Alpen Steel | Renewable Energy

~ Mekanisme Pembangunan Bersih

PENGANTAR DAN POTENSI MENGENAI MPB

Apa itu Mekanisme Pembangunan Bersih?
Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB) atau dikenal juga sebagai Clean Development Mechanism (CDM) merupakan salah satu mekanisme yang terdapat di dalam Protokol Kyoto. Mekanisme MPB merupakan satu-satunya mekanisme yang melibatkan Negara berkembang, di mana negara maju dapat menurunkan emisi gas rumah kacanya dengan mengembangkan proyek ramah lingkungan di negara berkembang.

Mekanisme ini sendiri pada dasarnya merupakan perdagangan karbon, di mana negara berkembang dapat menjual kredit penurunan emisi kepada negara yang memiliki kewajiban untuk menurunkan emisi, yang disebut negara Annex I.

Apa tujuan MPB?
Seperti yang tertera pada Protokol Kyoto pasal 12, tujuan MPB adalah:

- Membantu negara berkembang yang tidak termasuk sebagai negara Annex I dalam menerapkan pembangunan yang berkelanjutan serta menyumbang pencapaian tujuan utama Konvensi Perubahan Iklim, yaitu menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca dunia pada tingkat yang tidak akan mengganggu system ikllim global.
- Membantu negara-negara Annex I atau negara maju dalam memenuhi target penurunan jumlah emisi negaranya.
- MPB membantu negara-negara Annex I untuk memenuhi target pengurangan emisi rata-rata mereka sebesar 5,2 persen di bawah tingkat emisi tahun 1990, sesuai dengan ketentuan di dalam Protokol Kyoto.

Apa fungsi dari MPB?
Sesuai tujuannya, MPB menghasilkan proyek yang dapat menurunkan emisi gas rumah kaca serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Bukti bahwa proyek tersebut telah menurunkan emisi gas rumah kaca adalah diterbitkannya sertifikat pengurangan emisi (Certified Emission Reductions-CERs) oleh Badan Eksekutif MPB (CDM Executive Board) atas proyek yang bersangkutan. Sertifikat inilah yang kemudian dapat dijual negara berkembang ke negara maju.

Apa keuntungan yang didapat negara berkembang dari MPB?
Negara berkembang yang terlibat langsung dalam MPB akan mendapatkan investasi baru untuk melakukan kegiatan yang dapat menurunkan emisi GRK dan juga mendukung pembangunan berkelanjutan di negaranya.

Selain itu, melalui mekanisme MPB ini negara-negara tersebut akan mendapatkan keuntungan berupa adanya transfer teknologi dan dana tambahan yang dapat membantu mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi dampak yang ditimbulkan perubahan iklim. Walaupun dampak perubahan iklim bervariasi di seluruh dunia, namun negara berkembang dan negara-negara kepulauan, seperti halnya Indonesia, merupakan kelompok negara yang mendapat dampak paling nyata dari perubahan iklim.

Negara mana sajakah dapat turut serta berpartisipasi dlam MPB?
Negara manapun dapat berpartisipasi dalam aktifitas MPB, selama negara tersebut telah meratifikasi Protokol Kyoto. Negara tersebut juga harus sudah memiliki DNA (designated national authority) atau suatu otoritas nasional yang fungsi utamanya memberikan persetujuan nasional terhadap proyek MPB.

Siapa saja yang dapat menjadi pengembang proyek MPB?
Sesungguhnya siapa saja dapat turut serta sebagai pengembang proyek MPB. Proyek MPB dapat dikembangkan melalui kemitraan antara lembaga nirlaba, publik dan pihak swasta, termasuk partisipasi dari masyarakat local dimana proyek itu dikembangkan. Namun karena MPB merupakan mekanisme berbasis pasar maka MPB dirancang dengan pertimbangan untuk diimplementasikan oleh sector swasta.

Proyek jenis apa yang bisa menjadi proyek?
Upaya penurunan emisi yang bisa dilakukan melalui kegiatan proyek MPB meliputi proyek energi terbarukan (misal: tenaga matahari, angin, gelombang, panas bumi, air dan biomassa), menurunkan tingkat konsumsi bahan bakar (efisiensi energi), mengganti bahan bakar fosil dengan bahan bakar lain yang lebih rendah tingkat emisi GRKnya (pengganti bahan bakar, misal: minyak bumi menjadi gas), kehutanan, dan jenis lain-lain seperti pemanfaatan gas metan dari pengelolaan sampah.

Sektor-sektor yang dapat berpartisipasi dalam MPB
Sektor/Kategori
SektorKategori
Energi
Pembakaran bahan bakar:
  • industri energi;
  • industri manufaktur dan konstruksi;
  • transportasi;
  • sektor lain.

Emisi fugitive bahan bakar:

  • bahan bakar padat;
  • minyak dan gas alam;
  • lainnya.
Proses-proses industri
  • Produk mineral;
  • industri kimia;
  • produksi logam;
  • produksi lainnya;
  • produksi halocarbon dan sulfur heksaflorida;
  • konsumsi halocarbon dan sulfur heksaflurida;
  • lainnya.
Penggunaan bahan pengencer (solvent) dan produk lainnya
  • Pertanian Fermentasi enteric;
  • pengelolaan kotoran hewan;
  • penanaman padi;
  • lahan pertanian;
  • pembakaran padang rumput sesuai dengan peraturan;
  • pembakaran residu pertanian; lainnya.
Sampah
  • Pembuangan sampah padat di lahan;
  • pengelolaan air buangan;
  • insinerasi sampah;
  • lainnya.
Tata guna lahan
  • perubahan tata guna lahan dan kehutanan
  • Aforestasi ;
  • reforestasi;
  • pencegahan deforestasi untuk energi panas dalam proyek skala kecil.


Bagaimana dengan proyek MPB di sektor kehutanan?
Selain penurunan emisi, kegiatan yang bisa dilakukan dalam MPB ialah penyerapan emisi (carbon sink) yang bisa dilakukan di sektor kehutanan, karena hutan dpat menyerap emisi GRK.

Proyek MPB di sektor kehutanan terbatas pada kegiatan reforestasi dan aforestasi. Proyek pencegahan deforestasi diijinkan sebagai proyek MPB kehutanan skala kecil, misalnya bila dapat dibuktikan bahwa pemanfaatan tungku berbahan bakar kayu yang efisien dapat mengurangi deforestasi.

Contoh-contoh proyek MPB di berbagai sektor/jenis?
• Proyek Bis Umum di Perkotaan
- mengganti bahan bakar bis umum dengan gas atau dengan energi terbarukan seperti biomassa.
- Mengganti mesin bis dengan mesin yang lebih efisien dan lebih bersih.

• Proyek Penerangan di Pedesaan
- menggunakan pembangkit tenaga listrik bertenaga air dalam skala kecil (microhydro).
- mengganti penggunaan lampu bohlam di pedesaan dengan lampu hemat energi.

• Industri Tepung Tapioka
- melakukan manajemen limbah produksi mengunakan bahan bakar biogas untuk proses pengeringan.


POTENSI MPB DI INDONESIA

Bagaimana potensi MPB di Indonesia secara umum?
Berdasarkan perhitungan, potensi MPB secara keseluruhan di Indonesia pada tahun 2008-2012 terhitung sebesar:

125-300 juta ton CO2
Harga per ton CO2: US$ 1,5 – US$ 5,5 juta
Pendapatan: US$ 187,5 – US$ 1.650 juta
Biaya transaksi: US$ 106 – US$ 390 juta
Laba: US$ 81,5 juta – US$ 1, 26 milyar


Bagaimana potensi MPB di sektor energi?
Proyek MPB di sektor energi dapat dilakukan baik di sisi penyediaan (supply side) maupun sisi pemakaian (demand side).

Potensi Pengurangan Emisi CO2 di sektor energi sebelum tahun 2005, Dasar (Base): Rata-rata Konsumsi Energi (Average Energy Mix) 2000

Opsi teknologi
(Penyediaan energi) Pengurangan CO2 (juta ton)
PLT Panas Bumi 139.4
Gas Combined Cycle 0.1
PLTU Biomassa 23.3
PLT Air (skala besar) 9.9
PLT Air (skala kecil) 5.3
Panas sinar matahari 0.3
Kogenerasi Turbin Rendah 13
Kogenerasi Turbin Tinggi 8.7
Refrigerator yang lebih efisien 0.33
Hitch Refrigerator 0.63
Compact Refrigerator 0.23
Incandescent menjadi fluorescent (SFL) 1.85
Incandescent menjadi CFL 39
Variable Speed Motor 8.1


Bagaimana potensi MPB di sektor kehutanan?
Seperti yang tercantum di dalam Marrakech Accord, proyek MPB di sektor kehutanan terbatas pada reforestasi dan aforestasi. Di Indonesia, tipe proyek kehutanan yang masuk ke dalam kategori tersebut adalah re-boisasi, perkebunan, hutan masyarakat, penghijauan kembali dan agroforestry. Potensi proyek kehutanan di Indonesia secara detil dapat dilihat pada table berikut.


(table)


Tipe proyek MPB di sektor kehutanan dan luas wilayah yang tersedia

Tutupan lahan Baseline
tC/ha Jenis proyek
Rosot karbon potensial Luas wilayah tersedia untuk mitigasi Potensi Mitigasi
(tC/ha) Potensi mitigasi total (Ha) x s (tC/ha)
Lahan Kritis 5 Reboisasi 4,898,800 199 947,702,000
Lahan kritis 5 Perkebunan/HTI (Hutan Tanaman Industri 1,889,00 48 90,672,000
Lahan kosong 37 Hutan Masyarakat 9,823, 175 109 1,070,762,075
Padang rumput 10 Penghijauan kembali 3,219,648 278 895,062,144
Peladangan berpindah 11 Agroforestry 12,718,787 198 2,518,319,826
32,549,410 5,522,482,045


----------------------------
PRINSIP-PRINSIP DASAR MPB


Apa saja syarat proyek MPB?
Untuk menjadi proyek MPB, terdapattiga syarat utama yang harus dipenuhi:

• Mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan di negara tuan rumah.
• Menghasilkan keuntungan yang benar-benar terjadi, terukur dan berjangka, sehubungan dengan mitigasi perubahan iklim.
• Memenuhi additionality lingkungan, yaitu dimana emisi GRK antropogenik pada sumber berkurang dibandingkan emisi yang akan terjadi jika tidak ada kegiatan proyek MPB.

Apakah ada persyaratan lain?
Ada uji additionality lain yang harus dipenuhi yaitu additionality financial. Usulan proyek MPB dianggap memiliki additionality financial apabila proyek tersebut dibiayai bukan dengan dana ODA (official development assistance).

Usulan proyek MPB akan mendapat nilai tambah bila memenuhi additionality investasi dan teknologi. Usulan proyek MPB dianggap memiliki additionality investasi bila adanya CERs dapat menambah nilai finansial dan komersial dari proyek tersebut. Usulan proyek MPB dianggap memiliki additionality teknologi bila proyek tersebut menyebabkan transfer teknologi terbaik, tepat guna, serta ramah lingkungan di negara tuan rumah.

Apa syarat khusus untuk proyek MPB kehutanan?
Kegiatan MPB kehutanan terbatas pada kegiatan reforestasi dan aforestasi.

Reforestasi adalah konvesi lahan menjadi hutan yang dilakukan oleh manusia pada kawasan hutan yang rusak sebelum 31 Desember 1989. Sementara aforestasi ialah konvensi lahan menjadi hutan oleh manusia pada wilayah yang bukan hutan sejak 50 tahun lau.

Hutan sendiri didefinisikan sebagai lahan yang luas minimumnya 0.05-1.0 hektar dengan tutupan tajuk pohon lebih dari 10-30 persen dengan potensi ketinggian pohon minimum 2-5 meter pada kondisi dewasa.

Proyek jenis apa yang tidak bisa menjadi proyek MPB?
Proyek yang menggunakan tenaga nuklir, seperti proyek pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), tidak bisa dikategorikan sebagai proyek MPB walaupun memang tidak mengeluarkan emisi GRK. Hal ini dikarenakan penggunaan nuklir dinilai tidak aman akibat resiko kebocoran yang tinggi sehingga membahayakan kelangsungan mahluk hidup di sekitarnya.

Selain itu, ada beberapa jenis proyek yang meskipun menghasilkan reduksi emisi GRK tapi kemungkinan keikutsertaannya dalam MPB masih mengundang banyak perdebatan, yaitu: teknologi batubara bersih (clean coal technology), PLTA skala besar dan injeksi CO2 ke dalam laut.

Bagaimana dengan persyaratan waktu?
Pengurangan emisi GRK dari proyek MPB yang terjadi sejak tahun 2000 dapat diperhitungkan dalam masa komitmen pertama (first commitment period), yaitu tahun 2008 hingga 2012. Sejauh ini, peraturan yang telah disusun berkenan dengan MPB hanya berlaku untuk masa komitmen pertama saja.
Mengapa partisipasi masyarakat sangat penting di dalam proyek MPB?
Pertisipasi masyarakat menjadi pengawal yang menjamin bahwa proyek berkontribusi positif bagi pembangunan berkelanjutan di negara tuan rumah. Baik persetujuan nasional maupun internasional mensyaratkan adanya konsultasi publik. Pengembang proyek harus mengkonsultasikan proyeknya pada masyarakat lokal di sekitar lokasi proyek. Komentar masyarakat dan bagaimana komentar tersebut ditindaklanjuti harus dijelaskan dalam formulir Aplikasi Persetujuan Nasional dan Dokumen Desain Proyek (lihat lembar Mempersiapkan Dokumen Desain Proyek).

Tahapan-tahapan apa yang harus dilalui suatu proyek MPB?
Adapun tahap-tahap yang harus ditempuh dalam membuat proyek MPB:

• Rancangan proyek
Tahap awal dalam mengembangkan sebuah proyek MPB adalah mengidentifikasi apakah proyek tersebut dapat menurunkan gas rumah kaca. Selain itu, pengembang proyek perlu melakukan analisis finansial untuk mengenditifikasi apakah proyek tersebut menguntungkan secara finansial.

Tahap selanjutnya, pengembang proyek mempersiapkan dokumen desain proyek (biasa disebut PDD). Dokumen ini berisi informasi lengkap mengenai proyek MPB yang akan dikembangkan. Untuk itu, pengembang proyek perlu: (1) menetapkan batas-batas, baik wilayah maupun waktu; (2) melakukan analisa dampak lingkungan; (3) menyelenggarakan konsultasi public; (4) mencari mitra kerja serta menentukan pembagian keuntungan yang di dapat dari hasil penjualan CERs dan; (5) menetapkan metode baseline, yaitu keadaan tanpa adanya proyek MPB tersebut, dan pemantauan.

Jika pengembang proyek menggunakan metodologi baseline dan pemantauan yang baru, maka harus diusulkan oleh institusi yang berwenang, biasa disebut Designated Operational Entity (DOE), kepada Badan Eksekutif (CDM Executive Board) untuk mendapatkan persetujuannya.

• Validasi
Pada tahap ini, seluruh informasi yang terdapat di dalam PDD, terutama penghitungan baseline, dikaji untuk kemudian divalidasi oleh badan validator independent (DOE). Badan independent ini akan mengevaluasi apakah proyek tersebut telah memenuhi semua persyaratan MPB dan kemudian melaporkannya kepada EB.

Pada tahap ini DOE mengkaji PDD dan dokumen-dokumen pendukungnya untuk mengkonfirmasikan bahwa:

- Negara-negara yang terlibat telah meratifikasi Protokol Kyoto.
- PDD dapat diakses oleh publik, dan para pemangku kepentingan lokal telah diberi kesempatan selama 30 hari untuk memberikan komentar. Ringkasan komentar dan laporan bagaimana komentar tersebut telah ditindaklanjuti dicantumkan dalam PDD.
- Pengembang proyek telah menyerahkan analisis dampak lingkungan kepada DOE.
- Kegiatan proyek akan menghasilkan reduksi GRK yang additional.

• Persetujuan Nasional
Surat rekomendasi/persetujuan nasional didapatkan dari otoritas nasional untuk MPB, yaitu Komisi Nasional MPB, yang berisi pernyataan bahwa partisipasi pengembang proyek dalam MPB bersifat sukarela dan bahwa kegiatan proyek yang terkait membantu tercapainya pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

• Registrasi
Pada tahap ini Badan Eksekutif menerima secara formal pengajuan PDD dari DOE. Sebuah proyek yang didaftarkan ke Badan Eksekutif akan melalui sebuah proses komentar publik selama 30 hari, di mana PDD akan diumumkan di situs web yang bisa diakses publik untuk mendapatkan komentar terbuka dari semua pihak.

Jika ada keberatan dari Badan Eksekutif atau pihak yang terlibat dalam kegiatan proyek mengenai dokumen yang diserahkan, maka badan tersebut akan melakukan kajian yang lebih mendalam mengenai proyek yang diajukan. Jika tidak ada keberatan dari Badan Eksekutif, maka proses registrasi diperkirakan akan selesai dalam waktu 8 minggu.

• Implementasi proyek dan pemantauan (monitoring)
Implementasi merupakan tahap di mana aktivitas proyek dijalankan. Tahap implementasi ini bisa dijalankan sebelum atau sesudah registrasi. Jika dilakukan sebelum registrasi, batas waktu paling awal adalah tahun 2000. Artinya sebuah proyek yang berjalan sebelum tahun 2000 tidak bisa diajukan sebagai proyek MPB.

Setelah proyek ini didaftarkan, maka pemilik proyek bertanggung jawab untuk melakukan pemantauan atau monitoring atas emisi GRK yang berhasil diturunkan oleh proyek yang bersangkutan. Pelaksanannya sendiri harus sesuai dengan rencana pemantauan yang tertera pada PDD.

Kegiatan pemantauan meliputi kegiatan pengumpulan dan penyimpanan data-data yang digunakan untuk menghitung emisi baseline dan emisi proyek, dengan memperhitungkan adanya kebocoran (leakage).

• Verifikasi dan Sertifikasi
Pada tahap ini hasil pemantauan akan dikaji ulang, termasuk metodologi yang digunakan dalam melakukan pemantauan. Hal ini kemudian dilaporkan secara tertulis, termasuk di dalamnya jumlah emisi GRK yang berhasil diturunkan. Aktivitas verifikasi ini dilakukan oleh DOE yang berdeda dengan DOE yang melakukan validasi (kecuali untuk proyek MPB skala kecil). Hasil pemantauan ini terbuka untuk publik.

Sertifikasi adalah jaminan tertulis oleh DOE yang berisi bahwa proyek bersangkutan, dalam periode tertentu, telaH berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebagaimana yang telah diverifikasi.

• Penerbitan CER
Badan Eksekutif mempunyai waktu maksimum 15 ahri setelah permohonan penerbitan CERs diberikan untuk mengkaji ulang surat sertifikasi proyek yang bersangkutan. Setelah itu, Badan Eksekutif harus segera mengumumkan hasilnya dan mempublikasikan keputusannya sehubungan dengan disetujui atai tidaknya CER yang diusulkan, beserta alasannya, jika CERs yang diusulkan.


Bagaimanakah Siklus Proyek MPB?

Apakah yang disebut Badan Eksekutif (Executive Board) itu?
Badan Eksekutif merupakan badan internasional di bawah COP/MOP, yaitu pertemuan tahunan para negara yang sudah meratifikasi Konvensi Perubahan Iklim dan Protokol Kyoto.

Tugas utama Badan Pelaksanaan proyek-proyek CDM di Negara berkembang dan bertanggung jawab pada COP/MOP.

Apakah DOE itu?
DOE (Designated Operational Entity) adalah suatu lembaga berbadan hukum domestik atau international yang telah diakreditasi dan ditunjuk oleh Badan Eksekutif untuk melakukan fungsi sebagai berikut:

- Melakukan validasi dan kemudian meregistrasi suatu usulan proyek MPB.
- Melakukan verifikasi reduksi emisi dari proyek MPB, kemudian melakukan sertifikasi dan memohon agar Badan Pelaksana untuk menerbitkan CERs.

-----------------------------------

MEMPERSIAPKAN PDD DAN PROYEK MPB SKALA KECIL

MEMPERSIAPKAN PDD

Apa fungsi Dokumen Desain Proyek?
Dokumen Desain Proyek (Project Design Document, PDD) merupakan dokumen yang dimiliki oleh pengembang proyek MPB untuk memuat seluruh informasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan proyek MPB.


Apa saja yang harus dijelaskan di dalam PDD?
Secara garis besar, PDD ini harus memuat data-data sebagai berikut:

- Deskripsi umum proyek, termasuk penjelasan mengenai teknologi yang digunakan.
- Metodologi baseline, termasuk pemenuhan additionality.
- Durasi proyek/crediting period.
- Rencana pemantauan, prosedur pemantauan dan verifikasi.
- Perhitungan emisi GRK dan pengurangan emisi yang dihasilkan proyek.
- Dampak lingkungan.
- Komentar para pemangku kepentingan.


Apa yang dimaksud dengan baseline?
baseline adalah emisi GRK yang dihasilkan oleh suatu kegiatan tanpa adanya proyek MPB tersebut. Terdapat beberapa pendekatan dalam menentukan baseline, yaitu:

- Menggunakan data emisi yang terjadi pada masa sekarang atau masa lalu.
- Emisi yang dihasilkan oleh teknologi yang secara ekonomi menarik untuk diterapkan, dengan memperhitungkan hambatan-hambatan investasi.
- Emisi rata-rata dari kegiatan yang serupa dengan usulan proyek MPB yang terjadi dalam lima tahun terakhir, dalam kondisi yang serupa, pada kinerja 20% terbaik.


Bagaimana dengan pendekatan baseline untuk MPB kehutanan?
Terdapat tiga pendekatan, yaitu:

- Perubahan yang terjadi pada masa sekarang atau lalu dalam stok karbon dalam carbon pools di dalam batas proyek.
- Perubahan stok karbon dalam carbon pools di dalam batas proyek dari pemanfaatan lahan yang paling menarik secara ekonomis, dengan mempertimbangkan hambatan-hambatan investasi.
- Perubahan stok dalam batas proyek dari pemanfaatan lahan yang paling mungkin terjadi pada saat proyek dimulai.


Bagaimana cara menentukan additionality lingkungan?
Terlebih dahulu, tentukan reduksi emisi yang terjadi, baik pada scenario baseline maupun pada skenario proyek MPB. Additionality lingkungan adalah selisih antara emisi baseline dengan emisi proyek.


Apa saja yang perlu diperhatikan dalam menentukan additionality lingkungan?
Pengembang proyek perlu memperhatikan kemungkinan terjadinya kebocoran (leakage). Kebocoran adalah peningkatan emisi GRK akibat adanya usulan Proyek MPB namun terjadi di luar batas proyek (project boundary) dan kerangka waktu proyek. Kebocoran ini harus diperhitungkan dalam penentuan CERs.

Sumber kebocoran sangat tergantung dari jenis proyek dan juga metode penghitungan emisi proyek dan baseline. Contoh umum misalnya proyek MPB yang besar mampu menurunkan harga suatu produk dan kemudian terjadi peningkatan permintaan.

Misalnya, proyek efisiensi energi yang berakibat pada turunnya harga listrik akan menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan listrik. Akibatnya, emisi yang sebelumnya menurun karena proyek efisiensi energi, pada akhirnya justru meningkat akibat bertambahnya permintaan listrik.


Apa yang perlu dicantumkan pada bagian durasi proyek/crediting period?
Informasi yang harus dicantumkan adalah:
- Durasi proyek, termasuk tanggal mulai dan masa operasional proyek.
- Pilihan crediting period, yaitu masa penghitungan emisi karbon yang akan dikreditkan oleh proyek yang bersangkutan.

Terdapat dua pilihan untuk crediting period:
- Satu periode maksimum 10 tahun
- Satu periode maksimum 7 tahun, dengan kemungkinan diperbaharui maksimum 2 kali periode tambahan.

Khusus untuk MPB sektor kehutanan, pilihan crediting periodnya lebih panjang, yaitu:
- Maksimum 20 tahun yang dapat diperbaharui dua kali, asalkan DOE mengkonfirmasi bahwa baseline yang digunakan masih berlaku atau telah diperbaharui dengan memperhitungkan data baru.
- Maksimum 30 tahun.
-

Apa yang disebut batas proyek?
Batas proyek atau project boundary merupakan wilayah dimana reduksi emisi atau penyerapan karbon terjadi. Reduksi emisi harus terjadi pada situs proyek atau bagian hulu dari proyek. Misalnya, proyek yang mengurangi konsumsi listrik dengan cara efisiensi, maka reduksi emisi terjadi di bagian hulu yaitu pada pembangkit listrik.


Apa yang dimaksud dengan Rencana Pemantauan (monitoring plan)?
Rencana Pemantauan digunakan untuk memantau reduksi emisi GRK yang dihasilkan proyek MPB.

Pengurangan emisi GRK yang akan tertera dalam sertifikasi CERs adalah emisi berdasarkan baseline dikurangi emisi GRK yang dihasilkan oleh proyek MPB (berdasarkan hasil dari pemantauan).


Informasi apa yang harus dicantumkan pada bagian “dampak lingkungan”?
Setiap pengusul proyek MPB harus menjelaskan kemungkinan dampak lingkungan dari proyeknya dalam PDD. Bila dampak lingkungan dari proyek tersebut signifikan, pengusul proyek harus menjelaskan bahwa proyek tersebut telah memenuhi peraturan lingkungan yang berlaku fi negara tuan rumah.


Informasi apa yang harus dicantumkan pada bagian “komentar para pemangku kepentingan”?
Pengembang proyek harus mengadakan konsultasi publik, termasuk dampak sosial maupun lingkungan yang ditimbulkan. Catatan dari konsultasi publik ini harus tertera dalam PDD, termasuk di dalamnya komentar dari pemangku kepentingan dan bagaimana komentar tersebut ditanggapi.


MPB SKALA KECIL

Apakah proyek skala kecil boleh dijadikan proyek MPB?
Proyek skala kecil sangat didukung untuk menjadi proyek MPB karena dianggap lebih mendukung pembangunan berkelanjutan. MPB skala kecil biasanya dikembangkan oleh masyarakat sehingga lebih berdampak positif secara lokal.


Proyek MPB seperti apa yang masuk sebagai skala kecil?
Proyek MPB skala kecil adalah:
- Proyek energi terbarukan dengan kapasitas hingga 15 megawatt.
- Proyek efisiensi energi yang mengurangi konsumsi hingga 15 GWh per tahun.

Picture 1.

- Proyek yang mampu mereduksi emisi dan secara langsung mengemisi kurang dari 15.000 ton ekivalen CO2 per tahun

Picture 2.

Sedangkan proyek MPB skala kecil khusus untuk kehutanan adalah:

- Proyek yang mereduksi kurang dari 8 kilo ton ekusivalen CO2 per tahun.
- Proyek yang dikembangkan oleh komunitas lokal atau masyarakat dengan tingkat ekonomi lemah (sesuai dengan kriteria nasional).


Tipe proyek MPB skala kecil?
• Tipe I – Proyek energi berkelanjutan:
- Pembangkit listrik oleh pengguna
- Energi mekanis untuk pengguna
- Energi panas untuk pengguna
- Pembangkit listrik terbarukan untuk jaringan listrik

• Tipe II – Proyek perbaikan energi efisiensi:
- Perbaikan energi efisiensi sisi penyediaan-transmisi dan distribusi.
- Energi efisiensi sisi penyediaan-pembangkit
- Program energi efisiensi sisi permintaan untuk teknologi yang spesifik
- Usaha-usaha energi efisiensi dan penggantian bahan bakar untuk fasilitas industri
- Usaha-usaha energi efisiensi dan penggantian bahan bakar untuk gedung-gedung

• Tipe III – Tipe proyek lainnya:
- Pertanian
- Penggantian bahan bakar fosil
- Reduksi emisi dengan kendaraan pengemisi GRK yang lebih rendah
- Pemanfaatan gas metan (methane recovery)
- Penghindaran emisi gas metan


Keuntungan MPB skala kecil?
Proyek MPB berskala kecil mendapatkan berbagai kemudahan. Biaya transaksi untuk proyek MPB skala kecil menjadi lebih murah karena modalitas dan prosedurnya disederhanakan. Proyek skala kecil cenderung tidak menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan sehingga dikenai peraturan lingkungan (AMDAL) yang lebih sederhana.


Peraturan-peraturan apa saja yang disederhanakan?
- PDD yang disederhanakan.
- Metode baseline dan monitoring serta penghitungan kebocoran/leakage disederhanakan. Sekretariat UNFCCC telah menyediakan metode baseline dan monitoring untuk ke-14 jenis proyek MPB skala kecil (tersebut di atas) untuk dipergunakan bagi pengembang proyek.
- DOE yang sama boleh melakukan validasi dan verifikasi/sertifikasi kegiatan proyek.
- Tidak dikenai potongan untuk dana adaptasi (climate adaptation fund)
- Biaya registrasi dikurangi.
- Beberapa proyek boleh “disatukan” (bundling) untuk tahapan-tahapan berikut: PDD, validasi, registrasi, pengawasan, verifikasi dan sertifikasi.


Apa yang dimaksud dengan debundling?
Debundling adalah pemecahan suatu proyek yang besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Suatu proyek skala kecil yang merupakan bagian dari proyek yang lebih besar tidak dapat dikategorikan sebagai Proyek MPB skala kecil.


Kapan suatu proyek dianggap sebagai debundling?
Suatu usulan proyek skala kecil dianggap bagian debundling dari suatu proyek besar bila terdapat suatu proyek MPB skala kecil yang sudah terdaftar atau aplikasi untuk mendaftar dari proyek MPB skala kecil lain:

- Yang dikembangkan oleh partisipan/pengembang proyek yang sama;
- Yang berada dalam kategori proyek dan menggunakan teknologi yang sama;
- Yang terdaftar dalam tahun sebelumnya; dan
- Yang batas proyeknya berada dalam jarak 1km dari batas proyek dari usulan proyek skala kecil pada titik terdekat.

 


  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Karawang No 2
Bandung 40272 - Indonesia
 
Phone Line1:
022-7244-888 (08:00-17:00)
 
Fax:
022-723-0812 (24 Jam)
 
Handphone:
0852-111-111-77 (Umum) 
 
SMS:
0852-111-111-77 (24 Jam)
BB: 2a02ac52(24 Jam)
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook