Alpen Steel | Renewable Energy

~ Potensi Alternatif Energi Pengganti BBM

Sampah dan Limbah Biomassa, Potensi Alternatif Energi di Daerah

Ketergantungan energi Indonesia kepada bahan bakar minyak dan gas sangat tinggi, akibatnya ketika Pemerintah Pusat memutuskan kenaikan harga BBM dan gas baru-baru ini, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh rakyat saja, akan tetapi juga dirasakan oleh Pemerintah Daerah yang terpaksa harus merevisi APBD-nya masing-masing, untuk menyesuaikan asumsi dasar belanja daerah.  Salahkah pemerintah menetapkan kebijakan tersebut ?  Terlepas dari pro dan kontra kenaikan harga BBM, harus kita sadari bahwa harga BBM yang selama ini kita nikmati, bukanlah harga BBM sebenarnya, melainkan harga hasil subsidi, yang cepat atau lambat harus dilepaskan, mengingat kita segera menghadapi persaingan di pasar terbuka.

            Lalu bagaimana peran daerah mencermati dan menyikapi hal ini, apakah upaya mengurangi dampak kenaikan harga BBM melalui program-program Pemerintah Daerah itu saja cukup ?  Jawabnya, tentu saja tidak.  Dalam jangka panjang, daerah bisa saja mempunyai target memenuhi kebutuhan energi daerah dengan berupaya mengembangkan energi alternatif.

 

Kebijaksanaan Pemenuhan Energi, Kesejahteraan Daerah

 

            Energi dianggap sebagai salah satu prasarana dalam mencapai kesejahteraan sebuah daerah mengingat energi dibutuhkan untuk keperluan transportasi, industri dan rumah tangga.  Bisa kita bayangkan bagaimana sebuah daerah yang belum memiliki listrik ataupun belum mempunyai angkutan umum karena kesulitan bahan bakar transportasi.  Kita secara mudah akan mengkategorikan daerah tersebut sebagai daerah tertinggal.

            Di Indonesia sendiri, kebijakan energi masih ditangani langsung oleh Pemerintah Pusat yang pelaksanaannya dikerjakan oleh BUMN misalnya PLN (menangani listrik) dan Pertamina (menangani BBM).  Akibatnya beberapa daerah yang ‘belum maju’ dengan tidak masuknya listrik, terpaksa harus menunggu sampai PLN memprogramkan untuk membangun jaringan listrik ke daerah tersebut tanpa bisa diintervensi oleh Pemerintah Daerah.

            Berebut kewenangan antara pusat dan daerah tentang penanganan energi, sebagaimana yang banyak terjadi belakangan ini, tentulah bukan hal yang bijaksana.  Tidak semua daerah memiliki sumber energi seperti minyak bumi atau pembangkit listrik yang membutuhkan air (PLTA) atau panas bumi (PLTPB / PLTG), sehingga dirasakan masih perlu kebijakan terpusat secara proporsional agar memungkinkan distribusi energi secara adil.  Sehingga daerah harus cukup kreatif dalam mencari alternatif energi untuk memenuhi kebutuhan daerahnya.

 

Biomassa dan Sampah sebagai Sumber Alternatif Energi

 

            Berbagai alternatif energi telah banyak ditemukan pada saat ini, misalnya penggunaan tenaga angin, tenaga matahari, dan lain-lain termasuk yang sampai saat ini masih cukup kontroversial yaitu tenaga nuklir.  Limbah biomassa dan sampah bisa menjadi salah satu pilihan sumber energi alternatif tersebut.

            Biomassa secara umum lebih dikenal sebagai bahan kering material organik atau bahan yang tersisa setelah suatu tanaman atau material organik dihilangkan kadar airnya (dikeringkan).  Material organik hidup seperti tumbuhan, hewan dan kotorannya, umumnya mengandung 80 – 90% air, namun setelah kering akan mengandung senyawa hidrokarbon yang sangat tinggi.  Senyawa hidrokarbon inilah yang penting sebagai potensi sumber energi yang tersimpan pada biomassa.  Untuk lebih gampangnya, kita coba bayangkan BBM, gas dan batu bara yang sebetulnya berasal dari fosil hewan dan tumbuhan purba dan tertimbun di dalam perut bumi dalam keadaan masih menyimpan kandungan senyawa hidrokarbon yang tinggi.

 

            Biomassa ini sangat mudah kita temukan dari aktivitas pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan, perikanan dan limbah-limbahnya di daerah, sehingga mudah dimanfaatkan untuk mengembangkan alternatif energi.  Sebagaimana kita ketahui bahwa kebijakan bidang-bidang tersebut, sebagian besar telah menjadi bagian dari kewenangan daerah.  Contoh nyata pemanfaatan energi biomassa yang berasal dari produk limbah aktivitas kehutanan dan perkebunan dan telah banyak dilaksanakan, yaitu kayu bakar dan arang.  Berdasarkan data BPS tahun 2000, pemanfaatan kayu bakar dan arang memberikan kontribusi ketersediaan energi masing-masing sebesar 216 juta sbm (setara barrel minyak) dan 3,5 juta sbm, dengan pemanfaatan lebih dari 85 % untuk kebutuhan rumah tangga.

 

            Sampah yang dihasilkan rumah tangga di perkotaan sangatlah besar, misalnya saja DKI Jakarta dengan populasi penduduk sekitar 8,76 juta jiwa (BPS, 2003), menghasilkan sampah rata-rata 6.250 ton per hari (Kompas 7/1).  Dengan jumlah yang sedemikian banyak, sampah mengakibatkan permasalahan tersendiri bagi sebuah daerah.  Bahkan dalam kasus yang terjadi beberapa waktu yang lalu di daerah Cimahi-Jawa Barat, sampah menjadi sumber bencana dan mengakibatkan korban jiwa lebih dari 100 orang meninggal dunia (Media Indonesia 23/2).

            Jenis-jenis sampah itu sendiri terdiri dari 70 – 80 % jenis sampah organik (basah) dan sisanya merupakan jenis sampah anorganik  (kering) (WALHI 27/5/2004).  Tentu saja dari jenis sampah organik yang mendominasi total keseluruhan sampah tersebut, mempunyai karakteristik yang mirip dengan biomassa.

            Sampah rumah tangga yang cukup banyak ini, sebagaimana juga biomassa, mempunyai potensi yang sangat besar sebagai sumber energi.  Di samping itu pemanfaatan sampah menjadi sumber energi, tentu saja menjadi akan mengurangi permasalahan sampah di berbagai daerah.

 

Konversi Biomassa dan Sampah menjadi Energi

 

            Berdasarkan tabel konversi energi dari Pusat Informasi Energi-Depertemen Energi dan Sumber Daya Mineral, biomassa dari 2 jenis produk limbah aktivitas kehutanan dan perkebunan, yaitu kayu bakar dan arang, mempunyai nilai konversi energi yang cukup besar.  Nilai konversi energi 1 ton kayu bakar adalah sekitar 2,2979 setara barrel minyak (sbm), sedangkan dalam bentuk arang, nilai konversi 1 ton arang sekitar 4,9713 sbm.  Bila kita bandingkan nilai ini dengan tenaga air yang bernilai 1,5937 sbm/MWh tenaga air, atau batu bara antrasit yang senilai 4,9893 sbm/metrik ton, tentunya biomassa dan ditambah dengan sampah rumah tangga, mempunyai potensi energi yang lebih besar.  Hanya saja untuk menggali potensi ini perlu dilakukan teknik konversi energi, agar mempunyai nilai yang lebih bermanfaat.

 

            National Renewable Energy Laboratory, sebuah lembaga pemerintahan di Amerika Serikat telah berhasil mengembangan teknik-teknik konversi energi yang berasal dari biomassa.  Mereka mengelompokkan 2 jenis teknik konversi biomassa menjadi energi yaitu : (1) bahan bakar konvensional di industri dan rumah tangga dan (2) konversi energi untuk keperluan lebih luas.

 

            Pada konversi energi secara konvensional dilakukan secara langsung yaitu dijadikan bahan bakar pada bentuk asalnya.  Jenis konversi ini banyak dilakukan di negara kita, dan sekitar 93 % pemakainya adalah rumah tangga (Warta PT. Pertamina, Januari 2004).  Pada industri, sebagai contoh industri kayu dan kertas menggunakan limbah-limbah organik mereka untuk bahan bakar tungku pembakaran dan boiler mereka sendiri, sehingga mampu menyuplai sekitar 60% dari kebutuhan energi bagi mereka sendiri.

 

            Tidak seperti halnya keperluan konvensional, untuk keperluan yang lebih luas diperlukan beberapa teknik konversi disesuaikan kebutuhannya.  Untuk membangkitkan listrik, limbah biomassa dan sampah organik diproses dengan mesin direct combustion dan gasifier sehingga berubah menjadi listrik.  Limbah biomassa dan sampah organik juga bisa diubah menjadi bahan bakar minyak, dengan melalui proses kimiawi yang disebut pirolisis.  Selain itu limbah biomassa dan sampah organik bisa dijadikan bahan bakar kendaraan yang sangat dikenal sebagai biofuels dengan berbagai teknik konversi yang meliputi fermentasi, ekstraksi dan gasifikasi.  Yang terakhir dan telah banyak dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia yaitu pengembangan limbah biomassa dan sampah menjadi biogas.

 

 Penulis adalah PNS Dinas Kehutanan & KSDA Kabupaten Purwakarta, kini sedang menempuh program Master pada Dept. International Environmental & Agricultural Science, Tokyo University of Agriculture & Technology-Jepang ;

sumber: Tatang Sopian (Jepang)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Karawang No 2
Bandung 40272 - Indonesia
 
Phone Line1:
022-7244-888 (08:00-17:00)
 
Fax:
022-723-0812 (24 Jam)
 
Handphone:
0852-111-111-77 (Umum) 
 
SMS:
0852-111-111-77 (24 Jam)
BB: 2a02ac52(24 Jam)
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook