua) waduk yakni di Sungai Blega dan Nipah, serta pembuatan embung. Wilayah Madura dengan tanah cenderung tandus tersusun oleh batu lempung dan gamping, sehingga pengembangan embung cocok untuk wilayah ini. Rencana pengembangan selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 4.15.
Gambaran wilayah aliran sungai di Jawa Timur terdapat pada gambar 4.33

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Karawang No 2
Bandung 40272 - Indonesia
 
Phone Line1:
022-7244-888 (08:00-17:00)
 
Fax:
022-723-0812 (24 Jam)
 
Handphone:
0852-111-111-77 (Umum) 
 
SMS:
0852-111-111-77 (24 Jam)
BB: 2a02ac52(24 Jam)
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook